Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 22 Keributan



23:00


Rio menghampiri Bi Inda yang tengah mematikan lampu.


"Bi, El sudah makan?"


"El?"


"Angel"


"Den bilangnya El, sayakan ngga tahu"


"Udah makan apa belum?" tanya Rio sekali lagi.


"Belum, dia nggak mau makan. Gara-gara den Rio tuh non Angel jadi nangis. Inget den, non Angel lagi hamil butuh kasih sayang bukan omelan" ucap Bi Inda menasehati. Rio tidak berkata apa-apa bahkan terkesan datar dan tidak perduli.


"Oh, ya udah bibi istirahat sanah" suruh Rio lalu berjalan pergi. Bi Inda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rio yang berbeda sekali dengan biasanya.


...


Kamar tamu


Rio merebahkan tubuhnya kekasur. Ditatapnya langit-langit kamar, menerawang jauh kealam lamunan.


Rio masih teringat saat Angel tidur dihalte bus dengan keadaan kedinginan dan juga Rio masih mengingat perkataan dokter yang mengatakan bahwa kalau sedetik saja terlambat dibawa kerumah sakit nyawa ibu dan bayinya bisa terancam.


"Sebenarnya aku ini kenapa?"


....


01:00


Rio memasuki kamar Angel. Rio membuka pintu dengan pelan agar Angel tidak terbangun.


Rio menghampiri Angel yang tertidur. Angel nampak begitu nyenyaknya tapi saat Rio sudah dekat dengan Angel, Rio melihat air mata ditepi mata Angel.


"El"


Rio langsung menghapus air mata Angel dengan lembut. Rio duduk ditepi kasur menatap wajah Angel yang masih pucat.


cup


Rio mengecup kening Angel cukup lama berharap Angel dapat merasakan kecupan darinya. Setelah itu Rio mengalihkan pandangannya keperut Angel, dibelainya lembut dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, maafin Papa. Papa nggak maksud buat nyakitin kamu, papa minta maaf"


Rio mengecup perut Angel. Rio tidak bisa membayangkan kalau kehilangan calon anaknya lagi. Rio menyesali apa yang dia telah perbuat dan bersyukur Tuhan masih mempercayainya untuk menjaga dua malaikat yang hadir dalam hidupnya.


Rio berjalan kesisi karsur sebelah Angel. Rio naik keatas kasur, berbaring disamping Angel.


"Maaf"


Rio memiringkan tubuhnya lalu mendekap tubuh Angel. Perlahan kedua kelopak mata Rio mulai menutup.


...


08:40


"Ini?"


Angel bingung saat Rio berhenti didepan warung makan ibunya.


"Turun gih" suruh Rio. Angel masih bingung dan tidak mengerti apa yang Rio inginkan.


"Kamu kangen sama ibu kamu kan?"


Pertanyaan Rio membuat Angel terkejut, bagaimana biasa Rio tahu kalau diwarung itu ada ibunya.


"Ta...Tapi"


Angel takut menemui ibunya dengan kondisi sedang hamil bisa-bisa ibunya akan marah serta kecewa dan Angel tidak mau itu terjadi.


Rio langsung menggenggam tangan Angel. Rio menggenggam tangan Angel agar Angel tidak merasa cemas serta meyakinkan Angel.


"Ibu kamu ngga akan tahu, udah sanah! aku tunggu disini"


Angel masih terlihat ragu tapi dirinya memberanikan diri untuk turun dari mobil. Angel perhalan menuju kedepan warung. Rio mengawasi dari dalam mobil, Rio juga tahu kalau Angel merasa takut tapi Rio ingin Angel kembali sehat. Setidaknya Angel merasa senang.


Rio tersenyum saat Jihan keluar dan langsung memeluk Angel.


"Sayang, kamu sama siapa?"


Jihan nampak begitu sangat senang bertemu dengan anak sematawayangnya.


"Emm, sama majikan aku. Bu"


"Dimana?"


Jihan meliah kesekeliling. Rio meneguk ludahnya, dia mendunga kalau Jihan tengah mencari-carinya.


"Dimobil"


"Eh, ajak masuk. Kamu ini gimana sih!"


Suara Jihan terdengar sedikit marah. Mungkin Jihan berpikir kalau tidak sopan tidak mengajak masuk orang yang telah membantu keluarganya.


