
"Iya sayang"
"Kamu jaga diri dan"
Rio menggantukan ucapanya lalu mengelus perut Angel.
"Anak Papa, kamu jagain mama yah? Papa cuma sebentar kok"
cup
Rio mengecup perut Angel cukup lama. Senyum Angel selalu terukir dibibir mungilnya.
"Aku pergi yah?"
Rio mengecup kening Angel sekilas lalu meraih tas nya. Angel mengantar Rio keteras. Sebenarnya Angel tidak mau ditinggal tapi mau bagaimana lagi, Rio harus bekerja.
Angel melambaikan tangannya kearah mobil Rio.
"Yah Papa pergi, kamu jangan minta yang aneh-aneh yah" ucap Angel sembari mengelus perutnya.
Angel langsung masuk kedalam rumah dan meneruskan tidurnya. Urusan rumah, Rio telah menyewa seorang untuk membersihkan rumah setiap tiga hari sekali. Bukannya Rio perhitungan atau apa hanya saja dirinya tidak mau terjadi sesuatu pada Angel terlebih Rio tidak mudah percaya pada orang asing yang bergaris bawahi hanya orang-orang tertentu.
...
Kantor
11:00
Riko tengah berbincang dengan kedua putra yang sangat ia banggakan.
"Kalin berdua membuat Papa bangga tapi Papa ngga mau kalian sakit jadi mulai sekarang kalian harus banyak istirahat!"
"Tapi Pa, waktu adalah uang" protes Arfan yang ingin sekali sukses seperti Rio dan Riko.
"Uang bisa dicari tapi kalau sakit? percuma punya uang banyak" jawaban dari Riko membuat Arfan mengerutkan dagunya. Rio menepuk-nepuk bahu Arfan seolah-olah menyuruhnya untuk bersabar. Arfan membalas perlakukan Rio dengan tatapan datarnya.
"Kalian mau makan siang bareng Papa atau tidak?"
"Rio ada urusan Pa"tolak Rio langsung.
"Arfan ikut, kakak mah biarin aja. Dia sok sibuk sekarang, engga tahu deh Pa dirumah kak Rio ada apa sekarang"
"Dirumah aku ada istri beda sama kamu yang pulang-pulang ngajak kucing ngobrol!"
Arfan yang tidak terima langsung melempar bantal sofa kearah Rio. Riko yang melihat pertengkaran mereka merasa bahagia walau pun mereka berdua tidak punya ikatan darah tapi mereka seakrab ini.
...
Rio tengah menunggu lampu merah yang terasa sangat lama padahal dirinya ingin cepat pulang.
"Eh? kok"
Rio melihat seorang wanita yang terlihat seperti Angel memasuki warung nasi disisi kanan jalan.
"Apa itu?"
Rio langsung memutar balikan mobilnya menuju parkiran yang dekat dengan warung nasi. Rio langsung menuju warung nasi yang terdapat sepanduk bertuliskan warung nasi bu Jihan.
"Masuk ngga yah?"
Rio bingung antara masuk atau tidak terlebih kalau benar itu ibunya Angel berarti ketemu sama mertua dong. Entah kenapa Rio jadi sangat gugup dan berkeringat.
Rio mengambil napas dalam dan langsung membuka pintu warung.
"Selamat datang" sambut pemilik warung makan dengan ramahnya.
"Eh?"
Rio terpaku saat melihat senyuman itu. Senyuman yang sama, senyuman yang dimiliki Angel.
"Mau pesan apa?"
Rio berusah sebiasa mungkin. Diwarung ternyata sudah ada beberapa pelanggan yang tengah makan.
"Disini yang favorit apa?"
Jihan tersenyum. Dia tahu kalau didepannya ini orang yang baru datang kemari.
"Itu mah tergantung selera, kamu lihat saja"
Rio melihat deretan makanan yang tertata rapi dan saat Rio melihat kearah dalam tepatnya di dekat Jihan berdiri, Rio terkejut melihat foto Angel, Jihan dan Ayah.
"Itu anak ibu?"
