Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 73. Dua Sisi.



..


Beberapa hari yang lalu.


Markas VN.


Lexa memasuki ruang kerja VN yang gelap, hanya sedikit cahaya bulan yang masuk dari celah tirai yang tak tertutup sempurna. Dia tersenyum melihat Alex yang duduk di kursi sembari memandangi tubuh VN yang tergeletak di lantai dengan d*rah yang mengalir dari tubuhnya.


"Jangan bodoh!" ucap Lexa saat melihat Alex mengarahkan ujung pistol ke pelipisnya.


"Buat apa lagi, dia sudah tidak ada di dunia ini!"


Dor..


Alex menembak lagi VN. Lexa menghela nafas lalu berjalan mendekati Alex dan duduk di sebelahnya.


"Aku tidak percaya kamu membunuhnya dengan sangat mudah."


"Dia punya kebiasaan buruk, mabuk setelah menyelesaikan tugasnya. Kau sudah puas sekarang?"


"Belum, karena kamu belum bahagia. Dia selamat." ucap Lexa yang diam-diam memantau dari jauh. Lexa juga melihat pria yang menolong Angel dan mengikutinya ke rumah sakit Pelita. Lexa cukup lama di sana mengawasi keadaan juga memastikan kondisi Angel sebelum memberi tahukan pada Alex.


"Apa kamu sedang mengejekku?"


"Tidak, aku sudah memastikannya, kamu harus bersama dengannya, kamu mencintainya kan."


"Tapi?"


"Serahkan semuanya padaku." ucap Lexa sembari menunjukan. Plastik berisikan barang-barang milik Angel.


"Akan kamu apakan?"


"Anggap saja, Angel sudah mati. Ah.. aku lupa, aku juga punya rambut dan sedikit darah Angel untuk memuluskan semuanya. Apa kamu senang adikku?"


"Apa lagi yang kamu inginkan."


"Bahagia lah bersama Angel, agar kamu juga tidak dicurigai. Kamu juga harus mati. Aku akan transfer uang untuk hidupmu yang baru dengan Angel, semoga saja luka di kepalanya membuatnya hilang ingatan, agar kamu bisa membawanya dengan mudah."


Alex tak percaya apa yang Lexa ucapkan. Semua membuatnya bingung tapi sudah lah yang jelas Alex lega Angel selamat.


"Mungkin nanti, aku harus membuat mereka menderita, terutama iblis wanita itu."


"Terserah mu, aku akan membantu sebisa ku. Sedikit saran untukmu, jangan langsung membunuh buruan mu buat buruan mu mati dengan sendirinya. Pergilah ke Rumah sakit Pelita kamar VVIP no 37 lantai 11, pakai mobilku dan motormu harus disingkirkan, oh iya dompet serta Kartu identitas serahkan padaku. Kamu tidak perlu mengotori tangan mu, aku sendiri yang akan menyelesaikan semuanya, sisanya terserah padamu."


Alex menurut saja apa yang Lexa ucapkan mungkin ini jalan terbaik.


...


Di jalan tepi sungai. 03:00 Am.


Lexa menghisap dalam rokok elektrik nya sembari melihat 3 anak buahnya memasangkan anting, kalung dan juga cincin di tubuh perempuan yang tidak sadarkan diri karena obat bius.


Lexa menyuruh ke tiga anak buahnya untuk mencari perempuan yang ciri-ciri fisiknya mirip Angel dan untuk tubuh Alex, Lexa menggunakan jasad Dion yang masih tersimpan dengan penambahan tato di lehernya.


"Hey bos, wajahnya tidak mirip sama sekali." ucap salah satu anak buahnya.


"Rusak saja, apa harus aku yang melakukanya?"


Ucapan dari Lexa di sambut senyuman misterius dari ke tiganya.


"Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun atau aku akan membuat kalian memohon untuk di bunuh."


"Baik bos!"


Ketiga mulai menjalankan tugasnya. Tidak akan ada sidik jari atau apapun karena ke tiganya sangat ahli menghapus jejak. Mereka bertiga adalah orang-orang pilihan Lexa.


"Sudah bos."


"Lemparkan Dion dulu baru "kelinci" kalian sudah membereskan motor itu kan?"


kelinci yang dimaksud leksa adalah perempuan yang diculiknya. keempat orang ini seakan sudah biasa berurusan dengan nyawa manusia sehingga tidak ada rasa kemanusiaan.


