
Rio hanya terdiam membisu membuat Angel semakin bingung juga panik yang jelas dekapan Rio semakin erat.
"Sayang kamu kenapa? kamu sakit?"
Angel terus menanyakan dengan nada panik namun sepertinya Rio masih tidak mau berbicara.
"Aku.. jangan tinggalkan aku"
Entah apa yang ada dipikiran Rio sekarang hingga berucap seperti itu. Angel mendengar dengan jelas apa yang Rio ucapkan.
"Aku ngga akan pernah ninggalin kamu, aku janji"
Angel membalas pelukan Rio sama eratnya. Hati Angel merasa tidak tenang karena Rio seperti ini. Rio tersenyum senang mendengar ucapan Angel dan entah kenapa hatinya merasa tenang.
"Makasih"
Rio melepas pelukannya begitu juga dengan Angel. Tatap mata mereka saling bertemu. Kedua tangan Rio menyentuh kedua pipi Angel dengan senyum yang merekah dibibir.
"Pipi kamu tambah tembem yah sayang"
Mendengar ucapan Rio barusan membuat dagu Angel mengkerut.
"Pipi kamu juga tembem! udah kek ikan buntal" Angel langsung menepis tangan Rio lalu berjalan menjauh dari Rio.
"Ngapa ikan buntal dibawa-bawa? eh sayang, cepat siap-siap"
Angel yang sedang menyisir rambutnya langsung menoleh.
"Mau kemana sih? capek tahu!" protes Angel yang merasakan kakinya sangat pegal. Rio mengerutkan dagunya lalu berjalan kearah kasur.
"Emang kamu nggak laper?" tanya Rio sembari duduk dikasur. Angel hanya membulatkan bibirnya, dia tahu Rio pasti akan mengajaknya pergi makan.
"Aku keringin rambutku dulu"
"Hemm"
Rio hanya berdehem lalu merebahkan tubuhnya. Rio menatap langit-langit kamar sembari menerawang sesuatu.
Entah kenapa melihat Rio seperti itu membuat Angel kasihan kepada Rio. Angel bangkit dari duduknya lalu merebahkan tubuhnya disamping Rio. Rio menyadari istrinya berada disampingnya.
"Beneran kamu nggak apa-apa?"
Rio menoleh kearah Angel. Raut wajah Angel mengisyaratkan kecemasan. Rio tersenyum tipis lalu mengacak-acak rambut puncak kepala Angel.
"Kamu khawatir sama aku?"
"Apa aku harus menjawabnya? selama ini kamu itu buat aku tidak tenang"
"Kenapa?"
"Karena aku mencintai mu dan aku takut kamu kenapa-napa"
Jawaban tulus dari Angel entah kenapa membuat kedua mata Rio memanas bahkan Sena tak pernah seperduli itu.
"Lupakan saja apa yang aku ucapkan tadi" pinta Angel dengan nada rendah namun bisa didengar oleh Rio.
"Lupakan?"
Rio menatap kedua mata Angel seakan mencari kebenaran dimatanya.
"Aku nggak mau kamu terbebani dengan perasaanku ini, biar aku saja yang merasakan ini semua. Hanya aku"
Angel menekankan kalimat terakhirnya. Walau Angel tida menjelaskan semua tapi Rio paham apa yang ingin Angel ungkapkan.
Angel ingin Rio tidak terlalu memikirkan perasaannya dan biarlah dirinya yang merasakan semua perih dan rasa sakitnya hati ini, Angel sudah siap walau nanti harus berpisah dan melupakan.
Angel tidak mau Rio merasakan rasa sakit yang sama seperti yang dirinya rasakan.
Cinta itu tidak bisa dilihat namun bisa dirasakan, semua yang berkaitan dengan cinta terkadang membawa suka dan duka.
Tidak ada yang pasti hanya saja situasi ini sangat menyiksa, cinta tanpa ijin yang membuat semua ini terasa berat untuk dilalui terlebih ada cinta yang direstui oleh kedua keluarga yang telah lama menjalin hubungan resmi tanpa ada perjanjian dan tanpa ada paksaan membuat cinta yang tengah bersemi ini harus siap walau nantinya akan mati perlahan.
