Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 47 Kejutan!!!



...


Arfan yang penasaran Angel benar-benar tidur atau hanya berpura-pura saja, melangkah ke sisi lain pembaringan. Kening Arfan mengkerut melihat kedua mata Angel yang terpejam namun air matanya membasahi pelupuk matanya. Hati Arfan terasa sakit saat melihat Angel menangis.


Arfan tahu kalau Angel sekarang tidak baik-baik saja, mana ada wanita yang bisa melewati masa kehamilan tanpa dukungan dari suami dan orang-orang terdekatnya, hati Angel pasti sangat terluka akan hal ini. Jujur Arfan ingin sekali mengetahui keberadaan suami Angel dan apa hal yang sebenarnya diantara ketiga orang ini. Semakin Arfan memikirkan tentang ini kepalanya terasa pening, kalau dugaannya benar bahwa Angel cuma rahim penggantinya Sena?.. Arfan akan sangat membenci Rio sebab Rio pasti ikut terlibat dalam hal ini. Arfan sekarang tidak ingin memikirkan hal ini dulu sebab Angel sekarang tengah membutuhkannya.


"Aku tahu kamu tidak tidur" ucap Arfan namun tidak ada respon dari Angel. Angel mendengar suara Arfan yah memang dia tidak tidur. Angel sekarang tidak ingin melihat wajah Arfan karena itu mengingatkannya dengan Rio.


"Kamu kenapa? kamu ingat suami kamu?"


Mendengar kata"suami" darah Angel seakan mendidih, perasaan kecewa, sedih, marah dan entahlah hanya Angel yang tahu, yang jelas mana ada istri yang tidak ingin diakui oleh suaminya. Rio itu suami Angel namun Angel tidak bisa mengakui bahwa Rio itu suaminya begitu juga sebaliknya. Pernikahan ini hanya sebatas hitam di atas putih, perjanjian di atas kertas yang sebentar lagi akan berakhir.


"Ada aku disini, kamu bisa cerita apa saja kepadaku. Aku janji akan selalu mendengarkan semua keluh kesah mu"


Mendengar ada orang yang perhatian dan sebegitu tulusnya kepadanya, Angel langsung terisak. Selain Reyhan dan orang tuanya tidak ada orang lain yang mampu memahami dirinya, dan sekarang ada Arfan yang seakan menjaganya seperti Reyhan.


"Eh? kok nangis?"


Arfan tersenyum tipis lalu membelai puncak kepala Angel dengan lembutnya. Angel masih terisak dalam kondisi mata yang masih terpejam. Arfan tahu selama ini Angel berusaha tegar menghadapi ini semua dan kali ini Angel tidak sanggup lagi menegakkan kepalanya serasa sudah sangat capek menghadapi semua ini.


"Luapkan saja semuanya, biar kamu merasa lebih baik! menangis itu mengungkapkan rasa yang tidak bisa kamu ungkapkan"


"Fan"


"Iya"


Angel perlahan membuka kelopak matanya. Kedua mata Angel langsung melihat senyuman yang sangat manis dibibir Arfan.


"Ke...kenapa hidupku ..se..seperti ini? aku capek! Fan! capek! kenapa Tuhan menggariskan hidupku seperti ini!" ucap Angel di selah-selah isakan nya.


"Jangan bilang seperti itu! Tuhan memberikan cobaan hidup seperti ini kepadamu sebab Tuhan tahu kamu itu kuat dan karena kamu istimewa"


"Tapi, kenapa harus seperti ini? apa Tuhan tidak sayang kepadaku lagi? terus kenapa aku masih hidup?"


"Sssttttt... jangan bicara seperti itu, tidak baik! kamu harus ingat dirahim mu itu ada malaikat kecil yang hidupnya bergantung kepadamu. Dia ingin lahir ke dunia ini, dia ingin melihat wajahmu, merasakan kasih sayangmu dan dia ingin bermain bersamamu"


Angel terdiam. Yang dikatakan Arfan benar, dirinya harus kuat melalui ini semua. Arfan tersenyum sekilas lalu mengecup kening Angel dengan lembutnya seakan Arfan memberi kekuatan untuk Angel. Angel merasa ketulusan Arfan kepadanya. Sifat Arfan dan Rio menurut Angel sangatlah berbeda.


