Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
Bab 59



Matahari mulai menampakan sinarnya. Kicau burung menyanyikan lagu selamat pagi. Malam terasa cepat berlalu.


Rumah Amanda Riko/ kamar Rio Sena.


Rio perlahan membuka matanya dan seketika itu kepalanya terasa pusing dan berat. Dirinya tidak ingat apa-apa tentang semalam. Rio menoleh kesamping, melihat Sena yang masih memejamkan mata namun sedetik itu pun Sena membuka kelopak matanya lalu tersenyum sangat manis kearah Rio.


"Kamu sudah bangun, makasih untuk semalam." ucap Sena mesra lalu mengecup bibir Rio. Rio sendiri tidak mengerti apa maksud Sena.


"Tolong ambilkan piyama tidurku." pinta Sena yang kini duduk dengan selimut menutupi tubuh bagian depannya. Rio hanya menatap Sena dengan posisi tubuh yang masih terbaring.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Kamu ingin lagi?" ucap Sena sembari menurunkan selimut yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya.


"Tidak, ini."


Rio langsung mengambilkan piyama tidur milik Sena yang berada di sampingnya.


"Terima kasih." Sena langsung memakainya lalu berjalan menuju kamar mandi. Rio memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian semalam. Rio samar-samar mengingat kejadian semalam, Rio teringat dengan Angel, alkohol dan juga berhubungan suami istri dengan Sena.


Rio berdecak kesal, seharusnya dirinya bisa mengendalikan diri untuk tidak minum.


"Kepalaku pusing." keluh Rio lalu kembali tidur.


...


Kamar Amanda Riko


Riko tengah menggoda Kevin yang sedang tertidur. Riko terus menciumi pipi Kevin dengan gemasnya, sebenarnya Riko tidak tahu kapan Kevin tidur bersamanya.


"Belum bangun juga." tanya Amanda yang baru kembali dari dapur untuk membuatkan susu untuk Kevin.


"Belum, dia masih bermimpi."


Kevin tertidur dengan pulas nya dan tidak terganggu oleh Riko dan Amanda yang tengah membangunkannya.


"Kevin, ayo bangun."


Kecupan hangat dari Amanda membangunkan Kevin. Bayi mungil ini tersenyum dengan manisnya, sepertinya Kevin tidurnya cukup hingga dia tidak menangis.


"Lucunya." Riko kembali mengusili Kevin hingga Kevin merengek kesal. Amanda hanya menggelengkan kepalanya.


"Pa, sudah jangan diganggu lagi, sebaiknya kamu mandi. Katamu ada rapat penting hari ini?"


"Baru jam tujuh. Oh iya, nanti malam ada acara makan malam sama rekan bisnis baru kita."


"Benarkah? apa mereka punya seorang putri?" tanya Amanda berharap, kalau iya Amanda akan menjodohkan Arfan dengannya. Amanda ingin Arfan segera menikah.


"Kamu ini, mereka hanya punya seorang putra yang akan menikah. Jangan memojokkan Arfan soal pernikahan, nanti yang ada tuh bocah minggat."


"Ih kamu mah, jangan bicara seperti itu! cepat mandi." suruh Amanda dengan kesal. Riko malah meledek Amanda dengan menirukan raut wajah Amanda lalu pergi ke kamar mandi.


Kevin tersenyum melihat Amanda yang kesal seperti itu dan membuat Amanda semakin mengerutkan dagunya.


"Kamu yah? gemesin!"


...


Kamar Rio Sena


Rio tengah memperhatikan Sena yang tengah menelan obat, entah kenapa Rio tertarik mengetahui obat apa yang Sena konsumsi. Rio sering melihat Sena menelan obat yang sepertinya mirip tapi Rio tidak mungkin menanyakan langsung ke Sena sebab Rio tidak ingin Sena salah paham.


Rio memicingkan matanya saat melihat plester luka di telapak tangan kanan Sena. Rio mendekati Sena lalu meraih tangan Sena yang terluka, Sena nampak terkejut dengan kedatangan Rio.


"Ini kenapa? apa aku melukaimu semalam?" tanya Rio panik. Rio sangat tahu betul kalau orang mabuk bisa menyakiti siapapun tanpa disadari.


