
Rumah Jihan Erik. Ruang tengah.
Angel tengah menemani Kevin bermain, seharusnya ini waktunya Kevin tidur. Angel mendengus kesal melihat putra kecilnya ini masih melihatkan gerakan aktifnya. Kevin seakan tahu Angel kesal kepadanya mulai mengeluarkan suara khasnya, seakan ingin mengajak Angel mengobrol agar tidak bosan menemaninya.
"Kamu bilang apa sih, coba bicara yang jelas. Kamu tidak mau tidur? ya sudah, main saja. Jangan rewel tapi." . Seakan mengerti Kevin langsung tersenyum kearah Angel. Angel hanya menggelengkan kepalanya.
Angel yang merasa punggungnya pegal langsung membaringkan tubuhnya di samping Kevin, setelah itu Angel memiringkan tubuhnya kearah Kevin. Angel tersenyum melihat wajah Kevin yang sangat mirip dengan Rio.
"Sayang kamu lapar ngga?"
Angel mengetuk pelan tepi bibir Kevin dan Kevin langsung menoleh kearah Angel lalu mulai merengek.
"Kamu ini."
Angel memainkan tangan mungil Kevin yang sedang menyusu dan sesekali Kevin memejamkan matanya. Angel merasa sangat aman sekaligus lega, sudah sangat lama ia mendambakan keadaan ini, saat tidak ada lagi yang ia sembunyikan dari kedua orang tuanya.
15 menit berlalu. Angel mendengar suara ketukan di pintu, sepertinya ada tamu.
"Sayang sudah dulu yah? ada tamu." Seakan mengerti Kevin berhenti menyusu dan tidak ngambek. Setelah mengecup kening Kevin, Angel langsung beranjak kearah pintu rumah.
"Iya sebentar."
cklek...
Saat pintu terbuka Angel terkejut melihat siapa yang datang. Kedua orang didepannya melempar senyum dan di kedua tangan mereka terdapat kantong kresek yang lumayan besar ukurannya.
"Kalian?" ucap Angel dengan tidak percaya. Yang datang berkunjung adalah orang-orang yang sangat menyayangi Angel yaitu Arfan dan Rey.
"Kevin mana?" tanya Arfan sedangkan Rey sudah nyelonong masuk. Rey ingin sekali bertemu Kevin.
"Di ruang Tangah. Maaf karena aku Mama sama Rio bertengkar." Ucap Angel dengan penuh rasa bersalah. Alvin hanya tersenyum tipis lalu mengacak-acak puncak kepala Angel.
"Sudah lah, kamu fokus saja sama Kevin."
"Ayo masuk."
"Iya"
...
Angel tersenyum tipis saat Kevin merasa tidak nyaman saat Rey dan Arfan terus saja menciumi kedua pipinya.
"Kamu lucu banget sih!" gemas Rey sembari menoel-noel pipi Kevin yang tembem. Kevin tersenyum sangat manis ke arah Rey dan membuat Arfan merasa cemburu. Dari tadi Kevin hanya merespon Rey.
"Kev, kamu tidak kangen apa sama uncle?" ucap Arfan dengan memohon dan membuat Rey cekikikan.
"Bilang "nggak" gitu Kev!" ucap Rey semangat membuat Arfan kesal. Angel hanya menggelengkan kepalanya, Rey selalu bisa membuat orang kesal kepadanya dan Angel tidak tahu kapan Rey dan Arfan bertemu dan bisa seakrab ini.
"Hey, kalian. aku titip Kevin sebentar."
"Iya" ucap mereka kompak.
"Jangan diapa-apain anak aku."
"Ngga bawel, cepetan pergi!" usir Rey tanpa melihat ke arah Angel. Angel hanya mendengus kesal lantas pergi meninggalkan Kevin bersama para rusuh ini.
....
Rumah Deren.
Deren terus mengetuk pintu kamar Sena dan akhirnya pintu itu terbuka. Deren langsung melihat sepasang mata yang sembab.
"Maaf kan,papa?"
"Maaf? kalau Papa bisa memperbaiki semuanya, aku mungkin akan maafkan,Papa."Suara Sena terdengar sangat berat dan serak.
"Memperbaiki masa lalu itu mustahil, Papa tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi".
"Sena tidak meminta Papa memperbaiki masa lalu tapi masa yang sekarang. Hidup Sena hancur, rumah tangga Sena akan berakhir dan itu karena kesalahan Papa yang menyembunyikan kebenaran dari ku."
