
"....tolong jawab"
"Aku tahu kamu pasti terbebani dengan semua ini. Aku akan ceraikan Sena secepatnya dan aku akan menjadikanmu istri sahku"
"Bukannya kamu sangat mencintai Sena?"
"Itu dulu tapi apa gunanya cinta kalau hanya jadi alat untuk memanfaatkanku dan aku baru sadar cintaku itu hanya memanfaatkanku setelah aku bertemu denganmu"
Rio menarik Angel kedalam pelukanya. Senyum Rio mengembang dengan sempurnanya terlebih kebahagiannya kini terasa lengkap. Rio yakin Angel akan diterima baik dikeluarganya terlebih Angel telah mengandung anaknya.
"Kamu belum mandi yah?"
"Males"
"Umm pasti anakku cowok nih. Mamanya ngga mau mandi"
Rio masih terbayang perut buncit Angel dan dia ingin melihatnya lagi serta merasakan gerakan dari janin dirahim Angel.
Angel berharap dimasa kehamilannya ini penuh dengan kasih sayang dan Rio tidak melakukan hal yang sama lagi, hal yang membuat hatinya terluka lagi.
"Bosan" keluh Angel. Rio melepas pelukanya lalu memandang Angel.
"Mau pergi kemana?"
"Mau ketaman belakang"
"Ya sudah, ayo"
"Gendong" pinta Angel dengan senyum yang mereka dibibirnya. Rio pastinya akan menuruti permintaan bumilnya ini.
"Iya sayang"
"Yeeeyyy"
..
Para ART merasa iri melihat pasangan ini. Mereka terus melihat kearah majikannya ini yang sangat mesra sekali dan rasanya sejuk dihati terutama senyuman diwajah Rio. Mereka semua lega melihat Tuan muda terlihat sangat bahagia tidak seperti kemarin sebelum ada Angel.
"Ri"
"Apa sayang"
"Umm, mau makan es kirm boleh ngga?"
"Boleh tapi nanti yah? kamu baru makan"
"Iya, maksih"
Angel tersenyum senang. Dirinya terlihat sangat nyaman digendong Rio. Angel dengan jahilnya mengacak-acak rambut Rio membuat Rio merasa perih.
"Sayang jangan jahil"
"Abisnya gemes"
Angel terus melakukannya hingga ditaman belakang. Rio mendudukan Angel dibangku. Rio berbalik kearah Angel dengan tatapan kesal tertuju padanya. Rambut Rio sekarang acak-acakan.
"Apa?" Angel melihatkan wajah polosnya dan tatapan itu membuat Rio gemas.
"Aku ambil es krim, mau rasa apa?"
"Vanilla"
"Tunggu disini jangan kemana-mana"
"Memangnya aku mau kemana?"
Rio hanya mengedikan bahunya lalu berjalan mengambil es krim yang Angel mau. Angel mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang dan juga berterima kasih kepada Tuhan yang memberinya kesempatan kedua untuk jadi seorang Ibu.
"Mama seneng banget kamu dirahim Mama. Mama janji akan jagain kamu"
Angel melihat bunga mawar merah yang sangat cantik. Angel pun melangkah menghampiri bunga indah itu.
"Cantiknya.. aww"
Saat Angel memetik bunga itu jari Angel tertusuk duri hingga mengeluarkan darah. Angel meniup lukanya, rasanya perih sepertinya lukanya dalam.
"El?"
Rio langsung mendekati Angel yang tengah meniupi lukanya.
"Kamu kenapa?"
"Ketusuk duri"
"Ya ampun kok bisa?"
"Mau metik bunganya"
Rio langsung meraih jari Angel yang terluka, Rio langsung menghisap darah yang keluar dari jari Angel. Mendapat perlakuan ini Angel terdiam terpana, apa segitunya Rio mengkhawatirkannya.
"Udah ngga apa-apa"
Rio tersenyum istri mungilnya ini sungguh menggemaskan. Angel melihat kantong kresek yang Rio pegang. Angel langsung merebut kantong kresek itu lalu berjalan ke arah ayunan yang muat diduduki dua orang.
"Jangan dimakan semua" ucap Rio saat melihat Angel membuka bungkus es krim pertamanya.