"Tidak"


"Jangan berbohong" ucap Rio sembari menatap Sena. Sena tersenyum sangat manis kerah Rio, senyum yang membuat Rio jatuh cinta dan menyerahkan hatinya kepada Sena.


"Sayang, jawab jujur! aku tidak akan marah"


"Aku cuma ke gores kater saat mengikis pensil alis, kamu tidak perlu khawatir." ucap Sena dengan penuh keyakinan namun sebenarnya ini luka yang ia dapatkan saat bipolar nya kambuh.


"Aku akan menyisir rambutmu." ucap Rio sekilas lalu mengambil sisir yang tergeletak di atas meja tak jauh dari dirinya. Sena mengangguk pelan.


Rio menyisir rambut Sena yang masih basah serta mengeringkan rambut Sena dengan pengering rambut. Sena menatap pantulan Rio di dalam cermin. Lekuk senyum terukir dengan manisnya dibibir Sena.


"Rambut kamu harum." puji Rio. Sena hanya terdiam tak menanggapi pujian Rio, dirinya masih teringat dengan racauan Rio yang menyebut nama Angel berulang kali dan mengungkapkan bahwa dirinya sangat mencintai Angel. Sena tidak akan sedikitpun rela Suami tercintanya direbut wanita lain.


"Ri."


"Hemm."


"Kamu masih mencintai Angel?" Entah apa yang ada dipikiran Sena sekarang hingga menanyakan pertanyaan itu kepada Rio padahal dirinya sendiri tidak ingin mendengar nama Angel tapi dirinya sendiri yang menyebut nama Angel.


Rio menatap Sena dari kaca, nampak wajah istrinya datar tanpa ekspresi. Rio tahu Sena sangat cemburu dengan Angel. Rio merasa dirinya suami yang sangat buruk.


"Tidak, aku sudah tidak mencintainya lagi."


"Bohong! semalam hanya nama Angel yang kamu sebut dan kamu tahu,Ri? Kamu mengira diriku ini Angel, saat melakukan itupun kamu menyebut nama Angel" ucap Sena tanpa ekspresi. Rio langsung mematung mendengar ini semua. Tersirat kepedihan mendalam di hati Sena. Pengorbanan yang ia lakukan malah membuat hidupnya hancur, ia terlalu naif menempuh jalan itu untuk mendapatkan seorang anak yang sangat diinginkan ibu mertuanya tapi ini sudah terjadi dan waktu yang sudah berlalu tidak akan kembali lagi.


"Kalau kamu ingin dengan Angel, ya silahkan tapi jangan seperti ini. Jangan memberi janji palsu lagi, Ri! aku sangat-sangat terluka bahkan aku serasa mati. Aku mencintaimu lebih dari diriku tapi jangan anggap aku hanya mainan mu, lebih baik kamu ceraikan aku"


Setelah berucap, Sena pun beranjak pergi meninggalkan Rio. Rio menelan silva nya paksa.


"A...aku?"


...


Sena menuruni tangga dengan senyum lebar bibirnya. Dirinya langsung menuju dapur yang dimana ada Amanda yang tengah menyeduh kopi, aroma khas kopi mengelitik hidungnya.


"Ma, Kevin?"


"Kevin sedang main sama Kakeknya, kamu mau kopi?" tawar Amanda. Amanda merasa lega melihat Sena yang sudah lebih baikan tidak seperti semalam yang terlihat sangat letih.


"Emmm buat Rio saja"


"Ini, nanti malam ada acara makan malam, kamu kasih tahu Rio sanah"


"Iya, Ma"


Sena langsung kembali ke kamar dengan membawa secangkir kopi untuk Rio. Saat Sena ingin membuka pintu, pintu itu dibuka oleh Rio. Entah kenapa Rio mendadak jadi canggung saat menatap mata istrinya yang tersenyum kearahnya seolah-olah tidak ada masalah.