"Iya, dia anak satu-satunya ibu. Biasanya sih dia bantuin disini tapi sekarang lagi kerja"
Rio merasa sangat bersalah terlebih wanita didepannya tidak tahu kalau putrinya telah menikah dengannya dan akan melahirkan anak untuknya.
"Jadi mau pesan apa?"
"Emm terserah ibu saja, saya mau coba yang ibu suka"
Entah apa yang Rio pikirkan saat ini yang membuatnya berkata seperti itu. Pastinya pemilik warung ini akan mengatakan semua ini favoritnya.
"Kamu ini, saya pilihkan menu kesukaan anak saya saja yah"
"Iya boleh"
...
Rumah
Rio memasuki rumah dengan senyum yang merekah dibibirnya. Rio merasa lega karena mengetahui kalau Mamanya Angel orang yang ramah dan pantas saja Angel seperti itu.
"Sayang kamu dimana?"
Rio heran kenapa rumah begitu sepi. Rio mencari Angel didapur namun tidak ada.
"Kemana sih tuh anak?"
Rio berjalan kearah kamar memastikan ada Angel atau tidak. Rio langsung mendengus kesal saat melihat Angel yang tertidur lelap dibalik selimut bukan itu saja sepiring nasi goreng yang Rio masak masih utuh.
Rio langsung menarik selimut Angel lalu membopong tubuh mungil Angel keluar kamar. Perlakuan Rio ini membuat Angel membuka matanya.
"RIIIOOOO!!!" teriak Angel dengan kesalnya. Rio tidak perduli dan langsung mendudukaan Angel dikursi meja makan.
"Kamu ini! sudah siang tapi belum makan" omel Rio yang langsung memindahkan lauk yang ia beli tadi dimangkok.
Angel masih ingin tidur dan perutnya tidak merasa lapar tapi saat aroma masakan ini terhirup dihidung Angel.
"Itu apa?"
"Tadi aku beli didekat lampu merah" jawab Rio singkat. Rio sendiri tida mau Angel tahu kalau dirinya bertemu ibunya dan ini beli diwarung ibunya. Rio tidak mau Angel sedih.
"Nih nasinya, habiskan"
Angel langsung bersemangat untuk makan. Angel sendiri tahu kalau ini masakan ibunya. Angel selalu hafal aroma masakan ibunya.
Angel makan dengan sangat lahap. Walau pun tidak bertemu langsung tapi makanan ini mengobati rindunya.
"Makasih"
"Iya, kalau kamu suka aku beli lagi"
Perkataan Rio membuat Angel senang. Pastilah Angel akan meminta lagi ini masakan ibunya, ibu yang melahirkannya.
***
Waktu terus berlalu semua terasa sangat cepat. Rio merasa baru kemarin Angel memberi kejutan kehamilannya dan sekarang perbedaan yang sangat besar dirasa Rio terlebih fisik Angel yang perlahan berubah, sekarang kandungan Angel sudah terlihat jelas. Perut yang membuncit dan tubuh Angel yang berisi serta pipi yang tembem.
"Eh?"
Angel terkejut saat Rio memeluknya dari belakang. Rio selalu gemas dengan Angel terlebih pada perut buncitnya ya walau baru empat bulan.
"Mau masak apa sih, bumil? aku saja yang masak, kamu duduk saja"
cup
Kecupan hangat mendarat mulus dipipi Angel. Angel menoleh kearah Rio dengan tatapan kesal, setiap hari Rio selalu seperti ini terlalu ketat menjaganya.
Rio melarang Angel melakukan pekerjaan rumah dan selalu mengawasi semua yang Angel lakukan. Rio tidak perduli kalau Angel akan marah atau apapun itu yang terpenting baginya adalah kesehatan istrinya dan calon anaknya.
"Bikinin sup, aku mau"
"Gampang"
"Awas kalau ngga enak!"
"Pasti enak"
Angel memilih menurut, dirinya duduk sembari mengawasi Rio.
Angel tersenyum saat anak diperutnya ini terasa bergerak ya walau masih samar-samar dan Rio belum mengetahuinya sebab kalau Rio tahu pasti setiap detik Rio akan mengelus perutnya dan itu membuat tidak nyaman untuk dirinya.
"Bisa ngga?"
