Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 58 Jangan meninggalkan ku, Angel!



"....Kembali"


Rey langsung mengajak Angel pergi dari hadapan Rio. Rio menggelengkan kepalanya.


"Jangan bawa dia pergi!"


Pinta Rio namun Rey dan Angel terus melangkah pergi. Rio tidak percaya Angel akan pergi padahal Angel selalu bilang kalau Angel selalu mencintainya.


"El...!..Elll!..ANGEL!"


Sekencang apapun Rio memanggil nama Angel , Angel tidak bergeming sekali pun hingga keduanya hilang dari pandangan Rio. Rio merasa kakinya lemas hingga ia jatuh bertumpu pada lututnya.


"Kenapa kamu pergi? pulanglah bersamaku!"


Rio merasa dadanya sangat sesak. Sangking sesaknya hingga dirinya kesulitan bernapas. Tak disadari oleh Rio air matanya mengalir dari kedua matanya. menyesal? mungkin iya tapi ini sudah terlambat Angel sudah memilih pria lain sebagai suaminya. Rio hanya bisa menyesali yang telah terjadi. Rio selalu berfikir bahwa Angel akan menuruti semua perintahnya terlebih dirinya menyebut nama KEVIN namun buktinya tidak, Angel tidak ingin menuruti kemauan Rio.


"Kenapa disini sakit"


Rio mencengkram dadanya yang terasa sangat sakit, sedetik itu pun Rio teringat akan Angel yang berulang kali dia sakiti dan berarti Angel juga merasakan sakit seperti ini tapi tentu saja Angel merasakan sakit berkali-kali lipat dari ini. Dirinya telah memisahkan Angel dengan anaknya yang Rio sangat tahu Kevin itu sumber kebahagiaan Angel juga nyawa Angel tapi dirinya dengan tega merebut semua itu dari Angel. Angel pasti sangat membenci dirinya juga marah kepadanya. Rio teringat semua janji yang ia berikan untuk Angel namun tak satupun dari janji itu yang dipenuhi.


"Apa dulu kamu sesakit ini, El? Kenapa ini sangat sakit?"


..


Mobil Rey


Sesampainya di mobil, Angel langsung terisak. Perlakuan Rio sangatlah melukai hatinya walaupun sudah sering ia merasakan ini semua tapi sekuat apapun hati ini masih punya perasaan yang sulit untuk dihilangkan, rasa yang indah dibayangkan namun sakit dijalankan. Apa cinta sesakit ini? atau karena cinta ini seharusnya tidak ada makanya jadi sesakit ini.


Rey langsung menyeka air mata Angel dengan penuh kasih sayang. Perlakuan Rey membuat Angel sedikit terobati.


"Jangan menangis, air matamu ini terlalu berharga untuk mengisi laki-laki seperti dia. Kamu selama ini bisa bertahan dan itu berarti kamu itu kuat!"


Rey langsung menarik Angel dalam pelukannya, berharap Angel akan merasa lebih baik. Rey akan melakukan apapun asal Angel bahagia. Rey ingin segera menikahi Angel dan membawanya ke Bali jauh dari masa lalu kelamnya dan tentunya suami tak punya hati.


"Sudah jangan bersedih lagi, ini sudah jamnya makan siang. Ayo kita cari makan sama es krim"


Rey melepas pelukannya lalu mengecup kening Angel. Angel tersenyum tipis, Rey selalu bisa membuat Angel merasa tenang.


"Ayo"


Angel mengangguk. Rey membukakan pintu mobil untuk Angel lalu berlari kecil kesisi yang lainnya.


Didalam mobil hanya ada kesunyian, Angel masih terpikir dengan perkataan Rio. Hatinya tidak tenang memikirkan Kevin apa lagi Rio sendiri yang menemuinya.


"Putramu pasti tidak apa-apa"


Angel langsung menoleh kearah Rey. Angel tidak percaya Rey mengatakan itu seolah-olah Rey tahu isi hatinya.


