Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 28 Maafin Rio, Ma



"...MAMA KECEWA!"


Amanda langsung pergi kekamaranya. Rio terdiam, baru kali ini Rio melihat Amanda marah samapi seperti ini.


Arfan bangkit lalu menyusul Amanda begitu juga Aina. Sasa menatap tajam Rio. Sasa ingin memarahi Rio namun Niko menarik Sasa menjauh, Niko tidak ingin Sasa memperburuk keadaan.


Sasa terpaksa mengikuti suaminya ini. Niko baru melepas ngenggamannya saat sudah berada diruang tamu.


"Kamu apa-apaan sih! aku mau maraih Rio"


Sasa berbalik ingin pergi namun Niko mencegahnya. Ia langsung mencengkram pergelangan Sasa.


"Apa lagi?" kesal Sasa. Niko hanya menggeleng.


"Kamu belain dia?"


Niko melepas cengkramanya lalu menatap Sasa. Niko tidak ingin Sasa mencampuri urusan keluarga ini lebih jauh lagi.


"Ini bukan urusanmu, ini masalah antara ibu dan anak. Kita ngga boleh ikut campur"


"Tapi Rio itu sudah keterlaluan!"


"Rio? kenapa dengan Rio"


Sasa dan Niko langsung melihat kearah pintu ternyata Bram dan Riko telah pulang.


"Itu om si Rio bikin tante nangis"


"Apa?"


Riko terlihat terkejut mendengar ucapan Sasa. Riko melihat kerah Niko untuk memastikan apa yang diucapkan Sasa itu benar atau tidak. Niko mengangguk dengan pasti.


"Rio juga mukul Arfan"


Ucap Sasa lagi dan membuat Riko melihatkan wajah murkanya. Tanpa berucap lagi Riko langsung pergi menemui Rio.


"Sa, sebenarnya ada apa? tanya Bram keputrinya yang terlihat sangat kesal.


"Paling gara-gara menantu yang ngga tahu diri itu Pa"


...


Kamar Riko/Amanda


Arfan menyeka air mata Amanda yang terus mengalir dari matanya. Amanda masih merasakan perih dihatinya yang membuat dadanya sesak. Afan berlutut didepan Amanda sedangkan Amanda duduk ditepi kasur.


"Sudah, Ma. Jangan menangis terus"


Pinta Arfan dengan senyum dibibirnya. Amanda menyentuh pipi putranya yang kini membiru dan darah ditepi bibirnya.


"Pasti sakit, kakak kamu keterlaluan"


Amanda menggigit bibir bawahnya. Dirinya tidak bisa menerima ini semua, semua yang telah terjadi. Dirinya merasa gagal mendidik Rio karena kasih sayang yang berlebihan kini membuat dirinya terluka.


"Ma, ini ngga sakit!"


"Jangan bohong, jujur sama Mama"


Arfan menghela napas. Arfan masih tidak habis pikir Rio melakukan ini semua terlebih Rio tidak menyusul Amanda kekamar.


Aina yang melihat mereka berdua tersentuh hatinya terlebih Arfan bukan anak kandung Amanda tapi Arfan terus berada disisinya.


"Ih mama masa ngga percaya sih? Arfan kan kuat kalau nggak kuat masa bisa Arfan jagain istri Arfan nanti"


Arfan menunjukan deretan giginya membut Amanda tersenyum. Arfan selalu bisa membuatnya tersenyum tidak seperti Rio yang lebih mementingkan perasaan Sena.


"Nah gitu dong dari tadi" ucap Arfan kesal bahkan Arfan melihatkan wajah cemberutnya. Amanda langsung mengecup sekilas pipi yang dipukul Rio tadi.


"Kamu ngga dendam kan sama Rio?"


"Tidak Ma dan Arfan tidak punya hak untuk itu. Arfan cuma anak pungut kalau Mama ingin Arfan pergi, Arfan akan pergi kok"


"Jangan bicara seperti itu kalau kamu pergi siapa yang akan jagain mama?"


Amanda terlihat ketakuta. Amanda tidak ingin Arfan pergi dari rumah ini kalau memang terpaksa harus memilih salah satu dari putranya Amanda kan memilih Afan karena Arfan selalu membuatnya tenang dan tidak sedikitpun mengecewakannya.


