Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 50 Selamat datang didunia



Angel menahan air matanya agar tidak menetes. Air matanya ini tidak boleh menetes lagi hanya karena orang yang selalu menyakitinya, Rio tidak pantas mendapat cinta di dunia ini dan dia adalah suami yang benar-benar tidak punya hati apa lagi perasaan.


"Aku hanya takut semua ini terbongkar"


Angel tersenyum sinis mendengarnya, Rio masih sama, dia masih egois. Angel berharap putranya ini tidak memiliki sifat seperti Rio, Angel tidak ingin putranya tumbuh besar dengan sifat keegoisan dan juga tidak menghargai seorang wanita seperti Ayahnya.


"Ck! itu yang kamu mau? Oke, sekarang kamu pergi dari sini! kamu tidak ingin mereka tahukan?"


"Tapi"


"Lama-lama kamu kenapa jadi bodoh sih? kamu sendiri yang takut semua ini terbongkar ya berarti kamu tidak boleh menemui ku ataupun menyapa anakmu ini" ucap Angel dengan nada sinis. Entah kenapa Rio terkadang menjadi seorang yang bodoh, kadang dia prinplan dan kadang penuh dengan emosi.


"Aku tidak mau! kamu istriku dan hanya aku yang boleh menyentuhmu"


Sekarang atmosfer ruangan ini menjadi panas. Keduanya saling beradu tatapan tajam dan sepertinya tidak ada yang mau mengalah.


Hati Angel sendiri sudah meneriaki Rio yang bebal dan keras kepala. Istri? Angel memang istri siri Rio tapi Angel sampai detik ini hanya merasa kalau dia hanya alat untuk mendapatkan seorang anak dan hak-nya sebagai seorang istri juga belum pernah Rio beri kepadanya hingga detik ini.


"Apa kamu tidak pernah bercermin? kamu bilang apa barusan? aku istrimu? sampai detik ini kamu belum memberikan apa yang seharusnya kamu berikan kepadaku, setatus ku ini masih sebatas istri simpanan mu yang tidak kamu akui didepan keluargamu sendiri, mau sampai kapan aku seperti ini?"


"Ak--"


"Aku tidak ingin mendengar pembelaan dari mulutmu itu, aku sudah muak dengan semua omong kosong mu itu dan juga dirimu, yang aku butuhkan hanyalah kepastian,.. ck!"


Angel berdecak kesal karena Rio yang langsung pergi begitu saja. Angel merasa gemas dengan Rio, serasa Angel ingin sekali mencekik leher Rio.


"Sayang kamu jangan seperti dia yah? sifat mu itu harus seperti om Arfan"


Seakan sudah hafal dengan nama "Arfan" janin di dalam rahim Angel langsung bergerak.


"Kamu kangen sama om Arfan? ya sudah ayo cari dia"


....


Arfan melihat Rio yang keluar dari kamar Angel dengan wajah kusut, Arfan menduga kalau Rio dan Angel sedang tidak akur, ya iyalah ngga akur istri sedang hamil dianya malah berlibur dengan istri satunya yang jelas-jelas tidak hamil.


Arfan ingin sekali menyentil Rio agar dia sadar dengan apa yang telah dilakukannya. Sembari memakan keripik kentang Arfan berjalan menghampiri Rio. Sikap Arfan seperti biasa ceria tanpa beban diwajahnya.


Rio menatap datar adiknya. Rio merasa kesal kepada Arfan yang selalu bersama istrinya. Rio ingin memarahi Arfan tapi kalau dia lakukan maka rahasia yang selama ini ia sembunyikan akan terbongkar.


"Eh? kakak"


"Apa?" tanya Rio dengan sengaknya.


"Wiiihhh, kalau lagi marah sama Sena jangan aku yang jadi pelampiasannya!" protes Arfan tanpa dosanya. Rio menghela napas lantas menunjukan senyum yang dipaksakan.


"Ada apa adikku yang paling aneh"


"Jangan pake "aneh" juga kali" dengus Arfan. Rio menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya ini.


"Mau apa?"


