
1 Minggu berlalu
Amanda sedang memperhatikan Angel yang tengah menjemur Kevin dibawah sinar matahari pagi. Perhatian Angel ke Kevin sangatlah berbeda dari yang Rio dan Sena berikan, Angel lebih menyayangi Kevin.
Senyum Amanda merekah saat melihat Arfan menghampiri Angel. Terlihat Arfan sangat akrab dengan Angel.
"Mama malah ngelamun disini,buatin Papa kopi"
Amanda langsung melirik Riko yang berbeda di samping nya. Amanda terlihat sangat kesal diganggu oleh Riko. Riko tahu dirinya membuat istrinya kesal dan ia tahu bagaimana membuat Amanda tersenyum kembali.
cup. Dengan gerak cepat Riko mencium bibir Amanda, entah kenapa perlakuan itu membuat pipinya memanas padahal ia sudah sangat sering mendapatkannya. Sudah lama pernikahan ini terjalin tapi rasanya seperti baru kemarin dan keromantisan masih sangat terasa.
"Mau lagi?" tawar Riko dengan jahilnya.
"Ngga, ya sudah aku buatkan"
"Tadi kamu lihat apa?"
"Tuh, kita nikahkan saja mereka toh Angel juga sudah cerai dengan Suaminya"
"Kamu ini"
"Apa? aku tidak merusak rumah tangga Angel, suami Angel lah yang menceraikan nya"
"Oke..oke, kita menurut saja apa yang diinginkan mereka, kalau mereka ingin menikah ya tinggal kita nikahkan. Biar mereka sendiri yang minta itu"
"Kelamaan, Pa"
"Kamu kan bisa mancing mereka untuk mengatakan yang sebenarnya"
"Iya sih" Amanda melihat kearah bibir Riko. Perlahan Amanda mendekatkan wajahnya ke wajah Riko, Riko tersenyum jahil langsung membungkam mulut Amanda.
"Buatin aku kopi dulu, itu nanti saja"
Riko langsung membuka bekapan tangannya lalu pergi. Amanda mendengus kesal, saat dia ingin Riko malah seperti itu.
"Nyebelin!" Amanda langsung menuju dapur.
.
Arfan dengan usilnya menoel-noel pipi Kevin agar Kevin terbangun. Angel membiarkan Arfan melakukan itu jika terbangun Angel akan memandikan Kevin.
Mungkin karena kenyang dan hangat sinar matahari membuat Kevin hanya menggeliat saja lama kelamaan Arfan menyerahkan.
"Mimpi apa sih kamu kok ngga mau bangun?"
"Semalam baru tidur jam dua pagi"
"Oh pantesan, kamu juga pasti sangat lelah"
Arfan bisa membayangkan betapa lelahnya Angel mengurus Kevin namun saat melihat ke wajah Angel tidak ada rasa lelah di wajahnya.
"Ngga kok, aku malah senang"
Arfan menggantikan Angel membopong Kevin bersamaan dengan itu Rio datang menghampiri keduanya dengan tatapan yang terkesan dingin.
"Kalian sedang pacaran disini?" ucap Rio dengan nada yang terdengar meremehkan.
"Kalau iya apa perduli mu? aku bukan istrimu lagi, kamu sendiri yang menceraikan ku"
"Ck, semudah itukah?"
Arfan mengerutkan keningnya, ia heran dengan sikap Rio yang seolah-olah ingin terus menjerat Angel atau Rio benar-benar mencintai Angel. Angel tersenyum sinis, Rio membuatnya hampir gila karena sikap nya yang labil.
"Kamu itu aneh, sebenarnya kamu mau apa? pernikahan kita cuma sah secara agama dan kamu sudah menceraikan ku"
"Sudah lah El, percuma ngomong sama Vampir ini. Kak, aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi mu tapi asal kakak tahu kelakuan Kakak itu memalukan"
"Diam lah anak pungut, ini bukan urusanmu!" ucap Rio penuh penekanan. Angel menoleh kearah Arfan.Tadi Rio bilang "anak pungut" berarti Arfan bukan adik kandung Rio, Angel baru tahu sekarang dan pantas saja sikap mereka berbeda.