Kecupan Arfan berpindah ke perut Angel. Kecupan Arfan membuat janin diperut Angel menendang, seakan ia ingin bermain dengan Arfan.


"Hai sayang". Arfan mulai berbicara dengan janin diperut Angel." kamu jangan ikutan sedih seperti bunda mu yah? bunda kamu itu cengeng dan kamu ngga boleh cengeng seperti bunda mu itu. Kamu cowok dan kamu harus jagain bunda mu"


Angel tersenyum saat Arfan menyapa janinnya dengan penuh kasih sayang walaupun Arfan bukanlah Ayahnya.


"Eh? anakku cowok?" tanya Angel dengan penuh penasaran.


"Iya, ntar aku ajarin dia main game"


"Ihhh... ngga!" tolak Angel yang tidak mau anaknya kecanduan game seperti Arfan.


"Dih, biarin"


"Iihh kamu yah!" Angel mengerutkan dagunya namun Arfan seolah tidak perduli. Angel terus memperhatikan Arfan yang tengah "bermain" dengan janinnya. Terselip harapan dihati Angel yang ingin Rio menemaninya di setiap waktu, Angel ingin menceritakan semua yang ia rasakan selama mengandung malaikat kecil ini.


Arfan membelai perut Angel, dirinya merasakan gerakan janin Angel. Walau Arfan bukanlah Ayah kandung dari janin ini tapi dirinya tidak sabar menanti kelahiran malaikat kecil ini.


"Kamu bosan yah?" seketika itu Arfan melihat kearah Angel dan entah kenapa Angel merasa canggung ditatap seperti itu oleh Arfan.


"I..iya"


"Ke taman rumah sakit yuk?" ajak Arfan. Angel hanya mengangguk. Arfan membantu Angel bangkit dari pembaringan. Angel merasa perutnya semakin berat dan gerakan janinnya semakin sering terasa.


...


Arfan mendorong kursi roda yang Angel duduki menuju taman rumah sakit. Senyum Arfan masih terlihat manis dibibirnya, perasaanya kini lega dan juga senang melihat Angel yang sudah sehat, sedangkan Angel tengah mengelus perutnya dengan penuh kelembutan.


"Kamu tidur yah, sayang?" tanya Angel kepada janinnya yang tidak lagi menendang. Arfan yang mendengar itu hanya semakin melebarkan senyumnya.


Lima menit berlalu, akhirnya mereka sampai di taman rumah sakit. Angel merasa tak lagi suntuk seperti tadi, taman yang cukup luas dan juga sangat asri membuat dirinya lupa bahwa ini rumah sakit.


..


Lima menit sesudah percakapan terakhir membuat atmosfer ini terasa hampa. Arfan menoleh kearah Angel yang tengah melamun, hati Arfan kembali terasa sakit saat melihat Angel seperti ini tapi bukan Arfan namanya kalau tidak bisa mencairkan suasana.


"Panas! kamu mau es krim?" tanya Arfan membuyarkan lamunan Angel.


"Eh? apa?" tanya Angel dengan bingung membuat Arfan terkekeh pelan.


"Kamu mau es krim?" tanya Arfan sekali lagi.


"Iya"


"Mau rasa apa?"


"Terserah?"


"Terserah? emang ada rasa "terserah" yah?" tanya Arfan dengan polosnya membuat Angel menatap sengit kerah Arfan.


"Bukan ittuuuu!!"


"Terus apa? kan ngga ada rasa terserah"


"Ih maksudku bukan itu! terserah kamu mau membelikan ku rasa apa saja"


"Oh" Arfan hanya ber"O" ria dengan senyum jahilnya dan membuat Angel mendengus kesal, ia tahu sekarang bahwa Arfan hanya mengusilnya saja.


"Nggak usah ngambek gitu! jelek tahu" ucap Arfan sembari bangkit dari duduknya.


"Biarin!" ucap Angel singkat. Arfan tahu kalau bumil ini tengah ngambek kepadanya.


