Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
77



Rumah Deren.


Sena menangis bersandar di bahu ternyaman dan terkuat ini yaitu Ayahnya. Hanya Ayahnya ini tempat mengeluh dan tempat berlindung yang paling aman.


Sena menceritakan semua rasa takutnya. Deren membelai lembut kepala Sena sembari menerawang jauh di dalam lubuk hatinya. Hati seorang Ayah yang sangat menyayangi putrinya ini terasa hancur, andai saja dirinya mampu untuk memaksa Sena untuk bercerai dengan Rio sedari dulu mungkin ini tidak akan terjadi. Deren hanya ingin melihat putrinya sebahagia dulu sebelum ada masalah ini. Hanya ada satu cara untuk mengakhiri ketakutan Sena yaitu menyerahkan di ke polisi. Deren sudah mengantisipasi akan masalah yang tidak terduga ini.


"Pa, Sena takut."


"Kamu tenang saja, Papa akan mengakhirinya?"


"Maksud Papa apa?"


Sena membenarkan posisi tubuhnya, menatap Deren sayu. Deren tersenyum tipis lalu mencubit pelan hidung Sena.


"Serahkan semua ke Papa."


"Tapi?"


"Yang bunuh Angel memang kamu tapi tidak ada bukti kan?"


Sena mengangguk pelan. Hanya seorang Ayah yang mampu jadi tameng untuk putrinya walaupun ini akan menggangu bisnisnya nanti.


"Papa akan menyerahkan diri ke polisi. Dengan bukti yang Papa punya, kamu tenang saja, Papa tidak akan lama di penjara karena Papa hanya menyuruh menjauhkan Angel dari kehidupan Rio tidak lebih dari itu."


"Tapi Pa? karir Papa bisa hancur, kenapa tidak suruh orang lain saja?"


"Papa tidak ingin menambah masalah lagi, toh lagian Papa juga sudah mengalihkan semua aset untukmu dengan melibatkan orang terpercaya Papa dan kamu juga kenal dengan orangnya."


"Iya, Tetap saja. Aku takut."


"Sayang kamu itu Putriku, selama ini kamu tetap bertahan dengan berani memeluk lukamu, kamu bisa terus menjalani hidupmu sendiri, kamu hanya butuh dirimu itu saja. Bertahanlah sebentar lagi yah?"


"Aku sayang Papa, aku bersyukur memiliki Papa sepertimu." Sena memeluk erat Deren dengan hati rapuhnya berharap hari-harinya tetap sama walaupun jauh dari Deren.


...


Toko perhiasan dan gaun ternama.


Devan tengah asik melihat-lihat gaun pengantin yang terlihat sangat indah. Dia ingin memilihkan gaun terbaik untuk Angel, sedangkan Angel hanya menonton saja apa yang tengah Devan lakukan sembari mengunyah boba yang sangat kenyal ini.


"Kamu yakin?" ucap Angel saat Devan melihatkan gaun yang terlihat terbuka dan seksi.


"Oh iya yah, body kamu kan kayak anak SD." ejek Devan dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Angel.


Angel melihat ke sudut setelan pria, kaki jenjangnya menghampiri setelan jas pria yang berwarna putih dengan kemeja hitam di dalamnya, jas yang terkesan elegan dan juga berkarisma serta harganya pasti tidak lah murah.


"Sayang, ini cocok untuk mu!" ucap Angel yang langsung mengambil setelan jas itu untuk di tunjukan kepada Devan.


"Mana? wow... perfect , ini bagus banget! mba ada gaun yang senada dengan setelan ini?" tanya Devan pada manager toko ini. Perempuan berusia 30 tahunan ini mengajak mereka dekat tempat Angel mengambil setelan jas ini.


"Wow beautiful." lirih Angel saat melihat gaun yang sangat indah di patung pajangan. Gaun yang sangat elegan dengan kilauan payet mutiara dan juga terkesan soft namun elegan dan mewah.


"Gaun ini sangat eksklusif karena kami membutuhkan waktu yang cukup lama untuk maha karya ini, semua bahanya kualitas premium dengan kain sutra terbaik dan mutiara kerang yang langka." jelas perempuan itu.


