Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 52 Semua untuk putraku



...


Arfan tahu Angel tidak tidur, dirinya menangis dibalik selimut. Arfan tidak bisa melihat kesedihan Angel seperti ini lagi, dia harus berbuat sesuatu.


"El, aku janji akan membuatmu kembali lagi ke rumah itu"


"Aku cuma mau anakku"


"Iya aku tahu, kamu mau lakuin apa yang nantinya aku suruh?"


Angel membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"Maksudnya?"


"Kamu ibunya dan kamu punya ASI yang dibutuhkan bayimu. Kalau kamu jadi ibu susunya Kevin, apa kamu mau? seenggaknya kamu bisa terus sama Kevin, sisanya kita pikirkan bersama. Apa kamu mau?"


"Rio pasti tidak setuju"


"Cih, jangan pikirkan manusia aneh itu! ini demi anakmu, aku akan bujuk Mama. Kamu ngga apa-apakan aku tinggal?"


"Iya"


"Aku pergi, kamu jaga dirimu"


"Makasih yah, Fan"


"Ya elah biasa aja neng, aku senang bisa membantumu"


..


Rumah Amanda Riko 01:00


Amanda yang tidak bisa tidur karena memikirkan cucunya memilih untuk turun kelantai bawah. Ia terkejut melihat Rio yang tengah membopong anaknya dengan wajah panik sebab Kevin terus saja menangis.


"Ri, kok nangis terus sih?"


Amanda langsung menghampiri Rio yang berusaha menenangkan Kevin. Amanda terkejut melihat wajah Kevin ruam merah dan juga bintik-bintik ditangan mungilnya.


"Loh? ini kenapa?" panik Amanda yang langsung mengantikan membopong Kevin.


"Ngga tahu, ma. Merah gitu"


"Sena mana? dia harus nyusuin Kevin"


"I...itu, Ma"


"Kenapa? dia tidur? dia sudah punya anak harus berubah dong"


Arfan tanpa dosanya memasuki rumah dan seketika itu langsung ditatap oleh Rio dan Amanda.


"Apa? tuh nangis" Arfan langsung berjalan melewati keduanya.


"Kamu tidak mau melihat keponakanmu?" tanya Amanda dengan nada yang tidak enak didengar. Arfan memberhentikan langkahnya lalu menoleh kearah Rio dan Amanda. Rio menatap datar ke Arfan, Rio tahu Arfan dari rumah sakit, menemani Angel.


"Sudah di rumah sakit, kenapa nangis sampe segitunya? wah jangan-jangan alergi susu formula lagi" tuduh Arfan langsung. Sepertinya Tuhan telah menunjukan jalan untuk Arfan.


"Alergi? Ri, anak kamu dikasih susu formula?"


Amanda menatap Rio dengan tatapan kesal. Rio menatap Arfan yang sok tahu tentang hal ini.


"Kenapa diam? ayo jawab"


"Iya, Ma. Habisnya ASI belum keluar" jawaban dari Rio membuat Amanda kesal, harusnya Rio memberitahukan hal ini ke Amanda yang sudah tahu apa saja yang harus dilakukan.


"Rio kamu ini! ada apa-apa bilang sama Mama, jangan diam seperti ini, kamu ini baru jadi ayah. Jangan sok tahu ini menyangkut nyawa anak kamu"


Arfan terus melihat bayi yang di bopongan Amanda. Arfan mendekati bayi itu, bayi itu merengek karena rasa tidak nyaman di kulitnya.


"Sinih, kevin nya" Arfan langsung merebut Kevin dari Amanda lalu berjalan pergi. Rio yang tidak suka langsung memberhentikan langkah Arfan.


"Mau dibawa kemana anakku!"


"Kamu pintar kan? bayi kamu sakit harus dibawa ke rumah sakit! dasar orang tua ngga peka!"


...


Sepanjang perjalanan Arfan terus mengomeli Rio dan anehnya bayi mungil ini terdiam seakan mendengarkan suara Arfan.


"Sudah, Fan. Jangan memaraih kakakmu terus" lerai Amanda yang sudah sangat khawatir dengan cucunya dan ia tidak ingin ada masalah lainnya.


