
10:00 malam
Angel masih membuka matanya. Berada di rumah sakit sangatlah tidak nyaman dan membuatnya sulit untuk memejamkan mata. Sedangkan Rio belum kembali keruang rawat Angel. Mungkin Rio pergi suda dua jam lebih, Rio berpamitan kepada Angel untuk mengurus sesuatu dikantor.
"Hufff, kak Rio belum balik"
Angel merasa ngeri sendiri berada sendiri diruangan ini terlebih Angel membayangkan kalau ranjang yang ia tempati ini pernah ditempati seseorang yang meninggal dalam perawatan.
"Duh kok nggak bisa tidur sih? mana merinding lagi"
Angel langsung menoleh saat mendengar suara pintu di buka. Senyum Angel mengembang saat melihat Rio memasuki ruangan dengan membawa paper bag. Rio terkejut melihat Angel yang masih membuka matanya, ada Angel menunggu dirinya pulang.
"Belum tidur?"
Angel hanya menggeleng pelan membuat Rio menghela napas. Rio menghampiri Angel dengan tatapan sedikit kesal.
"Kamu ini!!"
Angel hanya melihatkan tatapan polosnya. Rio menghela napas lalu mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang dibawanya. Senyum Angel merekah dengan lebarnya saat melihat boneka beruang berwarana coklat yang selama ini dirinya mau.
"Itu?"
Jari telunjuk Angel menunjuk boneka itu dengan wajah senang. Rio mengerutkan dagunya ternyata Angel masih menginginkan boneka beruang coklat.
"Apa? kamu kira ini buat kamu?"
"Iya itu buat aku! sinih!"
Angel sekarang mengulurkan kedua tangannya serta menunjukan wajah cemberutnya seakan memaksa Rio untuk menyerahkan boneka itu.
"Mintanya baik-baik dong"
Rio seakan tengah menguji kesabaran Angel dan meledek agar Angel merasa kesal. Angel menghela napas, mau tidak mau dirinya harus menuruti kemauan Rio.
"Kak Rio bonekanya buat aku yah?"
Angel melihatkan tatapan memelas membuat Rio menahan tawa gelinya.
"Nih"
Rio menyerahkan boneka itu ke Angel dan dengan gerak cepat Angel langsung meraih boneka pemberian Rio.
"Makasih"
Angel terlihat sangat senang bahkan Angel memeluk boneka itu dengan eratnya. Rio ikut tersenyum melihat Angel yang sangat senang dan menyukai pemberiannya.
"Sebegitu senangnya kamu"
Angel tidak menggubris ucapan Rio malah Angel terlihat mulai mengantuk dan perlahan memejamkan kelopak matanya. Rio tidak percaya apa yang tengah ia lihat, Angel tertidur sembari memeluk boneka padahal untuk membuat Angel tidur harus dikelonin dulu.
Angel sekarang benar-benar tertidur dan berarti Rio juga harus istirahat. Rio membenarkan selimut yang dipakai Angel lalu berjalan menuju sofa.
....
07:30
Rengekan dari mulut mungil Angel yang tidak mau disuntik membuat Rio hanya menunjukan senyum tipisnya. Rio malu dengan dua suster yang tengah membujuk Angel agar mau disuntik terlebih Angel sudah terlalu dewasa untuk dipanggil anak kecil.
"Haaahhh nggak mau!!! kakak nggak maaaaauuuuu"
"Nggak sakit kok, cuma seperti digigit semut"
Bujuk suster berkacamata yang kemarin ikut dengan dokter untuk memasangkan infus di tangan Angel. Waktu memasangakan infus Angel juga seperti ini dan butuh dua orang untuk memegangi Angel.
"Nggak mau sakit!"
Angel masih menolak. Rio juga bingung harus berbuat apa terlebih Angel seperti ketakutan.
"Kamu mau disini terus?"
Kini Rio mulai turun tangan untuk membujuk Angel. Rio berharap Angel mau disuntik dan kedua suster ini bisa meneruskan pekerjaannya.
"Kamu mau disini terus?"
Tanya Rio dengan halus. Angel menggelengkan pelan kepalanya.
"Kalau begitu kamu harus mau disuntik"
"Nggak mau sakit!"