"Ya sudah Arfan tidak akan membicarakan itu tapi Mama harus istrirahat dan mama harus makan dari tadi pagi mama belum makan kan? mama sibuk ngurusin Leona"


Arfan membaringkan tubuh Amanda lalu memakaikannya selimut. Amanda menatap Arfan dan berandai kalau didepannya ini putra kandungnya yaitu Rio.


"Jangan tinggalin mama" pinta Amanda saat Arfan ingin pergi.


"Tapi Ma"


"Biar tante saja yang ambilkan"


Aina langsung keluar kamar untuk mengambil makanan untuk Amanda.


...


Dapur


Sena menghampiri Rio yang tertunduk.


"Ayo pulang! kamu lihat sendirikan Mama kamu itu lebih sayang sama anak pungut itu dari pada kamu, anak kandungnya"


Sena seakan ingin membuat hubungan Rio dan keluarganya menjadi buruk. Sena sendiri tidak mau Rio terus kembali kerumah ini. Sena ingin Rio menjadi miliknya seutuhnya bahkan Sena ingin Rio tidak menemui Amanda lagi.


Rio menatap Sena dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Rio membela Sena tapi Sena terkesan meremehkan apa yang telah ia perbuat untuknya.


Riko menatap tajam kearah Rio terlebih Riko sangat muak dengan Sena yang selalu membuat masalah dirumah ini.


"Rio ikut Papa sekarang!"


Riko langsung pergi. Rio tahu papanya ini sangat marah kepadanya. Tanpa buang-buang waktu lagi Rio langsung menyusul Riko.


Taman samping rumah.


Rio berdiri dibelakan Riko. Riko menyadari kedatangan Rio namun tidak berniat untuk berbalik kearah Rio. Riko tengah memandangi pohon rambutan yang berdiri tengak diantar tanaman bunga mawar.


"Papa tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini"


"Maafin Rio, Pa"


"Kenapa kePapa? bukan Papa yang kamu sakitin. Kamu lihat pohon rambutan itu, kamu dan Arfan yang menanamnya waktu kalian masih kecil"


Rio melihat kerah yang Riko lihat. Rio masih ingat masa itu, saat dirinya sangat senang memiliki seorang adik laki-laki yang baru diadopsi orang tuanya. Dirinya sangat senang bermain dan menggusili adik kecilnya, Arfan.


"Dulu kalian selalu bermain bersama dan kamu menjaga adikmu itu dengan baik tapi sekarang? apa kamu takut Arfan akan menguasai perusahaan?"


Rio terkejut saat Riko mengatakannya bahkan Rio tak berpikiran sampai sejauh itu. Rio hanya kesal Arfan menjelek jelekan istrinya.


"Rio tidak perduli dengan itu! Mama sama Arfan terlalu sering memojokan Sena. Rio tidak suka itu"


Riko tersenyum ternyata benar kata Sasa kalau semua ini terjadi karena Sena. Riko berbalik, sekarang mereka saling berhadapan.


"Jangan cari alasan, kamu sendiri yang kesal kepada Senakan? kanapa kamu tidak bilang langsung ke Sena"


"Pa. Rio tidak kesal apa lagi marah keSena"


"Rio. Papa tahu setiap kamu marah ke Sena orang lain yang kena. Papa nggak suka itu!"


Riko sebisa mungkin mengontrol amarahnya dan tidak meninggikan suaranya. Sudah jadi kewajiban Riko untuk memperbaiki kesalahan yang Rio perbuat.


"Ri--"


"Tanyakan kediri kamu sendiri terlebih kamu sangat cinta sama istri kamu itu"


Potong Riko. Perkataan Riko membuat Rio terdiam cukup lama.


"Kamu memang wajib mencintai istri kamu tapi ingat jangan berlebihan gunakan juga otakmu! pikirkan semua yang benar dan buruk. Kalau istri kamu salah kamu tegur jangan membelanya, seorang suami punya tanggung jawab untuk menginggatkan istrinya. Apa kamu mau nanti Sena terkena masalah karena itu?"


Rio merasa yang dikatakan Riko memang benar adanya. Dirinya selalu melampiasakan amarah yang harusnya untuk Sena tapi dirinya meluapkannya keorang lain.