"Iya aku tahu kalau begitu, urus anakmu!"
Arfan menyerahkan Kevin ke Rio. Kevin masih tertidur dengan nyenyak nya. Angel nampak takut Rio akan mengulangi hal yang sama.
"Tapi Fan?"
"Sudah El, ini yang dia mau, mendapat seorang anak"
Arfan langsung menarik Angel pergi meninggalkan Rio. Rio melihat kepergian Angel dengan Arfan yang membuat suhu arahnya naik. Kevin terbangun lalu menangis, Rio langsung menentagkan Kevin sembari berjalan kedalam rumah.
...
Kamar Riko Amanda
Amanda menceritakan semua yang mengganjal dihatinya, Amanda menceritakan soal Kevin yang terlihat seperti bayi yang sudah lahir lebih dari seminggu saat dibawa rumah sakit waktu itu. Riko semakin was-was dengan apa yang telah Rio lakukan, Riko telah mengetahui Rio yang sudah lama tidak tinggal di rumah barunya dan sekarang Riko sedang menyuruh orang untuk mencari tahu latar belakang Angel.
"Pa, Mama tidak apa-apa jika mereka adopsi anak yang mama butuhkan hanya kejujuran mereka"
"Iya Papa tahu, kamu sepertinya butuh liburan deh"
"Tidak, aku mau Arfan sama Angel menikah itu saja!"
"Apa?" suara itu membuat Amanda dan Riko menoleh kearah pintu ternyata Arfan yang terlihat syok, orang tuanya ingin menikahkannya dengan Angel.
"Tidak usah seperti itu, Papa tahu kamu senang" ucap Riko dengan nada yang tidak enak didengar. Arfan langsung tersenyum, dirinya langsung melangkah menuju tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur dekat dengan Riko yang duduk ditepian kasur. Riko mengacak-acak rambut Arfan membuat Arfan mendengus kesal.
"Kamu mau bicara apa?"
"El, dia cuma jadi ibu susu kan tapi kenapa dia harus ngurus Kevin?"
"Angel yang mau, Mama juga mau bantuin tapi Angel melarang, dia bilang Mama tinggal main saja sama Kevin"
Arfan membulatkan bibirnya, dia tahu apa alasannya. Riko merasa ada yang aneh dengan kedekatan Angel dengan Kevin. Semalam Riko melihat Angel yang dengan sabarnya membuat Kevin tertidur layaknya seorang ibu ke anaknya namun Riko menduga ada hal lain.
"Dia kangen sama anaknya kali, apa Kevin itu anaknya Angel?" ucap Riko yang terkesan asal namun Arfan tersenyum tipis ternyata Riko ngeh dengan keadaan yang ada.
Suasana di ruangan ini mendadak hening setelah Riko mengatakan itu. Pikiran Amanda tertuju pada Rio, Arfan bilang bayi Angel di ambil oleh suaminya apakah Rio suami Angel dan itu berarti selama ini Angel tinggal di rumah ini tanpa pengakuan dari siapapun dan tidak mendapat hak yang seharusnya ia dapatkan.
Menyadari perkataannya membuat Amanda terbawa hati, Riko pun mencari akal untuk mencairkan suasana ini.
"Papa cuma asal ngomong saja, jangan dipikirkan, Ma"
Amanda menggeleng, semua terasa mungkin saat Angel tinggal bersama Rio dan Sena. Wajah dan senyuman Kevin itu mirip dengan Angel dan Kevin tidak sedikitpun mirip dengan Sena.
"Pa, ak.."
Amanda belum selesai bicara namun Riko memotong ucapan Amanda. Riko tahu Amanda akan membicarakan tentang informasi apa saja yang telah ia dapatkan dan Riko tidak ingin Arfan mengetahui hal ini.
"Fan, ajak Angel pergi sanah, kalau dia ngga mau bilang saja disuruh Mamamu pasti dia mau"
"Oke"
Setelah Arfan pergi, Riko langsung mengunci pintu. Amanda tahu Riko tidak ingin dirinya membahas ini didepan Arfan.