"Aku sudah bilangkan? kalau aku akan berusaha adil, kamu mau apa? aku belikan"
"Beneran?"
"Iya, apa saja"
"Emm"
Angel seolah-olah tengah berfikir dan ekspresi Angel yang seperti ini membuat Rio gemas sendiri. Rio menoel-noel hidung bangir Angel.
"Kamu mau apa?"
"Kamu"
"Hah?"
Rio mengeryitkan keningnya sepertinya Rio bingung dengan ucapa Angel.
"Aku ngga minta apa-apa, kamu telah memberikan apa yang aku mau. Kalau saja aku tidak bertemu denganmu mungkin aku telah kehilangan orang yang aku sayang"
Angel mengakhiri ucapannya dengan senyuman. Senyuman itu membuat Rio luluh dan entah kenapa matanya memanas dan.
"Kamu bisa menangis juga?" ejek Angel langsung saat melihat air mata Rio turun dari singah sananya. Rio langsung menyeka air matanya sembari tersenyum.
"Iyalah, kamu kira aku apa? vampir apa batu?" sinis Rio namun Angel tidak menggubris malah dirinya hanya tersenyum kearah Rio.
"Drakula" kata itu terucap dari bibir mungil Angel berarti selama ini Angel menganggap Rio itu "drakula". Rio yang tidak terima dikata drakula langsung menggelitiki Angel sampai Angel meronta-ronta.
"Hahahaa.. stop.. ammpunnn...gelliiiii.. Hhhahah"
"Minta maaf dulu!"ucap Rio sembari mengelitiki pinggang Angel. Angel terus tertawa sampai-sampai air matanya berlinang.
"Uuddaaahhhh!!!"pinta Angel yang tak sanggup lagi tertawa. Perutnya terasa kaku. Rio yang merasa kasihan menghentikan kejahilannya.
Angel menetralkan rasa ingin tertawanya sedangkan Rio memandang wajah Angel dengan tatapan penuh arti.
"Jahat banget sih! nyebelin!" omel Angel lalu memosisikan tubuhnya untuk duduk sedangkan Rio masih tiduran.
"Ayo! katanya mau cari makan?"
"Ngga jadi aku ngantuk"
"Iihhh ayo! aku lapar!" ajak Angel yang ingin sekali berburu makanan diwilayah ini. Rio benar-benar merasa mengantuk hingga ucapan Angel tidak digubrisnya, perlahan kedua kelopak mata Rio menutup.
"Malah tidur"
Angel mendengus kesal padahal Rio lah yang ingin pergi. Angel tidak mau mengganggu Rio, ia memakaikan bantal dikepala Rio dengan hati-hati.
Angel melihat lekat wajah Rio. Suara dengkuran halus dari Rio terdengar jelas ditelinga Angel.
"Kamu tidurnya langsung nyenyak banget"
Angel membelai lembut kepala Rio berharap sentuhannya membuat Rio tidur lebih nyenyak.
"Aku cinta sama kamu, apa kamu benar-benar mencintaiku?"
Angel menghapus air matanya lalu mengecup kening Rio.
...09:00.. pagi.
Rio tengah duduk ditepi kasur. Rio memandang perut Angel yang masih rata, senyum Rio muncul saat membayangkan perut Angel membuncit.
Angel sendiri tengah merapikan rambut Rio yang ternyata sudah panjang.
"Rambut kamu panjang, potong gih!"
"Nggak ah"
"Kenapa?"
"Biar mirip oppa korea"
"Ih"
"Aaww"
Rio langsung mengaduh saat Angel menjewer telinganya sekilas.
"Kamu ini sadisnya kumat!"
Rio langsung memeluk perut Angel dengan erat sedangkan Angel hanya bisa mendengus kesal.
"Sejak kapan kamu manja seperti ini?"
Tanya Angel dengan nada yang tak enak didengar.
"Setelah aku punya kamu, istri mungilku"
Jawab Rio yang terdengar asal namun mampu membuat lekuk senyum dibibir Angel.
"Kamu ini"
Rio melepas pelukannya dan melihat wajah Angel yang natural tanpa polesan bedak.
"Apa?"
"Engga"
Walau berkata seperti itu tatapan Rio membut Angel mengerutkan dahinya. Senyum mencurigakan Rio muncul sekilas dan langsung.
