
"Kalian sedang apa?"
"Main PS" jawab keduanya dengan kompak. Amanda menggelengkan kepalanya lalu berjalan kestok kontak listrik lalu mematikannya.
"Yah Mama!" protes keduanya.
"El kamu tidak boleh duduk terlalu lama dan kamu Arfan belikan mama kaldu jamur disuper market!"
"Tapi?"
"Ngga ada tapi-tapian SEKARANG!"
"Iya Ma"
"Aku ikut" pinta Angel. Rio langsung menatap tajam Angel tapi Angel tidak perduli.
"Ya sudah ayo"
Rio menatap kepergian mereka berdua. Amanda menoleh kearah Rio, dirinya merass heran melihar Rio yang seperti itu.
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa"
Rio langsung pergi begitu saja. Amanda merasa ada yang aneh dirumah ini. Setiap kali dirinya bertanya soal Angel semua ART disini seperti menghindar dan mencari alasan untuk pergi darinya.
"Sebenarnya Angel itu siapa dan kenapa Sena seperduli itu sama Angel?"
Amanda masih ingat bagaimana Sena mengamuk diruangan Rio gara-gara sekertaris barunya yang cantik tapi sekarang Sena seperti membiarkan Rio dekat dengan Angel.
"Bi Inda juga, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu"
Amanda bertanya-tanya dalam hati. Entah kenapa memikirkan semua ini membuat kepalanya pusing.
...
1 jam berlalu. Arfan dan Angel baru pulang dari super market. Arfan terkejut melihat Rio yang tengah duduk diteras. Rio menatap mereka dengan tatapan datar. Angel tidak memperdulikan Rio yang namapak kesal karena dirinya tidak membalas pesan dari Rio. Angel langsung masuk kedalam rumah sedangkan Arfan menghampiri Rio.
"Kak Rio?"
"Kenapa baru pulang? kamu ngga lihat Angel kecapekan gitu!"
"Mama tadi kirim pesan daftar belanjaan jadinya lama"
"Oh"
Rio langsung pergi begitu saja meninggalkan Arfan yang terlihat bingung. Arfan merasa curiga ada yang disembunyikan oleh Rio.
"Tuh orang marah?"
...
Dapur
"Ma, ini belanjaanya"
"Taruh saja dimeja" suruh Amanda tanpa melihat kearah Arfan. Arfan duduk dikursi sembari mengeluarkan barang belanjaan dari kontong plastik.
"Ma. Apa perempuan hamil itu jadi sering bolak balik ke toilet?"
"Kenapa kamu tanya seperti itu?"
"Tuh si El dari tadi minta dianterin ketoilet terus"
Arfan melihat kedatangan Sena yang sepertinya habis bangun tidur menghampiri mereka.
"Bi, buah masih ada?"
"Masih non, mau dikupasin?"
"Iya. Buah yang biasa yah"
"Iya"
Setelah memberi perintah, Sena langsung mengambil wadah kaca. Amanda yang melihat itu langsung bertanya ini tidak biasanya Sena berada didapur.
"Kamu mau buat apa? biar mama yang buat"
Mendengar ucapan Amanda yang seperti itu membuat Arfan kesal sebab Amanda selalu saja memanjakan Sena padahal Sena telah sering melukai hatinya.
"Tidak usah Ma, cuma salad buah saja kok"
"Ya sudah"
Sena lalu mengambil susu kental manis, mayones dan beberapa bahan lagi. Sena langsung mencampurkan semuanya kedalam wadah bersamaan dengan buah-buahan.
Sena membagi salad itu menjadi dua wadah. Amanda mengerutkan dahinya dan langsung bertanya untuk siapa yang satu itu.
"Itu buat siapa?"
"Angel" ucap Sena singkat lalu melangkah pergi. Kerutan didahi Arfan sudah terlihat sejas, dia heran sejak kapan Sena perduli dengan orang lain.
"Sena sekarang sudah berubah yah" ucap Amanda dengan senangnya namun tidak dengan Arfan yang curiga dengan sikap Sena sekarang ini.
