Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 29 PAMIT



Riko mengintip kedalam kamar. Riko langsung bernapas lega akhirnya istrinya mau memaafkan Rio.


"Aku selalu mendidik mereka menjadi pria dewasa tapi kamu malah memperlakukan mereka seperti putra kecilmu" keluh Riko yang senang sekalingus pasrah. Amanda tertidur dengan kedua putranya yang tertidur disampinnya. Rio disisi kiri sedangkan Arfan disisi kanan keduanya seakan yengah menjaga Amanda.


Riko menutup kembali pintu kamar. Riko bersyukur kepikiran untuk menyuruh Sena kesalon kalau tidak Sena pasti akan mengganggu dan mempengaruhi Rio.


Riko menuruni anak tangga dan kebetulan diakhir anak tangga ada Bram yang memang ingin menemui Riko. Bram sendiri merasa cemas tapi apa mau dikata ini bukan urusannya, Bram takut kalau dirinya ikut campur malah memperburuk keadaan.


"Ri, apa sudah selesai?"


"Sepertinya sudah, maaf kedatangan mu dirumah ini tidak seperti biasanya. Aku juga bingung harus bagaimana. Aku tahu Sena bisa dibilang kurang sopan tapi Sena pilihan Rio dan Rio bahagia dengan Sena, kami tidak mungkin merebut kebahagiaan Rio"


"Sudahlah mereka juga sudah dewasa yang kamu pikirkan sekarang adalah Amanda. Kamu tahu sendiri kalau Amanda sangat rapuh"


"Kamu benar tapi ada satu lagi yang harus aku khawatirkan"


"Siapa?"


"Arfan. Aku ingin sekai mencarikan jodoh untuk Arfan, apa kamu bisa bantu?"


"Akan aku usahakan"


....


Taman


".... sembunyikan dariku?"


Angel tersadar dari lamunanya lalu menoleh kearah Rey. Rey masih tetap sabar menunggu jawaban Angel.


"El?"


"Tidak ada aku hanya membayangkan gaun pangantin yang akan aku pakai di pernikahan kita"


Rey tersenyum lalu mengacak-acak poni Angel. Dalam hati Angel merasa bersalah tidak jujur kepada Rey karena Angel tidak mau Rey terbebani dengan ini semua yang mungkin akan mempengaruhi kehidupan Rey.


"Aku janji saat pernikahan kita, kamu akan memakai gaun pengantin yang sangat inda"


"Terima kasih"


Senyuman dibibir Angel membuat Rey semakin mencintai Angel. Rey mengelus lembut pipi kiri Angel perlahan tangan Rey turun kedagu mendongakan dagu Angel. Rey mendekatkan wajahnya kewajah Angel. Angel langsung menutup matanya. Hangat napas Rey dirasa Angel dan sedetik itu pun Angel merasa sentuhan lembut dibibirnya.


..


Angel tersenyum senang merasakan kebahagiaan yang dirasanya sekarang mengobati luka hatinya. Rey pun sama dirinya tidak sabar menantikan hari pernikahanya serta bermain dengan buah cintanya bersama Angel.


"Kamu senang?"


"Ih kamu masa tanya sih! ya jelas aku senanglah"


"Kirain"


"Kirain apa?"


"Tidak ada"


Rey menarik Angel kedalam pelukannya dan kalau bisa Rey tidak mau melepas pelukan ini. Ingin sekali rasanya Rey membawa Angel pulang kerumah kalau saja Papanya tidak memberi syarat yang seperti itu pasti Rey sudah minta dinikahkan bulan ini juga.


"Makasih Rey. i love you"


Angel memeluk Rey sama eratnya. Angel dapat mendengar detak jantung Rey yang berdegup kencang mungkin Rey merasa deg-degan.


"Aku mencintaimu malaikat manisku"


Rey teringat akan perkataan Mamanya yang menyuruhnya untuk pulang hari ini juga dan Rey bingung harus mengatakannya seperti apa terlebih Rey tidak mau Angel menangis.


Rey menghela napas membuat Angel mendongak menatap Rey.


"Kamu kenapa?"


