
"A...aku."
"Aku tidak akan meninggalkan Angel." Suara lantang dari Rio membuat Angel dan Erik menoleh ke sumber suara. Rio langsung berjalan ke arah Angel lalu melingkarkan tangannya di pinggang Angel. Rio menatap Erik dengan tatapan penuh keyakinan.
"Aku tahu, aku selama ini berbuat buruk pada putrimu dan aku membohongi kalian tapi kali ini aku tidak akan membuat Angel sedih lagi, iya aku meninggalkan keluarga ku dan memilih Angel tapi aku tidak akan meninggalkan Angel karena aku mencintainya." ucap Rio penuh dengan keyakinan. Erik tersenyum sinis terlebih orang yang memberitahukan semuanya itu istri Rio sendiri.
"Kamu jangan bercanda, istrimu sendiri tidak kamu hargai apa lagi putriku. Dia datang dan memohon agar aku menjauhkan putriku dari mu."
"Aku tahu anda pasti tidak akan percaya walau aku menceritakan yang terjadi dan aku tidak ingin mengungkit luka lama yang akan membuat Angel sedih, aku mohon untuk saat ini percayalah padaku, aku akan menjaga putrimu dan aku akan menyelesaikan masalah yang ada." pinta Rio memohon. Erik menghela napas beratnya, dirinya tidak boleh keras kepala karena ini menyangkut masa depan putrinya dan dia juga harus memberi kesempatan Rio untuk membuktikan semua kata-katanya.
"Baiklah, aku hanya ingin kamu memberikan apa yang sudah menjadi hak Angel sebagai istrimu dan juga mengakui Angel sebagai istri mu walau itu hanya di dalam keluarga mu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku."
"Aku akan berusaha, aku mohon percayalah."
"Iya, sudah malam sebaiknya kalian tidur."
"Iya."
Erik berjalan meninggalkan keduanya. Angel bernapas lega akhirnya Ayahnya mau mengerti. Rio menarik pelan hidung Angel, membuat Angel langsung melihat kearah Rio.
"Apa?"
"Tidak ada, aku sudah tidak punya apa-apa, apa kamu masih mau menerima ku?"
"Umm.. iya. Aku hanya ingin dirimu dan harta yang paling berharga itu putra kita, itu sudah cukup untukku."
"Terima kasih."
"Sama-sama, suamiku."
...
Rumah Riko Amanda
Amanda termenung mencerna semua yang diucapkan Riko dan Arfan. Amanda merasa dirinya bersalah karena sudah mengusir Rio dan Angel, Amanda juga merasa kalau ini semua juga kesalahnya.
"Apa aku seburuk itu?"
"Ma, yang telah terjadi jangan pikirkan, kita harus memberi keadilan untuk Angel, kasihan dia."
"Mama akan mengurus semuanya. Arfan, kamu mau kan membantu mama?"
Arfan hanya mengangguk, akhirnya Amanda mengerti dan Angel akan mendapatkan semua haknya.
Diluar kamar Sena mendengar semuanya. Sena kecewa dengan semua ini. Sena lantas kembali ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil. Sena memutuskan untuk sementara waktu tinggal di rumah orang tuanya dan menyusun rencana untuk merebut Rio kembali.
Amanda meminta Riko dan Arfan untuk meninggalkan dirinya sendirian, awalnya keduanya menolak namun apa daya, Amanda terus memohon dan membuat keduanya menuruti kemauan Amanda.
"Kenapa aku tidak peka? selama ini Angel tinggal denganku tapi kenapa aku tidak bisa menduga semua ini? harusnya aku curiga saat Sena membiarkan wanita lain dekat dengan Rio juga saat Sena melarangku untuk menyentuh perutnya. Tuhan apa salahku hingga engkau memberiku masalah sebesar ini? Tuhan tolong bantu aku menyelesaikan masalah ini."
Amanda merasa sangat lelah dan perlahan kelopak matanya menutup berbarengan dengan itu, Riko memasuki kamar untuk mengecek kondisi Amanda. Riko sangat tahu bagaimana perasaan Amanda sekarang, Amanda pasti sangat kecewa dan juga merasa gagal mendidik putranya.
"Ternyata kamu sudah tidur, syukur lah."
Riko memakaikan selimut pada tubuh Amanda, kecupan hangat mendarat di kening Amanda, berharap kecupan ini dapat menguatkan Amanda. Riko duduk ditepi kasur, sebelah Amanda. Riko tersenyum tipis melihat wajah Amanda yang selalu membuatnya merindu.
