Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 46 Angel sakit



"... suamiku?"


"Bukan"


...


15:00Rumah Amanda Riko


Amanda sedang melakukan panggilan video dengan Rio dan Sena sebelum mereka berangkat kebandara.


"Ri, jaga istri kamu itu"


"Pasti, Ma. Mama juga harus jaga diri dan tidak usah memikirkan kami" ucap Rio yang tahu pasti Amanda akan terpikirkan terus dengan keadaannya selama diBali


"Tidak, kalian juga sedang bersenag-senang. Jangan lama-lama diBali!"


"Engga kok, Ma" ucap Rio dengan nada pasti membuat Amanda lega.


"Ma, nanti Sena belikan oleh-oleh yang banyak buat mama" ucap Sena dengan antusiasnya.


"Kamu pulang dengan keadaan sehat itu sudah sangat cukup"


Amanda merasa senang saat melihat senyumana Sena dan juga Rio namu dari kejauhan ada seorang yang sangat sedih melihat kebahagiaan mereka.


Angel menghapus air matanya lalu beranjak dari tempatnya berdiri.


"Jadi mereka ke Bali"


Angel terdiam sembari mengelus perutnya dan janin diperutnya sedang akfiv bergerak seakan mencari sosok yang sangat ia rindukan yaitu Rio.



...


Meja makan 18:30


Arfan yang baru pulang berkerja langsung menuju meja makan sedangkan Riko memilih untuk mandi.


"Ma"


"Papa kamu pulang?"


"Tadi bareng Arfan"


"Oh"


Arfan mencari keberadaan Angel, biasanya Angel sudah duduk manis disini atau pun membantu Amanda.


"Angel mana?"


"Mungkin dia tidur, bangunin sana"


"Oke"


Arfan langsung berjalan menuju kamar Angel. Entah kenapa Arfan merasa khawatir dengan Angel.


Kamar Angel


"El?"


Karena tidak ada jawaban dari Angel, Arfan pun memasuki kamar Angel. Kamar Angel gelap mungkin Angel sudah tidur dari sore. Arfan menyalakan lampu kamar Angel


"El, kamu dimana? Ayo makan!"


Arfan menuju ketempat tidur Angel dan melihat yang dicari sedang terlelap dibalik selimut.


"Kamu ini, ayo bangun"


Arfan langsung meraih tangan Angel namun Arfan merasa ada yang salah. Pergelangan tangan Angel hangat. Arfan langsung melepas genggamanya lalu menyentuh kening Angel.


"Nih bocah demam?"


Arfan panik saat mengetahui Angel demam terlebih Angel sedang hamil. Arfan buru-buru menemui Amanda.


Wajah Angel terlihat sangat pucat dengan keringat dingin diplipisnya.


"Rio" lirih Angel dengan mata yang masih menutup. Angel sangat merindukan Rio hingga dirinya sakit seperti ini. Andai dirinya masih punya ponsel pastinya akan mudah untuk menghubungi Rio.


...


Meja makan.


Arfan langsung memberitahukan keadaan Angel ke Amanda dan Riko, terlihat Amanda terkejut sekaligus cemas.


"Apa? Angel sakit"


Amanda langsung bergegas menuju kamar Angel bengitu juga dengan Riko dan Arfan. Mereka sudah menganggap Angel keluarganya sendiri dan saat seperti ini mereka pun cemas.


Amanda tengah membangunkan Angel. Angel terbangun dan merasa kepalanya sakit.


"Ma"


"Kamu demam, ke dokter yah? mama khawatir"


Angel menggeleng pelan dia tidak mau merepotkan keluarga ini lagi. Riko menghapiri Angel lalu mengelus kepala Angel.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau kedoter tapi kamu harus makan dan minum obat penurun demam"


Tanpa disuruh Arfan langsung pergi mengambil obat dan makanan untuk Angel.


"Tuh, Om Arfan cemas sama kamu" ucap Amada sembari mengelus perut Angel. Amanda khawatir dengan keadaan janin diperut Angel.


"El ngga apa-apa kok, Ma"


"Iya kita tahu tapi kita khawatir kondisi kamu sekarang terlebih kamu itu sedang hamil"


Arfan kembali dengan nampan yang diatasnya terdapat makanan dan juga obat.


"Mau disupain sama Mama apa sama aku?"


