Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 6 PMS = GALAK



Angel perlahan membuka matanya, di lihatnya kesekeliling ternyata dirinya terbaring di atas kasur di kamar dan seingatnya tadi terlelap di dekapan Rio. Angel mendengar suara benda jatuh lalu turun dari kasur untuk mencari Rio.


"Kak Rio mana?"


Angel keluar kamar dan saat menuruni tangga, Angel melihat Rio yang sedang ada di dapur.


"Kak Rio sedang apa?"


Angel menghampiri Rio di dapur namun saat sudah dekat, wajah Angel berubah jadi mengerikan.


"KAK RIIIIOOOOO!!!"


3 Jam sebelumnya


Rio Pov


Aku mendekap gadis yang aku nikahi beberapa hari lalu. Aku merasa bersalah kepada gadis ini dan istriku, aku sebagai suami merasa gagal menjaga kepercayaan di antara aku dan istriku. Harusnya aku lebih meyakinkan Sena kalau aku tidak apa-apa meski tidak punya keturunan untuk mewarisi seluruh harta yang aku punya ini dan aku lebih bahagia bersamanya hingga ajal menjemput.


Dan Gadis ini, harusnya aku menanyakan dulu apa yang Sena mau. Bodohnya aku tapi ini semua sudah terlanjur terjadi dan aku harus menjadi suami yang baik untuk Angel walau rasanya sangat sulit. Hanya ada Sena di hatiku ini tapi kenapa orang aku cintai ini tidak pernah mengerti kalau aku tidak bisa jauh darinya.


"Kak Rio jangan cubit!"


"Eh?"


Aku langsung melihat wajah Angel. Mata Angel masih menutup tapi kenapa di berbicara seperti itu? apa aku didalam mimpinya? entahlah hanya dia yang tahu.


Ku belai lembut pipinya dan entah kenapa saat aku menyentuh wajahnya senyum manis itu muncul dengan sendirinya.


Dengkuran halus yang ku dengar ini? apa aku membuat gadis ini nyaman? entahlah, aku tidak ingin terlalu memperdulikan gadis ini yang aku mau hanya Istriku kembali dan istriku hanya satu yaitu Sena.


pov end


Rio mengangkat tubuh Angel dengan hati-hati agar Angel tidak terbangun.


"Semakin hari kamu semakin kurus"


Ucap Rio saat membopong Angel menaiki tangga.


kamar


Rio membaringkan dengan pelan tubuh Angel kekasur lalu di selimutinya tubuh Angel.


"Hoaam. Sepertinya aku juga mengantuk"


Rio memutuskan untuk ikut tidur toh ini juga hari liburnya. Rio berbaring di samping Angel yang masih terlelap.


"Tidur yang nyenyak. Cengeng!"


cup


Setelah mengatai Angel, Rio langsung mengecup sekilas kening Angel.


12:30 siang


Rio terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Angel yang masih memejamkan mata.


Rio menutup tirai tipis agar Angel tidak terbangun karena silau. Perut Rio berbunyi karena lapar tapi Angel masih tidur dan tidak enak membangunkannya untuk membuat makan siang. Tapikan Rio bisa masak terus kenapa menunggu Angel terbangun?.


"Aku kan punya pisang di dapur. Di goreng keknya enak tapi mau yang beda"


Rio meraih ponselnya lalu mencari resep masakan di internet. Rio ingin membuat olahan pisang yang menggugah selera yang beda dari biasanya.


"Yeeyy ketemu tapi mana yang gampang?"


Rio mencermati semua yang ada di video itu dari bahan dan caranya.


"Keknya enak? aku beli bahannya dulu deh"


Rio menoleh kearah Angel. Senyum Rio terukir dengan manisnya melihat wajah Angel yang begitu lucu.


"Apa?"


Rio membuka fitur kamera lalu memotret wajah Angel yang terlelap.


"Jangan bangun kalau aku belum pulang! awas kalau bangun duluan, aku cubit hidung kamu!"