"Tidak Pa"


"Satu lagi, kamu mau tahu kenapa Arfan sampai sekarang tidak ingin menikah"


"Tidak Pa"


"Karena Arfan takut seperti kamu yang tidak bisa mengontrol rasa cinta keistri hingga membuat orang lain terluka dan benar sajakan kamu selalu menyalahkan Mama kamu dalam segala hal. Sena memang tidak pernah suka datang kerumah ini, dia hanya ingin dirimu"


Rio menatap Riko dengan tatapan bersalah terlebih membuat orang yang disayangi oleh Riko menangis.


"Sekarang kamu minta maaf ke Mama sebelum dia berpikiran kalau kamu tidak menyayanginya lagi"


"Iya"


Rio langsung pergi meninggalkan Riko. Riko menghela napas dan menyesali telah merestui Rio menikah dengan Sena. Riko masih teringat saat Sena pertama datang kerumah ini, sikapnya yang masih lugu dan masih punya sopan santun tidak seperti sekarang.


Riko tahu apa yang menyebabkan Sena berubah yaitu kesilauannya terhadap barang-barang mewah terlebih Rio yang selalu menuruti semua kemauan Sena dan itu pula alasan Sena ingin terus menguasai Rio.


"Sampai kapan seperti ini? semoga ada gadis lain yang mampu membuat Rio berpaling dari Sena"


..


Kamar Riko/Amanda


Rio tidak berani masuk kekamar, dirinya hanya berdiri didepan pintu yang terbuka. Rio merasa bersalah telah membuat Amanda seperti ini.


Arfan menoleh kearah pintu. Amarahnya kini terasa kembali muncul tapi sebisa mungkin Arfan menghilangkanya yang terpenting sekarang adalah Amanda.


"Ngapain kakak disitu"


Amanda langsung menoleh kerah pintu.


Rio berjalan mendekati tempat tidur lebih tepatnya menghampiri Amanda. Amanda langsung menggengam tangan Arfan yang ingin pergi.


"Ma" panggil Rio tapi Amanda tidak sudi dipanggil Mama oleh Rio.


"Fan, boleh aku bicara sama mama berdua saja?"


"Iya kak"


Arfan langsung melepas genggaman tangan Amanda. Amanda tidak mengijinkan Arfan pergi denga terus menatap Arfan sembari mengelengka kepalanya.


"Ma, kakak mau bicara sama Mama. Arfan tunggu diluar yah"


Arfan langsung melangkah meninggalkan Amanda dengan Rio. Amanda tidak rela Arfan pergi hanya bisa menatap sayu.


"Ma, maafin Rio"


Amanda tidak ingin melihat Rio melihat kearah lain. Rio terus saja meminta maaf tapi sepertinya Amanda sulit untuk memaafkan Rio.


"Ma, lihat Rio. Rio mohon"


Amanda langsung menatap Rio dengan tatapan tajam. Tatapan kekecewaan seorang ibu kepada anaknya.


"Sampai kamu berlutut dikaki mama, mama tidak akan memaafkanmu! mama tidak pernah mengajarimu jadi kasar seperti ini!"


Sekarang air mata Amanda kembali menetes. Rio semakin merasa bersalah tidak seharusnya dirinya seperti tadi dan sekarang dirinya harus menerima semua amarah ini.


"Rio tahu, Rio sangat menyesal. Rio tidak akan kerumah ini lagi dengan alasan apapun"


Amanda mengepalkan kedua tangannya Rio tidak paham apa yang dirinya mau.


"Kak, mama cuma mau kakak perhatian lagi sama mama bukan sebaliknya. Mama selalu ingin kakak disamping mama"


Arfan selalu tahu apa yang Amanda inginkan. Rio menatap Amanda cukup lama, Rio memalingkan pandangannya ke sepiring nasi yang masih utuh.


"Mama belum makan, Fan?"


"Mama cuma makan sedikit, kakak supin gih" suruh Arfan namun Amanda langsung menolak.


"Mama mau tidur kalian keluar! usir Amanda yang langsung memiringkan tubuhnya kearah lain membelakangi kedua putranya. Baik Rio mau pun Arfan memilih menuruti kemauan Amanda.


