Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 24 Kamu?



"Kalau begitu terima cincin ini"


Rio mengeluarkan cincin dari saku jasnya. Itu bukan cincin yang direbut oleh Sena. Rio sengaja membelikan yang baru untuk Angel. Angel melihat cincin yang Rio sodorkan kearahnya. Cincin yang sangat bagus dengan berlian merah muda yang sangat mencolok.


"Ayo ambil! atau kamu mau aku yang sematkan dijarimu?" tawar Rio. Angel menatap datar Rio.


"Menerima cincin itu? aku tidak sebodoh itu! menerima cincin itu berarti aku menjadi istrimu lagi. Aku tidak mau jadi pelampiasan amarah mu lagi! aku juga punya perasaan! aku bukan boneka yang seenaknya kamu mainkan!"


"Menjadi istriku lagi? kamu itu masih istriku, aku belum menceraikanmu"


"Kalau begitu ceraikan aku sekarang!" pinta Angel tanpa ragu sedikitpun. Angel ingin terlepas dari ini semua lalu menjalani hidupnya dengan tenang dan bahagia bersama kedua orang tuanya.


"Tidak! sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu!" jawab Rio dengan tegas. Angel merasa orang didepannya ini hatinya jadi batu dan tidak tahu diri. Selama ini Rio mempermainkan perasaannya tanpa memikirkan apa hatinya terluka atau tidak. Rio selalu memberikan harapan palsu yang membuat Angel kecewa dan segampang membalikan telapak tangan Rio selalu berucap maaf. Memang mengucapkan kata maaf itu lebih mudah tapi memaafkan itu sulit. Hati yang terlanjur hancur tidak bisa sembuh dengan cepat bahkan setiap retakannya butuh lebih dari sekedar ucapan maaf.


"Kamu ngga pernah mikirin perasaanku? sedikit saja! kalau kamu jadi aku pasti kamu merasakan apa yang aku rasa sekarang!"


"Memangnya apa yang kamu rasa?


Angel benar-benar muak melihat wajah Rio. Apa sebegitu bodohnya Rio hingga menanyakan luka yang dirasa Angel terlebih luka-luka yang tak berdarah itu dirinya lah yang menggoreskan ke hati Angel.


"Kamu benar-benar keterlaluan! aku tidak percaya aku menikah dengan orang yang tidak punya perasaan"


Angel sudah tidak bisa lagi meneruskan pembicaraan ini. Luka hatinya kembali perih karena ketidak pekaan Rio. Semua masa-masa yang telah berlalu memanglah indah tapi pahit dikenang, semua itu harus secepatnya dihapus dari momory sebelum menjadi kesulitan dihidup Angel.


Angel langsung melangkah pergi tapi Rio mencegahnya. Rio mencengkram pergelangan tangan kanan Angel.


"Ck! lepas!" brontak Angel namun sekuat apapun melawan Angel tidak bisa melepas cengkraman tangan Rio dari pergelangan tangannya malah Angel merasa cengkraman Rio semakin kuat dan menyalitinya.


"Mau kamu apasih? aku mohon lepasin aku, aku ingin melanjutkan hidupku!" mohon Angel yang ingin sekali terlepas dari Rio.


"Sudah aku bilang, aku tidak akan melepaskanmu walau aku harus memaksamu" ucap Rio dengan dinginya. Angel tidak tahu racun apa yang diminum Rio hingga dirinya berubah dingin dan tidak punya hati. Apa harta yang membuat Rio jadi buta akan hati nurani atau memang ini sifat Rio yang sebenarnya. Yang Angel tahu Rio penuh kehangatan dan kasih sayang tidak seperti ini selalu melukai hatinya.


"Ikut aku!"


Rio langsung menarik Angel. Memaksa Angel mengikuti langkahnya.


"Ngga! aku nggak mau!"


Angel berusaha melepaskan diri dari Rio namun Rio tidak bergeming sedikitpun saat Angel mencakar tangan Rio.


"Aku sudah bilang! aku tidak mu, berhenti memaksaku!"


Rio terus menarik pergelangan tangan Angel dengan kasar. Bahkan Rio tidak perduli kalau pergelangan tangan Angel sudah sangat memerah serta wajah kesakitan Angel.