"Tapi"


"El?"


"Iya"


Angel berjalan kembali kearah mobil Rio. Rio yang melihat Angel mendekat langsung merasa gugup dan telapak tangannya kini berkeringat.


Angel langsung mengetuk-ngetuk kaca mobil Rio. Rio langsung menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Kenapa?"


"Disuruh masuk"


"Nggalah, aku disini saja"


"Ibu aku yang minta, kalau ngga mau kenapa kamu ajak aku kesini?"


"Iya, aku ikut"


"Dari tadi kek" ucap Angel dengan nada datarnya.


Rio sebenarnya sangat gugup bertemu dengan Ibunya Angel yah walau pun Rio sudah pernah bertemu tapi tetap saja.


Rio mengikuti Angel dari belakang memasuki warung. Jihan yang melihat Angel bersama dengan seorang laki-laki yang sepertinya dirinya pernah melihatnya disini.


"Kamu yang waktu itu kan?" ucap Jihan. Rio hanya tersenyum. Angel langsung menoleh kearah Rio.


"Apa?" tanya Rio dengan nada rendah. Angel langsung menggeleng.


"Ayo duduk" ajak Jihan.


"Bu, Ayah mana?"


Angel sangat mengkhawatirkan kondisi Ayahnya. Berharap Ayahnya akan selalu sehat dan dilindungi oleh Tuhan.


"Ayah masih narik angkot tapi cuma sampai jam empat sore kok, kamu tidak usah khawatir. Emm kalian sudah makan apa belum?"


"Belum" Jawab Angel dan Angel juga tahu Rio juga belum sempat sarapan.


Jihan tersenyum sangat tulusnya membuat Rio merasa bersalah karena telah melukai putrinya.


"El, ambilkan makanan sanah. Ibu mau ambil sayur lagi dibelakang"


Suruh Jihan lalu berjalan kearah dapur. Warung ini memang kecil tapi Jihan memastikan semua masakannya baru dari wajan dan tidak ada yang namanya sayur sisa kemarin. Semuanya fress baru dimasak.


Angel menoleh kearah Rio. Jujur Angel masih merasa tidak nyaman berdekatan dengan Rio tapi Angel berpikir lagi, Rio memberikan apa yang ia butuhkan sekarang dan bukan Angel kalau tidak tahu balas budi.


"Kak, makan yah? aku ambilin"


"Iya"


"Mau pakai lauk apa?"


"Terserah kamu saja"


"Oke"


Rio melihat sekeliling. Warung ini sangat sederhana namun entah kenapa terasa sangat nyaman.


Tak berselang lama Angel kembali dengan sepiring nasi dan lauk.


"Nih"


Angel meletakan piring itu dihadapan Rio.


"Kamu tidak makan?"


Angel menggeleng. Dirinya sungguh tidak berselera makan bahkan bayi didalam perutnya jarang bergerak. Sepertinya bayinya hanya ingin tidur Angel pun merasa tubuhnya lemas.


"Aku suapin? tawar Rio. Angel langsung menatap datar Rio. Rio menggerutu. Dia sadar apa yang ia katakan itu sungguh hal yang bodoh, menyuapi Angel didepan Ibunya sama saja mempersulit keadaan yang sudah sulit ini.


"Loh, El. Kamu ngga makan? Ibu suapin yah"


"El ngga laper Bu"


"Eh, kok gitu? kamu kan sudah lama ngga ibu suapin. Makan yah?"


Angel mengangguk. Jihan langsung pergi mengambil lakuk dan nasi untuk Angel.


Lekuk senyum dibibir Rio terlihat jelas saat melihat Angel yang sangat lahap makannya dan dugaan Rio benar, hanya Jihan lah yang mampu untuk membujuk Angel.


Rio menahan tawa saat raut wajah kesal Angel saat Jihan mengatakan kalau pipi Angel mirip bakpau dan hidungnya tengelam diantara kedua pipinya.


Rio hanya jadi penonton saja saat mereka berdua saling bercanda dan entah kenapa Rio jadi teringat Amanda.


Saking asiknya mengobrol dengan Angel, Jihan sampai melupakan ada majikan Angel yang dicuekin dari tadi.