Sempat terbesit dipikiran Arfan kalau Sena itu tidak hamil dan Angel sebagai rahim pengganti. Arfan sampai perpikir seperti itu sebab Sena pernah bilang tidak mau hamil dan usia kandungan mereka sama tapi pemikiran ini hanya terngiang dikepalanya saja dan tidak benar-benar Arfan mencari tahu kebenarannya.
"Ma"
"Apa?"
"Mama merasa ada yang aneh ngga?"
"Aneh? maksudnya"
"Sikap Sena itu, tuben banget perduli sama orang lain biasanya cuma diri sendiri yang diperduliin"
Bi Inda menguping pembicaraan Arfan dan Amanda. Bi Inda ingin mereka tahu kebenarannya sendiri dan kali ini bi Inda tidak ingin ikut campur dengan masalah rumit ini.
"Kakak iparmu pasti sudah berubah, tidak mingkin jugakan sifatnya akan terus sama mungkin saja Sena sudah belajar dari kesalahannya"
"Iya sih"
Arfan tidak ingin meneruskan pembicaraan ini sebab Amanda akan terus berpikiran positif tentang Sena.
"Ma kita pulang kapan?"
"Kamu tidak mau menginap?"
"Ngga. Ada pekerjaan yang harus Arfan selesaikan ma"
"Apa orang itu terus memaksamu berkerja?"
Arfan tahu siapa orang yang dimaksud Amanda yaitu Riko. Arfan menggelengkan kepalanya. Amanda mendengus kesal sebab sifat Riko yang gila kerja diturun kepada anak-anaknya dan Amanda berharap kelak cucunya tidak seperti mereka ini.
"Sehabis makan malam, kita pulang"
..
Sena menghampiri Angel yang tengah terduduk sembari mengelus perutnya diteras samping rumah.
"Buat kamu"
Sena meletakan semangkok salad buah didepan Angel. Sena langsung duduk disamping Angel.
"Anakku" ucap Sena sembari mengelus perut Angel. Angel merasa dirinya hanya rahim pengganti yang akan terus dalam bayangan mereka berdua.
"Sayang kamu sedanga apa? kamu harus lahir dengan fisik yang sempurna yah. Mama mau kamu jadi model dan semua orang akan mengenalmu"
Angel merasa anak yang akan lahir ini menjadi anak yang tidak beruntung, belum apa apa masa depannya sudah ditentukan tanpa melihat bakat alaminya.
Sena menciumi perut Angel dengan gemasnya dan saat itu juga ada Arfan yang ingin memberikan Angel jus alpukat. Arfan langsung bersembunyi berharap mereka berdua tidak melihatnya.
"Permainan apa yang telah Sena mainkan.Apa dugaan ku selama ini benar?"
Arfan mengintip lagi dan melihat Angel dan Sena sedang bercengkrama sembari mengelus perut mereka masing masing.
"Apa mereka cuma berbagi apa yang mereka rasakan?" ucap Arfan saat Angel mengelus perut Sena.
Arfan semakin dibuat bingung namun sedetik itu Arfan menepuk jidatnya. Dia baru tersadar kalau mereka itu mahmud alis mamah muda yang sedang bahagia bahagianya hamil muda. Pasti mereka ingin membedakan perut mana yang paling besar dan hal-hal lainnya.
"Sudahlah Fan. Jangan membuat keributan! tahu sendirikan Mama kamu itu seperti apa" omel Arfan kedirinya sendiri. Arfan tidak mau dirinya terlalu memikirkan masalah ini apa lagi keceplosan bilang kalau Sena hanya pura pura hamil tanpa bukti yang jelas bisa bisa Amanda akan jatuh sakit sebab memikirkan masalah ini.
Arfan memutuskan untuk kembali kedapur dan meminta Amanda membuatkan satu gelas lagi. Arfan tidak mau ada salah paham ya Arfan takut Sena atau Angel merasa tidak diperdulikan.
...
"Coba kamu elus perut aku, El"
Angel menuruti kemauan Sena. Angel merasa perut Sena sudah sama persis dengan perutnya.
"Samakan?"
"Iya tapi kalau nanti Mama minta kamu cek kandungan?"
Sena mendesah kasar. Dirinya belum memikirkan sampai sejauh itu dan kalau sampai itu terjadi maka sandiwara ini akan terbongkar.
