
...
Ruang rawat Angel
19:00
Arfan dengan setianya menunggu Angel tersadar. Arfan menggaman tangan kiri Angel dengan eratnya sembari berbicara tentang bayi mungil yang telah Angel lahir kan, Arfan ingin Angel mendengar semua yang ia katakan dan terbangun untuk menemui putranya.
"Kamu harus kuat yah, demi anakmu"
Arfan mendengar pintu ruangan terbuka dan Arfan langsung menoleh kearah pintu. Raut wajah Arfan seketika berubah saat melihat yang datang itu Rio.
Arfan langsung bangkit dari duduknya lalu menghampiri Rio untuk mengusir Rio. Arfan tidak ingin Rio mendekati Ange karena Rio hanya bisa membuat Angel sedih.
"Ngapain kamu disini? cepat pergi!"
"Aku ingin menemani istriku"
"Ck, baru sekarang kamu menganggapnya? kemarin-kemarin kamu kemana saja, HAH!"
Arfan menarik Rio keluar. Arfan menutup pintu ruang rawat agar Angel tidak mendengar apa yang akan mereka katakan.
"Cukup Kak, jangan buat Angel menderita lagi! dia berhak menjalani hidupnya dengan normal tanpa mu! ceraikan Angel"
"Lalu kamu akan menikahinya? itu mau kamu?"
"Iya itu yang aku mau tapi aku tidak akan memaksa Angel menikah denganku, dan aku pastikan Mama akan tahu hal ini"
"Silakan saja kalau kamu ingin keluarga kita berantakan dan mama sakit karena hal ini"
Rio menantang Arfan untuk mengungkapkan semuanya ke Amanda dengan segala konsekwensinya yang akan terjadi. Rio selama ini mati-matian menyembunyikan semua ini hanya untuk mempertahankan nama baik keluarga dan juga perasaan Amanda.
"Apa?"
"Kamu pilih mana? Mama atau orang yang baru kamu kenal? aku tahu kamu pasti akan memilih Angel, kamu pasti tidak akan perduli dengan perasaan Mama kerena kamu kan anak pungut dan kamu masih ingat aku yang membawamu pulang ke rumah. Jadi jangan ikut campur urusan ku dan juga Angel mengerti?"
Arfan menatap tajam Rio yang semakin berlalunya waktu semakin tidak bisa ditebak sifat dan juga cara pikirnya. Rio dengan liciknya membuat Arfan harus memilih satu diantara dua orang yang ia sayangi. Rio tidak ingin Angel menikah dengan Arfan, ia lebih memilih Angel menikah dengan orang lain karena Rio bisa melihat Angel dan Arfan bermesraan dan mempunyai anak yang melengkapi kebahagiaan mereka.
"Pikirkan saja dalam otakmu kalau kamu merasa tidak mampu"
Setelah berucap Rio langsung melangkah pergi. Kedua tangan Arfan mengepal menahan emosi. Rio membuat Arfan dalam keadaan sulit tapi Arfan tidak akan menyerah begitu saja, ia akan membuat Angel dan Amanda bahagia dengan cara apapun.
"Kenapa aku punya kakak seperti dia sih? semenjak Sena keguguran tuh bocah jadi labil"
Arfan menggelengkan kepalanya lalu kembali masuk kedalam ruangan.
02:00
Arfan masih terus menjaga Angel sampai dini hari. Rasa kantuk ini tidak di perdulikan Arfan yang terpenting baginya adalah kesembuhan Angel.
"El?"
Perlahan Angel membuka kelopak matanya dan seketika itu rasa tidak nyaman menyerangnya. Angel langsung memegangi perutnya.
"Perutku?" panik Angel saat meraba perutnya yang sudah rata, Angel mengira kalau dirinya keguguran lagi. Arfan langsung mengelus puncak kepala Angel.
"El, lihat aku. Jangan panik, bayi kamu baik-baik saja kok"
ucap Arfan menenangkan. Angel menoleh kearah Arfan, mata Angel mencari kebenaran di kedua mata Arfan.