"Mau nyapa doang" ucap Arfan dengan wajah yang sangat membuat Rio kesal.


"Kamu ngeledek kakak?"


"Udah tahu nanya, weekk"


Arfan langsung berlalu begitu saja begitu juga Rio yang menghela napas, entah kenapa dia mengeluh dalam hati "kenapa diberi adik menyebalkan seperti Arfan".


"Dasar bocah" desis Rio. Arfan membalikan badannya, ia baru teringat dengan apa yang akan ia tanyakan ke Rio.


"Kak!" panggil Arfan dan membuat Rio berhenti lalu membalikan badannya.


"Apa lagi sih?" ucap Rio dengan malas. Arfan melihatkan jarinya membentuk huruf "V" dan juga melihatkan deretan giginya. Rio mendengus kesal, ada-ada saja adik satu-satunya ini.


"Kak, kamu punya nomernya suaminya Angel?"


"Buat apa?"


"Buat ngasih makan tikus"


"Apa?"


"Nggak kak bercanda, aku hanya ingin kakak bilang sama dia, kalau dia itu tidak pantas jadi Suami Angel" ucap Arfan tanpa dosanya padahal dia tahu bahwa Rio lah suami Angel. Setelah berucap Arfan langsung pergi dengan senyum sumringah.


Wajah Rio jadi merah padam dan ingin memarahi Arfan namun saat ia mau berucap, Angel keluar kamar dan itu membuatnya tidak jadi berbicara dan langsung pergi dari tempatnya berdiri.


"Eh, bumil"


Angel yang tertarik dengan bungkus cemilan yang ada ditangan Arfan langsung merampasnya tanpa pendahuluan lalu pergi begitu saja membuat Arfan melongo.


"Eeehh, kamu jangan makan itu!" panik Arfan saat kesadarannya mulai kembali. Arfan ingat betul kalau Angel jangan memakan makanan yang mengandung MSG dan pewarna buatan.


"Aku cuma makan sedikit kok" ucap Angel dari kejauhan.


"Sedikitnya kamu itu sama dengan satu dus! balikin"


"Ogah!" tolak Angel langsung. "Kamu yah!" Arfan langsung berlari menyusul Angel dan memastikan Angel tidak terlalu banyak memakannya.


...


14:30


Sena menguap untuk kesekian kalinya, ia sangat bosan sekali melihat wajah Rio yang terlihat sangat kesal.


"Ri, kamu cemburu sama Arfan?"


Entah kenapa Rio mengangguk dan membuat Sena langsung tergelak. Mendengar tawa Sena membuta Rio semakin kesal.


"Ck"


"Jangan kesal seperti itu! sekarang kamu tahu gimana perasaanku, tapi yang kamu rasakan itu tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan. Belajarlah dari rasa sakit ini"


"Lalu kenapa kamu masih bertahan?" Rio menatap Sena dengan tatapan penuh pertanyaan. Sena tersenyum dengan manisnya kearah Rio.


"Karena aku punya hati dan hatiku hanya mencintaimu tapi kamu sudah berubah semenjak kedatangan Angel. Coba sekali saja kamu bayangkan jadi aku yang harus rela berbagi suami demi membahagiakan ibu mertua yang tak sedikit pun mengerti akan diriku. Aku memang bodoh terus berada di sampingmu yang jelas-jelas menyakitiku tapi apa dayaku, aku tidak bisa hidup tanpamu"


Sena langsung keluar kamar meninggalkan Rio yang masih kesal terlebih ditambah dengan ucapannya barusan.


"HAAAAHHHH!!!!"


Rio mengacak-acak rambutnya, dirinya merasa tersesat di permaian takdir ini. Takdir yang memainkan hidupnya juga hatinya.


"Lama-lama aku bisa gila"


Rio merebahkan tubuhnya keatas kasur. Rio melihat ke langit-langit kamarnya. Rio ingin kembali ke masa remajanya yang tanpa beban dan bisa tertawa lepas bersama teman-temannya. Hidup itu terkadang membuat kita merasa lelah bahkan jenuh harus terus melakukan hal yang sama setiap saat. Waktu yang berlalu terasa begitu cepat namun keadaan masih itu-itu saja terkadang hati ini mengeluh kepada sang pencipta.