"Pa?"
Entah kenapa Amanda menangis begitu saja saat membayangkan semua itu benar adanya.
Riko menghampiri Amanda lalu menariknya dalam pelukannya. Amanda terisak di dada Riko. Riko tahu betapa cemasnya Amanda terlebih saat dia mulai memahami situasi yang ada.
"Pa, kalau semua itu benar? Mama malu punya anak seperti Rio"
"Ssssttt.. jangan bicara seperti itu, kalau benar kita perbaiki semua"
"Tapi Pa, caranya? ini sangat menyakitkan"
"Semuanya kan belum jelas, Papa janji secepatnya kita akan mengetahui semuanya"
"Kalau itu benar Mama tidak mau Angel bersama Rio, Rio sudah banyak menyakiti Angel. Mama mau Angel dengan Arfan"
"Terserah mereka saja yang jelas kita harus memastikan ini semua, Papa akan tes DNA Kevin"
Amanda mendongak kan kepalanya menatap wajah Riko. Amanda terlihat sangat sedih dan ia merasa telah gagal mendidik putranya.
"Jangan memikul beban ini sendirian, aku ada di sampingmu. Maaf aku selama ini hanya fokus berkerja, seharusnya aku juga memperhatikan Rio dan Arfan, kamu pasti capek mengurus mereka berdua?"
Amanda menggeleng pelan, ia tidak sedikit pun merasa lelah mengurus orang-orang yang disayanginya.
Tok..tok .tok..
Ketukan di pintu membuat keduanya menoleh kearah pintu Amanda buru-buru menghapus air matanya.
"Mama" itu suara Angel dan Amanda tidak ingin Angel melihat kesedihannya. Amanda menyuruh Riko membuka pintu sedangkan dirinya memilih ke dalam kamar mandi.
Riko langsung berjalan kearah pintu, membukakan pintu untuk Angel.
"Pa, Mama mana?"
"Di dalam, kenapa kamu belum pergi?"
"Eh? itu?"
"Tuh bocah mau memastikan benar disuruh mama apa ngga" ucap Arfan yang kini berada di samping Angel, menatap Angel dengan tatapan kesal.
"Memang disuruh, kamu pergi saja, Kevin biar Mama yang urus"
"Eh? kok belum berangkat?" ucap Amanda yang sudah kembali seperti biasanya.
"Ini mau"
Arfan langsung menarik pergelangan Angel dan saat menuruni tangga mereka berdua berpapasan dengan Rio namun tidak berniatan untuk menyapa Rio, mereka berdua terus berjalan.
Rio melihat ke arah keduanya yang bergandengan tangan menuju pintu rumah.
"Mereka mau pergi kemana?"
Rio langsung mengikuti mereka berdua. Hati Rio seakan membara.
.
Sena sang baru pulang dari Surabaya langsung menuju kamar Angel untuk melihat Kevin. Ia sangat merindukan Kevin dan ingin Kevin paham sentuhannya dan nyaman dengannya.
Sena memasuki kamar dan melihat Kevin yang sedang tidur. Sena duduk di dekat Kevin berbaring. Sentuhan Sena membelai lembut wajah Kevin yang sangat mirip dengan Rio.
"Anak Mama nyenyak banget tidur nya, emang sudah minum susu?"
Sena menggecup pipi Kevin yang sudah terlihat tembem dengan gemasnya membuat Kevin terbangun tetapi tidak menangis. Kevin malah seakan mencari sumber suara yang tadi didengarnya.
"Kamu cari siapa? Mama disini"
Sena berbaring dengan posisi miring. Sena memainkan tangan mungil ini, membelai dan mengecup punggung tangan Kevin.
Kevin mengeluarkan suara beberapa kali seakan merespon Sena yang tengah mengajaknya mengobrol.
Pintu kamar dibuka oleh Amanda yang kembali dari dapur untuk menghangatkan ASI. Amanda terkejut saat melihat Sena yang sudah pulang, padahal Sena bilang pulang tiga hari lagi.