"Pasti mahal." lirih Angel yang di dengar oleh Devan.


"Kamu menyukai nya?"


"Iya tapi?" sebelum Angel selesai berbicara Devan langsung memotong ucapan Angel.


"Aku ambil gaun dan jas ini, dan pastikan sebelum hari H semuanya harus sudah steril, aku tidak ingin ada debu sedikitpun dan gaun yang aku pilih barusan tolong siapkan nota nya, asisten ku yang akan mengurusnya."


"Baik Tuan." perempuan ini membungkuk kan badannya. Devan langsung menarik tangan Angel keluar dari ruang gaun ke ruangan perhiasan. Devan telah memesan perhiasan yang menurutnya cocok untuk Angel.


"Kau sudah menyimpan pesanan ku?"


"Tentu tuan." Penjaga perhiasan itu langsung menyerahkan paper bag hitam ke Devan.


"Terima kasih."


Setelah mengisi perut, Devan mengajak Angel ke suatu tempat yang dari kemarin ingin Devan kunjungi.


"Kita mau kemana?" tanya Angel ketika Devan berbelok ke arah berlawanan dari arah pulang.


"Nanti juga tahu." jawab Devan singkat. Angel mendengus kesal lalu memalingkan wajahnya kearah luar mobil.


Angel larut dalam pikirannya, menerawang jauh dalam pikirannya yang tak tenang dan merasa ada yang hilang dari hidupnya. Devan melirik sekilas Angel, senyum tipis menghiasi bibirnya.


...


Cafe tepi pantai.


Sang mentari mulai membenamkan dirinya, melukis senja yang sangat indah seakan menutup tugasnya dengan senyuman riang. Hembusan angin membelai lembut rambut Angel yang tergerai indah dan kini terlihat lebih sehat setelah perawatan tadi. Devan sangat memanjakan Angel hari ini, sebenarnya Devan sudah lama mengajak Angel untuk perawatan kecantikan namun Angel selalu menolak karena tidak tega meninggalkan Alyssa.


"Pulang sekarang apa nanti?" tanya Devan sembari melangkah menghampiri Angel yang tengah berdiri memandangi lautan lepas.


"Ummm... Lima menit lagi yah?" pinta Angel. Devan hanya mengangguk.


....


Keesokan harinya.


Keluarga Angel dan Rio tergesa-gesa memasuki kantor polisi. Mereka diberitahukan bahwa orang yang menyewa pembunuh bayaran tentang kasus Angel telah menyerahkan diri.


Rio berusaha mengontrol emosinya agar dirinya tak melakukan hal yang tidak bisa dibayangkan.


"Dimana orang itu?" tanya Rio langsung. Rio mengernyitkan dahinya saat melihat Ayah mertuanya tengah duduk tenang di depan meja interogasi.


Rio tak habis pikir ayah mertua nya dapat melakukan hal seperti ini. Amanda masih berpikir positif dan tidak ingin berprasangka buruk pada besannya ini.


"Apa kamu yang melakukan nya?" tanya Erik dengan nada tidak percaya. Sedangkan Rio mencoba mencerna semua ini.


"JAWAB!" bentak Erik.


"Kenapa kamu melakukan itu pada putriku?" tanya Jihan dengan suara bergetar. Deren menoleh dengan tatapan datar. Orang-orang ini membuatnya merasa muak, seharusnya dirinya menghancurkan kan mereka semua bukan nya Angel. Angel juga seperti itu karena pengaruh dari mereka dan Angel juga korban seperti putrinya. Hanya Deren yang mengerti rasa sakit dari Sena dan juga Angel, sedangkan orang-orang yang dihadapan nya ini hanyalah seorang yang egois dengan apa yang menurut mereka benar tanpa berpikir sedikitpun tentang perasaan orang lain.


"Kalian punya jawaban nya? aku tidak membunuh putrimu, putri mu lah yang memilih untuk tidak ada."


Jawaban Deren acuh.


"Ck. Kamu!" Erik dengan kasar mencengkram kerah leher kemeja Deren.


"Lihatlah dirimu, aku lakukan semua ini untuk putriku. Aku tidak takut kehilangan apa pun demi putriku." Deren menatap jijik Erik yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk Angel. Erik melepas cengkraman tangannya. Erik termenung sesaat dia tahu apa yang di maksud oleh Deren.


