
Angel menutup matanya saat Rio mulai memiringkan wajahnya dan Angel merasakan hangat napas Rio di wajahnya dan.
"Ngarep yah?"
Bisik Rio langsung menggambil kantong plastik dari tangan Angel lalu berjalan pergi. Angel langsung matanya, kedua pipinya terasa sangat panas. Angel menggigit bibir bawahnya dan tak dapat membayangkan kalau bertatap muka dengan Rio pasti sangat malu karena kejadian ini.
"El kenapa kamu jadi ngarep gini!"
Angel menepuk kepalanya sendiri. Rio berbalik dan mendapati Angel yang terdiam masih ditempat tadi.
"EL. AKU HABISKAN SEMUA YAH JAGUNGNYA!!" teriak Rio kencang sembari menunjukan kantong plastik berisi jagung manis rebus.
Angel langsung menoleh ke arah Rio.
"AKU JUGA MAU! BAGI!!"
Angel berlari kearah Rio. Rio pun meneruskan jalannya tanpa menunggu Angel.
...
Dibawah sinar rembulan yang sangat terang dan gemerlap lampu taman menemani Angel dan Rio. Angel tengah bersandar didada bidang Rio sembari memakan jagung, mungkin sudah setengah jam mereka duduk di bangku taman.
"Pulang yuk! udah larut nih" ajak Rio namun Angel tidak merespon seakan Angel masih ingin berada disini.
"Tadi minta pulang"
"Kan tadi bukan sekarang"
"Terserah"
Suasana kembali sunyi. Angel dengan jagungnya sedangkan Rio larut dalam lamunan.
"Yaudah ayo pulang"
Angel menjauhkan tubuhnya dari Rio. Rio langsung menggandeng tangan Angel, mereka pun berjalan menuju mobil.
Mobil
Angel melihat keluar kaca jendela mobil berharap ada sesuatu yang membuatnya tertarik mumpung Rio lah yang mengajaknya keluar.
Doa Angel terkabul saat kedua mata Angel melihat keramaian di sebrang sana.
"Kak Rio mau kepasar malam!" pinta Angel dengan nada merengek seperti anak kecil. Rio melihat kearah yang Angel lihat. Tanpa berucap sepatah katapun Rio langsung membelokan mobilnya menuju pasar malam. Angel nampak senang.
"Ayo!!" ajak Angel lngsung turun dari mobil Rio saat mobil baru berhenti. Rio hanya menggelengkan kepalanya lalu mengikuti Angel.
Suasana pasar malam sangat ramai dan cahaya lampu yang berwarna-warni memanjakan mata. Rio yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sini di buat kagum. Deretan permainan dan juga aneka jajanan seakan menyambut kedatangan Rio.
"Kak Rio, ayo!!"
Angel yang tidak sabaran langsung menarik tangan Rio kewahana bermain kincir ria. Angel ingin sekali menaikinya. Rio memandang ngeri kincir ria itu bukan karena takut ketinggian hanya saja ia takut akan keamanan dari wahana ini suda memenuhi setandar atau belum.
"Kak Rio takut ketinggian?" tanya Angel dengan nada kecewa. Rio yang tidak mau Angel sedih lalu menuruti saja kemauan Angel.
"Nggak, aku beli tiketnya dulu yah"
Rio membayar uang dua puluh ribu untuk dua orang lalu kembali lagi ke Angel. Mereka berdua menunggu giliran untuk naik dan tak lama giliran mereka pun tiba.
"Ayok kak!"
Angel dan Rio masuk kedalam salah satu "sangkar burung" setelah itu petungasnya menggunci pintu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Wahana itu pun mulai bergerak keatas. Angel sangat menikmati wahan ini namun Rio merasa was-was. Angel dan Rio duduk berhadapan karena itu Rio bisa mekihat senyum kebahagiaan Angel dan sekarang Rio sadar kalau sangat mudah membuat Angel bahagia.
Angel melihat keluar dan pemandangan dari sini sungguh sangat indah. cahanya lampu dan orang-orang yang berada dibawah bak sekelompok semut.
