Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 48 Beli baju bayi



...


Ruang kerja Riko


Sebenarnya dari tadi Riko tidak berkerja dirinya sedang memikirkan hal yang menggangu pikirannya. Tadi orang suruhannya menelfon dan dia bilang bahwa Sena pernah tinggal hampir satu tahun di Prancis padahal Rio bilang Sena di rumah orang tuanya.


"Pa"


Riko terkejut saat pintu ruang kerjanya dibuka oleh Amanda. Riko mengerutkan keningnya saat melihat wajah Amanda yang cemas.


"Kamu kenapa?" tanya Riko langsung. Amanda tidak langsung menjawab dirinya duduk di sofa, helaan nafas panjang terdengar dari Amanda membuat Riko semakin bingung.


Riko menghampiri Amada lalu duduk disampingnya.


"Mau bicara apa?"


"Arfan, dia sepertinya mencintai Angel" ucap Amanda dan pastinya ini membuat Riko tak tenang.


"Kamu tahu sendiri, Angel itu sudah menikah"


"Tapi suaminya itu tidak bertanggungjawab, dia seenaknya menitipkan Angel disini dan hingga saat ini dia tidak muncul untuk menemui Angel, dan kamu tahu, bi Inda itu kalau ditanya suaminya Angel pasti langsung menghindar" kesal Amanda yang perduli dengan Angel. Riko menghela napas, jujur Riko mulai curiga dengan kehadiran Angel di rumah ini terlebih Angel sebelumnya tinggal di rumah Rio dan juga umur kehamilan Angel sama dengan Sena.


"Terus? kamu maunya?"


"Mama mau Angel bercerai sama suaminya itu!"


"Kamu ini jangan seperti itu, biar Angel yang menentukan. Ini semua terserah Angel, semua keputusan ada pada tangannya dan kita bukan siapa-siapanya Angel, kamu mengerti itu?"


Perkataan Riko membuat Amanda kesal, Amanda ingin Angel jadi menantu keluarga ini sebab dirinya sudah terlanjur sayang ke Angel dan dirinya tidak rela kalau nantinya Angel dibawa pergi suaminya. Riko tahu Amanda tidak setuju dengan apa yang ia ucapkan tadi tapi apa boleh buat dirinya memang harus mengingatkan Amanda dan Riko tidak mau keluarga kecil Angel jadi berantakan karena istrinya.


Riko menghela napas beratnya, semua ini malah membuat kepalanya pusing terlebih Arfan juga tertarik kepada Angel bahkan Arfan sudah menyayangi janin di rahim Angel.


"Jangan marah seperti itu, nanti kalau Angel mendengar bagaimana? nanti dia marah lagi sama kita?"


"Tapi.. hah kalau aku bertemu sama orang tua Angel pasti mama akan beritahukan semuanya" Amanda langsung bangkit dari duduknya dan berbarengan dengan Arfan yang memasuki ruangan.


"El ditinggal sendirian?" tanya Amanda ke Arfan.


"Sudah aku suruh tidur, ma"


"Oh, ya sudah Mama juga mau tidur, tuh bantuin Papa mu"


"Iya"


....


21:30


Amanda terbangun dari tidurnya karena dia baru teringat belum memasak untuk Angel kalau dia kelaparan ditengah malam.


"Kenapa sampai lupa gini sih!"


Amanda langsung turun dari tempat tidur menuju dapur. Saat menuruni tangga ia melihat Angel yang tertidur dengan Arfan yang menemaninya.


"Loh, Fan. El kok tidur di sofa?" tanya Amanda langsung. Arfan menoleh kearah Amanda.


"Ini mau dipindahin ke kamar"


"Ya sudah sanah, ntar pegel semua badannya kelamaan tidur di sofa"


Arfan langsung mengangkat tubuh Angel dengan hati-hati. Amanda melihat kepergian Arfan dan jelas sekali ada rasa yang Arfan sembunyikan.


"Kasihan kamu, nak"


..


Kamar Angel


Arfan mengenakan selimut ke tubuh Angel lalu ia duduk ditepi kasur dekat Angel berbaring. Sentuhan lembut tangan Arfan membelai pipi Angel yang sangat tembem kek bakpao.