"Kamu mau Papa lakukan apa?" Deren hanya bisa menuruti semua kemauan Sena sebagai ganti semua kesalahannya. Deren tidak ingin putrinya lebih terpuruk lagi.
"Sebelum itu, aku ingin Papa berjanji tidak akan meninggalkanku ataupun yang terjadi dan harus membelaku walau pun aku berbuat salah." walaupun disaat seperti ini Sena masih melihatkan sisi ke egoisnya. Deren tersenyum tipis, sekarang dia tahu seberapa jauh Sifa mempengaruhi Sena.
"Iya, tapi kamu harus memberitahukan apapun yang akan kamu lakukan. Kamu juga tidak ingin masalah mu tambah sulit kan?"
"Iya, Papa akan terus bersamaku kan?"
"Papa tidak mungkin meninggalkan mu, putriku."
Deren langsung menarik Sena dalam pelukannya
...
Rumah Erik Jihan.
Selepas kepergian Angel, Rey langsung mengeluarkan bando yang terbuat dari kain dan terdapat bentuk bunga dari pita satin. Arfan yang melihat Rey mengeluarkan bando tersebut mengeryitkan keningnya.
"Kamu mau apa?"
"Nih anak di pakaiin bando lucu kali yah?"
Ucap Rey sembari menatap jahil ke bayi mungil yang melihatkan tatapan polosnya.
"Mungkin, buru pakaiin!" suruh Arfan yang ketularan jahil. Rey dengan berhati-hati memakai bando di kepala Kevin dan kedua pria dewasa ini langsung tersenyum senang saat melihat tampilan Kevin yang mirip bayi perempuan?.
"Ih, lucu banget sih kamu!"
Bando itu sangat cocok dengan wajah Kevin terlebih hidung dan bibir tipis Kevin yang membuat wajahnya cantik.
"Kalian apain anakku?"
Suara gahar itu membuat kedua orang ini menoleh kearah belakang. Arfan dan Rey sama-sama melihatkan tatapan datar lalu kembali berfokus kepada Kevin.
"Ck!" Rio berdecak kesal lalu berjalan mendekati kasur.
"Ya ampun." Ucap Rio yang melihat putranya di pakaikan bando.
"Kalian tahu itu cowok ngapain di kasih bando? kalian mau ngelucu?" tanya Rio dengan sinisnya. Kevin yang melihat Papanya langsung bersuara seakan menyapa Rio.
"Rey kayak ada yang ngomong yah?" ucap Arfan yang seakan tidak mengetahui kedatangan Rio.
"Iya yah, ada suaranya tapi ngga ada wujudnya." ucap Rey lagi. Rio yang tidak ingin meladeni kedua orang ini hanya bisa menggelengkan kepalanya, Rio memilih duduk di sofa.
15 menit berlalu.
Angel kembali dari dapur namun langsung mendapatkan tatapan tidak enak dari Rio membuat Angel kebingungan.
"Kenapa?"
"Tuh." tunjuk Rio dengan dagunya kearah kedua pria yang tengah bercengkrama dengan Kevin. Angel berjalan mendekat dan langsung jatuh cinta dengan penampilan baru Kevin.
"Sayang kamu lucu banget!" ucap Angel dengan senangnya membuat Rio menepuk jidatnya, ternyata istrinya satu frekuensi dengan Arfan dan Rey.
"Lucu kan?" tanya Rey yang senang?.
"Iya." Angel langsung duduk di dekat Kevin.
"Iiihh... kalau kamu perempuan pasti lucu banget sayang, baju kamu pasti lucu-lucu ter--... Eh?" Keempat orang ini terkejut saat Kevin tiba-tiba menangis dengan kerasnya seakan mengerti apa yang dimaksud Angel. Angel ingin anak perempuan.
"Mama cuma bercanda, kok malah nangis?" panik Angel. Angel langsung membopong Kevin agar tidak menangis lagi.
"Bayi masa sudah mengerti sih?" tanya Arfan heran.
"Kevin kenapa?" tanya Jihan yang langsung datang saat mendengar tangisan Kevin.
"Ngambek sama Mamanya." ucap Rio acuh dan langsung mendapatkan tatapan kesal dari Angel.
"Kirain ada apa." ucap Jihan lega. "Kalau kalian lapar, ibu sudah siapkan makanan dimeja. Ibu mau ke warung." sambung Jihan lagi.