"Bisa. Kalau ngga enak, kita cari di resto" jawab Rio dengan santainya tanpa melihat kearah Angel.
"Dasar kamu ini!"
Angel hanya bisa menggelengkan kepalanya. Walau bibir Angel tersenyum tapi hati Angel menangis saat mengingat lagi perjanjian itu dan kehamilannya ini sudah empat bulan yang berarti tinggal lima bulan lagi sebelum semua ini berakhir.
"Kamu ngelamunin apa?"
Pertanyaan Rio yang tiba-tiba membuat Angel tersadarkan dari lamunannya.
"Eh? engga kok"
"Dari pada ngelamun mending bantuin aku"
"Tadi katanya bisa, dasar kamu ini"
Rio hanya melempar seyum sedangkan Angel mengerutkan dagunya.
...
08:00 pagi
Angel tengah membenarkan kerah Rio. Rio sekarang sudah siap pergi kekantor, menjalankan rutinitas seperti bisa.
"Kak nanti pulangnya bawain mie ayam yah?"
"Iya, sebelum makan siang aku sudah pulang kok"
"Yeyy makasih"
12:00 siang
Angel duduk dikursi teras menunggu Rio pulang. Mungkin suda dua jam lebih dirinya duduk disini.
"Katanya sebelum makan siang sudah pulang tapi sekarang? apa dia sibuk?"
Angel menghela napas beratnya lalu kembali kedalam rumah. Angel ingin tidur sembari menunggu Rio pulang.
..
20:00
Angel tersenyum senang melihat Rio pulang tapi hanya membawa tas kerjanya.
"Kak" Angel langsung menghampiri Rio berharap Rio tidak lupa.
"Aku capek, mau tidur"
Rio langsung menuju kamar sepertinya dia lupa janjinya untuk membelikan mie ayam yang Angel mau.
"Papa lupa sayang, kita makan telur ceplok aja yah"
Angel berjalan menuju dapur. Seharian ini Angel belum mengisi perutnya sebab dia ingin sekali makan mie ayam tapi Rio malah lupa membelinya.
Setelah makan, Angel langsung menuju kekamar. Pintu yang tidak sempurna menutup melihatkan Rio yang tengah tertidur diatas kasur.
Angel menghela napas lalu menghampiri Rio. Dilepasnya sepatu yang masih dikenakan Rio.
"Kamu pasti sangat lelah"
Angel mengecup kening Rio sekilas. Angel meraih tangan Rio lalu menempelkan telapak tangan Rio keperutnya.
"Ini Papa, sayang. Dari tadi kamu nyariin kan? Papa kecapekan tuh. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu omelin yah"
...
22:30
"Kak, nanti beliin mie ayam yah kalau pulang"
Rio langsung terbangun dari tidurnya. Rio memimpikan/teringat saat tadi pagi Angel meminta mie Ayam.
"Kenapa aku lupa sih!"
Rio menoleh kearah Angel yang terlelap. Tatapan mata Rio penuh permintaan maaf. Rio langsung turun dari tempat tidur lalu meraih dompet dan juga kunci mobil.
Rio yang ingin menaiki mobilnya mengurungkan niatnya.
"Pake motor keknya lebih cepet"
Rio memutuskan untuk meminjam motor saptam untuk membeli mie ayam yang Angel mau. Rio sangat merasa bersalah terlebih Angel tadi pagi ia telah mengiyakan permintaan Angel bahkan dirinya berjanji sebelum makan siang dirinya sudah pulang membawa yang Angel mau.
"Ck! aku harus cari dimana?"
Rio tak tanggung-tanggung memores gas motornya untung saja jalanan sudah sepi jadi tidak ada yang menghalangi laju motornya.
15 menit berlalu akhirnya Rio menemukan apa yang ia cari. Rio langsung memesan tapi antrean cukup panjang. Sebenarnya Rio heran dijam segini pembeli mie ayam masih banyak.
Rio mendengus kesal ini sudah sangat lama dirasa tapi pesanannya tak kunjung datang padahal dirinya sudah membayar.
"Lama banget sih!" keluh Rio tidak sabaran. Berselang lima menit akhirnya pesanannya datang. Setelah berucap terima kasih, Rio langsung bergegas pulang.