"Mama sih belain kakak terus, jadi beginikan?"


"Arfan sudah nanti kakakmu marah"


"Biar saja, biar dia sadar diri!"


Kesal Arfan yang sangat kecewa dengan Rio. Arfan tidak ingin bayi mungil itu kenapa-napa karena bayi mungil itu kebahgiaan Angel.


"Diam! nyetir yang bener!" akhirnya Rio bersuara. Arfan berdecak kesal, sikap Rio yang seperti ini membuat Arfan kesal. Sikap Rio yang dingin dan juga acuh membuat Arfan khawatir dengan Kevin yang baru beberapa hari dilahirkan.


"Dasar orang tua ngga peka!" desis Arfan.


R.S. Kasih Bunda.


"Fan, jangan disini" tolak Rio langsung saat Arfan memasuki area rumah sakit. Rio tidak ingin Angel menemui anaknya. Arfan tersenyum sinis, ia tetap menjalankan mobilnya ke area rumah sakit.


"Fan!"


"Kamu ini kenapa! di rumah sakit ini saja, anakmu sudah seperti ini"


Arfan bersyukur Amanda ikut dan bisa membantunya untuk membawa Angel kembali ke rumah.


.


Ruang rawat anak.


Rio tertunduk saat yang dikatakan Arfan benar. Bayi mungilnya alergi protein susu sapi dan kalau saja tadi telat dibawa ke rumah sakit hal buruk mungkin terjadi.


Arfan duduk dengan tenang sembari bermain dengan Kevin yang sudah mulai membaik, kali ini dirinya tidak usah memarahi Rio karena ada Amanda yang terlihat sangat marah.


"Puas kamu sekarang?" tanya Amanda yang sangat kecewa dengan Rio. Rio hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Ma"


"Sudah berapa kali kamu mengecewakan Mama? Ajari istrimu untuk tidak memikirkan diri sendiri, kamu bisa mengurus dirimu sendiri tanpa bantuan istrimu tapi ini anakmu yang baru lahir, dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri"


"ASI-nya belum keluar, jadi Rio kasih susu itu"


"Jangan membela istrimu atau pun dirimu, ini berkaitan dengan nyawa anak mu sendiri! sudah berapa tahun kamu menantikannya tapi sekarang kalian seakan tidak perduli"


"Maaf, Ma"


"Minta maaf ke anakmu bukan ke Mama" kesal Amanda yang langsung menghampiri ranjang dimana bayi mungil itu tengah berbaring.


"Cucu nenek, udah baikan. Main sama uncle Arfan yah?"


...


03:45


Arfan menuju ruang rawat Angel untuk memberitahukan apa yang terjadi pada bayi mungilnya dan juga Arfan berniat untuk membawa Angel keruang rawat Kevin terlebih Amanda dan Rio tengah pulang untuk mengambil perlengkapan Kevin.


"Arfan"


Angel terlihat sangat senang saat melihat Arfan. Angel ingin tahu kondisi bayinya sekarang, ia sangat merindukannya.


"Anakku? dia baik-baik saja kan?"


"Kamu ikut aku yah"


"Kemana?"


"Ke Kevin, dia disini"


"Anakku kenapa?" tanya Angel dengan panik. Pikirannya langsung tertuju pada bayi mungilnya.


"Dia ngga apa-apa, sebaiknya kamu lihat sendiri mumpung Rio sama Mama pergi"


"Iya"


Arfan mendorong kursi roda yang Angel duduki ke ruang rawat Kevin. Sepanjang perjalanan Arfan menceritakan semuanya ke Angel dan membuat Angel ingin secepatnya menyusui Kevin.


Arfan membuka pintu ruang rawat. Pandangan Angel langsung tertuju pada Kevin yang tengah tertidur.


"Sayang"


"Dia sedang tidur"


Angel tersenyum saat melihat wajah Kevin yang begitu lucunya. Angel menyentuh pipi Kevin dengan lembutnya.


"Merah gini, ini gatal yah sayang? eh? kok bangun sih sayang, lapar yah?"


Bayi mungil itu merengek, Angel langsung memberikan bayi mungilnya Asi yang sangat dibutuhkannya.