"Sudah bos, kita juga sudah mendapatkan identitas orang yang pertama menghubungi VN. mereka ternyata ayah dan anak."


"Kerja bagus, kalian harus dapat bonus!"


...


Rumah sakit. Ruang lab.


Lexa dengan mudahnya memasuki ruang lab dan langsung menukar sampel DNA.


"Selesai."


Lexa tersenyum puas, semua rencananya berjalan mulus bahkan dirinya sudah memeras Deren dengan menggunakan nama VN.


"Aku pasti akan menikmati permainan ini."


...


Rumah sakit Pelita.


Alex sekarang berada di depan pintu rawat yang dikatakan oleh Lexa tempat Angel di rawat. Saat Alex akan membuka pintu terdengar suara yang mendekat ke arah pintu. Alex buru-buru menjauh. Terlihat dua orang pria keluar dari ruangan yang satunya berjas dokter.


Setelah mereka pergi, Alex langsung berjalan cepat memasuki kamar rawat.


Alex tersenyum saat melihat Angel yang terbaring di ranjang dengan kepala yang di perban.


"Pasti sakit yah? maaf aku tidak bisa menjagamu. Kamu harus cepat sembuh dan aku tidak akan membiarkan mereka tertawa di atas rasa sakit mu. Maaf aku tidak bisa lama-lama."


Alex mengecup sekilas kening Angel lalu berjalan pergi sebelum orang yang tadi datang. Alex mengira Lexa hanya mempermainkan nya saja tapi ternyata ucapannya dapat di percaya.


...Flash end...


Rumah sakit.


Arfan sedang berbicara dengan kepala polisi yang menangani kasus Angel. Arfan meminta untuk menyelidiki Alex karena merasa curiga terlebih dia seorang pembunuh.


"Alex? apa dia mempunyai tato di lehernya?" polisi itu seakan mengingat sesuatu.


"Tato?"


"Iya, kami juga menemukan jasad pria tidak jauh dari lokasi penemuan jasad keluargamu. dan dapat di pastikan jasad itu bernama Alex. Selain itu tidak ada barang bukti di lokasi meninggalnya mereka berdua."


Arfan menghela napas beratnya. Semuanya semakin rumit.


..


"Semua ini karena putramu!" Jihan meluapkan semuanya pada Zia ibunya Alex. Jihan tidak sengaja mendengar pembicaraan Zia dengan seorang polisi. Jihan juga tahu ada jasad pria di aliran sungai yang sama dengan penemuan jasad Angel dan itu jasad Alex.


"Maksud kamu apa? aku tidak mengenalmu!"


"Karena putramu! putriku meninggal! kalau saja Alex tidak mendekati putriku, ini semua tidak terjadi. Putra mu itu seorang pembunuh!" ucap Jihan menggebu-gebu.


"Sayang, sudah jangan bertengkar!" Erik tidak ingin ada keributan lagi, dirinya hanya ingin secepatnya mengantarkan Angel ke tempat peristirahatan terakhir.


"Ngga Yah! karena putranya, Angel meninggal!"


"Cih! iya putraku seorang pembunuh, dia pernah dipenjara, bahkan putrimu juga mengetahuinya tapi kenapa Alex yang di salahkan? harusnya aku yang marah pada putrimu! Putraku meninggal, karena melindungi putrimu." Zia teringat Alex pernah bercerita tentang Angel dan juga permintaan maaf Alex. Zia masih terbayang senyum Alex saat mengucapkan kata perpisahan karena tengah melindungi orang yang sangat ia cintai mungkin juga mengorbankan nyawanya sendiri, sekarang hari ini tiba. Semuanya terasa seperti mimpi.


"Apa?" Jihan dan Erik menatap Zia seakan meminta penjelasan.


"Bahkan kamu tidak tahu? kalian orang tua macam apa? pantas saja Angel dekat dengan Alex. Apa uang membutakan kalian hingga tidak bisa melihat kesedihan di mata putri kalian sendiri, harusnya kamu tahu penderita putrimu sendiri. Apa kalian menjualnya kerena uang?"


"JAGA UCAPAN MU!!" Teriak Jihan tidak terima dengan tuduhan Zia.