"Tidak usah terkejut seperti itu, kamu kan seorang ibu yang sangat sayang dengan putranya"


"Kamu bisa saja"


"Jangan sedih lagi"


"Iya"


"Jangan cengeng"


"Iya"


"Jangan membuatku cemas"


"Iya"


"Jangan meninggalkan ku"


"Iya"


Rey terus saja menggoda Angel dan Angel hanya menjawab "Iya" setiap pertanyaan Rey membuat Rey ingin sekali menjahili Angel. Ide jahil pun kini muncul di pikiran Rey.


"Nanti anak kita lima yah"


"Iya.. eh?"


Angel langsung melihatkan tatapan menyeramkan membuat Rey tertawa dengan renyahnya sedangkan Angel berdecak kesal.


"Lima apa sebelas yah? menurut mu?"


"Sebelas? memangnya kamu mau bentuk tim sepak bola?" tanya Angel dengan sinisnya namun Rey hanya melempar senyum.


"Nyebelin!"


"Biar kamu tambah sayang"


"Terserah"


"Kamu marah?"


"Ngga, aku cuma ngambek!" jawab Angel lalu mengalihkan pandangannya.


"Cieee calon istriku ngambek. Sepertinya dia minta dicium"


"Ngga!"


Rey langsung tertawa. Angel benar-benar marah kepadanya. Angel yang melihat kearah luar mobil tersenyum dengan lebarnya, Rey bisa saja membuat dirinya tersenyum.


...


Rio melihat dari mobilnya yang terparkir di sebrang jalan. Di Resto itu terlihat Angel dan Rey tengah memesan menu makanan, tempat duduk keduanya berdekatan dengan dinding kaca.


Mata Rio tidak bisa berpaling dari mereka berdua. Entah kenapa hatinya sesakit ini saat melihat Angel pergi dengan orang lain.


Angel dan Rey terlihat sedang bercanda sembari menunggu pesanan datang. Rio menggalihakan pandangannya saat Rey mencubit kedua pipi Angel.


Saat Rio melihat kearah mereka lagi, Rio langsung sangat marah saat Angel menyuapi Rey, dulu perlakuan itu juga yang membuat hati Rio luluh. Rio masih ingat saat Angel memperlakukannya dengan baik bahkan Sena tidak bisa melayaninya sebaik Angel.


Rio yang tidak bisa melihat kemesraan mereka langsung tancap gas mobilnya menjauh dari depan resto. Perasaan ini sangat mengusiknya, rasa kehilangan, cemburu, marah, kesal dan entahlah hanya Rio yang tahu. Saat itu dirinya sangat cemburu melihat kedekatan Angel dengan Arfan sekarang ia harus terima bahwa Angel akan menikah dengan orang lain dan dirinya harus pergi menjauh dari Angel.


"Apa ini sudah berakhir? aku sangat BODOH!"


Rio melihatkan tatapan kekesalan juga amarah, marah kepada dirinya sendiri yang ragu dan juga prin-plan.


"Ngga, kamu hanya miliki dan selamanya jadi milikku! aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan mu walau pun kamu sudah tidak menginginkanku lagi, camkan itu!"


Senyum misterius Rio mengembang di bibinya.


Entah apa yang akan Rio lalukan kepada Angel maupun calon suaminya.


..


Restoran cempaka


Rey tengah menjabarkan semua konsep pernikahan yang mungkin Angel suka. Mendengar penjelasan Rey yang terdengar sudah sangat matang membuat Angel tidak dapat berkata apa-apa.


Rey sangat serius kepadanya dan betapa beruntungnya mendapat suami seperti Rey. Suami yang mau menerimanya yang sudah seperti ini.


"Gimana?"


"Aku menyukainya, aku percaya kamu bisa mengatur semuanya"


"Iya sih tapi aku mau kamu juga memberi masukan. Ini pernikahan kita, ya sebenarnya aku mau kamu yang membuat konsepnya soalnya aku ingin mewujudkan pernikahan yang kami inginkan.