"Kenapa aku jadi seperti ini? siapa yang aku pilih? Tuhan tolong aku"


...


Sena tersenyum miris saat melihat Angel yang tengah mendapatkan kasih sayang dari Arfan. Arfan terlihat sedang bermain dengan janin yang ada diperut Angel, Arfan mengelus dan sesekali mengecup perut Angel.


"Andai aku juga hamil, pasti Rio akan melakukan hal yang sama. Sudah satu minggu ini aku tidak minum obat dan aku merasa baik-baik saja. Dokter bilang aku bisa hamil kalau aku istirahat total sampai siap program hamil tapi apa aku masih bersama Rio? itu butuh waktu lama"


Sena ingin terus bersama Rio walau dalam kondisi apapun juga. Dulu ia terus melakukan apa yang disuruh Ibunya yang terus saja menyuruhnya untuk berkarir jadi seorang model tapi saat Rio mulai mencintai wanita lain, Sena jadi tidak perduli dengan karirnya saat ini. Sena hanya ingin Rio.


"Sena"


"Eh? iya ma"


Amanda tersenyum kearah Sena. Sena takut Amanda mendengar semua yang ia ucapkan barusan.


"Kamu sedang lihatin mereka?"


"Iya, Sena juga mau seperti itu tapi baby-nya ngga mau"


"Janin mu itu pasti sangat sayang kepada mu, hingga dia tidak mau disentuh orang lain"


"Mungkin"


"Rio mana?"


"Dikamar, dia lagi tidur"


"Anak itu! yang hamil istrinya malah dia yang molor terus" kesal Amanda yang langsung pergi menuju kamar tamu.


"Biarlah, dari pada dia seperti orang ling-lung"


.


16:55


Rumah terasa sepi karena Riko mengajak Amanda dan juga Sena pergi ke toko perhiasan untuk membelikan mereka perhiasan sedangkan Rio tidak ikut.


Di halaman samping, pondok.


Arfan menatap gemas Angel yang sedang menyapa janinnya. Senyuman Angel sangat manis terlebih dengan lesung pipi yang menambah ayu wajah Angel. Seakan Arfan tengah melihat bidadari surga yang penuh dengan kasih sayang.


"Eh?"


Angel langsung membeku saat Arfan mencium pipi kirinya. Arfan yang tersadar dengan apa yang ia lakukan langsung menjauhkan tubuhnya.


"Aku ambil minum"


Arfan langsung pergi tanpa persetujuan dari Angel. Otak Arfan tengah mengerutuki hatinya yang bertindak tanpa kontrol,pasti sekarang Angel marah kepadanya.


Rio yang melihat semuanya langsung menghampiri Arfan yang ingin masuk kedalam rumah. Rio mencegat Arfan didekat kolam renang.


"Kakak?"


Tanpa ba-bi-bu, Rio langsung mendorong tubuh Arfan dengan kasar hingga Arfan mundur beberapa langkah.


"Kak, kamu kenapa sih?"


Arfan heran dengan sikap Rio sekarang. Tatapannya Rio penuh dengan emosi juga wajahnya yang"menyeramkan". Rio tidak bisa menahan kecemburuannya lagi dan juga kekesalannya. Hatinya sekarang tengah terbakar api cemburu.


"Ck! kurang ajar!"


BRAKK


Rio dengan keras memukul wajah Arfan hingga membuat Arfan jatuh tersungkur dengan bibir pecah dan darah segar ditepi bibirnya.


"Kak, apa yang kakak lakukan"


Rio mencengkram kerah Arfan menariknya untuk berdiri. Tatapan Rio seperti seorang pembunuh. Arfan tahu kakaknya pasti melihat dirinya mencium pipi Angel dan sekarang dia marah kepadanya. Arfan melihat situasi ini dapat mengungkap kebenaran dari mulut Rio.


"Kakak, kamu kenapa? aku salah apa sama kakak?"