"Kamu senang?"
"Iya, terima kasih. Kak Rio coba lihat kearah sana!"
Rio menoleh kearah yang Angel tunjukan senyum Rio muncul saat melihat pemandangan dari atas sini. Tempat Rio dan Angel sekarang di bagian tertinggi jadi mereka berdua dapat melihat deretan gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan lampu yang menyala dibagian atasnya juga lampu-lampu jalan yang berbaris.
Entah kenapa Rio merasa mendapatkan pengalaman yang berharga terlebih selama ini dirinya hanya sibuk mendatangani dokumen-dokumen penting dan hanya berdiam dikantor, mungkin ini bisa dibilang menikmati hidup?.
Rio bersyukur memiliki istri seperti Angel walau pun masih sangat sulit menerima Angel sebagai istrinya. Semua yang Rio lakukan karena Rio tahu ini semua berat untuk Angel karena itu dirinya berusaha untuk membuat Angel tersenyum.
Kincir ria itu berputar pelan hingga "sangkar burung" yang dinaiki Rio dan Angel kembali ketitik awal berarti giliran mereka sudah selesai dan berganti dengan orang yang mau menaiki wahana ini.
Rio menggandeng tangan Angel menyusuri pasar malam yang dirasa semakin ramai.
Angel melihat seorang anak kecil yang tengah menikmati es krim yang terlihat sangat enak membuat dirinya meneguk ludah.
"Kak mau es krim"
"Malam-malam gini mau makan es krim?"tanya Rio dengan nada heran terlebih malam ini cukup dingin dan kalau makan es krim nanti bisa pilek.
"Haaa beliin! aku mohon?"
Angel melihatkan tatapan melasnya membuat Rio tidak tega.
"Ya sudah ayo beli"
"Makasih"
...
Sekarang sudah ada stik es krim cokelat di tangan kanan Angel dan genggaman tangan Rio tidak pernah lepas dari pergelangan tangan Angel. Rio takut Angel akan nyelonong pergi entah kemana dan sulit mencari tubuh mungil Angel diantara orang-orang yang berlalu lalang ini.
Rio melihat ada beberapa pedagang yang mulai merapikan barang dagangannya mungkin ini sudah mulai masuk jam penutupan pasar malam.
"Kak mau boneka"
"Boneka? oke aku akan belikan"
Angel menggeleng membuat Rio bingung padahal Angel sendiri yang meminta boneka.
"Bukan beli tapi kak Rio harus menangi dulu permainannya"
"Hah?"
Angel menuntun Rio menuju tempat permainan lempar bola dan cara permainannya mudah tinggal melempar bola ke susunan kaleng kalau kaleng-kaleng itu berjatuhan berarti tinggal memilih boneka-boneka yang tergantung rapi.
"Kak mau boneka beruang cokelat!"
"Oke tapi jangan di makan! pak berapaan?" tanya Rio ke penjaga permainan.
"Satu bolanya lima ribu"
"Tolong tiga"
Penjaga itu memberikan bola untuk Rio. Rio bersiap untuk melempar dan Rio yakin bisa memenangkannya karena menurut Rio ini permainan yang gampang.
Shoott...
"Yah!"
Bola itu meleset bahkan jauh dari target. Angel yang tadinya optimis Rio bisa kini mengerutkan dagunya. Rio kira tadi itu gampang tapi? Rio tarik semua ucapannya itu.
Rio melemparkan lagi bola yang kedua dan berharap kali ini dirinya berhasil.
"Hah! meleset lagi!!"
"Kak Rio pasti bisa!!" ucap Angel menyemangati. Rio menoleh kearah Angel yang sepertinya ingin sekali boneka beruang cokelat itu.
Rio meyakinkan dirinya. Ini bola terakhir dan harus kena. Saat Rio ingin melempar bola terdengar pengumuman dari pengeras suara.
"Diberi tahukan untuk seluruh pengunjung dan pedagang di pasar malam ini bahwa lima menit lagi pasar akan di tutup jadi marilah berkemas dan hati-hati di jalan. Selamat malam semua!!"