Angel menatap Rio dengan penuh rasa kekecewaan yang mendalam. Rio sangat kasar dan penuh akan pemaksaan. Hati Angel berkata kalau orang yang menarik tangannya ini bukan Rio. Orang ini hanya memiliki rupa yang sama seperti Rio tapi sebanyak apapun mengingkari kenyataan, Kenyataan itu akan terus menunjukan kebenaran.


"Berhenti, aku tidak mau ikut denganmu!" tolak Angel langsung melepas cengkraman Rio dengan sekali hentakan.


"Ck!"


Rio menatap Angel dengan penuh amarah dan kekesalan. Rio menarik lagi tangan Angel dengan cepat tapi Angel langsung menolak. Angel menarik tangannya dengan kuat hingga dirinya terjatuh terduduk kebelakang.


"Aww" Rintih Angel yang merasakan perih ditelapak tangannya. Rio berdecak kesal. Rio hanya ingin Angel ikut dengannya itu saja tidak lebih.


"Siapa suruh kamu ngelawan! Ayo!"


Rio kembali meraih pergelangan tangan Angel. Menarik Angel untuk berdiri namun Angel tidak mau menurut.


"Ck! ayo!"


Rio terus memaksa. Angel menggelengkan dengan kuat namun Rio terus menarik tangan Rio.


"AKU NGGA MAU!" teriak Angel dengan kearasnya. Sedetik itu pun ada orang yang menepis kasar tangan Rio yang mencengkram pergelangan Angel. Orang itu juga mendorong tubuh Rio agar menjauh dari Angel.


"Jangan kasar sama perempuan!" ucapnya dengan penuh kekesalan. Rio terliat marah namun berbeda dengan Angel yang melihatkan tatapan tidak percaya melihat pemuda yang membelanya.


"Jangan ikut campur urusan ku! menyingkirlah!" ucap Rio dengan penuh penekanan. Pemuda itu berdecak kasar sembari menatap Rio penuh amarah.


"Aku tidak akan menyingkir, dasar aneh! aku tidak akan rela temanku disakiti seperti ini, jadi PERGILAH!" usirnya dengan garangnya. Rio menatap Angel yang masih terduduk. Rio berdecak kesal saat Angel memalingkan tatapannya kesamping. Rio berdecak lalu berlalu pergi meninggalkan Angel dan pemuda itu dengan terpaksa.


"Kamu ngga apa-apakan?"


Pemuda itu langsung berjongkok dihadapan Angel. Angel terdiam sembari menatap wajah pemuda yang menolongnya. Pemuda itu tersenyum sangat manis kearah Angel.


"Kenapa? kamu lupa sama aku?" tanya pemuda itu dengan penuh nada kekecewaan.


"Kamu? kamu Rey?" ucap Angel dengan nada tidak percaya. Pemuda itu mengangguk sembari melihatkan senyumannya.


"Iya ini aku, Reyhan"


"Ta..tapi kamu kan?"


Angel tidak percaya Reyhan salah satu teman dekatnya ada dihadapannya sekarang. Setahu Angel, orang didepannya ini telah pindah ke Bali dan bersekolah disana sejak kelas dua SMA. Angel tidak pernah bermimpi sedikitpun bertemu dengannya lagi bahkan Angel tidak pernah bertukar kabar dengannya setelah ponselnya hilang entah kemana.


"Lagi libur aku main deh kesinih, tangan kamu?"


Rey meraih kedua tangan Angel. Rey berdecak kesal saat melihat kedua telapak tangan Angel lecet karena Rio tadi.


"Tuh orang sipa sih? keterlaluan banget sumpah!"


"Ngga usah diurusin, bukan siapa-siapa kok" ucap Angel dengan nada yang menyakinkan serta sebiasa mungkin Angel mengucapkannya. Angel takut Rey akan mengetahui semuanya.


"Oh, aku obatin lukanya yah? aku bantu kamu berdiri"


...


Angel tengah duduk dibangku taman menunggu Rey. Tak lama Rey kembali membawa kotak P3K yang selalu dibawanya dimobil.


"Lama yah?" tanya Rey langsung duduk disebelah Angel.