"Ini kesalahan mu, kamu tahu putrimu jadi orang ketiga dan kamu hanya diam seperti orang bodoh, harus nya kamu langsung malu dan menjauhkan Putrimu dari suami putriku. Bukan cuma kamu, kalian semua sangat tidak tahu malu bahkan lebih buruk dari bin*tang. Kalian hanya memikirkan yang terbaik untuk kalian, penderita putriku selama ini, apa kalian bersimpati padanya?".


Deren menatap tajam kearah Amanda dan Rio.


"Apa kamu pernah sedikitpun merasa bersalah, nyonya Amanda? kalau kamu tidak terus-menerus menuntut seorang cucu mungkin hal ini tidak terjadi dan apa kamu tidak malu telah melahirkan laki-laki tidak berguna ini? dia bahkan tidak layak untuk jadi seorang anak apalagi seorang Ayah dan lebih buruknya dia bahkan tidak tahu istri pertamanya mengidap bipolar selama ini. Dia tertekan karena keluarga mu tapi kamu seolah tidak ingin tahu dan hanya berbicara omong kosong. Dasar sampah!" jelas Deren.


Rio terkejut terkejut mendengarnya, selama ini dirinya hanya mengira Sena hanya kelelahan saja tidak terpikir sampai seserius ini.


Melihat raut wajah Rio yang terkejut itu, membuat emosi Deren tak terbendung. Deren langsung berdiri dan meninju wajah Rio dengan kerasnya hingga darah keluar di tepi bibir Rio, pukulan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan yang Sena alami.


"Laki-laki tidak berguna!" ucap Deren bersamaan dengan dua personel polisi yang datang melerai dan membawa Deren ke sel tahanan.


Setelah Deren di bawa, terdengar derap langkah beberapa orang.


"Ayah?" lirih Jihan. Jihan melihat sosok Ayahnya ini menyeramkan, terlebih tatapan dingin itu.


"Aku sudah muak dengan kalian semua. Aku akan membawa Kevin bersamaku." ucapnya tanpa basa-basi. Mendengar itu Rio tampak terkejut, bukan hanya dia saja yang lain pun sama.


"Maaf tapi---?"


"Sebagai suami kamu sudah gagal Rio dan aku tidak ingin Kevin bernasib sama dengan Angel terlebih kalian semua tidak berguna, kalian terlalu bodoh dalam mengambil keputusan, terutama kamu Erik. Andai saja kamu mau tegas pada istri mu ini semua tidak terjadi!"


"Yah jangan seperti itu? Kevin bukan cuma cucuku."


"Diam kamu Jihan! kau masih tetap egois!"


"Kita bisa membicarakan ini baik-baik? aku mohon jangan bawa Kevin, dia putraku dan anda tidak berhak membawanya!" jelas Rio dan di setujui oleh Amanda. Amanda tidak ingin Kevin jauh darinya.


"Aku tidak ingin mendengar apa pun dari mulutmu. Hidup kan Angel kembali mungin aku akan mendengar kan."


Ayah Jihan melangkah pergi meninggalkan orang-orang yang membuatnya kesal. Ayah Jihan menuju sel tahanan Deren, dia ingin menanyakan sesuatu.


"Kamu siapa?" tanya Deren yang asing dengan pria di depannya.


"Kenapa kamu membunuh cucuku?"


Deren terkekeh pelan sembari menatap remeh pria berjas lengkap ini.


"Apa-apa ini? seorang cucu menjual tubuhnya hanya untuk uang dan lihat lah ini, kakeknya ternyata orang kaya. Sudah berapa kali cucumu menjual diri? atau kau memang tidak perduli dengan cucumu itu?"


"Jawab saja, iya atau tidak?"


"Tidak, dia mati karena pilihan nya sendiri dan satu lagi, dia mati karena keluarganya sendiri." Deren mengakhiri ucapannya dengan senyuman. Ayah Jihan terlihat sangat emosi, kedua tangannya menggenggam dengan erat.


"Hidup putri ku hancur karena cucumu, tapi itu impas saat keluarganya sendiri yang mengantarkan dia ke kematiannya."


