
"...... orang yang tadi"
"Oh, begitu yah. Jadi berapa?"
"25 ribu"
Setelah membayar Arfan pun langsung pergi. Jihan seperti pernah melihat pemuda itu tapi dimana.
...
Rumah Rio /Sena
Angel mesa tidak enai hati kepada Sena yang terkihat sedih. Sejak tadi sore Sena hanya diam ya walaupun tidak terlalu akrab dengan Angel tapi biasanya Sena akan menyapa Angel sekali dalam sehari namun kali ini tidak.
"Kamu kenapa?"
"Sena kok diam saja terus dia juga menangis semalam. Apa kamu menyakitinya?"
"Kenapa kamu perduli? dia juga menyakitimu kan?"
"Iya tapi aku masih punya hati tidak seperti mu"
Angel langsung pergi kekamarnya. Sendiran keras dari Angel membuat Rio menghelanapas. Rio berjalan menuju kamar untuk meminta maaf kepada Sena karena menamparnya semalam.
Rio memasuki kamar. Dirinya dapat melihat Sena yang tertidur diatas kasur.
Rio mendekati Sena lalu membelai kepalanya namun belaian itu membuat Sena terbangun.
"Sepertinya aku membangunkanmu"
Sena memposisiakan tubuhnya terduduk lalu memeluk Rio dengan erat. Rio tidak membalas pelukan Sena. Rio mendengar isakan dari Sena, Sena semakin erat memeluk Rio.
"Aku minta maaf soal semalam"
Rio melepas pelukan Sena lalu menyeka air mata yang membasahi pipi Sena. Sena terus menatap Rio dengan sorot mata kesedihan.
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon. Aku tidak apa apa kalau dimadu" pinta Sena dengan tatapan memohon namun Rio hanya diam membisu. Rio hanya ingin bersama Angel dan menceraikan Sena.
"Ri tolong jawab!"
Rio menghela napas lalu pergi meninggalkan Sena. Sena merasa patah hati. Ia mencengkram dadanya yang terasa sakit sekali hingga napasnya sesak.
"Ri, kamu tidak tahu aku tidak bisa hidup tanpamu"
15 menit berlalu Rio kembali dengan sekuntum mawar merah yang baru saja dipetik dari taman. Rio melihat Sena yang duduk dilantai samping tempat tidur dan menghadap kejendela yang terbuka.
"Sena?"
Rio mendekati Sena, semakin dekat Rio melihat tangan kanan Sena memegang pisau kater yang bernoda darah membuat Rio panik.
"Sena apa yang kamu lakukan!"
Rio langsung panik saat melihat darah dari pergelangan tangan Sena. Sena melukai dirinya sendiri.
Rio langsung mencari kain untuk mengikat pergelangan tangan Sena, menghentikan darah yang keluar dari urat nadinya.
Rio langsung membopong tubuh Sena membawanya kerumah sakit. Sena hanya diam dan diam.
Angel yang ingin menemui Sena terkejut melihat Rio dengan cepatnya menuruni anak tangga dan dikedua tangannya membopong tubuh Sena.
"Kak Sena kenapa?" tanya Angel saat Rio diakhir tangga.
"Kamu dirumah saja! PAK HAN KELUARIN MOBIL!" teriak Rio dengan kerasnya sembari menuju pintu rumah.
Angel merasa takut dan firasatnya buruk tantang Sena terlebih saat dia ingat perkataan Sena kalau dirinya itu dibenci. Walaupun Sena kasar kepada Angel namun Angel masih punya hati saat melihat Sena seperti itu hatinya ikut meresa sedih.
"Sebenarnya apa yang terjadi..Eh?"
Saat Angel melihat kebawah ia melihat ceceran darah dilantai hingga kepintu rumah.
"Darah?"
Angel mengikuti ceceran darah yang mengarah ketangga. Angel menduga kalau darah ini itu darahnya Sena sebab Rio begitu sangat panik. Angel melangakah menaiki tangga dan kedua matanya terus melihat kebawah.
Angel langsung masuk kedalam kamar Sena yang pintunya terbuka. Angel melihat sekeliling kamar ini yang sangat luas dan terpajang foto pernikahan Rio dan Sena yang sangat megah.