"Tidur yang nyenyak yah... eh?" Arfan terkejut saat Angel membuka kelopak matanya, apa Arfan membangunkannya.


"Kok bangun?"


"Jangan pergi, aku takut sendirian" pinta Angel. Arfan tersenyum tipis lantas mengecup kening Angel. Angel merasa sedikit parno karena perkataan Arfan di rumah sakit sebab Angel takut dengan hal-hal mistis terlebih sekarang dia sering terbangun tengah malam.


"Aku temani kok, sekarang kamu tidur"


"Ngga mau! nanti kalau aku tidur kamu malah pergi"


"Aku tidur disini, sekarang kamu tenangkan?"


"Iya"


Angel perlahan menutup kelopak matanya lagi. Arfan yang belum mengantuk memilih bermain PS saja dan tidak ingin rasa ngantuk menghampiri dirinya.


23:35


Angel terbangun dari tidurnya dan kedua matanya langsung melihat Arfan yang tengah bermain PS. Suara batuk Angel membuat Arfan menoleh kearah tempat tidur.


"El" Arfan langsung menghampiri Angel dan menanyakan keadaannya


"Minum" pinta Angel.


Arfan membantu Angel duduk lalu mengambilkan segelas air mineral. Angel meminumnya sampai habis.


"Kamu lapar?" tanya Arfan dan dibalas anggukan pelan dari Angel.


"Aku ambilkan, kamu disini saja yah"


Arfan langsung pergi mengambil makanan untuk Angel. Seperginya Arfan, Angel malah terisak. Angel merasa dirinya tidak diperdulikan lagi oleh Rio, sampai saat ini dirinya masih tak jelas setatusnya. Angel sudah sangat siap kalau nantinya hanya sebagai rahim pengganti setidaknya dirinya tidak terbebani dengan rasa cinta ini dan belajar menghapus rasa cinta kepada Rio.


"Kamu pasti sedang bersenang-senang sekarang, kamu tidak tahu RI bagaimana lelahnya aku saat ini. Anak kita laki-laki RI"


Sakit yang dirasa ini sudah sangat biasa dirasa Angel namun janin di rahimnya ini punya hak untuk bahagia dan punyak hak untuk mendapatkan perhatian juga kasih sayang dari ayahnya.


"Loh kok sedih?" suara Arfan mengejutkan Angel. Arfan tersenyum tipis, jari jemarinya menghapus air mata Angel.


"Aku sudah bilang kan, kamu itu tidak boleh sedih dan banyak pikiran. Kalau memang suamimu itu tidak perduli sama kamu dan janin mu, biarkan saja, ada aku disini. Aku akan menjagamu, jangan sungkan meminta apapun kepadaku"


"Terima kasih" Angel langsung memeluk Arfan. Arfan pun membalas pelukan Angel, berharap Angel akan tetap tegar menghadapi ini semua.


"Sudah sedihnya, ayo makan"


...


Bali 20:30


Rio tengah menelfon bi Inda untuk menanyakan keadaan Angel. Rio merasa tidak tenang terlebih dirinya mengetahui kalau Angel berada di rumah sakit.


"Halo bi, Angel sudah pulang?"


"Sudah Den, oh iya Den tadi di rumah ngadain pesta kecil-kecilan untuk non El. Den, anak baby-nya cowok"


"Apa? anak saya Cowok, bi?" Rio terlihat sangat senang mendengar calon anaknya itu laki-laki. Rio merasa hal ini membuat hatinya sangat bahagia, serasa ini kado terindah dalam hidupnya.


"Iya Den! Aden buruan pulang, kasihan Non El butuh perhatian Den Rio"


"Ada Arfan yang jagain kan"


"Ih, Den Rio ini! Den Rio itu sama saja menyuruh Arfan jadi suaminya Non El, Den tahu selama Den tidak ada Den Arfan itu sayang banget sama non El dan janinnya, Den mau nanti anak Den itu nurutnya sama Den Arfan?"