Angel masih tidak mau disuntik terlebih sekarang Angel seperti mau menangis. Angel menatap Rio dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Nggak sakit kok, percaya deh sama aku! mau yah?"
Dengan terpaksa Angel mengangguk dan membuat ketiga orang ini bernapas lega.
Angel memandang ngeri suntikan yang di pegang suster berkaca mata. Rio yang melihat arah tatapan Angel ke jarum suntik hanya bisa tersenyum sembari tangan kanannya menolehkan kepala Angel ke dada bidangnya agar Angel tidak takut dan tidak melihat jarum suntik yang menusuk kulitnya.
Angel merasa jarum itu menusuk kulitnya dalam dan agak sedikit ngilu yang terasa namun itu hanya beberapa detik dan jarum itu tak lagi menusuk kulitnya.
"Udah, selesai. Nggak sakitkan?"
Tanya suster berkacamata. Angel menoleh ke arah suster itu lalu mengangguk. Rio mengelus puncak kepala Angel dengan senyum yang masih terukir dibibirnya.
"Sus, kemarin seperti ini?"
Rio penasaran bagaimana kemarin Angel di pasangkan infusan sedangkan disuntik saja sudah seperti ini.
"Kemarin dipegangin dua orang"
"Apa?"
Rio seakan tidak percaya dengan apa yang susteritu katakan. Rio melirik kearah Angel yang tengah menatapnya.
"Beneran? badan kurus seperti itu harus dipegangin dua orang? sayang kamu kuat juga?"
Luncuran kata-kata itu membuat Angel mengerutkan dagunya. Rio seakan mengejek Angel.
"Ya sudah kita berdua permisi, mau cek pasien yang lain"
"Oh, terima kasih"
Kedua suster itu pun meninggalkan ruang rawat Angel. Rio langsung mengalihkan pandangan matanya ke Angel. Angel yang tidak mau bertatap muka dengan Rio hanya menundukan kepalanya. Senyum tipis dibibir Rio terukir dengan manisnya.
Angel merasa sentuhan lembut di puncak kepalanya. Rio membelai lembut puncak kepala Angel.
"Makan yah, aku suapin"
Telinga Angel mendengar suara halus Rio dan membuat Angel berrani mendongakan kepalanya memandang wajah Rio. Senyum dan tatap mata hangat itu membuat jantung Angel berdegup kencang terlebih wajah Rio yang sangat tampan membuat Rio terlihat seperti pangeran dari negri dongeng.
"Kok melamun sih?"
Angel hanya menggeleng pelan. Membuat Rio menghela napas. Angel sendiri belum merasa lapar dan bau obat ini membuat Angel kehilangan selera makannya.
"Kamu mau makan apa? aku belikan"
Tawar Rio dengan nada penuh kesabaran. Angel menatap Rio sebal karena dirinya benar-benar tidak ingin makan.
"Nggak usah, aku belum lapar. Kakak saja yang makan duluan"
Rio menghela napas. Angel cukup membuat dirinya kerepotan sekaligus cemas dengan keadaan Angel sekarang. Entah kapan semua ini akan berakhir, semua sandiwara yang membuat Rio sangat tidak bersemangat menjalani kehidupan yang singkat ini.
"Oke kalau itu mau kamu, aku pergi dan jangan nangis kalau nanti ada hantu disini"
Kalimat terakhir yang diucapkan Rio membuat Angel bergidik ngeri.
Rio langsung melangkahkan kakinya menuju pintu dengan senyum tipisnya ia tahu kalau sebentar lagi.
"Jangan pergi!" pinta Angel. Rio langsung berbalik menatap Angel.
"Tadi disuruh pergi"
"Hhhaaaaa.. kak Rio sih bilang kek gitu kan jadi takut!"
Angel melihatkan tatapan kesalnya serta dagu yang mengkerut.
"Kamu takut?
"Iya! jangan pergi!"
"Tapi aku lapar, mau cari makan. Aku pergi yah?"
Rio benara-benar ingin menguji kesabaran Angel. Rio sebenarnya tidak merasa lapar dan ingin terus menemani Angel disini tapi berhubung Angel minta dirinya untuk pergi membuat Rio ingin membuat Angel kesal seperti sekarang.