Saat Angel melihat kearah tempat tidur Angel terkejut melihat darah yang sangat banyak dilantai. Angel ketakutan melihat darah segar dilantai yang sangat putih. Keringat dingin Angel keluar dengan sendirinya, kedua kaki Angel melemas sampai tidak bisa menopang tubuhnya. Angel duduk dilantai, pandangan matanya tertuju pada pisau kater yang bernodakan darah.
"BI CEPAT KEKAMAR SENA!!!teriak Angel didalam ketakutannya. Angel tetus memangil bi Inda yang tak kunjung datang, bahkan samapai perut Angel sakit.
"Iya non, bibi disini kanapa?"
Angel menunjuk darah Sena. Bi Inda mengikuti arah yang ditunjuk jari Angel. Sama seperti Angel, bi Inda juga merasa takut.
"Non kekamar saja yah? biar ini kita yang urus"
Bi Inda membantu Angel berdiri lalu mengantar Angel kembali kekamarnya. Bi Inda takut Angel kenapa napa melihat darah segar merah menyala yang sangat ngeri dilihat oleh mata terlebih dilantai putih mengkilat seperti ini.
Wajah Angel pucat pasi karena darah tadi. Entah kenapa hatinya merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi kepada Sena.
"Non El, istrirahat jangan dipikirkan masalah tadi"
"Tapi bi?"
"Den Rio bisa atasi ini semua, yang terpenting sekarang adalah janin non itu. Kasihan nanti dia cemas"
"Iya bi"
Bi Inda keluar kamar Angel. Angel masih terpikirkan ucapan Rio sebelum Rio kembali kekamar Sena.
"*El aku bingung, semua ini membuat kepalaku serasa ingin meledak!"
"Kamu memilih Sena, aku cuma rahim pengganti!
"El, aku ingin menceraikan Sena. Aku ingin denganmu tapi Sena selalu mengancam, aku takut Sena mencelakai mu atau orang tuamu lagi. Aku tidak mau itu"
"Lalu mau kamu apa?"
"Sena bilang kalau dirinya tidak apa apa dimadu tapi kamu? apa kamu mau jadi istri keduaku?"
"Dari awal aku ini istri keduamu, apa selama ini aku tidak dianggap olehmu?"
"Bukan itu, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ingin kamu lah satu satunya istriku"
"Keadaan tidak memungkinkan untuk itu. Sebaiknya kamu cepat temui Sena"
"Iya*"
Angel masih teringat saat dirinya bertemu dengan Sena. Angel merasa ada sesuatu yang Sena sembunyikan dari Rio. Angel merasa janin didalam rahimnya mulai rusuh, sepertinya dia tidak ingin ibunya memikirkan hal yang aneh aneh
"Kamu ini, iya sayang mama tidak akan memikirkan yang macam macam. Mama cuma akan memikirkan mu saja"
Angel mengelus perutnya. Ini sudah enam bulan lebih usia kandunganya. Angel sangat bersyukur janinnya masih sehat sampai detik ini.
....
Kamar Arfan 18:30
Dari tadi Arfan melamunkan hal yang membuat dirinya resah. Arfan hanya tahu Sena tidak hamil dan itu berarti dirumah itu semuanya tahu akan hal ini dan juga Angel yang ia tahu anak dari pemilik warung nasi yang belum menikah tapi tengah hamil. Dari semua itu Arfan menyimpulkan bahwa Rio yang bersalah, secara Rio sangat mencintai Sena dan Rio tidak mau berpisah dengan Sena namun Amanda dan Riko nampak tidak suka lagi dengan Sena yang semaunya sendiri karena itu Rio dan Sena memulai kebohongan dan sandiwara ini dengan bantuan Angel sebagai rahim pengganti.
"Aku merasa ini akan sulit. Aku harus cari akal untuk mempermudah ini semua"
Arfan memeras otaknya agar dapat menemukan jalan keluar untuk membongkar semua ini dan yang paling penting tidak membuat semua orang merasa curiga kepadanya.