"Mau kemana? aku bawakan kopi, ini mama yang buat"


Sena berjalan masuk diikuti Rio dari belakang. Rio menatap sayu Sena yang tengah merapikan meja yang penuh dengan berkas milik Rio, hatinya pasti sangat sakit dan mungkin membenci dirinya. Rio menghela napas, mungkin ini memang sudah berakhir dan Angel juga akan menempuh hidup baru dengan orang yang mau menerima keadaannya sekarang. Rio perlahan mendekati Sena lalu memeluknya dari belakang membuat Sena terkejut, pelukan yang seharusnya hangat dan menenangkan malah membuat napas Sena sesak.


"Lepas, aku kegerahan." ucap Sena dengan nada dingin. Rio tersenyum tipis, dirinya tidak menurut malah kepalanya diposisikan ke tengkuk leher Sena. Sena dapat merasakan hembusan napas Rio.


"Kamu marah?"


"Apa aku harus menjawabnya?" Sena berbalik bertanya membuat Rio mengangkat satu alisnya. Rio merasa istrinya ini benar-benar marah, ia lantas melepas pelukannya.


"Aku minta maaf."


"Aku benci dengan kata itu." Sena lantas berjalan menjauhi Rio. Sena terlihat mengacuhkan Rio dan tidak mengaggap Rio ada di rungan ini.


"Aku tidak akan menemui Angel lagi" ucap Rio namun sepertinya Sena tidak tertarik dengan pembicaraan ini, Sena menyibukkan diri dengan merapikan tempat tidur.


"Aku tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu" Sena masih tidak bergeming, Sena sudah sangat muak dengan ucapan Rio terlebih Rio menyebut nama Angel.


"Angel akan menikah dengan pria lain"


Mendengar itu Sena terdiam sesaat lalu kembali beraktivitas. Rio menghela napas panjang, dirinya bingung harus bagaimana lagi untuk mendapatkan maaf dari istrinya ini.


"Apa aku harus mengetahui itu?" ucap Sena acuh. Rio mendekati Sena lalu duduk dipinggir kasur. Sena hanya menatap Rio.


"Iya kamu harus mengetahui kalau hubungan ku dan Angel sudah berakhir dan Angel tidak akan mengusik kehidupan kita dan Kevin akan selamanya menjadi putramu."


"Kamu tidak membohongiku kan?"


"Tidak, mendekatlan. Aku ingin istriku."


..


Sena duduk manis dipangkuan Rio, tangan Rio melingkar ditubuh Sena seakan tidak ingin istrinya beranjak darinya. Kepala Sena bersandar di dada bidang Rio.


"Kamu membuatku harus mandi lagi." ucap Sena sembari mencubit pinggang Rio. Kejadian tadi membuat Sena tersenyum tipis, Rio sangat memanjakannya.


"Biar saja."


"Ih! kamu kan belum mandi."


"Mau mandi barengan?" tanya Rio dengan usilnya membuat pipi Sena memanas. Rio dengan hangatnya mengecup puncak kelapa Sena.


"I love my wife" bisik Rio tepat di telinga Sena. Membuat Sena semakin mengeratkan pelukannya, begitu juga Rio.


Terasa sangat nyaman dirasa Rio, mungkin ini lah yang terbaik untuknya dan untuk para istrinya. Rio harus menemui Angel untuk memperjelas semuanya dan juga mengijinkan Angel bertemu dengan Kevin untuk terakhir kalinya.


"Kamu tidur, sayang?" Rio melihat rendah ke arah wajah istrinya dan ternyata Sena tengah melamun. Kecupan lembut di bibir Sena membuat Sena kembali dari dunia khayalannya.


"Kamu sedang memikirkan apa?"


"Aku juga ingin jadi seorang ibu." ucap Sena dengan nada sedih. Rio tersenyum tipis lalu mengeratkan dekapannya.


"Kamu pasti akan jadi seorang ibu, rahim kamu cuma lemah dan yang lainnya masih normal. Kamu masih ingat kata dokter waktu itu?"


Sena menggeleng pelan, matanya terpejam seakan ingin merasakan lebih dalam kenyamanan ini.


"Kamu itu kecapekan dan sekarang kamu sudah istirahat dari pekerjaanmu"


"Lalu?"


"Kita pergi ke dokter kandungan lagi, kita mulai lagi program kehamilan."


"Aku tidak mau."


"Loh? kenapa?"