"JIHAN!" suara berat dan menyeramkan memanggil Jihan membuatnya menoleh. Jihan terkejut melihat Ayahnya dan juga ibunya yang duduk di kursi roda. Tatapan keduanya sangat lah menyeramkan, tatapan kecewa, marah dan lainnya.


"Ayah?" Jihan langsung menatap Erik. Erik menggeleng, dia juga tidak tahu akan hal ini.


"Jangan memarahi orang lain untuk menutupi kesalahan mu, Alex tidak seperti yang kamu pikirkan harusnya kamu berterimakasih padanya, selama ini Alex melindungi Angel, kamu jangan bilang aku tidak tahu apa-apa soal hal ini, Angel sudah menceritakan semuanya padaku. Jujur aku tidak percaya kamu bisa melupakan tangung jawab mu sebagai ibu. Harusnya kamu mementingkan kebahagiaan Angel bukan orang lain!"


"Ayah? aku tidak bermaksud lagian Angel juga setuju."


Zia terkekeh mendengan Jihan yang membela diri.


"Seorang ibu harus mendahulukan perasaan anaknya, walaupun harus melawan jutaan orang di dunia ini bukan mendikte anaknya supaya menuruti kemauan mu, dasar payah." ucap Zia pedas.


"Kenapa kamu tega sama Ibu? ibu belum memeluk Angel tapi kenapa harus berpisah? belum puas kamu menyiksa ibu selama ini? Bahkan kamu tidak menceritakan apa yang telah terjadi pada keluarga mu, apa kamu tidak menganggap kami keluarga mu lagi? iya ibu tahu, ibu dan Ayah yang memulai semua ini. Memutus ikatan darah denganmu tapi apa kami harus membayar dengan mahal untuk pilihan hidupmu?"


"Ibu!" Jihan bersimpuh di depan kedua orang tuanya.


"Mana cicit ku, aku kan membawanya ke Prancis." ucap Nenek Angel.


"Tapi?"


...


Ruang rawat.


Sena tengah menemani Rio yang masih tidak sadarkan diri. Terlihat jelas raut wajah ke cemas di wajah Sena.


"Rio." Sena menggenggam erat tangan Rio. Rio sangat terpukul dengan kepergian Angel.


"Angel."


Rio perlahan membuka kelopak matanya. Sena bernapas lega Rio sudah siuman.


"Ri."


"Angel, aku ingin bertemu dengan nya. Sena tolong antar aku!" ucap Rio yang langsung terduduk. Sena tidak merespon, dia menatap Rio dalam.


"Bukan cuma kamu yang ke hilang Angel, tolong jangan seperti ini?" pinta Sena dengan tulus. Dia sangat mencemaskan Rio.


"Engga, Angel masih hidup! tolong percaya padaku! dia bukan Angel! Sena tolong percayalah!"


"Ri?" Sena langsung menarik Rio kedalam pelukannya. Suara isakan Rio mulai terdengar.


"Aku tahu kamu sangat kehilangan Angel tapi tolong kuatkan dirimu untuk ku dan Kevin, kami sangat membutuhkanmu!"


...


Kakek Angel tengah berbicara dengan Ibunya Alex. Jujur dia merasa sangat berterima kasih pada Alex walau pun akhirnya Angel tetap meninggal, andai saja dirinya cepat datang ke Indonesia mungkin ini tidak akan terjadi.


Kakek Angel ingin Zia dan Key ikut bersamanya ke Prancis untuk pengobatan Key sebagai bentuk terima kasih atas segala sesuatu yang telah Alex lakukan.


"Aku tidak mau! kamu pikir aku mau menukarkan nyawa putra ku dengan uang? bahkan semua kekayaan mu itu tidaklah cukup. Dia hidup ku! sama seperti cucumu itu!"


"Tolong lah jangan salah paham, Angel menceritakan semua tentang Alex. Dia yang memintaku untuk membantu pengobatan Key. Setidaknya ini untuk putrimu, kamu pasti ingin melihatnya tumbuh dewasa kan?"


"Tapi?"


"Kamu tenang saja, kamu tidak satu atap denganku. Aku akan menyuruh orang untuk membantumu saat di Prancis, aku juga sudah berbicara dengan nya. Jadi tidak ada salah paham."


"Baiklah, aku permisi." Zia berlalu pergi, dia ingin mengurus pemakaman Alex.