"Iya"
Rio menghampiri Angel. Rio duduk disamping Angel, dia pun menggambil es krim yang sama seperti Angel makan.
Angel menyenderkan kepalanya dibahu Rio. Mereka berdua seakan lupa kalau dirumah ini ada Sena yang tengah melihat mereka dengan tatapan penuh amarah.
"Kalian! berani-beraninya kalian bermesraan didepanku!"
Sena yang baru pulang dari bekerja sebagai model hanya bisa melihat dari jauh. Sena tidak bisa berbuat apa-apa saat Angel bersama dengan Rio. Sena tidak mau memancing emosi Rio bisa-bisa kartu kreditnya dibekukan lagi.
"Ck!"
Sena langsung pergi. Dirinya ingin menyegarkan tubuhnya.
....
Kamar Sena
Rio memasuki kamar dan disambut tatapan tajam dari Sena.
"Baru inget kamu sama aku?"
"Jangan memulai" ucap Rio sembari melewati Sena. Sena berbalik mengikuti langkah Rio.
"Ri, bukan jal*ng itu saja yang butuh perhatian. Aku juga"
"Berhenti memangil Angel dengan sebutan itu. Dia lebih baik dibandingkan kamu"
"Lebih baik? mata kamu kat*rak? jelas aku lebih baik darinya, aku cantik dan lebih sempurna"
"Ck, aku butuh seorang istri yang selalu ada untukku bukan seorang model yang lebih mementingkan dirinya sendiri"
"Ri, kamu mau kemana?" tanya Sena saat Rio ingin keluar kamar lagi.
"Kekamar Angel, aku capek mendengar suaramu itu"
"Ri... Rio! Haaasz. Semua gara-gara jal*ng itu!"
...
22:00
Sena mengepalkan tangannya saat Angel mencium Rio tepat dibibirnya. Setelah Rio pergi Sena menghampiri Angel. Angel yang melihat kedatangan Sena lalu bangkit dari duduknya, Angel ingin menghindari Sena namun Sena malah menghalangi langkahnya.
Angel merasa takut Sena akan membunuh bayinya lagi. Sena tersenyum miring saat melihat wajah ketakutan Angel.
"Kemana sikap songong kamu? kemarin kamu sok nantang tapi sekarang?"
Sena berdecak dan menatap Angel seolah-olah jijik. Dimata Sena, orang didepannya ini wanita murahan yang mau sama laki orang.
"Aku mau lewat"
Angel langsung melewati Sena tapi Sena tidak ingin Angel pergi begitu saja. Sena langsung menarik Angel kebelakang hingga membuat kepalanya membentur meja dan gelas diatas meja jatuh hingga pecah.
Pyarr
Suara gelas itu terdengar hingga kedapur. Rio yang khawatir langsung berlari ke tempat Angel. Amarah Rio memuncak saat melihat Angel yang terduduk dilantai sembari memegangi kepalanya dan juga Sena yang berdiri didepan Angel.
"Ini peringatan terakhir, jauhi Rio!"
Rio berjalan menghampi kedua istrinya. Rio terlihat seperti singa yang kelaparan dan bisa menerkam siapa saja.
"SENA!"
Sena menoleh dan.
Plakk
Angel tercengang melihat Rio yang menampar pipi Sena dengan kerasnya.
Sena merasakan pipinya perih dan panas. Sena menyentuh pipi yang ditampar Rio.
"SUDAH AKU BILANG JANGAN SAKITI ANGEL!!"
Sena menatap Rio dengan air mata yang mengalir dengan derasnya. Ini pertama kalinya Rio menamparnya dan lebih sakit lagi Rio menamparnya karena istri simpanannya.
"Ri, kamu nampar aku?"
"Iya"
"Ri KENAPA!! KENAPA KAMU BELAIN PEREMPUAN INI!"
Sena meraih vas bunga diatas meja lalu ingin melemparnya kearah Angel namun Rio langsung merebut vas bunga itu dari tangan Sena. Rio langsung membuang vas bunga itu kesembarang arah.
"KAMU GILA HAH!"
"IYA AKU GILA! AKU GILA KARENA MU, KAMU HIANATI AKU!"