Bayi mungil itu minum dengan cepatnya seakan dia tahu kalau ibunya akan pergi lagi.


"Minum yang banyak, biar kamu kenyang nya lama"


Angel menangis sembari menyentuh tangan mungil anaknya. Ia sangat marah sebab Rio tidak bisa mengurus Kevin dengan baik.


"Papamu tidak bisa mengurus mu dengan baik, Mama ingin melihatmu tumbuh besar nak"


...


08:00


Amanda tengah membersihkan tubuh Kevin dengan handuk basa tentunya air yang digunakan air hangat.


"Seger yah? nanti siang kita pulang, kamu bosan yah disini"


Amanda melihat ke pusar Kevin, ia heran kenapa plasenta yang tertinggal sudah mengering padahal Kevin baru lahir kemarin, seharusnya masih basah.


Kevin membuka mulutnya seakan ingin berbicara serta kedua matanya mencari sesuatu.


"Apa? kamu nyariin siapa, kamu nyariin mama kamu yah, percuma mama kamu datang kesini orang itu tidak bisa mengurus mu"


Arfan terbangun dari tidurnya dan langsung melihat Amanda yang tengah bermain dengan Kevin.


"Pake bajunya yah, eh?"


Amanda terkejut saat plasenta yang tertinggal itu malah lepas saat Amanda memakaikan popok. Amanda semakin dibuat heran sekaligus membuat hatinya merasa curiga didepannya ini benar cucunya atau bukan ataupun kemungkinan Sena berbohong kepadanya bahwa dia hamil dan kemungkinan Rio juga terlibat akan hal ini.


"Mama kenapa?" tanya Arfan yang heran melihat Amanda.


"E...engga kok, ini Kevin senyumnya manis banget"


"Iya lah mirip sama Mamanya"


"Kamu mengakui kalau senyum Sena manis?" tanya Amanda heran terlebih Arfin bisa dibilang tidak terlalu suka dengan Sena. Arfan langsung menepuk jidatnya sebab dia lupa kalau Amanda itu tahunya Sena lah yang melahirkan Kevin bukan Angel.


"Eee... Ma, mama tahu ngga Angel itu sudah melahirkan" ucap Arfan mengalihkan pembicaraan sekaligus mulai membuat Amanda perduli dengan Angel.


"Ohya, kapan terus dia dimana sekarang?"


"Dia dirawat disini terus suaminya itu masa tega banget"


"Tega? maksudnya?"


"Masa bayinya lahir Angel langsung dicerai dan lebih parahnya lagi bayinya diambil sama dia, kan kasihan Angel sama bayinya"


"Apa? itu suaminya Angel manusia apa bukan sih? kok ngga punya hati banget"


Arfan hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan Amanda. Kalau Amanda tahu suaminya Angel itu putranya sendiri apakan ia akan menyebutnya seperti itu?. Arfan ingin mengungkapkan semuanya namun saat ia berpikir lagi, semuanya tidak semudah itu terlebih Rio anak kandung Amanda dan juga Sena yang bisa memutar balikan fakta. Sepasang insan ini seakan saling melengkapi dalam hal apapun, walau pertengkaran sering menghampiri mereka.


"Mama ini"


"Kamu tahu ruang rawatnya?"


"Iya, kenapa?"


"Mama mau jenguk dia sekalian minta ASI buat Kevin"


"Mama mau buat Angel sedih?" tanya Arfan pura-pura tidak setuju. Amanda terlihat sedang mencerna perkataan Arfan, dirinya datang ke Angel untuk meminta ASI dan dirinya tahu bayi Angel diambil suaminya, pasti sekarang Angel sangat sedih.


"Nanti Angel mengira mama cuma mau manfaatin dia" sambung Arfan lagi.


"Kali saja dia mau lagian ASI kalau ngga dikeluarin dari "pabrik"nya itu bikin meriang"


Arfan hanya membalas dengan deheman. Kevin yang terdiam mendengarkan kini tersenyum senang bahkan tangan mungilnya mengangkat keudara seakan ingin cepat pergi.