"Aku takut perhatian ku beralih dari Kevin, aku takut nanti Kevin terabaikan, setidaknya sampai Kevin bisa berjalan sendiri."


"Terserah kamu, aku akan menurutinya."


"Terima kasih."


"Harusnya aku yang berterima kasih, kamu masih di sisih ku."


Sena mendongakkan kepalanya menatap wajah Rio. Rio mendekatkan wajahnya ke wajah Sena. Sena dapat merasakan hangat napas Rio yang semakin mendekat dan.


"SENA"


Keduanya terkejut lalu menjauhkan wajah mereka. Suara Amanda dibalik pintu itu mengacaukan suasana. Terdengar suara kekesalan dari Rio yang membuat Sena tersenyum tipis.


"IYA, MA"


"KAMU MAU IKUT BELI BAJU ATAU TIDAK?"


Sena dan Amanda hanya berteriak saling bersautan. Sena juga tidak mungkin menemui Amanda dengan kondisi dirinya yang masih terbalut selimut.


"AKU MENYUSUL SAJA NANTI."


"KEVIN SAMA MAMA, DITEMPAT BIASA."


"IYA"


Sena merasa Rio kembali mengeratkan pelukannya. Seakan Rio tidak ingin istrinya pergi.


"Jangan pergi." ucap Rio lalu mengecup bahu Sena.


"KALIAN JANGAN BUAT ADIK DULU! KEVIN MASIH KECIL!" teriak Amanda lagi yang kedua orang ini mengira Amanda sudah pergi.


"Aku kira dia sudah pergi."


"Kau ini, dia mamamu."


"Tapi kamu istriku." ucap Rio mesranya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sena.


"Lanjutin yang tadi." ucap Rio sekilas. Sena langsung memejamkan matanya.


.


Rio memandang Sena yang sedang merias diri, Sena akan menyusul Amanda dan juga Kevin. Sena sedikit kesal sebab Rio tidak ikut, katanya ada hal yang harus dikerjakan di kantor.


"Kamu marah yah?" tanya Rio khawatir. Sena mengerutkan keningnya lalu menoleh kearah Rio yang melihat dirinya dengan wajah yang merasa bersalah.


"Tidak, aku sudah terbiasa dengan itu. Lagian kamu juga kerja untukku dan Kevin. Semangat yah, Papa" ucap Sena dengan manisnya. Rio merasa tersanjung dengan kata yang terucap manis dibibir Sena.


"Iya sayang"


Rio beranjak dari tempat duduk menuju lemarinya. Sena kembali memoles wajahnya.


Rio membuka brangkas miliknya dan mengeluarkan kota biru yang ukurannya sedang dan bentuknya datar, sepertinya ini kalung.


Rio menutup lagi lemarinya lalu menghampiri Sena. Senyum di bibir Rio merekah dengan indahnya.


"Aku lebih suka kamu pakai lipstik pink deh."


Sena langsung menaruh lipstik merah maroon nya dan mengganti dengan lipstik berwarna Pink seperti yang Rio suruh. Sena mengoleskan lipstik itu di bibirnya, dirinya tersenyum saat wajahnya lebih terlihat cantik dengan warna pink.


"Sudah, gimana?" Sena langsung berbalik menatap Rio, melihatkan riasan wajahnya.


"Cantik, tapi." Rio menggantungkan ucapannya dan membuat Sena penasaran.


"Tapi apa?"


Rio melihatkan kotak yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Rio langsung berjongkok di depan Sena lalu membuka kotak itu. Sena terkejut melihat isi di kotak yang Rio perlihatkan. Kotak itu berisi kalung yang berliontin huruf"SR" yaitu inisial nama Sena dan Rio.


"Ri?"Sena menitihkan air matanya. Rio masih ingat dengan janjinya.


"Aku menepati janji ku, ini yang kamu mau."


Rio bangkit lalu berjalan ke belakan Sena. Rio memakaikan kalung itu dileher Sena yang polos.


"Ummm, aku malas saja tapi yang ini aku akan terus memakainya."


"Kamu menyukainya?"


"Iya, sudah siang, aku berangkat yah?" setelah berucap Sena langsung mengecup pipi kiri Rio.