"Yah?"
Ditengah perjalanan tiba-tiba turun hujan lebat yang disertai petir. Pikiran Rio langsung tertuju pada Angel yang sendirian dirumah terlebih Angel takut dengan petir.
23:45 Rumah
Suara petir membuat Angel terbangun dari tidurnya. Angel terlihat ketakutan dan ditambah lagi Rio tidak berada di sampingnya.
"Kak Rio!" panggil Angel namun tidak ada respon.
Angel langsung turun dari tempat tidur untuk mencari Rio. Angel mencari Rio dikamar mandi tapi tidak ada lalu Angel keluar kamar mencari Rio didapur tapi hasilnya tetap sama.
Angel mendengar suara pintu didepan. Angel langsung menuju sumber suara dan alangkah terkejutnya Angel saat melihat Rio yang basah kuyup.
"Sayang kamu dari mana kok basah gini?" tanya Angel dengan nada paniknya.
"Buat kamu"
Rio menyodorkan kantong kresek dengan senyuman dibibir ya tapi tubuh Rio terlihat kedinginan bahkan bibir Rio membiru.
"Ini apa?" ucap Angel sembari menerima pemberian Rio.
"Mie ayam, maaf aku lupa"
"Hah? sayang kalau kamu lupa ya ngga apa-apa, duh aku jadi ngga enak. Maaf"
"Ngga apa-apa dari pada nanti anakku ileran. Buru dimakan mumpung masih panas!"
"Iya sayang tapi bisa besokkan dan sekarang kamu ganti baju" suruh Angel dengan tatapan dan senyuman yang selalu membuat Rio merasa hangat.
"Siap bumilku"
Rio masuk kedalam kamar. Melihat Rio yang seperti itu membuat Angel tidak enak hati terlebih dirinya selalu meminta yang mungkin itu merepotkan Rio.
"Sayang mulai sekarang kita ngga boleh minta lagi sama Papa yah? kita makan yang ada saja, kasihan Papa" ucap Angel sembari mengelus perut buncitnya.
Setelah menghabiskan mie ayam yang dibeli Rio, Angel langsung bergegas menuju kamar. Angel mengkhawatirkan keadaan Rio sekarang
"Aku kerokin yah, biar ngga masuk angin?"
"Hah? dikerok? aku belum pernah"
"Ya udah sekarang aku kerokin, dari pada kamu sakit! duduk, buka bajunya"
"Ngga, nanti kamu minta lagi!"
"Minta apa?"tanya Angel yang tidak maksud dengan perkataan Rio.
Rio menatap jahil keperut Angel dan senyuman itu?.
"RIOOO!"Teriak Angel kesal. Rio hanya melihatkan deretan giginya.
"Dasar kamu ini! ini aja belum lahir, masa mau nambah lagi!" degus Angel.
...
"Aww.. pelan kek, sakit tahu!" kesal Rio pada Angel yang tengah "melukis" dipunggungnya dengan koin.
"Diem! kamu masuk angin nih! merah gini"
Angel fokus mengerok punggung Rio. Warna merah yang ditimbulkan berarti Rio masuk angin dan Angel jadi cemas.
Angel tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saat Rio bersendawa tapi setelah itu.
"Iiihh kak Rio!"
Angel langsung memukul punggung Rio dengan tangan satunya digunakan membekap hidungnya.
"Apa?" tanya Rio dengan polosnya.
"Bauuu! ih kamu mah!"
Angel sangat kesal saat Rio buang gas dihadapannya dan tanpa permisi terlebih dahulu.
"Katanya tadi aku masuk angin dan tuh anginnya keluar"
"Ya ngga disini juga kallliii! sayang Papa nakal nih, kalau nanti kamu udah gede cubit Papa yah"
Rio langsung berbalik lalu menciumi perut Angel dengan gemasnya membuat Angel terdorong kebelakang untung saja kedua tangannya menyangga tubuhnya.
"Maafin Papa yah sayang, Papa kelepasan"
"Tidur gih udah malam"
"Iya kamu juga"
01:30
Angel terbangun dari tidurnya. Angel terbangun karena merasa ada sesuatu yang aneh.