Rio semakin erat mencengkram kerah Arfan, bahakan sekarang Rio seakan kesetanan. Rio sangat kesal dengan Arfan yang tidak sadar dengan kesalahannya.


"Kak?"


"Ck! Apa yang kamu lakukan pada ISTRIKU HAH!!


"Istrimu? Sena kan pergi sama Mama"


"BUKAN ITU! KAMU BERANI-BERANINYA MENCIUM ANGEL! ANGEL ITU ISTRIKU!!!"


Teriak Rio dengan keras hingga sampai ke pondok. Angel mendengar teriakan penuh emosi dari Rio itu. Angel pun bergegas menghampiri Rio dan entah kenapa perasaanya jadi tidak enak.


Arfan tersenyum sinis setelah Rio mengucapkan kebenaran yang ia sembunyikan selama ini.


"Jadi Angel itu istri mu, kak" ucap Arfan dengan piciknya. Rio perlahan melepas cengkraman di kerah Arfan. Rio terdiam, dia baru saja membongkar rahasianya sendiri karena emosi.


"Kenapa diam? aku tidak percaya mempunyai kakak yang tidak punya hati sepertimu. Sena tahu hal ini? ck! Ceraikan Angel sekarang juga dan aku akan menikahinya, kamu itu tidak pantas jadi suaminya Angel. TIDAK PANTAS!!"


BRAKK


Satu hantaman lagi menghantam wajah Arfan berbarengan dengan itu Angel datang. Air matanya turun begitu saja saat seorang kakak menyakiti adiknya.


"Rio, apa yang kamu lakukan?" suara itu membuat Arfan dan Rio menoleh kearah Angel. Saat melihat Angel yang tanpa dosanya muncul dihadapannya tanpa sedikitpun merasa bersalah kepadanya membuat amarah Rio muncul kembali.


"Apa yang aku lakukan? Harusnya aku yang bertanya kepadamu! Kamu habis berbuat apa sama Arfan, HAH!" Bentak Rio dengan kasarnya. Arfan bangkit dengan memegangi pipinya. Arfan tidak ingin Angel sampai kenapa-napa karena Rio


"Aku tidak berbuat apapun!"


Arfan menatap tajam ke Rio yang merendahkan istrinya sendiri. Angel menatap Rio dengan mata yang berkaca-kaca, selama ini Angel selalu berusaha jadi istri yang terbaik untuk Rio dan selama dia pergi Angel tidak berbuat aneh-aneh bahkan dirinya masih tetap disampingnya walau Rio selalu menyakitinya.


Ucapan Rio membuat Angel sakit hati. Dunianya seakan hancur, selama ini dirinya berjuang sendiri menjaga janin ini. Rio tidak tahu betapa melelahkan nya hamil dan betapa susahnya melakukan apapun dengan perut besar ini bahkan bernapas pun sulit tapi hari ini detik ini dirinya mempertanyakan harga dirinya.


"Kak!"


Angel mengalihkan pandangannya ke Arfan. Angel menggelengkan kepalanya seakan menyuruh Arfan untuk tidak ikut campur dengan urusan rumah tangganya.


"Kamu menganggapku seperti itu? serendah itukah diriku di matamu?"


"Kamu memang rendahan dan aku ragu kalau itu anakku" ucap Rio dengan nada dinginnya. Angel mengelus perutnya. Janin di rahimnya ini pasti mendengar semuanya. Janin di rahim Angel bergerak dengan keras hingga Angel merasakan sakit diperutnya.


"Ini anakmu, kamu boleh menghinaku sesuka hatimu tapi jangan hina anak mu sendiri. Pernikahan ini terjadi itu karena istrimu yang menginginkan anak yang tidak mampuau ia berikan kepadamu. Aku bisa saja pergi dari hidupmu dan membawa anak ini bersamaku tapi aku tidak ingin anak ini berpisah dari ayahnya yang tidak punya hati nurani, SEPERTI MU!!! AKU BENCI DENGANMU!!!! AKU BENCI!!!.....AKU BENCCCCIIIII!!!" Teriak Angel dengan kerasnya namun sedetik itu Angel mengeluh dengan memegangi perutnya.


"Aww"


"El?"