"KAMU SENDIRI YANG MINTA. KAMU YANG MEMBAWA ANGEL DIHIDUPKU DAN INI SEMUA TERJADI KARENA EGO MU!"
Rio dan Sena terus berteriak meluapkan emosi mereka. Angel merasa kepalanya sangat sakit, Angel menyentuh pelipisnya yang basah. Angel terkejut saat melihat darah dijarinya dan seketika itu pandangan Angel kabur.
"..... KENAPA KAMU LEBIH MEMILIH JAL*NG ITU! AKU LEBIH BAIK DARINYA"
"CK. KAMU"
Sena memejamkan matanya saat Rio mengangkat tangannya.
"NON ANGEEELLL!!" teriak bi Inda langsung saat melihat Angel pingsan dan itu membuat Rio tidak jadi menampar Sena.
"El?"
Rio langsung menghampiri Angel begitu bi Inda. Melihat Rio yang sangat khawatir membuat Sena muak.
"Ck. Paling cuma ekting"
Rio menyilakan rambut yang menutupi wajah Angel dan langsung melihat darah segar dipelipis Angel bahkan darah itu menalir kepipi Angel. Melihat Angel seperti ini membuat air mata Rio menetes dan tidak ada lagi kata maaf untuk Sena terlebih calon anaknya bisa saja celaka seperti Mamanya.
"Sena hari ini juga aku ceraikan kamu!"
"Aa...apa?"
Sena terkejut mendengar ucapan Rio barusan. Rio menceraikannya?.
"Kamu dengar AKU MENCERAIKANMU DETIK INI JUGA DAN AKU TIDAK AKAN MENGUBAH KEPUTUSANKU INI!"
Mendengar itu kaki Sena langsung lemas. Sena duduk dilantai dengan wajah yang blank. Rio langsung mengbopong tubuh Angel membawanya kerumah sakit dan bi Inda mengikuti dari belakang.
Setelah kepergian Rio. Sena seperti orang linglung. Dirinya menacak-acak rambutnya bahkan menjambak rambutnya sendiri.
"HAAAAHHH AKU TIDAK MAU BERCERAI DENGAN MU RIOOOO KAMU CUMA MILIKKU!!" teriak Sena dengan begitu kencangnya. Suara teriakkannya menggema diruangan ini bahkan suaranya terdengar hingga ruangan paling belakang membuat semua ART ketakutan.
...
Mobil
Rio terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bi Inda tak henti-hentinya menangis.
Bi Inda terus mengelus wajah Angel yang berbaring dengan kepala Angel dipangkuannya.
"Den cepat. Bibi takut"
Wajah Angel sangat pucat dan darahnya masih mengalir dari luka diplipisnya.
"Bi tahan darahnya sama jaket Rio"
Bi Inda menerima jaket itu lalu dipakenya untuk menekan luka itu agar darahnya tidak terus keluar.
15 menit berlalu akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Rio langsung turun dari mobil mencari pertolongan diarea UGD.
"Den Rio kamana sih?" bi Inda sangat cemas akan keadaan Angel.
Tak lama Rio kembali dengan beberapa perawat yang mendorong ranjang pasien dan satu dokter.
..
Di depan ruang tindakan Rio terus monda mandir tidak tenang sembari berdoa agar keduanya selamat sedangkan bi Inda duduk sembari terus berdoa.
"Kenapa lama sekali?"
Rio mengacak-acak rambutnya hingga membenturkan kepalanya didinding. Rio menyakiti dirinya karena dirinya gagal menjaga Angel.
"Den?"
Bi Inda menenangkan Rio yang terus menyakiti dirinya sendiri. Bi Inda menyuruh Rio duduk dan menasehati Rio.
"Bi, Rio tidak mau kehilangan lagi"
"Bibi tahu itu. Bibi juga tidak mau itu"
Berselang beberapa menit akhirnya dokter yang menangani Angel keluar ruangan tindakan. Rio langsung menghampiri dokteri itu, menangakan kondisi Angel.
"Dok, istri saya?"
"Bapak tenang yah, istri bapak tidak apa-apa dan kandungannya baik-baik saja. Istri bapak akan dipindahkan keruang rawat.
"Terima kasih dok"
...
Kamar rawat Angel 01:00
Angel perlahan membuka matanya dan membuat Rio tersenyum senang. Angel langsung memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Sayang?"