"Maaf, seharusnya aku jujur kepada mu mungkin ini tidak akan terjadi. Sayang, apa kamu marah padaku? aku gagal jadi Papa yang baik untuk Rio, aku hanya fokus dengan kerjaan saja hingga aku tidak peka dengan kondisi Rio, apa saja yang terjadi di keluarga kecilnya. Aku kira Rio sudah sangat dewasa untuk mengurus rumah tangganya sendiri tapi pemikiran ku salah dan ini yang terjadi. Sayang, kita harus membuat cucu pertama kita merasa bahagia dengan ibu kandungnya, aku percaya kan ini semua padamu karena kamu juga seorang ibu yang pastinya tahu apa saja yang Angel rasakan."
"Aku harus mulai dari mana?" tiba-tiba saja Amanda membuka kelopak matanya, ternyata Amanda belum sepenuhnya tidur.
"Aku kira kamu sudah tidur." Riko langsung mendaratkan kecupan di bibir Amanda.
"Kamu ini, aku sedang kesal jadi kamu jangan menggodaku!" kesal Amanda namun yang diomeli malah menunjukan deretan giginya, seolah tengah mengejek Amanda.
"Biar saja, aku mau kamu semakin kesal. "
"Haaaahhh.. jangan bercanda! aku sedang bingung, aku harus apa? sebaiknya kamu membantuku!"
"Iya sayang ku pujaan hatiku." Riko masih saja menggoda Amanda. Riko hanya ingin Amanda tidak terlalu memikirkan masalah yang sudah lama terjadi. Riko sendiri tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri dan mungkin Amanda bisa menyelesaikannya.
"Kamu mulai lagi! keluarga kita sedang ada masalah tapi kamu masih bisa bercanda?"
"Lalu apa yang biasa aku perbuat? aku sudah menemui Angel, dia bilang dia juga ingin bahagia dengan orang yang menerimanya apa adanya. Dia tidak ingin terus ada diantara Rio dan Sena, tapi entah apa yang telah terjadi, aku juga tidak tahu. Aku juga bingung harus apa namun aku tidak mungkin melihatkan kelemahan ku di depan anak-anak ku."
"Ri?"
Amanda baru pertama kali mendengar ucapan Riko yang penuh kepedihan. Riko melihatkan senyum getir yang menyayat hati.
"Aku juga capek, sama sepertimu tapi aku tidak ingin keluarga kita jadi lebih buruk saat aku menyerah. Kita harus menyelesaikan dulu urusan Angel, kita harus bertemu dengan keluarga Angel lalu urusan Sena yang harus Rio sendiri yang menyelesaikannya. Diluar sana juga ada suami yang mempunyai dua istri, tugas kita hanya membuat keduanya merasa sama-sama diperhatikan dan kita juga harus terus mendukung Rio, kita harus jadi penengah diantara mereka."
"Iya, aku akan melakukannya. Kita pasti bisa!"
"Iya sayang."
Rumah Erik Jihan.
Rio membelai lembut puncak kepala Kevin yang tengah tertidur. Rio sangat bersyukur memiliki pangeran kecil yang sangat menggemaskan. Penantiannya selama ini telah terwujud walau harus melewati berbagai masalah dan duka. Rio berharap kelak Kevin menjadi orang yang sukses dan penuh dengan kasih sayang dan tidak melewati perjalanan hidup seperti dirinya.
"Ri, Kamu tidur lagi gih?" ucapan Angel yang tidak enak sebab Rio menjadi terbangun karena keributan tadi. Rio hanya menggeleng pelan sembari menatap wajah lucu Kevin. Angel hanya tersenyum tipis, dia juga mengarahkan pandangan matanya ke Kevin.
Jihan berjalan menghampiri Angel dan Rio. Pandangan mata Jihan seolah tengah mencari seseorang.
"Loh, Rio bukannya kamu sedang tidur tadi? apa rumah ini tidak nyaman untukmu?"
Kedatangan Jihan dan pertanyaan itu membuat Rio dan Angel terkejut. Jihan masih menatap kearah Rio. Rio bingung harus jawab apa, Rio takut jawaban yang terlontar dari mulut nya salah dan membuat ibu mertuanya tersinggung. Rio menatap kerah Angel seolah Rio memohon agar Angel menjawab pertanyaan itu.