Angel melihatkan tatapan yang tak mengenakan serta wajah Angel sekarang tidak enak untuk dilihat namun Rio masih melihatkan senyuman dibibirnya seolah-olah mengejek Angel.
"Nggak boleh! disini saja, temani aku!"
Intonasi nada suara Angel seakan mohon sekaligus memaksa. Kedua mata bulat Angel perlahan menjadi berkaca-kaca membuat Rio tidak tega untuk meneruskan kejahilannya ini.
"Cengeng!"
Rio langsung menarik hidung bangir Angel sekilas. Angel hanya bisa terdiam namun hatinya berdoa agar Rio tidak jadi pergi karena Angel takut saat Rio pergi ada hantu yang datang mengunjunginya serta mengajaknya bermain kealam dimana hantu itu tinggal.
"Iya aku nggak jadi pergi"
"BENERAN?"
Seakan menemukan lagi cahaya terang, wajah Angel sekarang berseri-seri serta terlihat sangat senang membuat Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rio sekarang tahu selain cengeng istrinya juga penakut.
"Sekarang kamu makan kalau tidak aku tinggal!" ancam Rio dengan nada serius membuat dagu Angel kembali mengkerut namun kepalanya mengangguk.
Rio tersenyum kemenangan setelah berhasil membuat Angel menurut.
....
Pukul 13:45
Rasa bosan kini tengah "membunuh" Angel perlahan. Beberapa kali dirinya mengguap. Acara diTV LED yang terpasang didinding didepannya ini tidak menolong sedikitpun, Angel hanya menghela napas dan sesekali melemaskan otot-otot tangannya yang mulai mati rasa serta rasa tidak nyaman dipunggung ini membuat Angel ingin sekali kabur dari Rumah Sakit.
Sedangkan Rio masih asik dengan laptop dan pekerjaan yang menumpuk. Rio tidak mau ada pekerjaan yang terlewat walau rasanya hidupnya sangat menyedihkan. Waktunya terasa dihabiskan untuk berkerja tanpa henti seperti robot namun apa daya ini semua sudah jadi jalan hidupnya, meneruskan apa yang telah Ayahnya bangun untuk dirinya dan karena itu pula Rio tidak mau mengecewakan orang terpenting dihidupnya ini.
Rio melirik kearah Angel memastikan kalau istrinya ini masih hidup terlebih dari tadi Angel tidak bersuara sedikitpun biasanya telinga Rio dipenuhi oleh rengekan suara Angel.
"Kenapa?" tanya Rio saat Angel berdecak kesal. Angel langsung menoleh kearah Rio.
"Bosen. Pulang?"
"Kaki kamu juga masih bengkak kalau udah mendingan boleh pulang"
Angel berdecak kesal, rasa bosan ini bisa membuatnya gila terlebih hanya berbaring seperti ini setiap harinya sungguh sangat membosankan.
Sebagai seorang suami Rio tahu kalau istrinya ini sudah sangat jenuh terlebih hanya berbaring dipembaringan tanpa melakukan apapun yang biasanya saat sehat Angel tak pernah mau diam, kondisi ini pasti sangat menyiksa.
Rio beranjak dari duduknya menghampiri Angel. Tatapan mata Rio membuat jantung Angel berdebar walau pun sudah cukup lama bersama namun perasaan ini masih ada, apa Angel sudah mencintai Rio.
Rio membelai lembut puncak kepala Angel. Sentuhan Rio selalu membuat Angel merasanyaman. Angel memposisikan tubuhnya terduduk, kakinya yang terperban terasa sakit dan itu berarti dirinya masih lama lagi untuk pulang.
Rio duduk ditepi pembaringan Angel. Wajah Angel terlihat sangat muram. Senyum Rio menggembang dengan sendirinya saat melihat wajah Angel yang menurut Rio sangat lucu.
"Aaawww"
Rio langsung mencubit kedua pipi Angel dengan gemasnya membuat Angel mengaduh.
"Kamu lucu banget sih!! gemesin!"
"Kak Riiooooo"
Rio melepas cubitannya. Angel mengelus-elus pipinya yang barusan dicubit Rio, tatapan mata sebal Angel perlihatkan dan dagu yang mengkerut membuat Rio menunjukan deretan giginya.