"Bayiku?" tanya Angel dengan khawatir.
"Dia baik-baik saja"
"Syukurlah. Aku lapar"
Rio langsung mengambil mangkuk bubur untuk Angel. Rio menekan salah satu tombol dialat yang tergantung samping ranjang yang dipakai Angel agar tinggi dibagian kepala supaya Angel lebih nyaman.
"Buka mulutnya"
Angel mengunyah bubur itu dengan pelan. Rio langsung menyeka air mata yang turun dari mata Angel.
"Sayang?"
"Aku tidak mau tinggal dirumah itu lagi"
"Aku akan ceraikan Sena. Aku sudah perintahkan pengacara keluargaku untuk mengurus semuanya. Kamu yang kuat yah?"
Rio mengecup kening Angel cukup lama seakan memberi kekuatan untuk Angel dan membuatnya tegar menghadapi ini semua.
...
Rumah Riko / Amanda. Kamar
01:30
Riko tidak bisa tidur setelah mendapat telefon dari pengacara keluarganya bahwa Rio menyuruh untuk mengurus perceraiannya dengan Sena.
Amanda menbuka kelopak matanya. Ia terkejut melihat Riko tidak berada disampingnya. Amanda mendudukan tubuhnya, ternyata Riko tengah memandang keluar kamar.
"Pa, kok belum tidur?"
"Papa tidak bisa tidur"
"Kenapa?"
Riko menghela napas lalu berjalan menuju Amanda yang terus saja menatapnya dengan penuh pertanyaan.
Rio duduk didekat Amanda. Jelas tersirat kecemasan dan kegundahan diwajah Riko.
"Ada apa?"
"Rio sama Sena"
"Kenapa? mereka berantem lagi?"
"Lebih buruk. Mereka akan berpisah"
"Bukan tapi Rio yang menggugat cerai Sena. Sebelumnya Rio juga pernah bilang akan hal ini"
"Pa? apa ini"
"Ini bukan salahmu, Rio juga sepertinya sudah memikirkan ini dengan baik"
Amanda terdiam entah kenapa air matanya turun, dirinya merasa sangat bersalah atas semua ini. Riko menoleh ke istrinya.
"Kenapa kamu menangis?"
"Aku merasa gagal. Pa"
"Soal apa? Rio juga tidak bisa terus mencintai orang yang hanya mau hartanya saja. Mending kita tidur"
..
08:30
Sena mendekati kerumunan Preman yang mangkal dipangkalan ojek.
"Kalian mau uang?" tawar Sena sembari menunjukan segepok uang pecahan seratus ribu. Bos preman itu mengerutkan keningnya.
"Bos duit tuh" bisik anak buah disampingnya.
"Mau nggak? kalian bisa dapatin uang ini asal lakuin perintahku"
Sena tersenyum sangat licik sembari melihat kearah warung disebrang jalan.
"Apa yang harus kita lakuin?"
"Acak-acak warung bu Jihan itu tapi ingat jangan lukai satu orang pun karena aku tidak mau masuk penjara dan kalian juga tidak mau kan?"
Sena memberikan uang itu pada bos prenan. Bos itu menerima uang yang berjumlah 20 juta. Bos itu langsung memberi kode keanak buahnya.
"Permainan baru saja dimulai"
Sena mengikuti para preman itu menuju warung bu Jihan yang masih tutup.
.
warung
Jihan terkejut melihat kedatangan segrombolan preman diwarungnya.
"Maaf masih tutup"
"Ck, sipa juga yang mau makan ditempat ini"
"Terus kalian mau apa?"
Bos preman itu memberi kode keanak buahnya untuk mulai menghancurkan barang-barang yang ada diruangan ini.
Suasana yang masih sepi membuat para preman leluasa membuat keributan.
"JANGAAANNN!" triak Jihan saat para preman itu menghancurkan kursi plastiknya dan menghancurkan semua yang ada didepan mereka.
"AKU MOHON JANGAN!"
Salah satu preman itu memegagi Jihan. Jihan hanya bisa menangis melihat warungnya hancur. Kerja kerasnya selama ini kini hancur. Suara piring dan gelas yang dipecahkan oleh preman ini terdengar mengerikan ditambah suara tawa dari para preman ini.