"Bu, sama siapa? Rio antar yah pake mobil Arfan."
"Boleh."
Pemakaman umum.
Atas permintaan Sena, Deren setuju membawa Sena ke makam istrinya. Jujur Deren jarang berkunjung ke makam sebab dirinya ingin bertahan hidup tanpa orang yang sangat ia sayangi, Deren hanya menyewa seseorang untuk mengurus makam istrinya dan juga putranya.
Sena berjalan di belakang Deren sembari membawa buket bunga mawar putih kesukaan mamanya. Deren menuju area pemakaman yang khusus hanya untuk keluarga besarnya namun hanya Rafa saja yang tidak dimakamkan di area ini. Deren ingin memindahkan makam Rafa ke tempat ini namun Sifa menolak dengan keras keinginan Deren. Sifa beranggapan bahwa Rafa tidak diakui keluarga Deren bahkan Keluarga Deren tidak mengetahui tentang Rafa.
"Pa, masih jauh ngga?" ucap Sena yang ingin sekali menemui mamanya.
"Sudah dekat kok."
"Oh."
Sesampainya di makam, Sena langsung memeluk pusaran makam Sena.
"Mama, mama maafin Sena?! Sena baru datang ke sini, Mama pasti sedih yah?"
Deren tersenyum tipis lalu mengelus kepala Sena. Terdengar isak kan kecil dari Sena.
"Eh, kok nangis sih? nanti mama kamu sedih loh?" ucap Deren dengan lembutnya. Deren tahu apa yang Sena rasakan. Deren juga merasa istrinya pasti sangat marah kepada dirinya sebab menyembunyikan kebenaran yang ada.
"Sena kangen mama, Sena mau peluk mama."
Tanpa disadari Deren, air matanya sudah membasahi pipinya.
"Sayang, Mama kamu pasti senang melihat kamu disini."
Sinar matahari terasa menyengat kulit. Deren masih terus membujuk Sena pulang namun Sena masih belum ingin pulang.
"Pa."
"Iya, kenapa?"
"Papa sering kesini?"
"Jarang" jawab Deren jujur.
"Kenapa?"
"Papa tidak ingin mama kamu sedih, setiap kali papa datang ke sini, papa selalu menyalahkan Tuhan. Papa belum bisa merelakan Mamamu pergi."
....
Saat akan berjalan menuju gerbang keluar, Sena melihat Sifa yang berjalan menuju area pemakaman khusus anak kecil.
"Pa, itu mama, ayo ikuti mama."
"Sena, jangan." Larang Deren yang tahu Sifa akan menuju makam Rafa dan Sifa pasti akan marah jika Sena mengikutinya ke makam Rafa. Deren sangat tahu betapa bencinya Sifa ke Sena.
Sena tidak menghiraukan bahkan Sena sudah berlari kecil menyusul Sifa. Deren mau tidak mau harus mengikuti kemauan Sena.
Sena melihat Sifa membelai lembut batu nisan putranya dengan penuh kerinduan. Sena menduga kalau itu makam Rafa dengan perlahan Sena menghampiri Sifa.
Sifa yang tengah membersihkan dedaunan kering di atas makam Rafa. Sifa terkejut melihat ada tangan orang lain yang ikut membersihkan dedaunan kering. Sifa mendongak, kedua matanya melihat wajah yang sangat ia benci.
"Sena?"
"Ini makam kakak yah ma?"
"Kakak?"
Tak berapa lama Deren datang menghampiri. Dada Sifa terasa sesak karena kehadiran Deren di makam Rafa. Karena Deren, dirinya kehilangan Rafa. Deren hanya menunduk, dia tidak bisa melihat tatapan itu, tatapan penuh kemarahan.
"Mama kok ga bilang kalau aku punya kakak?"
"Dia sudah meninggal, buat apa mama bilang ke kamu." ucap Sifa sebisa mungkin. Deren tahu, Sifa tidak suka dengan ucapan Sena.
Sena sangat mengerti situasi yang sedang terjadi. Sakit, itu pasti dan benci itu wajar. Semua ini harus cepat berlalu.
"Kak Rafa, Sena mau main sama kak Rafa. Kalau kak Rafa masih hidup, kita pasti sering main bersama. Sena sayang kak Rafa." ucap Sena dengan penuh kelembutan sembari memandang ke arah batu nisan.