"Kak Rio?" pekik Angel saat melihat wajah Rio yang penuh keringat.
Angel menyentuh dahi Rio. Panas yang Angel rasakan. Sepertinya Rio demam karena kehujanan tadi.
"Kamu demam"
Angel bergegas turun dari tempat tidur menuju dapur untuk mengambil kompresan setelah itu kembali lagi kekamar.
"Kenapa kamu jadi demam seperti ini sih?"
Angel langsung mengompres dahi Rio dengan saputangan yang telah dibasahi dengan air hangat. Angel terlihat sangat khawatir terlebih selama ini Rio tidak pernah sakit dan sekarang Angel bingung harus apa.
Sepertinya Rio juga kelelahan karena berkerja terus dan sekarang tubuhnya tidak sanggup lagi bertahan, Rio jatuh sakit.
"Badan kamu panas banget"
Dirumah ini hanya ada dirinya dan Rio membuat Angel bingung harus minta tolong kepada siapa.
"Sena"
Angel terkejut saat Rio berucap tapi matanya terpejam.
"Sena"
Rio semakin terlihat tidak tenang. Rio terus saja memanggil nama Sena tanpa henti. Angel terdiam dan perlahan air matanya turun. Rasa sesak didada ini sungguh menyakitkan. Angel dengan kasar menghapus air matanya berusaha untuk tetap tegar dan kuat seta menyingkirkan perasaan ini terlebih dahulu karena yang terpenting sekarang adalah kondisi Rio.
"Kak..kak Rio bangun!"
Angel mencoba membangunkan Rio namun Rio tidak kunjung sadar.
"Aku harus bagaiman?"
"Sena, aku mohon jangan pergi. jangan tinggalkan aku, aku mohon. Sena!"
Rio mengigau semakin parah membuat Angel semakin bingung. Angel menepuk-nepuk pipi Rio lalu mengguncangkan tubuh Rio.
"KAK BANGUN. AKU MOHON!" teriak Angel yang sudah sangat panik, bingung dan khawatir, bahkan air matanya kini telah membasahi pipi.
"Kak Rio"panggil Angel sekali lagi. Rasa khawatir Angel kini perlahan sirna saat Rio mulai membuka kelopak matanya.
"Aww" keluh Rio langsung saat membuka mata, kepalanya langsung terasa sakit.
"Kak Rio"
"El, kepalaku sakit"ucap Rio sembari memegangi kepalanya.
"Aku ambilin obat dulu"
"Iya"
Tak berselang lama Angel kembali dengan obat yang bisa menurunkan deman dan pereda nyeri.
"Minum dulu obatnya"
Rio menerima obat itu lalu diminumnya berharap obat ini dapat menyembuhkannya.
"Kamu bikin aku cemas" ucap Angel dengan nada lirih.
"Maafkan aku" pinta Rio namun Angel langsung menggeleng kalau saja dirinya tidak minta aneh-aneh pasti Rio tidak akan sakit seperti ini.
"Aku yang salah seharunya aku tidak selalu meminta"
"Sudahlah anggap saja semua ini demi anak kita"
Rio tersenyum menyembunyikan semua bebannya sedangkan Angel tersenyum menyembunyikan hatinya yang terluka.
"Kamu istirahat, biar cepat sembuh!"
Angel mengecup kening Rio cukup lama. Rio merasa kecupan Angel tersirat kesedihan. Rio merasa kondisi ini tidak tepat, ia menyalahkan dirinya sendiri karena membuat Angel cemas dan harusnya Angel tengah tertidur tapi ini malah tengah merawatnya.
"Selamat malam suamiku"
Rio tersenyum lalu memejamkan matanya. Angel membenarkan selimut Rio lalu mencelupkan lagi saputangan yang sudah kering ini kedalam air hangat lalu ditaruh lagi didahi Rio.
Angel masih terbanyang saat Rio menyebut nama Sena. Angel merasa kalau dirinya cemburu. Semua yang dilalui membuatnya lupa kalau dirinya hanya istri simpanan dan tak berhak untuk mendapatkan lebih.
