Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 49 Kecemburuan Rio



"... nanti, sekarang aku ingin menjaga ini dulu" Arfan langsung mencium dengan gemas perut Angel membuat Angel harus menahan geli.


"Tuh kan El, Arfan khawatir dengan kondisimu"


"Iya, pasti beruntung sekali nanti istri kamu, Fan"


Arfan tidak menghiraukan ucapan Angel, dia lebih memilih bermain dengan malaikat kecil yang sedang menendang-nendang. Didalam hati Arfan berucap" Kamu istriku". Arfan ingin sekali mengungkapkan apa yang dirasanya namun ia tidak mungkin mengucapkannya saat kondisi Angel seperti ini, Arfan takut Angel kenapa-napa.


"Kamu sudah minum obat, El?"


"Belum Ma"


"Mama ambilkan"


"Makasih"


Arfan POV


Aku sangat senang melihat senyum manis Angel, semua yang aku lakukan ini semoga bisa menghilangkan rasa sakitnya. Aku tidak bisa percaya kakakku yang sangat aku banggakan tega menyakiti seorang perempuan yang sedang mengandung anaknya.


Aku bisa merasakan gerakan di telapak tanganku ini, aku mencintai janin ini seperti aku mencintai ibunya. Aku akan pastikan janin ini mendapatkan kasih sayang yang semestinya ia dapatkan.


"Fan, sepertinya dia sudah tidak sabar bermain denganmu"


"Oh ya, tapi kamu harus didalam sana dulu, nanti kalau sudah saatnya kita akan main bersama"


Aku mengecup perutnya lagi, entah kenapa aku ingin terus melakukannya. Eh? aku merasa Angel mengelus rambut kepalaku, aku tahu dia pasti merindukan Rio.


"FAN, CEPAT KESINI!"


Aku mendengus kesal, Mama selalu saja seperti itu, teriak-teriak tidak jelas.


POV END


...


Malam telah berlalu dengan cepatnya dan mentari dengan cerianya menyapa dengan hangatnya.


Arfan sudah siap dengan pakaian kantor, jujur dia tidak ingin pergi namun mau bagaimana lagi ini sudah tugasnya.


"Sudah semua, Semangat Fan!"


Arfan menyemangati dirinya sendiri. Riko dan Rio tidak di rumah jadi semua tanggungjawab ada pada pundaknya dan Arfan tidak mau kepercayaan Ayah dan Kakaknya kepadanya tercoreng.


Arfan langsung meraih kunci mobil dan dompetnya, ia harus bergegas pergi sebelum jalanan mulai macet dan Arfan benci macet.


Setelah menuruni tangga, Arfan langsung berjalan menuju pintu rumah dan sepertinya dia melupakan sesuatu. Angel yang berdiri didekat tangga menatap sedih kearah Arfan sebab Arfan tidak menyapanya terlebih dahulu, pasti janin didalam perutnya ini akan mencari Arfan.


"Arfan!" panggil Angel saat Arfan ingin membuka pintu. Arfan tersenyum tipis dia ternyata melupakan seseorang.


"Sayang, om Arfan tuh! pergi ngga bilang-bilang" kesal Angel sembari mengelus perutnya. Arfan langsung berbalik dan menghampiri Angel dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Duh, maaf yah"


Cup. Arfan mengecup perut Angel dan selalu membuat janin di rahim Angel senang, gerakkannya sangat bertenaga hingga perut Angel menimbul.


"Sayang, jangan keras-keras nendang nya. Kasihan mama tuh"


Arfan mengelus perut Angel dengan penuh kasih sayang dan membuat janin di rahim Angel tenang. Angel merasa janinnya mengira sentuhan ini dari Ayahnya.


"Dia ngga nendang lagi"


"Sepertinya anakmu itu akan jadi pemain sepak bola, masih dalam perut sudah seperti itu"


"Terserah dianya sajalah"


Arfan melihat kearah jam dinding, dirinya harus segera berangkat. Angel tahu Arfan harus segera berangkat kekantor walau dirinya tidak ingin Arfan pergi.