"Sudah sore, sebaiknya kita pulang." ajak Sifa yang langsung berdiri. Sena mengangguk dan Deren sudah berjalan duluan.
Sena yang berjalan paling belakang merasa pilu. Lebih dari dua puluh tahun kebenaran itu terkubur dengan rasa sakit dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya.
Sena menyeka air matanya lalu tersenyum, Sena menyakinkan hatinya agar tetap tegar dan menyatukan kembali kedua orang tuanya. Sena membenci Sifa namun nasibnya sama seperti Sifa. Tempatnya tergantikan dengan wanita lain jadi Sena paham betul kenapa Sifa sangat membenci dirinya.
Saat keluar gerbang, Sena langsung menggandeng tangan Deren dan Sifa. Sena berjalan diantara kedua orang tuanya.
"Eh?" Sifa nampak terkejut begitu juga Deren.
"Ma, Pa nanti beli es krim dulu yah di kafe?" pinta Sena seperti anak kecil. Sena mengayunkan kedua tangannya layaknya anak kecil yang merasa senang di gandeng kedua orang tuanya.
Deren menatap Sifa. Sifa tahu Deren memintanya untuk ikut bersama. Sifa nampak ragu meng"iya"kan ajakan Deren.
"Iya sayang."
Mobil Deren.
Sena yang duduk di kursi belakang merasa jenuh. Sifa dan Deren saling mendiamkan satu sama lain bahkan Deren maupun Sifa tidak ingin mengajak Sena mengobrol.
Sena yang sudah sangat bosan mulai bersuara lebih tepatnya mengajak Sifa mengobrol.
"Ma, cerita in tentang kak Rafa." pinta Sena. Deren yang mendengar mengerutuki apa yang Sena ucapkan. Deren tahu Sifa pasti akan sedih ketika mengingat masa bersama Rafa.
"Ceritain saat kamu kecil saja yah?" tawar Sifa namun Sena menggeleng.
"Ayo lah ma, Sena mohon."
"Baiklah."
Sifa mulai menceritakan tentang Rafa, mulai dia masih ada dalam kandungannya. Deren juga ikut mendengarkan.
FLASHBACK... (AUTHOR POV)
"Mas."
Deren terkejut melihat kedatangan Sifa, Deren langsung menarik pergelangan tangan Sifa bersembunyi di balik gerbang agar tidak terlihat oleh Sena dan cctv rumah ini.
"Kamu? ngapain kamu disini? pergi sanah !" usir Deren yang tidak ingin ada orang yang melihat Sifa.
"Mas, Rafa."
"Rafa sudah meninggal." ucap Sifa namun Deren tidak percaya dengan ucapan Sifa.
"Apa? kamu sedang bercanda?"
"Mas, Rafa. Anak kita meninggal, dia kangen banget sama kamu tapi kenapa kamu lupain dia? kemarin aku menelepon mu tapi kamu malah mematikan ponselmu."
"Ga...ngga mungkin! dia sehat! Kamu apakan dia, HAH!" Bentak Deren dengan penuh emosi.
PLAKK....
Tamparan keras mendarat di pipi Deren. Tamparan penuh dengan kekecewaan. Sifa terlihat sangat marah, entah kenapa dirinya merasa menyesal pernah mengenal Deren.
"ITU SEMUA SALAHMU! KAMU PEMBUNUH!"
"Kamu bilang apa!"
"Aww." Deren dengan beringasnya mencengkram lengan Sifa. Deren tidak terima disalahkan oleh Sifa.
"Itu kenyataan nya, Rafa pasti sangat kecewa memiliki Papa sepertimu."Sifa melepas cengkraman tangan Deren dan saat itu juga ada suara perempuan yang memanggil nama Deren. Tanpa pikir panjang Deren langsung menghampiri istri keduanya. Sifa merasa sangat sakit, Sifa berjalan ke arah gerbang, melihat dari balik gerbang. Sifa menitihkan air mata saat Deren mengecup perut perempuan yang tengah hamil besar. Wajah Deren terlihat sangat bahagia walaupun dirinya mengetahui anak sulung nya telah meninggal.
"Nak, kamu yang tenang di sana yah. Tuhan sangat menyayangi mu, dia tidak ingin kamu melihat keburukan Papamu."
...
Sena terdiam sembari melihat foto-foto yang berhamburan di depannya. Hatinya hancur serta kecewa di khianati dari awal pernikahan.