Setelah mengancam Angel yang tertidur Rio meraih kunci mobil dan juga dompetnya. Ia ingin pergi ke minimarket di depan komplek.


Minimarket


Rio berkeliling sembari membawa keranjang. Rio melihat dengan cermat rak-rak yang berjajar rapi.


"Mana yah?"


Rio melihat di rak yang khusus bumbu. Rio mencari bumbu untuk menggoreng pisang aroma vanila.


"Mana sih?"


Rio melihat ke bagian rak paling bawah berharap yang di cari berada di sana.


"Ini dia!"


Rio terlihat sangat senang menemukannya dan beruntungnya dirinya mendapat stok terakhir.


"Tinggal yang lain"


Rio melihat keponselnya sesekali. Di daftar belanjaan yang harus di beli ini tinggal Keju, mentega dan tepung panir. Blok yang belum di jajah Rio tinggal bagian paling belakang dan itu harapan terakhir Rio.


"Semoga saja ada"


Sepertinya dewi fortuna telah membantu Rio semua yang Rio butuhkan ada disini.


"Akhirnya! tinggal masak!"


Sebelum kekasir Rio membeli beberapa cemilan untuk istri mungilnya yang suka ngemil itu terbukti dari kulkas yang berisi aneka cemilan kini tinggal bunga es saja di frizer.


Untung saja antrean dikasir tidak panjang jadi Rio bisa cepat pulang kerumah.


Rumah.


Rio memasuki rumah dan suasana rumah sama seperti tadi di tinggal berarti Angel belum bangun. Rio langsung menuju dapur untuk memulai memasak.


"Oke. semua sudah ada"


Rio memutar video memasak untuk di ikuti cara-caranya agar semua seperti yang diinginkan.


" Pertama kita kupas pisangnya terus kita belah dua- - -"


"Oke"


Rio mengikuti sama persis yang di video dan menurutnya ini semua akan berhasil sama persis dengan yang ia mau.


"Duh, kok encer gini sih!"


Rio mulai menunjukan wajah kesalnya saat adonan tepungnya tak sesuai dengan yang di video.


Rio berdecak kesal karena adonannya masih belum pas padahal sudah di tambah tepung dan perasaan takaran airnya sama persis tapi kenapa hasilnya seperti ini.


Saat Rio mengocok adonan tepung siku Rio tidak di sengaja menyenggol sisa tepung jadinya tepung itu berserakan sampai ke lantai dan apesnya lagi tempat sementara menampung kulit pisang itu juga terjatuh dan kali ini membuat bunyi yang sangat nyaring karena terbuat dari setenlis dan Rio yakin kalau ada orang yang terbangun.


"Apes banget sih!"


Rio buru-buru membereskan semuanya sebelum.


"KAK RIIIOOOO!"


Teriak Angel kesal saat melihat dapur yang sudah acak-acakan seperti kapal pecah karena ulah Rio.


"Eh?"


Rio melempar senyum ke arah Angel namun Angel terlihat sangat murka. Angel menghampiri Rio yang tengah berjongkok dengan kulit pisang di kedua tangannya.


"Kamu ini!!"


"Aaa.. Aduh!!"


Angel langsung menjewer telinga kiri Rio dengan sadisnya.


"Sayang sakit!"


"Siapa suruh bikin dapur BERANTAKKAANNN!"


Angel berteriak di kalimat terakhirnya. Suara lengkingan Angel menggema di penjuru Rumah dan ini kali pertama Rio di omelin Angel sampai seperti ini.


"Ampun sayang! aku cuma coba resep baru" ucap Rio membela diri agar Angel mau melepas jeweran di telinganya ini. Rio merasa telinganya panas dan sakit.


"Coba resep baru apa harus buat dapur berantakan, Hah!"


"Aku yang beresin nanti! udah sayang sakit!"


"Awas kalau bohong!"


"Janji"


Setelah Rio berjanji barulah Angel melepas jewerannya membuat Rio bernapas lega. Walau pun Rio sudah berjanji Angel tetap saja ngedumel tak jelas. Rio yang ngemas dengan Angel menggambil tepung yang tumpah di lantai dengan kedua tangannya lalu berdiri.