"Iya, bayi kamu baik-baik saja, dia kuat seperti mu. Dia lucu banget" Mendengar itu Angel jadi merasa tenang. Tapi kenapa bayinya tidak bersamanya sekarang. Arfan tahu Angel tengah mencari anaknya.
"Baby-nya tidak disini, dia diruang NICU dijagain sama Suster. Kamu tenang yah?"
Cup. Arfan mengecup kening Angel cukup lama, ia bersyukur Angel baik-baik saja. Arfan sangat senang dengan keadaan Angel yang mulai membaik.
...
Rumah Amanda Riko 21:00
Rio memasuki rumah dengan sikap seperti biasa. Amanda yang dari tadi mencari Angel dan juga Arfan menghampiri Rio untuk menanyakan mereka kepada Rio.
"Ri?"
Amanda terkejut saat melihat wajah Rio yang lebam karena pukulan bahkan bibirnya pecah.
"Kamu kenapa? wajah kamu kenapa seperti itu?"
"Oh ini, ngga apa-apa kok Ma"
"Ngga apa-apa gimana. Kamu habis ngapain? ayo jawab, jangan buat mama cemas!"
"Tadi Rio berantem sama begal dijalan tapi Mama tenang saja, Rio baik-baik saja kok"
Rio menyembunyikan kebenaran yang ada. Dia tidak ingin Amanda tahu sebenarnya dan membuat wanita didepannya ini cemas.
"Sayang, kamu tinggal berikan saja yang mereka mau" ucap Amanda yang tidak ingin anaknya kenapa-napa. Seorang ibu memanglah selalu mengkhawatirkan anaknya.
"Ya kalau langsung pergi kalau nggak?"
"Iya... iya. Mama obatin yah?"
"Ngga usah Ma, Rio bisa sendiri"
Rio langsung menuju kamarnya. Setelah Rio masuk kedalam kamar barulah Amanda teringat untuk menanyakan Arfan dan Angel.
"Besok saja lah"
Didalam kamar, Sena menunjukan kecemasan yang sama seperti Amanda.
"Sayang, kamu jangan pergi sendirian lagi! kalau pergi-pergi sama supir"
"Iya" jawab Rio seadanya sembari memilih baju ganti.
"Angel sama Arfan kemana?"
Rio langsung terdiam saat mendengar itu. Rio kembali teringat akan Angel dan juga putra kecilnya namun Rio tidak akan memberitahukan hal ini ke Sena sebelum waktu yang tepat kalau Sena sampai tahu anak itu sudah lahir pasti Sena akan menyuruh dirinya untuk menceraikan Angel saat itu juga.
"Arfan? aku tidak tahu kemana dan Angel, aku bawa dia kerumah yang lama, biar nanti saat lahiran ngga ada yang tahu"
"Oh"
Sena memilih untuk tidur, besok ia akan pergi lagi dengan Amanda untuk membeli perlengkapan bayi.
Kamar mandi
Rio terdiam cukup lama, bayangan putranya dan juga istrinya membuatnya resah. Rio ingin terus bersama Angel namun Arfan melarangnya.
"Kalian harus kuat"
....
Matahari mulai menampakan sinarnya lagi, membawa hangatnya sinar ke muka bumi seakan memeluk makhluk hidup yang ada di bumi.
Rio menuruni tangga, dia melihat Amanda yang sangat gelisah membuat Rio penasaran apa yang sedang Amanda pikirkan.
"Mama kenapa?" tanya Rio langsung saat dekat dengan Amanda.
"Itu, adik kamu sama Angel. Mereka belum pulang"
"Oh itu ma, Angel sudah dijemput suaminya dan Angel minta maaf tidak pamitan sama mama, Kalau Arfan, dia main ke rumah temennya"
"Jadi Angel sudah pulang tapi kenapa dia tidak membawa baju sama perlengkapan bayi yang mama belikan?"
Rio meneguk silvanya dengan paksa, ia lupa akan hal itu. Rio memutar akal agar tidak membuat Amanda curiga.