Angel hanya menggeleng pelan. Rasa saikt yang ia rasa ini tidaklah sesakit hatinya yang terluka.


"Jangan sok kuat! aku tahu kamu pasti ingin menangiskan?" ejek Rey yang tengah membersihkan luka Angel dengan kapas. Angel yang tidak terima dikatain seperti itu hanya bisa menggembungkan pipinya.


Rey melihat sekilas wajah Angel lalu kembali meneruskan mengobati luka Angel.


"Aww.. pelan-pelan kek sakit tahu!" semprot Angel yang merasakan perih. Rey hanya mengangguk. Rey sendiri tengah mengoleskan obat luka kesenua bagian yang lecet. Rey lalu meniup luka Angel agar obat lukanya cepat mengering.


"Sudah" Rey langsung mendongak menatap wajah Angel.


"Makasih, kenapa?"


Angel merasa tidak nyaman ditatap Rey seperti ini entah kenapa membuat perasaan Angel tidak karuan.


"Umm.. pipi kamu tambah tembem aja!"


Tanpa permisi Rey langsung mencubit kedua pipi Angel dengan gemasnya membuat Angel mengerutkan dagunya.


"Serem tahu mukamu itu!"


Rey langsung melepas cubitanya, takut kena amuk Angel yang mukanya sudah menyeramkan.


"Jangan mengejekku!"


"Iya..iya.. eh by the way kenapa kamu susah banget dihubungin sih? kamu ganti nomer?" tanya Rey yang selama ini penasaran sekaligus kesal kepada Angel.


Saat Angel ingin menjawab suara dari perut Rey membuat Angel mengerutkan dahinya.


"Laper lagi" keluh Rey lalu menoleh kearah Angel dengan melihatkan senyumannya.


"Dasar kamu kebiasaan! ayo ikut aku"


Ajak Angel yang membuat Rey merasa senang.


...


Warung makan.


Rey mengerutkan dagunya saat merasa dirinya diacuhkan. Rey duduk dipojokan warung sembari mengawasi Angel yang tengah membantu Jihan.


"Apa aku bisa mengungkapkannya?" tanya Rey pada dirinya sendiri. Rey nenghela napas lalu bangkit dari duduknya. Rey membantu mengangkat piring kotor diatas meja.


"Loh Rey, kamu duduk saja" ucap Jihan yang melihat Rey membantunya. Jihan tidak enak sendiri terlebih Rey sudah dianggap anaknya sendiri dan pastinya Rey capek dalam perjalanan dari Bali ke Jakarta.


"Ya elah Tan, cuma gini sih kecil" ucap Rey asal tanpa melihat Jihan.


"Kamu ini tante jadi ngga enak loh"


"Kan sudah dikasih makan tadi, anggap aja dibayar pake tenaga"


"Ngga usah caper deh!" ucap Angel menyela. Angel selalu merasa cemburu saat Ibunya lebih memperhatian Rey ketimbang dirinya.


Angel dan Rey sudah berteman dari bangku SMP dan kedua orang tua mereka juga berteman jadi keduanya seperti kakak beradik yang kadang akur kadang ribut. Ya kalau dikartun mirip tom and jery.


"Rey, sepertinya ada yang kesal" ucap Jihan sembari melirik ke Angel.


"Iya tuh, dari tadi cemberut terus udah kek badut mampang dilampu merah!" ejek Rey lalu menjulurkan lidahnya kearah Angel membuat Angel kesal.


"REYHAN!" teriak Angel dengan kerasnya meluapkan emosinya dan untung saja pelanggan sudah pergi semua. Wajah Angel semakin tertekuk saat dirinya ditertawakan oleh Jihan dan Rey.


.


Dibawah pohon sebuah mobil hitam terparkir dibahu jalan. Pemilik mobil itu mengawasi keadaan disarung bu Jihan dengan tatapan penuh amarah.


"Aku akan membawamu pulang bagaimana pun caranya"


Pemilik mobil hitam ini adalah Rio yang masih mengawasi Angel. Rio melihat Angel dengan pemuda yang tadi mendorongnya. Entah kenapa Rio ingin menarik tangan Angel menjauh dari pemuda itu.