"Ampun nyai! serem tahu tuh muka"
"Kak Rio nyebelin!"
"Dari dulu"
"Isshhh!"
Angel memalingkan mukanya membuat Rio terkekeh pelan dan membuat Rio semakin ingin membuat Angel kesal kepadanya.
"Jangan cemberut gitu, muka kamu tambah jelek loh?"
"Biarin!"
Sekarang Angel benar-benar marah kepada Rio. Rio tahu dirinya sudah kelewatan atau mungkin istrinya yang terlalu baperan.
"Maaf"
"Nggak! kak Rio nyebelin!"
"Marah?"
"Iya"
"Kamu marah sama aku?"
"Iya...iya...iya...iya...iya--"
Angel benar-benar sangat kesal kepada Rio. Angel terus saja berucap "iya" walau pun Rio sudah tidak berucap lagi.
"Mau dicium?"
"Iya! eh?"
Rio langsung mengecup pipi Angel sekilas. Angel langung menoleh kearah Rio dengan tatapan kesal.
"Apa? tadi minta dicium" ucap Rio dengan nada polosnya membuat Angel mendengus kesal.
"Jangan ngambek gitu! mau es krim?"
Mendengar kata "es krim" wajah Angel langsung berseri-seri. es krim hal yang paling Angel suka terlebih rasa coklat dan permen karet.
"Kok diem? mau nggak?"
"Emang boleh makan es krim?"
"Ya bolehlah, jadi kamu mau?"
Angel mengangguk dengan senangnya. Rio beranjak dari duduknya lalu meraih dompet dan kunci mobil.
...
23:00
Angel masih membuka matanya sedangkan Rio sudah tertidur lelap.
"Kak Rio"
Angel perlahan turun dari pembaringannya. Dengan berpegangan di tiang infusnya Angel menghampiri Rio.
Angel memandangi wajah Rio yang tertidur, senyum Angel mengembang dengan sendirinya.
"Apa aku boleh mencintaimu? aku istrimu kan?"
Angel mengecup kening Rio cukup lama lalu membenarkan selimut yang Rio pakai
"Biarkan aku mencintaimu walau nantinya cintaku ini tidak terbalaskan. Aku benar-benat mencintaimu, aku sangat-sangat mencintaimu" ucapan itu tulus terlontar dari mulut Angel. Seakan itu dari hati Angel yang terdalam.
"Tidur yang nyenyak yah? maaf aku merepotkan mu"
Angel membelai lembut wajah Rio yang sangat tampan. Angel menggagumi ketampanan dari seorang Mario yang penuh karisma bahkan saat tertidur Rio benar-benar mempesona.
"Kak Rio lucu banget sih? mimpi indah yah!"
Angel menguap dan sepertinya dirinya juga harus tidur. Angel kembali ke pembaringannya.
Mata Angel mulai terpejam.
....
3 hari berlalu. Angel tersenyum senang akhirnya dirinya diperbolehkan pulang.
"Kamu yakin mau pulang? nggak mau disini terus?" tanya Rio sembari membereskan barang-barang Angel.
"Mau pulang!" jawab Angel cepat dan membuat Rio terkekeh pelan.
Kaki Angel sudah mulai membaik dan dokter juga sudah memperbolehkan Angel pulang hanya saja ruang gerak Angel yang masih dibatasi dan juga kaki yang terluka tidak boleh terkena air.
"Udah semua, ayo pulang!"
Rio meletakan tas jinjing ke pangkuan Angel lalu Rio mendorong kursi roda yang diduduki Angel keluar ruangan.
Mobil
Angel terlihat sangat senang saat mobil Rio mulai berjalan pergi meninggalkan parkiran rumah sakit. Rio melirik kearah Angel yang tersenyum dengan lebarnya.
"Seneng banget kamu?"
"Iya dong!"
"Nggak!" tolak Angel langsung. Kemarin saja dirinya sudah sangat menyiksa dan membosankan jadi Angel benar-benar tidak mau kesana lagi.
"Nanti kamu ngelahirinnya dimana?"