"Mereka buru-buru, nanti Rio paketin aja"
"Kamu atur lah, si Arfan ini awas saja kalau di pulang mama jewer telinganya! pergi ngga ngasih kabar"
Amanda langsung pergi ke dapur. Rio bernapas lega Amanda tidak curiga. Rio kembali meneruskan langkahnya, ia ingin ke rumah sakit sebelum ke kantor. Rio berharap Angel dan anaknya sudah membaik.
07:30
Angel terus saja merengek ingin melihat anaknya di ruang NICU. Arfan sebenarnya tidak tega melihat Angel seperti ini tapi mau bagaimana lagi Dokter melarang Angel beranjak dari tempat tidur.
"El, besok yah. Sekarang kamu istirahat dulu"
"Tapi, aku mau melihat anakku"
Angel terus saja memaksa, akhirnya Arfan memutuskan untuk bertemu dengan dokter untuk menanyakan hal ini.
"Aku tanya sama dokter dulu yah, kalau boleh aku antar kamu tapi kalau tidak kamu harus menurut"
"Iya"
Arfan langsung pergi menemui Dokter. Angel berharap Dokter mengijinkannya menemui bayinya.
"Mama, kangen sama kamu. Kamu harus kuat"
10 menit berlalu
Sura gagang pintu dibuka membuat Angel melihat kearah pintu. Angel langsung melihatkan raut wajah takut sekaligus tidak suka saat melihat siapa yang datang.
"Kamu sudah baikan?"
"Tidak usah sok perduli tuan Mario, aku tahu kamu tidak suka melihatku masih hidup" ucap Angel dengan nada yang terdengar lembut tapi menusuk. Rio yang kini disampingnya hanya menatap Angel dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku khawatir"
"Jangan membohongi dirimu sendiri"
"Berhentilah bersikap seperti itu, itu tidak merubah apapun"
"Kamu mau apa?"
"Bertemu dengan mu dan anak kita"
"Pergilah" usir Angel dengan dinginnya. Rio tidak ingin pergi dari ruangan ini, ia ingin menemani Angel.
"Aku sudah bilang kan?"
"Aku mohon pergilah!" ucap Angel dengan penuh penekanan tanpa menatap Rio. Rio ingin berucap lagi namun ia melihat Angel yang memegangi perutnya membuat Rio terpaksa menurut, Rio tidak ingin memperburuk kondisi kesehatan Angel. Rio membalikan tubuhnya lalu pergi begitu saja.
Tak lama setelah Rio pergi, Arfan kembali dan keningnya langsung mengkerut melihat Angel yang terlihat sedih.
"Kamu kenapa?"
"Sudah aku bilang kan, aku kangen anakku"
"Iya, aku tahu. Dokter bolehin asal pake kursi roda sama jangan terlalu lama"
Mendengar itu, Angel pun menjadi ceria lagi membuat Arfan tersenyum tipis.
Ruang NICU.
Kali ini suster memperbolehkan keluarga mengunjugi bayi yang dirawat meski hanya lima menit saja. Angel tersenyum melihat malaikat kecilnya tertidur dengan nyamannya didalam inkubator.
"Sayang, ini mama sama om Arfan"
Seakan mengenali suara Angel, bayi mungil ini membuka kelopak matanya dan menggerakan kedua tangan dan kakinya.
"Dia senang, jadi itu yang dia lakukan di perutmu? apa kamu tidak merasakan sakit?"
"Tidak. Dia mirip Rio"
Bayi mungil itu tersenyum sangat manisnya padahal dia itu laki-laki dan bibirnya merah merona.
"Kamu jangan bercanda, dia itu mirip kamu" Arfan terpesona dengan kelucuan bayi mungil ini. Angel merasa hatinya sangat bahagia setelah melihat bayinya sehat dan aktif seperti itu walaupun dirinya belum menimang bayinya.
"Dia nguap, hey... Om Arfan disini sama mama kamu nih. Mama kamu khawatir jadi kamu harus semangat yah"
Angel tidak bisa berkata-kata lagi, kebahagiaan nya kini telah lahir namun itu berarti perjanjian pernikahan ini akan berakhir dan malaikat kecilnya akan dibawa Rio.
"Permisi, ini sudah lima menit"
"Cepat sekali, ayo El" ajak Arfan namun sepertinya Angel ingin tetap menemani anaknya.