"Oh, kamu tahu semua yang aku suka jadi kamu pasti tahu apa yang aku inginkan"


"Boneka beruang dan mawar merah"


"Iya dan aku ingin suamiku ini menyanyikan lagu untukku saat pesta pernikahan"


"Oke, tidak masalah dan aku ingin dihari pernikahan kita bentuk tubuhmu tetap sama seperti ini"


"Loh kenapa? aku sekarang lagi gendut, aku ingin tampil langsing di pernikahan kita nanti"


"Aku hanya ingin dirimu bukan yang lainya. Kamu cantik seperti ini, aku jadi gemas danĀ  membuatku ingin" Rey menggantungkan ucapannya lalu menarik kedua pipi Angel dengan gemasnya.


"Aaawww"


Rey melepas cubitannya dan terlihat si empu yang punya pipi kesal kepadanya.


"Terus ditekuk dagunya, kenapa bibir di manyunin gitu atau mau itu? kalau mau bilang dong!"


Angel langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya membuat Rey terkekeh.


Rey semakin mencintai Angel dengan semua kekurangan dan kelebihannya. Rey ingin segera melangkah ke pelaminan bersama Angel, menjadikan Angel satu-satunya bidadari di hidupnya dan menghapus semua luka dihatinya. Rey berjanji dalam hatinya akan membuat Angel melupakan masa lalunya yang kelam.


"Pulang yuk, aku ngantuk"


"Sejak kapan seorang Angel tidur siang"


"Kebiasaan baru, ya kamu tahu sendiri"


"Pasti kamu saat hamil kerjaannya tidur terus yah?"


"Bawaan bayi. kamu tahu walau dia masih didalam perutku sifatnya sama sepertimu, dia sangat jahil dan membuatku cemas sendiri"


Angel mengingat kembali masa disaat Kevin sedang tumbuh di rahinya. Masa yang sangat indah juga rasa sakit.


"Hah? benarkah?"


Rey semakin tertarik mendengarkan cerita Angel dan Rey ingin membelai anak Angel yang kini berada di rumah keluarga mantan suaminya.


"Iya, dia sangat lucu. Senyuman dari bibir mungilnya selalu bisa membuatku bahagia. Tatap mata polosnya seakan mengagumiku, rengekkannya seolah-olah nyanyian untukku"


Angel semakin merindukan Kevin. Ia ingin tahu tentang kondisinya sekarang.


"Jangan sedih, kamu sendiri yang bilang kalau Kevin bersama orang-orang yang menyayanginya, pasti mereka akan menjaga Kevin dengan baik" ucap Rey menenangkan.


"Iya, kamu benar. Aku mau ke toilet"


"Sanah, aku juga mau membayar ini"


Angel bergegas pergi ke toilet. Angel ingin menghubungi Arfan, menanyakan keadaan putra mungilnya.


Sesampainya di toilet, Angel langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi Arfan. Panggilan telepon dari Angel langsung dijawab Arfan, seolah Arfan tengah menunggu Angel menelfon.


"Kamu kangen sama Kevin yah?"


"Kevin, dia baik-baik saja kan? alergi nya tidak kambuh lagi kan?"


"Ngga kok, kamu mau lihat malaikat mu? sekarang aku bersamanya, dia sedang main"


Angel langsung mengubah panggilan Suara jadi panggilan video. Senyum dibibir Angel mengembang saat melihat Kevin yang tengah menggerakkan tangannya seakan ingin meraih mainan yang digantung diatasnya.


"Hai sayang"


Kevin berhenti bergerak. Matanya seakan mencari sumber suara itu. Arfan mengarahkan layar ponselnya ke hadapan Kevin agar Kevin dapat melihat Angel.


"Kevin, anak mama"


Kevin langsung bersuara saat melihat Angel. Kevin nampak begitu senang melihat Angel, seolah dia tahu bahwa yang ada dilayar ponsel itu ibu kandungnya.


"Kevin, kamu yang anteng yah? jangan rewel nanti kalau kamu rewel om Arfan nangis loh ngga bisa nenangin kamu"


"Bilang sama Mama kamu " ada nenek yang jagain, mama ngga usah cemas". El, Rio masih mengganggumu?"