"Sabar sayang, kamu yah ngga sabaran. Pake sarung tangan dulu yah, biar kamu ngga cakarin wajahmu"


Amanda menciumi pipi Kevin dengan gemasnya. Arfan ikut merasa senang melihat kebahagiaan Amanda.


.


Amanda sedang membopong Kevin dan berjalan mengelilingi ruangan sembari menunggu Arfan mandi. Amanda memperhatikan lekat wajah Kevin. Amanda merasa untuk bayi yang lahir kemarin itu wajah dan matanya tidak seperti ini juga plasenta yang sudah terlepas itu biasanya paling cepat itu 4 hari samapi 1 mingguan lebih setelah dilahirkan.


"Wajahnya kenapa mirip Angel?" saat Amanda perhatikan lagi kemiripan Kevin lebih ke Rio tapi saat dilihat dari sudut lain malah mirip Arfan.


"Jangan berpikiran aneh-aneh Amanda! ini masih bayi, dulu Rio juga sama mirip sana sini" ucap Amanda menenangkan dirinya sendiri berbarengan dengan Arfan yang selesai mandi.


"Kevin tidur?"


"Iya padahal dia belum nyusu"


"Sekarang saja jenguk Angelnya Natar malah keburu Sena kesini. Mama tahukan Sena itu cemburuan banget?" ajak Arfan. Dia juga tidak ingin Rio mengetahui hal ini.


"Iya, Ayo"


...


Kamar rawat Angel.


Angel terlihat sangat bosan berada disini tapi mau bagaimana lagi luka operasi nya belum sembuh total dan Rio juga melarangnya untuk pergi dari sini bahkan Rio menyuruh suster rumah sakit untuk setiap setengah jam sekali mengecek kondisi Angel. Ini dilakukan Rio untuk memastikan Angel baik-baik saja sebelum diantar pulang kerumahnya.


Sura ketukan di pintu menghentikan gerutuannya. Angel melihat kearah pintu tak lama pintu itu terbuka, Angel terlihat terkejut sekaligus senang melihat kedatangan Arfan, Amanda dan juga malaikat kecil yang sangat ia rindukan.


"Angel, kamu sudah baik kan?"


"Mama? eh.. udah kok Ma"


"Syukur lah"


Amanda mendekati Angel dan pandangan mata Angel tertuju pada Kevin yang berada di bopongan Amanda.


"Kamu kangen dengan anakmu yah? Mama sudah tahu dari Arfan"


Angel langsung menoleh kearah Arfan. Arfan menganggukkan kepalanya, seakan menyuruh Angel melakukan apa yang Arfan suruh. Angel membaca gerak bibir Arfan yang mengucapkan "Mama tidak tahu" yang berarti Amanda belum mengetahui yang sebenarnya.


"Itu?"


"Ini cucu mama, namanya Kevin"


"Terus Sena mana terus kok merah gitu tangannya?"


"ASI Sena belum keluar terus dikasih susu formula malah alergi gitu"


"Ya ampun, pasti ngga nyaman banget Kevin nya yah?"


Mendengar suara Angel, Kevin langsung terbangun dari tidurnya seakan ia sudah hafal dengan suara ibu kandungnya.


"Eh... Si ganteng bangun, kenapa?"


Kevin menangis dengan kencangnya, pasti dia merasa lapar. Amanda terlihat panik sebab botol susunya tertinggal di ruang rawat.


"Fan, cepat ambil botol susunya Kevin. Mama lupa bawa" suruh Amanda. Angel ingin menyusui anaknya tapi ia takut tidak dibolehkan Amanda namun naluri keibuannya menghapus rasa takutnya.


"Ma, boleh aku susui Kevin?" tanya Angel dengan ragu.


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan"


"Sinih, kasihan dianya kelaperan"


Amanda mengoper Kevin ke Angel lalu Angel mulai menyusui Kevin. Amanda tersenyum saat melihat Kevin yang mau menerima ASI yang bukan dari Ibunya. Angel mengelus tangan mungil Kevin, ia berucap syukur karena kondisi Kevin sudah mulai membaik.


"Eh?" Angel terkejut saat jari-jari mungil tangan kanan Kevin menggenggam jari kelingkingnya seakan Kevin tidak ingin berpisah dari Angel.