"Semoga ini yang terbaik."


....


Sena menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Orang-orang di depannya ini tidak punya perasan sama sekali. Yang di maksud Sena semua keluarga dan di tambah kakek dan nenek Angel. Mereka semua merebutkan hak asuh Kevin tanpa memikirkan perasaan Angel bahkan jasad Angel masih terbaring di kamar jenazah.


Rio masih merasakan sakit akibat pukulan kakeknya Angel. Kakek Angel tidak banyak bicara namun kata-kata yang singkat mampu menghancurkan mental Rio.


"....... Kevin akan tetap bersamaku! aku tidak tahu apa masalah di keluarga kalian tapi yang jelas Kevin juga cucuku!" Amanda nampak takut Kevin akan di bawa pergi.


"Sifat egois mu itu yang membuat cucuku mati! kamu tidak bisa mendidik anakmu!" ucap Nenek Angel.


"Bu?"


"Kenapa? karena dia besan mu atau teman baikmu? kamu sudah dewasa Jihan! pertemanan sampah mu itu membuat nyawa putrimu melayang! apa lagi yang kamu akan korbankan? bahkan Erik sudah menyerah denganmu!" sambungnya lagi.


Jihan langsung menatap ke arah Erik. Erik hanya diam. Amanda tertunduk sesaat lalu memandang Rio.


"Sudah cukup bicaranya!" semua mata tertuju pada Sena yang tengah membopong Kevin.


"Mau sampai kapan kalian berdebat seperti ini. Jangan menghancurkan kehidupan bayi yang tidak tahu apa-apa, tolong kalian pikiran baik-baik! apa kalian ingin Kevin bernasib sama dengan Angel? apa bisa masa lalu terap jadi masal lalu jangan di bawa-bawa dalam hal ini!"


Nenek Angel yang akan berbicara dipotong oleh Sena.


"Iya, ini semua salah ku, karena aku tapi apa itu cukup untuk memperbaiki semuanya? aku mengakui kesalahanku namun itu tidak mungkin bisa merubah kenyataan! Angel sudah meninggal dan bayi dalam dekapan ku ini telah kehilangan ibunya kalau kalian tidak kasihan dengan Angel tolong pikiran lah kebaikan untuk putranya. Kalian dari tadi membahas tentang Kevin yang bahkan tidak meminta untuk di lahirakn hingga kalian lupa Angel masih terbaring ke dingian di kamar jenazah sedanga kan keluarganya memperebutkan putranya. Apa kalian sudah kehilangan akal sehat kalian? Apa ini rasa sayang kalian? apa ini yang di sebut keluarga? apa belum cukup kesedihan yang Angel rasakan di masa hidupnya? apa harus dia menangis walaupun kini raganya tidak bersamanya? Kalian sudah cukup dewasa untuk berpikir jernih, tolong hilang kan ego kalian masing-masing. Angel tidak menginginkan ini."


Semua terdiam karena merasa salah. Semua yang di katakan Sena memang benar tidak seharusnya mereka bertengkar dan mengabaikan kebenaran yang ada dan tidak ada lagi pemaksaan ataupun saking menyalahkan.


....


Rumah sakit Pelita.


seorang pria sedang terduduk di samping gadis yang terlelap di pembaringan rumah sakit. Pria itu memandang lekat wajah gadis yang dia selamatkan dua hari yang lalu, gadis itu belum sadar hingga sekarang, luka di tubuh gadis itu membuat dirinya penasaran, entah luka itu didapat karena perampokan ataupun pembunuhan yang jelas sampai detik ini tidak ada informasi di kepolisian akan orang hilang yang mirip dengan wajahnya.


"Cantik. Arrggg kamu bilang apa sih Devan! jangan bodoh, istri mu baru meninggal. Jangan berbicara macam-macam!"


Pria bernama Devan ini menepuk pipinya keras. Devan terbayang akan senyuman Yumna yang sangat ia sayangi.


"Maaf, entah kenapa dia mirip denganmu." lirih Devan pelan. Devan melirik ke jam tangannya.


"Kenapa belum datang?"


Devan menantikan kedatangan Lusi ibunya yang akan datang berkunjung bersama bayi mungilnya.


Devan Pov.