"Bos sudah hancur semuanya"
"Ayo cabut!"
Mereka semua pergi meninggalkan kekacauan yang telah mereka perbuat. Jihan sangat terpukul melihat warungnya seperti ini.
Sena tersenyum puas melihat Jihan menangis. Selama ini Sena mengikuti Angel hingga dia tahu kalau pemilik warung makan ini adalah ibunya Angel.
"Sip, tinggal kirimkan video nya ke si Jal*ng itu"
...
Kamar rawat Angel
Angel tersenyum melihat suaminya yang sudah rapi dengan setelan jasnya.
"Sayang lihat papa kamu"
"Umm sayang"
Rio menciumi perut Angel, rasanya berat meninggalkan Angel dengan kondisi seperti ini.
"Aku berat meninggalkan mu"
"Aku tidak apa-apa tapi sebelumnya belikan aku roti cokelat"
"Iya"
Rio langsung keluar kamar untuk membeli apa yang Istrinya minta. Angel merasa sangat senang Rio akan menceraikan Sena sebenarnya Angel hanya ingin kepastian dan perlindungan untuknya dan calon anaknya kalau pun Rio tidak menceraikan Sena dan menjadikannya istri kedua pun Angel tidak masalah yang terpenting dirinya bukan istri simpanan lagi.
"Sayang kamu sedang apa? kamu lagi tudur yah?"
Angel mulai berbicara dengan janin didalam rahimnya. Tangan Angel membelai dengan lembut perutnya berharap janinnya merasakan sentuhan kasih sayang darinya.
Drtttt....Drtttt...
Angel meraih ponselnya ternyata ada pesan video. Angel mrngerutkan keningnya, dirinya tidak mengenal nomer ini. Karena penasaran Angel langsung membuka video ini.
"JANGAN!!"
Angel terkejut melihat video yang menunjukan warung ibunya dirusak oleh preman-preman yang tidak punya hati nurani seenaknya saja menghancurkan barang milik orang lain.
"Ibu"
Air mata Angel turun melihat Jihan yang menangis sembari memohon kepada preman-preman ini.
"Siapa yang mengirim video ini?"
Ponsel Angel bergetar lagi dan kali ini panggilan video. Tanpa basa basi Angel langsung menjawap panggilan ini.
"Halo jal*ng, kacian akit yah?"
Angel terkejut melihat siapa yang menelefonnya. Sena menelefonnya dari dari pinggir jalan nampak mobil da motor berlalu lalang dibelakannya dan berarti yang mengirimkan video ini adalah Sena.
"Kamu yang ngirim video?"
"Iya dan kamu tahu, aku yang nyuruh preman itu buat ngerusak warung ibu kamu"
Sena mengatakan itu dengan penuh kegirangan bahkan wajah Sena terlihat sangat senang. Amarah Angel kini sudah mencapai puncaknya.
"Ck! kamu keterlaluan!"
"Kamu tidak pernah ngaca apa? kamu yang keterlaluan, kamu merebut suamiku"
"Aku tidak merebutnya tapi Rio sendiri yang berpaling darimu" ucap Angel dengan penuh penekanan. Raut wajah Sena kini berubah menjadi marah.
"Jaga ucapanmu itu jal*ng! atau"
Sena mengarahkan kameranya keorang yang tengah duduk ditrotor didekat angkot yang sedang ngetem menunggu penumpang. Angel terkejut melihat Ayahnya.
Sena mengarahkan lagi kameranya kearahnya. Senyum dibibir Sena membuat Angel takut Sena akan mencelakakan Ayahnya.
"Uhhhh kok nangis sih?"
"Jangan sakiti Ayahku" pinta Angel dengan nada memohon. Angel tidak mau orang tuanya terluka padahal ini urusan Sena dengannya bukan kedua orang tuanya yang tidak tahu apa-apa.
"Mereka tidak tahu apa-apa. Urusanmu hanya denganku jangan bawa-bawa mereka!"
"Emm iya sih tapi ini ampuh buat nyakitin kamu, itu buktinya kamu nangis dan setiap air matamu itu kebahagiaanku"
Sena tersenyum bak penyihir jahat yang tidak punya hati. Baru kali ini Angel bertemu dengan wanita yang lebih jahat dari preman.