"Kenapa disini sakit?"
Angel berjalan kearah luar kamar, ditutupnya pintu itu dengan perlahan.
"Ibu"
Angel terduduk dilantai dengan kedua tangan ditaruh didada. Rasa sakit ini teramat sakih hingga membuat Angel menangis tanpa suara.
Angel pov.
Kenapa kamu bodoh El! kamu harusnya sadar, kamu cuma istri simpanan dan kamu itu harus terima fakta semua yang Rio kasih itu bukan buat mu tapi untuk anak dirahimmu itu! tidak lebih!.
Hati dan pikiranku kini bergejolak. Semua terasa sangat menyakitkan, hati ini hancur. Aku sudah terlanjur mencintanya. Apa mencintai sesakit ini? sakit hatiku ini saat mendengar nama wanita lain terucap dari mulut orang yang dicintai.
Aku sadar. Aku orang ketiga yang menyusup dalam pernikahan mereka tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku ini. Aku tulus mencintainya.
"Anakku"
Aku teringan janin dirahimku ini. Lima bulan lagi, apa aku bisa? Tuhan aku tidak mau berpisah dengannya.
Kenapa dulu aku terima tawaran ini? aku kira semuanya akan semudah itu tapi kenyataannya? aku terjebak dalam perjanjian ini. Perjanjian yang membuat hidupku kini berubah. Aku sendirian, aku butuh ibu. Tuhan aku tidak bisa membayangkan harus berpisah dengan orang yang aku cintai dan anakku ini.
pov end.
Angel menyandarkan punggungnya pada pintu. Tatapannya kosong dan air mata terus mengalir tiada henti.
Angel sempat berpikir kalau Tuhan kejam kepadanya karena telah menggatiskan jalan hidupnya seperti ini. Tuhan memberikan cobaan kesulitan membayar biyaya rumah sakit tapi Tuhan pula yang memberikan pertolongan dengan perantara Sena tapi kenapa harus seperti ini? ini sungguh menyakitkan. Walau pun sakit dan kecewa tapi apa boleh buat ini telah terjadi, Angel hanya bisa berdoa dan berharap ada sedikit kebahagiaan untuknya.
05:30
Angel tengah membuat bubur untuk Rio. Dari semalam Angel tidak bisa tidur terlebih Rio semalam munt*h-munt*ah. Angel sendiri ingin membawa Rio kerumah sakit tapi Rio menolak.
"Semoga kamu suka"
Angel membuat bubur dari resep yang ia cari diponsel. Selama memasak Angel terus mencicipi bubur ini agar rasanya enak dan Rio mau makan.
kamar
Rio perlahan menbuka matanya, badannya terasa sangat kemas dirasa.
Rio mencari keberadaan Angel tapi sepertinya Angel tidak ada dikamar ini.
"El!"
Rio yang ingin turun dari tempat tidur langsung dicegah oleh Angel.
"Kamu mau kemana? udah istirahat saja"
"Aku nyariin kamu" ucap Rio sembari membaringkan tubuhnya.
"Tadi aku didapur"
Angel menyentuh dahi Rio dan bersyukur demamnya sudah turun. Angel menatap wajah Rio yang terlihat begitu pucat. Angel tahu Rio sekarang sangat sibuk dan pasti Rio sangat merindukan istri sahnya yaitu Sena karena itu Angel tidak ingin berharap banyak dari hubungan ini.
"Kamu istirahat yah"
Angel mengecup kening Rio lalu kembali lagi kedapur untuk menyelesaikan masakannya.
"Rasanya sudah pas"
Angel mematikan kompor lalu menyendok bubur itu kedalam mangkok, membiarkannya agar tidak terlalu panas.
"Kamu sudah bangun sayang" ucap Angel saat merasakan anak didalam rahimnya bergerak. Angel mengelus perutnya, rasa ngantuk kini yang dirasakan Angel. Semalaman dirinya tidak tidur karena menjaga Rio.