"Bi, jangan aneh-aneh! anakku itu masih didalam perut nggak mungkin dia bisa ngenalin Arfan. Sudahlah Bi, aku mau tidur"


Rio langsung memutus sambungan telepon. Rio hanya ingin tahu kondisi anaknya itu saja dan selebihnya dia tidak perduli.


"Ri?"


"Eh, kamu sayang"


"Sudah malam, ayo tidur"


"Iya"


01:00


Rio belum bisa tidur, dirinya teringat ucapan bi Inda. Rio menyadari dirinya ini sangat buruk, dirinya belum mampu membuat keputusan sebab hati kecil masih memilih mana yang terbaik untuk hidupnya. Sena, dia yang menemani dari awal dan suka duka sudah dilewati bersamanya dan Angel, dia gadis yang baru dihidupnya. Angel hadir karena Sena yang sudah putus asa dan bingung harus berbuat apa. Intinya semua ini terjadi karena untuk membahagiakan Amanda yang ingin sekali memiliki seorang cucu.


Rio menoleh kearah Sena. Wajah Sena yang begitu damai seakan tidak ada beban membuat Rio semakin merasa bersalah.


Rio merasa dirinya begitu sangat tidak punya perasaan, harusnya dia tidak mau menerima permintaan Sena tapi ini semua sudah terjadi dan dirinya tidak bisa mengulang kembali waktu yang telah berlalu yang jelas baik Sena maupun Angel terluka dalam situasi ini dan dirinya harus tidak membuat luka lagi di hati ke dua istrinya.


Cup. Kecupan hangat Rio mendarat di kening Sena membuat lekuk senyum dibibir Sena.


"Tidur yang nyenyak yah" Rio membelai lembut wajah Sena" Kamu pasti selama ini merasa sedih yah? maafkan aku"


Rio mendekap Sena dengan penuh rasa bersalah. Sudah setahun lebih namun Rio belum bisa adil dalam segala hal dan dirinya belum bisa memberikan setatus yang pasti untuk Angel.


...


10:00 pagi.


Arfan tengah menelfon Rio untuk menanyakan berkas yang kemarin Rio tanda tangani.


"Kak, berkas yang kemarin Papa kasih ke kakak dimana?"


"Brangkas ruang kerjamu"


Arfan langsung ke ruang kerja Rio dengan masih menelfon. Setibanya diruang kerja, Arfan langsung menuju brangkas Rio dan Rio memberikan kode brangkas.


"Oke, thanks kak" Arfan langsung menutup sambungan telepon.


Saat Arfan mengambil map berwarna kuning yang posisinya ditengah lebih tepatnya menarik map itu membuat tumpukan di atas nya berjatuhan dan salah satu map itu terbuka. Map itu terlihat sangat mencurigakan terlebih ada tiga matrai yang ditandatangani juga ada nama Angel yang tertera.


"Ini apa?"


Arfan mengambil map itu lalu membaca dengan teliti isi berkas itu. Raut wajah Arfan berubah jadi merah padam, wajah yang penuh amarah dan kekecewaan.


Yang dibaca Arfan itu surat perjanjian pernikahan Rio dan Angel juga kesepakatan yang dibuat mereka bertiga. Surat perjanjian itu Rio ambil diam-diam dari Sena. Arfan benar-benar tidak percaya kakaknya bisa berbuat sejahat ini dan menggunakan uang yang ia punya untuk memperdaya seorang gadis. Arfan tidak percaya kecurigaannya kini terbukti nyata dan dirinya merasa malu mempunyai kakak seperti Rio.


"Kak, kamu benar-benar keterlaluan. Aku membencimu"


Arfan beranjak dari ruang kerja Rio serta membawa map yang ia cari dan surat perjanjian pernikahan. Arfan berencana memberitahukan semuanya kepada orang tuanya, serta memfotokopi surat perjanjian ini beberapa lembar untuk berjaga-jaga kalau nantinya ada masalah yang menimpa Angel.


..


Kamar Arfan


Arfan terdiam cukup lama, kepalanya terasa mau pecah. Arfan sungguh terasa terbebani dengan kenyataan ini, kenyataan yang sungguh sangat menyakitkan. Semua derita yang Angel dapatkan itu karena kakaknya.