"Kamu tidak usah khawatir jaga saja anakku itu"
"Iya"
"Kalian sedang membicarakan apa? sepertinya serius sekali"
Mereka berdua langsung menoleh dan wajah mereka seperti terkejut melihat kedatangan Arfan terutama Sena yang takut Arfan mendengar ucapannya.
"Kamu mana paham" ucap Sena denga nada khasnya.
"Iya aku tahu para bumil yang sedang santai. Nih aku bawakan jus alpukat"
Ucap Arfan sembari meletakan dua gelas jus dihadapan mereka.
"Terima kasih"
"Thank. Adikku"
Arfan hanya melihatkan senyum tipis kearah Sena. Arfan merasa merinding saat Sena mengatakan itu. Arfan menaruh curiga dari ucapan Sena barusan terlebih Sena selama ini seperti tidak suka kepadanya.
"Sama sama para calon Mahmud"
"Apaan mahmud?" tanya Angel dengan nada bingungnya.
"Mamah muda. Jangan ngerumpi terus! sebaiknya kalian habiskan ini semua lalu mandi ntar keburu malam"
"Iya wel. Fan cepat nikah sanah biar istri kamu ngabung kali saja jadi cepat hamil"
Arfan menatap datar Sena. Istri? hamil? ucapan Sena barusan membuat Arfan dongkol. Kata kata itu membuat Arfan ingin merebut Angel dari suaminya.
"Belum nemu, pasar jodoh juga belum cuci gudang" jawab Arfan ngelantur.
"Ck! kamu ini. Jodoh kamu nantinya harus super duper sabar ladeni kamu Fan!"
"My be. Eh buru dimakan"
"Iya. Kamu mau disini terus?"
"Kenapa? kalianmau disuapin sama babang ganteng?"
"NGGAK!!!" tolak keduanya secara bersamaan membuat Arfan mengerutkan dagunya.
...
Bi Inda yang ingin kekamarnya melihat Rio yang sedang memukul samshak dengan penuh emosi. Bi Inda menghampiri Rio untuk menanyakan apa yang telah terjadi.
"Den Rio kenapa?"
Rio tidak memperdukikan bi Inda. Dia terus memukul dengan garangnya.
"Den Rio cemburu lihat Non Angel sama den Arfan?"
Rio memukul sekali dengan luapan emosi lalu menoleh kebi Inda.
"Apa aku harus menjawabnya?"
"Tidak usah, bibi sudah tahu jawabanya. Den kalau cemburu bilang terus terang ke non Angel jangan tiba tiba marahkan kasihan non Angel. Itu juga salah den Rio sendiri istri tidak diakui"
"Bi, bibi nambah masalah aku lagi!"
"Itu kenyataannya nanti kalau non Angel suka sama den Arfan gimana terlebih den Arfan perhatian gitu. Den Rio, bibi saranin mulai sekarang den Rio harus membuat non Angel terkesan biar tidak berpaling dari den Rio kalau non Sena mah urusan belakangan. Ya bibi cuma menyarankan"
Bi Inda langsung pergi meninggalkan Rio yang nampak sedang berpikir.
"Ini cara yang harus ditempuh buat den Rio sadar siapa yang paling dicintainya"
lirih Bi Inda sembari berjalan. Bi Inda ingin semua ini bisa cepat selesi karena ini semua membuat dirinya tidak dapat tidur nyenyak.
...
Suasana makan malam terasa agak aneh karena Rio yang namapak tak berselera makan. Dia hanya mengaduk aduk nasi dipiringnya.
"Ri, kamu tidak suka masakan mama?"
Suara Amanda membuat Rio terkejut. Arfan merasa ada sesuatu yang telah terjadi kepada Rio.
"Eh. Suka kok mah"
"Terus kenapa tidak dimakan?"
"Ini mau"
"El sudah selesai makannya"
Angel langsung beranjak dari tempat duduk meninggalakan mereka. Arfan semakin bingung dengan keadaan ini. Arfan merasa ada yang jangal saat Rio menatap kepergian Angel.
