
Devan tengah membicarakan hal penting di luar ruangan dengan Lusi yang intinya Elsa boleh pulang besok siang dan Devan ingin Lusi menyiapkan semua kebutuhan Elsa dan Devan ingin kamarnya bersama Yumna di kunci.
"Kamu tenang saja, semuanya sudah diatur."
"Aku tidak mau Elsa pakai baju bekas Yumna, semua harus baru dan buat seakan-akan kamar itu sudah lama di pakai. Aku tidak mau dia curiga sedikitpun."
"Iya, Mama tahu. Kamu tenang saja."
Devan menghela napas sesaat kemudian dia memasuki ruangan. Pandangan mata Devan tertuju pada Angel yang tengah mengganti popok Alyssa.
"Ada mereka, kenapa kamu melakukannya sendiri?"
"Memang apa salahnya? dia putriku, aku tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain, lagi pula bayi selalu tumbuh dengan cepat. Aku tidak ingin melewatkan sedikitpun pertumbuhan malaikat kecilku ini." Alyssa kecil terus melihat kearah Angel dengan senyum di bibirnya. Devan yang melihatnya merasa sangat senang, putri mungilnya seakan nyaman di sentuh oleh Angel.
"Besok siang kamu boleh pulang."
"Benarkah? syukurlah aku sudah sangat bosan berada di sini." tatapan mata Angel masih tertuju pada Alyssa.
"Alyssa, ayo pulang." ucap Lusi yang berjalan menghampiri Angel.
"Loh, kok pulang? Alyssa di sini saja." rengek Angel. Angel tidak ingin berpisah dengan Alyssa.
"Eh? besok juga kamu pulang, nanti main sama Alyssa di rumah."
"Ya sudah."
....
Rumah Deren.
Plakk...
Tamparan keras mendarat di pipi Sena. Deren menampar Sena langsung saat Sena sampai rumah. Sena menahan perih di pipi nya yang kini memanas.
"Papa menamparku?" ucap Sena dengan melihat Deren yang matanya kini memerah.
"APA YANG KAMU LAKUKAN!" bentak Deren dengan nada tinggi. Deren langsung mencengkeram bahu Sena kasar.
"Aww Pa sakit!"
"Kenapa kamu lakukan hal bodoh seperti itu! kenapa kamu membunuhnya dengan tangan mu sendiri?" kesal Deren yang sudah tahu semuanya. Sena terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Apa kamu tidak berpikir dahulu sebelum melakukannya? kamu bisa di penjara! apa kamu ingin mendekam di penjara?"
"Papa? sudah lama aku ingin menyingkirkan nya, dan sekarang dia mati, Rio hanya milik ku, dari dulu sampai sekarang. Kalau sejak awal Papa perintah kan dia untuk membunuh Angel pasti aku tidak akan melakukannya" Sena melihatkan tatapan kesenangan. Deren melepas cengkraman di bahu Sena. Sena tertawa lepas. Deren melihat ada yang aneh pada putrinya.
"Sena?"
"Dia mati, aku menusuknya lalu mendorong tubuhnya ke sungai. Dia mati... haaa darah. Darahnya ada di tanganku, Pa! Dia mati..! ANGEL SUDAH MATI! HAHAHHA!"
"SENA, KENDALIKAN DIRIMU!"
Deren langsung menarik Sena ke dekapannya. Memeluk erat Sena yang tengah tertawa namun lama kelamaan tawa itu berubah jadi tangisan.
"Aku takut, Pa. Tolong lakukan sesuatu! aku tidak mau di penjara! aku mau Rio... aku mau Kevin! mereka milikku Pa! hanya milikku!"
"Sena?"
"Aku tidak mu di penjara .. tidak mau... ini semua salah Angel... iya.. ini semua salah nya Angel, harusnya dia langsung pergi.. di menggoda suamiku... dia merusak rumah tanggaku... itu...itu balasan yang pantas untuk duri pengganggu. Dia pantas mati."
"Sena?" Deren semakin muak dengan Rio. Karena Rio putrinya jadi seperti ini.
"Ngga akan Papa biarkan kamu di penjara. Papa akan lakukan apapun demi kamu. Kamu hidup Papa dan akan selamanya melindungi mu." ucap Deren dengan tatapan tajam.