"Tidak, aku titip Kevin. Aku hanya bisa berharap Kevin akan tumbuh seperti dirimu, aku tidak rela Kevin memiliki sifat seperti Rio"


"Jangan khawatir, bukan sifat Rio yang akan Kevin tiru tapi kamu, karena kamu yang mengandungnya"


"Aku hanya ingin yang terbaik, sudah dulu yah? aku ada urusan, Mama sayang kamu, Kev"


"Iya, dah mama"


Arfan menggerakkan tangan mungil Kevin Lulu sambung telepon terputus. Angel menyandarkan punggungnya di dinding, rasanya sangat berat jauh dari anak yang sembilan bulan hidup satu tubuh dengannya.


"Maaf"


...


Rey merasa khawatir karena Angel belum juga kembali, saat ia akan menyusul ke toilet, Angel terlihat dari kejauhan dan membuat hatinya lega. Rey takut Mantan suami Angel akan menculik Angel saat tidak bersama dirinya.


"Terserah kamu saja"


"Kamu mau boneka?"


"tidak, aku mau menghabiskan waktu denganmu saja. Main PS di rumah yuk?"


"Ayo"


.....


14:20 pemakaman


Mobil Rio berhenti didepan pemakaman. Rio turun dari mobil dengan membawa sebuket bunga mawar.


Rio ingin nyekar di makam putri kecilnya. Pasti dia sangat marah kepadanya karena sudah sangat lama tidak mengunjunginya.


Langkah kaki Rio terhenti di makam mungil yang sudah lama tidak ia kunjungi dan Angel hanya baru sekali mengunjungi makam ini sedangkan Rio kalau ada waktu luang pasti datang ke sini.


"Maaf, Papa tidak membawa mamamu. Oh iya sayang, kamu sekarang jadi kakak"


Rio tertunduk, air matanya mengalir. Ia teringat tatap mata kekecewaan dari Angel. Selama ini dirinya hanya mempermainkan Angel tanpa sedikitpun memahami luka yang ia goreskan di hati Angel.


"Maaf, nak. Papa hanya bisa menyakiti mamamu, papa ingin dia kembali"


Rio mulai meluapkan rasa dihatinya. Rio tidak punya teman untuk meluapkan isi hatinya dan hanya makam mungil ini yang membuatnya nyaman.


"Kamu tahu sayang? Papamu ini sangat mencintai Mamamu tapi Papa tidak bisa mengungkapkannya karena Papa tidak ingin menyakiti hati Nenekmu. Dulu Papa menyakiti Nenekmu kerena Sena dan Papa tidak ingin menyakiti Nenekmu karena Angel terlebih Nenekmu sayang dengan mamamu dan Papa tidak ingin Nenekmu membenci Mamamu"


Rio menghela nafas panjang. Terasa sangat melelehkan hidup seperti ini. Rio membersihkan makam mungil ini dengan penuh kasih sayang lalu meletakan buket bunga yang ia bawa.


Rio melihat ke sekeliling area pemakaman dan ternyata bukan dirinya saja yang nyekar di makam ini. Banyak orang yang mengunjungi orang yang mereka kasihi dan apa pula seorang laki-laki yang membopong bayi berdiri di samping makam baru. Rio menduga bahwa makam itu makam istrinya yang meninggal setelah melahirkan buah cinta mereka.


Rio teringat saat dirinya mengusir Angel dari rumah, dimana Angel tengah mengandung janin pertamanya. Masih terdengar jelas di telinganya perkataan Dokter waktu itu dan juga saat Kevin akan dilahirkan.


"Aku suami yang buruk"


...


Rumah Jihan Erik


Angel langsung menuju kamarnya untuk mengganti baju dan juga pakaian dalamnya sebab ASI-nya keluar tanpa ia sadari.


"Kevin"


Angel teringat Kevin yang sangat membutuhkan ASI ini. Munjul dibenak Angel bahwa yang ia lakukan ini salah, harusnya dia tetap di rumah itu menjaga Kevin.


"Kamu pasti lapar, andai Papamu tidak seperti itu Mama pasti akan memperjuangkan mu. Mama tidak ingin menambah masalah lagi, mama yakin kamu akan tumbuh dengan baik bersama mereka"


10 menit berlalu. Angel yang sudah mengganti bajunya mendengar suara ramai di lantai bawah. Angel merasa penasaran karena suaranya lebih dari dua orang.