"Ck! siapa orang itu? kenapa dia akrab sama El? ngga.. ngga boleh. El masih istriku dan dia miliku, aku tidak pernah melepasnya. Tidak akan pernah"


Rio langsung menjalankan mobilnya menuju kelantor.


...


"Bu, warungnya udah tutup?" tanya Angek yang melihat ibunya memasukan makanan yang tinggal sediki kedalam plastik bening. Ini masih jam dua siang akan tetapai Jihan ingin menutup warungnya.


"Ibu sudah capek, lagian kita ada tamu kan?"


"Tamu tidak diundang" ucap Angel sembari melihat kearah Rey. Rey hanya melihatkan deretan giginya.


"Apa lihat-lihat? ngga pernah lihat orang ganteng apa?" ucap Rey dengan nada yang tak enak didengar.


"Ck, ganteng dari mana coba?" ucap Angel yang tidak mau kalah.


"Dari atas monas pake sedotan! Tan aku anterin yah" tawar Rey dengan baiknya atau mungkin ada udang dibalik batu?.


"Ogah banget" ucap Angel sembari memalingkan pandangannya.


"Dih, siapa juga yang mau nganterin kamu? PD gila. Tan Ayo, tinggal aja siucrit disini"


"Iya Rey"


"Loh, bu. Kok El ditinggal sih" ucap Angel yang tidak terima ibunya pergi bersama Rey. Meninggalkannya disini, Angel merasa kalau dirinya tak dianggap anak lagi atau mungkin ini yang dinamakan anak kandung serasa anak tiri?.


"El nanti kunci pintunya!" ucap Jihan sebelum melangkah keluar.


"Iihhh... nyebelin...nyebelin!!!" ucap Angel sembari menghentak-hentakan kakinya.


...


Angel sendirian berjalan menyusuri trotoar dan entah kemana semua orang. Biasanya terotoar ramai dengan pejalan kaki tapi ini malah sepi seperti ini.


Angel berjalan sembari menundukan kepalanya. Angel merasa semua semakin sulit terlebih dengan kedatangan Rey. Pasti Rio tengah berpikir yang bukan-bukan.


Angel pov


Apa yang harus aku lakukan? aku takut Rio mengatakan semuanya kepada ibu dan Rey. Rio yang aku kenal kini berubah jadi dingin dan tidak punya perasaan. Kenapa hatiku sakit saat Rio kasar mungkin aku kecewa karena Rio pernah berjanji akan menjagaku tapi kenyataannya dia malah melukaiku.


Rasa sesak didada kembali kurasa membuatku sulit bernapas. Kuhentikan langkahku lalu kutatap keatas melihat langit yang mendung. Melihat langit itu aku teringat saat Rio mengusirku ditengah malam.


"Ikut aku!"


"Eh?"


Aku terkejut saat seseorang menarik tanganku sontak aku mengikuti langkah kakinya masuk kearea taman.


"Lepas!" pintaku saat aku tahu orang yang menariku itu adalah Rio.


Seperti biasa Rio tidak menuruti permintaanku. Rio mengajakku keair mancur.


"Kamu apa-apaan sih!" ucapku langsung setelah Rio melepas ngenggaman ditanganku.


Aku beranikan diri menatap langsung kemata Rio.


"Kamu yang apa-apaan, kenapa kamu selingkuh! kamu masih istri ku"


Dia bilang istri. Suami mana yang hanya menyakiti istrinya?. Aku muak sekali dengan orang keras kepala dihadapanku ini.


"Istri? kamu cuma anggapku mainan kamu saja tidak lebih!"


"Ck! jangan berpaling dariku!"


"Kamu yang membuatku berpaling darimu, aku mohon lepaskan aku!"


"Tidak! aku tidak akan melepasmu walau kamu berlutut dihadapanku"


Aku menatap kesal Rio. Kalau dia tidak kasar aku pasti mau kembali kerumah itu. Dulu aku mencintainya tapi sekarang aku membencinya. Dia selalu memainkan perasaanku tanpa memperdulikan aku terluka atau tidak. Aku tahu Rio hanya menginginkan anak dariku hanya itu tidak lebih.


pov end


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah, dulu kamu selalu membuatku nyaman tapi sekarang berdekatan denganmu saja membuatku sulit bernapas" ucap Angel dengan nada lembutnya serta senyuman yang sangat manis diakhir kata membuat Rio terdiam.