Setelah pengumuman itu berakhir Rio langsung melempar bola itu dan bola itu tepat mengenai kaleng tapi sayangnya bola itu hanya menjatuhkan satu buah kaleng saja.
"Yah"
Harapan terakhir ternyata tidak membuahkan hasil. Angel tidak bisa meminta Rio untuk bermain lagi karena pasar akan turup.
"Pak tolong tiga lagi!" minta Rio lagi karena masih penasaran dengan permainan ini.
"Maaf. Saya harus berkemas"ucap penjaga itu membuat Rio berdecak. Rio lalu membayar ketiga bola tadi lalu menoleh kearah Angel.
"Maaf"
"Nggak apa-apa, ayo pulang! aku sudah mengantuk!"
Angel ingin sekali boneka itu tapi apa boleh buat Rio sudah berusaha semampunya.
Rumah
Angel langsung berjalan mendahului Rio menaiki tangga menuju kamar.
"Apa dia marah?" tanya Rio kepada dirinya sendiri. Rio merasa bersalah karena tidak mendapatkan boneka yang Angel mau padahal dia tahu Angel sangat menginginkannya.
"Aku belikan saja besok"
12:30 siang
Rio tengah mencari boneka untuk Angel di toko mainan yang tak jauh dari kantor.
Rio sudah dua kali mengekilingi toko tapi tidak ada boneka yang menarik perhatiannya.
"Bonek beruang cokelat nggak ada, adanya cuma kostum beruang cokelat. Nggak ada pilihan lain"
Setelah membayar Rio langsung keluar toko ingin cepat-cepat pulang namun saat ingin menaiki mobil Rio melihat toko perhiasan di sebrang jalan.
"Itu hadiah selanjutnya!"
Rio menaruh kantong belanjaannya kedalam mobil lalu menyebrang jalan.
toko perhiasan
Rio langsung melihat-lihat perhiasan yang di pajang.
"Silakan di lihat dulu, ini semua model baru"
Semua yang dipajang bagus-bagus membuat Rio bingung adai tadi malam Angel mau diajak menonton alias di ajak ketoko perhiasan pasti sekarang Rio tida di dini dan tidak kebingungan seperti ini.
"Mba tolong ambilkan cincin ini"
Setelah memilih cincin Rio melanjutkan memilih anting, gelang dan kalung untuk Angel. Rio memilih perhiasan yang sederhana dan tidak mencolok bukannya Rio pelit tapi Rio tidak mau ada masalah yang timbul karena perhiasan ini.
...
Rumah
Angel tersenyum simpul akhirnya masakannya selesai dan tinggal menunggu Rio pulang.
Angel melihat kearah jam dinding dan ini sudah hampir jam satu siang namun Rio belum pulang.
"Apa dia makan siang diluar?"
Angel menarik kursi dan duduk dikursi itu. Angel memainkan sendok dan garpu bak wayang kulit untuk menghilangkan lelah memasak tadi.
Pipi Angel kini menggembung, ia khawatir Rio tidak pulang makan siang dan semua yang ia buat ini sia-sia padahal ini semua untuk Rio.
"Kak Rio nyebelin!"
"SAYANG KAMU DIMANA AKU PUNYA HADIAH UNTUK MU!!"
Suara teriakan itu membuat Angel terkejut. Angel yang paham betul suara itu milik siapa langsung bergegas keruang tamu.
"Kok nggak ada orang? kak Rio kemana? eh?"
Angel melihat boneka beruang cokelat berukuran sangat besar di sofa. Boneka itu seolah-olah tengah duduk sembari menonton TV yang ada didepannya.
Angel mendekati boneka beruang cokelat itu dan di atas perut boneka itu ada secarik kertas. Angel mengambil kertas itu lalu membacanya.
"Untuk istriku yang suka ngambek"
Senyum Angel kini terukir dengan sempurna. Rio membelikan boneka beruang yang sangat besar bahkan boneka itu lebih besar darinya.
"MAKASIH KAK RIO!!"