"Ma. Arfan mau nyusul El"
Tanpa menunggu persetujuan dari Amanda, Arfan langsung pergi. Rio yang tidak suka dengan Arfan yang ingin menemui Angel langsung bangkit dari duduknya melangkah kearah yang sama dengan Arfan.
"Loh? kenapa pada pergi sih?"
"Ma jangan dipikirkan. Rio akhir-akhir ini Rio banyak pekerjaan, dia mungkin capek"
"Entahlah sayang, Mama sudah tidak bisa mengerti apa yang Rio rasakan"
Amanda terlihat sangat sedih. Sena merasa dirinya harus membuat Amanda tenang agar tidak ada rasa curiga.
"Ma, Rio sudah besar. Dia bisa mengurus dirinya sendiri"
"Iya kamu benar"
..
Rio memukul tembok saat melihat dari kaca jendela Arfan yang tengah mengelus perut Angel. Ucapan dari bi Inda tadi membuat hatinya resah. Rio merasa ucapan bi Inda benar perhatian Arfan sepertinya membuat Angel merasa tertarik.
"Ck!"
Rio takut Angel akan jatuh cinta dengan Arfan serta kedekatan diantar mereka bisa jadi membuat kebohongan ini terbongkar.
"Tuh den lihat non Angel seneng banget" Entah dari mana datangnya bi Inda sudah berada di samping Rio.
"Hati hati Den ntar istrinya nyantol sama den Arfan"
Bi Inda seakan sedang memanas-manasi Rio agar Rio merasa cemburu dan membuat dia sadar siapa yang dicintainya.
"Senyum non Angel manis banget"
"Sebaiknya bibi pergi!" usir Rio. Bi Inda menurut karena misinya sepertinya berhasil.
...
Amanda dan Arfan berpamitan pulang membuat Angel merasa sedih namun tidak dengan Sena dan Rio yang merasa lega dengan kepulangan mereka.
"Mama hati-hati dijalan"
"Iya"
Sena langsung masuk kedalam rumah sedangkan Rio malah menatap Angel kesal. Rio langsung menarik lengan Angel mencegahnya pergi.
"Apa?"
"Aku sudah bilangkan, jauhi Arfan!"
"Sudah aku bilang juga kalau aku bukan milikmu"
"Ck kamu masih istriku, jangan mencoba berpaling dariku!"
"Ri, aku muak dengan semua ini! berhenti menyebutku sebagai istrimu kamu cuma inginkan anak ini jadi jangan sok perduli denganku!"
"El mengertilah!"
"Kamu yang seharusnya mengerti!"
Angel langsung pergi meninggalkan Rio.
"Kamu tidak mengerti, El. Aku cemburu melihatmu dengan Arfan"
...
Rumah Amanda /Riko. Kamar Arfan
Arfan masih terbayang Sena yang mengelus perut Angel. Entah kenapa dirinya merasa ada yang janggal terlebih dirinya masih teringat soal Sena yang tidak mau hamil. Kehamilan Sena juga terasa janggal sebab bentuk tubuh Sena tidak berubah sama sekali hanya perutnya yang terlihat besar serta Sena yang melarang perutnya disentuh dan alasannya sih memang masuk diakal yah namanya juga orang hamil itu kalau memang beneran hamil.
"Ck, apa aku bilang ke Rio soal hal ini tapi apa dia percaya secara tuh orangkan cinta matai sama Sena kalau Mama? jangan aneh aneh deh Fan! mama pasti tidak akan percaya secara mama sedang bahagia dengan kehamilan Sena"
Arfan terdiam. Ia mengulang memory ingatannya. Arfan merasa ada sesuatu yang disembunyikan dirumah kakaknya itu tapi apa?.
"Tauah si Rio masa iya dia bisa dikibulin sama Sena terus El? haaahhh pusing"
Arfan memilih untuk tidur dan terlalu memikirkan urusan rumah tangga Rio. Arfan tidak mau kecurigaannya malah membuatnya dijauhi Rio.
....
01:00 kamar Rio
Rio masih membuka matanya. Dirinya tidak bisa tidur karena memikirkan Angel. Rio menoleh kearah Sena yang sudah terlelap. Rio heran kenapa Sena bisa tidur senyenyak itu padahal dia yang memulai semua ini.