"Dih? ngambek? aku beli sekarang, jangan ngilang!" setelah berucap Arfan langsung mengacak-acak poni Angel lalu berlalu pergi.


"Memangnya aku mau ngilang kemana?" dengus Angel. "Eh" Angel merasa janinya mulai menendang lagi.


"Kamu sudah bangun?"


Angel berusah lebih tegar lagi dan ia tidak ingin membuat janinnya ikut merasa sedih.


...


11:30 Bali


Sena mendengus kesal karena Rio terus saja mengambil gambarnya padahal dirinya sudah melarang Rio melakukan ini.


Ckrek


"Ihhh Rio!" kesal Sena yang langsung menghampiri Rio yang berdiri tak jauh darinya.


"Sayang, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu tapi kenapa kamu malah menghabiskan waktu bersama kamera kesayanganmu saja" Sena merebut kamera yang Rio pegang.


Rio melingkarkan tangannya di pinggang Sena membuat Sena semakin dekat dengan Rio.


"Aku ingin mengabadikan momen ini"


"Tapi aku sudah sangat bosan dengan kamera, aku hanya ingin kamu"


"Oh ya"


"Iya, ayo makan, aku lapar"


"Oke, aku tahu tempat yang makanannya enak"


...


Resto


Restoran ini terasa sangat sejuk dengan pemandangan sawah yang indah. Restoran ini dibangun berdekatan dengan persawahan.


Sena terbengong melihat makanan yang Rio pesan. Mereka hanya berdua dan Rio memesan makanan begitu banyak.


"Kamu yakin?"


"Iyalah, katanya kamu lapar"


"Kamu tahu sendiri aku gimana?"


Sena tidak mungkin memakan makanan seperti ini karena Sena sangat menjaga berat badannya.


"Kamu ini! kamu kan sedang pura-pura hamil, kalau badan mu tetap seperti itu nanti mama curiga"


"Tapi"


"Ini enak loh, kamu sudah jauh-jauh kesini tapi tidak memakan makanan khas disini kan ngga lengkap liburannya"


"Iya sih, tapikan.. ah.. aku nggak mau badanku gemuk!" ucap Sena dengan khawatir membuat Rio terkekeh pelan.


"Memangnya kamu bisa ngemuk yah?" ejek Rio yang langsung mengambil sate lilit di piring lalu menyodorkannya kearah Sena, seakan Rio ingin Sena memakannya.


"Dikit saja, cobain"


"Ya sudah" Sena menggigit kecil sate lilit itu. Rio tersenyum saat melihat ekspresi Sena yang menyukai rasa dari sate lilit ini.


"Enakkan?"


Sena mengangguk dan mulai mencicipi hidangan didepannya ini, ya walaupun Sena hanya memakan sedikit namun itu sudah cukup menghilangkan rasa cemas Rio. Dari dulu Rio tidak mempermasalahkan fisik Sena, yang terpenting baginya itu kesehatan Sena.


.


Rio terbengong melihat Sena makan dengan kalap melebihi dirinya, bahkan Sena memakan makanan yang berlemak. Jujur makanan ini sangat enak dan mungkin ini lah alasan Sena makan banyak.


"Kamu suka makanannya?"


"Eh? ya ampun, aku makan banyak banget" heran Sena yang baru menyadari dirinya makan dengan lahapnya.


"Udah terlanjur di makan, masa mau dikeluarin lagi?"


"Ih, nanti aku gendut gimana?" ucap Sena panik padahal ini kali pertamanya memakan makanan seperti ini. Rio menatap Sena datar, menurut Rio, Sena itu sangatlah lebay dengan urusan penampilan.


"Aku mau tanya sesuatu sama kamu"


"Apa?"


"Suami kamu itu aku atau kamera sih?"


"Hah? maksudnya?" tanya Sena yang tidak maksud dengan perkataan Rio. Rio menghela napas beratnya.