"Membusuk lah kau di sel ini!" ucap Ayah Jihan penuh penekanan. Deren melihatkan tatapan kematian.


"Bukankan menantu mu juga oh mungin putrimu? kamu terlihat mampu untuk menghidupi cucumu kenapa kau tidak merebutnya dari orang tua yang kurang ajar itu? cucumu berhak bahagia dengan atau tanpa suami. Kalau mereka tidak berpura-pura berhati malaikat Cucu mu itu masih hidup dan kamu tahu kenapa Jihan tidak ingin Angel bercerai dengan Rio itu karena Amanda teman SMA Jihan bukan karena demi kebahagiaan Kevin. Setidaknya putriku tidak mengorbankan orang lain untu ambisinya."


"Ck!" Ayah Jihan langsung pergi dengan tatapan penuh amarah.


"Dasar kakek tua, Wow apa yang akan terjadi? harusnya aku melakukan ini dari dulu."


....


Parkiran mobil.


Jihan dan Erik masih menunggu kedatangan Ayah Jihan sedangkan Rio dengan keluarganya sudah pulang.


"JIHAN!" Bentak Ayah Jihan dan langsung menampar Jihan dengan keras. Erik tertegun melihatnya.


"A...ayah?" ucap Jihan gagap sembari memegangi pipi kirinya.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini ? hah! Demi persahabatan sampah mu itu kamu mengorbankan putrimu?"


"Ayah, itu tidak benar. Aku hanya ingin Angel bahagia dan Kevin punya keluarga utuh!"


"Buka matamu! apa Angel bahagia? apa dia senang hidup seperti itu? jawab!"


"IYA ANGEL BAHAGIA!"


"Kamu!" Deren akan menampar Jihan lagi namun Erik menghentikan nya di udara. Erik dengan kuat mencengkram tangan Ayah Jihan.


"Tolong sudahi ini, aku mohon? sudah cukup dengan masalah yang sudah ada, aku akui kami salah dan kami keliru mengambil keputusan."


"Ck!" Ayah Jihan menyentakan tangannya.


"Renungi perbuatan mu itu dan minta maaf pada Angel, sudah berapa minggu kamu tidak menemuinya? apa kamu malu akan perbuatanmu? atau karena dia sudah tiada atau memang kamu tidak pernah perduli padanya?"


Jihan terduduk dengan tatapan datarnya, dia mulai terisak.


"Sudah cukup Ayah! aku tidak ingin mendengar lagi apa pun dari mulut Ayah, dimata Ayah, aku selalu salah. Aku sangat menyayangi putriku, dia hidupku.! Ayah tidak mungkin mengerti!"


"Lantas bagaimana dengan ku? apa kamu mengerti perasaan ku? kamu pergi begitu saja tanpa berpamitan, kamu memaksa Erik menikah denganmu, kamu mengaku tengah hamil padanya dan keguguran. padahal kamu tidak hamil, dan Erik tidak pernah melakukanya padamu, andai saja kamu mau mendengarkan Ayah mungkin hidup mu akan bahagia bersama Erik dan Angel juga masih hidup."


"Maksud Ayah?"


"Karena sikap keras kepalamu yang tidak mau mendengarkan orang tua bicara sampai selesai kamu menyimpulkan bahwa Ayah melarang mu berpacaran dengan Erik sebenarnya Ayah mengijinkan mu, aku tidak perduli dengan statusnya dari kelas menengah. Erik terserah padamu, aku tidak akan mencampuri rumah tangga kalian dan soal Kevin juga. Aku hanya ingin hidup tenang setelah ini."


Ayah Juhan masuk kedalam mobilnya. Erik membantu Jihan berdiri.


"Sakit yah?" tanya Erik lembut.


"Maafkan aku, aku masih egois."


"Tidak apa?"


Erik menyentuh perut Jihan, membelainya dengan lembut.


"Kamu harus banyak istirahat, di usiamu ini tak lagi mudah."


"Aku tahu, aku berusaha sebisaku. Aku hanya ingin melihat bayiku, tidak akan aku ulangi kesalahan ku."


"Sudah ya? jangan sedih lagi?" Erik menghapus dengan lembut air mata di pipi Jihan.


....