"Kak, kamu tidak bisa jadi suami yang baik untuk Angel dan aku yang akan menggantikan mu. Aku tidak akan membiarkanmu terus menyakiti Angel"


Arfan menghapus air matanya yang tak tahu kapan menetesnya. Arfan berusaha tersenyum dan bersikap biasa-biasa saja menyembunyikan rasa sesak di dadanya.


"ARFAN KAMU DIMANA??" teriakan Amanda membuat Arfan mendengus kesal, Amanda selau membuat Arfan kesal sama seperti yang Riko lakukan.


"Apa sih?"


Arfan langsung keluar dari kamar, menghampiri Amanda dilantai bawah.


"Kenapa ma, jangan teriak-teriak! ini rumah bukan hutan" kesal Arfan yang sudah di samping Amanda.


"Anterin mama belanja"


"Nggaklah, malas" ucap Arfan singkat dan mendapat jeweran pedas dari Amanda.


"Awww, sakit Mmaaaaaa!" keluh Arfan dengan kerasnya. Angel yang mendengar suara Arfan langsung menuju ruang tengah. Angel terbengong saat melihat Arfan yang dijewer Amanda.


"Kok dijewer?" tanya Angel. Melihat Angel datang, Amanda langsung melepas jeweran nya. Arfan mengelus telinganya yang terasa panas.


"Ini, Arfan ngga mau anterin kita ke mall"


"Hah? apa? sama Angel?" tanya Arfan memastikan, tadi Arfan menolak karena ia pikir Angel tidak ikut ke mall dan Arfan ingin menemani Angel.


"Iya, kenapa?"


"Nanti saja, Angel juga belum tidur. Nanti kalau jam dua, baru berangkat"


"Loh kok gitu?" protes Angel yang sudah siap berangkat. Amanda tersenyum tipis, sepertinya Arfan sudah paham betul jadwal tidur siang Angel.


"Apa? setengah jam lagi kamu pasti tidur, sebaiknya kamu makan dulu baru tidur" ucap Arfan yang berjalan menghampiri Angel. Arfan langsung menyapa janin diperut Angel.


"Terserah kamu sajalah, Fan" Amanda langsung pergi, dirinya tidak ingin menggangu Arfan dan Angel. Di hati Amanda terucap doa agar Angel mau membuka hatinya untuk Arfan dan meminta cerai ke suaminya.


Cup. Arfan dengan lembutnya mengecup perut Angel. Angel merasa janin diperutnya bergerak aktif seakan senang dengan apa yang Arfan lakukan.


"Ini jamnya kamu makan buah, aku kupasin buah apel yah?"


"Iya, sama aku mau jeruk"


"Siap bos, mending kamu duduk"


...


12:00


Amanda sedang menonton TV bersama Arfan dan Amanda masih tidak percaya kalau yang dikatakan Arfan itu benar, sekarang Angel tengah tidur siang dengan nyenyaknya setelah makan buah.


Amanda mengerutkan keningnya saat Arfan mendorong kursi roda yang terlihat baru.


"Kamu beli kursi roda?"


"Iya, buat Angel. Kasihan nanti kecapekan jalan di mall, Ma"


"Oh, nanti Mama ganti uangnya"


"Ngga usah Ma, aku mau bangunin Angel. Kita berangkat sekarang"


"Masa dibangunin, kasihan kan?"


"Paling juga sudah bangun" ucap Arfan santai sembari berjalan pergi meninggalkan Amanda. Amanda sangat senang melihat Arfan yang perhatian kepada Angel.


.....


Mall/ khusus perlengkapan Baby


Angel tersenyum senang saat Amanda dan Arfan tengah memilih baju untuk anaknya nanti. Angel bersyukur bertemu dengan orang-orang yang perduli kepadanya.


"Fan cari gurita" suruh Amanda dan membuat Arfan bingung. Amanda menyuruh Arfan mencari "gurita" di perlengkapan bayi?.


"Mana ada "gurita" disini, ini kan perlengkapan bayi!" kesal Arfan. Angel nampak senang saat melihat pertengkaran kecil ibu dan anak ini seakan mengobati rindunya kepada Jihan.