"YAH..RIOOOO"
Teriak Angel langsung saat Rio menariknya hingga tubuhnya menindih tubuh Rio. Mereka berdua berbaring ditempat tidur dengan posisi Angel menindih tubuh Rio.
"Hahaha"
Rio malah tertawa dengan renyahnya tanpa memperdulikan Angel yang nampak begitu kesal.
"Ih.. kamu!"
Rio langsung mengalungkan kedua tangannya di pinggang Angel saat Angel ingin bangkit dari posisinya saat ini.
"Lepasin!"
Angel memukul dada Rio dengan kesalnya. Rio hanya tersenyum melihat Angel seperti ini.
"Kamu marah?"
"Iya"
"Kenapa?"
"Nyebelin!"
"Aku suamimu dan aku berhak atas dirimu, aku akan menjagamu" ucap Rio dengan sungguh-sungguh.
"Sebentar saja" pinta Rio lagi. Rio membut kepala Angel bersandar pada dadanya. Angel bisa mendengar dengan jelas detak jantung Rio yang selalu membuat dirinya nyaman.
...
Rio tengah berbicara dengan staf penginapan dengan wajah yang terlihat serius.
"Aku ingin semuanya selesai sebelum jam makan malam dan aku akan bayar berapapun tapi ingat semua harus sempurna tanpa kecacatan! kamu mengerti?"
Staf itu mengangguk dengan pasti, Rio pun memperbolehkan Staf itu untuk pergi.
Rio tersenyum berharap semua sesuai yang ia mau.
"Ajak tuh bocah kemana yah? tanya dia ajalah"
Rio bergegas kembali kekamar untuk mengajak Angel jalan-jalan.
...
kamar
Rio membuka puntu dan langsung mendapati Angel yang tenagah duduk ditepi kasur sembari memandang keluar.
"Mau kepantai lagi ayo"
Angel menoleh kearah Rio namun tidak berkata apa-apa.
"Panas" ucap Angel sekilas langsung merebahkan tubuhnya kekasur. Rio berdecak kesal lalu menghampiri Angel. Rio menatap datar Angel namun yang ditatap tidak memperdulikan orang yang berdiri di depannya ini seolah-olah hanya dirinya yang berada diruangan ini.
"Ayo kita jalan! masa sudah jauh-jauh kesini cuma tiduran"
Angel masih tidak menggubris ucapan Rio seakan-akan kedua telinganya tidak mendengar apa-apa. Melihat Angel yang seperti itu membuat Rio gemas sendiri dibuatnya antara ingin marah dan gemes yang Rio rasakan sekarang tapi yang jelas dirinya harus mengajak Angel keluar agar para staf penginapan bisa menjalankan semua rencananya.
"Kamu sedang menguji kesabaranku? atau kamu mau itu?"
Ucapan kata terakhir Rio membut Angel bingung "itu" maksud Rio apa.Angel melirik kearah Rio. Mata Angel membulat saat Rio melepas satu kait kancing bajunya, entah kenapa Angel jadi panas dingin.
"Aku mau es krim Ayo beli!"
Angel langsung bangkit dari tidurnya lalu menarik Rio kearah pintu.
"Ih bentar! dompetku ketinggalan"
....
Suasana pasar tradisional yang menawarkan aneka jajanan dan asesoris khas Lombok Tengah tertata rapi didepan kios. Aneka gantungan kunci, tas, dompet dan sebagainya sungguh menarik perhatian. Corak khas menawarkan keindahan seni dari penggerajinnya.
Angel dan Rio tenga melihat-lihat topi yang terlihat dari kejauhan sangat lucu.
"Mau yang mana?" tanya Rio ke Angel yang tengah bingung memilih diantara dua topi yang sangat imut.
"Bingung"
"Mau dua-duanya?"
"Cari yang lain sajalah"
"Ya sudah"
Rio pov
Diteriknya matahari ini aku menggandeng tangannya. Tangan mungil nan halus kurasa. Detak jantungku berpacu lebih cepat saat bersamanya, kurasa damai dihati ini walau aku yakin hati ini tidak memilihnya.
Apa aku salah? entahlah aku hanya menjalani apa yang Tuhan telah berikan kepadaku walau ingin sekali aku mengeluh kepadanya.