"Eh? i...itu kan nanti! aku juga belum hamil"
Mendengar ucapan Angel membuat Rio terkekeh. Ah.. tapi hati Rio entah kenapa menjadi perih dan rasa sakit ini sangat menyiksa. Hamil? punya anak apa semua akan kembali seperti dulu itu yang ada di pikiran Rio. Rio takut semua akan semakin buruk saat Angel melahirkan anak untuknya.
...
Rio yang konsen menyetir tidak sadar kalau istrinya kini tertidur pulas sembari mendekap boneka beruang coklat pemberiannya.
"Sayang kamu mau makan?.. eh?"
Rio tersenyum tipis saat melihat wajah polos Angel yang tertidur. Rio memberhentikan mobilnya lalu mengambil sesuatu dijok belakang. Ternyata Rio mengambil jaket lalu dipakainya untuk menyelimuti Angel.
"Mimpi indah sayang"
Rio menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata supaya cepat sampai rumah dan Angel bisa tidur dengan nyaman dikasur.
..
Rumah
Rio tengah mencari sesuatu didalam lemari Angel. Sedangkan Angel masih tertidur pulas.
Rio mengambil baju bersih untuk mengganti baju yang Angel tengah pakai. Rio menoleh kearah Angel yang masih bermain dialam mimpinya.
"Dasar putri tidur"
Setelah mengatai Angel. Rio pun menutup kembali lemari itu lalu berjalan menghampiri Angel. Di meja dekat tempat tidur ada baskom berisi air hangat dan handuk kecil.
Rio membangunkan Angel dan tidak butuh waktu lama Angel langsung membuka matanya.
"Bangun,lap-lap dulu! ganti baju!"
Dengan wajah yang masih mengantuk Angel mendudukan tubuhnya. Setelah sampai rumah Angel langsung tertidur dengan pulasnya dan sekarang sudah jam setengah enam sore.
Angel mengucek matanya dan menguap namun setelah itu mata Angel terbuka dengan lebarnya saat Rio membuka satu kancing bajunya.
"Bisa sendiri!"
Angel langsung menepis tangan Rio membuat Rio terkejut. Saat dirumah sakit Angel dibantu suster yang sesama wanita tapi sekarang Angel tidak nyaman kalau dibantu Rio yah walaupun Rio suaminya tapi tetap saja. Rara tidak nyaman masih Angel rasakan.
"Loh? kenapa?"
"Yang sakitkan cuma kaki, aku bisa sendiri"
"Ya sudah"
Angel memandangi Rio dengan tatapan datar membuat Rio bingung terlebih Rio sudah menuruti kemauan Angel.
"Apa?"
"Keluar" suruh Angel dengan nada yang tak enak didengar membuat Rio mengerutkan keningnya.
"Kenapa?"
"Iiiihhh... KELUARRRR!!" teriak Angel dengan nada gemasnya membuat Rio menutup kedua telingannya.
"Iya aku keluar"
....
Balkon
Angel duduk dipangkuan Rio. Kepala Angel bersandar didada Rio, mendengarkan detak jantung Rio. Entah kenapa hati Angel merasa nyaman saat mendengar detak jantung Rio.
Rio memandang kearah bintang yang menemani bulan. Bulan sabit yang sangat indah.
Rio pov.
Kapan ini akan berakhir? ini sungguh menyiksa, semuanya sungguh sangat membuatku tak tenang. Kenapa hidupku jadi serumit ini? Tuhan kenapa? aku mohon akhiri semua ini.
"Eh?"
Aku terkejut saat Angel mencubit pinggangku. Apa mungkin dia bosan?.
"Kenapa?" tanya ku kepadanya.
"Apa kamu membenciku?"
"Hah?"
Aku sangat terkejut saat Angel mengatakan itu. Apa dia tahu aku tidak ingin kehadirannya.
"Kenapa diam? aku mohon jawablah"
Ini perasaanku atau apa? Angel menangis?. Aku bisa merasakan air matanya merembas dibajuku.
"Aku tidak membencimu"
"Sungguh?"
"Iya tapi kenapa kamu berbicara seperti itu?"
"Apa semua ini akan berakhir?"
Angel mendongak melihat wajahku dengan air mata yang mengalir dipipinya. Aku semakin bingung harus berbuat apa. Tatap mata itu membuatku semakin serba salah.
"Apa semua ini akan berakhir?"