"Tapi, aku ingin tetap disini"
"Sayang, kamu tenang saja disini kan ada suster yang menjaganya. Kamu juga harus cepat sembuh, biar kamu bisa main sama dia"
"Iya, Sus tolong jaga putraku" pinta Angel yang seakan takut bayinya akan kenapa-napa.
"Tentu saja"
...
Rumah Amanda Riko 13:00
Arfan bergegas menuju kamarnya. Arfan pulang hanya untuk mandi lalu kembali lagi ke Rumah sakit, Arfan tidak ingin Angel menunggu lama walau pun dia sudah meminta suster untuk menjaga Angel.
"Arfan kamu dari mana?" suara itu, Arfan yang ingin masuk ke kamarnya langsung menoleh kesamping. Arfan melihatkan deretan giginya ke Amanda, dia lupa memberi kabar ke Amanda dan pastinya Amanda sangat marah.
"Eh, Mama"
"Apa?"
Amanda langsung menjewer telinga kiri Arfan hingga dia mengaduh namun Amanda tidak perduli. Tidak biasanya Arfan tidak ada kabar dan itu membuat Amanda sangat khawatir.
"Kamu ini!"
"Awww... ma sakit!"
"Bodo! siapa suruh pergi ngga ada kabar!"
"Aaaa"
Amanda semakin menarik telinga Arfan hingga memerah dan barulah ia lepas jeweran ditelinga Arfan.
"Sakit Ma"
"Kamu juga bikin orang cemas! eh kamu tahu Angel dijemput suaminya?"
"Apa? yang bilang siapa?"
"Jadi kamu tidak tahu, Rio yang bilang tadi pagi"
"Kakak?"
Arfan merasa Amanda harus tahu yang sebenarnya tentang kebenaran Angel dan juga tindakan kasar Rio kepada Angel.
"Ma, mama harus tahu - -"
"MAMA JADI BERANGKAT NGGA??"
"IYA SEBENTAR!"
"Mama mau kemana?"
"Biasa, urusan wanita. Tadi kau mau bilang apa?"
"Oh itu, Arfan mau nginap di rumah temen lagi tapi Arfan nggak tahu balik lagi kapan"
"Ya sudah tapi pulang harus bawa calon menantu untuk Mama"
"Iya kalau nemu dijalan"
"Jangan dijalan, di jalan itu ngga baik"
"Hah? maksud mama? Mama kira Arfan bakal tertarik dengan "kupu-kupu malam"?"
"Bukan itu! kali saja kamu ketemu "Kunti" dijalan"
"Amit-amit Ma! jangan sampe, ntar malah ketawa mulu tiap malam"
"Kamu ini, Sanah masuk"
"Iya Ma"
....
Kantor, ruang kerja Rio
Rio sendari tadi melamun, ia tengah berpikir bagaimana kelanjutan dari kisah rumit ini. Rio tidak ingin melepas Angel namun semakin lama dirinya menyembunyikan semua ini semakin banyak masalah yang terjadi.
"Apa ini yang terbaik?"
Rio memilih untuk mengakhiri hubungan dengan Angel yang mudah untuk diakhiri serta pernikahan yang hanya sebatas perjanjian di atas kertas. Lagipun Angel sudah mendatangani dan menyetujui akan hal itu.
"Maaf, El. Ini yang terbaik. Aku tidak ingin masalah besar terjadi karena pernikahan kita"
Rio ingin mengakhiri semuanya, walau dirasa berat tapi ini yang terbaik untuk semua walaupun Angel pasti akan sangat menderita dipisahkan dengan Anaknya, ini untuk kebaikan Angel juga. Rio ingin Angel hidup sewajarnya tidak terus-menerus hidup dalam bayangannya dan juga Sena dan Rio juga siap menerima kebencian Angel dan juga Arfan.
....
4 hari berlalu. Kondisi Angel sudah mulai membaik, hanya infus saja yang terpasang ditangannya.
"Fan, anakku kapan keluar dari NICU?" tanya Angel yang sudah tidak sabar bertemu dengan bayinya.