"Kalau memang kamu menginginkanku kembali, aku mau Sena yang membawaku pulang" sambung Angel lagi lalu berbalik melangkah meninggalkan Rio sendiri.


Angel sebenarnya tidak ingin kembali kerumah itu. Angel menggunakan Sena sebagai tamengnya terlebih kejadian kemarin itu jelas sekali Sena menolak kehadirannya.


...


"Kenapa?"


Air mata Angel turun begitu saja bersamana dengan hujan yang semakin deras. Angel tidak perduli dengan hujan ini dan gemuruh dilangit bahkan Angel tidak perduli dengan kilatan petir.


"Aku capek"


Angel tertunduk. Kedua tangannya megepal sedetik itupun Angel tidak merasakan lagi air hujan yang mengguyurnya. Angel mendongak keatas, kedua matanya melihat senyuman yang sangat tulus.


"Kamu kenapa?"


..


Mobil Rey berhenti didepan warung nasi bu Jihan. Rey langsung turun dari mobil menuju pintu tapi pintu sudah dikunci.


"Tuh anak kemana?"


Rey kembali setelah mengantar Jihan dan sekarang ingin mengantar Angel pulang. Sebenarnya ingin mengajak Angel kesuatu tempat tapi sepertinya sekarang dirinya harus mencari Angel terlebih dahulu.


Rey melihat kearah langit yang mendung dan itu membuat Rey merasa khawatir. Rey masih ingat kalau Angel takut dengan suara petir.


"Aku harus cepat cari dia" ucap Rey saat gerimis mulai turun dari langit.


...


Rumah Rio/Sena


Rio memasuki rumah dengan perasaan kesal namun Rio tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang nampak begitu marah.


"Kamu darimana?" tanya Sena yang sangat kesal sebab tadi dirinya kekantor dan kata sekertaris Rio bahwa Rio tidak datang kekantor sejak pagi.


Rio memberhentikan langkahnya lalu menoleh kearah Sena yang berjalan menghampirinya.


"Jawab jujur kamu dari mana?" tanya Sena sekali lagi namun Rio hanya diam membisu. Hati kecil Sena mengatakan kalau suaminya ini bertemu istri simpanannya.


"Jangan bilang kamu habis ketemu Angel"


"Iya aku memang bertemu denganya" ucap Rio datar tanpa memikirkan perasaan Sena.


"Rio kamu ini"


Sena benar-benar tidak percaya Rio melakukan ini kepadanya. Dirinya sadar betul dirinya lah yang menyuruh Rio menikah lagi tapi bukan ini yang ia maksud. Sena hanya ingin Rio mendapatkan seorang anak yang nantinya akan menjadi anaknya dan Rio. Setidaknya anak itu mempunyai darah Rio walaupun tidak memiliki darahnya.


"Aku cuma mengambil ini darinya"


Rio melihatkan cincin yang ditolak Angel. Sena nampak tidak percaya Rio memberikan cincin seindah ini ke Angel.


"Kamu bilang Angel tidak pantas mendapatkan semua ini kan? kalau begitu ini buat kamu" sambung Rio lagi lalu memberikan cincina keSena. Sena nampak senang menerima hadiah mahal ini.


"Aku mau kekamar"


Rio melangkah pergi meninggalkan Sena yang masih menggagumi cincin yang diberikan Rio.


...


Taman


Rey memberhentikan mobilnya didekat taman. Hujan semakin deras bahkan lampu-lampu ditaman menyala.


"Kemana sih tuh anak?"


Rey melihat seseorang yang tengah duduk dibawah guyuran hujan dan Rey tahu siapa orang itu dari baju yang dikenakannya.


"El?"


Rey lalu turun dari mobil sembari membawa payung untuk melindunginya dari derasnya air hujan.


"Ngapain tuh anak hujan-hujanan?" ucap Rey heran melihat Angel yang terdiam seperti itu.


Angel tidak menyadari kalau Rey melangkah kearahnya. Rey mengarahkan payung yang ia pakai ke Angel. Angel langsung mendongak.