"Aku tahu, aku minta saja Mama buat mempercepat kepindahan mereka biar lebih mudah mengawasi mereka bertiga"
Arfan langsung bergegas menuju kamar Amanda untuk menjalankan rencananya.
..
Kamar Amanda /Riko
Arfan nyelonong masuk kedalam kamar orang tuanya lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Amanda yang tengah bersolek diri tidak memperdukikan Arfan. Dirinya akan pergi dengan Riko. Amanda dan Riko selalu meluangkan waktu untuk pergi bersama entah itu hanya makan bersama direstoran untuk mempererat kebersaman mereka yang kini sudah lebih dari dua puluh tahun menjalani hidup bersama dalam ikatan suci pernikahan.
"Mama mau pacaran yah sama Papa? celoteh Arfan membuat Amanda menoleh kearah Arfan.
"Kamu iri?"
"Tidak"
"Jujur saja, mama bisa lihat itu"
"Masasih Ma"
Amanda menggelengkan kepalanya. Dirinya tidak tahu harus bagaimana lagi lagi agar Arfan mau menikah atau berpacaran.
"Kamu mau bicara apa?"
"Gitu kek dari tadi"
"Memangnya kamu mau bicara apa? apa kamu ingin memperkenalkan calon istrimu?"
"Jangan memulai,Ma. Aku masih ingin sendiri lagian bukan itu yang Arfan ingin bicarakan"
"Lalu apa?"
Amanda sebisa mungkin sabar menghadapi putranya yang satu ini. Arfan terdiam cukup lama sembari melihat kelangit langit kamar.
"Ma, mama merasa ada yang aneh ngga sih?"
"Aneh? maksudnya?"
"Iya aneh saja melihat kak Sena yang tubuhnya masih sama sebelum hamil, beda sekali sama Angel yang tubuhnya udah bulet kek bola"
Amanda terdiam mencerna ucapan Arfan. Amanda sendiri mengiyakan ucapan Arfan. Dia juga sudah merasakan hal yang janggal diSena, walau tak semua wanita hamil akan naik derastis berat badannya namun yang jelas berat badannya akan naik walau hanya satu atau dua kilo.
"Terus? maksud kamu"
"Sena cuma pura pura hamil. Ya itu sih cuma pendapat Arfan saja"
"Jangan bicar seperti itu tentang kakak iparmu!"
"Jangan marah Ma, itu cuma pendapat Arfan saja. Kenapa Mama ngga nyuruh mereka untuk secepatnya pindah toh memangnya apa yang harus mereka siapkan untuk pindah kesini"
"Kamu benar, besok kamu antar mama"
"Kenapa tidak sama Papa saja"
"Papa kamu itu sibuk udah kek persiden saja"
"Tapi kamu sukakan?"
Arfan dan Amanda menoleh kearah pintu yang sudah ada Riko yang terlihat kesal digunjing dibelakangnya.
"Aku sebaiknya pergi takut ganggu"
Arfan melangkah keluar kamar namun sebelum benar benar keluar Arfan punya ide jahil untuk menjahili mereka.
"MA PA BIKIN DEDEK YAH!" teriak Arfan langsung menutup pintu kamar membuat Amanda mendelik.
"Ma, Arfan minta dedek tuh" ucap Riko dengan senyum jahil. Membuat Amanda menatapnya tajam.
Riko mendekati Amanda yang masih kesal kepadanya. Riko langsung mengecup bibir Amanda dengan mesranya.
"Kamu semakin cantik, aku sangat beruntung menikah denganmu. Bidadariku"
"Nggak usah ngegombal malu sama umur!"
"Tapi aku belum punya cucu lagian anak bungsu kita minta adek"
Riko mengecup pipi Amada dengan gemasnya. Walau Riko sibuk berkerja namun dirinya selalu menjadika Amanda prioritas pertama dan Amanda juga tidak ingin membebani Rimo. Mereka berdua seakan tahu apa yang dibutuhkan pasangannya.
"Jadi pergi ngga? kok kamu seperti khawatir gitu kenapa?"