Amanda tersenyum melihat Sena yang mulai berubah dan Amanda ingin Sena lebih menyayangi Kevin.
"Sena? kamu sudah pulang"
"Iya Ma, aku kangen banget sama Kevin. Sayang maaf yah Mama tidak selalu bersamamu, mama kerja buat kamu supaya kamu bisa mendapatkan semua yang kamu mau"
Seakan mengerti bayi mungil ini tersenyum dan membuat Amanda gemas.
"Eh? kamu masih bayi tapi sudah mengerti yah? nih minum dulu"
"Sinih Ma, biar aku saja. Sambil tiduran ngga apa-apa kan?"
"Iya ngga apa-apa"
Amanda memberikan botol susu itu ke Sena. Sena seakan mulai menyayangi Kevin walau pun Kevin tidak lahir dari rahimnya.
.
Amanda dan Riko tersenyum senang saat melihat Sena yang tengah mengajak Kevin berkeliling. Sena sesekali mengecup hangat bayi mungil yang ada dikedua tangannya.
"Pa, tidak usah tes DNA mama sudah yakin kalau Kevin itu anak kandung Sena"
"Iya" Walaupun Riko berucap "iya" namun dirinya tetap ingin mencari tahu yang sebenarnya.
Sena melihat kearah Amada dan Riko. Sena berjalan kearah keduanya.
"Kakek ayo main sama Kevin jangan main sama laptop terus" ucap Sena sembari melihatkan Kevin kepada Riko. Riko langsung menghampiri Kevin lalu mengantikan Sena membopong Kevin.
"Rio mana, Ma?" tanya Sena yang dari tadi tidak melihat Rio. Amanda juga tidak tahu Rio pergi kemana tapi yang jelas dirinya harus membuat Sena tidak khawatir.
"Pergi ke kantor kali, kamu tahu sendiri suami kamu itu seperti apa"
"Iya sih"
"Kamu sudah pulang?" tanya Rio langsung ke Sena. Sena hanya menjawab seadanya, di dalam hati kecil Sena entah kenapa dirinya merasa kalau Rio tidak suka dengan kepulangannya.
"Aku punya sesuatu untukmu"
"Eh?"
Rio langsung menarik tangan Sena agar ikut dengannya. Riko dan Amanda hanya melihat kepergian mereka berdua.
Kamar Rio Sena.
Rio langsung mengeluarkan belanjaan yang ia beli tadi. Sena mengerutkan keningnya saat melihat belanjaan Rio yang rata-rata itu kebutuhan wanita lebih tepatnya hal-hal yang Sena suka.
"Ri?"
"Ini semua buat kamu"
Sena menatap kedua mata Rio mencari kebenaran di matanya. Rio tersenyum sangat manis kearah Sena. Perlahan tangannya menyentuh wajah Sena, menghapus air mata Sena yang mengalir begitu saja.
"Maaf"
Satu kata itu yang terlontar dari mulut Rio dan membuat Sena terisak didepan Rio. Rio menarik Sena kedalam pelukannya.
"Aku minta maaf dan aku tahu kamu sulit memaafkan ku tapi aku mohon, kita mulai lagi semua dari awal. Kita sekarang punya Kevin, rumah tangga kita sudah lengkap sekarang"
Rangkaian kata-kata itu seakan mengutarakan isi hati Rio. Sena merasa tenang mendengarnya namun apakah ini benar atau hanya sekedar ucapan manis saja.
"Kamu tidak usah berbohong RI, jangan membuatku larut didalam khayalan mu"
Rio melepas pelukannya lalu mencium hangat kening Sena. Sena merasa kehangatan yang dulu hilang kini kembali lagi.
"Tatap aku"
Rio mendongakkan dagu Sena agar Sena mau menatap wajahnya. Sena merasa teduh saat melihat tatapan Rio.
"Aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut, aku sudah memilih dan itu kamu. Angel? biarkan saja dia melakukan sesuatu sesuka hatinya yang jelas Kevin anak kita dan akan selamanya begitu"
"Jangan membuatku menangis lagi"
"Aku tidak akan melakukannya, ini yang terakhir"
"Terima kasih"
"Aku yang harus berterima kasih kepadamu, karena kamu masih mau disisiku"
Rio tidak bisa berkata lebih dari itu sebab wanita didepannya ini sungguh luar biasa, dia masih mau menemaninya walau tersakiti hatinya bahkan dia rela membagi cinta dengan wanita lain agar ibu mertuanya merasa bahagia. Rio tidak bisa membayangkan betapa berat beban yang Sena alami selama ini.
Sena tersenyum senang akhirnya Rio kembali ke pelukannya tanpa ada tipu muslihat ataupun paksaan, Rio dengan sendirinya kembali ke pelukannya.
"Karena kamu hidup ku" Sena langsung memeluk Rio dengan eratnya begitu juga Rio.
"Nanti malam kita pergi yah?"
"Kemana? terus Kevin?"
"Rahasia dan soal Kevin, ada yang jagain dia"
"Ya sudah kalau itu mau mu"
..
Riko membaringkan Kevin yang tertidur, wajah Kevin memang mirip dengan Rio namun ada hal yang membuat Riko resah yaitu bentuk hidung dan juga senyum yang Kevin tunjukan itu mirip Angel.
Riko mengambil selembar tisu dan juga gunting. Riko memantapkan hatinya, Riko menggunting beberapa helai rambut Kevin.
"Untung rambut kamu tebal yah, Kev"
Riko melihat sekeliling seakan mencari sesuatu. Riko mendekati meja rias Angel, ia mencari sisir yang Angel gunakan untuk mengambil rambut yang tertinggal di sisir. Seakan Tuhan telah memberikan kemudahan bagi Riko, Riko menemukan sisir Angel dan terdapat rambut Angel.
"Tinggal rambut Sena"
Riko berharap kecurigaannya tidak menjadi nyata. Riko ingn keluarga besar nya tidak ada masalah dan kalau pun ada Riko ingin secepatnya menyelesaikannya.
..
Mall
Senyum Angel tidak luntur dari tadi, dirinya merasa sangat senang dengan yang Arfan berikan.
"Makasih"
"Ayolah, itu yang ke 10 kali dalam sehari ini" ucap Arfan dengan nada yang terdengar bosan. Arfan melakukan semua ini tulus dari hatinya dan ini tidak meminta imbalan apapun.
"Kenapa? aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasa, kamu membuatku senang hari ini" ucap Angel jujur, Angel bersyukur karena Tuhan telah mengirim Arfan untuk menemaninya kalau tidak pasti sekarang dirinya sangat terpuruk dan tidak tahu harus berbuat apa.
Arfan menoleh kearah Angel yang tengah menatapnya. Arfan sangat terpesona dengan wajah ayu Angel, kecantikan bidadari surga di depannya ini sama dengan kecantikan hati yang ia miliki.
"Sudah aku bilang kalau aku senang bisa membantumu jadi jangan berterimakasih terus,kalau kamu ingin berterimakasih kepada ku cukup dengan senyum manis mu itu"
Tatap mata Arfan membuat Angel merasa salting dan detak jantungnya berdegup kencang mungkin Arfan dapat mendengar detak jantungnya sekarang ini.
"Jangan nge-gombal ngga pantas sama mukamu" ucap Angel tanpa dosanya, sepertinya Angel ingin mengibarkan bendera perang lagi. Perkataan Angel membuat Arfan cemberut.
"Ck, kamu yah"
"Apa? eh"
"Kenapa?" tanya Arfan heran melihat ekspresi wajah Angel yang seperti itu. Angel merasa ASI-nya merembes dan membasahi bra-nya. Kalau diingat-ingat ini jamnya ASI di skop.
"Engga kok, ayo pulang"
Arfan mengerutkan keningnya saat melihat area dada Angel yang basah, baju yang Angel gunakan berwarna cerah jadi terlihat sangat jelas. Arfan langsung melepas jaket yang ia kenakan lalu diberikan ke Angel. Angel nampak bingung dengan apa yang dilakukan oleh Arfan.