Teriak Angel senang lalu menghempaskan tubuhnya ke boneka beruang yang terasa sangat empuk.
"Aroma cokelat"
Boneka beruang ini beraroma cokelat, sama seperti yang Angel suka.
Angel memeluk boneka ini dengan erat dan juga gemas ya walau tangan Angel tidak bisa melingkar sempurna di tubuh boneka ini. Cukup lama Angel memeluk boneka ini hingga suatu ke anehan muncul, boneka ini seperti membalas pelukannya. Angel mendongak keatas dan mendapati celah antara tubuh dan kepala boneka. Angel menduga kalau ini bukan boneka biasa dan tadi Rio berteriak namun setelah di hampiri Rio tidak ada.
Angel memposisikan tubuhnya duduk di pangkuan Boneka beruang ini lalu menatapnya lekat-lekat wajah boneka beruang.
"Kak Rio, emang nggak pengap yah?"
Angel menduga kalau boneka beruang ini adalah Rio. Itu maksud akal juga terlebih boneka ini seukuran manusia dewasa.
"Mau aku yang buka?"
Tangan Angel bergerak ke kepala boneka lalu dengan perlahan membuka kepala boneka ini dan.
"Kak Rio!! yey tebakan ku benar!!"
Angel terlihat sangat senang saat tebakannya benar. Rio mendengus kesal saat Angel dapat mengetahui dengan cepat kalau dibalik kostum boneka ini adalah dirinya.
"Kamu ini! kok kamu biasa tahu sih?" tanya Rio heran. Angel hanya menunjukan senyumnya.
"Karena, masa ada boneka seukuran manusia"
"Ada"
"Kalau pun ada harus pesan dulu, jarang ada orang yang mau beli"
"Kenapa?"
"Karena nggak imut"
"Oh jadi aku nggak imut?" tanya Rio dengan nada yang tak enak didengar. Menyadari kalau suaminya ini ngambek Angel hanya bisa menunjukan deretan giginya.
"Kamu ini! tapi kamu suka apa tidak?"
"Nggak! aku mau boneka yang bisa di peluk!" ucap Angel dengan nada ngambek.
"Tapi yang ini biasa meluk bukan di peluk!"
Rio langsung memeluk Angel dengan erat. Angel hanya bisa mendengus kesal sebab ia merasa sangat panas saat Rio memeluknya dengan kostum ini dan berarti Rio yang memakainya lebih panas dari yang Angel rasa.
"Kak udah gerah!" Rio pun melepas pelukannya. Angel menatap wajah Rio dan keringat sudah membasahi pelipisnya.
"Kamu keringetan, kenapa kamu mau lakuin ini? padahal aku sudah bilang "nggak apa-apa" kemarinkan? aku juga nggak begitu ingin kok"
Angel mengatakan semua kebenarannya. Angel tida terlalu ingin boneka hanya saja kemarin dirinya ingin Rio bermain permainan sederhana tanpa ada alat-alat moderen.
"Tapi buktinya kamu seneng gitu?"
"Kan dikasih kalau nggak suka nanti kamu tidak memberikan ku hadiah lagi"
"Iya aku memang suka tapi bukan kostum ini tapi orang yang makainya"
"Oh jadi kamu suka sama aku?"
tanya Rio memastikan. Angel meneguk ludah paksa sedangkan hatinya menerutuki yang telah ia ucapkan.
"Kok diam?"
Rio mengalungkan tangannya ke pinggang Angel. Angel masih tidak mau menjawab hingga Rio yang geregetan menunggu jawaban dari Angel langsung mengecup sekilas bibir Angel tanpa permisi dan menbuat Angel malu. Angek langsung "terbenam" di dada Rio untuk menyembunyikan pipinya yang memanas mungkin sekarang pipinya telah merah merona.
Rio tertawa dengan Reyahnya saat melihat tingkah laku Angel yang seperti ini.
"Jangan tertawa!" pinta Angel namun tidak di perdukikan Rio. Rio masih terus tergelak membuat Angel kesal lalu memukul-mukul dada Rio namun percuna saja Rio tidak merasakan apa pun karena kostum ini sangat tebal.