Rio tersentak kaget mendegar suara petir pikiran Rio langsung tertuju kepada Angel. Rio langsung turun dari tempat tidur melangkah menuju kamar Angel.
...
Angel terbangun dari tidurnya karena suara petir yang menggelegar diluar sana. Angel menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya ini semua mengingatkannya akan kejadian itu saat dirinya diusir dari rumah.
Pintu kamar dibuka oleh seseorang ternyata itu Rio. Rio langsung menghampiri Angel dan menariknya kedalam pelukannya.
"Aku takut"
"Jangan takut ada aku disini"
Rio mencoba menenangkan Angel. Suara geledeng terus terdengar dan kilatan cahaya terus lerlihat.
"Aku temani kamu disini. Kamu lanjut tidurnya"
Rio melepas dekapannya. Angel mulai merebahkan tubuhnya. Angel menatap Rio dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa?"
"Aku butuh jawaban bukan pertanyaan. Jangan membuatku jadi orang yang tidak punya siapa siapa. Sampai kapan semua ini? jangan membuatku dalam penantian semu"
"Ak--"
"Jawablah! apa ini seperti perjanjian itu kalau memeng iya aku akan terima itu dan aku ingin kembali kerumah itu lagi aku tidak ingin disini! aku berhak bahagia aku tidak ingin berada dibayangan mu terus!"
Rio menatap Angel dengan penuh arti. Dirinya juga bingung harus apa semua ini juga mempersulit dirinya. Andai Sena tidak berbuat seperti itu dan tidak memulai sandiwara pasti hari ini dirinya sudah bercerai dengan Sena.
"Jangan hanya menatapku terus, aku butuh jawaban"
"El, aku mohon jangan bicarakan ini dulu"
"Lalu kapan? kamu tidak lihat perutku ini, anakmu sedang berkembang dirahimku apa dia tidak berhak mendapat perhatianmu?"
"Tapi kamu sendiri yang melarangku"
"Aku tahu itu karena aku tidak mau anakku sepertimu, suka mempermainkan hidup dan perasaan seseorang"
"Jangan bilang seperti itu, aku mohon"
"Itu kenyataannya. Ri kamu sadar atau tidak akan itu"
"Aku tahu tapi ini semua bukan mutlak salahku. Ini semua terjadi karena Sena"
"Jangan membela dirimu sendiri. Semua ini juga salah mu yang tidak bisa tegas, semuanya jadi kebohongan besar yang bisa melukai kita semua itu termasuk keluargaku. Sampai kapan aku harus menyembunyikan kebenaran ini kepada orang tuaku? apa kamu tidak pernah berpikir soal itu. Kamu selalu memikirkan orang tuamu sendiri, kamu takut melukai hati mereka tapi bagaimana dengan keluarga ku?"
Angel terus meminta Rio menjawab. Memang benar itu semua bukan salah Rio dan dirinya juga bersalah tapi Rio sebagai kepala keluarga harusnya bisa mencari solusi masalah yang ada dikeluarga ini.
"El, sebaiknya kamu istirahat"
Rio malah mengalihkan pembicaraan membuat Angel merasa dirinya tidak ada artinya.
"Ri! aku mohon!"
"Tidurlah!" ucap Rio dengan dinginnya. Rio langsung pergi meninggalkan Angel. Angel merasa emosinya kini memuncak kedua tangannya kini mengepal namun setelah itu Angel merasa perutnya terasa sakit.
"Aaaww"
Rio tidak jadi keluar kamar dirinya langsung berlari kearah Angel yang kesakitan sembari memegangi perutnya.
"Sakit"
"Kamu tenangkan dirimu, atur pernapasanmu"
Rio mengelus perut Angel dengan penuh kasih sayang. Perlahan rasa sakit yang Angel rasa menghilang. Rio mengecup kening Angel. Ini yang Rio takutkan saat berdebat dengan Angel.
"Masih sakit?"
Angel menggeleng pelan. Rio mengambil segelas air dimeja lalu diberikannya keAngel.
"Jangan banyak pikiran"
Angel meminum air yang Rio berikan. Rio merasa lega melihat Angel yang terlihat sudah baikan.