"Bukan "gurita" itu tapi yang ini!" ucap Amanda sembari melihatkan kain yang ia pegang.


"Oh yang itu, mana tahu aku Ma. Kesini juga baru" bela Arfan yang langsung mencari "gurita" di tumpukan yang lainnya.


"El, ini lucu yah?" Amanda menunjukan baju bayi yang bermotif bunga.


"Iya sih lucu tapi anakku cowok"


"Ya ngga apa-apa kan masih bayi, dia belum bisa milih"


Amanda terlihat sangat senang memilih baju untuk cucunya. Amanda juga memilih kain bedong dan lain untuk anak Angel nanti. Amanda tidak membeli untuk anaknya Sena sebab Amanda tidak mau pemberiannya akan sia-sia nantinya karena Sena tidak suka.


Tak lama Arfan kembali dengan membawa beberapa kain "gurita" dan baju bayi yang ia pilih.


"Cuma dapat tiga, Ma"


"Ya sudah, kamu jagain El, Mama mau cari sebelah sana"


"Iya"


Seperginya Amanda, Arfan langsung mengecup perut Angel sekilas dan membuat janin diperut Angel menendang-nendang seakan sangat senang disapa oleh Arfan.


"Hai, kamu senang banget disapa om Arfan? tahu yah dibeliin baju" ucap Angel sembari mengelus perutnya, menenangkan janin didalam perutnya.


"Sayang, ini baju untukmu" Arfan melihatkan baju yang ia pilih didepan perut Angel. Angel terlihat sangat senang terlebih baju yang Arfan pilihkan itu sama dengan yang ia mau.


"Bajunya lucu banget"


"Nih"


Arfan menyerahkan baju mungil ini ke Angel. Angel memeluk baju bayi ini seakan dia bisa merasakan memeluk anaknya. Senyuman dibibir Angel membuat hati Arfan ikut tersenyum. Arfan ingin terus membahagiakan Angel bagaimanapun caranya akan ia lakukan, ini ia lakukan bukan untuk memperbaiki kesalahan Rio tapi ini Arfan lakukan tulus dari hatinya yang paling dalam. Rasa cintai ini entah kapan ia tumbuh hingga sebegitu besarnya.


"Cari sarung tangan yuk?" ajak Arfan langsung mendorong kursi roda yang diduduki Angel.


...


Angel tertawa sangat lepas saat Arfan menggunakan kupluk baby di kepalanya dengan dot susu yang ia arahkan ke mulutnya, mungkin Arfan ingin kembali menjadi bayi yang tidak punya beban pikiran.


"Ketawa kamu yah!" Arfan mengacak-acak poni Angel dengan gemasnya.


"Abisnya kamu lucu, mau lihat selimut itu"


ucap Angel sembari menunjuk selimut bulu berwarna coklat.


"Yang ini?" Arfan mengambil selimut bulu itu lalu memberikannya ke pada Angel.


"Lembutnya, aku boleh minta ini ngga?"


"Ya boleh dong, mau minta apa lagi?"


"Umm, aku mau baju yang kembaran sama anakku"


"Boleh, ayo kita cari!!" ucap Arfan dengan penuh semangat.


...


Tempat makan


Semua barang yang dibutuhkan sekarang sudah terbeli semua dan wajah bahagia tersirat di wajah Amanda terlebih Angel sangat suka pemberiannya.


Angel tengah disuapi oleh Arfan dengan penuh kasih sayang bahkan Arfan belum makan satu suap pun, dia ingin menyuapi Angel terlebih dahulu.


"Tadi kalian beli apa saja?" tanya Amanda yang kepo dengan barang yang Arfan dan Angel beli.


"Tadi beli sarung tangan baby, sepatu sama apa lagi yah, El?"


"Ngga tahu kamu kan tadi yang milih"


"Ya sudah tidak apa-apa, setelah ini kita pulang. Papa mau ke Prancis malam ini"


"Loh? kok mendadak sih, Ma?"


"Mama juga tidak tahu"


..