"Secara kamu itu selalu tampil maksimal didepan kamera, kamu selalu memperdulikan bentuk badanmu agar terlihat bagus didepan kamera, padahal aku sebagai suamimu tidak pernah mempermasalahkan penampilanmu. Hari ini dan seterusnya aku ingin kamu tidak memikirkan pekerjaan mu atau apapun yang berkaitan dengan modelling. Aku mau kamu menikmati waktu liburan ini"


"Tapi, kamu sendiri tahu, ini cita-citaku dari dulu"


"Kalau kamu mau aku akan mendirikan butik baju yang kamu sendiri modelnya dan aku akan mencarikan semua yang kamu butuhkan, aku tidak mau kamu berkerja untuk orang lain"


Mendengar itu, Sena nampak tidak percaya namun sorot mata Rio menunjukan keseriusan.


"Kamu beneran?"


"Iya, sayang"


"Terima kasih, sayang"


"Iya, ayo makan lagi"


Sena mengangguk. Rio tersenyum tipis sekaligus mengerutuki dirinya sendiri sebab ide ini tidak muncul dari dulu.


...


Jakarta. R.S. 14:00


Angel tersenyum senang akhirnya bisa pulang sekarang namun berbeda dengan yang Arfan tunjukan, Arfan seakan tidak senang Angel pulang pada jam ini padahal dokter kemarin bilang bahwa Angel diperbolehkan pulang pada jam lima sore.


"Bisa berantakan nih" lirih Arfan.


"Fan? ayo pulang!" ajak Angel yang ingin segera pergi. Arfan mencari akal agar tidak pulang sekarang dan memberi waktu pada orang rumah untuk menyelesaikan rencana.


"Emm, El, susu untuk kamu masih ada?"


"Kayaknya sih masih, kenapa?"


"Kok kayaknya, mending kita beli sekarang mumpung nanti lewat super market"


"Iya udah, nanti aku minta dibeliin cemilan yah?"


"Iya, ayo"


..


Super market


"Kamu mau apa lagi?"


"Mau buah mangga harum manis"


"Oke"


Mereka berdua menuju kearea tempat buah. Setelah ini Arfan berencana untuk mengajak Angel ke toko boneka.


..


17:45 Rumah Amanda Riko


Angel berjalan duluan menuju pintu rumah, sedangkan Arfan tengah menurunkan barang belanjaan.


"Kok sepi sih?" lirih Angel yang heran rumah begitu sangat sepi dan lampu didalam rumah pun belum menyala. Angel tak ambil pusing dengan itu semua, dirinya ingin sekali beristirahat. Angel pun langsung membuka pintu rumah.


Ceklek


"KEJUTAN!!!!"


Angel terkejut saat semua lampu menyala dan melihatkan ruang tamu yang penuh dengan balon berwarna biru dan putih dan juga banyak pernak-pernik lainnya yang menambah kesan mewah dan juga meriah. Air mata Angel menetes saat ia melihat foto-fotonya dipajang, dan ia tidak tahu kapan foto itu diambil. Angel tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa terisak sangking bahagianya.


"Ini?" Angel menduga kalau ini kejutan tujuh bulanan kehamilannya sebab ada foto hasil USG bayinya yang terpampang diantara tulisan"BABY BOY".


Amanda berjalan menghampiri Angel dengan senyum merekah di bibirnya. Arfan sendiri yang mengetahui kejutan ini dari awal juga merasa terkejut sebab dirinya tidak menyangka kalau orang tuanya akan menyiapkan semeriah ini.


"Kamu suka kejutan ini?"


"Ma? makasih!"


Amanda langsung memeluk Angel, Angel membalas pelukan Amanda. Pelukan ini sangatlah hangat, Angel merasa pelukan dan kasih sayang ini sama seperti yang diberikan Jihan, ibu kandungnya. Amanda merasakan kehadiran Angel di rumah ini membawa kebahagiaan untuk keluarganya.


"Sama-sama sayang"


Acara tujuh bulanan ini sangat meriah ya walaupun hanya dirayakan oleh orang-orang rumah saja. Kali ini tidak ada yang namanya tuan dan pembantu, semuanya larut dalam kebahagiaan ini.


Arfan yang suka sekali memotret mengambil kameranya lalu mengabadikan momen ini, terlebih dirinya sangat senang melihat Amanda yang sangat bahagia.


Angel bagaikan malaikat yang datang membawa kebahagiaan untuk keluarganya.