"Sayang, om Arfan mau berangkat kerja tuh"


"Kamu jangan nyariin, Om yah? nanti siang om pulang kok"


Setelah berpamitan Arfan langsung bergegas pergi. Saat melihat Arfan tergesah-gesah seperti itu membuat Angel teringat akan Rio.


"Angel, minum obat dulu!"


"Iya, ma"


....


12:00


Sesuai dengan yang dijanjikan Arfan pulang jam makan siang. Arfan terkejut melihat Angel dan perut buncitnya sedang rebahan di sofa sembari menonton TV.


"Kamu pulang ngga beli apa-apa dijalan?"


"Kamu kan ngga minta ya aku tidak beli"


"Dasar ngga peka"


Arfan langsung melotot saat mendengar kalimat itu dari bibir mungil Angel padahal kemarin-kemarin saat dirinya membeli makanan untuk Angel, Angel berkata " kalau aku ngga minta jangan dibeliin" dan Arfan menuruti kemauan Angel itu.


"Kamu sudah pulang"


"Mama mau kemana?"


"Mama ada urusan sebentar di luar, kamu mau balik lagi ke Kantor?"


"Ngga kok"


"Oh, kalau gitu Mama jadi tenang. Ada kamu di rumah" Amanda langsung mengarahkan pandangannya kearah Angel yang sedang bersantai ria.


"El, jangan kelamaan di sofa"


"Iya, Ma"


2 Minggu berlalu.


Angel menatap sebal Arfan. Hari ini hari cek up kandungan dan Arfan sangat protektif kepadanya. Ini semula berawal karena Angel keram perut dua hari yang lalu.


"Apa aku harus memakai itu?" tanya Angel kepada Amanda. Amanda menyuruh Angel memakai kain yang berfungsi untuk menyangga perut agar tidak terlalu turun.


"Iya, sini mama pakaikan"


"Tapi jangan disini juga kan, Ma?" Angel menatap datar kearah Arfan yang melihatkan wajah polosnya.


"Apa?" tanya Arfan dengan polosnya.


"Fan, keluar sekarang" usir Amanda. Arfan hanya berdehem lalu keluar kamar Angel. Amanda sebenarnya lupa kalau Angel itu bukan istrinya Arfan terlebih sikap Arfan yang selalu menjaga Angel.


15 menit berlalu


Arfan tidak sabar menunggu lagi terlebih dirinya sudah membuat janji dengan dokter kandungan jam 9 pagi.


"SUDAH BELUM? AYO BERANGKAT!!!" teriak Arfan dengan kencangnya bahkan suaranya menggema dipenjuru rumah hingga ke kamar utama yang ditempati Riko dan Amanda. Riko yang pulang tadi malam dari Prancis berdecak kesal karena teriakan putranya padahal dirinya ingin sekali beristirahat.


"Lama-lama dia seperti Mamanya" ucap Riko lalu meraih bantal disampingnya untuk menutupi kepalanya.


Teriakan Arfan membuat Amanda keluar dari kamar Angel dengan tatapan kesal dengan membawa bantal. Bantal itu lalu dilemparkan kearah Arfan dan tepat mengenai kepala Arfan.


"Kamu ini! mau rumah roboh karena teriakan mu itu!" semprot Amanda. Arfan hanya menatap datar Amanda, ya masa rumah roboh hanya karena suara kan ngga mungkin.


"Habisnya lama"


"Lama dari mana? orang kamu itu bisa main PS seharian masa nunggu sebentar saja sudah kek mau mati gitu" ucap Amanda dengan nada khas emak-emak.


Angel keluar kamar sembari mengelus perutnya. Arfan langsung meraih tas milik Angel.


"Ayo berangkat!" ucap Arfan dengan semangatnya.


"Iya bawel!" kesal Angel. Amanda mengantarkan mereka ke teras dan memberikan nasehat sedikit sebelum mereka pergi.


Setelah mobil Arfan keluar halaman, sebuah mobil silver memasuki halaman, Amanda tidak tahu siapa yang datang hingga seorang turun dari mobil. Amanda terlihat sangat senang melihat dirinya.