"Sayangku"


"Hemm"


"Maaf hari ini aku akan pulang"


Serasa jantung Angel berhenti sedetik setelah mendengar perkataan Rey. Rey mau pulang dan hari ini padahal Angel masih ingin terus bersama Rey. Angel perlahan melepas pelukannya bersamaan dengan air mata yang membasahi pipinya.


"El?"


Rey melepas pelukannya langsung menghapus air mata Angel. Angel kini terisak dihadapan Rey membuat Rey merasa bersalah.


"Ke..napa? a..aku mm..masih mau bersama mu"


"Sayang jangan menangis kamu kan sudah janji"


Walau pun Rey berkata seperti itu air mata Rey juga turun. Rey merasa berat meninggalkan Angel walau untuk sementara akan tetapi rindu yang dirasanya belum tercurah semua tapi sekarang dirinya harus pergi lagi.


"Jangan pergi" pinta Angel namun Rey menggelengkan kepalanya pelan karena dirinya memang harus pergi.


"Aku ingin tinggal tapi aku harus membuktikan ke orang tua kita kalau aku siap untuk menjadi suamimu. Aku harus berlajar banya kepada Papa supaya nanti aku akan jadi pria yang bisa diandalkan kamu dan anak kita nanti setelah itu aku akan kembali menjemputmu. Kita akan bahagia bersama selamanya"


Angel menepis tangan Rey lalu berlari pergi menjauh. Angel tidak ingin Rey pergi lagi kalau Rey pergi siapa yang akan menjaganya dan menghiburnya.


Angel duduk dibangku taman. Kedua tangannya dipakai untuk menutupi wajahnya dan masih menangis.


Rey menghampiri Angel. Dirinya berlutut didepan Angel.


"El, aku mohon jangan seperti ini aku jadi tidak tega meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini"


Rey meraik tangan Angel menggenggam kedua tangan itu dengan erat. Angel menatap Rey dengan tatapan memohon.


"Sayang, kita bisa video call setiap hari jadi jangan sedih. Aku akan selalu merindumu. Jangan menangis"


Rey menyeka air mata Angel dengan senyuman diwajahnya.


"Janji kamu akan kembali"


"Iya sayangku"


....


Rumah Angel


Rey tengah berpamitan ke Jihan dan Erik. Kedua orang tua Angel ingin Rey tinggal disini lebih lama lagi tapi apa boleh buat Rey harus pulang.


"Jagain calon istriku yah Tan" ucap Rey dengan berat hati. Jujur Rey tidak tega meninggalkan Angel dengan kondisi seperti ini namun dirinya harus pulang dan menyiapakan semua untuk pernikahan dan masa depanya bersama Angel.


"Kamu tidak usah khawatir, kamu jaga diri disana"


"Iya Tan. Om, Rey pamit"


"Jaga dirimu dan kamu temui dia dulu"


Rey mengerti apa maksud Erik. Rey langsung berjalan menuju tangga untuk menemui Angel.


...


Kamar Angel


Angel masih terus menangis. Dirinya tidak ingin Rey pergi lagi darinya terlebih Rey telah melamarnya. Angel merasa senang sekaligus kesal Rey selalu bisa membuatnya tertawa lalu menangis. Dulu satu minggu sebelum Rey pindah keBali, Rey menjadikan Angel seolah-olah ratunya semua yang Angel minta pasti dituruti dan Angel merasa senang sekali.


Dan ditaman jugalah Rey berpamitan untuk pergi saat itu juga Angel menangis seperti tadi dan Rey pulalah yang menenangkan Angel.


"Kenapa ini lebih sakit dari pada yang dilakukan Rio? apa karena aku mencintai Rey tapi sejak kapan apa saat aku bertemu dengannya?"


Angel terdiam sembari mengigat lagi apa yang telah ia lalu bersama Rey. Semuanya terasa indah dan menyenangkan dan ada perasaan rindu saat Rey tidak masuk sekolah dan juga cemas akan dirinya.