..
Rumah Amanda Riko.
Reyhan memasuki rumah dengan tatapan tajam. Reyhan sudah mengetahui tentang meninggalnya Angel, awalnya dia tidak percaya namun seorang ibu mana mungkin berbohong tentang anaknya. Reyhan sangat marah kepada Rio yang seakan mempermainkan Angel.
"Reyhan?" Arfan terkejut melihat Reyhan di rumahnya.
"Kaka kamu mana, aku ingin membunuhnya."
"Apa?"
"Jangan berlagak bego, karena kaka mu, Angel meninggal dan kamu? adik sama kaka sama saja." Ucap Reyhan tajam. Reyhan masih ingat akan janji Arfan yang akan melindungi Angel namun itu hanya lah omong kosong belaka.
"Kamu tidak tahu apa-apa."
"Ch!" Reyhan langsung mencengkeram erat kerah baju Arfan dan menatapnya tajam.
"Andai saja kakamu itu tidak keras kepala dan mau melepas Angel, ini semua tidak akan terjadi dan kamu juga bertanggung jawab atas semua ini. Aku kira kamu lebih baik dari Rio tapi ternyata aku keliru, kamu sama saja!" Reyhan melepas cengkeramannya lalu berjalan mencari Rio. Arfan mengikuti Reyhan dari belakang.
Reyhan membuka semua pintu untuk mencari keberadaan Rio hingga dirinya melihat pintu yang berdekatan dengan dapur. Dia pun lantas membuka pintu itu, matanya langsung tertuju pada Rio yang tengah terduduk melamun melihat kearah luar jendela.
"Kurang ajar!"
Reyhan langsung berjalan menghampiri Rio dengan emosi yang menggebu-gebu. Dia tidak terima atas semua yang Rio lakukan kepada Angel.
"B*jingan busuk!"
Brak!
Reyhan langsung memukul kasar Rio hingga terjatuh kelantai. Rio terkejut dengan apa yang ia alami.
"DASAR TIDAK BERGUNA!" bentak Reyhan. Rio menoleh, dia tidak menyangka bahwa Reyhan yang memukulnya.
"Ch!" Reyhan mencengkeram baju Rio kasar. Reyhan menatap Rio dengan beringas, Rio tahu kenapa Reyhan seperti ini dan dia tidak marah kerena ini memang salahnya.
"Kamu pikir dengan keadaan mu saat ini, orang akan iba melihatmu? pembunuh!"
"Iya, aku memang pembunuh dan aku memang pantas di pukul" Sekarang Rio berani menatap mata Reyhan langsung.
"Bukan pantas tapi harus dan andai saja nyawamu itu bisa ditukar dengan nyawa Angel, aku akan melakukan nya. Lihat dirimu sekarang, menyedihkan, tidak berguna, sampah! kamu tak pantas hidup di dunia ini."
BRAK!"
"hay, apa-apa kamu!" bentak Arfan yang tidak terima kakanya di pukuli seperti itu.
"Diam kamu! kaka mu ini sangat layak di binasakan."
"Tapi ini bukan salah Rio, Alex lah yang."
"Bersalah?"
Reyhan memotong ucapan Arfan. Rio mengelap kasar darah di tepi bibirnya, ia menggerutu Arfan yang ikut campur dalam masalah ini.
"Apa kau tidak punya kaca? apa kalian tidak pernah bercermin sekalipun? Angel sudah sangat menderita di rumah mu ini, bahkan kamu sudah tahu dari awal soal pernikahan kaka mu dan Angel tapi kenapa kamu diam saja? bahkan kamu pernah mencintainya."
Arfan terdiam mendengar ucapan Reyhan.
"Kenapa kamu tidak menolong nya? haahh! syukur Angel telah meninggal kalau dia masih hidup pasti hidupnya akan tetap semu dan tidak bahagia. Keluarga mu dan keluarga Angel sama saja tidak berguna, dan untuk kamu Rio, lihat dirimu di cermin! kamu kini hanya sampah tidak berguna, kamu tidak pantas untuk Angel atau pun Sena bahkan tidak layak untuk Kevin. Ibumu pasti sangat tidak beruntung mempunyai putra seperti dirimu." Reyhan langsung pergi begitu saja. Arfan menatap datar kearah Rio yang benar-benar tidak berguna sekarang.