"Rio?"


Rio tersenyum kearah Amanda lalu berjalan kesisi mobil satunya untuk membantu Sena.


Amanda sangat senang akhirnya mereka berdua pulang dari liburan mereka. Amanda menghampiri Sena yang terlihat sangat sehat dari sebelumnya terlebih sekarang tubuh Sena sudah terlihat berisi.


"Kamu pasti capek, baby kamu masih ngga mau disentuh?" tanya Amanda yang masih ingat akan Sena yang merasa mual kalau disentuh perutnya.


"Iya ma, ngga tahu kenapa" ucap Sena sembari mengelus perutnya.


"Baby nya sombong, Ma. Kek Mamanya" ucap Rio yang tengah menurunkan koper dari bagasi mobil.


"Ihh kamu yah! nyebelin nya kumat!" keluh Sena. Amanda merasa liburan kemarin membuat hubungan Sena dan Rio semakin erat.


"Sudah-sudah, ayo masuk. Kamu juga harus istirahat, Sena"


"Iya Ma"


...


Klinik Mutiara.


Klinik yang yang sudah bertaraf internasional serta sudah memiliki fasilitas penuh untuk ibu dan anak, ruang bersalin hingga ruang USG. Perawat yang ditugaskan disini juga telah memiliki sertifikat tentang kemampuan mereka dan di klinik ini pula Amanda dulu memeriksakan kandungannya dan juga Sena.


Angel tengah duduk manis sembari mengelus perutnya namun berbeda dengan Arfan yang terlihat tidak tenang. Arfan sangat tidak sabaran menunggu antrian.


"Duduk! mataku sakit melihatmu mondar-mandir seperti itu!" suruh Angel dengan penuh kekesalan terlebih orang-orang di sekitar juga pasti terganggu.


1 jam berlalu akhirnya tiba giliran Angel diperiksa. Arfan terlihat seperti suami sungguhan, Arfan mendengarkan dengan seksama apa yang di ucapkan dokter wanita dihadapannya.


".... tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sekarang tinggal cek kondisi janinnya"


...


12:30


Siang hari ini terasa sangat panas dan itu membuat Angel menjadi sangat rewel karena kepanasan. Setelah cek up di klinik, Angel dan Arfan pergi ke toko baju untuk Angel serta makan siang di resto setelah itu rencananya Arfan ingin mengajak Angel ke taman bunga.


"Arfan, ayo pulang!"


"Ngga mau jalan-jalan dulu?"


"Arfan mau kemana sih? panas gini!" kesal Angel yang ingin sekali tidur siang.


"Ya sudah"


Arfan memilih mengalah lalu memutar balikan mobilnya kearah satunya. Angel menguap karena mengantuk, Arfan melirik kearah Angel.


"Kalau ngantuk tidur!"


Angel hanya berdehem saja dan mulai menutup kelopak matanya. Arfan merasa hidupnya lebih berwarna setelah kehadiran Angel dan juga mendadak jadi seorang suami.


"Tidur? apa ibu hamil itu sering tidur yah? entahlah"


...


Rumah Amanda Riko.


Arfan membopong tubuh Angel ke dalam rumah seperti bisa namun saat melangkah keruang tengah ia langsung mendapat tatapan aneh dari Rio. Rio merasa aliran darahnya memanas saat melihat Angel dibopong oleh Arfan.


"Kalian dari mana?" tanya Rio langsung. Arfan tahu Rio pasti tidak suka dengan yang ia lakukan sekarang namun Arfan bersikap seolah-olah tidak mengetahui apa yang telah Rio sembunyikan selama ini.


"Habis dari klinik" jawab Arfan seadanya. Dirinya kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Angel.


"Arfan sudah pulang?" tanya Amanda yang entah sejak kapan berdiri di samping Rio.


"Udah tuh"


Rio bergegas keruang kerjanya entah kenapa perasaannya mendadak jadi tidak enak. Rio teringat waktu itu Arfan meminta berkas dan berkas itu tersimpan dalam brangkas yang ia pun menyimpan surat perjanjian pernikahannya didalam brangkas yang sama. Rio takut Arfan menemukan surat perjanjian itu.