Yumna, maaf aku belum menemukan nama yang cocok untuk putri kita. Kamu bilang akan memberikan nama yang cantik untuk bayi kita tapi kenapa kamu "pergi" tanpa mengucapkan namanya. Aku harus bagaimana? aku merasa tidak bisa merawat bayi kita, tanpamu hidup ku kini tak berwarna, aku sangat membutuhkanmu terutama bayi yang kamu lahir kan. Dia membutuhkan kasih sayang mu, aku tidak bisa membayangkan dia hidup tanpa belaian kasih sayang mu. Maaf aku tidak bisa menghadiri pemakaman mu, aku tidak sanggup berpisah dengan mu dan entah kenapa aku malah duduk disini menemani perempuan yang aku selamatkan.. yah mungkin aku takut orang yang mencelakainya kembali melukainya.


15 menit berlalu.


Devan tersenyum senang melihat putri mungilnya datang. Devan langsung membopong serta menciumi bayinya.


"Dia belum siuman?"


"Seperti yang mama lihat dan sampai sekarang tidak ada informasi apapun. Mungkin dia sudah di lupakan." ucap Devan asal.


"Kamu ini, apa keluarganya sudah menganggap dia telah meninggal? kasihan sekali kamu. Kenapa dia mirip Yumna?"


Lusi seakan dapat melihat sosok Yumna pada wajah perempuan ini namun sepertinya Devan tidak setuju dengan apa yang di katakan Lusi.


"Dia tidak mirip sama sekali! jangan berbicara macam-macam."


"Maaf, orang tua Yumna bilang akan datang menjenguk."


"Apa mereka masih berniat untuk mengadopsi perempuan itu? apa mereka akan menggantikan posisi Yumna dengannya?" Kesal Devan yang merasa menolong perempuan itu dari maut sudah cukup tidak usah berlebihan.


"Devan, bisa tidak kosa katamu itu tidak terlalu savage? kamu itu sudah jadi ayah, ubah sifat mu itu!" ucap Lusi yang masih bersabar dengan tingkah anak semata wayangnya nya ini.


"Iye,... bawel."


"Mulai lagi?"


"Ampun ma." ucap Devan sembari duduk di sofa. Devan sangat menyayangi bayi mungilnya.


"Kamu tidak usah ikut campur urusan mereka, kalau mereka ingin mengadopsinya..ya sudah itu hak mereka, lagian mereka cuma mempunyai seorang putri sama sepertiku."


"Sejak kapan aku jadi perempuan?" Tanya Devan dengan nada sinis. Lusi menatap datar Devan, entah kenapa anaknya ini selalu mencari gara-gara dengannya.


"Iya mama ralat, sama-sama hanya punya satu anak. Puas kamu?"


"Dih sewot, ntar keriputnya nambah loh?" ejek Devan. Lusi menghela napas panjang, kalau ini diteruskan lagi akan kelar besok malam.


"Tidak usah bahas keriput mama, kamu sudah menemukan nama yang pas untuk putrimu?"


"Emang botol plastik nemu di jalan?"


"Devan, mama serius!" kesal Lusi. Lusi tahu Devan sedang tidak baik-baik saja dan semua yang Devan ucapkan hanyalah pengalih dari kesedihannya.


"Belum mama ku sayang."


"Buruan kasih nama biar bayinya tidak rewel."


"Emang ngaruh?"


"Iya, eh ya ampun." Lusi teringat ponselnya yang tertinggal di rumah.


"Kenapa?"


"Ponsel mama ketinggalan, mama mau pulang dulu. Baby nya di sini saja sama kamu."


"Eh? nggak-nggak. Kalau bayinya nangis gimana? Ngapain pulang, telpon saja orang rumah biar di antar."


"Tertinggal di kamar, pintunya di kunci. Cuma sebentar."


"Tapi?"


"Cuma sebentar, minta suster bantuin kalau dia rewel. Udah yah? ponsel mama itu penting banget kali aja ada pesan mama dapat arisan."


"Emang uang dari Papa ngga cukup hingga mama ngarep banget dapat arisan?" Sinis Devan.


"Kurang sinih minta sama kamu buat perawatan wajah mama, biar keriput nya hilang."


"Jangan ngade-ngade. Cepetan sonoh mumpung masih tidur." suruh Devan acuh. Lusi hanya menggelengkan kepalanya lalu keluar ruangan.