"Mau sampai kapan kaka begini? sikap mu itu tidak bisa menghidupkan Angel kembali, jadilah kaka ku yang dulu. Kau sekarang menyedihkan."
Arfan langsung pergi dari kamar Angel. Dirinya ingin sekali bermain dengan Kevin yang sekarang tampah bawel dan sudah bisa tengkurap.
"Angel, aku merindukan mu." Rio menangis tanpa suara, ingin rasanya untuk melihat senyumnya yang manis itu lagi.
...
Mentari memunculkan lagi sinar nya. Rasa lelah ini telah sirna di hari dan harapan baru ini semua orang berharap ada sedikit keajaiban di hidup yang melelahkan ini.
06:00/ Rumah sakit
Angel membuka kelopak matanya dan kecupan hangat mendarat di keningnya.
"My Angel sudah bangun." ucap Devan dengan nada lembutnya. Angel hanya tersenyum, kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.
"Apa kamu masih mengantuk?" tanya Devan heran dan Angel hanya menunjukan deretan giginya dan membuat Devan menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini, nih di minum dulu mumpung masih hangat."
"Apa?"
"Susu cokelat, aku beli tadi di kantin sama kopi dan jangan minta kopi, ini punyaku!" tegas Devan yang seolah tahu isi pikiran Angel. Angel mendengus kesal karena Devan tahu apa yang akan ia ucapkan.
"Cuma dikit, ngga banyak."
"Kiss dulu baru boleh." ucap Devan jahil sembari mengetuk-ngetuk pipi kirinya.
"Ogah!" Angel langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Devan yang melihatnya hanya tersenyum dengan tingkah Angel.
"Elsa, di minum dulu."
Angel tidak merespon. Melihat Angel yang seperti itu membuat ide jahil muncul begitu saja.
"Cepat minum, atau Alyssa jadi kaka?"
Mendengar itu Angel membuka selimutnya namun hanya sampai bagian matanya. Angel menatap tajam Devan yang tersenyum tanpa dosa.
"Baru lahir kemarin, taplak! kalau kamu yang hamil punya adik 20 aku setuju aja." ucap Angel dengan nada kesal.
"Ini juga udah hamil, isinya kopi sama roti." ucap Devan sembari mengelus perutnya.
"Perutmu buncit? ah.. aku ingin lihat 'Roti sobek'?"
"Apa kamu meledekku? nih!"
"Eh?"
Tanpa ba-bi-bu Devan langsung melihatkan perutnya yang sixpack ke Angel. Angel terkejut melihat tingkah Devan.
"Puas kamu sekarang?"
"E...eee apaan?" Angel melihatkan tatapan polos dan membuat Devan mendengus kesal.
"Aku cuma bercanda, Suamiku sayang" ucap Angel yang lama-kelamaan ngeri melihat wajah cemberut Devan.
"Sudah jangan bercanda lagi, cepat di minum."
"Iya, bantuin duduk."
"Siap bos"
..
Devan dengan hati-hati menyisir rambut Angel dan empu yang punya rambut tengah asik memainkan boneka kesayangannya. Senyum di bibir Devan tidak luntur dari tadi, entah Kenapa dirinya merasa sangat nyaman di dekat Angel.
"Devan?" panggil Angel.
"Aku lapar, mau bubur ayam" sambung Angel lagi. Devan menuruti saja apa yang Angel mau. Devan langsung meraih ponselnya lalu memesan bubur ayam secara online, Devan tidak ingin meninggalkan Angel sendirian.
"Iya."
"Mau sekarang."
"Sudah di pesan, nanti diantar."
"Yaah, tapi aku mau yang di abang-abang pinggir jalan itu, rasanya lebih enak."
Rengek Angel yang ingin bubur ayam pinggir jalan. Devan seakan tidak setuju dengan permintaan Angel tersebut. Devan berpendapat bahwa makanan yang di jual di pinggir jalan itu tidak higienis.
"Tidak boleh, aku tidak mau membelikannya."
"Kenapa? ayolah sayang, belikan satu untukku."