"Lahap banget kamu, Kev" ucap Arfan yang tiba-tiba menghampiri sontak Angel langsung melampirkan kain bedong ke bahunya agar area dadanya tidak terlihat oleh Arfan. Kain itu juga menutup tubuh Kevin sebagian. Amanda langsung menarik telinga Arfan.


"Kamu ini!"


"Ampun, ma. Sadis banget jadi orang"


"Tuh paman kamu bandel"


Angel mengintip dari bagian samping yang terbuka. Bayi mungil itu tersenyum dengan sangat manisnya.


"El"


"Iya ma, kenapa?"


"Mama tahu kamu sedang sedih tapi Mama ingin mengatakan ini kepadamu"


"Apa?"


"Kamu mau ngga jadi ibu susunya Kevin? soal nya kamu itu sudah dekat sekali dengan keluargaku dan tidak ada rasa khawatir di hatiku ini, saat Kevin bersamamu. Ya itu juga kalau kamu mau"


"Iya aku mau"


"Terima kasih, sayang"


Angel tersenyum senang dengan ini semua walau jadi ibu susu yang terpenting bagi Angel adalah bersama Kevin.


...


Dua hari berlalu Rumah Amanda Riko


Sena tengah membopong Kevin diruang tamu. Sena sangat menyayangi Kevin seperti anaknya sendiri.


"Sayang, nyariin papa yah? papa lagi kerja, papa kamu itu super sibuk"


Sena mencium pipi Kevin dengan gemasnya. Bayi mungil ini melihat kearah cahaya yang menembus kaca jendela.


"Sayang, ayo tidur. Ini waktunya kamu tidur"


Sena mendengar suara mobil diluar dan ia mengira kalau itu Amanda yang pamit pagi-pagi sekali namun Amanda tidak bilang ingin kemana.


"Itu pasti Nenek, kamu nyariin dia yah?"


Sena menuju ke arah pintu. Pintu itu terbuka dengan lebarnya namun setelahnya raut wajah Sena berubah.


"Angel?"


Sena terkejut melihat kedatangan Angel dengan Amanda. Angel melihat kearah Kevin yang tengah dibopong Sena. Sena mengeratkan dekapan tangannya, ia tidak ingin Kevin diambil oleh Angel.


"Kevin belum tidur"


"Belum, ma. Kok Angel sama Mama?" tanya Sena sebiasa mungkin.


"ASI kamu kan belum keluar jadi mama minta Angel buat jadi ibu susunya Kevin"


"Kenapa harus Angel kan biasa yang lain" ucap Sena dengan nada tak suka. Amanda sekarang tidak ingin menuruti siapapun ataupun mengurusi penolakan dari siapapun yang terpenting untuknya adalah kesehatan cucu pertamanya.


"Sena, Mama tidak percaya dengan orang asing yang tidak mama kenal, lagian kamu sudah kenal dengan Angel jadi apa salahnya. Minggu depan katamu mulai pemotretan jadi Angel yang menjaga Kevin"


"Ma"


"Kenapa lagi? kamu takut Kevin dibawa pergi sama Angel ya kan ngga mungkin, rumah ini aman, sayang. Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh nanti kamu sakit dan ASI nya ngga keluar-keluar, sinih Kevin nya"


Dengan terpaksa Sena menyerahkan Kevin ke Amanda. Sena menatap kesal ke Angel yang terlihat biasa-biasa saja. Sena berpikiran kalau Angel akan merebut Kevin dan Rio dari dirinya melalui ibu mertua nya.


"Ayo, El"


Angel mengikuti Amanda dari belakang meninggalkan Sena yang terlihat tidak setuju. Sena langsung meraih ponselnya untuk menelfon Rio.


"Ri pulang sekarang juga!" ucap Sena langsung setelah Rio mengangkat panggilan teleponnya.


"Tapi"


"Ngga ada tapi-tapian! pulang sekarang!"


"Iya"


Sena langsung menutup teleponnya. Sena berdecak kesal lalu berjalan menuju kamar Angel. Sena menunggu Angel keluar dari kamar. Sena langsung menarik tangan Angel menuju samping rumah.