"Tidak apa apa, Pa"
"Jangan berbohong. Aku telah lama bersamamu aku tahu ada yang membebani pikiranmu"
"Iya, memanga ada"
"Sekarang ceritakan" pinta Riko. Amanda tidak langsung menjawab malah beranjak dari tempat riasnya lalu duduk dipinggir kasur dengan sorot mata yang penuh kecemasan.
Riko duduk disebelah Amanda. Dirinya bingung kenapa istrinya seperti ini apa tadi Arfan mengatakan sesuatu yang membuat istrinya seperti ini.
"Ma?"
"Mama kepikiran ucapan Arfan"
"Memangnya apa yang Arfan ucapkan?"
"Arfan curiga Sena hanya pura pura hamil"
"Loh kenapa bisa?"
"Itu karena fisik Sena yang masih sama seperti sebelum hamil terus mama merasa ada yang aneh dirumah Rio. Mama merasa ada yang Rio sembunyikan dirumah itu tapi apa"
"Itu cuma perasaan Mama saja"
"Ngga Pa. Semuanya terasa aneh mulai dari sifat Sena hingga keponakan bi Inda yang tinggal bersama Rio dan Sena juga perhatian mereka berdua keAngel"
"Mama mau Papa cari tahu kebenarannya?"
"Iya, Papa bisakan suruh orang buat ini"
"Apa sih yang aku tidak lalukan untukmu. Secepatnya aku akan suruh orang untuk mencari kebenarannya"
"Makasih sayang"
Senyuman Amanda kini kembali kewajahnya membuat Riko tidak cemas lagi.Sebenarnya Riko sudah mulai mencurigai ada hal yang disembunyikan oleh Rio kepadanya terlebih Riko mendapat kabar kalau Sena kemarin tinggal diPrancis dalam waktu yang lama namun Rio malah mengatakan Sena berada dirumah orang tuanya.
"Sudah ngga ada lagi yang kamu pikirkan?"
"Iya"
"So mau pergi atau bikin dedek?"
Amanda langsung mencubit pinggang Riko sampai Riko mengampun. Amanda sangat kesal dengan suaminya ini. Riko selalu bisa membuat Amanda selau mencintainya dan percaya bahwa hatinya hanya untuk Amanda.
"Sakit sayang! kalau kamu cubit lagi aku pastikan Arfan akan punya adek!"
"Ih.. kamu ngga kasihan apa sama aku? aku ini sudah tua"
"Ohya kamu masih cantik kok"
Riko mulai mendekatkan tubuhnya keAmanda namun Amanda langsung mendorong tubuh Riko menjauh.
"Kenapa?"
"Aku ingin jalan jalan, sudah lama kita tidak pergi keluar bersama"
"Oke, bawa jaket yah diluar dingin"
"Iya"
...
Kamar Arfan
Arfan tengah melihat foto yang ada diponselnya. Semua bukti ini bisa langsung ia tunjukan keAmanda namun Arfan ragu Amanda akan percaya karena itu Arfan membuat Amanda merasa ragu dan Arfan bisa menebak Amanda akan menceritakan semua yang dirasa keRiko.
Kalau nanti ketiga orang itu akan pindah kerumah ini berarti itu jadi peluang Arfan untuk mencari bukti bukti yang lain.
"Apa yang sebenarnya mereka rencanakan dan kenapa Angel bisa menyembunyikan hal ini keibunya sendiri, Apa Rio dan Sena mengancamnya? semakin aku pikirkan semakin banyak pertanyaan yang muncul"
Arfan mendesah kasar. Rasa kecewa masih ia rasa saat dirinya melihat kakak yang selalu jadi panutan selama ini berbuat hal yang sangat memalukan. Rio berkerja sama dengan Sena untuk membohongi ibu kandungnya sendiri serta keluarganya bahkan dalam sandiwara yang dibuat oleh pasangan ini terdapat gadis polos yang diperalat untuk mendapatkan seorang Anak.
Arfan sangat tahu bahwa Rio itu cinta mati dengan Sena bahkan Rio lebih memilih istrinya dibandingkan wanita yang telah melahirkannya.
Pertanyaan dan pertanyaan yang muncul dikepala Arfan sampai kepalanya terasa pusing. Arfan berdecak kesal saat wajah takut Angel terbayang jelas dimatanya.