"Ya sama mama lah! Ogah banget disupain kamu!"


Arfan mendelik, dengan kondisi seperti ini Angel masih bisa menyeramkan, sedangkan Amanda dan Riko menahan tawa mereka.


"Dasar bocil!" kesal Arfan. Amada mengelengkan kepalanya.


Amanda menghela napas karena Angel hanya makan sedikit walau pun sudah dibujuk. Riko dan Arfan sudah pergi dari tadi. Angel merasa tidak enak kepada Amanda dan keluarga ini sebab dirinya hanya menumpang disini.


"Satu suapan lagi"


"Ngga, ma. Sudah kenyang, Maaf aku selalu merepotknamu"


"Tidak sayang, Mama malah senang. Mama merasa mengurus anak mama sendiri.. Ayo sinih"


Amanda memeluk Angel dengan penuh kehangatan seorang ibu.


21:00


Arfan dan Riko tengah berbincang dan intinya Arfan meminta ijin keRiko untuk merawat Angel.


"Pa, aku mohon"


"Kamu tahu batasanmu?"


"Iya Pa, aku tahu. Aku hanya ingin menjaga Angel seperti adikku sendiri terlebih Angel pasti merasa sendirian disini, bi Inda kan tidak selalu menemaninya"


"Iya sudah kalau begitu"


Amanda datang menghampiri keduanya dengan wajah penuh kecemasan.


"Angel?"


"Dia tidur, Fan. Kamu jagain gih, mama mau siapin keperluan papamu buat dibawa ke Malang"


"Huuh Papa, ngerepotin mama terus pantesan Arfan ngga punya adek"


"Maksud kamu apa? bilang seperti itu sama orang tua?" Riko merasa anaknya ini selalu saja seperti anak kecil dan usianya kini tidak lah pantas untuk bermain bersama adik tapi anaknya sendiri


"Sudahlah, jangan dibahas!"


"Tuh.. Papa yang sensi"


Arfan menjunjuk Riko dengan dagunya dan berbalas tatapan tak enak dari Riko. Arfan yang selalu bisa membuat orang kesal ingin sekali mengusili Riko sebelum Riko berangkat keMalang.


"Arfan" ucap Riko dengan geramnya. Arfan hanya melihatkan deretan giginya lalu melarikan diri sebelum Riko benar-benar marah.


"Dasar anak itu!"


"Sudah, kamu tahu sendiri dia seperti apa"


"Kamu tahu tapi kenapa kamu tidak mau? satu anak lagi aku mohon, yah?"


Amanda menatap datar Riko. Tanpa berkata apa-apa Amanda langsung meninggalkan Riko. Riko tersenyum tipis, sifat Riko yang sebelas duabelas dengan Arfan membut Riko selalu punya ide jahil untuk menjahili Amanda.


"Nambah satu lagi masa ngga boleh?"


Riko langsung menyusul Amanda kekamar. Amanda tengah merapikan baju Riko kekoper dengan mulut yang ngedumel tidak jelas.


"... dasar orang itu! nambah satu lagi? mengurus bayi besar juga udah ribet masan nambah yang kecil!"


Bayi besar yang dimaksud Amanda adalah kedua putranya dan suaminya. Amanda merasakan kehadiran Riko, ia merasa Riko akan kembali meminta agar Arfan punya adik.


"Aku tidak mau punya anak lagi" ucap Amanda langsung sebelum Riko berucap.


"Yah, kamu ini"


"Aku sudah tua dan aku capek mengurusimu jadi tidak mungkin ada bayi lagi! masa menantuku hamil, aku juga ikutan hamil? kan ngga lucu!"


Perkataan Amanda malah membuat wajah Riko berseri-seri seakan mendapat pencerahan dari surga.


"Wah ide bagus sayang, ayo bikin dedek" sejurus kemudian lemparan baju dari Amanda mendarat tepat diwajah Riko. Riko mengerutkan dagunya, istrinya ini sudah tidak memanjakannya lagi setelah Sena hamil dan sekarang ada Angel yang butuh perhatian, Amanda lebih mementingkan keduanya ya walau pun Riko sebenarnya sangat diurus hanya saja Riko ingin Istrinya ini memperhatikannya lebih sebelum dirinya pergi keMalang tiga hari kedepan.