"Kenapa aku baru menyadari ini semua!" kesal Angel pada dirinya sendiri. Angel masih teringat saat MOS SMA ada senior yang menantang para juniornya untuk mengunggkapkan perasaan kepada orang yang dicintainya dan saat itu juga Rey langsung maju dan menyatakan cinta kepada Angel tapi Angel mengira itu hanya lelucon saja yang biasa Rey mainkan terlebih suasan yang terkesan humor jadi Angel tidak merasakan keseriusan Rey.


"Rey"


Angel menggenggam cincin dikalungnya. Angel merasa dirinya ingin terus bersama Rey membangun bahtera rumah tangga yang nyata tidak seperti pernikahan semu dengan Rio.


"Aku ngga perduli, aku ingin bahagia dengan orang yang aku sayang"


Angel melepas kalung dilehernya lalu mengambil cincin itu. Angel mengambil napas dalam lalu membuangnya perlahan untuk menenangkan dirinya setelah merasa tenang Angel langsung memakai cincin lamaran Rey dan berarti Angel menerima lamaran Rey.


Angel menghapus air matanya dan bersamaan dengan itu Rey memasuki kamar Angel.


"Tadikan sudah janji"


Angel langsung menoleh kearah pintu. Rey tersenyum sembari melangkah kearah Angel.


"Aku tidak menangis" elak Angel padahak jelas terlihat diwajahnya. Rey duduk disamping Angel. Rey melihat cincin lamarannya sudah berada dijari manis Angel.


"Itu?"


"Aku balikin kalung kamu"


Angel memasangkan lagi kalung itu keleher Rey. Sebenarnya kalung itu milik Angel yang Angel berikan sebelum Rey pindah keBali. Awalnya Angel tidak percaya kalung ini adalah pemberiannya namun saat melihat dengan lebih teliti akhirnya Angel yakin.


"Kamu masih memakainya"


"Ini kan pemberian mu, jadi kamu menerimanya?"


"Iya"


"Kalau begitu berarti tidurku akan tidak nyenyak dong. Kamu ini"


"Biarin"


cup


Angel langsung mengecup pipi kanan Rey dan membuat senyum Rey mengembang sempurna tapi Rey malah mengetuk-ngetuk bibirnya seakan ingin dikecup lagi.


"Nggak!" tolak Angel langsung namun sedetik itu dirinya merasa darahnya memanas. Rey mengecup bibirnya cukup lama. Rey melepas kecupan dibibir Angel.


"Aku senang kamu menerima lamaranku. Kamu maukan menungguku?"


"Iya"


"Terima kasih sayang ku"


Rey menarik Angel kedalam pelukannya.


Angel pun membalas pelukan Rey. Rasanya sangat menyenangkan memeluk orang yang disayang.


...


Angel melambaik tangan kearah mobil Rey. Jihan dan Etik tahu kalau putrinya sangat sedih namun sepertinya Rey mampu menenangkan hati Angel.


"Sayang ayo masuk"


Angel menurut lalu mengikuti kedua orang tuanya masuk kedalam Rumah.


23:30


Angel belum bisa tidur pikirannya terus tertuju kepada Rey. Sampai saat ini Rey belum memberi kabar.


Angel tersenyum mendapat pesan singkat dari Rey yang intinya Rey sudah samapai dirumah tanpa ada kurang suatu apapun dan menyuruh Angel tidur mungkin Rey tahu kalau Angel tengah mengkhawatikannya.


Sesuai dengan yang Rey suruh Angel pun langsung tidur sebelumnya Angel membalas pesan Rey.


....


Taman


Angel tengah duduk dibangku taman sembari memainkan cincin pemberian Rey. Belum sehari tapi Angel sudah merasa rindu kepada Rey terlebih Rey selalu membuatnya kesal dan bahagia karena itulah terasa hampa yang dirasa Angel sekarang.


"Angel"


Angel terkejut lalu menoleh ternyata yang memangilnya orang yang paling ia benci. Angel langsung pergi namun orang itu terus memanggil namanya membuat Angel kesal.


"Kamu mau apa lagi sih Rio?" ucap Angel tanpa melihat kearah Rio.


"Kamu tidak mau bertemu Sania?"


"Saina?"


Angel nampak dibuat bingung oleh Rio yang selalu saja mempermainkan perasaanya.


"Kamu lupa sama anak kamu sendiri?"