"Eh, maaf keasikan ngobrol"


"Tidak apa-apa"


"Nama kamu siapa?


"Rio"


Rio merasa keringatnya mengalir pelipisnya dan Jihan melihat itu.


"Temapatnya panas yah? duh maaf yah ini tempatnya kecil ngga ada AC nya"


"Ngga apa-apa"


"Ngomong-ngomonh El, memangnya bisa kerja?"


"Ibu"


Pertanyaan Jihan membuat Angel mengerutkan dagunya. Jihan tidak memperdulikan Angel, dirinya kembali mengobrol dengan Rio. Rio menjawab semua pertanyaan Jihan dan kali ini Angel yang merasa diabaikan.


10:00


Tak terasa waktu cepat berlalu dan Rio harus pergi ke Kantor. Mengajak Angel pulang itu terasa berat sebab Ibu dan anak ini masih mengobrol dan Rio tidak enak hati memutus obrolan mereka tapi waktu Rio sudah sangat meped.


"El, kamu mau disini atau ikut pulang? nanti aku jemput"


"Ikut pulang saja. Bu, El pamit yah?"


Jihan terlihat sangat sedih namun dirinya mencoba tersenyum, dia tidak mau Angel ikut merasa sedih sebab Angel juga pasti tidak ingin pergi.


"Iya, jaga kesehatan mu yah"


"Ibu sama Ayah juga"


..


Rumah


Mobil Rio berhenti didepan rumah. Rio sendiri harus kekantor karena ada rapat penting.


"Terima kasih" ucap Angel walau terasa berat terasa mengucapkan itu.


"Ka--"


"Bukan berarti aku memaafkanmu" potong Angel lalu keluar mobil. Rio menghela napas. Angel tahu apa yang dirinya ingin katakan.


"Sudahlah, aku juga tidak butuh dimaafkan"


Rio menjalankan lagi mobilnya menuju kantor. Angel memasuki Rumah dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang mengembang dibibirnya. Bayi didalam rahim Angel pun sepertinya merasa senang bertemu dengan neneknya.


"Non Angel kok kelihatan senang gitu"


Bi Inda heran sekaligus senang melihat Angel yang ceria seperti ini. Angel hanya menggeleng lalu kembali melangkah semari mengelus perutnya.


"Kok den Rio ngga ikut pulang?" tanya bi Inda pada dirinya sendiri namun sedetik itu dia mengendikan pahunya.


..


Kamar.


Angel masih melihatkan senyumnya, dirinya duduk dikasur sembari membelai lembut perutnya.


"Sayang tadi itu suara nenek, kamu marah yah? nenek bukannya ngga sayang sama kamu, dia cuma tidak tahu kalau kamu ada diperut mama"


Angel ingin sekali Ibunya tahu tentang kehamilannya ini pasti dirinya sangat senang akan tetapi bukan disituasi seperti ini.


"Hooaamm"


Angel menguap dan merasa mengantuk apa ini bawaan bayi?. Angel perlahan merebahkan tubuhnya kekasur dan mulai "menjemput" mimpi.


*****


13:00


Mobil putih berhenti didepan rumah. Seorang perempuan keluar dari dalam mobil. Dengan langkah anggun dia melangkah memasuki halaman menuju keteras. Pakaiannya sangat modis dan wajahnya sangat cantik.


tok. tokk.tokk


Perpuan itu mengetuk pintu. Terdengar suara langkah kaki menghampiri pintu.


"Sebentar"


Terdengar suara bi Inda dari dalam rumah. Pintu terbuka dan bi Inda langsung terkejut melihat siapa yang berdiri didepan pintu.


"Non Sena?"


Bi Inda terkejut melihat perempuan dihadapannya ini. Sena Olivia telah pulang dari Prancis. Sena melepas kacamatanya.


"Bi Inda disini, wow Rio ternyata perhatian"


Sena langsung masuk kedalam rumah. Bi Inda terlihat sangat bingung juga khawatir terlebih Rio tidak dirumah. Bi Inda takut Sena akan membuat keributan atau malah mencelakai Angel.


"Kamar Angel mana?" tanya Sena dengan nada


"Emmm"


Bi Inda tarlihat bingung memberitahukan ke Sena atau tidak. Bi Inda mendengar Sena berdecak namun sedetik itu Sena berteriak memanggil Angel.