"Ri?"
"Bu, Rio itu tidurnya sebentar. Dia sudah terbiasa kerja sampai lupa tidur."
"Apa? benarkah? Ri, jangan seperti itu! ubah kebiasaan mu itu nanti kamu bisa sakit. Sebaiknya kamu tidur di kamar Angel." suruh Jihan dengan penuh khawatir. Rio menjadi tidak enak hati terlebih dengan apa yang ia lakukan pada keluarga ini.
"Tapi Bu."
Rio ingin menemani Angel menjaga Kevin, hal yang belum pernah ia lakukan selama ini. Menemani istri dan anaknya tidur di satu kasur.
"Biar aku yang menemani istri dan anakmu, El antar Rio." Jihan memaksa Rio untuk tidur. Di rumah ini Rio merasa dirinya di terima walau alasannya hanya untuk kebaikan Kevin yang tidak tahu apa-apa.
"Iya Bu." Rio akhirnya menurut. Angel mengajak Rio ke kamarnya. Saat Angel ingin menaiki tangga, Jihan teringat Erik yang tidak kelihatan.
"El, Ayah kamu mana?" Angel langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Ayah? El engga tahu, tadi sih sudah pulang."
"Oh, ya sudah. Mungkin dia dihalaman belakang."
Angel melanjutkan langkahnya. Rio mengikuti dari belakang, entah kenapa Rio merasa perasaannya tidak enak.
Pintu kamar Angel terbuka dengan lebarnya dan seketika itu dada Rio mendadak sesak. Rio melihat bingkai foto di meja kecil di dekat ranjang. Itu foto Angel dengan Rey dan keduanya nampak begitu bahagia. Rio merasa sangat perih saat melihat senyuman penuh kebahagiaan milik Angel yang belum bisa dirinya berikan kepada Angel. Rio hanya bisa memberikan luka dan belum sepenuhnya bisa membuat Angel tersenyum seperti itu.
Angel mengerutkan keningnya saat melihat Rio yang hanya berdiri mematung di ambang pintu.
"Ri, kamu kenapa?"
"Eh? engga apa-apa." ucap Rio dengan canggungnya. Angel melihat kearah pandangan Rio tadi, Angel merasa tidak enak hati lalu berjalan menuju bingkai itu. Angel merasa Rio marah kepadanya, dengan buru-buru Angel menyimpan bingkai itu didalam laci. Rio yang melihat apa yang dilakukan oleh istrinya hanya tersenyum tipis.
"Kamu boleh menyimpannya." Rio melangkah masuk lalu menutup pintu. Angel merasa sangat canggung dengan semua ini dan juga penat menjalani hidup yang sangat memusingkan, hidup yang membuatnya harus berteman dengan luka serta pahitnya kenyataan.
"A...aku? maaf." ucap Angel ragu dan sedetik itu pun Angel merasakan nyaman dan damai. Rio menghampiri Angel lalu memeluk Angel dari belakang.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku juga tahu apa yang terjadi. Apa aku merebut kebahagiaan mu lagi? kalau kamu ingin menikah dengan dirinya aku rela, asal kamu bahagia. Aku hanya memberi mu luka dan berulang kali aku membohongimu, aku tidak pantas untuk mu." Deretan kalimat itu terdengar pilu di telinga Angel. Rio semakin erat memeluk Angel. Walau Rio berkata seperti itu, Rio tetap lah tidak ingin Angel menjadi milik orang lain. Ia hanya ingin Angel bahagia walau nantinya hatinya terluka.
"Apa beban mu akan hilang saat aku tidak ada lagi di hidupmu? kalau iya, aku akan pergi jauh darimu, aku percaya kamu pasti akan menjaga Kevin." Entah apa yang ada di pikiran Angel sekarang hingga dirinya berucap seperti itu. Rio mengerutkan keningnya.
"Sayang?"
"Aku... aku hanya memikirkan apa yang Sena rasakan, aku merebut dirimu dari Sena. Harusnya ini berakhir tidak seperti ini, aku terlalu naif mencintaimu dan berharap lebih, ini yang terjadi saat aku ingin bersamamu. Kamu diusir, hidup Rey jadi berantakan dan juga hidup Arfan, serta orang-orang yang menyayangi ku kini terluka karena ku. Apa aku pembawa sial? Karena aku orang mereka semua terluka, Ri? ini semua terjadi karena ku! semua luka ini karena diriku!"