"Nanti sore"
Angel terlihat sangat senang mendengarnya terlebih ASI-nya sudah keluar dari kemarin. Arfan itu merasa senang melihat Angel yang seperti itu. Pasti Angel sangat merindukan bayi mungilnya, kemarin dia hanya melihatnya dari jauh.
Pintu ruang rawat terbuka dengan lebarnya dan seorang suster mendorong ranjang berukuran sedang dan bersama Rio.
Angel tersenyum sangat senang melihat siapa yang datang bersama mereka. Saat melihat anaknya Angel langsung ingin turun dari ranjang, Arfan langsung melarangnya.
"Nanti juga kesini"
Suster itu mengangkat tubuh mungil anak Angel lalu diserahkan ke pada Angel. Angel yang pernah mengurus bayi saat di tempat bibinya membuatnya bisa langsung membopong malaikat kecilnya.
"Sayang"
Angel langsung mencium hangat malaikat kecilnya. Bayi mungil itu tersenyum seakan ia tahu sedang berada di dekapan ibunya. Bayi mungil itu terlihat sangat menawan dengan hidung bangir seperti Angel juga bibir tipisnya.
"Mama kangen sama kamu"
Angel dibantu suster mulai menyusui bayi mungilnya dan bayi mungil itu terlihat sangat senang.
Arfan menarik paksa Rio keluar kamar. Arfan menatap tajam Rio. Arfan ingin tahu apa yang akan Rio lalukan setelah ia berbohong kalau Angel sudah dijemput suaminya.
Arfan melepas tangan Rio saat sudah berada di lorong yang sepi.
"Sekarang kamu mau apa?"
"Kamu bilang aku tidak pantas untuk Angel dan aku banyak membuat Angel sedih, kamu juga sudah tahu tentang perjanjian itu yah.. jadi semua akan berakhir seperti semestinya"
"Maksudmu? kamu mau memisahkan anak dari ibunya?"
"Iya"
"Kak, kamu sudah tidak waras?"
Arfan tidak percaya dengan ucapan Rio. Arfan sangat kesal dengan sikap Rio yang dingin dan juga tidak memikirkan perasaan Angel sedikitpun.
"Itu yang terbaik"
"Kamu akan menceraikan Angel?"
"Iya, aku tidak ingin ini semua berlarut-larut dan katamu Angel berhak menjalani hidupnya dengan normal, ya ini"
Arfan tidak percaya dengan apa yang kakaknya ucapkan. Sedikitpun Rio tidak menunjukan rasa simpati ataupun hati nurani, seakan Rio sudah tidak punya hati lagi.
"Jangan berpikiran untuk membawa Angel atau pun anakku pergi dari sini!" entah kenapa Rio mengatakan hal ini. Arfan tersenyum sinis.
"Ck, aku tidak akan berpikiran seperti itu, aku tidak sepertimu"
Arfan langsung melangkah meninggalkan Rio. Rio yang tidak ingin ribut didepan Angel memilih untuk pulang.
Arfan dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Angel. Bayi mungil itu terlihat sangat nyaman dalam dekapan Angel seakan malaikat tengah mengatupkan sayapnya pada bayi ini.
"Kamu senang sekarang?"
"Iya, kamu senang ngga bertemu Mama?" tanya Angel pada bayinya, bayinya hanya merespon dengan senyuman sekilas lalu mulai menangis.
"Eh? kok nangis? jelek ih" Arfan langsung menoel pipi bayi yang merengek minta ASI.
"Kamu kan baru selesai nyusu masa minta lagi, anak mama laper lagi yah? Om Arfan jangan lihatin yah. Nanti Dede ngga mu nen*n"
Arfan menjauh dari ranjang Angel dirinya memilih untuk tidur di sofa, tubuhnya terasa sangat capek setelah beberapa malam tidak tidur.
"Kalau ada apa-apa bangunin aku"
"Iya Om Arfan"
Bayi mungil ini terus menangis, Angel tidak tahu dia kenapa, di susui juga tidak mau.
"Minta diganti popoknya yah?"
Angel memposisikan tubuhnya duduk lalu meraih popok baru di atas meja dekat tempat tidur. Dengan cekatan Angel mengganti popok bayinya dan benar saja bayi mungilnya tidak menangis lagi.