Angel langsung berbalik menatap Rio. Di tangan kiri Rio terdapat boneka kecil serta sebuket kecil bunga mawar pink.


"Tapi kamu bilang?"


"Iya dia sudah tidak ada tapi apa kamu tidak ingin berziarah ke makamnya? aku kesini ingin mengajakmu apa kamu mau ikut?"


Angel mengangguk lalu berjalan mengikuti Rio. Angel memang benci kepada Rio tapi Angel seorang ibu yang rindu akan anak kandungnya walau sudah berbeda dunia.


..


Mobil Rio


Sepanjang perjalanan hanya sunyi dan sunyi Angel dan Rio tidak berucap sepatah kata pun meski mereka masih suami istri.


Angel melihat keluar melihat pemandangan yang belum ia lihat sebelumnya. Rio melirik kearah Angel. Dirinya terkejut melihat cincin yang melingkar dijari manis Angel.


"Itu cincin dari siapa?"


Angel terkejut lalu menyembunyikan cincin yang ia pakai dengan tangan satunya.


"Kamu tidak perlu tahu" jawab Angel dengan datarnya. Entah kenapa mobil ini terasa panas hingga membuat Rio membuka satu kancing kemejanya serta menurunkan suhu AC mobil. Rio terbayang akan mimpinya waktu itu.


"Itu cincin dari pemuda itu?"


"Sudah aku bilang itu bukan urusanmu jadi mengertilah!"


Angel sangat kesal kepada Rio. Angel hanya ingin bertemu anaknya itu saja tidak lebih.


"Oke tapi aku hanya ingin mengingatkan mu kalau kamu masih istriku" ucap Rio dengan piciknya. Angel mengepalkan tangannya, dirinya juga tidak bisa berbuat banyak Rio tidak mau menceraikannya.


"Kamu tidak tidur dengan dia kan?"


Angel langsung menatap tajam kerah Rio. Rio tidak memperdulikan Angel yang menatapnya tajam hanya terfokus kejalanan.


"Ck! jadi kamu menganggap ku serendah itu lalu kenapa kamu tidak menceraikanku!"


Rio langsung mengerem mobilnya mendadak lalu menatap Angel.


"Aku tidak akan menceraikanmu!"


"Tapi aku sudah tidak mau jadi istrimu lagi! aku sudi punya suami sepertimu!"


"Jaga bicaramu itu!"


"Kamu punya kaca? kamu yang mulai, AKU MEMBENCIMU!"teriak Angel kesal dan membuat Rio semakin naik pitam.


"Aku ingin bahagia denga orang yang aku cintai tapi itu bukan kamu, KAMU MONSTER YANG CUMA MENYAKITIKU!!"


"KAMU!!!"


Angel langsung menutup matanya saat Rio mengangkat tangan kanannya seakan ingin menamparnya. Tangan Rio berhenti diudara. Rio melihat Angel yang ketakutan seperti ini langsung menurunkan tangannya.


Sedetik.. dua detik...


"Mengertilah aku tidak akan menceraikanmu jadi jangan bicarakan ini lagi"


Setelah berucap Rio langsung menoleh keAngel. Angel membuang muka. Terdengar Rio menghela napas.


Rio kembali menjalankan mobilnya menuju tempat dimakamnya Saina.


20 menit berlalu akhirnya mereka sampai juga. Angel berjalan dibelakang Rio. Angel melihat sekeliling dan menduga bahwa ini adalah pemakaman elit bisa terlihat dari suasana yang tidak menyeramkan serta makam-makam yang terrawat.


"Sudah sampai, kamu gih yang ngasih"


Rio langsung menyerahkan bunga dan boneka untuk Saina. Angel menerima pemberian Rio. Angel langsung berjongkok disamping makam yang berukuran kecil.


"Sayang kamu sedang apa? mama sama papa bawa hadiah untuk kamu"


Angel menaruh boneka dan buket bunga itu diatas makam Saina. Angel berusaha tersenyum tapi air matanya tak bisa ditahan. Air mata itu kini membasahi pipinya.