"Sena aku mohon jangan sakiti mereka"
"Aku bisa kabulkan itu asal"
Sena menggantungkan ucapannya seakan sedang berpikir.
"Asal apa?"
"Sabar dong. Asal kamu bujuk Rio agar dia tidak menceraikanku kalau kamu gagal bujuk Rio dalam 24 jam Ayah tercinta kamu ini hanya akan tinggal nama. Kamu pasti masih ingat karena dia kamu rela menjual dirimu sendiri dan karena kamu Ayah tercintamu itu akan menemui ajalnya"
"Iya aku akan bujuk Rio. Jangan sakiti Ayahku!"
"Itu tergantung, Kamu berhasil atau tidak. Oke, cukup sampai disini. Cepat sembuh jal*ng"
"SENA!"
Sena memutus sambungan video call. Perasaan takut kini menjalar ditubuh Angel. Angel tidak mau hal buruk menimpa keluarganya.
Rio memasuki kamar rawat dengan membawa pesanan Angel tapi kedua mata Rio mendapati Angel yang menangis serta ketakutan.
"Sayang?"
Rio menghampiri Angel. Angel menoleh kearah Rio, isakan Angel semakin terdengar jelas.
"Kamu kenapa?"
"Aku mohon jangan ceraikan Sena?"
"Apa?"
Rio terkejut Angel meminta ini. Rio duduk dipinggir pembaringan Angel.
"Sayang, kamu ini bicara apa sih? aku akan ceraikan Sena agar kamu bahagia bersamaku"
Angel menggelengkan kepalanya cepat. Angel tidak mau sampai Rio menceraikan Sena dan Sena bisa mencelakai orang tuanya. Rio heran dengan sikap Angel ini padahal tadi Angel senang dirinya akan menceraikan Sena.
"Aku mohon jangan ceraikan Sena. Ri, aku mohon!"
"Sayang kamu tenang yah? Sena ngancam kamu?"
Angel mengangguk pelan. Rio dengan lembutnya menghapus air mata Angel.
"Jangan takutkan ada aku yang selalu jagain kamu"
"Ri tapi Sena"
"Kenapa?"
Angel melihatkan video pengerusakan diwarung ibunya oleh preman. Ekspresi Rio sama seperti Angel saat melihat video ini. Rio langsung dapat menyimpukan kalau ini ulah Sena.
"Sena yang lakuin ini?"
"Iya, dia juga ngancam mau nyakitin Ayah juga kalau aku tidak bisa menbujukmu untuk tidak menceraikannya"
"Ck! sena benar-benar keterlaluan!"
"Mau kemana?" cegah Angel langsung saat Rio ingin pergi.
"Aku ingin laporkan Sena kekantor polisi agar dia tidak mengganggumu lagi"
"Tapi Ri, kamu tidak punya bukti"
"Video itu buktinya"
"Ri ini bukti penyerangan warung ibu bukan soal Sena. Kalau kamu lapor polisi itu percuma, pasti mereka akan memburu preman itu dulu dan preman itu juga tidak kenal Sena yang nyuruh mereka"
Rio terdiam. Perkataan Angel memang benar. Polisi itu akan menangkap preman itu dulu lalu menanyakan siapa menyuruh mereka baru polisi akan mencari dalang penyerangan ini dan pastinya butuh waktu lama. Dalam waktu yang lama itu pasti Sena sudah melakukan hal-hal yang nekat.
"Ri, aku mohon hanya ini cara satu satunya"
Rio menghela napas beratnya lalu tersenyum kearah Angel.
"Iya sayang tapi ingat aku mempertahankan Sena bukan karena aku masih mencintainya tapi ini demi kamu"
"Iya aku akan ingat itu dan terima kasih"
Rio menarik Angel kedalam pelukannya. Rio merasa beruntung mempunyai istri seperti Angel dan kesalahan terbesarnya adalah menikahi Sena.
"Ibu"
Angel melepas pelukan Rio. Angel teringat akan Jihan pasti sekarang Jihan tengah bersedih.