Rio mendekati Angel namun Angel malah menghindar. Arfan langsung menghampiri Angel, mengecek kondisinya.


"El, kamu tenang jangan panik. Atur napas mu"


Wajah Angel pucat pasi dan dia merasa perutnya sangat sakit sekali hingga menjalar ke seluruh tubuhnya. Rio ingin sekali melakukan apa yang jadi tanggungjawabnya namun Angel menolak. Angel tidak ingin Rio mendekatinya dan Rio juga tidak ingin membuat Angel lebih marah dan mengganggu janinnya.


"Sakit"


"El? kamu kenapa?"


Rio melihat perut Angel namun saat melihat kaki Angel, Rio terkejut karena di kaki Angel mengalir air ketuban yang bercampur darah.


"El!"


Rio langsung membopong tubuh Angel membawanya ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat.


"Mau dibawa kemana Angel?"


"Rumah sakit, cepat keluarin mobil!" suruh Rio. Arfan pun berlari mendahului Rio untuk mengeluarkan mobil dari garasi.


"Sayang bertahan lah!"


"Sakit Ri"


"Aku tahu, aku mohon bertahan lah demi anak kita"


"Kamu percaya kan kalau ini anakmu?"


"Iya"


Rio tersenyum kearah Angel, senyum yang selama ini Angel rindukan.


"Makasih"


Arfan membukakan pintu penumpang lalu ia masuk kedalam mobil. Arfan sangat mencemaskan Angel terlebih kondisi Angel masih sangatlah lemah.


"KAK CEPAT!"


Rio mempercepat langkahnya, sesekali ia melihat kearah Angel yang terlihat menahan sakit.


..


Mobil Arfan melaju dengan kecepatan penuh bahkan sesekali dia menerobos lampu merah. Dipikiran Arfan maupun Rio hanya keselamatan Angel dan jabang bayinya.


"Arfan, lebih cepat lagi!"


"Iya kak"


Arfan melihat dari sepion depan kondisi Angel yang semakin melemah.


"Sayang, kamu harus kuat!"


Rio mendekap Angel, memberikan Angel kekuatan untuk bertahan. Rio tidak ingin terjadi apa-apa kepada Angel atau pun bayinya. Angel terus menangis dengan menahan sakit, Angel tidak ingin kehilangan darah dagingnya lagi.


"Aku ngga mau keguguran lagi"


"Ngga, kita tidak akan kehilangan lagi. Sebentar lagi kita sampai kok" ucap Rio dengan nada halus lalu mengecup puncak kepala Angel. Arfan mendengar ucapan mereka, Arfan terkejut mendengar Angel pernah keguguran dan itu menjawab semua pertanyaannya saat Dokter memintanya untuk terus menjaga kondisi Angel.


"El, kamu kuat. Tinggal satu lampu merah lagi dan kita sampai"


Arfan semakin merasa cemas saat melihat wajah Angel yang pucat serta keringat dingin yang membasahi wajahnya.


R.S kasih bunda.


Setelah sampai di rumah sakit Angel langsung mendapat tindakan. Kondisi Angel yang sudah lemah membuat Dokter memutuskan untum melakukan operasi Cesar untuk menyelamatkan ibu dan calon anaknya.


Diluar ruang operasi Arfan dan Rio terlihat sangat cemas. Arfan menatap tajam Rio yang duduk di bangku dengan kepala menunduk.


Wajah Rio terlihat datar-datar saja walau hatinya kini menangis sembari berdoa ke pada Tuhan untuk menyelamatkan istri dan anaknya.


"Ck" Arfan berdecak kasar lalu menghampiri Rio. Arfan ingin sekali memb*nuh Rio sekarang juga, karenanya Angel harus dioperasi dan janin Angel terpaksa harus dilahirkan padahal ini masih jauh dari tanggal kelahirannya. Arfan takut bayi Angel kenapa-napa.


"Kamu sudah puas sekarang? sudah berapa lama kamu menikah dengan Angel?"


Rio hanya diam dan diam. Tatapannya kosong seakan nyawa Rio tengah pergi sementara dari raganya. Arfan berdecak kesal lalu mencengkram kerah Rio.