"Ck! kenapa kemarin kamu bentak Angel!"
Arfan sangat menyesal telah membentak Angel dan membuatnya takut pasti Angel akan menjauhinya padahal Arfan ingin mengorek kebenaran dari Angel.
"Besok aku minta maaf sajalah"
...
Rumah Sakit kamar rawat Sen 23:00
Rio menatap Sena yang tengah memejamkan mata karena pengaruh obat bius. Rio tidak habis pikir Sena akan berbuat senekat ini, kata dokter lukanya tidak terlalu dalam dan hanya dijahit satu jahitan tapi tetap saja membuat Rio khawatir.
"Kamu membuatku cemas"
Rio mengelus puncak kepala Sena dengan lembutnya, Rio memang ingin berpisah dengan Sena tapi lima tahun lebih yang ia telah lalui bersama Sena tidak bisa dilupakan secepat itu.
Senyum dibibir Rio mengembang saat perlahan kelopak mata Sena membuka. Cahaya terang membuat kedua mata Sena tidak nyaman.
"Jangan diulangi lagi!"
Sena menoleh kearah Rio. Sena nampak senang melihat Rio terlihat jelas dari wajahnya.
"Kenapa kamu lakukan itu?"
"Karena kamu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku lebih baik tiada dibanding bercerai denganmu"
Air mata Sena kini menetes begitu saja. Jemari Rio langsung menghapus air mata itu lalu mengecup kening Sena.
"Kamu membuatku takut jangan diulangi lagi" pinta Rio, Sena hanya tersenyum tipis.
Rio meraba bibir Sena, entah apa yang ia pikirkan sekarang.
"Kamu kira aku tadi ninggalin kamu?"
"Iya"
"Kamu salah, aku ingin mengambil ini"
Rio mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Ia membuka kotak itu didepan Sena. Rio meraih tangan Sena lalu menyematkan cincin itu dijari Sena.
"Aku masih memak cincin pernikahan kita, kenapa kamu membeli lagi?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? aku kan sering membelikanmu perhiasan"
"Kamu juga membelikannya untuk Angel?"
"Iya dia gelang kaki. Kamu marah?"
"Tidak, aku sudah bilangkan"
"Iya, kamu tidur gih aku juga ngantuk"
Sena mengangguk pelan lalu mulai memejamkan matanya.
...
Matahari menunjukan sinarnya lagi. Sekarang sudah pukul delapan pagi namun Angel masih terlelap dalam mimpi indahnya.
30 menit berlalu Angel perlahan membuka kelopak matanya. Tendangan pelan dari janinnya membuatnya tersenyum sepertinya janinnya ini menyuruhnya bangun mungkin dia sudah merasa lapar.
Angel mendudukan tubuhnya lalu mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu kenapa? apa kamu lapar"
Angel perlahan turung dari tempat tidurnya. Hidung Angel mencium bau yang sangat sedap membuatnya terasa lapar. Dia pun keluar kamar dan kedua matanya langsung mendapati Amanda yang tengah memasak didapur.
"Mama?"
"Kamu El, rumah kok sepi? Rio sama Sena pergi?"
"Iya"
Angel langsung kembali masuk kedalam kamar membuat Amanda heran mungkin Angel malu belum madi atau merasa tidak enak baru bangun, entahlah hanya Angel yang tahu. Arfan menghampiri Amanda, tadi dia mendengar suara Angel.
"Kok ngga ada?"
"Siapa? Angel"
"Iya. Tadi aku mendengar suaranya"
"Dia kembali kekamar, takut ketemu kamu kali?"
"Memangnya Arfan apaan?"
Amanda hanya mengendikan bahunya dan senyuman dibibir Amanda membuat Arfan mendengus kesal.
..
Didalam kamar Angel langsung mencari ponselnya ia ingin memberitakukan Amanda ada disini.
"Semoga Kak Rio baca pesanku"
Angel memutuskan untuk mandi, membasahi semua badannya dari ujung kepala hingga kaki.
...
Hari ini juga Sena sudah diperbolehkan pulang namun wajah Sena masih pucat. Sena tidak banyak bicara membuat Rio resah.