"Tidak boleh."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kamu sakit perut, mungkin saja yang buat tempatnya ngga bersih sama ngga ada jaminannya semua bahannya berkualitas."
"Kan mungkin, ayolah! aku sudah lapar, hanya kali ini saja. Aku mohon?" Angel menoleh ke arah Devan yang kini menatapnya datar. Angel memandang tepat di mata Devan, tatapan mata Angel membuat Devan luluh dan mau tidak mau dirinya menurut saja.
"Baiklah, hanya kali ini saja."
"Terima kasih Suamiku."
Perkataan manis itu membuat senyum Devan kembali muncul.
"Nanti kalau pesanan yang datang kamu bayar." ucap Devan sambil meletakan dompetnya dia tas meja dekat ranjang, sebelumnya Devan sudah mengambil beberapa lembar uang.
"Iya"
"Jangan berbicara dengan orang asing, dan jangan pergi kemana-mana, kalau butuh apa-apa panggilan suster."
"Iya"
Devan langsung mengecup sekilas puncak kepala Angel lalu melangkah pergi.
15 menit berlalu. Seorang pria memasuki ruang rawat Angel, sepertinya dia cleaning service yang bertugas.
"Permisi bu."
Angel menoleh dan dirinya merasa pernah melihat orang yang di depannya.
"Eh? silahkan."
Pria itu berjalan kearah tempat sampah untuk menggambil sampah. Angel melihat tato yang ada di leher pria itu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? apa kamu mengenalku? aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya."
Pria yang membelakangi Angel ini tersenyum tipis. Pria ini adalah Alex. Alex merasa senang Angel mengingat nya walau pun samar.
"Tidak, kita tidak pernah bertemu, mungkin itu hanya perasaanmu saja." Alex menoleh kearah Angel yang masih menatapnya sama seperti dulu.
"Memangnya kenapa?"
"Aku kira kamu mengenalku, aku kehilangan ingatan ku dan aku ingin mengingatnya kembali."
"Untuk apa kamu mengingat kenangan masa lalumu? jalani saja yang ada sekarang, kenangan yang sudah berlalu tidak akan mempengaruhi kehidupan mu yang sekarang. Jalani saja hidupmu, kenangan itu bisa muncul kapanpun tanpa kamu minta, Jangan membuang waktu mu yang berharga untuk mengingat masa lalu mu itu."
"Kamu benar juga."
Alex langsung berjalan menuju toilet untuk membersihkan area itu. Walaupun ini hanyalah samaran namun Alex tidak ingin ada yang curiga terlebih diruang ini ada CCTV yang memantaunya.
...
Rumah Amanda Riko.
Amanda tengah memakaikan Kevin baju. Amanda merasa dadanya sesak saat melihat wajah Kevin. Bayi mungil ini telah kehilangan ibunya dan sekarang Ayahnya tengah mengurung diri.
"Cucu nenek kenapa jadi langsing gini?" Berat badan Kevin semakin merosot dan sangat rewel dari sebelumnya.
"Apa kamu kangen mamamu?"
Kevin mungil ini tersenyum melihatkan gusinya yang membengkak.
"Eh? apa cucu nenek mau punya gigi? nanti kita ke dokter yah?"
Kevin mulai memiringkan tubuhnya, pandangan matanya tertuju pada mainan yang di letakan tak jauh dari dirinya.
"Kamu mau mainan? ayo coba ambil."
Sena memasuki kamar Kevin, dirinya baru pulang dan sangat merindukan Kevin.
"Ma?"
"Sena, kamu baru pulang?"
"Iya"
Senyum Sena mengembang saat melihat Kevin yang berhasil tengkurap tanpa di bantu.
"Ma, Kevin."
"Dia tumbuh dengan cepat."
Malaikat kecil ini seakan menjadi obat dari rasa sakit dan lelah serta kebahagiaan yang tak ternilai.
...
Kamar Angel.
Arfan memasuki kamar Angel dan mendapati Rio yang tengah tertidur lebih tepatnya karena efek obat tidur yang sengaja di berikan.
"Kamu benar-benar bodoh Rio, mau sampai kapan pun Angel tidak akan pernah kembali."
Arfan langsung berjalan menuju lemari untuk mengambil tas yang biasa di pakai untuk membawa keperluan Kevin. Hari ini ada jadwal imunisasi untuk Kevin.