"Ngga sekalian satu lemari kamu lempar keaku?" ucap Riko dengan nada tak enak didengar.


"Maunya sih gitu tapi malas beresin lagi" Riko mendelik mendengar ucapan Amanda. Riko langsung menghampiri Amanda yang tengah memilih baju dilemari.


"Jangan mengganguku kalau tidak mau membantu... kamu ini!" kesal Amanda yang dapat pelukan dari belakang. Riko memeluk Amanda dengan eratnya.


"Ikut keMalang yah? kita bulan madu yang kesekian kalinya" ajak Riko yang menyadari akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga waktu bersama Amanda hanya sedikit.


"Oh..jadi kamu iri dengan Rio?"


"Ayolah sayang, Angel juga ada bibinya kan?"


Amanda menghela napas lalu melepas pelukan Riko lalu berbalik menatap Riko.


"Aku cuma tidak mau menggangumu berkerja"


Cup


Amanda mengecup tepat dibibir Riko. Riko ingin sekali Amanda ikut dengannya, menundukan kepalanya. Amanda tahu Riko sangat kecewa.


"Kamu marah?" tanya Amanda saat Riko berjalan kearah tempat tidur.


"Iya" ucap Riko yang sudah duduk ditepi kasur. Amanda yang merasa tidak enak lalu menghampiri Riko. Amanda tersenyum tipis saat Riko memalingkan wajahnya seakan tidak mau melihatnya.


"Sayang kok gitu sih?"


Riko tidak merespon Amanda. Amanda terkekeh lalu duduk dipangkuan Riko.


"Ck" Riko berdecak, dirinya hanya ingin Amanda ikut dengannya.


"Hey"


"Apa?"


Riko menatap Amanda dengan tatapan sebal. Amanda tersenyum lalu mengalungkan kedua tangannya dileher Riko. Riko mengerutkan keningnya.


"Mau hadiah ngga?" tawar Amanda.


"Kamu hadiahnya!" kesal Riko lalu mengecup bibir Amanda.


"Bukan aku! aku belikan kamu jam tangan"


"Ck, nggak mau! maunya kamu"


"Ihhh ngga!"


Riko langsung membopong tubuh Amada lalu membaringkannya dikasur.


"Riko!" kesal Amanda. Riko tidak menggubris Amanda, dia malah membuka kancing bajunya.


"Kamu mau apa?"


"Buat dedek!" jawab Riko santai membuat Amanda mendengus kesal. Sebagai istri, Amanda harus melayani suami walau pun dia tidak mau toh Amanda sendiri sudah KB jadi kemungkinan hamil hanya sedikit.


"Aku KB"


"Oh.. jadi ngga masalahkan?"


"Bilang saja kamu mau jadi tidak membuatku kesal"


Riko hanya nyengir kuda lalu perlahan naik ketempat tidur. Saat Riko ingin mendekatkan tubuhnya keAmanda terdengar suara gagang pintu yang dibuka seseorang, buru-buru Riko menjauh dan begitu juga Amanda yang memposisikan tubuhnya duduk lalu membenarkan rambutnya.


Riko berdecak kesal saat mengetahui orang yang menghancurkan suasana itu Arfan.


"Kita bawa El kerumah sakit saja yah?"


"Demamnya belum turun?"


"Belum, Ma"


"Iya, kamu paksa saja kalau dia tidak mau"


"El, masih tidur"


"Jangan dibangunin, langsung bawa kerumah sakit" suruh Riko yang takut nantinya Angel akan menolak.


Arfan mengangguk lalu pergi. Amanda yang cemas turun dari kasur ingin menyusul Arfan.


"Mau kemana?"


"Ikut kerumah sakit"


"Loh, ngga jadi nih?" ucap Riko dengan nada kecewa.


"Nanti saja"


"Janji!"


"Ih kamu yah! iya aku janji!" mendengar jawaban Amanda, Riko pun tersenyum senang lalu mengikuti Amanda.


....


Kamar rawat Angel 02:00


Angel terbangun dari tidurnya. Matanya langsung melihat TV LED dan aroma obat-obatan ini mengingatkanya pada.


"Aku dirumah sakit?" bingung Angel padahal seingatnya dia tertidur dikamarnya. Angel menoleh kesamping dan melihat Arfan yang tengah sibuk dengan ponselnya.