"Tuh orang ngga bawa makanan untuk ku? dasar emak-emak ngga peka!" ucap Devan yang merasa lapar. Devan membaringkan bayi mungilnya di sofa dengan hati-hati.


"Sayang, papa laper. Kamu ngga apa-apa kan kalau Papa tinggal? cuma sebentar yah?" ucap Devan yang merasa putri mungilnya tidak akan apa-apa jika ditinggal terlebih sofa ini nyaman untuk tidur bayi.


"Ngga apa-apa kan yah?"


Devan melihat kerah ranjang, dia takut perempuan itu bangun dan membawa putrinya pergi.


"Jangan aneh-aneh! buru ke kantin!" ucap Devan yang secepat mungkin ke kantin untuk membeli roti dan air mineral karena Devan tidak mungkin berlama-lama di kantin.


....


Pemakaman Keluarga Rio.


Semua anggota keluarga nampak enggan pergi dari makam Angel walaupun rintik hujan mulai membasahi bumi.


Rio masih tidak percaya Angel telah meninggal. Tatapan Rio sangatlah kosong bahkan Rio hanya diam membisu dan tidak ingin berbicara dengan siapapun.


"Sebaiknya kita semua pulang, tetap di sini pun tidak akan membuat putriku bangkit lagi." ucap Erik yang berjalan mendahului. Jihan langsung mengikuti Erik, Dia ingin berbicara penting dengan Erik. Jihan hanya ingin menanyakan alasan kenapa dirinya akan di ceraikan.


Kakek dan nenek Angel sudah tidak memaksa Kevin ikut dengan mereka. Semuanya sepakat akan saling mendukung dan ambil bagian dalam tumbuh kembang Kevin dan mulai sekarang Kevin akan sering jalan-jalan ke Prancis untuk menemui eyangnya dan juga sebaliknya orang tua Jihan akan sering main ke Indonesia untuk bermain dengan Kevin. Semua keputusan ini diambil agar Angel tenang di sana dan Kevin mendapat kasih sayang penuh dari keluarganya.


"Kita harus menemui Jihan. Aku takut Jihan salah paham." ajak ibu Jihan.


"Baiklah."


Sekarang hanya ada Rio dan Sena. Riko dan Amanda ikut pergi bersama ibu dan Ayah Jihan. Riko dan Amanda ingin Sena membujuk Rio pulang.


"Ri?"


"Aku mau disini saja, Angel pasti ketakutan di dalam sana."


"Ri, kamu ingat saat mama ku meninggal? kamu yang menguatkan ku dan sekarang kita saling menguatkan demi Kevin. Sekarang kita harus jadi orang tua yang terbaik untuk Kevin, jangan buat Angel kecewa. Kita tidak akan menyembunyikan kebenaran tentang Angel, kita akan buat Kevin menyayangi Angel walaupun kini Kevin tidak bisa merasakan kehadiran Angel."


"Siapa yang melakukan ini? aku ingin membunuhnya, dia harus membayar atas semua yang telah dia lakukan."


"Ri, mungkin saja ini perbuatan rekan bisnis Alex. Mungkin mereka ingin menyingkirkan Alex dengan memperalat Angel. Kamu sudah tahu kan terlebih Angel tidak mungkin mau membahayakan kita jadi dia menyembunyikannya dari kita. Ayo pulang, aku mohon? kasihan Kevin terlebih Arfan mendapat teror dari orang asing, aku takut Arfan... sudah lah!" Sena tidak bisa meneruskan perkataannya. Sudah cukup yang ia alami sekarang. Rio tahu harusnya dirinya berjuang untuk keadilan Angel bukan Arfan.


"Ayo pulang, aku harus bicara dengan Arfan. Aku ingin Arfan tidak ikut campur dalam kasus kematian Angel, biar polisi saja yang menanganinya."


..


parkiran.


Jihan menatap Erik dengan mata yang berkaca-kaca. Erik membalikan badannya memunggungi Jihan.


"Tolong jangan ceraikan aku! aku tahu aku gagal jadi ibu yang baik untuk Angel. Aku mohon jangan meninggalkan ku, aku sangat membutuhkanmu. Kamu marah karena aku, Angel meninggal?"


"Tidak, aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku. Pergilah bersama orang tuamu." Erik mengepalkan kedua tangannya. Andai saja dulu dirinya tidak menyukai dan menikahi Jihan mungkin ini semua tidak terjadi. Jihan tidak akan jauh dari keluarganya dan Angel tidak akan mempunyai Ayah yang tidak berguna seperti dirinya.