Setibanya di ruang kerja, Rio langsung membuka brangkas. Setiap map yang ada di brangkas Rio buka dan dibaca dengan teliti.


Brangkas hampir kosong namun yang Rio cari belum juga ditemukan. Keringat dingin Rio sudah membasahi pelipisnya, Rio takut Arfan menggambil surat perjanjian pernikahan dan memberitahu kan kepada orang tuanya.


"Ck. Dimana sih!"


Wajah Rio pucat saat hanya tinggal tiga map yang tersisa dan Rio berharap diantara tiga map itu ada yang ia cari.


Rio menggambil map yang paling bawah dan membukanya. Rio tersenyum senang karena yang ia cari sudah ketemu.


Di luar ruang kerja Rio ternyata ada Arfan yang melihat Rio tengah membongkar brangkas.


"Untung sudah aku kembalikan" Arfan bernapas lega waktu itu setelah memfotokopi dirinya langsung mengembalikan surat perjanjian pernikahan itu ke brangkas jadi Rio tidak curiga dan menganggap rahasianya masih aman. Arfan langsung pergi sebelum ada orang yang melihatnya.


....


Dapur


"Arfan, sejak kapan kamu suka memasak?" tanya Rio heran. Arfan tengah memasak sup makaroni ayam.


"Dari kemarin"


Arfan mencicipi masakan yang ia buat, setelah merasa sudah pas ia langsung mematikan kompor lalu mengambil satu sendok sayur sup itu kedalam mangkuk bersamaan dengan itu Angel keluar kamar sembari mengelus perutnya.


"Arfan, aku lapar" ucap Angel yang terlihat masih mengantuk dan tidak menyadari Rio ada didepannya. Rio menatap Angel dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Sudah matang kok" Arfan langsung mengambil nasi untuk Angel. Rio terus menatap Angel yang tertunduk sembari mengucek matanya.


"Kalau masih ngantuk, ngga usah bangun" ucap Rio datar membuat Angel langsung terdiam. Ia tahu suara itu, suara yang ia rindukan sekaligus yang ia benci. Angel mendongakkan kepalanya dan matanya langsung bertemu dengan tatapan datar Rio. Rio langsung pergi begitu saja tanpa menanyakan keadaan dirinya dan janinnya.


Angel merasa dadanya mulai terasa sesak. Sikap dingin yang ditunjukan Rio membuatnya semakin tersiksa. Arfan yang sudah tahu semuanya merasa kasihan dengan Angel. Arfan sangat tahu Angel pasti merindukan Rio terlebih buah cintanya dengan Rio yang ada di rahimnya terus mengingatkan dirinya kepada Rio namun setelah Rio kembali hanya luka yang Rio beri.


"Malah ngelamun, ayo makan?"


"Eh? iya"


.


Sena memperhatikan Arfan yang tengah menyuapi Angel. Entah kenapa hatinya cemburu dengan Angel, Sena merasa bahwa Angel selalu mendapat kasih sayang dari semua orang, berbeda sekali dengan dirinya.


Amanda menghampiri Angel dan Arfan. Amanda penasaran makanan apa yang Arfan buat untuk Angel hingga Angel nampak begitu lahapnya.


"El, emang makanannya enak?" tanya Amanda ke Angel dan membuat dagu Arfan mengkerut.


"Enak kok Ma"


"Mama ngga percaya, paling rasanya hambar kalau ngga ya ke asinan kek kemarin" ucap Amanda dengan nada yang seolah ragu dengan perkataan Angel. Kemarin Amanda merasakan sendiri mencicipi masakan Arfan yang Amanda rasa itu tidak enak namun Angel bilang kalau masakan Arfan itu enak.


"Ngga, Ma. Kali ini masakannya enak"


"Beneran? kamu ngga bohong kan?" tanya Arfan dengan wajah berseri.