"Sayang jangan marah-marah terus! nanti kamunya cepet tua loh!"


"Biarin! kamu juga seperti anak kecil! dasar nyebelin!"


Angel menatap Rio dengan pandangan yang tak enak di lihat namun Rio malah tersenyum seakan tak berdosa.


"Dasar cengeng!"


"Yah?? RIOO!! APA YANG KAMU LAKUKAN!"


Sekarang kedua pipi Angel putih karena tepung. Rio dengan jahilnya memolesi kedua pipi Angel dengan kedua telapak tangannya yang putih terkena tepung.


"Biar tambah cantik!"


"Apa kamu bilang? Hah!"


Angel langsung mengambil tepung yang berserak di atas meja lalu di lemparnya tepung itu kearah Rio.


"Weekk. Nggak kena!"


Rio memeletkan lidahnya ke arah Angel membuat Angel semakin marah bahkan wajahnya kini sudah merah padam.


"AWAS KAMU!!"


Angel membalas perlakuan Rio begitu juga Rio jadi mereka saling melempar tepung alis perang tepung. Tawa mereka menggema di ruangan ini. Raut bahagia Rio terlihat jelas di wajahnya apa lagi saat dirinya berhasil menggelap wajah Angel dengan telapak tangannya yang penuh tepung.


"Kak Rio!" Kesal Angel saar merasa tepung itu sudah memenuhi seluruh wajahnya. Rio malah menatap geli Angel di tambah wajah cemberut Angel itu membuat Rio ingin.


"Pfftt.. HAHAHAHA!!!"


Wajah Angel semakin tertekuk saat Rio tertawa dengan kerasnya sembari menunjuk wajahnya.


"Kak Rio nyebelin!!"


"Yah. Dasar cengeng"


Butiran cair keluar dari kedua mata Angel. Angel menangis sampai terisak. Rio langsung menghampiri Angel dan rasa bersalah ini sangat mengganggu.


"Kok jadi nangis?"


Rio menyeka air mata dipipi dengan lembutnya namun sepertinya Angel tidak suka, ia menepis tangan Rio.


"Kamu ngambek? kan udah janji nggak boleh ngambek lagi" ucap Rio dengan halus. Angel menggembungkan pipinya lalu membuang muka.


Rio terkekeh pelan. Lucu itu menggambarkan sikap Angel sekarang, dia marah tapi entah kenapa ekspresi yang di perlihatkan malah membuat geli.


"Jangan ngambek gitu ntar tambah jelek loh?"


Rio yang tidak mau istrinya ngambeknya lama langsung memeluk dengan erat berharap istri mungilnya ini mau memaafkannya.


"Maafkan aku?"


Bisik Rio tepat di telinga Angel. Pelukan ini seakan menghipnotis Angel, lama kelamaan Angel membalas pelukan Rio.


"Nggak marah lagi kan?"


Angel menggeleng didekapan Rio. Rio melepas pelukannya lalu mengecup lembut bibir Angel.


"Cuci muka kamu gih sanah"


Angel mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi sedangkan Rio kembali melanjutkan memasak sesuai yang di video.


Tak lama Angel kembali dengan wajah yang sudah bersih. Angel penasaran dengan apa yang Rio buat hingga dapur acak-acakkan seperti itu.


"Lagi buat apa sih sapai dapur kotor gini?" tanya Angel saat sudah di dekat Rio.


"Yang kamu lihat?"


"Pisang goreng?"


"Iya tapi aku mau yang beda, nanti kamu cobain"


"Kalau enak tapi"


"Pasti enaklah!" ucap Rio dengan PD-nya sembari menggulingkan pisang ke tepung panir yang sebelumnya telah di celupkan di adonan basah.


"Mau aku yang goreng?" tawar Angel saat Rio sepertinya takut memandang minyak goreng.