"Aku sebuah kesalahan? kamu menyesal menikah denganku?" ucap Jihan menahan tangisnya. Erik memandang ke arah langit berusaha untuk tidak meneteskan air mata.


"Jawab Erik? semua yang kita lalui selama ini, apa kamu menyesalinya?"


Erik tidak mengucapkan sepatah katapun. Bukan karena hal itu tapi Erik merasa telah gagal menjadi suami dan sebagai Ayah dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk Angel.


"Apa kamu menyesal bersamaku? apa aku beban untukmu?"


"BUKAN ITU! aku gagal menjadi suamimu bahkan aku malu menyebut diriku seorang Ayah. Ayah macam apa aku ini? aku hanya beban untuk putri dan istri ku. Aku hanya ingin kamu bahagia, aku tidak bisa memberikan apa yang kedua orang tua mu berikan dulu. Kamu tidak akan kelelahan setiap hari, kamu tidak perlu berjualan di warung. Kamu tidak akan kekurangan saat bersama mereka, harusnya dari dulu aku melakukan ini mungkin semua ini tidak terjadi. Aku Ayah yang buruk, andai aku tidak sakit mungkin semua ini tidak terjadi, aku hanya ingin kamu bahagia itu saja. Aku hanya luka untukmu."


Erik merasakan pelukan yang hangat dan membuatnya tidak bisa menahan tangisnya. Jihan memeluk Erik dari belakang.


"Kamu salah, aku sangat bahagia bersamamu, aku bisa menjadi diri ku sendiri. Aku tidak butuh uang, aku hanya ingin merasakan kasih sayang mu yang selalu membuatku merasa jadi Ratu. Angel sangat menyayangi mu hingga dia rela melakukan ini semua. Karena rasa sayangnya dia jadi seorang wanita dewasa, lebih dari kita. Dia mampu berjuang tanpa mengeluh sama sekali. Dia sangat bangga padamu, sifatnya mirip sekali denganmu. Tolong jangan menyalahkan dirimu atas semua ini."


Erik melepaskan pelukan Jihan lalu membalikkan badannya menatap kedua mata Jihan.


"Aku tidak bohong, aku sama sekali tidak menyesal menikah dengan mu. Tolong tetaplah melangkah bersamaku, jadi tempat perlindungan ku dari luka ini. Aku sudah beberapa kali kehilangan dan aku tidak mau kehilangan dirimu." Jihan tersenyum sangat manis. Erik langsung menarik Jihan dalam pelukannya.


Dari kejauhan orang tua Jihan mengawasi. Mereka sudah tidak ingin memisahkan Jihan dengan Erik. Keduanya kini sudah menerima semua yang telah terjadi.


"Kalian akan ikut ke Prancis." suara Ayah Jihan membuat mereka berdua terkejut dan membenarkan posisi mereka.


"Tidak ada kata pisah diantara kalian, Angel tidak ingin kalian saling menyalahkan. Putri kalian sangat menyayangi kedua orang tua nya jadi jangan membuatnya kecewa."


"Iya Yah."


...


Rumah sakit Pelita.


Devan membuka pintu rawat dan ternyata ada suster dan juga Dokter yang memeriksa namun ada suatu hal yang membuat Devan terkejut yaitu perempuan yang dia tolong kini sudah siuman dan tengah menyusui bayi mungilnya.


"Pagi Dok."


Devan melangkah mendekati ranjang. Tapan mata Devan tertuju pada bayinya yang sangat nyaman di dekapan Angel.


"Pagi, kondisi pasien sudah mulai membaik."


"Apa tidak apa-apa dia langsung menyusui bayi? dia tidak sadar hampir tiga hari dan terus disuntik obat apa tidak bahaya untuk bayiku?" tanya Devan langsung dan membuat Angel menoleh, menatap mata Devan langsung.


"Sebaiknya kita bicara diluar, sus tolong jangan pasien."


Keduanya berjalan ke luar ruangan untuk membahas lebih dalam lagi tentang kondisi pasien yang sebenarnya.


10 menit sebelumnya.


Jari tangan Angel mulai bergerak perlahan dengan kelopak mata yang perlahan membuka. Sinar lampu membuat matanya tidak nyaman.