"Kamu kenapa?"


Angel tidak menjawab melainkan dirinya langsung bangkit dan memeluk Rey dengan erat. Sontak Rey terkejut sekaligus heran tapi yang jelas Angel tengah menangis.


Rey melepas payung yang ia pegang lalu membalas pelukan Angel. Rey bingung kenapa Angel menangis seperti ini.


"Jangan menangis, aku ada disini"


"Rey"


Angel terisak didada Rey. Air hujan turun membasahi mereka berdua. Pertemuan yang terbilang kurang menyenankan terlebih untuk Rey yang tidak bisa berbohong kalau dirinya sedih melihat Angel seperti ini. Tadi ada orang yang mengkasari Angel dan sekarang dirinya harus melihat Angel menangis padahal Rey ingin sekali melihat senyuman dan tawa Angel.


"Kamu ini masih cengen saja" ejek Rey sembari mengeratkan pelukannya.


Angel merasa lukanya sedikit terobati karena kehadiran Rey, sahabatnya yang terkadan membuatnya kesal tapi tahu apa yang ia butuhkan.


"Sudah jangan menangis lagi, biarkan cuma langit yang menangis"


Rey lalu melepas pelukan Angel. Angel sekarang sudah merasa baikan. Angel menatap Rey yang juga menatapnya. Angel merasa senyuman Rey tak berubah walau sudah lama tidak bertemu. Rey yang berotak jahil selalu mendapatkan ide untuk membuat suasana yang melow ini berubah. Rey menunjukan senyum mistriusnya membuat Angel mengerutkan keningnya.


"Ada yah badut mampang nangis?" ejek Rey lalu berlari melarikan diri sebelum.


"REY AWAS KAMU!" teriak Angel dengan penuh kekesalan lalu berlari mengejar Rey yang kini tengah menjulurkan lidahnya mengejek Angel.


"REYHAN!"


"APA? SINI KEJAR KALAU BISA!! WEEEKK!"


Angel semakin kesal dibuatnya. Keduanya saling berkejaran dibawah hujan yang mulai reda.


Rey menyiramkan air hujan yang terkumpul dipayungnya yang terbalik kearah Angel. Angel yang kesal melepas kedua sepatunya lalu dilemparnya satu persatu kearah Rey namun.


"Ngga kena, wekk!!"


Rey kembali berlari tapi Angel yang sudah capek berlari membiarkan saja Rey berlari sesukanya. Angel memilih duduk dibangku. Rey yang menyadari Angel tidak mengejarnya lalu menoleh. Dirinya mendapati Angel yang kembali galau.


"Dasar unye"


Rey berlari menghampiri Angel setelah Rey mengambil sepatu Angel yang tadi dilempar oleh Angel.


"Ayo pulang, aku gendong" tawar Rey dan membuat Angel terkejut.


"Hah? aku bisa jalan sendiri" tolak Angel langsung tapi sepertinya Rey benar-benar ingin menggendong Angel. Dirinya kini telah berjongkok membelakangi Angel.


"Ayo!"


"Tapi"


"Buruan, aku tinggal. Ini sudah sore loh!"


paksa Rey dan membuat Angel menurut.


"Awas saja nanti kalau bilang aku berat! aku jewer telinga mu itu"


"Iya wel, bawel!"


....


Angel nampak nyaman digendong oleh Rey namun Angel nampak bersedih. Angel jadi teringat akan Rio yang selalu memanjakannya sebelum malam itu terjadi, amarah yang menguasai Rio.


"Kamu tidur?" tanya Rey memastikan sebab Angel tidak berucap sepatah katapun.


"Tidak"


"Kamu masih ingat saat aku menggendongmu ke UKS waktu jam olahraga disekolah dulu?"


"Iya dan mereka kira, kita pacaran"


"Ternyata kamu masih ingat"


"Tentusaja aku ingat karena kamu yang membuatku harus keUKS"


Masih teringat oleh Angel masa SMA yang penuh warna. Tidak ada keluh kesah yang berarti hanya keributan dan kegembiraan terlebih dengan orang-orang yang baik kepadanya walau pun dirinya hanya seorang siswi yang sederhana.