"Arfan" panggil Angel dengan nada lemas. Arfan yang merasa ada yang memanggilnya lalu melihat kearah pembaringan Angel.


"El?" Arfan lega akhirnya Angel terbangun. Arfan langsung menghampiri Angel untuk menanyakan keadaannya.


"Kenapa aku disini? janinku" Angel langsung mengelus perutnya.


"Kamu demam tapi Janinnya tidak apa-apa tadi dokter bilang kamu ngga boleh banyak pikiran"


"Syukurlah, maaf aku merepotkanmu"


"Tidak apa-apa, mulai sekarang aku akan jagain kamu"


"Apa? ngga usah" tolak Angel langsung.


"Aku memaksa, lagian siapa yang jagain kamu? suami kamu ngga perduli tuh, apa kamu tidak pernah menyuruhnya pulang?"


"Aku tidak berhak untuk itu"


"Hah? kamu kan istrinya?"


"Entahlah, mungkin aku tidak berarti untuknya" Air mata Angel mengalir begitu saja membuat Arfan merasa tidak enak telah menanyakan hal itu. Kecupan hangat dari Arfan mendarat dikening Angel, berharap ini bisa menenangkannya.


"Makasih"


"Sekarang kamu makan yah?"


"Aku mau roti cokelat"


"Kamu ngidam yah? ya sudah aku belikan toh kantin rumah sakit masih buka"


"Sayang, om Arfan sayang banget sama kamu" ucap Angel sembari mengelus perutnya. Arfan yang gemas langsung mengecup perut Angel.


"Ya sudah aku berangkat sekarang"


"Aku boleh pinjam ponsel mu? aku bosan"


"Nih"


Setelah Arfan pergi, Angel langsung membuka kontak telefon Arfan. Angel ingin menelfon Rio.


Angel tersenyum saat Rio menganggkat telefonya.


"Fan, aku titip Angel sama kamu. Aku diBali satu bulan"


"Kak Rio" panggil Angel dengan nada ragu-ragu.


"Kamu! kenapa ponsel Arfan sama kamu?" terdengar suara Rio yang tidak suka mendengar suara Angel.


"Aku pinjam kan poselku kamu hancurin"


"Ck! jangan mengganguku!"


"Kenapa? aku istrimu"


"Aku sudah mengambil keputusan, aku akan menceraikanmu setelah anak itu lahir. Semua berakhir seperti perjanjian itu"


"Tapi kamu sudah janji"


"Aku tidak mau kehilangan orang yang berarti dihidupku, kamu hanya orang asing yang Sena inginkan untuk jadi rahim penganti jadi jangan bermimpi untuk mengantikan posisinya"


Rio langsung memutus sambungan teleponnya. Angel menghapus air mata yang mengalir dipipinya.


"Harusnya aku tahu ini yang akan terjadi"


Angel menatap langit-langit ruangan ini. Rasanya sesak tapi membuatnya tersadar bahwa dirinya hanya boneka yang Rio mainkan saat Sena tidak memperhatikannya.


"Aku benci kamu, Ri"


...


Sudah mau tengah malam tapi Amanda belum juga tidur. Dirinya masih melihat foto USG janinnya Angel dan sangat membahagiakannya lagi dirinya akan mendapat cucu laki-laki.


"Lucunya"



"Kamu sedang apa?"


Riko langsung duduk disamping Amanda. Jujur Riko ingin tahu apa yang membuat Amanda begitu senang.


"Ini, lucu banget! dia senyum"


Amanda menunjukan foto itu keRiko. Riko turut merasa senang melihatnya.


"El pulang kapan?"


"Besok, semoga Arfan bisa jagain El"


"Ya pastinya bisa dan sepertinya aku tidak jadi keMalang"


"Loh? kenapa?"


"Haahhh entah lah, aku suruh saja orang kantor yang ngurus"


"Katanya penting atau?"


Amanda memandang Riko penuh curiga.


"Aku khawatir saja dengan keadaan dirumah ini"


"Kamu tidak percaya Arfan bisa menjaga batasannya?"


"Iya"


"Kalau kemungkinan terburuk terjadi ya kita nikahkan saja mereka, terlebih suami Angel itu tidak bertanggung jawab! istri sedang hamil tidak diurusi cuma mau enaknya saja!"


"Dih? kok kamu yang marah sih?"