"Kamu ingin mengakhiri ini semua? apa aku menyakitimu?"
Aku tahu kemarin yang aku lakukan sangatlah keterlaluan dan pastinya setelahnya Angel akan membenciku. Apa Angel ingin pergi dariku?.
"Tidak"
"Lalu? kenapa kamu ingin mengakhiri ini?"
"Apa aku bilang "aku ingin mengakhiri semua ini?" tidak, aku tidak bilang itu hanya saja"
"Hanya apa?"
Dia diam dan tak berani melihat wajahku dan ini membutku semakin penasaran.
"Kok diam? ayo jawab"
Dia hanya menggeleng pelan, apa dia takut aku marah?.
"Aku takut kamu marah"
Benar saja dia berkata seperti itu tapi memangnya dia akan mengatakan apa hingga takut aku marah.
"Aku tidak akan marah"
"Beneran?"
Dia kembali menatap wajahku dan sekarang dia berani menatap kedua mataku. Aku mengangguk sembari menggalungkan tanganku kepinggangnya.
"Ayo sekarang jawab"
"Maaf"
"Maaf? maksud kamu apa?"
"Maaf sepertinya aku menaruh hati padamu, aku tahu ini salah tapi bolehkah aku mencintaimu?"
Aku terkejut mendengarnya. Angel mencintaiku? apa aku pantas? ini semakin mempersulit hidupku.
"Aku sudah tahu jawabanya, aku ini sungguh tidak tahu malu! maaf"
Angel turun dari pangkuanku. Dengan kaki yang masih pincang, dia berjalan menjauh dariku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tuhan aku mohon tolong aku.
pov end.
Rio hanya memandang kepergian Angel. Dirinya bingung harus apa terlebih kini dirinya tahu kalau Angel mencintainya dan ada hati yang terus ia jaga selama ini yaitu hati Sena, seorang yang menemaninya sekian lama dan juga cinta pertamanya. Tidak mungkin Rio menghianati Sena.
"Apa yang harus aku lakukan? berpikirlah Rio!"
...
Angel mengerutuki dirinya yang begitu bodohnya menyatakan perasaannya kepada Rio yang dia tahu sendiri telah beristri yang begitu cantik sedangkan dirinya hanya gadis sederhana yang tak punya apa-apa.
Angel pov
Ku hapus air mata di pipiku ini. Otak dan hati ku kini saling beradu, otakku memarahi hatiku yang lantang mengatakan itu semu. Perasaan yang tumbuh seiring waktu.
Apa yang aku katakan barusan? kenapa? kenapa aku begitu bodoh! harunya kamu sadar El! kamu itu siapa? kamu cuma orang yang numpang disini dan kamu itu cuma pelayan disini jangan berharap lebih dari itu!
Aku memang bodoh tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Perhatian senyuman itu membuat hatiku luluh, semuanya membuatku berharap lebih.
"Eh?"
Apa ini? dekapan ini? nyaman kurasa. Dekapan ini selalu membuatku tenang, ini yang selalu menyiksaku. Tuhan tolong aku.
pov end.
Rio mendekap Angel dari belakang dengan eratnya.
"Jangan menangis" suara Rio yang sangat lembut membuat Angel terisak. Angel merasa Rio mempermainkan perasaannya. Harusnya Rio tidak seperti ini dan memperlakukannya seperti pelayan jadi dirinya tak mungkin berharap banyak.
"Lepas!" pinta Angel.
"Tidak!"
"Apa yang kamu mau?" tanya Angel dengan suara serak.
"Jangan menangis, aku mohon"
"Tidak perlu lembut seperti itu, aku hanya pelayanmu"
"Sejak kapan kamu jadi pelayanku?"
Angel mengepalkan kedua tangannya. Nada bicara Rio yang seolah-olah mengejek membuat Angel kesal.
"Kamu istriku" Bisik Rio dengan lembutnya ditelinga Angel. Entah kenapa mendengar kalimat itu dada Angel terasa sesak.
"Aku cuma rahim pengganti"
"Tapi kamu istriku"
"Berhentilah mengucapkan itu, aku mohon" pinta Angel dari lubuk hati terdalam.