Arfan menutup pintu kamar perlahan. Seperginya mereka, Amanda kembali terisak.


...


Ruang tengah


Riko tengah berbincang dengan Aina. Sebenarnya Riko menyuruh Aina untuk ke salon bersama Sasa dan Sena tapi nampaknya Aina menolak. Aina tidak mau bersama Sena.


"Tapi aku tidak bisa"


"Aku mohon, biar Sena tidak mengajak Rio pulang"


"Baiklah, ini aku lakukan hanya untuk Amanda"


Setelah Aina pergi Riko langsung menuju kekamar menemui Amanda. Riko berpapasan dengan Arfan dan Rio ditangga. Riko tidak berucap sepatah katapun kepada kedua anaknya.


Arfan tidak ambil pusing dirinya terus melangkah kearah dapur untuk mengambil es untuk mengompres luka lebamnya ini agar cepat membaik tapi berbeda dengan Rio yang terdiam walaupun Riko sudah sampai didepan pintu kamar.


Riko memasuki kamar dilihatnya Amanda yang sedang berbaring. Riko tahu Amanda tidak tidur. Riko menutup pintu dengan pelan.


"Sayang"


Amanda paham betul suara itu suara Riko. Amanda langsung bangkit berlari karah Riko dan memeluknya dengan erat. Amanda kembali terisak.


"Aku ngga pernah mengajari Rio seperti ini!" isak Amanda dipelukan Riko.


"Sayang sudah jangan menangis! mereka sudah besar jangan kamu urusin terus!"


Amanda melepas pelukannya lalu menatap tajam Riko. Amanda tahu mereka sudah besar tapi sampai kapanpun mereka tetaplah anaknya yang masih harus dikawal setiap langkahnya agar tidak salah arah.


"Kamu ini, ak--"


Ucapan Amanda terpotong karena Riko yang mengecup bibirnya. Riko ingin istrinya ini tenang. Riko melepas kecupannya.


Riko dengan lembut menghapus air mata Amanda lalu membenarkan rambut Amanda yang berantakan. Riko tersenyum saat melihat mata Amanda yang sembab.


"Jangan memperlakukan mereka seperti bayi terus, mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri" ucap Riko dengan lembutnya.


"Tapi Rio"


"Rio? tidak usah kamu urusin dia. Rio punya keluarganya sendiri, biar Rio yang menentukan nasib rumah tangganya tanpa campur tangan kita toh Rio juga sudah tidak serumah dengan kita dan yang terpenting saat ini mencari istri untuk Arfan. Kita pastikan yang terbaik untuk Arfan, yah"


Amanda menghapus air matanya lalu mengangguk. Riko tersenyum senang akhirnya istrinya ini tenang juga.


"Senyum dong"


Riko menarik pelan hidung Amanda menbuat Amanda tersenyum.


"Ummm kalau ginikan tambah cantik" goda Riko sembari menaik turunkan alisnya.


"Ihh apaan sih!" kesal Amanda yang langsung memukul dada Riko. Riko langsung menarik Amanda kedalam pelukannya.


...


Rio menghampiri Arfan yang tengah mengompres pipinya. Ini baru pertama kalinya Rio memukul Arfan.


"Maafin kakak"


"Hemm"


Arfan hanya berdehem untuk menjawab ucapan Rio. Arfan tidak mempermasalahkan lukanya ini tapi Arfan masih marah karena membuat Amanda sedih seperti ini.


"Kamu marah?"


"Tidak, buat apa aku marah lagian aku yang salah. Seharusnya aku tidak menjelek jelekan istrimu karena dimatamu Sena selalu benar"


Arfan langsung melangkah pergi namun saat disamping Rio, Arfan menghentikan langkahnya.


"Kalau Sena tidak mau pergi jangan dipaksa"


Arfan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Rio.


...


Kamar Riko/ Amanda


"Sayang"


"Apa?"


"Kamu masih marah?"


"Mungkin"


"Jangan seperti itu, maafkan Rio"


"Iya"


"Aku panggil Rio yah?"


"Sama Arfan"


"Iya"


Amanda membenarkan posisinya. Riko langsung keluar untuk memanggil keduanya.