"Ponsel kamu bunyi" ucap Sena tanpa melihat kearah Rio.
"Tolong kamu lihat"
"Kamu yakin?"
"Memangnya apa yang harus aku takutkan?"
"Mungkin saja kamu punya selingkuhan lain?"
"Sena, aku tidak ingin bertengkar denganmu lagi"
Sena tidak menjawab lagi dirinya langsung meraih ponsel yang ada didekat kemudi.
"Pesan dari Angel"
"Isinya apa?"
Sena membaca pesan singkat dari Angel, raut wajah sena berubah saat membaca pesan ini.
"Ri, Mama dirumah"
"Apa?"
"Aku harus apa?"
Sena cemas sandiwara ini akan terbongkar dan bisa saja Amanda menyuruh Rio untuk menceraikannya.
"Mau mampir dulu kepasar beli baju murahan buat perut palsu kamu? aku tahu kamu pasti jijik tapi tidak ada pilihan lagi waktu kita meped dan hanya ada pasar itu"
Sena menggigit bibir bawahnya. Jujur dia tida ingin berada ditempat kumuh dan kotor itu tapi tidak ada pilihan lain lagi.
"Iya aku mau"
Rio mengarahkan mobilnya keparkiran pasar.
..
Rumah
Arfan terus memandang pintu kamar Angel. Arfan berharap Angel cepat keluar dari kamarnya agar dia bisa meminta maaf.
"Sudah jam segini Rio belum balik"
"Mungkin mereka kerumah orang tua Sena?"
Amanda menghela napas beratnya. Dirinya masih terpikirkan ucapan Arfan.
Suara pintu dibuka dari arah kamar Angel. Keduanya melihat kearah Angel yang baru keluar dari kamar dengan baju hamil yang bagian perutnya terdapat gambar doraemon.
"Itu perut apa balon? bulet banget" celoteh Arfan langsung. Amanda langsung mencubit lengan Arfan.
"Sakit ma!"
"Ntar ngamuk loh!"
Amanda langsung menghampiri Angel dengan senyuman yang merekah dibibirnya.
"Kamu pasti sudah lapar, mama ambilkan yah?"
"Iya terima kasih"
Angel berjalan menghampiri Arfan dengan tatapan tak suka.
"Ngapain kamu disini?" tanya Angel langsung dan membuat Arfan menatap datarnya.
"Dih.. ini rumah kak Rio bukan rumahmu. Sudahlah aku tidak mau bertengkar dengan mu! aku kesini cuma nganterin mama terus aku juga ingin meminta maaf soal kemarin"
"Aku nggak mau maafin!"
Angel langsung pergi begitu saja. Arfan yang melihat tingkah Angel terkekeh pelan terlebih melihat pipi Angel yang menggembung dan perut itu sangat membuat Arfan gemas.
"Kalau kamu istriku udah aku tarik gemas pipimu itu!"
Arfan mendengar suara mobil yang memasuki halaman dan Arfan tahu betul itu suara mobil siapa.
"Mereka sudah pulang"
Arfan ingin melihat apa yang mereka lakukan saat Amanda mengajak mereka kerumahnya.
Rio berjalan beriringan dangan Sena. Rio nampak terkejut melihat Arfan secara Angel hanya memberitahukan hanya Amanda saja yang datang.
"Loh?" Arfan terkejut melihat wajah Sena yang sangat pucat. Arfan menghampiri mereka berdua.
"Kalian dari mana terus kak Sena kenapa pucat gitu?"
"Sena sedang tidak enak badan, aku antar Sena dulu kekamar"
.
Kamar
Setelah mengantar Sena, Rio langsung pergi. Sena tengah memikirkan kebodohan Angek yang memberitahukan Amanda dirumah ini, kalau Angel pintar pasti dia tida akan memberitahukan soal itu agar sanduwara ini terbongkar.
"Dasar gadis bodoh!"
Sena mulai memejamkan matanya denga senyum dibibirnya.
..
Mendengar Sena sakit Amanda langsung memarahi Rio sebab Amanda sagat mengkhawatikan keadaan cucunya.