"Boleh" ucap Rio dengan senyum yang sumringah. Angel berdecak lalu membantu Rio menggoreng pisangnya.


20 menit berlalu. Semua pisang sudah semuanya di goreng. Rio menyuruh Angel untuk duduk sedangkan dirinya tengah sibuk menghias pisang goreng dengan susu kental manis, cokelat butir dan parudan keju.


"Ini pasti enak!"


Rio menghampiri Angel dengan sepiring pisang goreng yang nampak meyakinkan bisa dimakan.


"Nih. Cobain"


Sembari meletakan piring yang ia bawa di depan Angel. Rio duduk di depan Angel.


Tampa pikir panjang Angel pun memakan pisang goreng buatan Rio.


"Enak"


"Beneran?"


Angel mengangguk pasti membuat Rio senang tapi sedetik itu Angel merasa perutnya sakit.


"Aduh" keluh Angel sembari memegangi perutnya membuat Rio panik.


"Sayang, kenapa?"


Angel tidak menjawab. Dia buru-buru beranjak dari duduknya dan berlari menaiki tangga.


"El!"


Rio langsung menyusul Angel ke kamar.


.. Kamar


Angel langsung ke dalam kamar mandi lalu menguncinya.


"Duh. Apa?"


Angel menduga kalau perutnya sakit karena mau PMS dan sialnya saat di pasar Angel lupa membeli pembalut.


"Yah gimana nih?" panik Angel saat dugaannya benar.


"Masa aku harus duduk di closet terus sih?"


Suara ketukan di pintu kamar mandi membuyarkan lamunan Angel.


"Sayang kamu sakit perut?" Tanya Rio dari balik pintu kamar mandi sepertinya Rio sangat cemas.


..


Rio menunggu Angel di depan pintu kamar mandi dengan penuh rasa bersalah. Tak lama Angel pun membuka pintu dengan wajah yang pucat.


"Kamu kenapa? kamu sakit perut"


"Nggak"


"Terus?"


"E- -"


Saat Angel mau menjawab terasa deras di bawah. Tanpa permisi ia langsung kembali ke kamar mandi membuat Rio bingung.


"Dia kenapa?"


Entah kenapa Rio merasa ada yang aneh pada istrinya. Seharian ini istri mungilnya marah-marah terus dan gampang ngambekan seperti sedang?.


"Jangan bilang kalau tuh bocah? masa aku harus beli"


Rio menduga kalau Angel sedang PMS. Rio mendesah kasar kenapa dari kemari dirinya tidak mengajak Angel ke minimarket dan menyuruhnya untuk membeli barang yang harus tersedia setiap bulan.


Rio mengacak-acak rambutnya. Rio ingin tidak perduli namun dirinya tidak setega itu dan ini juga salahnya yang tidak peka padahal dia sudah berpengalaman lima tahun.


"Sepertinya aku yang harus membelinya sendiri"


Rio mengganti baju kotornya dengan yang bersih sebelum ke minimarket dan Rio juga berharap minimarketnya sepi tidak seramai tadi.


Minimarket


Mobil Rio terparkir didepan minimarket. Rio melihat didalam minimarket yang cukup ramai karena itu dirinya enggan untuk turun.


"Rame banget"


Rio memutuskan untuk mengurungkan niatnya namun saat mau memundurkan mobilnya bayangan wajah Angel terlintas jelas dimatanya.


"Tapi kasihan tuh bocah"


Rio menggambil napas panjang lalu turun dari mobil, langkahnya pasti tanpa keraguan. Setelah memasuki minimarket Rio langsung meraih keranjang dan menuju bagian khusus wanita.


Rio meneguk ludahnya paksa karena ada pelayan wanita minimarket yang tengah menata barang di dekat barang yang Rio akan beli.


Rio ingin cepat menggambil barang itu lalu pulang kerumah tapi sepertinya tidak bisa. Sembari menunggu pelayan minimarket itu selesai Rio memutuskan untuk berkeliling mencari yang mungkin Rio suka. Rio teringat saat Sena sedang PMS, dia sering mengeluhkan rasa nyeri di perutnya karena itu Rio ingin mencari obat yang selalu di minum Sena agar nyerinya hilang.