"Ri, aku ingin bertemu ibu"
"Sayang kamu masih sakit"
"Tapi aku ingin bertemu, pasti sekarang ibu sangat sedih"
Angel terus memaksa untuk pergi. Rio membelai kedua pipi Angel berusaha untuk menenangkan Angel.
"Sayang kalau kamu menemui Ibu dengan kondisi seperti ini pasti dia tambah sedih. Biar aku saja yah?"
"Ri"
"Aku akan bantu ibu kamu eh.. ibu kita kalau nanti ada Ayah, aku akan bilang supaya jaga ibu terus jangan narik angkot dulu"
"Iya, makasih sayang"
"Ini sudah kewajibanku tapi bi Inda kenapa belum datang?"
Lima menit berlalu akhinya bi Inda datang juga dan Rio pun menigipkan Angel ke bi Inda. Rio bergegas menuju warung Jihan.
....
Warung
Jihan terus menangisi warungnya yang berantakan bahkan Erik tidak percaya dengan ini semua padahal selama ini istrinya selalu membayarkan uang keamanan ke preman-preman itu tapi mereka malah menghancurkan usaha istrinya.
"Sayang tenang yah?"
"Yah, semuanya hancur. Usaha kita selama ini"
Jihan terlihat sangat lemas bahkan dirinya merasa nyawanya tidak lagi diraganya.
"Ar, kenapa jadi seperti ini" tanya Erik ke Arbi tapi Arbi hanya menggeleng dirinya juga tidak tahu apa-apa. Saat datang semuanya sudah hancur.
Mobil Rio berhenti didepan warung. Rio pun langsung turun menuju pintu warung. Saat dirinya memasuki warung ia melihat kekacauan dan kesedihan.
Rio menghampiri orang tua Angel yang terlihat sangat sedih.
"Bu"
Erik dan Jihan terkejut melihat kedatangan Rio diwarungnya yang berantakan ini.
"Kamu?"
"Kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Rio keJihan. Jihan hanya menggeleng preman itu tiba-tiba datang lalu menghancurkan semua yang ada.
"Jangan bersedih, aku akan belikan lagi yang baru"
"A... apa?"
Jihan terkejut mendengarnya terlebih keluarganya sudah banyak berhutang kepada Rio.
"Tapi Pak, keluarga kami sudah banyak berhutang kepada bapak"
"Aku bantu semuanya lagian kalau warung ini tidak berjualan lagi bagaimana cara untuk melunasi hutangnya?"
"Ta..tapi"
"Tapi apa? seenggaknya aku tidak akan memberi bunga pada uang pinjaman itu lagian kalian mau minta tolong sama siapa?"
"Kami merasa tidak enak"
"Ini saya lakukan karena Angel banyak membantu saya dan ini tidak sebanding dengan apa yang telah Angel berikan. Dia membuat rumah ku kini penuh tawa, kalian maukan menerima bantuan ini?"
Jihan dan Erik saling menatap. Rio berharap orang tua Angel mau menerima batuannya. Jihan mengangguk.
"Baiklah, kami menerimanya. Terima kasih tapi kami mohon jangan sampai Angel tahu" ucap Erik yang tidak punya pilihan lagi. Rio tersenyum yah dia tidak akan meminta apapun, semua yang Rio berikan itu murni hanya untuk membantu mertuanya ini.
"Iya"
Rio melihat keluar. Ia tersenyum akhirnya pesanannya datang dan juga orang-orang yang akan memake over tempat ini. Jihan, Erik dan Arbi terkejut dengan kedatangan orang-orang yang berseragam.
"Kalian langsung berkerja" suruh Rio kepada mereka.
"Mereka siapa"
"Ibu tenang saja. Mereka yang akan membereskan semua kekacauan ini lebih baik kalian pulang dan tolong anda jangan berkerja dulu. Kondisinya masih belum setabil"
"Iya aku akan menemaninya, sekali lagi terima kasih"
"Aku hanya melakukan yang harus aku lakukan"
Orang tua Angel dan Arbi meninggalkan warung ini. Rio langsung berbicara dengan boss yang menangani ini.
"Pak?"
"Aku ingin warung ini jadi warung modern dan didalam dan luar warung dipasang cctv"
"Baik ada lagi?"
"Aku mau yang terbaik berapapun akan aku bayar"
....****....