"Kak ini lucu, coba pakei deh"
Senyuman itu membutku ingin tersenyum juga. Setiap kata yang terucap dari bibir mungilnya selalu terngiang ditelingaku dan perhatiannya membuatku ingin terus bersamanya.
"Kok aku yang pakai? itu jepit rambut loh"
Ucap ku memprotes istri mungilku dan aku merasa kalau aku akan jadi kelinci percobaannya. Dia cemberut sembari menatapku. Pandangan matanya membutku tidak tega, sepertinya aku harus menurutinya.
"Ya sudah tapi langsung dicopot!"
Dia mengangguk senang dan akupun merendahkan tubuhku agar tangannya dapat meraih rambutku.
"Udah"
Aku pun langsung mendongak sembari melempar tatapan kesal kearahnya tapi dia malah seolah-olah tengah menahan tawa.
"Apa yang lucu?"
Dia tidak menjawab malah dia langsung menggambil ponsel lalu memfotoku.
"Nih"
Dia menunjukan fotonya dan aku langsung tertawa melihatnya. Aku melihat penampilanku berubah drastis dari cool jadi cute, ya ampun istriku ini.
"Kak Rio lucu!"
Dia tertawa lepas seakan tidak ada beban dihatinya. Suara tawanya membuatku ikut tertawa.
Hidupku terasa lebih berarti bersamanya atau kesetiaanku sedang diuji? entahlah yang jelas pernikahan kedua ku ini istri pertamakulah yang menginginkannya mungkin ini cara Tuhan untuk ku bisa mendapatkan seorang anak.
pov end
Angel menyeka air matanya yang keluar saat ia tertawa begitu juga Rio. Rio tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.
"Lucu dari mananya coba?"
Rio mencopot jepit rambut yang ada dikepalanya lalu dipindahkan kerambut kepala Angel.
"Nah, ini baru bener"
cup
Setelah memasang jepit rambut itu Rio langsung mengecup sekilas pipi merona Angel.
"Aku lapar, ayo makan!" ajak Angel yang diangguki Rio.
Rio langsung menggandeng tangan Angel setelah membayar jepit rambut yang Angel mau.
...
17:30
Angin sore berhembus lembut. Cahaya jingga menghiasi langit berpadu dengan birunya laut yang terbentang luas, sungguh kesempurnaan lukisan alam yang sangat indah.
Angel memandang ombak yang menggulung membentur karang. Angel bukan ingin menjadi seperti ombak namun Angel ingin seperti karang yang kokoh dan sangat kuat walaupun ombak ganas yang menerjang berkali-kali namun karang tetap kokoh berdiri, Angel ingin seperti itu tetap tegar walau cobaan hidup silir berganti.
"Sayang"
Pelukan dari belakang membuat Angel tersenyum. Rio sangat tahu apa yang ia butuhkan sekarang, sebuah pelukan yang menghangatkan.
"Aku boleh nanya sesuatu?" ucap Rio berbisik tepat ditelinga Angel.
"Boleh, memangnya kamu mau nanya apa?"
"Mantan kamu ada berapa?"
"Atau kamu sudah punya pacar?" sambung Rio lagi. Angel tersenyum miring rasanya dirinya ingin membalas kejahilan Rio dan membuat Rio kesal kepadanya.
"Emmm, aku lupa ada berapa"
"Pasti mereka nggak tahan sama kamu yang suka ngambek yah?" ucap Rio memulai ngenderang perang.
"Siapa bilang, mantanku itu ganteng, pengertian dan aku sangat mencintanya"
"Oh ya? lantas kenapa kamu putus dengnnya?" suara Rio terdengar biasa-biasa saja tapi Angel merasa dekapan Rio semakain erat.
"Apa kamu masih berhubungan dengannya?" sambung Rio lagi.
"Kenapa kamu jadi Kepo seperti ini?"
"Jawab sekarang"
"Nggak mau"
"El!"
"Apa?"
"Jawab!"
Rio terus memaksa Angel untuk menjawab pertanyaannya. Rio merasa hatinya tak tenang dan seperti ada bara api yang muncul didalamnya.
"Aku tadi hanya bercanda"
"Jangan bohong! udah jawab saja! aku tidak akan marah!"