"Yang mana yah?"


Rio membaca keterangan di setiap obat yang di jual dengan teliti sampai akhirnya Rio menemukan obat yang dapat meringankan nyeri PMS.


"Semoga ini membantu"


Rio memasukannya dalam keranjang lalu melihat lagi kesekeliling. Rio tersenyum saat melihat deretan bedak dan lipstik. Rio baru ingat Angel tidak punya itu semua jadi Rio membeli beberapa bedak, pelembab, parfum dan sebagainya yang ia tahu sangat akrab dengan kaum hawa.


Rio melihat kesekitar dan bernapas lega saat pengunjung minimarket tak seramai tadi.


"Sekarang kesempatan ku"


Rio berjalan menuju tempat yang tadi, pelayan wanita itu pun telah pergi.


Rio melihat rak yang berisi kebutuhan bulanan wanita dan sekarang dirinya bingung harus beli yang mana. Semua yang didepannya ini membuatnya tak nyaman.


Rio melihat daftar harga yang tertera di bawah produk dan menurut Rio yang paling mahal diantara semua inilah yang paling bagus.


Dengan penuh percaya diri Rio menggambil itu empat buah, dua untuk siang dan dua untuk malam setelah itu Rio buru-buru kekasir untuk membayar semua ini.


"Ya ampun" lirih Rio saat melihat kasir yang ternyata ada dua ibu-ibu yang mengantre dan kasirnya seorang wanita yang terlihat centil.


"Kasihan Angel pasti nungguin"


Rio berdiri di belakang ibu-ibu yang berbaju putih dan di belakangnya kini berdiri seorang ibu yang menggandeng anak kecil.


Beberapa menit berlalu kini tinggal gilirannya. Rio menyerahkan keranjang yang berisi belanjaannya ke kasir untuk dihitung harganya.


Pandangan mistrius di tunjukan oleh penjaga kasir ke arah Rio membuat Rio tak nyaman.


"Duh mas ini buat siapa?" tanya kasir itu kepada Rio saat mengecek harga benda yang membuat Rio berada disini.


Rio hanya menunjukan senyum tipisnya dan mengerutuki kebodohannya karena baru teringat harusnya dirinya memakai masker agar tak merasa semalu ini.


Dua menit berlalu tapi belanjaannya belum tertotal semua. Rio menduga kalau kasir di depannya ini segaja berkerja lambat agar lama berbincang dengannya terlebih lagi wajah Rio yang tampan.


"Ini semua muat pacarnya? duh pasti pacar mas senang banget nih dapat kado sepecial"


Rio benar-benar di buat tak nyaman oleh perkataan kasir ini.


"Itu buat istri saya" jawab Rio dengan datarnya.


"Oh buat istrinya, kalau gitu saya juga mau jadi istri mas. Istri kedua juga boleh" ucap kasir itu dengan PD-nya sembari mengedipkan satu matanya.


"Ya ampun nih orang! istri ke dua? aku sudah punya istri dua masah nambah lagi?"


Getutu Rio dalam hati. Rio hanya melihatkan tatapan malas.


"Mbak. Bisa lebih cepat nggak? saya ada urusan lain yang lebih penting!" ucap Rio dengan nada penuh penekanan.


"Mau kemana sih mas?"


"Mbak tolong cepat! antrian sudah panjang nih!" keluh Rio.


Kasir itu pun melihat kebelakang Rio da benar saja antrean sudah panjang.


"Eh? maaf"


Rio menghela napas. Kasir itu pun kini berkerja cepat.


"Jadi 500 ribu"


"Ini uangnya"


Rio menyerahkan uang itu. Kasir pun menyerahkan belanjaan Rio yang jadi dua kantong. Rio buru-buru meninggalkan minimarket yang membuatnya dongkol.


"Dasar wanita aneh!"


Rio pun buru-buru pulang untuk memberikan ini semua ke Angel.