"Ri"
"Kalau nantinya aku tidak bercerai dengan Sena, apa kamu mau tetap bersamaku?"
"Jadi simpananmu terus itu maksudmu? aku tidak mau!"
"Jadi istriku, istri sahku yang kedua. Aku sudah bilangkan aku akan adil kepada kalian"
"Tapi sampai saat ini kamu tidak adil kepadaku"
"Berikan aku kesempatan kedua"
"Kesempatan kedua? kamu sedang bercanda, selama ini aku selalu memberikanmu kesempatan tapi apa? kamu selalu mengecewakanku. Kamu selalu membuatku terluka!"
"Aku janji. Kali ini aku tidak akan mengecewakanmu lagi"
"Aku tidak percaya perkataanmu itu, aku sudah muak akan janji manis mu yang beracun"
"Aku tahu kamu tidak akan percaya semudah itu kepadaku tapi kali ini percayalah kepadaku, demi anak kita"
Rio menyentuh perut Angel. Angel terdiam cukup lama. Dia memeng membenci Rio tapi si mungil yang diperutnya ini membuatnya berpikir berulang untuk menyerah. Dirinya juga tidak berhak menjauhkan anak ini dari Ayahnya.
"Aku hanya memberikan satu kesempatan lagi. Jangan mengecewakanku"
"Iya. Aku tidur disini yah?"
Angel mengangguk pelan membuat Rio tersenyum.
..
08:00
Suara tawa Angel terdengar hingga kekemar Sena hingga membuat Sena kepo. Dirinya mencari sumber suara itu.
Setelah dilantai bawah Sena terkejut melihat Rio dan Angel kembali akrab bahkan sekarang Angel duduk dipangkuan Rio dan Rio dengan jahilnya membuat Angel terus tertawa.
Angel duduk dipangkuan Rio, kedua kakinya selonjoran disofa.
"Ini pipi apa bakpo"
Tanya Rio sembari terus menciumi pipi Angel. Sena merasa hatinya terluka melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain tapi perasaan cemburu ini langsung ditepis Sena ini ia lakukan hanya untuk bayi yang didalam rahim Angel.
Sena mendekati mereka berdua dengan senyum dibibirnya.
"Sudah Ri itu bukan kucing, digucel terus dari tadi"
Rio menghentikan kejahilannya dan Angel berhenti tertawa. Angel merasa takut Sena akan merah.
"Kamu tidak kekantor?"
"Ini mau"
Angel menatap Rio. Dia tidak mau ditinggal bersama Sena. Rio mengerti tatapan itu.
"Tidak akan terjadi apa apa. Percaya kepadaku"
Angel ragu tapi dirinya mengangguk. Rio langsung mengecup bibir Angel. Melihat itu Sena langsung mengalihkan pandangannya.
"Jaga dirimu"
Angel mengangguk. Rio langsung berjalan kearah Sena.
"Sayang aku berangkat"
"Iya.. eh"
Rio mengecup bibir Sena lalu mengacak acak poni sena. Rio tersenyum sangat manis kearah Sena. Sena sekarang merasa Rio tidak lagi pilih kasih.
"Kalian berdua yang akur, jaga diri kalian"
Keduanya mengangguk membuat Rio merasa tenang meninggalkan mereka berdua. Seperginya Rio, Sena langsung menghampiri Angel.
Angel menundukan kepalanya takut melihat Sena dan kemungkinan yang akan terjadi.
"Kamu mau makan apa?"
Angel langsung mendongakan kepalanya. Ia tidak percaya Sena tidak marah kepadanya.
"Kenapa diam?"
"Mau roti tawar saja"
"Roti tawar gandum sama selai cokelat saja yah?"
"Iya"
Sena langsung pergi tanpa memarahinya atau apa biasanya kalau Sena melihat dirinya berduaan dengan Rio membuat Sena marah namun kali ini membuat Angel heran. Sebenarnya Sena sudah menunjukan perhatian seperti ini sudah lama kira-kira setelah dirinya keluar dari rumah sakit dan kembali kerumah ini sifat Sena berubah.
"Hufff.. aku kira tuh orang akan ngamuk"
...