"Engga"


"Tuh, rajin-rajin belajar masaknya tapi diicip dulu rasanya sebelum ngasih ke orang"


"Iya"


Sena yang merasa panas melihat keakraban ketiga orang itu langsung pergi ke kamar tamu yang sementara Rio dan Sena tempati. Semua ini mereka lakukan agar tidak ada yang curiga dengan kehamilan Sena.


"Kamu kenapa?" tanya Rio langsung saat melihat wajah istrinya cemberut.


"Istri kamu lagi selingkuh sama adikmu!" ucap Sena asal lalu membaringkan tubuhnya keatas kasur.


Rio yang mendengar ucapan Sena langsung keluar kamar, dia ingin melihat sendiri apa yang istri dan adiknya lakukan.


Langkah Rio berhenti saat melihat Arfan tengah menciumi perut Angel dan Angel terlihat sangat senang bahkan tangan Angel mengelus rambut kepala Arfan.


Mata Rio memanas serta kedua tangannya mengepal saat melihat Arfan mengecup kening istrinya.


"Jadi ini yang kalian lakukan, wow jangan-jangan kalian pernah tidur seranjang" desis Rio dengan tatapan mengerikan.


.


Bi Inda menghampiri Angel dan Arfan. Bi Inda disuruh oleh Rio untuk memanggil Angel dan bi Inda sendiri harus mencari alasan sebab tidak mungkin ia mengatakan dengan jujur nanti bisa-bisa Arfan curiga.


"El, ikut sebentar yuk"


"Iya"


Arfan menaruh curiga kepada Bi Inda terlebih bi Inda ikut ambil bagian dari kebohongan ini. Arfan menduga kalau bi Inda itu disuruh oleh Rio.


Arfan memutuskan untuk mengikuti mereka dan benar saja Arfan melihat Rio di halaman belakang. Arfan tidak melanjutkan langkahnya, dia mengawasi dari jauh.


.


Setelah mengantar Angel, bi Inda langsung pergi. Angel sebenarnya tidak ingin menemui Rio, kalau saja tadi bi Inda bilang kalau Rio ingin bertemu dengannya pasti akan Angel tolak langsung. Rio menunjukan senyum sinis nya.


"Pasti kamu bahagia sekali"


"Maksud kamu apa?" Angel tidak mengerti dengan apa yang Rio maksud.


"Sudah berapa kali"


"Ri, maksud kamu apa?"


"Kamu pasti senang saat aku pergi"


"Bicara yang jelas, aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan" kesal Angel dengan ucapan Rio yang tidak ia pahami. Rio melihatkan senyum misterius nya dan tatapan tajam.


"Kamu selingkuh didepan mataku dan kamu tidak punya malu? kamu bermesraan dengan adikku, adik ipar mu sendiri?"


Deretan kata-kata itu seakan membunuh Angel. Saat orang di depanya tidak ada Arfan lah yang selalu menjaganya dan Angel tidak merasa melakukan hal-hal yang melanggar hukum dan Agama saat bersama Arfan. Hanya Arfan yang selalu ada untuknya di saat apapun dan dia lah yang selalu mengorbankan waktu untuk Angel sedangkan Rio seolah tidak perduli sedikitpun kepadanya tapi sekarang Rio menuduhnya yang bukan-bukan. Hati yang sudah hancur ini hanya bertahan untuk janin yang ada di rahimnya, Angel sudah muak dengan permainan ini. Angel ingin ini semua berakhir secepatnya.


"Stop! aku tidak seperti itu!"


"Itu kenyataannya! kamu itu murahan!"


PLAKK


Tamparan keras mendarat di pipi Rio dengan kerasnya. Tamparan yang harusnya dari dulu ia lakukan.


"Kamu berani menamparku?" ucap Rio dengan beringasnya.


"Iya, kamu baru aku tampar sekali saja kamu sudah marah, apa kamu pernah berpikir sekali saja bagimana perasaanku? aku selalu kamu mainkan, kamu selalu memainkan perasaanku. Kamu mengangapku hanya mainan mu yang seenaknya kamu mainin dan kamu itu tidak pernah sedikit pun perduli dengan anak mu ini. KAMU NGGA PUNYA HATI!!" Bentak Angel diakhir kalimatnya. Angel terus menatap tajam Rio yang juga menatapnya tajam.