"Ngga ada tapi tapian. Hari ini juga kalian pindah"
"Iya Ma"
Arfan menatap datar Rio dan hati kecilnya merasa sangat bersalah sebab menutupi kebohongan ini, Arfan hanya ingin Amanda tahu kebenaran ini sendiri. Arfan tidak ingin membuat Amanda bersedih.
Setelah mengomeli Rio, Amanda langsung menuju kamar Sena memastikan kondisi Sena.
Amanda langsung masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Amanda tersenyum melihat Sena yang tidur dengan posisi miring.
Amanda mendekati Sena dengan langkah pelan. Amanda ingin sekali menyentuh perut Sena dan berhubung Sena tertidur Amanda tidak menyia yiakan kesempatan ini untuk menyapa cucu didalam perut Sena.
Saat tangan Amanda tinggal sedikit lagi menyentuh perut Sena, Sena membuka matanya dan terkejut melihat tangan yang ingin menyentuh perutnya. Sena yang tidak ingin sandiwaranya terbongkar langsung berpura pura batuk.
"Sena, kamu kenapa? mama ambilkan minum yah"
Amanda langsung menuju ke sudut ruangan yang terdapat dispenser.
Sena mendudukan tubuhnya, dirinya merasa lega bisa menghindari hal buruk yang dapat merugikan dirinya sendiri.
"Sayang, ayo minum!"
Sena meminum sedikit lalu meletakannya diatas meja tempat lampu tidur.
"Kamu hari ini pindah yah agar mama bisa menjaga kamu"
"Sena tidak apa apa kok"
"Mama tidak mau kejadian kemarin terulang kembali jadi mama mohon"
"Ya sudah kalau ini memang kemauan mama"
"Kamu lanjutin lagi tidurnya, mama keluar"
Sena mengangguk pelan. Amanda mengecup kening Sena sebelum keluar kamar. Setelah Amanda keluar kamar, Sena langsung turun dari tempat tidur untuk mengunci pintu dirinya tidak ingin siapapun masuk kedalam kamarnya dan mencoba menyentuh perutnya.
...
Arfan membawa dua es krim ditangannya menuju tempat Angel yang sedang bermain ayunan.
"Hey"
Angel hanya menoleh sesaat lalu kembali menatap lurus. Arfan menghela napas mendapar perlakuan dari bumil satu ini yang ngambeknya tak berujung.
"Gitu amat neng, aku cuma mau ngasih kamu es krim ini"
Angel menoleh kearah Arfan yang menyodorkan es krim kearahnya. Angel langsung meraih es krim itu.
"Berarti kamu mau menerima permintaan maafku?"
Angel mengerutkan keningnya lalu menoleh kerah Arfan yang tersenyum sangat manis kearahnya.
"Maksud kamu es krim ini sogokan gitu?"
"Iya"
"Ih nyebelin!"
Angel mengembalikan es krim itu lagi keArfan. Arfan menggeleng lalu tuduk disebelah Angel.
"Barang yang sudah diterima tidak bisa dikembalikan" ucap Arfan santai sembari membuka es krimnya. Angel mengerutkan dagunya.
"Sudahlah dimakan saja, aku juga tahu kamu tidak akan semudah itu memaafkanku. Aku kemarin sangat kurang ajar"
"Iya, kamu itu nyebelin. Kamu lebih menyebalkan dari Rio"
"Oh ya masa sih? kamu suka yah sama Rio?"
"Tidak! karena itu aku tidak mau kamu menyebutku selingkuhannya Rio lagi!"
"Kenapa? bukannya Rio itu pria yang sangat sempurna dia punya segalanya"
Arfan terus memojokan Angel supaya Angel mengakui perasaanya terhadap Rio atau pun kebenaran yang lain.
"Iya tapi dia bukan tipeku aku tidak mau punya suami yang selalu marah marah tanpa sebab dan soal jadi selingkuhan mana ada yang berani rebut Rio dari Sena yang menyeramkan itu!"
"Memangnya Sena kenapa?"
"Dia itu orangnya tentramen sama seperti Rio kalau mereka bertengkar selalu memakai nada tinggi, itu membuatku takut"
"..."
...***...