Angel melepas dekapan Rio dan berbalik menghadap Rio. Rio menatap kedua mata Angel dengan dalam seakan meminta kejujuran.
Tangan kanan Angel menyusuiri pipi kiri Rio. Sentuhan dari tangan halus Angel membut Rio merasa tenang.
"Aku tidak pernah mencintai seseorang sebelumnya hanya kamu lah yang pertama aku cintai dan akan selamanya ada didalam hatiku, camkan itu"
Ucap Angel dengan penuh penekanan dan keyakinan. Perlahan Angel mendekatkan wajahnya ke wajah Rio ya walau Angel harus berjinjit.
"I love you"
ucap Angel sekilas lalu mengecup bibir Rio, Rio pun membalas kiss Angel dan memeluknya dengan erat. Cahaya matahari terbenam menambah keromantisan sepasang insan ini seakan menjadi saksi cinta mereka.
....
Penginapan /kamar
Rio merangkul bahu Angel dan keduanya nampak begitu senangnya.
"Dua hari lagi kita pulang?"
"Kenapa? apa kamu ingin tinggal lebih lama lagi?"
"Iya, tapi pastinya kamu sibuk"
"Maaf yah"
Rio mengacak-acak puncak kepala Angel.
"Ngga apa-apa"
"Kamu masuk duluan gih!"
Suruh Rio saat sudah sampai didepan kamar. Angel mengangguk dan langsung membuka pintu dan.
"I..i..iini?"
Angel langsung menoleh kearah Rio yang berada dibelakannya.
"Ayo masuk!"
Rio menggandeng tangan Angel kedalam kamar yang sudah dihias sedemikian rupa bahkan Angel pangling dengan tempat ini.
Aroma wangi bunga menusuk hidung dan indahnya memanjakan mata. Ruangan ini penuh dengan bunga yang ditaruh dipenjuru kamar hingga kasur yang bertaburan kelopak mawar merah namun yang menarik perhatian Angel adalah gaun pink yang berada diatas kasur.
"Ini semua untuk kamu"
"Makasih!"
Angel langsung memeluk Rio dengan erat, Rio pun membalas pelukan Angel.
"Sama-sama, sekarang kamu pakai gaunnya" Rio melepas pelukannya begitu juga dengan Angel. Rio mengambil gaun yang diatas tempat tidur dan diberikannya kepada Angel.
"Sanah ganti"
Suruh Rio. Angel pun mengangguk lantas berjalan kearah kamar mandi.
....
Angel keluar dari kamar mandi dengan gaun memakai gaun pemberian Rio dan sangat cocok ditubuh Angel.
Rio melihat Angel dari atas kebawah. Angel mengeryitkan keningnya saat ditatap seperti itu oleh Rio.
"Jelek yah?"
"Kamu cantik, ayo pasti kamu lapar"
Rio menuntun Angel keluar kamar. Angel tidak hentinya berdecak kagum, Rio benar-benar membuatnya bahagia.
Didepannya sekarang terdapat meja yang berhias lilin ditengahnya dan juga beberapa piring makanan yang telah tersajai. Sungguh sangat romantis. Makan malam ditengah keindahan suasana pantai bertemani taburan bintang. Angel masih tidak percaya ini semua ia dapatkan dari seorang yang baru ia kenal dan sekarang menjadi suaminya.
"Yang semua ini?"
"Buat kamu"
Rio tersenyum lalu menyeka air mata Angel dengan penuh kasih sayang.
"Kamu ini! dasar cengeng"
Angel tersenyum lalu menghapus air matanya.
"Makasih"
"Ini sudah jadi kewajibanku, ayo makan"
Rio menyered kursi yang akan diduduki Angel.
"Silakan duduk Ratuku"
"Apa sih" Angel tersipu malu. Dirinya pun lalu duduk dikursi. Rio berjalan ke kursi satunya.
Mereka duduk berhadapan. Rio tidak henti-hentinya menggumbar senyuman manis dibibirnya, senyuman yang membuat jantung Angel berdetak lebih kencang.
"Aku suapin"
"Hah?"
Rio langsung menyendokan pasta ke arah Angel. Angel tersenyum sekilas dan langsung melahap pasta itu.