"Udah jangan ngambek gitu! kamu kan istri aku wajar kalau kamu suka sama aku"
Angel menjauhkan tubuhnya dari Rio lalu menatap mata Rio dalam. Angel perlahan menyukai Rio tapi Rio? apa dia juga merasakan hal yang sama?.
"Kalau kamu?" tanya Angel namun Rio tidak langsung menjawab melainkan menggambil sesuatu dipaper bag lalu di lihatkannya ke hadapan Angel. Kotak berbentuk hati dan berwarna merah menyala membuat Angel bingung.
"Itu apa?"
"Buat kamu, anggap saja ini mahar pernikahan kita dan maaf aku baru menbelikannya" ucap Rio dengan tulus lalu membuka kotak yang ia pegang.
"Ini?"
Angel di buat terkejut dengan isi kotak ini. Kotak merah ini berisi cincin, anting dan kalung yang begitu indah.
"Kamu suka?"
"Ta.. tapi?"
"Tapi apa? ini semua untuk mu dan ini cincin pernikahan kita dan aku juga pakai"
Rio melepas sarung tangan yang ia kenakan dan menunjukan jari manis tangan kanannya yang terdapat dua cincin. Satu cincin pernikahan dengan Sena dan satu lagi cincin pernikahan dengan dirinya.
Angel dibuat terharu oleh Rio hingga air matanya mengalir dengan sendirinya.
"Kamu menyukainya?"
Angel menjawab pertanyaan Rio dengan Anggukan kepala. Rio nenggambil cincin itu lalu meraih tangan Angel kemudian menyematkan cincin itu di jari manis Angel setelah itu Rio menarik Angel kedalam dekapannya.
"Makasih"
"Sama-sama"
Rio membelai lembut punggung Angel dengan lembut dan lekuk senyum miring terlihat jelas di wajah Rio.
"Aku punya hadiah lagi untuk mu!"
Rio melepas pelukannya lalu mengambil kotak berukuran sedang lalu diberikannya ke Angel.
"Buka!" suruh Rio dan Angel pun menurut lalu membukanya.
"Ponsel?"
"Iya buat kamu! kamu suka?"
"Iya"
Angel nampak begitu senang mendapat hadiah ponsel.
"Itu sudah ada nomer ku dan kamu bisa belanja online nantinya aku yang akan membayar semua. Sudah ada pin kartu kredit ku, kamu bisa menggunakannya atau aku ajarin?"
"Aku bisa kok"
"Syukurlah kalau begitu. Emm sayang kamu masak nggak? aku laper"
"Aku masak, ayo makan"
...
18:00
Rio tersenyum senang melihat Angel yang memakai semua pemberiannya termasuk ponsel yang sendari tadi tak lepas dari tangan Angel.
"Aku menyesal memberikan mu ponsel" keluh Rio yang merasa dirinya terabaikan.
"Barang yang sudah di kasih tidak boleh diminta lagi!" ucap Angel santai tanpa melihat kearah Angel.
"Kamu ini!!"
Rio yang kesal langsung melempar guling ke arah Angel.
"Ih jangan ganggu! mending kak Rio main PS saja sanah!!" ucap Angel dengan penuh kekesalan. Seperti mendapat pencerahhan dari surga, wajah Rio berseri-seri.
"Wah ide bagus tuh!"
Rio langsung bergegas keluar kamar membuat Angel menggelengkan kepalanya.
"Dasar laki-laki hobinya main PS mulu!" kesal Angel lalu melanjutkan belanja onlinenya lagi. Angel tengah mencari vitamin untuk Rio agar Rio tidak gampang sakit terlebih pekerjaan Rio yang sangat menyita waktu.
..
Rio tengah asik bermain PS dengan semangat 45 namun di tengah permainan ponselnya berdering.
Rio pun mengambil ponselnya lalu mengecek ada notif apa yang masuk. Ternyata ini notif dari salah satu bank yang memberitahukan telah terjadi teransaksi.