Rumah Amanda Riko


Riko telah siap dengan kopernya, dirinya akan menemui orang suruhannya dan ke rumah Rio yang ada di Prancis. Riko ingin memastikan semuanya.


"Pa, hati-hati di sana yah?"


"Pasti, kamu jaga cucu Papa yah?" Riko merasa berat meninggalkan Angel dan juga khawatir Arfan akan berbuat nekat namun Riko berusaha untuk tidak terlalu khawatir dan menyingkirkan hal-hal negatif dipikirannya.


"Iya"


"Ma, aku berangkat. Arfan jaga mereka!"


"Siap Bos!!" ucap Arfan sembari mengangkat kedua ibu jari tangannya.


Setelah Riko pergi Arfan jadi lesu, padahal dirinya ingin mengatakan hal penting kepadanya. Arfan bisa saja mengatakan itu tiga puluh menit yang lalu namun dirinya tidak ingin membuat Riko merasa terganggu dengan masalah ini dan membuat pekerjaan di Prancis berantakan karena ini semua berkaitan dengan anak kandungnya.


"Fan? bisa temani aku sebentar nggak?" pinta Angel yang sudah ada didepan Arfan.


"Maaf yah El, kamu sama bi Inda dulu, aku mau istirahat"


Arfan langsung berlalu pergi, dirinya ingin mendinginkan kepalanya. Angel tidak masalah toh dirinya sudah sangat sering merepotkan Arfan.


"Sepertinya aku harus mengambilnya sendiri"


Angel menuju tempat menjemur pakaian untuk menggambil boneka yang tadi pagi ia cuci. Angel bisa saja menyuruh ART untuk mengambilnya namun saat ini mereka tengah makan malam dan Angel tidak ingin mengganggu makan malam mereka.


...


Kamar Arfan


Arfan langsung menghempaskan tubuhnya keatas kasur. Hari ini sungguh sangat melelahkan.


Arfan terdiam sembari menatap langit-langit kamarnya, menerawang sesuatu yang hanya Arfan saja yang tahu.


Helaan napas panjang terdengar dari Arfan. Kebenaran yang ia cari selama ini telah ia temukan dan semuanya terasa sangat mengecewakan. Rio telah menyembunyikan pernikahan keduanya kepada semua orang bahkan dia memaksa seorang anak untuk jauh dari keluarganya.


"Aku tahu kak, kamu melakukan semua ini karena Sena kan? aku tahu kalian pasti terbebani dengan kemauan Mama tapi caranya tidak seperti ini"


Arfan kembali terdiam, dia teringat saat pertama kali bertemu dengan Angel dan dirinya sekarang tahu kenapa Angel selalu menatap sedih ketika Rio dan Sena sedang bersama.


"Pantas saja kamu tidak ingin berbicara dengan Rio"


Arfan kini tahu kenapa di rumah sakit, Angel tidak ingin berbicara dengan Rio. Rio sebagai suami menyerahkan tanggungjawabnya kepada orang lain dan dirinya sedang asyik berlibur dengan istri pertama.


"Aku tidak bisa memberi tahukan ini ke Mama terlebih Mama tidak mungkin percaya begitu saja dengan kebenaran ini, yang ada Mama malah jadi sakit. Fan sekarang kamu tidak punya alasan lagi untuk menjaga jarak dengan El, dia butuh perhatian yang tidak kakakmu berikan"


Arfan jadi terbayang bagaimana sakitnya hati Angel saat harus tinggal bersama namun tidak diakui oleh suami dan mertuanya.


"Sampai anak itu lahir kan? kalau iya aku siap menikahi mu dan aku janji tidak akan melukai hatimu, aku akan membahagiakanmu. Sebaiknya aku mandi lalu menemani El"


...


Tempat menjemur pakaian


Angel bernapas lega akhirnya sampai juga ketempat ini. Rasa lelah yang dirasa Angel hilang saat melihat taburan bintang di langit.


"Indahnya" lirih Angel sembari melangkah kearah pagar pembatas. Angel melihat langit yang terbentang luas.