....


Arfan pov


Kenapa jadi seperti ini? apa karena Sena, Kak Rio jadi berubah. Entahlah semua ini membuatku pusing terlebih karena kak Rio air mata mama turun dengan derasnya. Andai aku yang anak kandung Mama pasti aku tidak akan membuatnya bersedih, aku akan membahagiakannya selalu. Aku bisa membahagiakannya tapi dengan setatusku ini perhatianku pasti akan membuat masalah. Aku takut kak Rio akan salah paham dan mengira aku akan merebut semua miliknya padahal ini aku lakukan untuk membalas budi telah mengadopsiku dari panti asuhan dan menyayangiku hingga sekarang.


Flash back


Panti asuhan


Arfan kecil tengah bermain ayunan sendirian dibawah pohon sembari melihat teman-temannya yang tengah mengantre untuk mendapatkan mainan.


"Loh Arfan, kamu tidak mau mainan?" tanya pengasuh yang mendapati Arfan sendiri. Arfan hanya menggeleng pelan. Sudah dua hari ini Arfan tinggal dipanti asuhan.


"Ya sudah"


Pengasuh itu langsung pergi untuk mengambilkan Arfan mainan.


"Bu Amanda, makasih banyak loh"


"Ini tidak seberapa kok, Rio jangan main tetus salim"


Rio kecil mengangguk lalu salim ke wanita yang berseragam biru muda.


"Saya minta ya bu, soalnya ada yang nggak mau ambil sendiri"


"Siapa? apa dia baru datang?"


"Iya, kemarin dititipkan sama polisi katanya sih orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Untung saja dia selamat"


"Anaknya mana?"


"Itu sedang main ayunan"


Wanita itu menunjuk Arfan yang masih bermain ayunan. Rio kecil pun ikut melihat namun Rio kecil langsung berjalan kearah Arfan. Amanda tersenyum lalu mengikuti Rio.


"Main yuk" ajak Rio langsung namun Arfan hanya menatap Rio. Rio menunjukan mainan mobil-mobilannya. Rio yang kesal lalu memaksa Arfan bermain tapi perlakuan Rio membuat Arfan menangis.


"Sayang kamu apain?"


"Mau ajak main ma"


"Mama" Arfan berucap dan membuat pengasuh yang khusus menjaga Arfan tersenyum sekaligus lega akhirnya Arfan mau berbicara.


"Ganteng banget, nama kamu siapa?"


"Arfan"


"Arfan mau main ngga sama kak Rio?"


senyuman Amanda membuat Arfan mengangguk. Rio dan Arfan bermain bersama dan Rio terlihat selalu menjaga Arfan, usia Rio lebih tua dari Arfan tiga tahun.


Amanda mendengar semua yang dijelaskan pengasuh itu, rasa kasihan langsung muncul dihati kecilnya.


Hari mulai malam tapi Rio tidak ingin pulang bahkan rayuan Riko tidak mempan ke Rio sedangka Amanda sudah angkat tangan. Arfan mengintip dari jendela dan ingin sekali ikut dengan mereka.


"Rio ini sudah malam, ayo pulang"


"Ngga mau Papa. Rio mau pulang kalau sama adik!"


"Adik? Ma?" Riko menatap Amanda seakan meminta penjelasan.


"Tadi Rio main sama Arfan dan Rio nggaka mau pulang"


"Rio"


Riko berlutut di depan putra kecilnya lalu menghapus air mata Rio.


"Rio mau adik?" tanya Riko dengan suara halus. Rio hanya mengangguk.


"Ya sudah kamu punya adik sekarang tapi Rio sendiri yang menjemputnya"


"Asikkk Rio punya adik!"


Rio langsung berlari kearah pintu masuk dan langsunh memanggil Arfan. Riko dan Amanda saling melempar senyum. Setelah mengurus semua dokume sekarang Arfan telah sah menjadi anggota baru keluarga Riko.


Sepanjang perjalanan pulang Rio terus membuat Arfan tertawa bahkan kedua orang tua mereka sampai ikut tertawa.


"Mama..mama"


"Iya Rio kenapa?"


"Nanti adik tidur sama Rio yah?"


"Iya tapi Arfan boleh ngga pinjem baju Rio soalnya mama belum beli baju untuk Arfan?"