Rio menghapus noda ditepi bibir Angel dengan ibu jarinya. Diperlakukan seperti ini oleh Rio membut Angel merasa melayang sekaligus merasa menjadi perempuan yang sangat beruntung didunia ini.
"Sekarang gantian kamu"
Angel menyuapi Rio dan mereka saling suap sampai makanan dimeja ini habis. Hanya pembicaraan ringan yang menghangatakan suasana dan terkadang diselipi tawa keduanya.
"Aku punya sesuatu untuk mu, bentar yah"
Rio langsung beranjak dari duduknya menuju kedalam kamar. Angel hanya mengendikan bahunya.
Rio kembali dengan membawa dua kotak yang satu berukuran kecil dan satu berukuran sedang. Diletakannya kedua kotak itu diatas meja.
"Itu apa?"
"Pilih salah satu, terserah mau yang mana"
Angel tahu apa yang ia pilih. Angel menatap Rio. Rio tersenyum sembari mengangguk.
"Terserah aku kan?" tanya Angel memastikan.
"Iya"
Angel lansung memilih kotak yang berukuran kecil dan membuat Rio heran padahal kotak yang satunya lebih besar kenapa Angel tidak menggambil kotak itu.
"Kenapa pilih yang kecil? kenapa ngga yang sedang?"
"Katanya terserah aku" ucap Angel dengan nada yang tak enak didengar.
Rio terkekeh pelan. Rio langsung membuka kedua kotak itu tapi tidak menghadap Angel. Entah kenapa Angel menjadi penasaran terlebih melihat Rio yang seperti itu.
Rio melihat Angel lalu membalikan kedua kotak itu kehadapan Angel. Angel terkejut melihat apa yang ada didalam kotak itu. Dikotak kecil terdapat jepit rambut yang sangat indah dan satunya berisi kalung yang sangat indah, keduanya bertatakan berlian yang sangat berkilauan.
"Kamu boleh merubahnya"
"Aku mau yang itu!"
Angel menunjuk jepit rambut, kotak pilihanya. Rio menggelengkan kepalanya, ia heran Angel masih memilih kotak kecil padahal dia sudah tahu kedua isinya harusnya Angel memikih kalung itu.
"Kenapa ngga kalung?" tanya Rio heran.
"Abisnya lucu, kupu-kupu"
"Kamu ini"
Rio mendorong kedua kotak itu kearah Angel.
"Kamu boleh memiliki keduanya, buat kamu semua"
"Ihh.. tadi disuruh milih! kalau mau ngasih semua ngga usah seperti itu!" protes Angel, sekarang pipi Angel menggembung bak balon.
"Kamu kesal?"
"Iya"
"Maafkan aku,sayang ku"
Rio berdiri dari duduknya menghampiri Angel. Rio ingin memakaikan pemberiannya.
"Aku pakaikan yah?"
"Cuma jepitnya saja"
"Kenapa?"
"Kamu mau aku jadi buruan penjahat"
Angel takut keselamatannya terancam karena memakai kalung yang sangat mencolok ini.
....
Dinginnya malam ini tak dirasa oleh sepasang insan yang dimabuk kasmaran.
Angel dan Rio tengah berbaring disofa yang cukup luas untuk dibilang sofa mungkin ini tempat tidur diluar ruangan.
Tangan kiri Rio dijadikan bantal untuk kepala Angel. Mereka berdua melihat kelangit yang sangat indah dengan taburan bintang walau sang rembulan nampak malu-malu menampakan dirinya.
Angel menoleh kearah Rio. Senyumnya merekah saat melihat wajah Rio. Wajah yang tenang dan penuh kharismatik yang belum pernah Angel lihat sebelumnya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Setelah berucap Rio langsung menoleh kearah Angel. Angel tidak menjawab ia langsung memalingkan tatapannya kelangit.
"Kamu ini"
Rio ikut melihat kearah langit dan tak disangka-sangka sebuh bintang jatuh melintas dicakrawala.
"Bintang jatuh" lirih mereka berdua bersamaan. Mereka sama-sama memejamkan matanya untuk mengucapkan permohonan.
"Minta permohonan apa?" tanya Rio langsung saat menoleh kearah Angel. Angel membuka kelopak matanya lalu melirik kearah Rio.