Sifa tidak marah atau pun apa. Sifa tahu Sena pasti tidak mengetahui semua ini.
"Itu kebenaranya, Suami yang kamu banggakan itu hanya manusia tidak punya hati dan apa yang aku alami mungkin akan terjadi padamu. Semua pilihan ada di tanganmu."
"Maaf." ucap Sena dengan tulus membuat Sifa mengeryitkan keningnya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau Deren sudah memiliki istri dan seorang anak. Aku turut berduka atas kematian putramu." Sambung Sena lagi.
"Tidak usah perduli padaku, urus saja bayi didalam kandungan mu."
Sifa langsung beranjak pergi meninggalkan rumah. Seperginya Sifa, Sena langsung memungut foto-foto yang berserakan dilantai.
Air mata Sena tak terbendung lagi melihat foto yang penuh akan kebahagiaan namun sekarang foto ini hanya kenangan yang menyakitkan. Sena merasa sangat-sangat kecewa dengan kebohongan Deren dan juga ketidak perduliannya kepada istri dan anaknya, Sena takut Deren akan melakukan hal yang sama kepada dirinya.
"Sayang ini kakak kamu." ucap Sena sembari mengelus perut besarnya.
...
Deren memasuki rumah dengan sikap seperti biasa dan disambut tatapan aneh dari Sena.
"Sayang kenapa? biasanya kamu menyambut ku?" tanya Deren yang heran dengan sikap Sena. Sena hanya diam membisu sembari berjalan menghampiri Deren.
"Rafa lucu yah?" kalimat itu meluncur bebas dari mulut Sena membuat Deren terkejut.
"Maksud kamu apa? Rafa? siapa Rafa?" tanya Deren seolah tidak tahu apa-apa. Kelakuan Deren membuat Sena muak. Sena langsung menghempaskan lembaran foto yang ada ditangannya ke tubuh Deren.
"Jangan mengelak lagi, aku tahu semuanya! Sifa telah mengatakan semuanya! semua kebusukan mu!"
"Sayang, kamu.... siapa yang memberitahukan kebohongan ini? sayang kamu ditipu, dia cu.---."
PLAKK...
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya tamparan keras dari Sena membungkam mulut Deren. Sena benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Deren ini.
"Selama ini kamu membohongiku? sejak awal kamu mengkhianatiku? KAMU BUKAN MANUSIA! AKU KECEWA SAMA KAMU!!! AKU MEMBENCIMU!!" Teriak Sena dengan penuh emosi membuat Deren khawatir.
"Sayang kamu tenang, pikirkan janin dalam rahim mu." bujuk Deren yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya.
"TENANG KAMU BILANG!!! KAMU MENGHANCURKAN KEPERCAYAAN KU!!! KAMU JAHAT...!!! KAMU JAHAT!!! awww."
Keluh Sena sembari memegangi perutnya, Sena merasa janinnya bergerak dengan cepat. Deren langsung membawa Sena ke rumah sakit.
.
Ruang rawat cempaka.
Sena tersenyum dengan senangnya melihat malaikat kecilnya yang sangat cantik dan lucu. Setibanya di rumah sakit, Sena langsung ditangani oleh dokter yang mengawal kehamilan Sena dari awal dan dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi.
"Dia mirip sekali denganmu." ucap Deren dengan penuh kelegaan. Bayi mungil ini dibaringkan di sebelah Sena.
"Dia nguap, lucu banget... aww." tiba-tiba saja Sena mengeluh sakit di dadanya.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Deren khawatir. Sena hanya menggeleng sembari tersenyum tipis. Sena memiliki masalah dengan jantungnya dan Deren tidak mengetahui ini sebab Sena menyembunyikan nya dari Deren.
"Kamu mau memberinya nama siapa?"
"Aku tidak berhak memberinya nama."
"Kamu bilang apa sih? kamu berhak, kamu ibunya."
"Ibu? aku malu mengakuinya, aku tidak pantas jadi ibu anak ini. Apa kamu merasa sedih kehilangan Rafa?"
"Jangan bahas itu! putri kita lebih penting!"
"Setega itukah kamu? dia putramu darah daging mu? wajahnya mirip sekali denganmu, apa kamu sedikitpun tidak pernah merasa bersalah? lima tahu, lima tahun itu waktu yang lama. Segampang itu kah kamu melupakan semuanya? apa kamu akan melakukan hal yang sama padaku dan juga putri kita?"