"Kepalaku." Angel mengerang kesakitan dan bersamaan dengan pintu ruang yang terbuka.


"Dok, pasien sudah sadar."


Dokter itu langsung menanyakan tentang kondisi nya serta menanyakan namanya namun. Angel tidak mengigat apa hanya rasa sakit yang ada di kepalanya. Dokter itu nampak ingin memastikan sesuatu dan terus bertanya namun hasilnya tetap sama.


"Dok, saya tidak ingat apa-apa. Awwa."


"Kamu tenang yah? Jangan memaksa kan diri."


Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dan membuat naluri keibuan Angel muncul.


"Bayiku."


Angel mencari sumber suara. Walau ingatannya hilang, Angel masih bisa merasakan nalurinya keibuannya sebagai ibu yang penyayang.


Dokter itu mengisyaratkan suster untuk membawakan bayi yang menangis itu.


"Sayang kamu lapar?"


Angel merasakan sesuatu yang sangat ia rindukan. Senyuman bayi yang ad di dekapan nya membuat rasa sakitnya mulai mereda.


.....


Devan tetap tidak mau mendengarkan ucapan Dokter, Devan tidak perduli dengan pemulihan ingatan Perempuan itu.


"Tidak, itu bayiku. Saya tidak perduli dengan wanita itu. Dokter bilang ASInya tidak bahaya untuk putriku tapi tetap saja selama ini dia terbaring dengan infus dan obat yang mungkin berpengaruh pada putriku."


"Ada apa ini?" tanya Lusi yang baru kembali dan ternyata ponselnya tertinggal di mobil.


"Pasien sudah sadarkan diri dan dia hilang ingatan namun saat mendengar tangisan bayi, dia langsung merespon."Jelas Dokter dan membuat Lusi terkejut, ternyata dia seorang ibu.


"Apa?"


"Saya permisi, ada pasien yang harus saya tangani."


"Iya Dok silakan."


Seperginya Dokter. Lusi langsung menatap Devan membuat Devan bingung.


"Jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak akan setuju dengan apapun yang ada di pikiran mu!" ketus Devan yang seakan tahu isi kepala Lusi. Lusi mendengus kesal.


"Setidaknya dia punya ASI untuk bayimu."


"Ma, aku tidak ingin memperalat dia. Sudah cukup apa yang dia alami, jangan membuatnya terluka dengan keegoisan kita. Bayiku bisa tumbuh tanpa ASI dan seorang ibu."


"Kau tidak ingin menikah lagi? masa depan kamu masih panjang Devan."


Devan terkekeh langsung menatap tajam Lusi. Entahlah apa yang sedang Lusi pikiran hingga dia tidak peka terhadap apa yang tengah Devan rasakan.


"Wow anda hebat sekali mengatakan itu. Padahal makam menantu mu masih basah." ucap Devan datar lalu berlalu pergi. Lusi menyadari kesalahannya.


"Sayang bukan itu maksud mama, maafin mama!"


Devan tetap menggubris, dia tetap berjalan meninggalkan Lusi.


"Kenapa aku salah bicara?"


"Jeng Lusi ada apa?" tanya Vely ibunya Yumna. Dia datang bersama Nikolas suaminya.


"Aku salah bicara dan membuat Devan marah."


"Sabar yah jeng? dia memang seperti itu. Padahal Yumna sudah ikhlas kalau nantinya Devan menikah lagi." ucap Vely. Saat Yumna mengandung buah hatinya bersama Devan, sesekali dia bercanda dan berbicara ngelantur soal dirinya yang akan meninggal sebelum melihat bayinya dan menyuruh Devan mencarikan ibu terbaik untuk bayinya kelak. Seakan punya firasat yang kuat kini hal itu terjadi, Yumna meninggal dan tidak bisa melihat bayinya tumbuh dewasa.


"Biarkan Devan sendiri dulu untuk sekarang. Tapi aku tidak melihat cucuku, dimana dia?" tanya Nikolas.


"Dia ada di dalam, perempuan itu sudah sadar dan dia hilang ingatan hanya saja, dia merasa cucumu adalah bayinya."


"Apa?"


"Sebaiknya kita masuk, aku sendiri belum melihat sendiri karena hal itu Devan marah."


"Ya sudah ayo masuk."


bersambung.