"Maafi mama, Mama ngga bisa jagain kamu"


Angel masih ingat saat dirinya mengandung dan gerakan bayi mungilnya yang bermain diperutnya. Angel mencengkram dadanya lalu.


"El, jangan seperti ini!"


Angel memeluk gundukan tanah yang mulai rata dengan tanah. Angel menangis dengan kerasnya. Rio berusaha untuk menenangkan Angel tapi usahanya sia-sia, Angel tidak mau menurut.


"El, ayo pulang"


"Ngga mau aku mau disini saja, aku mau jagain Saina"


"El, nanti dia sedih loh lihat kamu seperti ini. Saina sekarang cuma butuh doa kita saja"


Angel membenarkan posisinya. Angel menatap Rio dengan pandangan sulit diartikan. Rio menghapus air mata dan juga tanah yang menempel dipipi Angel.


"Aku ajak kamu kesini bukan untuk bersedih tapi untuk mengenang buah hati kita itu saja"


Rio membantu Angel berdiri namun kaki Angel tersa lemah Rio pun langsung membopong tubuh Angel meninggalkan makam Saina.


...


Setelah dari makam. Angel terus diam dan bersedih. Rio yang melihat Angel seperti ini menyesali mengajak Angel kemakam Saina.


"Rumah kamu dimana?"


"Berhenti disini saja"


"Aku akan antar kamu kerumah"


"Tidak usah"


Karena Angel yang meminta Rio pun meminggirkan mobilnya. Tanpa berucap sepatah katapun Angel langsung turun dari mobil.


Rio yang tidak tega mengikuti Angel dari belakang dan sebisa mungkin tidak membuat Angel curiga. Rio sendiri ingin tahu dimana rumah Angel agar Sena bisa membujuk Angel kembali kerumah.


Angel berjalan pelan menyusuri jalanan yang sepi sesepi hatinya. Karena Rio kini Angel kembali teringat akan bayinya yang menemaninya serta orang yang telah membunuh bayinya.


"Kenapa hidupku seperti ini? aku ingin bahagia dengan orang yang benar-benar mencintaiku dan menyayangiku tapi kenapa tidak bisa"


Angel menatap langit yang seolah sedang mentertawakannya dan masih teringat bawah langit yang sama dirinya berucap janji dengan Rio tapi itu hanya sekedar ucapan. Rio hanya menginginkan anak dari Angel dan tida menginginkannya namun Rio tidak mau menceraikan Angel.


"Ri kenapa? kenapa kamu menyakitiku sampai seperti ini, kamu pernah bilang akan menjagaku tapi apa? kamu malah membuatku tidak nyaman"


Angel kembali berjalan dan kali ini Angel berjalan dengan cepat karena Angel melihat ada beberapa orang berkaos hitam tengah berbicara kepada orang tuanya.


"Mereka siapa?"


Saat sudah dekat mata Angel membulat saat salah satu dari orang berkaos hitam memukul Erik.


"AYAH!!"


triak Angel yang langsung berlari kearah Erik. Angel mendorong orang yang telah memukul Erik.


"Ayah, ngga apa-apakan?"


Erik mengerang kesakitan. Angel menatap Jihan yang sedang dipegangi kedua tangannya oleh dua pria yang terlihat sangat menyeramkan.


"Bu mereka siapa?"


"Ayah kamu itu pinyam uang sama bos kita tapi dia tidak mau bayar" ucap orang yang tadi memukul Erik.


"Saya sudah bayar semuanya!"


"Itu baru bunganya!"


"Apa? Yah. Ayah pinjam uang sama rentenir?"


Angel tidak habis pikir Erik meminja uang kepada renternir yang terkenal kejam dan seenaknya memberi bunga yang lebih besar dari yang dipinjam.


"Maafin Ayah. Ayah terpaksa"


Seorang laki-laki mengawasi dari dalam mobil. Laki-laki itu melihat Angel dengan tatapan mencurigakan. Laki-laki itu turun dari mobil menghampiri anak buahnya.


"Wow, siapa ini? aku baru lihat"


Laki-laki itu menghampiri Angel membuat Angel ketakutan bersembunyi dibelakang Erik. Erik berusaha melindungi putrinya, entah kenapa Erik merasakan ada hal yang aneh. Erik melihat Jihan yang menangis.