"Hati-hati di jalan, kamu nyetir sendiri?"


"Iya, aku mau ke rumah mamaku dulu. Kamu siap-siap gih, entar telat loh"


"Iya sayang"


"Bye."


Sena langsung keluar kamar, setelah pintu tertutup, Rio langsung menarik laci dimana Sena menaruh obatnya.


"Ini obat apa?" Rio mengambil tempat obat yang terdapat beberapa butir obat berwarna putih namun tidak ada keterangan mengenai obat ini, sepertinya Sena mengganti bungkusan asli obat ini.


Rio yang penasaran mengambil satu butir obat milik Sena lalu dimasukan kedalam plastik bening berukuran kecil yang kebetulan ada laci.


Rio langsung bergegas menuju rumah sakit untuk mengetahui jenis obat ini dan untuk apa Sena mengonsumsi ini.


..


Rumah Angel.


Rey tersenyum melihat Angel yang ia tunggu dari tadi akhirnya datang menemuinya.


"Lama banget sih? aku sampai akaran nih!" kesal Rey namun tidak ditanggapi oleh Angel.


"Kamu bilang jam sepuluh, ini baru jam setengah sepuluh!"


"Sama saja, ayo berangkat!"


Rey langsung menarik tangan Angel. Angel hanya bisa pasrah menuruti kemauan Rey. Rey mengajak Angel untuk memilih sovenir pernikahan untuk nanti. Pernikahan keduanya belum ditemukan tanggalnya namun persiapan untuk pernikahan sudah mulai dipersiapkan


Mobil Rey


"... kamu suka yang mana?"


"Umm, aku belum tahu, mungkin kalau aku sudah melihatnya akan lebih mudah"


Angel tidak menuntut yang lebih dari Rey, semua persiapan pernikahan sudah Angel serahkan semua kepada Rey dan Angel hanya memberi masukan saja, ya walaupun Rey agak kecewa tapi Rey juga tidak ingin membuat Angel semakin terbebani.


"Aku ingin melihat putramu." pertanyaan yang terlontar dari Rey membuat suasana menjadi canggung. Rey tahu pertanyaan ini membuat calon istrinya menjadi sedih tapi dirinya tidak bermaksud untuk itu, Rey benar-benar ingin melihat malaikat kecil Angel.


"Boleh" Angel langsung membuka tas selempang miliknya tapi dirinya tidak menemukan ponselnya, pasti ponselnya ketinggalan di rumah.


"Kenapa?"


"Kamu menyuruh ku untuk cepat jadi ponsel ku ketinggalan."


"Maaf, aku hanya ingin... sudahlah, aku minta maaf."


"Aku tahu alasannya, lagian ketinggalan di rumah."


....


11:30


Walaupun belum tengah hari sinar matahari sangat menyengat kulit. Sena mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Sena habis dari rumah orang tuanya, entah kenapa dirinya sangat merindukan kedua orang tuanya.


Sena tersenyum dengan penuh kebahagiaan, akhirnya Rio menjadi miliknya seutuhnya lagi tanpa ada bayang-bayang Angel.


Sena juga sudah memberitahu kan kepada ibunya tentang hal ini dan dia juga sangat bahagia bahkan menyuruh Sena untuk melakukan apapun untuk mempertahankannya.


"Aku sangat mencintaimu, Rio. Aku tidak akan membiarkan dirimu pergi dariku, kamu akan selau berada di sisi ku, Rio"


Sena masih tersenyum dengan sangat manisnya namun senyum itu memudar saat melihat orang yang mengusik hidupnya terlihat tidak ada beban.


"Angel!" desis Sena yang merasa sangat marah, karena orang itu dirinya hampir kehilangan suami yang sangat dicintainya.


"Bye-bye Angel" ucap Sena sembari menginjak pedal gas. Sena berniat mengatakan mobilnya ke tubuh Angel.


Mobil yang dikendarai Sena melaju dengan kencangnya menuju Angel yang tengah berjalan di zebra cross, Angel tepat berjalan di tengah dan tidak menyadari ada mobil yang menuju ke arahnya.