"Waktu itu aku tidak sengaja, masa kamu masih marah sih?"


"Aku ngga bilang kalau aku masih marah"


Rey hanya membulatkan bibirnya dan tak terasa mereka sudah sampai di tempat Rey memarkirkan mobilnya.


.


Didalam mobil.


Rey langsung memakaikan jaket ketubuh Angel yang terlihat kedinginan bahkan bibir Angel membiru.


"Jangan sampai kamu demam El, ntar ngga bisa temani aku main"


"Kalau aku mau tapi"


"Dasar nyebelin"


Rey lalu menjalankan mobilnya menuju rumah Angel. Sedangkan Angel memilih untuk memejamkan matanya.


Rumah Angel


Setibanya dirumah keduanya langsung kena omel Jihan. Ibu mana yang tidak marah kalau anaknya pulang dengan keadaan basah kuyup seperti ini.


"Bu jangan nyerocos terus, kamu ngga lihat apa mereka berdua kedinginan" omel Erik yang tidak tega mekihat kedua "bocah" yang menggigil kedinginan. Jihan menghela napas.


"Kalian cepat ganti!"


"Iya"


Angel berjalan kearah tangga sedangkan Rey berjalan keluar menuju mobilnya menggambil baju bersih.


...


18:30


Keluarga Angel sangat menerima kedatangan Rey. Bahkan ketiganya kini tengah asik mengobrol dengan akrabnya. Rey melihat kearah kamar Angel. Rey mersa khawatir Angel belum juga turun.


Jihan tersenyum, dia tahu Rey pasti cemas terlebih dulu Rey selalu menjaga Angel dan memperlakukan Angel seperti adik kecilnya.


"Nanti juga turun kalau sudah lapar"


Rey lalu menoleh kearah Jihan. Entah kenapa Rey mendadak canggung mungkin karena ketahuan melihat kerah kamar Angel.


"Tan, kok Angel cemberut terus sih?" Rey ingin sekali mengetahui kenapa Angel seperti itu terus bahkan menangis sendirian ditaman.


"Kamu lupa kali ulang tahunya, kemarin dia ulang tahun"


Mendengan perkataan Jihan, Rey langsung menepuk dahinya. Dirinya benar-benar lupa padahal dari rumah Rey sudah membawa kado untuk Angel. Hadiah istimewa yang mungkin mengubah hidupnya dan juga Angel.


"Tan kok, El masih ngambekan gitu sih?"


"Kamu tanya sendiri, oh iya dijuga sudah mandiri. Dia bantu kita buat biyaya Ayah oprasi"


"Apa? om sakit, Tan? duh Rey ngga tahu"


Rey terkejut sekaligus merasa bersalah. Dirinya tidak tahu Erik kemarin sakit dan harus dioprasi.


"Ngga apa-apa, toh itu juga udah lama lagian dia juga sudah sembuh"


"Iya sih, tapi Rey merasa ngga enak"


"Tidak usah dipikirkan"


"Bu, El panggil gih!" suruh Erik yang baru kembali dari kamar. Erik sendiri habis menghitung uang yang harus disetor besok.


"Nanti juga turun, Papa ganggu aja deh!" kesal Jihan. Erik hanya mengerutkan dahinya.


Suara pintu yang dibuka membuat ketiga orang ini melihat kearah pintu kamar Angel. Angel menuruni tangga dengan wajah mudungnya membuat ketiga orang ini bingung dengan apa yang Angel tengah alami.


"Kamu kenapa?" tanya Jihan langsung saat Angel sudah berada didekatnya.


"Laper" kalimat yang terlontar dari mulut Angel membuat ketiga orang ini terkekeh membuat Angel bingung.


"Kenapa?" tanya Angel bingung.


"Kirain kenapa, bikin orang cemas saja!"


ucap Jihan lalu bangkit dari tempat duduknya menuju arah dapur untuk mengambil makanan dan dibantu Erik.


"Sorry"


"Soal apa? apa soal kamu yang mengataiku badut mampang?"


"Bukan itu"


"Terus"


"Selamat ulang tahun cantik, nanti kamu ikut aku"


"Kemana?"


"Adadeh"


"Nyebelin!"


"..."


....****....****