"Eh?"


Arfan terdiam saat melihat senyum Angel yang sangat manis. Wajah cantik yang penuh akan keceriaan dan begitu banyak rasa yang disembunyikan oleh wajah itu.


Arfan ingin sekali membuat Angel merasa bahagia dan melupakan semua rasa sakit yang menyiksanya selama ini.


"Kamu sedang melihat apa?"


Tiba-tiba saja Riko sudah berada di samping Arfan dan membuat Arfan terkejut.


"Papa ini bikin kaget saja!"


"Salah sendiri melamun, tuh foto Mama sama Angel!"


"Iye Vampir" kesal Arfan yang langsung berlalu pergi meninggalkan Riko.


"Tuh anak marah?"tanya Riko ke dirinya sendiri. "Entahlah" sambung Riko lagi lalu menghampiri Arfan yang tengah menggambil foto Angel.


...


Angel tengah duduk sembari meluruskan kakinya di sofa. Perutnya kini kian membesar dan itu membuat dirinya gampang sekali capek terutama pada bagian kaki. Pemotretan tadi membuatnya kelelahan tapi Angel merasa sangat senang mendapat hadiah seperti ini.


Angel mengelus perutnya, setiap kali mengelus perutnya ini bayangan Rio selalu muncul dan ini membuatnya merasa sedih, terlebih sekarang Rio tengah bersenang-senang dengan Sena.


Arfan yang habis dari dapur melihat Angel yang tengah berbicara dengan janinnya membuat kaki Arfan melangkah menghampiri Angel.


"Capek yah?"


Arfan langsung duduk lesehan, tanpa diminta Arfan langsung memijit kaki Angel


"Eh? nggak usah!"


"Aku memaksa, lagian kalau bukan aku siapa lagi yang mengurus mu?" ucap Arfan tanpa melihat kearah Angel. Angel tersenyum tipis mendengarnya.


"Ini sakit?" tanya Arfan sembari memijit pergelangan kaki Angel yang membengkak.


"Sedikit"


Mendengar itu, Arfan memijit dengan pelan agar Angel tidak merasakan sakit. Amanda menghampiri keduanya, dirinya duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Angel.


Melihat Arfan yang begitu perhatian kepada Angel membuat Amanda mempunyai ide jahil yang mungkin saja dapat membuat Arfan ingin secepatnya menikah.


"Fan, kamu sudah cocok jadi suami, nikah Sanah gih!" suruh Amanda yang membuat Arfan menoleh kearah Amanda dan menatap Amanda dengan tatapan aneh.


"Mama ini, nyuruh nikah kek nyuruh bocah makan aja! nikah itu nggak gampang, ma!" kesal Arfan. Angel yang tahu menahu tentang masalah ini hanya diam dan mendengarkan saja.


"Terus kapan kamu nikahnya? Mama mau cucu dari kamu!"


"Tapi Arfan maunya adik! dari dulu Arfan minta adik ngga dikasih kasih!"


"Kamu yah? sedang bahas apa malah dibelok- belokin"


"Ya sudah, Mama jangan bahas itu!" ucap Arfan dengan penuh penekanan lalu kembali fokus memijit kaki Angel. Arfan hanya ingin menikah dengan perempuan seperti Angel.


"Fan,jangan seperti itu, mama kamu hanya ingin yang terbaik untukmu" ucap Angel dan membuat Arfan menghela napas berat. Arfan menoleh ke Mamanya lalu berucap.


"Maaf, ma. Arfan belum ingin menikah" ucapan Arfan membuat Amanda tersenyum tipis.


"Ya sudah kalau begitu, kamu latihan dulu jadi suami. Jagain Angel sampai Suaminya pulang"


Angel POV


Pulang? aku tidak tahu kapan dia pulang, kalau pun pulang semua tetap sama, tidak ada yang berubah. Semakin kesini semakin membuatku tidak mengharapkan lagi sebuah pengakuan hanya saja sekarang aku ingin anakku bersamaku.


"Siap bos!"