"Kamu cuma mau anak ini saja kan jadi jangan ganggu hidupku. Aku muak melihatmu!"


Angel langsung pergi meninggalkan Rio. Rio terdiam cukup lama,dia sedang mencerna perkataan Angel barusan. Arfan yang dari tadi memperhatikan dari jauh dapat merasakan kesedihan Angel.


Kamar tamu


Sena tersenyum tipis melihat Rio yang seperti orang yang habis melihat hantu. Sena menduga kalau Rio putus asa saat melihat Angel bermesraan dengan Arfan.


"Itu salahmu sendiri, kenapa kamu nyuruh Arfan untuk menjaga Angel"


"Diam lah!"


"Ck! buka matamu dan juga otakmu, Angel itu tidak mencintaimu lagi dan berhenti mengurungnya dengan perjanjian itu!"


Rio menoleh kearah Sena yang tengah asik memainkan ujung rambutnya. Dibalik sikap tenang Sena ada hal yang ia sembunyikan yaitu memisahkan Rio dengan Angel. Walau sikap Rio dingin ke Angel namun ada anak darah daging Rio di dalam rahim Angel dan pastinya anak itu bisa saja jadi pemersatu orang tuanya dan Sena tidak ingin semua itu terjadi.


"Kamu yang memintanya!"


"Iya memang aku yang memintanya namu saat Angel keguguran aku sudah membiarkannya pergi dan sekarang ini semua karena kemauan mu!"


"Ck!"


"Jangan kesal seperti itu, kita pergi lebih dari dua minggu kira-kira apa saja yang dilakukan Arfan dan Angel yah? apa mereka melakukan itu?"


Sena seakan ingin terus menggompori Rio agar Rio berfikiran negatif kepada Angel dan itu akan lebih mudah membuat mereka berpisah.


"Aku tidak perduli dengan semua itu! aku hanya ingin anakku dan kamu, belajarlah jadi seorang ibu yang baik jangan seperti kemarin atau aku akan menceraikan mu!"


"Sepertinya suamiku sudah kembali ke sifat aslinya, tidak punya hati"


"Kamu tahu aku tidak punya hati jadi jangan membuatku kesal"


Sena tersenyum miring ke Rio. Rio benar-benar tidak tahu diri padahal dirinya lah yang sering membuat Sena kesal dan juga sakit hati.


"Terserah mu"


Satu hari, satu Minggu, satu bulan berlalu.


Kamar Angel 01:55 pagi.


Arfan tengah menyapukan minyak telon ke perut Angel. Ini sudah ketiga kalinya Angel demam di bulan ini dan Arfan sangat khawatir terlebih berat badan Angel turun drastis. Sejak bertengkar dengan Rio, Angel jadi banyak pikiran dan itu membuat kesehatannya terganggu.


"Demamnya sudah mulai turun, hoamm" Arfan menguap dengan lebarnya, sudah hampir jam dua pagi namun dirinya belum tidur dan Angel baru bisa tidur jam dua belas malam.


"Pasti dia sedang tidur nyenyak sekarang"


Yang dimaksud "dia" oleh Arfan itu Rio. Rio tidak tahu Angel sedang demam terlebih Rio seakan tidak perduli dengan Angel. Arfan ingin sekali memarahi Rio karena tidak perduli dengan istri yang tengah mengandung anaknya, setidaknya Rio perduli dengan anaknya.


"Kak, kamu itu manusia atau bukan sih?"


"Aw" keluh Angel yang tiba-tiba terbangun dengan memegangi perutnya. Membuat Arfan panik.


"El kamu kenapa?"


"Perut ku sakit"


Angel merasa perutnya sangat nyeri dan ia takut janinnya kenapa-napa. Arfan yang tidak mau terjadi apa-apa dengan Angel dan janinnya langsung membawa Angel ke rumah sakit.