"ANGGGEEELLL"


..


Kamar


"ANGGGEELLL"


Angel langsung membuka matanya karena teriakan yang memanggil namanya.


"Siapa?"


Angel langsung beranjak dari tempat tidur menuju keluar kamar. Angel langsung terkejut melihat siapa yang datang.


"Sena?"


"Apa? kamu kaget atau sudah nyaman sama suami orang?"


Tatapan mata Sena seakan tengah menjajah Angel. Tanpa berucap lagi Sena langsung masuk kedalam kamar.


Angel tidak melarang atau pun menegur. Rumah ini milik Rio dan Sena karena itu Angel tidak bisa berbuat apa-apa.


Angel menatap Bi Inda yang juga terlihat bingung.


"Bibi telefon den Rio" ucap Bi Inda bengan suara berbisik. Angel sendiri tidak bisa mendengar dengan jelas namun Angel dapat membaca gerak bibir bi Inda. Angel mengangguk. Bi Inda pun pergi kearah dapur.


Pyarrr


Angel terkejut lalu masuk kedalam kamar. Angel melihat bingkai foto yang telah hancur dilantai. Itu foto Angel dan Rio saat honeymoon.


"Apa? mau marah?" tanya Sena dengan nada sinis. Angel menggeleng.


Sena menjatuhkan semua barang-barang yang ada dimeja rias Angel. Sena melihat sampai kedalam laci seakan tengah mencari sesuatu.


Setelah puas dengan meja rias, Sena pun membuka lemari baju.


"Ini?"


Sena langsung mengeluarkan semua baju-baju Angel dari dalam lemari.


"Ini... ini.."


Sena melempar baju Angel kesembarang tempat. Angel ingin marah tapi Angel takut kandungannya kenapa-napa.


"Ihh."


Sena marah karena Rio membelikan Angel baju yang menurutnya bagus.


"Ini semua harusnya milikku! dasar pelakor..!!"


Luncuran kata itu membuat mata Angel tiba-tiba memanas. Pelakor? bukannya dirinya sendiri yang menuruh Angel menikah dengan Suaminya terus kenapa sekarang dirinya menyebut Angel pelakor.


Angel hanya bisa diam menatap baju-bajunya yang berserakan dilantai akan tetapi Sena masih belum puas mengacak-acak isi lemari Angel.


"Ini?"


Sena langsung mengambil dan membuaka kotak itu. Kotak yang berisi perhiasan yang Rio berikan. Angel mengeguk ludahnya melihat Sena yang terlihat sangat marah.


"Kamu?"


Sena langsung menghampiri Angel lalu menarik rambut Angel tanpa berkata apa-apa.


"KAMU INI TIDAK TAHU DIRI!!"


Teriak Sena dengan kerasnya.


....


Dapur


Bi Inda berdecak kesal Rio tidak bisa dihubungi.


"Duh, den Rio cepat angkat!"


Bi Inda terus mencoba menghubungi Rio. Bi Inda merasa sedikit lega saat Rio menganggkat telefonnya.


"Bi kenapa?"


"Ii...itu den"


"Kenapa?"


"Non Sena disini"


"Apa?"


"KAMU INI TIDAK TAHU DIRI!!"


Bi Inda terkejut denga suara itu.


"Non El, den sudah dulu yah!"


Bi Inda langsung memutus sambungan telefon langsung berlari menuju kamar Angel.


Sesampainya di kamar, Bi Inda terkejut melihat kamar yang sudah berantakan dan Angel yang tengah memegangi pipinya.


.....


Sena menarik kalung yang Angel pakai hingga putus dan Sena juga ingin melepas cincin dijari manis Angel. Sena yakin semua yang melekat diangel itu milik suaminya.


"Sinih cincinnya!!"


"Jangan"


"Kenapa?"


"Ini pemberian kak Rio!"


Plakk.


Tamparan keras mendarat dipipi Angel. Sena benar-benar murka.


"Non Sena, sudah"


"Bibi jangan IKUT CAMPUR!!"


Ancam Sena. Bi Inda langsung menjauh takut Sena akan melakukan yang lebih jauh lagi dari ini.


Angel menangis tanpa suara. Pipinya sangat perih dan perut terasa sakit.