"Nyebelin kamu!" Amanda langsung beranjak dari tempat duduk. Riko tahu perkataan Amanda juga menyindirnya namun Riko ingin sekali membuat Amanda semaki kesal.


"Sayang, sampai pagi yah"


"Apaan sih!" ucap Amanda dari balik selimut. Riko berjalan menghampiri tempat tidur.


"Udah janji loh!"


"Tidur!"


"Ih sayang udah ngga tahan nih!"


"Mau tidur diluar! cepat tidur!"


"Iya" ucap Riko sembari menahan tawa.


...


Vila Rio dan Sena 03:00. Bali


Sena membuka matanya. Dirinya terkejut melihat Rio yang tidak berada disampingnya.


"Ri?" Sena melihat kearah sofa dan mendapati Rio yang tengah melamun.


Sena turun dari tempat tidur menghampiri Rio.


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa"


"Kamu ini, kita kesini untuk berlibur tapi kamu malah seperti ini"


"Maaf"


"Aku tidak butuh maaf mu, sekarang karena aku sudah bangun dan kamu juga banyak pikir seperti itu mungkin kita" Sena menggantungkan ucapanya lalu duduk dipangkuan Rio.


"Kamu mikirin Angel yah?" sambung Sena dengan nada kecewa. Sena hanya ingin Rio melupakan Angel untuk kali ini saja.


"Aku tidak bisa berbohong, aku khawatir dengan Angel"


"Sudah aku duga, tapi aku akan membuatmu fokus kepadaku"


"Caranya?"


"Ummm" Sena nampak berpikir namun Sena merasa Rio melingkarkan tangannya dipinggangnya.


"Apa kamu akan hamil setelah ini?"


"Aku ingin tapi" Sena terpikirkan dengan sandiwara yang ia mainkan selama ini dan ini membuatnya khawatir.


"Aku tahu semunya akan berantakankan? tapi aku hanya ingin anak yang lahir dari rahimu"


"Tapi?"


"Aku akan atur semuanya"


"Baiklah kalau itu maumu, sayang ku"


...


Pagi yang cerah dipantai Kuta, Bali sangat menyejukan. Sena tengah merentangkan kedua tangannya seakan menyambut sinar mentari dan sepoi angin membelai wajahnya.


"Segitu senangnya kamu"


Sena berbalik lalu tersenyum kearah Rio. Rio menghampiri Sena lalu memeluknya dari belakang.


"Kita jalan-jalan yuk"


"Kemana?"


"Cari oleh-oleh buat mama"


"Kita pulangnya kan masih lama"


"Kita kirim saja langsung"


"Oke"


Sena dan Rio bergandengan tangan menuju pasar tradisional yang menjual cindaramata khas daerah ini.


...


Rumah sakit/ ruang rawat Angel. 06:30


Angel tersenyum senang saat Amanda datang menjenguknya dan juga membawakannya bubur ayam yang memang ingin sekali dirinya memakannya. Rencananya Angel ingin meminta tolong keArfan saat dia terbangun nanti.


Riko menatap datar Arfan yang berbaring disofa dengan mata yang tertutup. Riko heran sebab Arfan berkata akan menjaga Angel tapi nyatanya dia malah masih tertidur padahal Angel sudah bangun.


"El"


"Iya"


"Katanya nih orang mau jagain kamu tapi malah masih tidur"


"Arfan ngga tidur semalaman, Pa"


Riko hanya membulatkan bibirnya. Amanda sangat senang sebab Angel makannya lahap tidak seperti semalam.


Arfan yang mendengar kebisingan membuka matanya karena terganggu. Dirinya terkejut melihat Riko yang belum berangkat keMalang.


"Papa ngga jadi pergi?" pertanyaan Arfan membuat ketiga orang ini melihat kearahnya.


"Apa?" tanya Arfan bingung seakan dirinya telah melakukan kejahatan.


"Tidak ada" jawab Amanda.


"Papa nggak jadi pergi?"


"Tidak"


...09:30


Diruangan ini hanya Angel dan Arfan yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Atsmosfer ruangan ini seakan membuat canggung keduanya. Arfan merasa tersiksa dengan suasana ini, dirinya ingin memulai pembicaraan dengan Angel tapi dirinya bingung memulai dengan topik apa.