"Tuh bocah beli Vitamin? kirain beli apa"
Rio tidak tahu apa yang diinginkan Angel padahal Rio selalu memperbolehkan Angel untuk memakai uangnya.
ke esokan harinya
Angel tengah menyiram tanaman sembari menunggu kurir mengantarkan paketnya.
Tak lama ada seorang pemotor yang berhenti di depan gerbang. Angel pun menghampiri pemotor itu.
"Paket yah pak?"
"Oh, atas nama Angel?"
"Iya saya sendiri"
"Tolong tanda tangani"
Setelah mendatanganj surat tanda terima, kurir itu memberikan kardus pesana Angel.
"Makasih pak"
"Sama-sama, permisin neng"
Kurir itu langsung pergi. Angel bergegas kembali kedalam Rumah untuk membangunkan Rio.
Angel memasuki kamar dan masih terlihat Rio yang tertidur pulas bahkan Angel tidak tahu kapan Rio masuk ke kamar.
"Kak Rio, ayo bangun!"
"Lima menit lagi" pinta Rio. Angel menggelengkan kepalanya padahal Rio sudah berpesan untuk membangunkannha jam setengah tujuh.
"Kak ntar telat loh"
"Iya aku bangun"
Rio pun perlahan membuka kelopak matanya lalu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Setelah Rio masuk kedalam kamar mandi, Angel langsung menyiapkan pakaian Rio.
..
Rio menuruni tangga dan dapat terlihat dari sini Angel yang tengah menyusun makanan di aras meja.
"Aku kira kamu tidur lagi dikamar mandi" ucap Angel langsung saat melihat Rio. Rio hanya melempar senyum kearah Angel.
"Ayo makan" ajak Angel dan Rio pun mengangguk.
Rio nampak menikmati sarapan nasi goreng buatan Angel ini dan Angel juga terlihat senang saat Rio memakan nasi gorengnya dengan lahap.
10 menit berlalu sekarang piring mereka sudah kosong.
"Kenyang! terima kasih sayang, aku berangkat yah" pamit Rio.
"Tunggu sebentar, aku punya hadiah buat kamu"
"Apa?" tanya Rio penasaran.
Angel mengambil sesuatu didapur lalu kembali ke Rio dengan membawa botol plastik vitamin.
"vitamin buat kamu!"
Rio sekarang tahu vitamin itu untuk siapa tapi Rio tidak suka meminum vitamin. Jangankan vitamin saat Rio sakit dia juga tidak mau meminum obat. Rio menatap Angel lalu menggelengkan kepalanya.
"Kamu nggak mau?"
Rio semakin cepat menggeleng. Angel menghela napas ternyata Rio juga seperti anak kecil.
Angel menggambil satu kapsul lalu menyodorkan ke dekat mulut Rio namun Rio tidak mau membuka mulut.
"Ini untuk kesehatanmu"
"Aku nggak mau sayang"
"Nanti kalau kamu sakit gimana?"
"Aku nggak akan sakit, kamu tenang saja!" ucap Rio dengan nada meyakinkan Angel. Angel hanya melihatkan tatapan datarnya.
"Kamu itu bukan peramal! dokter saja bisa sakit apa lagi kamu!" ucap Angel dengan nada penuh penekanan.
"Tapi Aku nggak suka! pahit!"
"Sayang ku ini itu vitamin bukannya obat! bentuknya kapsul jadi kamu tidak akan merasakan apapun! tinggal telan!"
Walau pun sudah panjang lebar Angel menjelaskan namun Rio tetap tidak mau. Angel yang tidak kehabisan akal lalu menggigit unjung kapsulnya lalu disodorkannya ke Rio. Bahkan jarak wajah Angel dan wajah Rio sangat dekat. Rio menghela napas, Angel tahu sekali cara membuatnya menuruti kemauannya.
"Ya sudah"
Dengan terpaksa Rio menerima suapa itu. Rio buru-buru meminum air dari gelas. Angel merasa lega Rio mau meminum vitamin.
"Udah sekarang kamu puas?"
"Iya" ucap Angel dengan nada penuh kemenangan.