"Udah, jangan menangis lagi yah. Anak mama yang paling ganteng... nguap lagi, mau bobo yah"
01:00
Arfan tengah membopong bayi mungil ini sembari melangkah mengelilingi ruangan. Bayi mungil ini tidak mau diletakan di kasur.
"Dia tidur, Fan?"
"Ngga dia lagi main"
"Maaf yah"
"Tidak apa-apa, ini juga keponakanku"
Arfan melempar senyum kearah Angel. Angel bersyukur Arfan mau menemaninya dan mau membantunya.
"El"
"Kenapa?"
"Maafin kakak ku yah?"
"Apa? kamu meminta maaf untuk kakakmu?"
"Aku tahu kamu pasti tidak bisa memaafkannya, aku melakukan ini karena Rio tidak mungkin meminta maaf. Aku tidak tahu kenapa dia seperti ini, aku malu punya kakak seperti dia"
"Yang salah itu Rio bukan kamu, Fan. jadi jangan merasa bersalah seperti itu"
"Aku tahu, tapi tetap saja. Selama ini kamu tinggal di rumah keluarga ku tapi kami tidak tahu kalau kamu itu istri kedua kakakku dan pastinya kamu sangat tersakiti"
"Tidak, Fan. Itu malah lebih baik, kalau mereka tahu mungkin perlakuan mereka tidak seperti kemarin"
.....
Dua hari setelahnya.
"El, aku ingin bicara sama kamu"
Angel mendekap bayinya. Angel tahu apa yang akan Rio ucapkan, Rio ingin mengambil anaknya dan mengakhiri pernikahan ini.
"Jangan ambil anakku"
Angel menatap sayu putra kecilnya yang tengah tertidur. Angel tidak ingin berpisah dengan bayi ini, ia sangat menyayanginya.
Melihat Angel seperti ini membuat Rio merasa bersalah namun ini semua harus diakhiri sekarang juga. Kembali ke kehidupan normal sebelum pernikahan ini terjadi.
"Ini demi kebaikanmu"
"Kebaikanku? maksudmu kebaikanmu?"
"Mengertilah, kamu sudah menyetujui nya dan kamu pastinya ingin kembali ke orang tua mu. Lupakan semua kenangan yang telah kamu lalui dan lupakan kamu telah melahirkan seorang anak"
"Ck, Kamu ingin membuang ku begitu saja? kamu ingin merampas anakku?"
"Angel, ini semua sudah berakhir dan aku memilih Sena. Anggap semua tidak pernah terjadi, hiduplah seperti dulu! kembalilah ke orang tuamu. Aku akan menjaga anak ini"
Angel tidak bisa menahan air matanya ini. Angel ingin membawa anak ini pulang bersamanya. Rio mengepalkan kedua tangannya. Rio ingin semua kembali seperti semula. Dirinya tidak ingin terus membuat Angel menderita lagi.
"Angel, kamu bisa menemui anak ini kapan saja kamu mau"
Mendengar itu Angel langsung menoleh kearah Rio. Angel tersenyum sangat manisnya kearah Rio. Rio merasa Angel mau menyerahkan anaknya.
"Kamu tahu RI, aku sudah bosan dengan janji yang selalu kamu berikan. Kamu bilang seperti itu tapi kenyataannya pasti berbeda, kamu sendiri yang tidak ingin pernikahan kita diketahui orang tuamu jadi kamu juga pasti tidak akan membiarkanku menyentuh putraku"
Deg. Raut wajah Rio berubah saat Angel mengatakan itu. Angel tersenyum sinis melihat gelagat Rio, sekarang Angel tahu manusia didepannya ini sangatlah kejam dan tidak punya hati.
"Kalau anak itu bersamamu, kamu akan menjelaskan apa pada orang tuamu? apa kamu bisa membesarkannya? memangnya kamu punya apa?"
Rio mulai membuat Angel tersakiti. Rio membicarakan soal harta yang ia miliki, Rio menyadarkan Angel dengan apa yang ia punya dan apa yang akan terjadi saat ia pulang dengan membawa seorang bayi pasti kedua orang tuanya akan marah besar kepadanya.