Arfan menghela napas, suara helaan napas Arfan terdengar ditelinga Angel membuatnya menoleh kearah Arfan.


"Kamu kenapa?"


"Bosan"


"Ya sudah kamu boleh pergi"


"Kamu?"


"Aku bisa jaga diri" ucap Angel dengan penuh keyakinan tapi Arfan tidak tega meninggalkan Angel sendirian namun ini Angel yang memintanya untuk pergi.


Arfan memutar otak untuk mencari ide supaya Angel melarangnya pergi.


"Oh ya? nanti kalau ada hantu gimana?"


Angel terdiam beribu bahasa. Perkataan Arfan membuatnya taku namun dirinya memberanikan diri toh ini juga sudah siang.


"Mana ada hantu disiang bolong begini?"


"Kamu ngga tahu yah? ini itu rumah sakit tahu"


"Terus?"


Arfan mendekati Angel dengan gelagat aneh. Arfan menoleh kekanan dan kiri membuat Angel mengeryitkan keningnya.


"Kitakan ngga kahu berapa orang yang meninggal diruangan ini"


"Iiihhhh Arfan! kamu membuatku takut!"


Mendadak ruangan menjadi dingin dan bulu kuduk Angel berdiri. Angel langsung meraih tangan kanan Arfan dan menggenggamnya erat. Arfan tahu kalau bumil ini ketakutan.


"Aku pergi sekarang"


"Jangan!" larang Angel langsung.


"Tadi disuruh pergi"


"Kamu sih nakut-nakuti aku"


"Aku cuma bercanda tadi"


"Ih tapi bercandanya ngga lucu! TEMANI AKU!" paksa Angel dan membuat Arfan tersenyum senang.


"Iya aku temani, sekarang lepas dong ntar suka loh"


"Ih!"


Angel melepas genggamannya lalu berdecak kesal. Angel sekarang tahu Arfan hanya menjahilinya saja.


"Rambut kamu berantakan, aku sisirin yah?" tawar Arfan dan hanya berbalas deheman dari Angel.


Arfan langsung meraih sisir dimeja lalu mulai menyisir rambut Angel dengan hati-hati


"Aku pulang kapan?"


"Nanti sore"


"Kenapa nggak sekarang saja?"


"Kamu masih lemas"


Angel hanya ber"O"ria padahal dirinya sudah sangat bosan berada disini.


"Kak Rio sedang apa yah diBali?"


Angel merasa rasa sakit didadanya kembali muncul saat mendengar nama Rio.


"Past dia sedang bersenang-senang sama Sena" Entah sengaja atau tidak yang jelas Arfan seakan memanas-manasi Angel.


"Ya tinggal kamu susul saja sanah!" suruh Angel dengan nada acuh, berusaha untuk menyembunyikan rasa cemburunya.


"Maunya, tapi nggaklah"


"Kenapa?"


"Belum ada pasangannya, kamu mau?"


"Ngga!" tolak Angel mentah-mentah membuat Arfan mengerutkan dagunya. Arfan masih asik memainkan rambut Angel yah walau wajahnya kusam seperti ini.


"Kenapa? aku kan ganteng, tajir dan aku belum punya pasangan"


"Tapi kamu ngga punya otak!"


"Waah...wah, ini bocah! kalau aku ngga punya otak mana mungkin aku kaya, aneh kamu ini"


"Bukan itu! masa iya kamu berbicara seperti itu kepadaku padahal aku ini sudah punya suami dan ini lihat" Angel menunjuk perut puncitnya.


"Ya nggak apa-apa, aku mau kok jadi Papanya"


"Nggak usah ngaco! buruan sisir lagi rambutku!"


"Iya lampir!"


"Namaku Angel bukan lampir!" kesal Angel dan entah kenapa janin dirahimnya ini seperti mendengarkan apa yang dirinya dan Arfan ucapkan.


"Iya...iya"


Drttt....drttt..


Tiba-tiba ponsel Arfan berdering dengan keras dan terpampang jelas nama Rio dilayar ponselnya.


"Kak Rio?"


Arfan buru-buru mengangkat panggilan telefon dan menyalakan pengeras suara diponselnya agar Angel mendengar apa yang Rio katakan.


"Halo, kakak. Kenapa?"