"Apa Ibu sudah pulang?"


Angel bergegas ke ruang tamu dan ternyata ada orang tua Rey. Angel disambut tatapan hangat dari mereka, ibu dan Ayah Angel juga sudah pulang.


"Sayang kamu tambah cantik" ucap Arina ibunda Rey. Arina langsung menghampiri Angel lalu memeluknya. Angel membalas pelukan itu.


"Aku sangat merindukanmu"


"El juga kok Tan"


Arina langsung melepas pelukannya, ia menatap Angel dengan penuh arti.


"Panggil "Mama" jangan Tante lagi" ucapnya lalu menarik pelan hidung bangir Angel.


"Tuh El, dia sudah tidak sabar membawamu kerumahnya" ucap Rafa Ayah Rey. Rafa sudah sangat tahu bagaimana istrinya ini ingin sekali menjadikan Angel sebagai menantunya. Saat diperjalanan tadi Arina terus saja membahas soal pernikahan Angel dan Rey juga rencana bulan madu untuk keduanya, Arina ingin secepatnya menimang cucu dari mereka.


"Ngga apa-apa kan Jeng kalau nanti Angel ikut dengan kita?" tanya Arina yang takut Jihan tidak setuju karena Angel itu anak semata wayang. Arina juga sangat paham apa yang dirasakan Jihan saat berpisah dari Angel sebab Rey juga anak semata wayangnya.


"Iya tidak apa-apa, lagi pula kalian pasti akan menjaga putri ku"


"Belum apa-apa sudah seperti ini, nanti kalau mereka sudah punya rumah sendiri bagaimana?" ucap Erik yang seakan menakut nakuti para ibu ini.


Jihan dan Arina langsung melihatkan tatapan kesal kearah Erik. Rafa hanya bisa menahan tawa melihatnya. Rey dan Angel hanya diam sembari melihatkan senyum tipis. Angel mulai merasa cemas saat mereka tahu kebenaran yang ia dan Rey sembunyikan. Rey menatap Angel dengan senyum di bibinya seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


...


Bar


12:00 Malam.


Sudah berjam-jam Rio duduk disini menikmati suasana Bar yang sangat ramai dipenuhi orang dan juga musik yang diputar dengan volume keras.


Sebagian dari mereka datang kemari untuk melepas penat dan juga beban pikiran yang tak pernah hilang.


Rio menuangkan lagi alkohol ke gelasnya, ini sudah botol ke lima yang Rio minum. Rio meminumnya dengan cepat hingga habis. Entah kenapa Rio sangat suka dengan minuman keras ini.


Rio mendesah kasar lalu mengacak-acak rambutnya. Beban dipundaknya ini sangatlah berat. Rio sangat kehilangan sosok Angel dan dia menyesal telah menyia-nyiakan Angel.


"Aku akan memilikimu seutuhnya dengan cara apapun walau aku harus melukaimu"


....


01:30


Rumah Amanda/ Riko | Kamar Rio/ Sena


Sena tengah menunggu Rio pulang, sejak sore Sena terus menghubungi Rio namun ponselnya mati. Sena sangat cemas dan takut Rio sekarang tengah bersama Angel dan melupakannya.


"Ri, kamu dimana?"


Sena menghampiri tempat tidur Kevin. Sena semakin merasa kesal saat melihat wajah Kevin yang mirip dengan Angel. Sena membelai lembut pipi mulus Kevin, belaian itu turun ke leher Kevin.


"Karena ibu mu, aku jadi seperti ini! aku membencimu! kalau malam ini Rio tidak pulang aku akan mengakhiri hidupmu"


Sena tersenyum misterius lalu ia mulai tertawa senang namun sedetik itu pun dirinya menangis. Sena menggigit kuku ibu jari tangan kanannya. Penyakit bipolar nya kini kambuh kembali, rasa cemas dan takut kini membuat kesadaran Sena terganggu. Sena untuk saat ini tidak mampu mengontrol kecemasannya, berbarengan dengan itu pintu kamar dibuka oleh Rio.