"Boleh"


Tak terasa satu minggu berlalu dan Arfan masih menunggu Rio dari balik gerbang.


"Arfan ayo masuk nanti kamu sakit lagi"


Amanda ingin sekali Arfan masuk kedalam rumah karena disini sangat panas.


"Ngga mau. Mau kakak"


"Arfan, kakak pulangnya satu jam lagi sebaiknya kamu masuk"


Suara telakson mobil membuat Arfan loncat kegirangan akhirnya yang ditunggu pulang juga.


Setelah mobil berhenti, Rio langsung turun lalu berlari kearah Afan. Arfan pun juga berlari tapi kaki Arfan tersandung dan membuatnya jatuh terkelungkub. Arfan menangis dengan keras. Riko langsung menganggkat tubuh mungil Arfan.


"Papa darah" ucap Rio kecil sembari menunjuk lutut Arfan. Amanda langsung kedalam rumah untuk mengambil kotak P3K. Arfan masih menangis meski Riko mencoba menenangkan Arfan.


"Adik jangan nangis nanti kakak kasih es krim loh. Tadi baru beli, jangan nangisnya"


Ajaibnya saat Rio yang meminta Arfan berhenti menangis tangisan Arfan pun berhenti.


Dibawah langit sore Arfan tengah belajar naik sepeda diajari oleh Rio sedangkan Amanda dan Riko hanya mengawasi mereka berdua.


Amanda dan Riko langsung bertepuk tangan saat Arfan mengayuh sepedanya sendiri tanpa dipegangi oleh Rio.


"Yeeeyyy adik bisa naik sepeda!"


Rio langsung menaiki sepedanya. Mereka berdua bersepeda mengelilingi halaman.


"Capek!" keluh Rio. Arfan hanya tersenyum.


"Makasih kak"


"Aku kan kakak kamu jadi kakak akan terus jagain kamu"


Keduanya tertawa riang hingga bertahun-tahun berlalu mereka tumbuh besar dan masih saling menjaga satu sama lain seperti sekarang.


Rio dan Arfan tengah memberi pelajaran kepada para preman yang mencoba merampas motor Arfan dan untung saja Rio datang menolong.


"Jangan ngagu adikku lagi! CEPAT PERGI!!" usir Rio dengan garangnya membuat para preman langsung berlarian.


"Makasih kak"


Rio langsung menatap Arfan tajam dan mengerutuki Riko yang membelikan Arfan motor.


Jttaakkk


"Aduh"


Dengan sadisnya Rio menjitak kepala Arfan. Arfan menatap sebal kearah Rio.


"Apa? siapa suruh bawa motor, lagian kamu itu masih SMP!"


"Kan ikutin kakak"


"Ihhh kamu yah" kesal Rio sedangkan Arfan hanya menunjukan deretan giginya.


flash end


"Rindu masa itu, kenapa sekarang berbeda?"


"Arfan dipanggil mama tuh!"


Suara Papa membuyarkan lamunanku. Aku langsung bergegas kekamar mama takut mama menunggu terlalu lama.


Aku membuka pintu kamar mama dan mendapati Rio yang tengah berlutut dihadapan mama sembari menangis. Kak Rio menyandarkan kepalanya dipangkuan Mama yang duduk ditepi kasur.


"Ma?"


"Afan ayo sinih"


Kak Rio membenarkan posisinya. Aku pun ikut berlutut seperti yang dilakukan Rio. Mama langsung menyentuh pipi kami dengan kasih sayang.


"Kalian janji tidak akan bertengkar lagi"


"Kita janji Ma"


"Kalau begitu peluk mama"


Kami langsung memeluk wanita yang sangat kami cintai ini.


pov end


Amanda tersenyum senang akhirnya kedua putranya ini akur kembali.


"Mama sayang sama kalian berdua kalian alasan mama hidup didunia ini"


"Makasih Ma telah menjaga kami dan maaf kami selalu jadi beban mama" ucap Rio yang masih memeluk Amanda.


"Terima kasih telah menyayangiku" ucap Arfan sembari menagis.


"Iya sayang. Kalian berdua kesayangan mama"


Mereka bertiga mencurahkan isi hati yang selama ini terpendam dan ini saat yang tepat untuk memper erat hubungan ini.