"Aku hanya mau memastikan kamu masih hidup"


Angel mengepalkan kedua tangannya saat mendengar suara Rio, rasa kesal didadanya muncul kembali namun janin dirahimnya malah bergerak aktiv mungkin janin ini mengira Rio ada didekatnya.


"Wah asem kamu kak" Arfan kesal dengan ucapan Rio barusan.


"Aku cuma bercanda"


"Mau beneran atau pun ngga aku tidak perduli, aku malah curga kamu mau sesuatu dariku"


"Itu baru adikku"


"Semprul! awas saja kamu kalau pulang aku jadikan perkedel"


Terdengar suara tawa Rio. Tawa tanpa beban yang membuat Angel muak. Angel tidak habis pikir ada orang sejahat Rio dimuka bumi ini, dengan teganya dia meninggalkan Angel dengan kondisi hamil dan tidak sedikitpun merasa bersalah.


"Ampun adikku, aku hanya memintamu untuk menjaga Angel selama aku disini"


"Telat! aku sudah menjaganya tanpa kamu minta"


"Oh ya baguslah"


"Kamu mau bicara dengan Angel?"


Angel langsung menoleh kearah Arfan lalu menggeleng. Angel sangat tidak mau berbicara dengan orang yang telah menghancurkan hatinya.


"Dia bersamamu?"


"Iya dia demam jadi aku bawa kerumah sakit"


"Apa? dia tidak apa-apakan? kapan pulang? janinnya tidak apa-apakan?" pertanyaan bertubi-tubi dari Rio membuat Arfan bingung menjawab yang mana dulu.


"Dua-duanya sehat, ada lagi?"


"Aku ingin berbicara dengan Angel"


Arfan melihat kearah Angel. Angel menggeleng menandakan kalau dirinya tidak mau berbicara dengan Rio.


"Orangnya tidak mau, memangnya mau bicara apa? bicara saja dipengeras suara kok"


"Apa? jadi dari tadi?"


"Iya"


"Kamu ini!" Rio terdengar sangat kesal. Arfan mengerutkan keningnya, ia tidak tahu kenapa Rio marah.


"Kamu kenapa sih kak? toh tadi cuma pembicaran biasa terus kenapa dipermasalahkan sih?" tanya Arfan heran toh memang benarkn tadi hanya pembicaraan yang ringan dan biasa, pembicaraan adik dan kakak bukan pembicaraan bisnis, kalau pun iya mana mungkin Angel paham.


"Ck, sudahlah jangan bahas lagi. Itu saja yang aku minta"


"Iya"


"Jaga mama sama Papa"


"Iya bawel, kakak juga jaga kesehatan. Jaga kak Sena"


"Iya, sudah dulu"


"Oke"


Rio memutus sambungan telefon. Arfan menoleh kearah Angel dengan sejuta pertanyaan mengapa Angel tidak mau berbicara dengan Rio. Angel yang merasa Arfan ingin menanyakan sesuatu kepadanya lalu berpura-pura menguap.


"Aku ngantuk" lirih Angel lalu mulai membaringkan tubunya. Posisi Angel miring membelakangi Arfan jadi Arfan tidak melihat air mata Angel.


"Mimipi yang indah, mimpiin aku yah?"


Walaupun Arfan berucap seperti ini namun Angel tidak menggubris sama sekali.


"Secepat itu tidurnya? dasar bumil"


Angel pov


Kenapa rasanya sesakit ini? aku ingin pergi dari sini tapi aku harus pergi kemana? Tuhan, aku sungguh lelah terus seperti ini. Aku ingin bahagia.


Tuhan aku mohon jangan pisahkan aku dengan anakku ini, aku tidak apa-apa walau tidak bersama Rio asal aku bersama anakku ini.


Apa nanti saat anak ini lahir semua ini berakhir? apa aku pantas dipanggil Ibu? apa aku sanggup jauh dari bayiku? apa aku bisa melupakan semua kenangan dan rasa sakit ini? Tuhan tolong jawab pertanyaan ku ini.


Aku sadar, aku sangat berdosa menjual anakku sendiri tapi engkau tahu alasannya. Aku terpaksa melakukan ini, dulu aku menganggap semua ini akan mudah tapi setelah semua yang telah terjadi aku merasa ini begitu sulit saat aku mulai mencintainya dan juga gerakan dirahimku ini, aku mencintai anakku.


pov end.


"El?"


...****....