"Sayang, jangan berbicara seperti itu!"
"Ini kenyataannya! aku hanya luka yang harus dibuang!" Angel langsung terisak. Dirinya menyadari semua masalah di hidupnya ini karena ulahnya sendiri dan karena dirinya banyak hati yang terluka, termasuk orang yang tulus menyayangi nya seperti anaknya sendiri yaitu Amanda. Pasti sekarang Amanda tengah bersedih karena Angel merebut hal yang paling berharga bagi Amanda yaitu Rio.
"Sayang." Rio melepas pelukannya lalu membalikan badan Angel agar Angel menatap dirinya. Angel tertunduk dalam, hatinya sangat sakit dengan perasaan bersalah ini.
"Kamu bilang apa barusan? luka? sayang ini bukan salahmu."
"Lalu salah siapa, kamu atau Sena? Sena, dia yang membawa ku di dalam hidupmu, dia percaya aku tidak akan merebut dirimu darinya tapi kenyataannya, aku merebut mu dari dirinya. Aku merusak rumah tangga mu dan aku selalu berpikir kalau aku korbannya tapi sekarang aku sadar bahwa Sena yang selama ini terluka. Aku... Aku tidak punya hati, Ri."
"Kamu bilang apa? ngga ada yang perlu disalahkan, ini sudah digariskan Tuhan untuk kita semua, dan Sena."
Rio tidak meneruskan kalimatnya. Terdengar helaan nafas panjang dari Rio. Rio sendiri juga bingung harus menghadapi Sena seperti apa, sudah banyak permintaan Sena yang ia turuti dan dirinya hanya meminta untuk tidak mengganggu Angel lagi karena akan disesali Sena sendiri namun permintaan Rio itu tidak dituruti Sena dan ini lah yang terjadi.
"Dia yang menggores lukanya sendiri, aku sudah memintanya untuk tidak mengganggu mu lagi karena kamu akan menikah tapi dia tidak menurutiku. Kamu jangan banyak pikiran nanti ASI kamu ngga lancar, kan yang kasihan Kevin. Dia sangat membutuhkanmu, aku akan menyelesaikan masalah ini dan tugas mu hanya mengurus malaikat kecil kita."
Rio menyeka air mata Angel dengan penuh kasih sayang. Angel mengangguk pelan, mungkin yang dikatakan Rio ada benarnya. Rio sudah melepasnya namun Sena seakan ingin membuat Angel terus ada diantara dirinya dan Rio.
"Jangan sedih lagi yah?"
Cup. Kecupan hangat mendarat di kening Angel. Angel memejamkan kelopak matanya, terasa nyaman dan damai terasa. Rio melepas kecupannya, Angel pun membuka kelopak matanya.
"Kamu juga jangan nyebelin." pinta Angel dengan polosnya namun Rio malah menunjukan senyum misterius.
"Kelonin." Pinta Rio dengan manjanya membuat Angel mengerutkan dahinya. Baru saja dirinya meminta Rio untuk tidak bertingkah menyebalkan.
"Kamu ini, ngga malu apa sama umur?"
Mendengar ucapan Angel membuat Rio berdecak kesal.
"Ayolah... Aku juga ingin dimanja sama seperti Kevin, aku juga butuh perhatian istri ku, ayo lah sayang, mumpung Ibu kamu jagain Kevin."
Rio kini mengeluarkan sifat manjanya , Angel hanya menatap datar Rio. Melihat Angel yang tidak merespon, Rio berdecak kesal lalu melangkah ke sisi kasur yang satunya. Angel hanya melihat saja apa yang Rio lakukan. Rio mulai membaringkan tubuhnya, posisi tubuh Rio membelakangi Angel.
"Kamu marah?" Tanya Angel namun Rio tidak menjawab. Cukup lama Angel menunggu jawaban dari Rio. Angel mengira Rio marah kepadanya, dengan perasaan bersalah Angel melangkah menghampiri Rio. Senyum manis Angel terukir saat melihat Rio yang sudah tertidur.
"Kamu ini."
Angel langsung duduk dilantai dekat dengan Rio. Tangan Angel mulai membelai lembut rambut kepala Rio dengan penuh kasih sayang. Rio pasti sangat lelah dan banyak beban di kepalanya sekarang.
"Kamu pasti capek, maaf karena ku, kamu jadi seperti ini. Aku hanya ingin bersamamu."