...


Taman


".....Menikahlah denganku"


Rey menatap penuh harapan keAngel. Hati Angel ingin mengiyakan tapi dirinya tersadar dirinya bukan lagi seorang gadis dan dirinya juga pernahamil terlebih Rio belum menceraikannya. Angel menatap Rey. Pemuda didepannya ini terlalu baik dan dirinya pantas mendapatkan yang baik pula tapi Angel bingung untuk mengatakannya seperti apa terlebih Angel tidak mau melukai hati Rey.


"Rey aku... aku"


"Belum siap?" potong Rey. Angel mengangguk. Rey tersenyum lalu berdiri, sebenarnya Rey juga sudah menduganya sejak awal karena itu dirinya tidak ingin orang tuanya ikut bersamanya.


"Maaf Rey"


"Sudahlah tidak apa-apa malah aku senang dari pada kamu menolakku, lagian kalau kamu menerimanya aku pasti tidak bisa tidur nyenyak"


"Kenapa?"


"Karena kita harus menunggu tiga tahun untuk menikah"


"Benaran?"


"Iya, nyebelin bangetkan mereka"


Rey nampak begitu sangat kesal namun sedetik itu pun Rey tersenyum kearah Angel.


Rey melepas kalungnya lalu menjadikan cincin ini liontin kalung lalu memasangkannya keleher Angel.


"Sebelum kamu menjawabnya cincin ini akan terus ada dilehermu. Jangan pernah kamu melepasnya"


"Iya. Aku mengerti"


"Mau es krim?" tawar Rey dan pastinya Angel berkata.


"Mau"


"Ayo"


Rey mengandeng tangan Angel menuju pedagang es krim. Rey merasa lega telah mengatakannya ya walau pun Angel belum menjawabnya tapi itu membuat Rey semakin tertantang untuk meyakinkan Angel.


"Sayangku mau rasa apa?"


"Ih apaan sih!"


Angel langsung mencubit lengan Rey dengan sadisnya. Angel sendiri merasa malu dipanggil seperti itu.


"Kok marah? kamu kan calon istriku"


"Baru calon"


"Kamu akan jadi istriku"


"Hemm"


Angel hanya berdehem saja berharap Rey tidak terus mengajaknya bicara. Angel takut dirinya terbawa suasan dan menghianati Rio. Angel merasa dirinya masih istri Rio walau pun Angel ingin terlepas dari Rio dan bahagia dengan Rey tapi tetap saja Angel tidak bisa Rio belum menceraikannya terlebih Angel sangat menghargai ikatan suci pernikahan.


"Mau rasa apa?" tanya pedagang es krim didepan mereka. Rey langsung menjawab cokelat untuk Angel tapi Angel langsung menolak lalu menggantinya dengan rasa permen karet. Rey sangat menyadari perubahan Angel terlebih Angel seakan merubah hal faforitnya.


Rey menatap Angel yang terfokus dengab es krim ditangannya. Jujur Rey ingin mengobrol dengan Angel lebih jauh lagi hingga menjalin hubungan yang lebih erat lagi.


"El"


"Apa?"


"Belepotan" ucap Rey sembari menunjuk kerah bibirnya reflek Angel langsung mengngelap bibirnya dengan telapak tangannya namun noda itu masih menempel dibibir Angel.


"Udah hilang?"


Rey hanya menggeleng sembari menunjuk wajah Angel. Angel terlihat sangat kesal karena noda ini.


"Mana sih Rey?"


"Tuh dibagian itu" Rey hanya menunjuk saja tanpa membantu Angel.


"Yang mana?"


"Yang ini!"


Sedetik itu Angel membeku. Rey dengan gerak cepat mengecup bibir Angel. Rey sendiri langsung menatap kearah lain dan kembali memakan es krimnya. Angel yang mulai tersadar langsung berusah sebiasa mungkin dirinya juga kembali memakan es krim.


Mereka kembali mendiamkan satu sama lain seperti tadi. Rey menoleh kearah Angel yang tengah menatap lurus kedepan. Rey semakin yakin kalau Angel menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kamu kenapa? apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"


"..."


....***"....