"Dasar kamu ini!" Rio sangat di buat kesal oleh Angel. Angel yang menyadari suaminya ini ngambek langsung mengecup pipi kiri Rio.
"Nggak mau disitu! maunya disini!" ucap Rio sembari mengetuk bibirnya. Angel langsung mengecup bibir Rio dan menganggap kecupan ini sebagai imbalan telah meminum vitamin.
"Ini dibawa!"
Angel menaruh botol plastik itu di dekat Rio. Rio seakan malas sekali menatap botol plastik itu.
"Minumnya tiga kali sehari!"
"Kamu bercanda yah? mana mungkin vitamin tiga kali sehari"
"Ada ini buktinya! kalau nggak percaya cek aja sendiri!"
Rio langsung mengecek botol itu dan ternyata benar seperti yang di ucapkan Angel dan Rio membaca keterangan vitamin itu ternyata vitamin ini banyak manfaatnya termasuk menggontrol lemak darah. Penyakit yang diderita oleh Ayahnya dan Rio kemungkinan besar mempunyai resiko menderita penyakit yang sama.
"Iya aku bawa. Terima kasih istriku, sekarang aku pamit berangkat kerja yah! jaga diri kamu!"
"Hemm"
Rio langsung mengecup kening Angel lalu bangkit dari duduknya berjalan keluar rumah.
Angel tersenyum senang sekarang dirinya tidak terlalu khawatir dengan kesehatan Rio.
"Lanjut beres-beres rumah"
Angel membereskan piring dimeja makan ini lalu berlanjut ke halaman belakang.
...
Angel tersenyum saat PMS-nya berakhir dan ini lebih cepar dari bulan sebelumnya.
"Aku ingin cepat pulang, Ayah! Ibu! El kangen! El mau kumpul bareng sama kalian lagi!"
Angel menyeka air matanya yang telah membasahi pipinya.
17:45
Waktu terasa begitu cepar berlalu. Kini matahari sudah tenggelam dan digantikan rembulan yang menemani malam. Angel tengah bersolek diri di depan cermin.
"Aku mau cepat pulang"
Angel menggigit bibir bawahnya. Ia harus menerima kenyaraan kalau sekarang dirinya adalah seorang istri yang wajib melayani suami.
Angel memoleskan lipstik merah dan juga lip gloss agar bibirnya semakin mengkilat. Rambut Angel di biarkan tergerai begitu saja.
Angel memakai gaun tidur yang dibelinya di pasar. Sebenarnya Angel merasa tidak nyaman sebab gaun ini melihatkan lekuk tubuhnya dan gaun ini hanya sampai di atas lutut serta sedikit terbuka dibagian dada.
Tak lama terdengar seseorang membuka pintu kamar.
"Sayang aku pulang, eh?"
Rio langsung terpesona melihat Angel yang nampak begitu cantik dan menawan. Rio melihat dari atas kebawah seakan tidak percaya dengan yang di lihatnya terlebih Angel terlihat sangat dewasa.
"Kenapa? nggak suka yah?"
"Eh, bukan itu! kamu cantik sekali!"
Angel tersenyum membuat Rio semakin terpesona.
"Mandi gih!" suruh Angel dan Rio pun menuruti kemauan Angel.
Rio berjalan menuju kamar mandi. Angel menggigit bibir bawahnya dan jantung ini berdegup dengan kencang.
15 menit berlalu. Rio keluar dari kamar mandi. Angel menghampiri Rio.
"Kak Rio mau makan?"
"Aku belum lapar"
"Oh ya sudah"
"Kenapa kamu berpakain seperti ini?"
"Lagi mau saja, kenapa? suamiku tidak suka?" tanya Angel dengan penuh nada kekecewaan membuat Rio merasa bersalah padahal bukan itu yang ia maksud.
"Aku suka, kamu sudah selesai?"
"Iya. Aku ingin segera pulang"
Rio langsung membopong tubuh mungil Angel ke tempat tidur lalu membaringkan tubuh mungil Angel.
...*** bersambung***...