Angel bangkit dari duduknya, dirinya harus segera turun, takutnya Kevin terbangun.
Cup
Kecupan hangat mendarat di kening Rio, sebelum pergi Angel memakaikan selimut di tubuh Rio dan juga menyalakan AC.
Rio membuka matanya saat mendengar pintu tertutup. Rio tidak tidur hanya saja dirinya ingin menjahili Angel.
"Kamu begitu manis." Ucap Rio sekilas lalu menutup kelopak matanya lagi. Sekarang Rio benar-benar tertidur.
...
Jihan merasa sangat senang melihat Cucunya yang sangat menggemaskan ini tidur dirumahnya. Jihan merasa bersedih karena melewatkan masa dimana Kevin masih dalam kandungan Angel. Amanda bisa membayangkan betapa sulitnya Angel menjalani masa-masa itu tanpa dirinya sebagai ibunya.
Angel pasti sangat kesepian dan tidak punya teman untuk meluapkan semua rasa yang dirasakannya saat mengandung Kevin.
"Bu?"
"Eh, kamu sayang. Rio sudah tidur?"
"Sudah, sebaiknya Ibu juga tidur."
"Nanti, kamu tidur duluan saja, aku ingin menemui Ayahmu."
"Ibu tidur bersama ku kan?"
"Iya, kamu ganti popoknya Kevin dulu yah sebelum tidur, Kevin pasti tidurnya nyenyak sampai pagi."
"Iya."
..
Jihan sangat penasaran kemana Erik berada. Semoga saja Erik sudah tidak marah lagi kepada Rio dan Angel. Jihan sangat tahu bagaimana rasa kecewa, marah dan sedih yang menjadi satu yang kini Erik rasakan.
Erik sangat percaya kepada Rio bahwa dia akan menjaga putri kecilnya dengan baik namun kenyataanya Rio malah terlalu menjaga Angel hingga Angel bersetatus seorang ibu.
"Kamu sedang apa?"
"Eh? Kamu belum tidur?"
"Kamu malah balik nanya? Kamu sedang apa? Apa yang kamu cuci malam-malam seperti ini?"
Sangking penasarannya Jihan berjalan mendekat. Di dalam baskom itu terlihat baju mungil dan juga kain.
"Kamu beli baju bayi? Kok ngga bilang, aku kan bisa mencucinya."
"Tidak usah, aku bisa sendiri dan lagian ini sudah selesai tinggal di jemur saja, semoga saja besok kering."
Ucap Erik tanpa menoleh kearah Jihan, tangan Erik sibuk memeras kain yang akan dijemur.
Walau Erik berucap seperti itu, Jihan tetap membantu Erik untuk menjemur baju-baju cucu pertama mereka.
"Kamu beli dimana? ini sudah malam loh?"
"Di toko di dekat lampu merah, mereka buka 24 jam dan mungkin ini juga keberuntungan Kevin."
"Namanya Kevin?" tanya Jihan yang baru mengetahuinya. Erik melirik kearah Jihan.
"Apa kamu tidak menanyakan namanya?"
"Aku terlalu senang bertemu putri dan cucuku." jawab Jihan singkat, dirinya kembali menjemur baju.
"Sepertinya ada yang ngambek lagi." ucap Erik dengan nada pasrah namun Jihan tidak menghiraukan ucapan Erik. Erik tersenyum tipis lalu berjalan kearah belakang Jihan, tanpa berucap apapun Erik langsung memeluk Jihan dari belakang.
"Eh?" Jihan yang tengah menjepit baju dengan penjepit jemuran terkejut dengan ulah Erik.
"Kamu sedang apa? lepasin!" pinta Jihan dengan nada tidak suka, Erik selalu saja membuatnya semakin menemukan dagunya.
"Memeluk istriku." jawab Erik asal.
"Kamu ini, sudah punya cucu tetap berasa muda saja yah?"
"Biar kamu tambah sayang." jawab Erik semakin asal. Jihan tidak marah bahkan dirinya sekarang tahu apa yang sebenarnya Erik rasakan.
"Kamu takut Ayahku membawa Angel bersama bayinya?"
"Iya, aku tidak pantas di sebut Ayah. Ayah macam apa aku ini, aku begitu bodohnya hingga mempercayakan putrinya sendiri kepada orang asing. Sayang aku takut kehilangan kalian bertiga, aku.... aku... aku mohon maafkan aku, ini semua karena diriku."