Aku tersenyum saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Arfan. Keluarga ini sangat baik kepadaku, mereka memperlakukanku seperti keluarganya sendiri walaupun mereka tidak tahu kalau aku istri kedua dari Rio.


Ibu, Ayah? aku merindukan mereka, semoga saja mereka baik-baik saja.


"Kamu melamun?"


"Eh? tidak"


Aku tersenyum tipis kepadanya. Sifat dan perhatian yang Arfan berikan membuatku merindukan sosok Rey. Kalau aku bertemu dengannya, aku harus bilang apa? saat itu aku ingin jujur kepadanya namun aku tidak berani terlebih dia nampak senang saat bersamaku atau aku yang merasa begitu.


Kandunganku sudah tujuh bulan berarti tinggal berapa bulan lagi dan aku belum mendapat kepastian dari Rio. Apakah semua ini akan berakhir seperti perjanjian itu?.


"Tuh kan melamun lagi!"


POV END


Angel hanya melempar senyum kearah Arfan. Amanda yang melihat keakraban mereka ikut senang. Riko menuruni tangga dengan membawa paper bag berukuran sedang, ini hadiah untuk Angel.


"Sejak kapan kamu jadi tukang pijat?" tanya Riko ke Arfan. Riko selalu membuat Arfan merasa kesal, Riko ingin selalu jahil ke Arfan sebab Arfan yang selalu mudah diajak bercanda dibandingkan Rio.


"Dari tadi" jawab Arfan acuh tanpa menoleh kearah Riko, Arfan masih asik memijit kaki Angel. Senyum Riko mengembang saat melihat perut Angel yang bulat, dirinya ingin secepatnya bermain dengan cucunya.


"El, orang tuamu tahu kamu disini?" pertanyaan dari Riko membuat Angel bingung harus jawab apa. Melihat Angel yang hanya diam membuat Amanda merasa sedih, pasti sekarang Angel jadi ingat orang tuanya.


"Ya pasti tahulah, Pa. Kamu ini! jadi sedih tuh!"


"Iya tuh! Papa sih!" Arfan juga ikut-ikutan menyalahkan Riko. Angel hanya menggeleng pelan, ia tidak mau membuat masalah dirumah ini.


"Papa kan cuma tanya, maaf yah El?"


"Nggak apa-apa kok, Pa"


Mendengar jawaban Angel, Riko pun tersenyum. Ia lantas menyodorkan paper bag yang ia bawa ke Angel.


"Buat kamu, ambil"


"Makasih" Angel menerima pemberian itu dan Amanda menyuruh Angel membukanya, didalam paper bag itu ternyata sebuah kotak yang berisikan gelang yang terdapat bandul liontin stroberi kecil yang sangat imut.


"Ini beneran untukku?" tanya Angel tak percaya.


"Iya sayang, itu buat kamu. Kamu menyukainya?"


"Iya" Jawab Angel dengan senangnya membuat Riko dan Amanda juga merasa senang.


"Sini, aku pakaikan"


Arfan memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Angel dan gelang itu sangat cocok dipakai ditangan Angel.


Bi Ira datang dengan membawa kardus berukuran sedang dari kurir yang mengantar kiriman dari Bali.


"Tuan, Nyonya ini ada paket, katanya sih dari den Rio"


"Rio?"


"Iya, ini Nya"


Bi Ira menyerahkan kardus itu ke Amanda lalu pergi. Amanda yang penasaran langsung membukanya. Tadi Rio menelfon membelikan sesuatu untuknya dan itu Sena yang memilih sendiri untuk Amanda.


"Kak Rio kirim apa?" tanya Arfan yang penasaran sebab Amanda terlihat begitu senang. Amanda menunjukan tas rotan ke Arfan.


"Pantesan" ucap Arfan yang sangat mengetahui Amanda itu suka sekali dengan barang-barang yang sederhana tapi elegan.


"Cuma itu? untuk Papa?" tanya Riko yang iri karena Rio dan Sena tidak ingat dengannya.


"Ini, Papa suka ukiran kayukan? buat Arfan dan Angel juga ada"


"Tumben mereka ingat sama kita?" ucap Arfan dengan nada yang nampak tidak percaya, namun sejurus itu bantal sofa melayang ke arahnya. Bantal itu Amanda yang melemparnya, habisnya Arfan menjelek-jelekan kakaknya sendiri.