Deren terdiam sembari menatap bayi mungil ini. Deren merasakan hal yang sama saat Rafa lahir di dunia ini.
"Itu kesalahanku, harus nya pernikahan itu tidak terjadi."
"Lalu? apa kamu akan mengulang lagi waktu? harusnya kamu itu sadar diri, tidak sepantasnya kamu seperti ini. Tolong bawa Sifa kemari." pinta Sena yang merasa hidupnya tidak lama lagi. Sena ingin melakukan hal yang terbaik menurutnya sebelum menghadap sang pencipta.
"Buat apa? Tidak, aku tidak akan menuruti permintaanmu."
"Kamu ingin aku marah padamu? atau kamu mau kita pisah?"
"Sena, kamu?"
"Turuti saja kemauan ku!"
"Baik lah."
...
Sifa tersenyum senang melihat bayi mungil yang sangat lucu. Awalnya Sifa menolak permintaan Deren namun saat Sena meminta, Sifa pun menuruti permintaan itu.
"Dia cantik sekali, dia mirip denganmu." puji Sifa. Deren yang duduk di sofa hanya mengamati saja.
"Coba kamu bopong."
"Sayang sama Tante sinih."
Sifa membopong bayi mungil ini dengan hati-hati. Sena menatap Sifa dengan penuh arti, Sena merasa putrinya akan tumbuh dewasa dengan pengasuhan Sifa.
"Aku ingin kamu merawatnya."
"Apa?" Sifa terkejut mendengarnya, bukan cuma Sifa, Deren pun terkejut mendengarnya. Deren langsung bangkit dari duduknya menghampiri Sena.
"Sena,kamu bilang apa?" heran Deren.
"Aku harus menebus kesalahanku, begitu juga dengan kamu. Jangan lari dari tanggungjawab mu."
"Sena, kamu bilang apa? aku tidak ingin merebut apa yang kamu punya. Ini bayi kamu! kamu yang harus merawatnya."
Sena meneteskan air mata sembari memandang bayi nya. Sena ingin merawat putri kecilnya namun dirinya merasa hidupnya tidak lama lagi.
"Aku ingin, Sifa tapi aku merasa hidup ku tidak lama lagi."
"Sayang jangan ngaco deh, jangan berbicara seperti itu. Kita akan rawat anak kita."
Sena tidak memperdulikan ucapan Deren. Sena menatap Sifa dengan penuh arti. Sifa memandang wajah bayi yang ada di bopongan nya
"Sifa,mau kan jadi ibu dari anakku? aku mohon, sayangi dia seperti putrimu."
"Sena, di butuh kamu bukan aku."
"Tolong jangan putriku." pinta Sena lagi membuat Sifa merasa tidak enak hati. Sifa melihat wajah bayi yang tengah tertidur ini.
"Baiklah aku akan menjaganya."
"Terima kasih." Seketika itu juga pandangan mata Sena mulai kabur.
FLASH BACK END
....
Warung nasi bu Jihan.
Amanda memasuki warung dengan langkah ragu. Dia merasa belum siap menemui wanita yang melahirkan Angel. Sebagai ibu, Amanda tahu apa yang dirasakan wanita itu.
"Permisi."
Amanda melihat seorang wanita yang tengah merapikan sesuatu. Posisinya membelakangi Amanda.
"Iya." Jihan menoleh dan seketika Amanda terkejut melihat wajah yang dulu pernah menemaninya di masa SMA.
"Jihan? kamu Jihan kan?" tanya Amanda dengan nada tidak percaya. Jihan mengerutkan dahinya seakan mengulang kembali waktu yang telah berlalu.
"Iya aku Jihan."
"Jihan, ini aku Amanda. Kita berteman dulu di SMA!"
"Amanda? ya ampun, maaf aku tidak bisa mengenalimu!" Jihan nampak senang bertemu sahabat lamanya.
"Ini?"
"Oh, ini tempat julan ku."
"Tapi? bukannya kamu itu?"
Amanda benar-benar tidak percaya dengan kenyataan ini. Amanda sangat tahu bahwa Jihan itu anak dari keluarga kaya dan sangat terpandang lalu kenapa dia berada di tempat seperti ini dan bekerja seperti ini.
"Aku meninggalkan semuanya, aku memilih jalan hidup ku sendiri, Da. Aku memilih orang yang aku cinta."