Rumah


Rio memasuki kamar namun Angel tidak ada.


"Kemana tuh bocah? apa?"


Rio melihat kearah pintu kamar mandi yang tertutup.


"Masih di sana? ANGEL!!"


Angel yang dari tadi terdiam di kamar mandi terkejut saat Rio memanggil namanya.


"Duh kak Rio manggil lagih! Ibu tolong El!"


Angel buru-buru mengakhiri aktivitasnya di kamar mandi lalu keluar kamar mandi. Angel langsung melihat Rio yang tengah menaruh dua kantong plastik di atas kasur.


"Itu Apa?"


Rio menoleh kearah Angel. Senyum Rio langsung menggembang dengan sempurna.


"Buat kamu"


"Hah? buat aku?"


"Iya"


Angel langsung membuka kantong plastiknya dan terkejut melihat apa yang Rio beli untuknya. Angel menatap Rio dengan tatapan yang sulit di artikan namun sedetik itu wajah Angel langsung sumringah. Angel mengambil satu bungkus barang yang ia butuhkan lalu berlari ke kamar mandi.


Melihat Angel yang nampak senang seperti itu berarti?.


"Jadi bener? wow"


Rio masih tidak percaya dugaannya benar. Rio menggelengkan kepalanya lalu keluar kamar. Rio ingin bermain PS mumpung kerjaannya sudah selesai semua.


Angel keluar dari kamar mandi dan perasaannya kini campur aduk. Rasanya malu sekali dan pastinya Rio kesal padanya.


"Kak Rio beli apa aja?"


Angel langsung mengeluarkan semua barang-barang didalam kantong plastik. Senyum Angel merekah dengan sempurna melihat semua yang Rio belikan untuknya..


"Ya ampun? kak Rio!! duh makasih!"


Angel terlihat sangat senang, sangking senangnya Angel buru-buru kerluar kamar menemui Rio untuk berucap "Terima kasih" kepadanya. Angel tersenyum saat melihat Rio yang tengah duduk lesehan sembari asik bermai PS. Angel langsung berjalan kearah Rio dengan senyum di bibirnya.


"Eh"


Angel langsung memeluk Rio dari belakang membuat Rio terkejut.


"Makasih" bisik Angel tepat di telinga Rio membuat Rio senang.


"Sama-sama. Sinih duduk di pangkuan ku"


Angel menuruti ucapan Rio. Angel duduk di pangkuan Rio sedangkan Rio melanjutkan bermain PS dengan hebohnya. Walau pun Rio bisa dibilang sudah sangat dewasa tapi laki-laki kalau sudah main PS itu sifat ke kanak-kanakkannya muncul kembali.


Angel menyandarkan kepalanya di dada Rio. Angel merasa bosan diacuhkan seperti ini.


Rio masih fokus dengan layar TV namun sedetik itu ada yang membuat dirinya tak fokus bermain.


Rio merasa tangan Angel sedang "bermain" di pinggangnya entah apa yang tengah Angel lakukan.


"Kok nggak bisa di cubit?" tanya Angel tiba-tiba dan berarti dari tadi Angel ingin mencubitnya.


"Oh dari tadi kamu mau nyubit? aku kira kamu sedang ngelitikin aku"


"Kak Rio nyebelin!"


Rio merasa dirinya tidak melakukan apa pun tapi kenapa Angel bilang seperti itu?.


"Eh? dasar kamu ini!"


"Hahaha... geli!!"


Rio mengelitiki Angel yang masih duduk di pangkuannya. Rio terus membuat Angel tertawa.


"Udah! geli.. haha"


"Siapa suruh bikin gemes!"


Rio semakin bersemangat menggelitiki pinggang Angel. Sangking gelinya Angel tertawa sampai matanya berair. Rio juga ikut tertawa dengan lepasnya.


Keusilan Rio baru berhenti saat seseorang mengetuk pintu.


"Sebentar sayang"


Angel menjauhkan tubuhnya dari Rio. Rio berjalan menuju pintu depan.