"Pakek, kamu ngga mau kan?"
"Kelihatan yah?" sekarang Angel tahu Arfan juga melihatnya. Perhatian yang Arfan berikan membuat Angel merasa serba salah, di satu sisi ia sangat senang dengan perhatian yang Arfan berikan dan disisi lainnya Arfan itu adik iparnya ya walaupun Arfan sudah tahu itu.
"Ayo pulang, Kevin pasti sudah lapar"
"Iya"
..
Rio terdiam cukup lama di ruang kerjanya masih terlihat jelas apa yang ia lihat di mall tadi, kedekatan Arfan dan Angel.
Saat di mall
Rio terus mengikuti Arfan dan Angel dari jauh. Rio bisa melihat Arfan yang menggenggam erat tangan Angel dan sesekali Arfan mengajak Angel mengobrol.
Rio POV
Kenapa aku disini? aku heran kenapa aku mengikuti mereka terlebih aku sudah memilih Sena dan kenapa hatiku terasa sakit saat melihat Angel tersenyum kepada Arfan.
Apa aku mencintainya? entahlah aku tidak bisa menjelaskannya. Kakiku terus mengikuti mereka, sebenarnya aku ingin pergi tapi aku tidak bisa, kakiku ingin terus melangkah mendekati mereka.
Senyuman itu, harusnya itu untukku. Aku ingin senyuman itu. Apa aku tidak bisa melihat senyuman itu lagi. Kenapa Arfan bisa membuat Angel sebahagia itu? aku kenapa merasa iri seperti ini? Angel benci kepadaku dan mungkin aku tidak bisa didekat Angel lagi, aku telah banyak membuat Angel sedih dan aku tidak pantas menjadi suami Angel, aku tidak pantas.
POV end.
Rio memutar balik kan badannya menuju arah lainnya. Rio memilih untuk membelikan sesuatu untuk Sena. Rio tidak ingin kehilangan Sena dan ia ingin menjaga Sena serta memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat.
Saat di depan toko baju khusus wanita Rio berpapasan dengan Arfan namun Angel tidak bersama Arfan.
"Kamu ngikutin aku?" tanya Arfan langsung kepada Rio. Rio tersenyum tipis.
"Tidak, buat apa aku mengikuti mu! ada hal yang lebih penting dari itu"
Rio sangat pandai menyembunyikan kebenaran yang ada serata wajahnya dapat menipu siapapun dan kata-katanya seolah-olah dapat membuat siapa saja percaya.
"Oh ya? Kali saja kamu cemburu, istrimu pergi dengan adikmu sendiri"
Rio menghela napas panjang lalu memutar bola matanya bosan. Melihat tingkah Rio yang seperti ini membuat Arfan muak, jelas-jelas Rio mengikutinya dan seakan mengawasi gerak-gerik dirinya dan juga Angel.
"Aku tidak perduli, kalau kamu memang mau dengan Angel ya silakan saja aku tidak perduli. Aku tidak membutuhkannya lagi" ucap Rio seolah tidak perduli dan acuh.
"Benarkah? jadi tidak keberatan jika aku menikah dengan Angel" ucap Arfan berbohong. Arfan ingin melihat reaksi Rio setelah mendengarnya.
"Apa?"
Rio nampak terkejut namun dia langsung menyembunyikan keterkejutannya. Arfan dapat melihat keterkejutan Rio dan sekarang dia tahu ada sesuatu yang Rio sembunyikan.
"Angel sudah setuju menikah denganku dan kamu juga sepertinya tidak keberatan akan hal itu" Arfan semakin membuat Rio kesal, Arfan hanya ingin mengetahui perasaan Rio yang sesungguhnya kepada Angel.
"Ck! terserah apa mau mu! aku tidak perduli!"
Rio langsung pergi begitu saja. Arfan terkekeh pelan, walau pun Rio terlihat acuh namun Arfan dapat merasa ada kecemburuan di sorot mata Rio.
Flash back end.
Rio berdecak kesal. Saat mengingat perkataan Arfan membuatnya merasa kesal marah dan entah lah hanya Rio yang tahu.