"Itu kenyataannya"
"Istri kamu Sena"
"Kamu juga"
Angel menggigit bibir bawahnya. Rio sunguh membuat dirinya selalu dilanda kebimbangan.
"Aku tahu, aku dan Sena memberikan penderitaan untukmu. Tapi ini semua sudah terjadi dan kamu istriku. Cintai aku dan aku juga akan mencintaimu"
Mata Angel membulat setelah mendengar ucapan Rio. Angel melepas dekapan Rio lalu menatap kedua mata Rio.
"Aku punya segalanya, aku akan berusah untuk adil"
"Tapi perjanjian itu?"
"Itu uang ku dan kamu harus menurut kepadaku! kamu bilang kamu mencintaiku? Peluk aku!"
Rio merentangkan kedua tangannya. Angel tersenyum lalu memeluk Rio.
"Dan kamu tahu kamu bukan yang pertama?"
Angel mengangguk. Bagi Angel saat Rio mengijinkannya untuk mencintainya itu sudah sangat membuat Angel bahagia walau dirinya tahu Rio mungkin saja hanya mempermainkannya.
....
01:00
Rio duduk disofa sembari memandangi Angel yang tertidur lelap dibalik selimut.
"Dasar gadis bodoh!"
Rio keluar kamar untuk menelfon Sena yang sangat ia rindukan.
...
"Iya aku juga sayang sama kamu"
"Kamu nggak sukakan sama Angel?"
"Nggak sayang, hanya kamu istriku"
"Eeemmm.. Makasih, tapi"
"Kalau Angel hamil kamu benerankan pulang?"
"Iya. Aku juga ingin bersama kamu lagi, ini sudah malam kamu tidur yah!"
"Tapi aku ingin mendengar suaramu lagi"
"Nurut, besok kamu harus kerja kan?"
"Ya sudah bye"
"Bye"
Rio menutup sambungan telefonnya. Rio menghela napas beratnya, semua masih sangat lama untuk berakhir.
"Kenapa Tuhan memberiku hidup yang seperti ini?"
Rio termenung cukup lama hingga akhirnya dia sadar ada sesuatu yang Tuhan berikan dihidupnya ini.
"Aku punya dua istri? WOW kenapa aku tidak bersyukur dari kemarin? Saat Sena sibukkan ada Angel yang ngurus semua keperluanku jadi..? nggak apa-apakan manfaatin gadis itu? Dia istriku dan aku berhak menentukkan hidupnya"
Senyum sinis Rio muncul dengan jelasnya. Rio berniat untuk membuat sandiwara berpura-pura membalas cinta Angel dan menjadikan dia seorang pelayan yang harus menuruti perintahnya. Rio menyadari kalau Angel masih lugu dan masih bisa diatur semaunya jadi hanya butuh penyesuain untuk semuanya.
"Aku akan buat kamu seperti Sena untuk melepas kerinduanku kepadanya. Maaf aku jahat tapi kalau tidak seperti ini aku tidak bisa memeluk istri yang aku sayangi lagi"
....
06:00 pagi
Angel tengah berada didapur untuk membuat sarapan untuk Rio dengan senyum manis dibibirnya.
"Kamu lagi ngapain?"
"Eh?"
Angel menoleh kebelakang dan mendapati Rio yang tengah menatapnya.
"Kamu itu masih sakit!"
"Tapi aku cu--.. eh?"
Dengan sigap Rio langsung membopong Angel kembali kekamar.
"Kamu ini! kalau kena minyak pans lagi gimana? katanya kamu nggk mau kerumah sakit lagi"
Angel hanya bisa menunduk saat diomeli oleh Rio. Rio terus saja ngoceh layaknya emak-emak yang mengomeli anaknya.
"Iya aku mengerti!" kesal Angel yang sudah sangat bosan mendengar ocehan Rio.
"Ck! kamu yah!"
"Maaf"
"Cium dulu baru dimaafin"
Cup
"Udah"
Rio membaringkan tubuh Angel dikasur lalu menyelimutinya.
"Kamu tunggu disini! aku buat sarapan!"
Rio langsung pergi meninggalkan Angel. Seperginya Rio, Angel tersenyum sangat senang. Kini hati Angel terasa lega setelah menyatakan semua itu.
"Kak Rio, aku sayang sama kamu"
...... ****......