.


07:00


Rio memasuki kamar Angel namu tidak ada orang. Kamarnya masih berantakan dan ada baskom berukuran sedang dan juga handuk kecil.


"El kemana?"


Rio memeriksa kamar mandi namun tidak ada orang. Rio memutuskan untuk mencari Arfan kali saja Angel tengah bersama Arfan.


Namun saat Rio ingin menaiki tangga terdengar suara mobil milik Arfan. Rio pun tidak jadi ke kamar Arfan dan berjalan menuju luar rumah.


"Angel?" lirih Rio saat melihat Angel yang sangat pucat. Amanda melewati Rio langsung menghampiri Angel.


"Fan, kok pulang? memangnya Angel sudah baikan?"


"Dia yang minta pulang, Ma"


"El, ngga mau di rumah sakit"


"Ya sudah, ayo masuk" Amada mendorong kursi roda yang Angel duduki. Saat berpapasan dengan Rio, Angel seolah tidak melihat Rio.


"Angel kenapa?" tanya Rio ke Arfan. Arfan sendiri sudah sangat muak dengan sikap acuh Rio.


"Angel sakit dan dia butuh istirahat, kalau ngga penting jangan ganggu dia!" ucap Arfan dengan penuh penekanan. Arfan langsung berlalu begitu saja.


10:30


Rio diam-diam memasuki kamar Angel. Angel tidak menyadari kehadiran Rio, dirinya masih pulas tidur.


Rio mengelus perut Angel dengan lembutnya. Janin didalam rahim Angel tidak bereaksi mungkin ia tidak mengenali sentuhan Rio.


"Sayang, kamu sedang apa? kamu tidak kangen sama Papa?"


cup. Rio mengecup perut Angel dan membuat Angel terbangun dari tidurnya. Angel terkejut saat melihat Rio sekaligus takut Rio akan mengatainya dengan hal yang menyakitkan lagi seperti kemarin.


"Jangan sentuh perutku!" Angel langsung menepis kasar tangan Rio lalu mendudukkan tubuhnya. Tatapan mata Angel penuh kebencian yang ia tunjukan kepada Rio. Rio sangat mengerti akan hal itu.


"Ngapain kamu kesini? pergi sanah!" usir Angel dengan nada tak suka. Rio menggeleng pelan, ia ingin bersama anaknya.


"Aku bilang pergi! aku muak melihatmu"


"Sebentar saja"


"Ri, keluar!"


"Aku ingin bersama anakku! mengerti lah!"


"Kamu yang seharusnya mengerti, aku tidak bisa bernapas didekat mu. Kamu mau anak ini baik-baik saja kan? sekarang pergi"


Rio menatap kesal kearah Angel, dua minggu lebih dirinya tidak menyapa anaknya dan ini sangat mengganggu dirinya. Dari kemarin Rio ingin menyapa anaknya namun Angel selalu menghindar dan kalau pun ada kesempatan pasti ada saja yang mengganggu.


"Aku ayahnya dan aku berhak menyapa anakku!"


"Kamu memang Ayahnya tapi kamu tidak pernah sedikitpun perduli padanya bahkan kamu seakan melupakan nya"


"Aku tidak seperti itu, aku selalu memikirkannya!"


"Dalam pikiranmu saja dan tanpa buktikan? saat aku membutuhkanmu kamu tidak ada dan kalau tidak ada Arfan semalam, aku tidak tahu apa janin ini masih di rahimku atau tidak. Kamu tidak perduli Ri! Arfan lebih perduli pada janin ini lebih dari mu, Ayah kandungnya"


Rio hanya bisa menundukkan kepalanya. Sikap Rio yang seperti ini membuat Angel muak. Setatusnya masih tidak jelas dan Rio tidak memenuhi kewajibannya sebagai suami dan seorang ayah.


"Mau sampai kapan kamu mempermainkan ku? Jangan membuatku semakin membencimu"


"Benci saja aku, aku memang pantas mendapatkannya"


"Yah, kamu memang pantas mendapatkannya!"


"...."


****