Sena masih meluapkan amarahnya.


"KAMU DENGAR INI PELAKOR! HARUSNYA KAMU BERSYUKUR SUDAH AKU BANTU TAPI INI BALASAN KAMU? HAH!"


Angel hanya tertunduk tanpa bisa membela dirinya sendiri yang jelas Angel ingin Rio pulang.


"Sini cincinnya!" pinta Sena lagi. Angel menggeleng tidak mau menyerahkan cincinnya karena Angel sudah janji kepada Rio tidak akan melepas cincin ini lagi.


"Dasar pelakor!"


Sena merebut paksa cincin itu dari jari Angel dan Angel tidak ingin cincinnya ini direbut oleh Sena.


"Jangan kak, aku mohon!"


"Lepas ih!"


Sena yang berhasil melepas cincin dari jari Angel langsung mendorong Angel hingga perutnya terbentur tepian kasur yang lancip.


"Aww"


"SENA!!!"


...


Kantor


"Apa?"


Rio terkejut mendengar Sena ada dirumah dan sedih kenapa Sena tidak menemuinya atau pun memberi kabar kepulangannya.


"KAMU INI TIDAK TAHU DIRI!!"


Teriakan itu? Rio paham betul suara siapa itu dan perasaan Rio entah kenapa jadi tidak enak seperti ini.


"Non El, den sudah dulu yah!"


"Tapi bi... yah"


Rio langsung meraih kunci mobilnya. Arfan masuk keruang kerja Rio. Arfan mengerutkan dahinya saat melihat Rio terlihat buru-buru.


"Mau kemana kak?"


"Mau pulang, kamu urus disini"


"Oke"


Arfan melihat kepergian Rio dengan terburu- buru hanya bisa berdoa tidak ada sesuatu yang terjadi.


....


Sesampainya dirumah Rio langsung mendengar suara Sena yang berteriak.


"Ck!"


Rio bergegas menuju kamar Angel. Rio juga melihat bi Inda didepan pintu yang terlihat ketakutan.


Rio langsung masuk. Rio membulatkan matanya saat Sena mendorong tubuh Angel.


"SENA!!" bentak Rio dan membuat Sena menoleh kearah pintu. Angel terduduk dilantai sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Rio?"


"Apa yang kamu lakukan!"


Rio benar-benar tidak habis pikir Sena melakukan ini semua. Kamar Angel sekarang sangat berantakan.


Sena tersenyum sinis lalu mendekati Rio.


"Kamu tanya apa yang aku lakukan? HARUSNYA AKU YANG TANYA ITU KEKAMU!! KAMU SUDAH NYAMAN SAMA PEREMPUAN ITU HAH!!"


Sena berbalik membentak Rio. Sena kecewa kepada Rio yang memberikan semua ini dan harusnya semua ini untuknya terlebih Angel sudah mendapat uang yang banyak untuk pengobatan ayahnya.


"Maksud kamu apa? kenapa kamu tidak menemui ku dulu"


Rio ingin Sena menjawab pertanyaannya. Kemarin dirinya menunggu samapi malam tapi Sena tidak kunjung datang tapi sekarang Sena disini tanpa memberitakukannya bahkan Sena tidak menemuinya dulu kenapa Sena langsung mengecek apa yang dirinya belikan ke Angel.


"Kenapa? biar kamu suruh bi Inda sembunyiin selingkuhan kamu?"


Selingkuhan? apa Sena lupa kalau dirinyalah yang menginginkan suaminya menikah lagi dan dirinyalah yang pergi meninggalkan Rio bersama Angel.


"Kamu sendiri yang minta tapi kenapa kamu jadi marah seperti ini? Angel sedang hamil jangan sakitin dia!"


Ucap Rio dengan penuh penekanan. Kedua mata Sena memanas. Rio lebih memilih Angel dari pada dirinya padahal Rio berucap bahwa dirinya lah yang orang yang paling dicintainya. Mungkinkah karena Angel tengah hamil semua berubah.


"Aku tidak mau sampai Angel kenapa-napa, aku tidak akan maafin kamu!"


Ucap Rio lagi dengan mata yang terlihat penuh amarah. Sena menundukan kepalanya.