Melihat Rio sudah pulang perlahan kecemasan Sena berubah. Rio pulang dengan pakaian yang berantakan dan terlihat mabuk.


"Rio, kamu dari mana?" tanya Sena saat Rio didepannya. Rio menoleh kearah Sena.


"Buat apa kamu tahu" Bau alkohol kini menyeruak di hidung Sena. Rio langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sikap Rio yang acuh seperti ini yang membuat Sena semakin tenggelam di lautan kehampaan. Rio memang suaminya namun Sena tidak pernah merasa Rio miliknya seutuhnya. Selalu ada hal yang membuat Sena terluka walau dimata semua orang, dirinya terlihat baik-baik saja dan mungkin ada sebagian orang yang melihat Sena itu istri yang mendominasi tapi mereka tidak tahu saat Rio pulang dengan bau alkohol dari mulutnya.


Rio bukanlah pemabuk berat hanya saja saat pikirannya kacau, dia akan lupa segalanya dan minum sampai seperti ini. Rio belum pernah kecelakaan walaupun menyetir dengan keadaan setengah sadar sebab Rio selalu pulang saat kondisi jalan sepi. Melihat suami yang sangat ia cintai seperti ini membuatnya semakin tertekan.


"Angel"


Sena langsung menoleh kearah Rio yang memejamkan matanya. Rio terus menerus menyebut nama Angel, Rio tidak sadar bahwa Sena sekarang murka kepadanya.


"..... kenapa kamu pergi dariku"


Air mata Sena turun begitu saja. Kedua tangannya mengepal sedangkan Rio masih terus menyebut nama Angel. Sena tertunduk hatinya benar-benar sakit saat Rio menyebut nama wanita lain didepannya. Walaupun saat ini kondisi Rio setengah sadar tetap saja ini sangat menyakitkan.


Terdengar suara tawa menyeramkan dari Sena. Sena mendongakkan kepalanya, melihat Rio yang memejamkan mata. Perlahan Sena menuju ke meja riasnya. Sena mengambil sesuatu dari dalam lacinya.


"Kamu milikku kan, Ri?"


Tangan kiri Sena memainkan ujung rambutnya sedangkan tangan satunya memegang pisau kater. Sena melihatkan pisau kater itu kearah Rio. Senyum dibibir Sena sangat misterius, tangan kanannya memainkan pisau kater itu. Sena berjalan menghampiri Rio.


"Kalau kamu sebut nama Angel sekali lagi, aku akan membu*uh mu"


Sena duduk dilantai samping tempat tidur sembari memainkan pisau kater itu, ia menggoreskan ujung pisau kater itu dilantai. Suara yang mengusik telinga saat ujung kater itu menggores lantai menambah seram suasana kamar ini. Di titik ini Sena bisa melukai dirinya sendiri maupun orang lain, Sena bisa melukai Rio maupun Kevin.


Dikamar ini hanya Sena yang masih membuka mata dan Rio tidak bisa berbuat apa-apa saat Sena melukai Kevin. Dari dua kemungkinan yang akan terjadi pasti Kevin yang berpeluang besar disakiti Sena sebab Kevin putranya Angel dan Sena sangat membenci Angel.


Sena bersenandung pelan sembari masih menggores lantai dengan kater. Air mata Sena kembali menetes.


"Lala...lalala...Lala... aku mencintaimu dan kamu harus jadi milikmu... selamanya... ummm aku membencimu... aku marah... hiks...hikss.. Jangan seperti itu... ah..hahaha... hah!"


"Angel"


Sena sontak menoleh kearah tempat tidur. Sena bangkit dari duduknya. Sena terlihat sangat marah kepada Rio.


"Angel"


"Kamu!"


Sena langsung mengangat tangan yang memegang pisau. Pisau kater itu mengarah pada Rio yang terpejam.


"Kamu menghianati ku dan kamu harus ma*i di tangan ku!"