Setelah Rio pergi, Angel langsung mengambil alih permainan PS bola yang Rio mainkan dari tadi.


Tangan Angel dengan lihainya memainkan stik PS. Angel memang sudah terbiasa dengan permainan ini yah walau pun harus main di rental PS dan bayarnya patungan dengan Sina teman Angel dari kecil.


..


Rio membuka pintu dan matanya langsung melihat seorang laki-laki yang sepertinya kurir barang.


"Atas nama Rio?"


"Iya. Ini ponsel yang saya beli?"


"Benar dan tolong tanda tanganin surat tanda terima"


Kurir itu menyodorkan secarik kertas dan kardus pesanan Rio. Rio langsung mendatanganinya lalu mengembalikan lagi ke kurir. Kurir itu pun pergi sebelumnya Rio memberikan uang tip untuk kurir itu.


"Semoga dia suka!"


Sebelum bermain PS, Rio membeli ponsel baru untuk Angel di online shop dan kebetulan sekali bisa langsung di kirim karena letak rumah Rio tidak terlalu jauh dari konter ponselnya.


Rio tersenyum simpul sembari membawa kardus yang berisi ponsel baru untuk Angel. Rio mendengar suara yang ia tahu dari permainan PS bolanya.


Rio memicingkan matanya saat memergoki Angel yang tengah asik mengutak-atik stik PS.


"Ck! ayo.. ayo...ayo!! sedikit lagi!"


Angel nampak bersemangat sekali hingga tidak sadar dirinya tengah di awasi. Angel fokus ke layar TV, mata Angel sangat jeli mengawasi bola yang kini ada di kaki pemainnya yang kini menuju gawang lawan dan.


"Yes! gooolll"


Angel nampak sangat senang. Rio yang dari tadi mengawasi hanya bisa menggelengkan kepala seakan berkata "jadi ini sifat asli istri aku?".


"Ehemm"


Deheman itu membuat Angel menoleh dan kedua matanya langsung mendapati Rio yang tengah menatapnya sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Ooppss"


"Kamu yah? jadi ini kelakuan kamu? kalau tadi kalah gimana? aku butuh usaha loh buat dapetin skor tertinggi"


Angel melihatkan wajah polosnya lalu menunduk. Rio yang tidak tegaan hanya bisa menghela napas.


"Mending kita main bersama, kamu maukan?"


"Mau!"


Angel kini kembali bersemangat dan tidak murung lagi membuat Rio bernapas lega.


Jam dinding di ruang tengah menunjukan pukul 22:10 malam namun Rio dan Angel madih asik main PS bola dan wajah Rio sangat kusut karena dari tadi Angel marah-marah terus saat bolanya di rebut.


"Iihh kamu mah! ngalah kek sama perempuan!" ucap Angel dengan kesal, matanya masih fokus ke layar TV.


Rio menoleh ke arah Angel dengan tatapan datar. Mungkin dia ingin sekali mencubit pipi Angel sangking gemasnya.


"Yey gol! kak Rio kalah!" ucap Angel dengan senangnya. Rio hanya tersenyum tipis, ia sengaja menggalah agar istrinya yang cengeng ini menang kalau tidak dilakukan pasti sekarang istrinya menangis karena kalah.


"Iya kamu memang hebat! mau main lagi?"


"Iya"


"Kamu yakin?" tanya Rio ragu karena Angel terlihat sudah sangat mengantuk dan matanya juga sudah memerah.


"Yakin! aku juga belum ngantuk!"


"Terserah kamu!"


Rio lebih memilih menuruti kemauan Angel nantinya ini anak ngambek.


Mereka pun kembali bermain PS bola yang sepertinya tidak membuat bosan walaupun sudah di mainkan berulang-ulang.


Angel merasa mengantuk pandangannya pun sudah tak fokus dan sesekali kelopak matanya tertutup.


"Ayo sayang! rebut bolanya!"


Angel yang tak kuat menahan kantuk akhirnya memejamkan mata dan.


"Eh?"


.....***...***...