"Apa semua ini akan berakhir? dulu aku ingin semua ini cepat berakhir tapi sekarang rasa ini tumbuh. Aku tak saggup membayangkan perpisahan yang akan terjadi. Aku tidak mau berpisah dengan anak dan ayah anak yang dikandungku ini. Tuhan tolonglah aku ingin bersama mereka"
Angel menyeka air matanya lalu tersenyum. Dia tidak mau Rio melihatnya sedih dan menambah bebannya lagi.
"Aku suapin Rio dulu baru aku tidur, ngantuk banget"
...
Kamar.
"Kak bangun, makan dulu"
"Emm"
Rio langsung terduduk dari tidurnya. Rio merasa kalau tubuhnya tak seperti tadi, sekarang lebih mendingan dan kepalanya sudah tidak sakit lagi.
"Itu apa?"
"Bubur"
"Kamu yang buat?"
"Ya iyalah, memangnya siapa lagi? kamu ini"
Rio tersenyum. Melihat Angel yang terlihat kesal itu membuatnya merasa senang dan seperti obat untuk menghilangkan rasa penatnya.
"Ayo buka mulutnya"
Angel menyuapi Rio dengan penuh kesabaran dan perhatian. Rio terus saja menatap langsung kemata Angel dan membuat Angel merasakan sesuatu yang berbeda.
"Kak, kenapa? buburnya ngga enak?"
"Maaf aku merepotkanmu" jawab Rio langsung. Rio dapat melihat Angel yang sangat kelelahan terlebih dirinya tengah mengandung. Angel tersenyum sembari menggeleng. Angel tidak merasa direpotkan dan ini semua kewajibannya sebagai seorang istri yang harus berbakti kepada suami.
"Jangan sakit lagi kalau begitu" ucap Angel dengan nada sewotnya dan membuat Rio terkekeh pelan.
"Kamu sudah makan?"
"Nanti setelah ini, kamu cepat habiskan buburnya! kalau enak tapi" suruh Angel sembari menyuapkan sesendok bubur.
"Enak baget malah, kalau seperti ini aku jadi ingin sakit terus"
Mendengar ucapan Rio berusan Angel langsung mencubit pinggang Rio dengan sadisnya.
"Kamu ini, jangan berbicara seperti itu! kalau kamu mau aku bisa buatin tanpa kamu harus sakit! nyebelin!"
Kedua pipi Angel sekarang menggembung dan tatapan itu sangat menyeramkan. Rio yang tahu kalau istrinya ini tengah ngambek hanya melihatkan deretan giginya.
"Nyebelin!"
....
10:00
Rio terbangun dari tidurnya, dilihatnya Angel yang tertidur disampingnya.
Rio melihat kearah langit-langit kamarnya. Bayangan wajah Sena membuat dirinya ingin sekali bertemu dengannya.
"Aku rindu kamu"
Lamunan Rio buyar saat ponselnya berdering sangat keras. Rio langsung meraih ponselnya ternyata ada panggilan telefon masuk.
"Sena?"
Rio langsung menjawab panggilan telefon itu lalu bergegas keluar kamar.
Setelah Rio pergi kelopak mata Angel terbuka.
...
Rio berhenti dihalaman samping. Rio sangat senang mendengar suara Sena.
"Aku kangen banget sama kamu, pulang yah?"
"Iya sayang, aku pulang besok"
"Apa? beneran kamu tidak bohongkan?"
Rio terdengar sangat senang mendengar istri yang sangat ia cintai pulang kerumah.
"Tidak lah. Aku kangen banget sama kamu!"
"Aku juga"
"Soal Angel?"
"Angel? aku akan ceraikan dia saat anak itu lahir, kita tida membutuhkan dia lagi"
"Kamu janjikan tidak akan menemuinya lagi dan kamu tidak mencintainyakan? aku mohon jawab dengan jujur"
"Tidak, aku tidak mencintainya! hanya kamu satu-satunya istriku yang aku cintai dan aku sayangi tidak ada seorang pun yang dapat menggantikanmu"
"Terima kasih, aku percaya padamu"
"Sena sayang, aku kan sudah bilang kalau aku tidak apa-apa walau tidak punya anak yang terpenting untukku adalah bersamamu sepanjang hidupku"
"Terima kasih, aku sangat beruntung mempunyai suami sepertimu"
"Aku juga sangat beruntung"
....***.....