Pelukan Erik semakin erat, seakan dirinya tidak ingin melepas Jihan sedetik saja. Erik tidak bisa hidup tanpa orang-orang yang sangat berarti bagi dirinya.
"Jangan seperti ini, yang lalu sudah berlalu kita hanya bisa menata masa depan yang lebih baik untuk Angel. Kita harus melakukan yang terbaik untuk Angel dan cucu kita, jangan sampai mereka terpisahkan, cukup kita saja yang merasakan luka itu. Urusan Ayah, kita pikirkan nanti yang terpenting kita harus menyelesaikan masalah ini dulu. Aku harap Rio bersungguh-sungguh dengan ucapannya kalau tidak... kita bawa Angel dan cucu kita pergi menjauh dari dia. Aku tidak ingin putri dan cucuku disia-siakan oleh nya."
"Aku akan berusaha semampuku, besok aku akan menemui keluarga Rey, semoga saja semua akan baik-baik saja."
"Iya sayang."
02:00 pagi.
Rio terbangun dari tidurnya untuk menemui Kevin yang terbiasa terbangun di jam-jam seperti ini.
Rio tersenyum tipis saat melihat Kevin yang tengah asik bermain sendiri diantara Jihan dan Angel yang masih tertidur.
"Sayang, kamu sedang main? jangan berisiknya? Mama sedang tidur, yuk main sama Papa saja yah?"
Rio dengan hati-hati mengangkat tubuh Kevin, membawanya berkeliling agar Kevin anteng dan mau tidur lagi, berbarengan dengan itu, Erik juga terbangun. Erik sendiri tidur di sofa tak jauh dari tempat Rio berdiri.
"Putramu terbangun?" tanya Erik yang membuat Rio terkejut.
"Iya, Yah."
"Apa dia lapar?
"Tidak, dia hanya ingin bermain."
"Boleh aku membopongnya?"
"Tentu saja."
30 menit berlalu. Erik merasa Kevin masih ingin bermain bahkan Jihan juga terbangun. Jihan tersenyum tipis, tingkah Kevin mirip seperti Angel waktu masih bayi. Rio merasa Kevin sangat nyaman di bopongan Erik.
"Dia belum tidur?"
Kevin melihatkan kedua mata yang sangat segar tanpa rasa ngantuk. Bahkan Kevin melempar senyum kepada Papa dan Neneknya.
"Belum, dia mirip banget sama Angel dulu. Ri, kamu tidur lagi sanah."
"Kalian saja, biar aku yang menjaga Kevin, aku sudah terbiasa."
"Benarkah? apa dia rewel?"
"Tidak Bu, dia anteng, cuma dia alergi susu sapi."
"Alergi? untung saja aku tidak membeli susu formula." ucap Erik yang memang berniat untuk membeli Susu formula namun tidak jadi.
"Kalian semua terbangun?" ucap Angel yang ditinggal sendiri di ruang tengah.
"Kamu ini, anak kamu lapar kamunya baru bangun." ucap Jihan langsung. Angel hanya mengerutkan dagunya.
"Salah siapa tidak dibangunin." ucap Angel asal lalu mendekati Erik. Melihat Angel mendekat Kevin langsung bersuara, seakan senang melihat kedatangan Angel.
"Sayang, kamu sudah lapar yah? ayo sama mama."
07:00
Tak terasa malam cepat berlalu berganti dengan cahaya matahari yang hangat. Di Rumah sederhana ini terasa lebih nyaman dan damai setelah kedatangan malaikat kecil yang penuh dengan pesona.
Jihan tengah mengajak Kevin berbicara dan Kevin selalu merespon dengan mengeluarkan suara yang seakan menyahuti ucapan Jihan.
"Kevin, senang yah tidur di rumah Nenek?"
Kevin terlihat penuh energi padahal dia baru bangun dan belum menyusu. Jihan sangat senang melihat cucunya yang sangat sehat.
Pandangan mata Kevin seakan mengikuti seseorang, Jihan langsung menoleh kebelakang, ternyata itu Angel.
Kevin terdiam sembari terus melihat Angel yang kini duduk di samping atas Kevin. Angel tengah merapikan selimut yang Rio pakai.
Jihan tahu Kevin pasti sudah lapar tapi Kevin tidak menangis hanya memandang Angel.
"El, coba lihat putramu."
"Kenapa? sayang kamu lapar?" mendengar itu Kevin langsung tersenyum senang.