"Angel." ucap Arfan saat melihat baju yang dulu ia belikan saat masih mengandung Kevin.
"Ini seperti mimpi buruk yang tak berujung. Kamu terlalu berharga untuk di lupakan."
Tidak bisa di pungkiri bahwa Arfan juga tidak mampu menahan rindu akan sosok yang sangat penyayang dan cinta pertamanya. Semua terasa sangat berat dirasa.
...
Rumah sakit.
Devan kembali dengan beberapa kantong kresek di tangannya. Angel menatap datar Devan.
"Tadi bilangnya?" sindir Angel saat melihat Devan yang sepertinya kalap membeli makanan.
"Ya siapa tahu kamu suka." ucap Devan datar sembari meletakan kantong kresek di atas meja.
"Oh iya, tadi satu bungkus bubur ayamnya aku kasih ke cleaning service."
"Iya ngga apa-apa. Aku supin yah?"
...
11:00
Angel mengerutkan dagunya, waktu terasa berjalan begitu lambat padahal ia ingin segera pulang. Angel melirik Devan yang tengah asik menonton televisi.
"Pulang sekarang?" ucap Angel merengek. Sedangkan Devan tidak terlalu menghiraukan ucapan Angel.
"Nanti."
"Bosan."
"Tidur." Suruh Devan dengan acuh. Angel hanya mengerutkan dagunya. Devan sangatlah menyebalkan.
"Nyebelin!" kesal Angel dan membuat Devan menoleh.
"Nyebelin... nyebelin...nyebelin!" ucap Angel sembari merebahkan tubuhnya kini seluruh tubuh Angel tertutup selimut. Devan terkekeh pelan karena tingkah Angel.
"Sabar sedikit lagi."
"Kangen Alyssa." ucap Angel dari balik selimut.
"Nanti juga ketemu sama dia, kamu main sepuasnya."
Devan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Angel yang sepertinya ngambek kepadanya.
"Ya sudah, ganti baju dulu lalu pulang."
"Beneran?" tanya Angel yang langsung membuka selimutnya. Wajah Angel terlihat sangat senang. Devan hanya berdehem saja sembari tangannya meraih paper bag yang berisi baju Angel.
"Aku panggil suster buat cabut jarum infusnya sekalian ganti baju kamu."
"Kenapa ngga kamu saja? aku tidak nyaman dengan orang asing." perkataan yang terlontar dari bibir Angel membuat Devan terdiam.
"orang asing? aku juga orang asing yang mengaku suamimu, apa kamu nyaman bersamaku?" ucap Devan dalam hati. Angel yang melihat Devan yang melamun tersenyum jahil lalu.
cup.
"Eh?" Devan terkejut saat Angel yang tiba-tiba mencium pipi kirinya. Entah kenapa pipinya terasa memanas.
"Elsa, kamu yah?"
"Kenapa? emang salah cium suami sendiri?" tanya Angel dengan wajah yang terlihat masam.
"Engga juga, cuma kurang."
"Iiihhh!" Angel langsung mencubit pinggang Devan dengan sadisnya. Wajah Angel juga sudah sangat merah.
"Aaawww. sakit sayang!.. iyya ma...maaf!"
"Nyebelin!" Dengus Angel sembari melepas cubitannya. Devan mengelus pinggangnya yang dicubit Angel barusan.
"Sakit."
"Bodo! siapa suruh nyebelin!" Angel langsung buang muka, seakan-akan apa yang di buat Devan sangatlah membuatnya marah. Devan hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Angel yang seperti itu.
"Jangan ngambek! tuh lubang hidungmu jadi tambah besar." ejek Devan dengan polosnya seakan ingin membuat Angel tambah marah.
"Devan! jangan gitu, ih... kamu mah nyebelin ih!"
"Ya maaf, aku sayang kamu." ucap Devan yang langsung mengecup perut Angel. Devan mengecupnya cukup lama.
"Alyssa sudah tidak di dalam sana."
"Tapi aku gemas dengan perutmu" ucap Devan yang terbayang akan luka yang ada di tubuh Angel serta bayi yang Angel lahir kan.
..
Rumah Devan.