Rio melangkah menghampiri ranjang, kedua tangannya ia dekatkan ke bayi mungil yang tengah tertidur. Angel semakin mengeratkan dekapanya.
"Jangan ambil anakku"
"Ini yang terbaik untukmu"
Dengan gerak cepat Rio menyingkirkan tangan Angel dan membopong bayi mungil ini.
"Ri jangan!"
"Kamu aku ceraikan, jangan temui anak ini lagi!"
Rio langsung melangkah meninggalkan Angel. Angel ingin mengejar Rio dan mengambil anaknya lagi namun perutnya masih terasa nyeri.
"KEMBALIKAN ANAKKU!!"
Teriak Angel meminta tapi Rio tidak perduli. Bayi mungil ini seakan tahu dipisahkan dengan ibunya, ia pun langsung menangis dengan kerasnya namun tidak bisa menggetarkan hati Rio. Rio terus melangkah hingga akhirnya keluar ruangan.
....
Arfan membuka kamar rawat Angel, dirinya baru kembali dari kantor dan membeli makanan untuk Angel.
Arfan terkejut melihat Angel yang duduk terdiam di atas ranjang. Arfan tidak melihat bayi mungil yang selalu di samping Angel. Arfan langsung teringat Rio, apa Rio telah membawa anaknya?"
"El? bayimu? Rio sudah membawanya?"
Angel langsung terisak. Arfan berdecak kesal lalu menarik Angel dalam dekapannya.
"Rio, kamu benar-benar keterlaluan!"
Di sisi lain
Amanda tengah membopong cucu pertamanya dengan penuh kasih sayang sedangkan Sena berpura-pura lemah setelah melahirkan bahkan Rio mengakui istrinya ini pandai berakting.
"Kok cepat banget Sena boleh pulang?" tanya Riko curiga karena Sena dibawa ke rumah sakit semalam dan paginya sudah boleh pulang.
"Iya, Pa. Kondisinya juga sudah membaik"
Riko percaya saja dengan ucapan Rio. Sena senang akhirnya dia punya anak dan Rio kini jadi miliknya seutuhnya lagi.
"Eh? kok nangis, kamu lapar yah?"
"Sinih, Ma"
Sena membawa bayi mungil ini ke kamar dan di ikuti Rio. Rio ingin memastikan anaknya mendapat susu formula dengan cara yang benar tidak asal-asalan cuma mencampur air dan Bubuk susu.
Kamar
Sena langsung membaringkan bayi mungil ini yang masih menangis di atas kasur. Sena terlihat tidak nyaman dengan tangisan bayi ini.
"Berisik banget sih!" kesal Sena. Rio langsung membuatkan susu untuk anaknya sedangkan Sena langsung meraih ponselnya lalu berjalan kearah sofa.
"Sebentar yah, sayang" Rio melihat kearah kasur, ia terkejut saat melihat anaknya terbaring begitu saja sedangkan Sena sedang bermain ponsel.
"Sena, kamu ini!"
"Apa? itu anakmu dengan Angel, ya kamu lah yang ngurus! masa aku sih?"
"Kamu!"
"Iya...iya"
Sena meletakan ponselnya lalu menghampiri bayi mungil yang tengah meminum susu dari dot. Sena mengambil alih menyusui bayi yang kini tengah tersenyum sangat manis.
"Kamu lucu banget, namanya siapa?" tanya Sena ke Rio. Rio sendiri belum menyiapkan nama untuk buah hatinya. Ponsel disaku Rio berdering, Rio pun langsung mengambil ponselnya, ternyata ada SMS yang masuk dan itu dari Arfan. Rio langsung membuka pesan itu yang intinya Angel ingin anaknya dinamai KEVIN, entah itu jadi nama depan atau pun nama belakang.
"Nama panggilannya "Kevin""
"Kevin? nama yang bagus"
Seakan menyukai nama yang diberikan bayi mungil ini tersenyum senang bahkan melihatkan gusi tanpa giginya.
"Anak Papa suka nama pemberian Papa yah? senang banget gitu"
***