10:30
Angel mengerutkan dagunya. Wajahnya kusut bak kanebo lecek. Angel merasa sangat bosan sekali bahkan kartun yang biasanya dapat menghiburnya tidak berpengaruh sama sekali.
"Hhaahhh bosan!"
Angel mendengar suara mobil Rio memasuki halaman. Angel langsung beranjak dari tempat duduknya mengintip dijendela untuk memestikan kalau itu benar Rio atau bukan.
Sena yang melihat tinggkah Angel mengerutkan keningnya. Senyum jahil Angel muncul ketika tahu itu Rio. Angel berjalan kearah belakang pintu. Saat pintu dibuka dan Rio melangkah masuk.
DORRRR
Sena langsung menahan tawa melihat ekspresi Rio yang terkejut dikageti oleh Angel.
Angel tertawa dengan gelinya sedangkan Rio memasang wajah datar melihat Angel yang sepertinya senang berhasil menjahilinya.
"El?"
Angel menunjukan deretan giginya lalu melangkah pergi kabur dari Rio. Sena menghampiri Rio yang namapak masih syok.
"Kamu kenapa?"
"Jangan bilang kamu juga terlibat"
"Tidak tapi lihat wajahmu tadi, lucu banget sumpah!"
Sekarang Sena tidak menahan tawa lagi. Dia tertawa dihadapan Rio membuat Rio kesal. Rio langsung mengelitik pinggang Sena hingga Sena semakin kerasa suara tawanya.
..
Sena meminta Rio untuk menemaninya pergi kemall dan mengajak Angel juga. Angel yang merasa bosan dirumah langsung mengiyakan ajakan tersebut.
"Ya sudah kalian cepat siap siap. Jangan kelamaan!"
"Iya"
Angel dan Sena menuju kamar mereka masing-masing. Rio mengambil ponselnya dan bermain game diponsel sembari menunggu kedua istrinya bersiap.
15 menit berlalu.
Angel yang sudah selesai merias diri. Angel langsung menuju ruang tengah. Kedua matanya melihat Rio yang sedang berbaring disofa sembari memejamkan mata.
Pikiran jahil Angel berreaksi. Ia langsung mempunyai ide untuk menjahili Rio.
Angel kembali kedalam kamar untuk menggambil lip gloss.
Sena mengerutkan keningnya saat Angel mengoles sesuatu dibibi Rio.
"El, kamu sedang apa?"
"Mau jahil, siapa suruh tidur"
Entah kenapa Sena ingin ikut dalam kejahilan ini.
"Bentar El"
Sena kembali kekamar untuk mengambil sesuatu. Angel mengendikan bahunya lalu kembali memoles bibir Rio dengan lip gloss.
Tak lama Sena kembali dengan kotak make upnya. Sena langsung membukanya. Melihat itu Angel langsung mengerti apa yang akan dilakukan Sena.
"Ayo kita dandanin dia"
Angel tersenyum senang. keduanya menatap Rio dengan penuh kejahilan.
Angel dan Sena mulai memoleskan bedak kewajah Rio. Sena sedang menebalkan alis Rio dan Angel tengah meronakan pipi Rio. Rio tidak merasakan apa pun, dirinya masih terlelap dan hanya menggeliat saja.
Keduanya menahan tawa melihat wajah Rio sekarang. Wajah Rio sudah sangat penuh dengan riasan namun keduanya masih terus menebalkannya.
Saat Angel ingin memakaikan maskara tiba tiba Rio membuka matanya. Sena dan Angel langsung menyembunyikan peralatan yang mereka pegang. Rio mengerutkan keningnya melihat kedua istrinya yang menatapnya dengan tatapan polos namun Rio melihat kotak make up dibelakang keduanya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Keduanya menggeleng. Rio langsung meraih ponselnya untuk bercermin dan.
"Kalian"
Rio terlihat sangat kesal. Wajah tampannya kini berubah jadi menor dan bibirnya kini merah merona.
Rio melirik keduanya baik Sena dan Angel memalingkan pandangannya seolah olah tidak melakukan apapun.
"Kalian!!"
"Ooppss.. kabur!!"
"...."