"Ih, mama! Arfan kan bicara benar, Mama tahu sendiri kalau sudah sama Sena bisa lupa dunia"


"Sok tahu kamu! kalau kamu sudah menikah pasti juga sama!" kesal Amanda dan dibalas cengiran Arfan.


"Kalian berdua ini" keluh Riko. Angel hanya menjadi penonton saja. Dirinya bersyukur bertemu dengan orang-orang sebaik mereka walau diakuinya lebih bahagia bersama orang tuanya sendiri dan dirumahnya sendiri meski rumahnya tak sebagus rumah ini.


"El, tidur sana, pasti kamu capek" suruh Riko namun Angel menggeleng, dia masih ingin bersama mereka.


"Kamu mu mau cemilan? Mama ambilkan"


"Eh?" belum sempat menjawab Amanda langsung pergi ke dapur. Riko yang masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan memilih untuk kembali keruang kerja. Hanya tinggal Arfan dan Angel saja dan entah kenapa suasana menjadi canggung.


"Dia sedang apa?"


Angel tahu siapa yang dimaksud Arfan yaitu janinnya. Angel tidak menjawab namun Angel mengarahkan tangan Arfan ke perutnya. Senyum Arfan mengembang saat merasakan gerakan janin Angel.


"Dia sedang main, hey kamu mau jadi pemain bola yah? kuat banget nendangnya"


Arfan yang gemas lalu menciumi perut Angel dengan gemasnya dan bersaman dengan itu Amanda datang dengan membawa sepiring potongan buah yang Arfan beli tadi.


"Tuh kan kamu sudah gemes gitu, cepat nikah!" suara Amanda membuat keduanya terkejut. Arfan membenarkan posisi tubuhnya.


"Aku cuma main sama dia, kasihan main sendirian" ucap Arfan dengan telapak tangan kanannya mengelus perut Angel. Di hati Arfan mengerutuki suami Angel yang tidak berada di samping Angel bahkan dirinya tidak perduli dengan anaknya sendiri.


"Terserah kamu, suapin Angel gih! Mama mau ke Papamu"


Amanda menyerahkan piring yang ia bawa. Arfan menerimanya lalu mulai menyuapi Angel. Amanda tersenyum sedih saat melihat Arfan yang begitu senang didekat Angel, Amanda tahu bahwa Arfan mengharapkan lebih tapi keadaan tidak mendukungnya, Angel telah menikah dengan pria lain dan Arfan tidak boleh mengganggu hubungan mereka.


21:00


Angel tertidur sangat lelap di sofa dengan tangan yang memeluk boneka pemberian Arfan.


Arfan yang habis membantu Riko berkerja terkejut melihat Angel yang tidur di sofa padahal tadi dirinya menyuruh Angel untuk tidur dikamar.


Senyum Arfan mengembang saat melihat wajah Angel yang terlihat sangat lucu saat tertidur. Langkah kaki Arfan melangkah menghampiri Angel, tatap mata Arfan tertuju pada wajah Angel.


Arfan mengusap kepala Angel dengan lembutnya dan ajaibnya senyum Angel mengembang dengan sendirinya.


"Sampai kapan kamu akan menderita seperti ini? aku tahu kamu selama ini menyembunyikan lukamu"


Arfan duduk lesehan dan kini dirinya mengelus perut Angel. Arfan terkejut saat merasakan gerakan janin Angel, Arfan mengira kalau Angel tidur janinnya juga ikut tidur.


"Kamu sedang mencari Papamu yah? jangan sedih ada om Arfan disini, aku akan menjagamu dan bunda mu. Sekarang kamu tidur yah, kasihan bunda mu itu dari tadi kelelahan" seakan menurut janin diperut Angel berhenti bergerak, sepertinya dia sudah tertidur.


"El, andai saja kita bertemu lebih awal, pasti aku sangat beruntung bila aku yang jadi suamimu"


Arfan membelai lembut wajah Angel, wajah yang terlihat sangat cantik natural.


"..."


.....*****......