"Kenapa? apa karena dia tengah hamil anak kamu. Kamu jadi berubah"


Sena mendongakan kepalanya. Kedua mata Sena menatap langsung kekedua mata Rio.


"Se. Sena?"


Rio melihat air mata yang turun dikedua mata Sena. Rio belum pernah membuat Sena menangis sampai seperti ini


"Kamu mau ceraikan aku? iya.. kamu mau ceraikan aku karena aku ngga bisa hamil, iya kan?"


Sena ingin hamil tapi Tuhan belum mempercayainya lagi. Sebagai seorang perempuan Sena sangat tersiksa mendengar orang-orang yang selalu menyindirnya karena belum juga hamil. Semua perempuan didunia ini ingin menjadi ibu untuk anak-anaknya.


"Bukan itu maksud aku"


"Terus apa? kamu bilang saja kalau kamu ingin ceraikan aku KARENA AKU MANDUL!!!"


Teriak Sena langsung berlari keluar kamar. Rio langsung mengejar Sena tanpa memperdulikan Angel yang nampak kesakitan.


"Sena tunggu!!" pinta Rio.


Sena berhenti berlari lalu menoleh kearah Rio. Rio mendekati Sena perlahan.


"Sa---"


"KAK RIIIOOOO!!"


Ucapan Rio terpotong oleh teriakan Angel. Rio langsung menoleh kearah kamar. Sena menghapus air matanya.


"AKU KECEWA SAMA KAMU RIO!"


Sena langsung berlari keluar rumah.


"Sena!!"


Rio ingin mengejar Sena tapi Angel terus memanggil namanya.


"Isshh!"


...


Kamar


Angel merasa perutnya sangat sakit sekali hingga menjalar keseluruh tubuhnya.


"Aww sakit banget" Angel mengeluh. Angel melihat dilantai dekat kakinya mengalir darah segar. Apa?.


"KAK RIOOO!"


Teriak Angel panik. Angel takut bayinya kenapa-napa. Bi Inda langsung menghampiri Angel.


"Ya Ampun non!"


Bi Inda panik melihat darah dilantai serta Angel yang kesakitan.


"KAK Rio"


Rio langsung menghampiri Angel dan Bi Inda.


"Den cepat kerumah sakit!"


"El!"


Rio langsung membopong tubuh Angel, membawanya kerumah sakit.


"Ya ampun non El, semoga dua-duanya selamat!" doa bi Inda ditengah-tengah kepanikannya. Bi Inda takut Angel mengalami keguguran terlebih dengan kondisi fisik Angel yang seperti itu.


"Non Sena benar-benar keterlaluan!"


...


Mobil


Mobil Rio melaju dengan kencang tidak perduli dengan apa pun yang menghadang jalannya.


"Sakit" keluh Angel sembari memegangi perutnya. Wajah Angel sangat pucat serata ketingat dingin yang membasahi tubuhnya.


"Sayang bertahanlah! aku mohon!"


"Rio cepat, anakku jangan tinggalin mama"


Ucap Angel yang merasa dinding rahimnya luruh bersamaan dengan rasa sakit yang tertahankan hingga membuatnya tidak sadarkan diri.


"Bertahanlah aku mohon"


..


Rumah sakit


Rio terduduk melamun didepan ruang rawat Angel. Rio merasa dunianya hancur, angan-angan bermain dengan buah hatinya kini telah sirna semuanya jadi gelap kembali.


"Aku?"


Air mata Rio tak tertahankan lagi. Ini sudah yang kedua kalinya dirinya harus menerima kenyataan pahit. Rio sangat-sangat kehilangan padahal dirinya sudah menyiapkan nama yang indah untuk anaknya.


"Maafin Papa, papa ngga bisa jagain kamu. Papa ngga berguna!"


Rio menyalahkan dirinya atas kepergian calon anaknya. Andai saja tadi Angel tetap bersama ibunya dan tidak ikut pulang semuanya tidak akan seperti ini. Semua masih baik-baik saja. Sena? harusnya Sena menenui Rio dulu kalau pun tidak seharusnya Sena tidak berbuat kasar seperti itu toh perjanjian itu sudah jelas bahwa anak yang dilahikan Angel adalah anaknya dan pernikahan ini akan berakhir seperti semestinya.


Sekarang Angel keguguran itu artinya harus mulai lagi dari awal tapi sepertinya semua yang akan berlalu tidak semudah yang diawal.