"Maksud kamu, Erik? kamu menikah dengannya dan putrimu bernama Angel?"
"Kamu tahu nama putriku dari mana?"
Amanda merasa tubuhnya lemas mendengar ucapan Jihan. Amanda merasa sangat bersalah terhadap Jihan, karena putranya hidup Jihan dan keluarga kecil nya berantakan.
"Jihan maaf kan aku."
"Eh?"
Jihan terkejut melihat Amanda tiba-tiba berlutut di hadapannya. Amanda merasa dirinya gagal mendidik Rio. Amanda masih ingat saat Jihan dan Erik selalu membantunya saat di SMA dan mereka berdua selalu meluangkan waktu untuk menemaninya disaat kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya.
"Amanda, apa yang kamu lakukan? ayo berdiri."
Jihan meminta Amanda berdiri namun Amanda menggelengkan kepalanya. Jihan yang tidak tahu apa yang terjadi merasa bingung dengan keadaan sahabat lamanya ini.
"Amanda, kamu kenapa? ayo bangun!"
"Maaf aku tidak bisa mendidik putraku."
"Amanda, aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan. Tolong jelaskan semuanya! kamu minta maaf untuk apa?"
"Maaf telah membuat putrimu mengalami kepedihan yang di sebabkan oleh putra ku."
"Apa?" Jihan tidak percaya dengan ucapan Amanda. Berarti Rio itu putranya Amanda dan selama ini Angel tinggal bersama Amanda.
"Aku sungguh tidak mengetahui semuanya. Aku tidak mengetahui Rio menikah dengan Angel, aku tidak tahu apa yang telah dilakukan putra dan menantuku. Sungguh, aku tidak tahu semuanya, aku baru tahu apa yang telah terjadi semalam. Ini sangat menyakitkan terlebih untuk mu."
Amanda terisak. Entah apa yang telah terjadi selama ini, Amanda hanya percaya dengan apa yang ia lihat dan apa yang Rio katakan.
Jihan merasa hatinya sakit namun mau bagaimana lagi semua sudah terjadi dan ini semua harus di perjelas lagi antara Angel dan Rio terlebih sudah ada seorang anak di antara mereka.
"Jangan menangis."
Jihan langsung menghapus air mata Amanda dan mengajaknya berdiri.
"Sudahlah semua sudah terjadi dan kita sudah punya cucu loh? Dia mirip sekali dengan Rio."
"Jihan."
Amanda langsung memeluk Jihan. Jihan pun membalas pelukan Amanda.
"Maaf... maaf."
"Bukan kamu yang salah, kita harus menyelesaikan masalah ini. Kamu harus kuat, kita pasti bisa menemukan jalan yang terbaik untuk mereka."
"Iya."
...
Rumah Deren / kamar Sena.
Sifa tengah mengelus puncak kepala Sena dengan penuh kasih sayang. Sena meminta Sifa untuk mengeloninya, awalnya Sifa menolak dengan alasan Sena sudah dewasa tapi Sena tetap memaksa.
"Kamu membenci ku?" tanya Sifa. Sifa yakin Deren telah menceritakan semuanya.
"Iya tapi aku lebih membenci Papa. Aku tahu Mama pasti sangat tersakiti dengan perlakuan Papa. Sena tahu dan paham betul kenapa Mama melakukan itu semua. Rasanya sakit, ma. Saat mengetahui orang yang sangat kita sayang berpaling dari kita."
"Kamu masih memanggil ku dengan Mama? aku bukan mama mu. Aku bukan wanita yang melahirkan mu."
"Aku tahu, tapi Mama yang merawat ku. Mama yang selalu ada di sampingku disaat semua seakan pergi menjauhi ku. Ma, tolong jadi mamaku yang dulu, aku ingin disayangi seperti aku kecil, tidak ada pertengkaran lagi. Kita dulu sering pergi bersama terus makan es krim, lihat kelinci. Mama dan Papa dulu bahagia sekali saat melihatku berhasil meraih apa yang aku inginkan. Aku ingin masa itu terulang kembali, apa itu bisa ma? Sena merasa sendirian ma, Sena takut."
"Sena?"
Sifa mendekap Sena seolah-olah memberi perlindungan kepadanya.
"Sena takut ma."
"Ngga sayang! kamu ngga sendirian! ada mama dan Papa disini! Mama dan Papa akan selalu bersamamu! ingat itu!"
.....****.....****