"Kok malah takut sih, cantik"


Laki-laki tersenyum mesum kearah Angel membuat Angel semakin merasa takut.


"Umm, gimana kalau anak kamu jadi istriku lalu aku lunasi semua hutangmu"


"Apa?"


Erik tidak habis pikir dengan ucapan orang dihadapannya.


"Aku tidak mau!" tolak Angel tanpa rasa takut. Laki-laki itu memberi kode kepada anak buahnya untuk memegangi Erik. Laki-laki itu langsung menarik Angel paksa tangan Angel.


"Lepas!!"


"Jangan BAWA PUTRIKU!!!"


BRAKK... BRAK..


"AYAAAHH!!" teriak Angel dengan keras saat Erik dipukuli dengan sadisnya oleh anak buah laki-laki yang kini menarik tangannya.


"AYO MASUK!!!"


"TIDAK!! AKU TIDAK MAU!!"


Tolak Angel namun penolakannya ini membuat pipinya terasa perih.


"Mau aku tampar lagi?"


Laki-laki ini ingin menampar Angel lagi namun ada tangan yang mencengkram tangan laki-laki ini.


"Jangan kasar sama perempuan!"


"Kak Rio tolong" pinta Angel. Rio melepas cengkramanya. Rio melihat kearah teras dirinya mendapati ayah Angel yang tengah dipukuli.


"Kamu siapa, jangan ikut campur!"


"Lepaskan dia"


"Lepaskan? mereka tidak bisa membayar hutang dan si manis ini jadi pelunasnya"


"Ck! memangnya berapa hutang mereka? aku akan melunasi semuanya"


"Tidak perlu, semua sudah lunas"


"Kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih dari dia"


"Sudah aku bilang sudah lunas"


Laki-laki didepan Rio ini nampak mengiginkan Angel dan pastinya Rio tidak akan membiarkannya karena Angel istrinya dan seorang suami harus menjaga istrinya.


"Sebutkan nominalnya"


"Jadi kamu memaksa, oke. 100 juta"


Angel terkejut mendengar nominal itu. Nominal yang sangat besar. Rio hanya mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya.


"Berapa omer rekeningnya"


Laki-laki itu menyebutkan nomer rekeningnya. Angel menatap Rio yang terlihat santai sekali.


"Sudah"


Laki-laki itu menerima notif dari Bank dan dirinya nampak terkejut. Laki-laki itu melepas cengkramanya.


"150 juta tapi ingat jangan ganggu mereka lagi atau aku akan jebloskanmu ke penjara!" ancam Rio. Laki-laki itu memberi kode keanak buahnya untuk segera pergi. Angel langsung memeluk Rio dengan eratnya.


"Tidak usah takut aku ada disini"


Dua mobil hitam itu pun pergi meninggalkan halaman rumah Angel. Jihan membantu Erik berdiri. Dengan langkah yang tertatih Erik menghampiri Angel.


"El"


Angel melepas pelukannya. Angel menghampiri Erik.


"Yah, kenapa Ayah berhutang begitu banyak"


"El, jangan bicarakan ini dulu yah, Ibu mohon" pinta Jihan yang tahu putrinya marah.


"El sudah, Ayah kamu kesakitan"


Rio langsung memapah Erik menuju kedalam rumah. Angel menatap Jihan dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Ibu tahu kamu pasti marah, kita terpaksa berhutang. Ayo masuk"


"El masih mau disini"


"Ya sudah. Ibu tinggal yah"


Bersaman dengan itu Rio datang dengan wajah yang biasa-biasa saja.


"Katanya kamu sayang sama Ayahmu lalu kenapa kamu masih berdiri disini?"


"Kamu senang aku berhutang lagi?"


"Berhutang? aku cuma tidak ingin istriku dibawa laki-laki lain itu saja"


"Kamu ingin membawaku pergi?"


"Aku ingin tapi kamu bilang Sena yang harus jemput kamu. Aku pulang, jaga dirimu dan kalau kamu ada masalah hubungi aku!"