TIIIIINNNNNNNN


Suara klakson mobil mengagetkannya hingga membuat Angel terdiam membeku seakan waktu di hidupnya berhenti. Angel tidak bergeming sama sekali. Mobil itu semakin dekat dengan Angel dan.


"ANGEL!"


Entah datang dari mana Rio langsung menarik Angel kepinggir jalan. Kuatnya tarikan tangan Rio membuat Angel terkejut dan sialnya mereka berdua terjatuh, dengan posisi Angel menindih tubuh Rio. Rio merasa nyeri di sikunya serta rasa perih di lengannya.


"Aww."


Angel dapat mendengar dengan jelas rintihan Rio. Angel langsung bangkit dan membantu Rio berdiri.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rio dengan khawatir


Angel menggelengkan pelan. Pandang mata Angel tertuju pada lengan Rio yang lecet.


"Lenganmu?"


"Tidak apa-apa, Rey mana?"


Orang yang ditanyakan Rio muncul dengan wajah panik, Rey melihat kejadian barusan dari jauh dan Rey bersyukur Angel tidak apa-apa.


"El, kamu tidak apa-apa? Thank, Ri."


Walaupun Rey membenci Rio yang sudah menyakiti Angel namun dirinya bukan orang yang tidak tahu berterima kasih, dirinya bersyukur ada Rio yang menyelamatkan calon istrinya.


"Iya, jagain El jangan ditinggal sendiri. Aku pergi"


"Tapi lukamu?" tanya Angel dengan khawatir.


"Cuma luka kecil." Ucap Rio dengan nada yang meyakinkan namun Angel masih saja cemas. Rey melihat Angel yang sangat mencemaskan Rio akhirnya ikut berbicara


"Walaupun luka kecil tapi tetap saja membuat mantan istri mu cemas. Di mobilku ada obat luka, aku akan ambilkan."


....


Rumah Rio Sena.


Sena langsung melangkah menuju kamarnya dengan wajah ketakutan, tangan bergetar. Sena merasa sangat takut, dirinya telah menyelakai dua orang sekaligus dan tidak tahu mereka selamat atau tidak.


"Apa yang aku lakukan?"


Sena menyandarkan punggungnya ke pintu dan perlahan tubuhnya merendah, dirinya duduk dilantai. Sena melihatkan tatapan kosongnya serta air matanya mulai mengalir.


....


Rey merasa kegerahan saat melihat Angel yang tengah mengobati lengan Rio yang lecet. Rey cemburu namun sebisa mungkin dirinya menyembunyikannya.


"Sudah."


"Terima kasih, ummm, besok Kevin imunisasi mungkin aku atau Arfan yang akan mengantar tapi yang jelas kamu akan bertemu dengannya untuk terakhir kali dan aku maupun Kevin tidak akan mengganggu hidup baru kamu lagi. Kamu pasti akan bahagia dengan Rey dan anak kalian nantinya."


Rey mengerutkan keningnya, entah kenapa dirinya merasa senang mendengar ucapan dari mulut Rio. Angel hanya mengangguk dan lega akhirnya Rio paham juga.


"Aku pergi, Rey tolong jaga Angel."


"Pasti."


Rio langsung berlalu pergi. Rey tersenyum kearah Angel membuat Angel mengerutkan keningnya, bingung.


"Kamu kenapa?"


"Besok aku boleh kan bertemu bayi mu?"


"Iya"


"Pasti dia sangat mirip denganmu."


"Kamu ini, aku lapar, cari makan yuk?"


"Iya sayang."


.....


Mobil Rio


Rio merasa sangat gelisah saat mengetahui obat yang Sena minum itu sejenis obat penenang yang aman untuk dikonsumsi namun Rio tetap tidak bisa tenang, Rio takut Sena mengonsumsi obat-obatan terlarang.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada mu? kenapa kamu tidak pernah cerita kepadaku?"


Rio berdecak kesal, sebagai orang yang selalu ada didekat Sena, Rio merasa dirinya sangatlah tidak berguna. Sebagai seorang suami yang telah menikahi Sena selama enam tahu lamanya Rio merasa belum bisa memahami Sena seutuhnya.


"Kamu membenci Angel?"