"Angel, aku? hhaaaaahhhh!!!"
Rio mengacak-acak rambutnya, frustasi dengan keadaan sekarang. Rio sudah terlanjur mencintai Angel namun cinta ini akan membuat hidupnya semakin rumit.
"Sudahlah, Ri! cukup sampai disini Angel berhak hidup bahagia entah itu dengan Arfan atau pun dengan orang lain"
Rio memantapkan hatinya untuk melepaskan Angel. Rio tidak pandai mengungkapkan perasaannya kepada siapapun dan tidak bisa jujur dengan dirinya sendiri bahkan Rio lebih mementingkan kebahagiaan keluarga besarnya dan karena itu Rio memilih menceraikan Angel sebelum masalah besar menimpa keluarganya karena pernikahan ini.
Suara pintu dibuka oleh seseorang ternyata itu Sena. Sena membawakan makan siang untuk Rio.
"Sibuk yah?"
"Enggak kok"
"Makan dulu yah? aku suapin"
Rio senang dengan perhatian yang Sena berikan akan tetapi Rio ragu Sena melakukan ini dengan tulus atau tidak, ia sangat hafal sifat istrinya ini.
"Kamu mau apa?"
"Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin suamiku itu saja"
Sena menghapus noda ditepi bibir Rio. Sena melakukan ini hanya untuk membahagiakan Rio, ia ingin Rio menjadi suaminya seutuhnya karena itu dirinya berusaha menjadi istri yang lebih baik dari kemarin.
"Benarkah?"
"Jangan membuatku kesal!"
Perkataan Sena malah membuat lekuk senyum dibibir Rio dan cup. Kecupan manis mendarat di bibir Sena bahakan Rio mengulanginya dengan gemas seakan tidak mengijinkan Sena untuk protes.
"Ih Rio!!"
Wajah Sena sekarang merah padam dan terlihat sangat kesal. Rio semakin gemas dengan Sena, sekarang dia dengan gemasnya mencubit kedua pipi Sena.
"Kamu lucu, mau lagi?"
"Iya" tantang Sena bahkan Sena sekarang duduk dipangkuan Rio. Seakan ingin menggoda Rio, Sena mengalungkan kedua tangannya ke leher Rio.
"Sayang" Panggil Sena dengan manjanya.
"Kamu ini" Rio melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sena.
..
Angel tengah mengganti popok Kevin yang sudah penuh dan ini popok terakhir, Rio belum membelinya lagi mungkin dia lupa.
"Sayang, kamu jangan bangun dulu yah? Mama mau ke Papamu dulu, suruh dia beli popok lagi"
Angel mengecup kening Kevin lalu turun dari tempat tidur menunju ruang kerja Rio.
Rumah terasa sepi sekali biasanya Arfan bermain PSP didekat kamarnya tapi sekarang tidak ada bahkan Amanda dan Riko juga tidak kelihatan.
"Mereka kemana? entahlah"
Angel melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ruang kerja Rio yang terletak paling pojok. Angel memantapkan hatinya saat ingin memasuki ruang kerja Rio. Pintu ruang kerja Rio tidak tertutup sempurna dan terdengar samar-samar deru napas yang beradu dari dalam. Angel mengintip kedalam ruangan dan hatinya terasa hancur seketika melihat Rio dan Sena sedang melakukan hot kiss.
Angel yang tidak kuasa melihat lagi langsung pergi. Dadanya terasa sesak melihat ini semua, harusnya ia sadar kalau Rio itu selamanya menjadi milik Sena dan dirinya hanya mesin untuk mendapatkan anak. Angel duduk dilantai dengan air mata yang mengalir dengan derasnya.
"Kenapa kamu sangat bodoh El! Mereka itu suami istri dan kamu hanya bayangan gelap di hidup mereka. Kamu harusnya sadar diri"
Angel memeluk lututnya dengan erat. Rasa ini membunuhnya dan luka tak berdarah ini membuatnya menderita.
"Cukup El! jangan seperti ini lagi, lupakan Rio!"
...***....