"Kenapa kamu disini!" tanya Sena langsung. Angel menatap datar Sena tanpa niatan untuk menjawab Sena.


"JAWAB!" Bentak Sena namun tidak membuat Angel takut ataupun apa yang jelas Angel malah berdecak sembari memutar bola matanya bosan dengan sikap Sena yang berbanding terbalik dengan sikap berjalannya yang anggun.


"Nggak usah pake urat ngomongnya, aku juga tidak tuli" jawab Angel dengan datar. Sena terlihat sangat bringas sekarang karena sikap Angel yang seperti meremehkannya.


"Cih! kamu ngapain disini! perjanjiannya sudah selesai dan kamu tidak diperlukan lagi disini!" ucap Sena dengan penekanan. Sena tidak ingin Angel berada disini bahkan namanya haram disebut di rumah ini.


"Kamu kira aku barang yang seenaknya dibuang?"


"Ooohh, sebutkan harga yang kamu minta? berapapun asal kamu pergi dari sini!"


Angel terkekeh mendengarnya. Sena kira Angel tetap disini agar mendapat uang dari Rio padahal tidak, Angel hanya ingin dekat dengan anaknya.


"Kamu tidak akan mampu membayarnya"


"Ck! Perempuan jal*ng kek kamu emang laku berapa?"


"Harusnya itu yang aku tanyakan kepadamu hingga kamu gila kerja sampai-sampai Suamimu sendiri di titipkan kepadaku?" ucap Angel dengan nada sinis nya. Sena yang sudah sangat geram langsung mengayunkan tangan kanannya untuk menampar Angel namun Angel yang sudah lebih kuat dari sebelumnya menangkis tangan Sena. Angel mencengkram pergelangan tangan Sena di udara.


"Kamu mulai berani melawanku! hah!"


"Sena-Sena, kamu itu aneh, kenapa Rio sampai suka sama orang sepertimu? Sifat mu tak secantik wajahmu"


"Rio milikku dan selamanya jadi milikku dan kamu tidak akan bisa merebutnya dariku!"


Angel melepas cengkramannya. Angel menghela napas beratnya lalu menatap Sena. Angel heran kenapa Sena sebegitu cintanya dengan Rio yang seakan tidak punya hati.


"Tenang saja aku tidak akan merebut suamimu toh aku juga istrinya kan?"


"Kamu!"


"Jangan marah gitu ntar cepat tua loh, aku hanya ingin bersama anakku dan soal Rio? emm kamu jagain saja takutnya dia cari wanita lain buat lahirin adiknya Kevin"


Angel langsung pergi meninggalkan Sena begitu saja yang terdiam mematung.


"Angel!" desis Sena.


.


Angel buru-buru ke dapur untuk minum yang seharusnya ia lakukan dari tadi. Angel takut Kevin terbangun ya walau pun ada Amanda yang tengah bersamanya.


"Hufff"


Angel memijat pinggangnya yang terasa sangat pegal karena menyusui Kevin yang maunya ngempeng terus kalau dicabut malah nangis.


"Kamu ngapain disini?" suara menyeramkan milik Rio membuat Angel terkejut. Ia pun langsung menoleh kebelakang. Rio sekarang tahu kenapa Sena begitu sangat marah pastinya Sena mengira Angel datang ke rumah ini karena kehendaknya.


"Bisa ngga ngomongnya biasa saja?"


"Kamu ngapain disini!"


"Aku? aku sedang menjaga anakku"


"Ck!"


Rio langsung menarik pergelangan tangan Angel, menariknya kearah pintu. Cengkraman tangan Rio masih tetap sama, kasar dan seakan tidak perduli dengan tangan orang yang ia cengkram.


"Aku tidak mau pergi!"


"Kamu harus pergi sekarang juga!"


Amanda yang tengah mencari Angel karena Kevin lapar lagi setelah ia BAB (buang air besar), Amanda melihat Rio yang menarik paksa Angel.


"Mau dibawa kemana Ange, Ri?"


Sontak Rio melepas cengkraman tangan Angel.