Rio teringat saat Angel hampir ditabrak mobil. Rio tahu itu mobil Sena dan Sena sendiri yang mengendarai mobil itu. Rio membelokan arah mobilnya ke toko baju dimana Amanda dan Kevin tengah berbelanja baju.


.


Rio mendengus kesal karena belum bisa menemukan Amanda, tadi Rio sudah menelepon dan Amanda bilang tengah berada di bagian baju bayi namun tidak ketemu juga


"Itu dia."


Rio menggelengkan kepalanya lalu melangkah menghampiri Amanda yang ditemani bi Ira serta Kevin yang anteng di kereta bayinya.


"Mama, dicariin dari tadi."


"Kamu yang tidak bisa menemukan mama." jawab Amanda acuh, Amanda tengah memilih setelah jas untuk Kevin. Setelan jas yang imut-imut ini membuat Amanda pusing harus memilih yang mana.


"Kamu datang sendiri? Sena mana?"


"Aku kira dia sudah datang kemari?"


Perasaan Rio semakin tidak karuan mengetahui Sena tidak berada ditempat ini. Rio harus secepatnya menemukan Sena.


"Ri, bagusan yang mana?"ucap Amanda sembari menunjukan dua setelan jas. Rio menatap datar Amanda.


"Ma, bisa tidak Kevin itu terlihat seperti bayi."


"Maksudnya?"


"Dia masih kecil jangan dikasih baju seperti itu nanti anak ku tidak imut lagi." ucap Rio sembari menyapa Putra kecilnya yang dari tadi melihat kerahnya.


"Tuh, nenek kamu. Masa kamu yang manis ini di pakaikan jas nanti kamu saingan sama papa lagi ntar Papa kalah ganteng."


Kevin seakan ingin dibopong Rio dan Rio juga mengetahui itu tapi dirinya ada hal yang harus di urus terlebih dahulu.


"Anak Papa, kamu sama nenek dulu yah? Papa harus menggaji ART rumah kita, nanti kalau kamu sudah gedean dikit, kita pulang. Oke?"


Rio mengecup hangat kening Kevin. Kevin merengek seakan tahu dirinya akan ditinggal oleh Rio. Rio tidak tega tapi mau bagaimana lagi, dirinya harus menemukan Sena sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Ma, aku pergi, maaf yah?"


"Ya sudah sanah pulang, kali saja Sena juga di rumah itu."


"Iya ma."


....


Rumah Rio Sena


Rio turun dari mobilnya, rasa cemasnya sedikit berkurang saat melihat mobil Sena di garasi.


"Jadi Sena disini, syukur lah."


Rio langsung melangkah memasuki rumah, dirinya langsung menuju kamar.


"Eh?"


Rio langsung mengetuk pintu setelah mengetahui pintu ini dikunci.


"Siapa?" tanya suara paruh yang seperti habis menangis.


"Sayang ini aku, buka pintunya yah?"


Sena lama sekali membukakan pintu untuk dirinya dan membuat Rio menghela napas panjang. Rio memutuskan untuk masuk ke kamar melalui ruang baju Sena yang berada disebelah kamar. Ruang baju dan kamar utama memiliki akses pintu yang menghubungkan kedua ruangan yang penting ini.


Rio membuka pintu kamar dan langsung melihat Sena yang tengah duduk melamun melihat kearah jendela.


"Sayang?"


Rio perlahan mendekati Sena. Sena yang mendengar langkah kaki Rio membuat dirinya merasa takut.


"Kamu kenapa?" Ucap Rio sembari mengelus kepala Sena.


"Ri, ak.... aku" Sena terlihat sangat ketakutan, Rio langsung menarik Sena dalam pelukannya.


"Kamu kenapa? ayo cerita"


"Ri... aku nabrak orang"


Rio tersenyum tipis, dirinya sudah mengetahui itu.


"Aku takut, aku tidak sengaja Ri! ka... kamu percaya sama aku kan?"


"Iya, kamu tenang saja, orang itu baik-baik saja. kamu tidak perlu khawatir."


Mendengar ucapan Rio, Sena langsung melepaskan diri dari pelukan Rio. Sena menatap Rio takut.


"Jangan lakukan itu lagi, ini bukan dirimu."


"...."


****....*****