Rio melangkah meninggalkan Angel yang terdiam. Angel mengepalkan kedua tangannya semua ini berarti Angel harus kembali kerumah itu untuk membayar semuanya.


"Kenapa? aku baru merasakan kebahagiaan tapi sekarang kenapa aku menangis lagi. Kenapa Tuhan tidak adil kepadaku"


...


Jihan tengah membersihkan luka diwajah Erik. Erik menyesali dirinya yang begitu bodoh meminjam kepada renternir. Dulu Erik cuma meminjam 25 juta tapi sekarang menjadi berlipat-lipat.


"Ayah uang sebanyak itu untuk apa?"


Erik menatap Angel dengan tatapan penuh rasa bersalah. Putrinya ini terkena masalah karena dirinya.


"Maafin Ayah, sebenarnya Ayah hanya meminjam uang 25 juta untuk sekolahmu dan usaha warung makan. Ayah juga sering menyetor uang tapi mereka terus meminta lagi"


Angel teringat saat lulus SMP dirinya meminta melanjutkan sekolah di SMA yang bisa dibilang favorit padahal waktu itu Ayahnya tidak punya uang.


"Jadi ini semua salah El? harusnya dulu aku tidak minta melanjutkan sekolah"


"Kamu bilang apa sih sayang. Ibu dan Ayah malah senang melihat mu bermain dengan teman-temanmu"


"Benar yang dikata ibu kamu itu tapi tadi siapa? apa dia orang yang sama?"


Erik menduga kalau orang yang menolongnya ini orang yang sama yang telah membiyayai oprasinya.


"Iya Yah"


"Lalu ken--"


"El mau kekamar" potong Angel. Angel sendiri tidak ingin orang tuanya membicarakan Rio. Rio memang baik tapi selalu ada maunya dan Angel tahu apa yang Rio inginkan yaitu dirinya.


Angel menutup pintu dengan keras membuat Jihan dan Erik terkejut.


"Bu, apa aku salah yah?"


"Jangan berbicara seperti itu yang penting Angel masih bersama kita"


..


kamar


Angel duduk ditepi kasur sembari menyentuh pipinya yang ditampar oleh laki-laki itu. Kalau Rio tidak datang pasti Angel tidak berada disini dan pastinya dirinya sudah di apa apakan oleh laki-laki itu.


Rio selalu bisa membuat Angel merasa kebingungan. Rio terkadang baik tapi terkadang membuat Angel menangis.


Angel melepas cincin lamaran Rey. Angel tidak ingin menyakiti hati siapapun karena itulah Angel memakai cincin ini. Angel tidak bisa membayangkan kalau Rey dan orang tua Rey tahu akan hal ini pasti mereka langsung menjauhi Angel.


Namun Angel juga sangat takut kalau orang tuanya tahu pasti mereka sangat marah dan pastinya meteka berpikir kalau Angel mencoreng nama baik keluarga.


"Rey, aku ingin hidup bersamamu tapi apa kamu mau hidup bersama perempuan yang pernah hamil?"


...


Rumah Rio/Sena


Sena tengah menunggu Rio pulang dengan wajah kusutnya.


"Kemana sih, kenapa belum pulang"


Sedetik itu Rio masuk kedalam rumah dan melewati Sena begitu saja membuat Sena merasa kesal.


"Kamu dari mana?"


"Kamukan yang nyuruh aku buat cari alamat Angel"


"Terus kamu mendapatkannya?"


"Iya, besok kamu jemput dia"


Sena terus mengikuti Rio hingga kedalam kamar. Rio membuka kemejanya didepan Sena. Sena perlahan mendekati Rio dan menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan terlebih sudah sangat lama Rio perginya.


"Kamu tidak bermain dulu kan sama Angel?" tanya Sena dengan penuh kecurigaan.


"Tidak, sebaiknya kamu tidak bertanya yang aneh-aneh lagian Angel masih istriku"


"Ck! aku tahu tapi jangan bermimpi untuk menjadikan Angel istri sah mu, aku tidak mau karir ku terganggu karena perempuan itu!"


"Kamu yang membawanyakan?"


"Iya tapi aku mengusirnya, kamu yang menginginkan dia kembali"