Dari kejauhan bi Inda berjalan menghampiri Rio. Bi Inda terlihat khawatir mekihat Rio yang nampak begitu sedih.


"Den, semua baik-baik saja kan?" tanya bi Inda yang sudah sampai didepan Rio.


Rio mendongak. Bi Inda terkejut mekihat Rio yang menangis seperti itu.


"Bi, Rio kehilangan lagi"


Bi Inda langsung mendekap Rio. Suara isakn Rio kini terdengar jelas. Bi Inda tahu kalau Rio sangat menyayangi janin itu. Pasti sangat berat bagi Rio melepas kepergian anaknya ini terlebih janin itu telah berbentuk sempurna dan ternyata dia perempuan.


"Den yang sabar, ini sudah kehendak Tuhan. Anden harus ikhlas"


"Bi, Tuhan ngga adil. Dia ambil kebahagiaan Rio!"


"Jangan seperti itu, semua akan indah pada waktunya den! mungkin ini belum waktunya"


Rio melepas dekapan bi Inda lalu menatapnya.


"Lalu kapan itu semua? selama ini Rio menunggu dan terus menunggu tapi akhirnya semua menyakitkan"


"Den, jangan seperti ini! non Angel butuh dukungan den Rio! jangan seperti ini! harus kuat!"


Bi Inda tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Angel saat mengetahui malaikat kecilnya sudah kembali kesang pencipta.


Rio menghapus air matanya. Benar yang dikatakan Bi Inda, dirinya harus kuat terlebih ada satu orang yang lebih terluka ketimbang dirinya.


...


22:00


Rio masih setia menemani Angel yang masih memejamkan matanya.


Rio duduk dikursi dekat pembaringan Angel.


Kelopak mata Angel mulai terbuka. Perlahan tangannya meraba perutnya.


"Anakku! teriak Angel langsung terduduk membuat Rio terkejut.


"El"


"Anakkku mana? anakku dimana?"


Angel panik mendapati perutnya yang sudah rata.


"Kak, bayi ku dimana? aku mau ketemu! kak!"


Rio terdiam beribu bahasa membuat Angel menduga kemungkinan terburuk yang telah terjadi. Rio bingung bagai mana mengucapkan kepedihan ini.


"Ngga mungkin!"


"El, kamu tenang yah? aku mohon!" pinta Rio padahal dirinya juga tidak bisa tenang. Luka kehilangan ini sangat perih.


"Ngga kak! ngga!"


Angel menggeleng. Angel tidak mau menerima kenyataan ini. Dirinya belum siap menghadapi kepahitan ini.


"Ngga mungkin!!"


Angel menangis histris. Menangisi bayi mungil yang sangat ia sayangi. Rio langsung menarik Angel dalam pelukanya. Tangisan Angel semakin menjadi, Rio hanya bisa mengeratkan pelukannya.


"Ngga mungkin, bayiku pasti masih hidup kak. Aku ngga percaya!"


"Aku juga ngga percaya tapi ini kenyataannya! Tuhan mengambilnya lagi"


Air mata Rio menetes lagi. Angel memukul-mukul perutnya dengan keras membuat Rio melepas dekapannya lalu memegangi kedua tangan Angel.


"Aku ngga berguna! aku ngga bisa jaga anak kita!"


"El! lihat aku!"


Rio membuat Angel melihat kearahnya. Rio menatap Angel dengan hangatnya membuat Angel sedikit tenang.


"Dengerin aku! kamu masih bisa hamil dan ini semua buka kesalahanmu ini sudah ketentuan dari Tuhan, kita cuma bisa menjalankan saja! jangan sakitin dirikamu, aku mohon"


"Tapi kemarin aku masih bisa rasain dia gerak tapi sekarang?"


Angel langsung memeluk Rio. Angel merasa hidupnya tidak berguna lagi. Dirinya tidak bisa menjaga nyawa yang Tuhan telah titipkan. Penyesalan dan juga kepedihan kini dirasa Angel. Harusnya tadi dirinya langsung menyerahkan cincin itu kepada Sena pastinya semua ini tidak akan terjadi dan bayinya masih bergerak didalam rahimnya terus berkembang hingga saatnya lahir.


...***...****....