"Eh? kamu masih bayi tapi sudah mengerti yah?"
"Iya nek, Kevin mau sarapan dulu terus nanti mandi."
Angel langsung menyusui Kevin. Jihan berpamitan ingin menyiapkan sarapan di dapur.
"Ibu kamu mana?" tanya Rio yang baru selesai mandi.
"Di dapur."
Rio langsung menuju ke dapur, siapa tahu dirinya bisa membantu. Jihan terlihat tengah memotong daun bawang.
"Bu, aku bantuin yah?"
"Eh? tidak usah, cuma nasi goreng kok."
"Biar Rio saja, Rio bisa kok."
"Ngga-ngga, kamu sama El saja! biar urusan dapur ibu yang ngurus" tolak Jihan. Jihan tidak ingin merepotkan Rio, walaupun Rio itu mengecewakan dirinya tapi kerena bantuan Rio, keluarganya sekarang masih utuh.
"Ibu saja yang sama Angel, aku bisa masak kok."
"Tidak Rio, kamu mana bisa masak, kamu kan kerja kantoran."
"Ayolah Bu, percaya padaku."
"Ada apa ini?"
Erik tiba-tiba datang dengan kening yang mengkerut. Pagi-pagi sudah ada keributan.
"Ini Rio katanya mau masak ngantiin aku tapi aku ragu, nanti kalau ngga enak bagaimana?"
"Benarkah?" Erik memandang Rio dengan tatapan ragu. Rio tahu keduanya pasti tidak percaya bahwa dirinya bisa memasak.
"Pasti enak kok."
"Rio."
"Sudahlah Bu, biarkan saja Rio masak."
Mendengar ucapan Erik, Rio langsung tersenyum sumringah namun membuat Jihan mengerutkan dagunya.
"Tapi Yah."
"Kalau masakannya tidak enak baru kamu omelin sepuas hatimu, lagian Kevin sepertinya ingin di temani."
Ketiganya dapat mendengar dengan jelas 'nyanyian' Kevin yang berenergi. Erik merasa heran bagaiman bayi sekecil itu bisa bersuara dengan kerasnya.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa panggil ibu yah?"
'Iya."
Akhirnya tinggal Rio sendiri di dapur. Rio mulai memasak dengan hati yang bahagia. Entah apa yang terjadi beban berat yang dirasakannya selama ini hilang begitu saja.
...
Keduanya menghampiri Kevin yang masih mengoceh tidak jelas. Kevin terlihat sangat senang bahkan tidak terganggu oleh Angel yang tengah membuka pampers yang sudah penuh, Angel akan memandikan Kevin.
"Kamu yah, pagi-pagi sudah bernyanyi." Erik yang gemas langsung mendaratkan kecupan di pipi chubby Kevin. Bayi mungil itu nampak terganggu hingga menunjukan wajah kesalnya.
"Wajahnya lucu banget, kesal yah sama kakek? kakek nakal yah?"
Bayi mungil ini langsung merespon dengan mengeluarkan suara seakan mengiyakan ucapan Jihan.
Erik langsung menghentikan kegemasannya dan Kevin pun tidak kesal lagi. Sekarang Kevin sudah siap untuk mandi.
"El, biar ibu saja kamu bantu Rio sanah!"
"Memang dia sedang apa?"
"Kamu lihat saja sanah!" suruh Erik. Angel pun menurut saja. Sesampainya di dapur, Angel tersenyum tipis ternyata Rio sedang memasak.
"Mau di bantuin?"
"Tidak usah kamu duduk saja!"
"Oke"
Sesuai perintah Angel hanya menjadi penonton. Rio nampak seperti seorang koki yang sangat handal.
15 menit berlalu akhirnya masakannya selesai dan berbarengan dengan kedatangan Jihan dan Erik serta si mungil yang anteng di bopongan Jihan.
"Sudah selesai Ri?"
"Sudah Bu."
"Kalau ngga enak Ibu jewer telingamu" ucap Jihan dengan nada bercanda. Rio hanya mengangguk pasrah. Erik hanya tersenyum tipis, Jihan sepertinya sudah mulai akrab dengan Rio.
Jihan mulai memakan nasi goreng yang Rio masak. Entah kenapa jantung Rio berdegup kencang, mungkin dia takut masakannya tidak Enak dan mengecewakan ibu mertuanya.
"Ri kamu ini!"
"..."
...****.....