"JAWAB!" bentak Arfan namun Rio tidak bergeming sama sekali. Arfan merasa dirinya tengah berbicara dengan patung manusia.


"Haahh!" Arfan melepas cengkramannya lalu mengacak-acak rambutnya sendiri. Arfan sangat frustasi dengan keadaan ini. Air mata Arfan mengalir begitu saja, dirinya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Angel dengan baik.


Rio menggigit bibir bawahnya, bayangan saat mengubur janin perempuannya masih jelas dimatanya dan dia tidak ingin itu terjadi lagi. Rio ingin bermain dengan anaknya.


"Kamu benar-benar keterlaluan!... Haaahhh!!"


Brak... brak..brak...


Arfan meninju tembok tiga kali, ia sangat marah kepada dirinya sendiri dan juga Rio. Perempuan yang ia cintai ternyata itu istri kakaknya sendiri dan betapa ia merasa malu kakaknya berbuat seburuk itu bahkan orang tua Angel tidak tahu akan pernikahan putrinya. Arfan tidak bisa membayangkan jadi Angel yang harus tinggal jauh dari orang tuanya serta menanggung beban yang sangat berat seperti ini.


...


Di ruang operasi. Di meja operasi Angel tengah bertaruh nyawa untuk bayinya, kondisi Angel semakin melemah bahkan detak jantungnya mulai melambat. Tiga dokter terus bertarung dengan waktu untuk menyelamatkan keduanya.


1jam berlalu akhirnya bayi mungil ini lahir ke dunia akan tetapi bayi ini tidak menangis.


"Dok?"


Dokter merangsang bayi mungil ini untuk menangis dia menepuk-nepuk pahanya agar menangis. Setelah beberapa detik bayi mungil ini langsung menangis dengan kencangnya dan semua yang ada di ruangan ini merasa lega dan bersyukur Tuhan telah menyelamatkannya.


"Sus, tolong dimandikan"


"Baik dok"


Setah bayi itu dibawa suster, alat pendeteksi detak jantung di samping meja operasi berbunyi sangat nyaring. Semua dokter langsung bergerak cepat untuk menyelamatkan nyawa Angel.


..


Di depan ruang operasi.


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Angel, aku tidak akan pernah memaafkan mu!" ucap Arfan dengan penuh kebencian.


Rio masih saja diam, dirinya juga tidak ingin ini terjadi. Rio sangat mencemaskan Angel dibandingkan dengan anaknya. Kalau sesuatu terjadi pada Angel, Rio tidak tahu harus mengatakan apa kepada orang tua Angel. Kepercayaan yang diberikan oleh mereka akan hancur dan mereka pasti akan murka bahkan mereka akan menuntutnya ke meja hijau serta orang tuanya sendiri pasti tidak akan memaafkannya.


Pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dari dalam ruangan. Baik Rio maupun Arfan langsung menghampiri dokter itu.


"Dok, istri saya?" tanya Rio dengan penuh cemas.


"Bayinya lahir dengan selamat tapi" Dokter itu menggantungkan ucapannya membuat Rio dan Arfan cemas.


"Tapi apa dok!"


"Dok, istri saya?"


"Kondisinya mulai menurun dan hanya Tuhan yang mampu menolongnya"


Arfan merasa tubuhnya mendadak jadi sangat lemah, Arfan tidak ingin Angel pergi sebelum dia tahu isi hatinya.


"Saya mau bertemu istri saya"


"Silakan"


..


Rio memasuki ruang operasi dengan baju seteril. Dari kejauhan dia dapat melihat Angel yang terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan di hidungnya juga alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi seirama detak jantung Angel.


"Sayang" air mata Rio jatuh begitu saja. Rio langsung memeluk tubuh Angel.


"Kamu ngga boleh nyerah, aku mohon demi anak kita. Dia butuh kamu" ucap Rio sembari terisak. Rio menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi kepada Angel dan juga bayinya. Andai tadi dirinya bisa menahan emosi pasti Angel tidak ada disini. Angel masih bisa tersenyum dengan cerianya dan anaknya masih dalam lindungan rahim yang nyaman.