"Kak Rio"


Nama itu terucap begitu saja dari mulut Angel. Hati Angel selalu bertanya-tanya, apa Rio sudah melupakannya, hingga detik ini Rio terus saja mempermainkannya bahkan dia tidak menanyakan kabar janinnya.


"Sampai kapan?" Angel mengelus perutnya yang membuncit dan mulai berbicara dengan janinnya. "sayang kamu harus kuat yah, Papamu itu sayang sama kamu, dia cuma tidak menginginkan ku saja. Maaf kamu jadi jauh dengan Papamu"


Rangkaian kata-kata itu terasa menyayat hati tapi ini semua adalah pilihannya, pilihan yang telah menggubah hidupnya.


.


Saat Angel ingin melangkah ke tempat bonekanya kaki Angel terpleset karena genangan air yang menggenang.


"Eh?"


Hap. Arfan tiba-tiba datang dengan sigapnya langsung menyangga tubuh Angel kalau tidak Angel pasti sudah terjatuh dan kandungannya bisa bermasalah.


"Kamu ini baru ditinggal sebentar" kesal Arfan sekaligus bersyukur dirinya tidak terlambat.


Angel membenarkan posisinya, jujur dia sangat takut saat ini. Angel mengelus perutnya, pastinya janin di rahimnya juga terkejut.


"Kamu ngga apa-apa kan?"


"Ngga, untung ada kamu"


"Ya iya lah kalau bukan aku siapa lagi yang jagain kamu! suamimu itu benar-benar keterlaluan! ceraikan saja dia!" ucap Arfan dengan nada kesal dan nadanya seperti marah. Mendengar kata cerai Angel mendadak jadi lemas dan kepalanya pusing.


"Kamu kenapa?"


Arfan langsung menarik Angel kedalam pelukannya. Angel tidak menjawab, kepalanya terasa sangat pusing.


"Kepalaku pusing" lirih Angel. Arfan langsung membopong tubuh Angel, membawanya masuk.


Arfan sesekali melihat kearah Angel, seharusnya tadi siang ia melarang untuk pergi ke mall pasti sekarang Angel sangat kelelahan.


"Dengan perut bola mu itu, kamu bisa naik anak tangga sebanyak ini?" tanya Arfan dengan heran terlebih tempat menjemur pakaian dilantai dua pasti sangat capek.


"Jangan bilang perut bola ntar dianya ngambek"


"Iya.. iya maaf. Kamu ngapain ke sana?"


"Ambil boneka"


"Kamu kan bisa suruh orang buat mengambilkan"


"Aku juga ingin melihat bintang"


"Terserah kamu lah"


Arfan bernapas lega akhirnya sampai juga dilantai bawah dan berbarengan dengan Amanda yang tengah mencari keduanya.


"Kalian dari mana? Mama cariin"


"Nih, Bumil nyasar ke tempat jemuran" ucap Arfan sembari melangkah kearah sofa. Arfan mendudukkan Angel di sofa. Melihat Angel yang pucat membuat Amanda merasa cemas.


"Sayang, kamu kenapa? pasti kamu kecapekan yah?" tanya dengan penuh kekhawatiran terlebih Angel baru sembuh.


"Ya jelas lah, Ma, seharian di mall pasti capek"


ucap Arfan dengan nada ketusnya. Angel langsung menggeleng pelan.


"Fan, jangan seperti itu sama Mama" ucap Angel dengan nada lemas. Amanda tidak merasa sedih ataupun apa, dirinya lah yang mengajak Angel ke Mall padahal Angel baru keluar dari rumah sakit.


"Tidak apa-apa, ini juga salah Mama. Arfan cuma khawatir sama kamu dan anakmu, kalau ada apa-apa bilang sama Mama atau ngga sama Arfan"


"Maaf Angel ngerepotin kalian"


"Eh kok ngomong gitu! Mama malah senang kamu ada disini, sekalian buat Arfan jadi mau nikah setelah ngurusin kamu"


Arfan langsung melirik kearah Amanda namun Amanda seolah tidak perduli dengan tatapan kesal Arfan.


"Tuh mama kamu suruh kamu nikah!" Angel ikut-ikutan membuat Arfan kesal.


"Itu urusan nanti!...."


.....******....