Sena mengayunkan tangan kanannya kerah dada Rio namun sebelum pisau itu menusuk tubuh Rio, Kevin terbangun dan menangis sangat kencang membuat Sena tersadar dari bipolar nya.


"Apa yang aku lakukan?"


Sena langsung membuang pisau kater ditangannya ke sembarang arah. Sena menjambak rambutnya sendiri dan menangis. Gangguan ini membuatnya sangat tersiksa, dirinya tanpa sadar ingin menghabisi suaminya sendiri.


Kevin masih menangis, sepertinya dia kelaparan.


"Kevin?"


Sena langsung menghampiri Kevin. Sena membopong tubuh mungil Kevin yang masih menangis.


"Jangan menangis!"


Sena merasa kesal kembali karena Kevin yang terus menangis tanpa sebab namun kali ini Tuhan tidak membiarkan Kevin disakiti oleh Sena. Suara ketukan di pintu membuat Sena melangkah menghampiri pintu, Sena membuka pintu itu dan ternyata itu Amanda yang kebetulan lewat kamar Sena dan mendengar tangisan Kevin.


"Mama?"


Amanda terkejut dengan keadaan Sena yang berantakan seperti ini. Amanda menduga kalau Sena sangat kewalahan menjaga Kevin.


"Rio sudah pulang?"


"Sudah, Ma"


"Kevin nangis terus yah? biar gantian sama mama, sinih"


"Tapi ma?"


"Sudah, kamu istirahat"


Amanda mengambil Kevin di bopongan Sena. Amanda langsung berusaha menenangkan Kevin yang menangis sampai kelihatan urat di dahinya.


"Istirahat sanah"


Amanda berbalik melangkah menuju kamarnya. Sena bernapas lega ada Amanda kalau tidak ceritanya akan berbeda.


"Sebaiknya aku minum obat itu"


...


03:00 pagi


Sena masih tidak bisa tidur. Dirinya duduk di sofa sembari melihat kearah Rio yang terbaring di kasur, tatapan matanya kosong.


"Kenapa semua jadi seperti ini? apa terlalu takut kehilanganmu? aku sakit, Ri. Apa kamu pernah sekali saja memikirkan tentang perasaanku? dulu kamu selalu memahami ku tapi sekarang, kenapa aku merasa kamu sudah jauh dariku? apa karena Angel? kamu ingin meninggalkan ku hanya demi orang yang melahirkan anak untukmu, aku juga ingin menjadi seorang ibu tapi apa dayaku. Tuhan belum memberikanku kesempatan"


Sena kembali terdiam, sekarang pandangan matanya menuju langit-langit kamar. Sena baru sadar dirinya selama ini kesepian dan hanya fokus menjadi seorang model, bahkan dirinya tidak punya teman. Sena rindu masa SMA dimana dirinya mempunyai teman yang banyak dan penuh keceriaan walau dirinya sering ijin kalau ada pemotretan.


"Hidupku menyedihkan, suamiku kini mencintai orang lain. Kenapa aku bodoh? seharusnya aku tidak termakan omongan sampah dari mereka semua! semua ini terjadi karena ibu mertua yang kurang*jar itu! Harusnya dulu aku meminta Rio untuk pindah ke Prancis"


"Angel"


Sena langsung mengalihkan pandangannya ke Rio. Sena sangat marah saat Rio terus menyebut nama Angel. Sena langsung bangkit dari duduknya menghampiri Rio.


Sena naik ketempat tidur, mendekati Rio. Rio terlihat sedikit membuka kelopak matanya, di penglihatan Rio, Sena itu Angel.


"Angel, kamu kembali"


Sena sangat kesal Rio seperti ini. Sena merasa hatinya terluka namun senyum dibibir Sena mengembang dengan sempurna. Ia menggoda Rio dengan membuka kancing baju Rio.


Cup


"Iya ini aku, Angel" ucap Sena yang masih membuka kancing baju Rio. Sena ingin Rio menjadi miliknya seutuhnya dan itu berarti dirinya harus hamil walaupun harus mengakhiri karir sebagai seorang model. Sena tidak rela Rio direbut oleh wanita seperti Angel.


"Malam ini kamu jadi milikku!"


****