Arfan memasuki ruangan. Kedua tangannya mengepal sangat erat. Harus ia akui semua ini sangat menyiksa. Arfan sangat membenci orang yang tengah memeluk Angel, karena dia Angel jadi seperti ini.


...


Parkiran rumah sakit


Brakk


Ini kesekian kalinya Arfan memukul Rio. Rio tidak melawan atau pun apa, dirinya memang pantas mendapat ini semua.


"PUAS KAMU SEKARANG, HAH!!"


Arfan terlihat sangat emosi, ini kali pertamanya Arfan marah kepada Rio dengan amarah sebesar ini.


"Aku heran sama kamu kak, dulu mama sekarang Angel dan SEMUA ITU KARENA SENA!!!"


"Tutup mulut mu itu, ngga ada gunanya ngomong seperti itu sekarang" ucap Rio langsung menghapus darah di bibirnya dengan kasar.


"Ck! Harusnya kamu itu sadar diri! kamu itu bukan manusia, kamu lebih buruk dari pembunuh!"


Rio terkekeh pelan seolah meremehkan semuanya. Arfan mencengkram kerah Rio, menariknya agar dia berdiri. Rio tersenyum remeh melihat Arfan yang murka kepadanya.


"Kamu dengar ini baik-baik, Kalau Angel sampai kehilangan nyawanya karena kebodohanmu aku akan membuatmu menderita seumur hidupmu"


"Ck, anak pungut mau membuat seorang Mario menderita, itu tidak mungkin"


"KAKAK!"


BRAKK


"KAMU ITU TIDAK WARAS! AKU MALU PUNYA KAKAK SEPERTI MU!!" Arfan langsung berlalu pergi, ia ingin menemani Angel dan juga melihat bayi Angel yang harus dirawat di ruang yang bernama NICU (Neonatal Intensive Care Unit) ruangan khusus untuk merawat bayi berkebutuhan khusus dari baru lahir hingga usia 3o hai. Bayi mungil Angel mengalami gangguan pernapasan setelah 10 menit dilahirkan dan juga kerena berat badannya belum ideal.


"ANGEELLL!!!" teriak Rio dengan frustasinya. Walau dia bersikap seperti itu tadi sebenarnya ia teramat sangat terluka. Hari yang telah ia lalui bersama Angel penuh akan kenangan. Rio tidak ingin Arfan melihat s berapa rapuhnya dia saat ini.


"Aku mohon bertahanlah, kembalilah kepadaku! El, anak kita butuh kamu!"


..


Arfan hanya bisa melihat dari balik dinding kaca. Melihat bayi Angel yang tengah tertidur dengan alat bantu pernapasan di inkubator, harusnya dia masih dalam kandungan.


"Sayang ini, om Arfan. Maaf yah kamu jadi jauh sama ibumu, kamu harus kuat seperti ibumu"


Arfan mencoba tersenyum walau sangat sulit ia rasa. Rasa sakit ini sangat menusuk dadanya, ia bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini terlebih Rio seperti orang yang tidak waras sekarang.


"Sebaiknya aku temani El"


Arfan langsung berlalu pergi, ia takut saat Angel terbangun dirinya tidak ada disampingnya dan membuat Angel ketakutan sekaligus panik perutnya sudah rata.


Setelah Arfan pergi, Rio datang dengan wajah yang sangat menyedihkan. Rio ingin sekali menimang putranya dan mengecupnya.


"Maafin Papa, karena papa kamu jadi seperti ini" Air mata Rio kembali menetes. Rio ingin bayinya cepat sehat dan keluar dari NICU.


"Sayang kamu harus cepat sehat, kita main sama mama. Kita main sama-sama yah?"


Rio menyentuh dinding kaca, pandangannya terus tertuju pada inkubator paling tengah diantara inkubator-inkubator lainnya. Bayi-bayi di ruangan ini tengah berjuang mempertahankan hidupnya agar dapat kembali ke pelukan wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.


"Papa sayang sama kamu,, kamu harus kuat yah!"


****