"Mau Rio antar pulang"


"Pulang kemana? ke rumah suaminya yang tidak punya hati itu?"


"Apa?" saat Amanda menyebut "Suami yang tidak punya hati" membuat Rio merasa tidak nyaman mungkin karena ibu kandungnya sendiri yang mengatakan hal itu.


"Kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, Suaminya Angel itu sudah menceraikan Angel setelah bayinya lahir dan lebih parahnya masa dia tega misahin anaknya dari Angel? kenapa kamu punya teman seperti dia?"


Rio terlihat bingung dengan semua ini sedetik itu pula Rio teringat Arfan yang telah mengetahui semuanya.


"Mama tahu dari Arfan?"


"Itu tidak penting, yang jelas Angel akan tinggal disini untuk rawat Kevin"


"Ma, Sena pasti tidak setuju dengan hal ini"


"Terus mama harus menurut dengan kemauan Sena ataupun kamu gitu? itu yang kamu mau, kalau iya kalian tidak usah punya anak kalau seperti ini terus, kalian selalu mementingkan diri kalian sendiri dan tidak pernah berubah. Kevin butuh sosok seorang ibu yang perhatian bukan perhatian untuk diri sendiri. Ini keputusan Mama, kalau kamu dan Sena merasa mampu mengurus Kevin ya silakan kalau tidak, sebaiknya jangan atau kejadian seperti kemarin akan terulang kembali" ucap Amanda panjang lebar. Amanda ingin sekali menjedotkan kepala Rio ke dinding agar otaknya jernih sedikit. Rio seakan takut kepada Sena dan serasa lebih memilih Sena dibandingkan Kevin yang sangat butuh perhatian.


"Terserah mama mau apa, yang jelas Angel tidak boleh terlalu lama disini"


"Aku juga tidak ingin terus melihatmu yang semakin hari semakin kasar" ucap Angel tak kalah sadisnya. Amanda pasti sangat tahu apa yang tengah Angel rasakan, Angel pasti sangat marah kepada Rio yang menariknya paksa bahkan seolah tidak suka dengan keberadaannya di rumah ini.


"El, kamu ke kamar gih, Kevin nyariin"


"Iya ma"


Seperginya Angel, Amanda langsung menjewer telinga kiri Rio. Hal yang jarang Amanda lakukan bahkan Rio pun kaget dengan perlakuan Amanda.


"Ma, sakit"


Amanda langsung melepas jeweran nya.


"Sakit? itu juga yang dirasakan Angel saat kamu cengkraman tangan dia tadi. Kamu teman suaminya Angel kan? bilang sama dia," kalau dia itu bukan manusia!" mana ada manusia seperti dia yang tega memisahkan ibu dari anaknya"


Amanda langsung pergi menyusul Angel. Rio sedang mencerna perkataan Amanda barusan, terlihat jelas sorot mata kebencian juga amarah. Rio takut Amanda akan mengetahui bahwa dirinya lah suami Angel dan dia lah yang memisahkan Ibu dari anaknya, Rio tidak bisa membayangkan betapa kecewanya Amanda kepada dirinya.


"Apa aku seburuk itu?"


Sena yang melihat Rio sudah pulang langsung menghampiri Rio dengan wajah kesal.


"Kamu yang bawa Angel kesini?" tanya Sena dengan nada kecewa.


"Bukan aku, aku juga kaget saat melihat Angel tadi" jawab Rio jujur namun sepertinya Sena tidak percaya dengan semua yang dikatakan Rio.


"Jangan bohong! aku tahu kamu masih mencintai dia kan?"


"Aku tidak berbohong! jangan tanyakan itu lagi, amarah mu itu bisa membuat situasi jadi tambah runyam"


Rio langsung menuju kamar. Sena yang masih butuh penjelasan mengikuti Rio ke kamar.


Kamar Angel


Angel tengah menemani Kevin tidur, ruam merah di tangannya kini mulai hilang.


"El, kamu ikut tidur saja"


"Iya ma"


"Mama mau belanja, kalau ada apa-apa bilang saja sama Rio yah"


"Iya"


Setelah Amanda pergi. Angel langsung mengunci pintu. Angel ingin lebih dekat dengan anaknya.


****