"Aku minta kamu nggak nyebelin lagi" ucap Angel dengan nada polosnya dan berhasil membuat Rio mendengus kesal.
"Dasar kamu ini, aku meminta agar kamu cepat hamil!"
Setelah berucap Rio langsung memiringkan tubuhnya dan tangan kanannya mendekap tubuh Angel.
"Kalau dingin pindah kedalam! aku bukan guling!" protes Angel yang merasakan beratnya tangan Rio.
"Kamu itu guling kurus banget sih! aku kerja siang malam kamunya kurus gini!"
"Jangan mulai membuatku kesal!"
"Memang kenyataan!"
"Ini bukan kurus!"
"Terus apa? langsing apa cungkring?"
Rio benar-benar ingin kena omel Angel. Angel mengerutkan dagunya sedangkan tangannya memulai keusilan.
"Aww"
Rio mengaduh saat merasakan cubitan yang menyakitkan dari Angel.
"Siapa suruh nyebelin!"
"Kan yang nyebelin yang ngagenin"
Bisik Rio tepat diteling Angel.
Angel memiringkan tubuhnya. Angel membenamkan wajahnya didada Rio. Rio semakin erat mendekap Angel berharap dekapannya ini dapat menghangatkan Angel.
Hangat, nyaman dan aman ini terasa nyata Angel rasakan. Dekapan yang menenangkan ini membuat Angel terus berada didekapan Rio, mendengar setiap irama detak jantung Rio yang terdengar seperti nada yang menenangkan.
"El kamu tahu, kamu itu lebih dari yang aku harapan"
"Maksudnya?"
"Kamu memberikan apa yang Sena tidak berikan kepadaku"
Saat Rio mengucap nama Sena membuat dada Angel terasa sesak apa ini rasanya cemburu saat orang yang dicintai menyebut nama orang lain.
"Apa?"
Angel berusaha sebiasa mungkin karena dia sadar dicinta ini dirinya lah pendatang baru yang harus mengalah disituasi apapun.
"Perhatian dan kamu selalu tahu apa yang aku mau"
"Tapi aku cengeng, suka ngambekan pasti kamu cuma bohong"
Angel menggigit bibir bawahnya sembari berdoa kalau kenyataan tidak seperti yang telah ia katakan.
"Sifat kamu yang ngambekan itu lah yang selalu membuat ku rindu"
"Maksud kamu apa?" Angel langsung mendongak keatas. Menatap wajah Rio yang sangat tampan.
"Aku jadi ngemas dan ingin terus membuatmu kesal agar aku bisa mencubit pipi mu itu"
Angel yang tidak terima langsung memukul dada Rio.
"Tuh kan pipi kamu ngembung kalau kamu kesal" ledek Rio lagi.
"Iihhh nyebelin!"
Angel menjauhkan tubuhnya dari Rio. Angel bangkit dari sofa dan berjalan kedalam kamar dengan dagu yang mengkerut.
"Dasar bocah!"
Rio lansung bergegas menyusul Angel.
"Jangan marah dong aku kan cuma bercanda"
Angel terus berjalan tanpa merespon ucapa Rio.
"Kok gitu? jangan ngambek"
Rio langsung memeluk Angel dari belakang. Dagu Rio disandarkan dibahu Angel.
"Ngambek?"
Angel tidak sepenuhnya ngambek hanya saja ingin mengusili si tukang usil ini.
"Kok diem? jawab dong"
"Kamu pikir saja sendiri!"
Mendengar jawaban Angel yang seperti itu berarti Angel benar-benar ngambek kepadanya.
"Ya ampun kamu beneran ngambek? kamu baperan banget sih? pasti kamu sering nonton drakor yah?"
Angel melepas tangan Rio yang melingkar diperutnya lalu berjalan kearah kasur. Angel duduk dipinggir kasur.
"Kak"
"Iya" Rio berjalan menghampiri Angel.
"Kalau nantinya kak Sena pulang apa kak Rio ada waktu untukku?"
Rio tersenyum dan langsung mengecup kening Angel.
"Pastinya ada, aku sudah bilangkan akan berusaha adil"
"Kalau nantinya aku sudah melahikan anak untukmu apa aku boleh bersamanya dan perjanjia itu apa akan berakhir?"
"...."
....***...***