Mobil Devan memasuki halaman rumah yang sangat luas serta rumah tiga lantai yang berdiri dengan kokohnya dan pagar yang menjulang tinggi melihatkan keindahan serta kepribadian pemiliknya.
"Sudah sampai?" tanya Angel yang kedua matanya tertutup kain. Devan hanya ingin memberikan kejutan untuk Angel.
"Sudah, tapi jangan di buka dulu" ucap Devan dengan penuh penekanan, Angel hanya mendengus kesal.
...
14:00
Angel masih asik membuka kado yang ia dapat. Awalnya Angel kesal karena Devan namun kejutan yang di buat untuknya membuatnya sangat senang.
"Kamu suka hadiahnya?" tanya Vely sembari membelai lembut rambut Angel. Angel hanya mengangguk sembari terfokus pada kertas kado yang ia buka.
"Ck, eh bocah makan dulu!" kesal Devan yang sudah sekian kalinya menyuruh Angel makan. Angel menoleh dengan tatapan kesal.
"Nanti!" ucap Angel sekilas. Vely hanya tersenyum tipis, dulu Yumna dan Devan tidak seperti ini, mereka berdua terkesan formal jika di hadapan orang yang lebih tua termasuk orang tuanya sendiri.
"Nanti....nanti, kalau ASI kamu kering gimana? kamu belum nyusuin Alyssa loh?"
"Bun, emang bener?" Angel menoleh kearah Vely. Tatapan Angel membuat Vely merasakan kehadiran Yumna.
"Iya sayang, kamu makan yah?"
"Tapi belum lapar."
...
Rumah Amanda Riko.
Rio mengepalkan tangannya, ia mendapat telepon dari seseorang yang tidak di kenal bahkan nomor nya juga di private. Orang tersebut sepertinya mengetahui soal kematian Angel, namun orang tersebut sepertinya engan memberitahukan dengan jelas siap pembunuhnya, dia terkesan mempermainkan Rio. Suara orang itu pun samar-samar.
"Jangan main-main, katakan siapa pembunuh nya!" ucap Rio kesal karena lawan bicaranya ini. Terdengar suara tawa darinya.
"Payah!" ucap orang itu dengan nada merendahkan. "Aku sudah memberikan petunjuk pada mu, cari sendiri jika kamu ingin keadilan untuk istri mu itu." sambung nya lagi dan langsung menutup sambungan telepon.
"SIAL!" Rio melempar ponselnya ke sembarang arah.
"Orang terdekat ku?" Rio mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Pertanyaan itu terus terpikir di pikiran nya, hatinya masih terasa sakit karena kepergian Angel dan kini pikirannya terbagi karena terpikirkan ucapan orang yang baru saja menelponnya, kalau ucapan orang tersebut benar dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan nya kelak.
"Kak?" Arfan memanggil Rio yang tengah melamun. Rio tidak merespon sama sekali, padahal tadi dirinya mendengar suara Rio.
"Apa cuma perasaan ku saja? hey kak kalau mau gila jangan ngajak-ngajak kek. Sumpah dari tiga minggu lalu sampai sekarang aku seperti ngomong sama patung! kak, kamu masih hidup apa ngga sih? apa sekarang kakak sudah tuli?" omel Arfan yang lama-kelamaan jadi bingung sendiri apa yang akan di lakukan oleh nya. Beban di pundak Arfan kini terasa sangat berat dan tidak bisa di bagi dengan siapapun.
"Kak, aku butuh kamu untuk membantu ku. Apa kamu akan terap seperti ini? apa Angel hanya alasan mu untuk jadi orang tidak berguna?"
"Pembunuh itu." Rio langsung melihat kearah Arfan. Arfan tersenyum tipis, akhirnya Kakak nya yang seperti patung bicara juga.
"Apa belum ada perkembangan?" tanya Rio, Arfan sendiri tahu apa yang Rio maksud.
"Sulit, bangunan lah dari tidurmu! bantu aku, dia istrimu atau istri ku? harusnya kamu yang mencari keadilan untuknya bukan malah bersembunyi di balik jendela!" kesal Arfan.
"Apa mungkin pembunuh nya, orang terdekat ku?" ucap Rio dengan nada yang tidak enak.
"Apa kau menuduhku?"
"..."
...Bersambung....