
"..... ragamu"
"Sebaiknya kamu urus suami mu dan anakku, kamu tidak usah memperdulikan ku, aku tahu apa yang aku lakukan"
"Ck, dasar kepala batu!"
Sena langsung pergi dari kamar Angel. Angel langsung mengunci pintu, dia hanya ingin sendiri untuk saat ini.
...
Sena menghampiri Amanda yang baru kembali bersama Riko. Riko langsung menuju kamar untuk menaruh paper bag dan juga mandi. Amanda mengerutkan keningnya saat melihat pipi Sena yang memerah.
"Pipi kamu kenapa?"
"Oh ini, habis perawatan buat ngecilin pipi"
"Kirain ada apa"
Sena hanya tersenyum tipis. Sena berbohong bukan untuk menyelamatkan Angel tapi ini untuk kepentingannya sendiri. Amanda duduk di sofa sembari mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat capek.
"Mama, aku ingin mengatakan sesuatu"
"Bicara saja, tidak perlu sungkan"
"Ma, Arfan sama Angel cocok yah?"
Amanda terkejut mendengar Sena mengatakan itu terlebih Sena itu hanya perduli dengan dirinya saja.
"Mereka memang cocok, Mama tidak tahu kalau kamu juga memperhatikan mereka?"
"Ma, aku juga wanita. Angel pasti beruntung punya suami seperti Arfan tapi apa mama mau punya menantu seorang janda beranak satu?"
"Sena, Mama sebenarnya sudah sangat ingin mereka menikah. Arfan juga mencintai Angel tapi Mama tidak tahu Angel mau atau tidak"
"Emmm... sekarang saja Mama tanya ke Angel, jangan ditunda ntar Angel di rebut yang lain"
"Kamu benar, sekarang mama akan bertanya ke Angel"
"Iya"
Senyum Sena mengembang dengan sempurnanya. Rencananya kini berjalan dengan lancar tinggal beberapa tahap lagi agar Angel menjauh dari Rio.
...
Tok...tok
Lamunan Angel buyar saat mendengar suara ketukan di pintu, Angel langsung menghapus air matanya.
"Siapa?"
"Ini mama, El. Tolong buka pintunya"
Angel langsung berjalan kearah pintu untuk membuka kunci pintu. Setelah pintu terbuka terlihat jelas Amanda yang khawatir karena Angel jarang mengunci pintu kamarnya.
"Kamu tidak apa-apa kan, sayang? tumben sekali kamu kunci pintu kamar"
"Kevin tidak bersamaku jadi aku kunci pintunya, aku tidak mengunci pintu agar mama atau yang lain bisa melihat Kevin setiap saat"
"Oh jadi begitu, Mama jadi tenang. Mama ingin bicara sesuatu kepadamu"
"Bicara apa?"
"Ayo duduk"
Mereka menuju sofa dan entah mengapa Angel merasa bahwa Amanda akan mengatakan hal yang sama seperti Arfan.
Amanda mengeluarkan sesuatu dari dalam tas bahunya. Angel melihat sebuah kotak kecil berwarna merah menyala.
"El" panggil Amanda sembari membuka kotak itu dan langsung terlihat sebuah cincin yang sangat indah.
"Sebagai ibunya Arfan aku ingin melamar mu untuk Arfan, kamu mau kan? terlebih kalian sudah saling mengenal" sambung Amanda lagi. Angel tidak tahu harus bilang apa, bagaimana caranya untuk menolak lamaran ini. Angel tidak ingin membuat Amanda sedih.
"Mama yakin? Mama tahu sendiri aku itu seorang janda dan Arfan lebih pantas bersanding dengan gadis yang sama baiknya seperti Arfan"
"Sayang, Mama tidak perduli dengan setatus mu itu dan mama tidak masalah jika ada masalah dikemudian hari. Arfan sudah lama mencintaimu, mama mohon terimalah Arfan sebagai suamimu"
"Ma, aku belum siap kembali membina rumah tangga dan aku merasa tidak pantas menjadi istri Arfan"
"El, yang menilai pantas atau tidaknya itu Arfan dan Arfan ingin kamu menjadi teman hidupnya. Kamu tidak usah khawatir, setelah kamu menikah dengan Arfan kalian akan tinggal di Prancis jadi kamu tidak terbayang lagi lukamu itu dan kamu bisa menjalani kehidupan barumu"
Kehidupan baru? bagaimana bisa Angel melakukan itu, setiap kali bertemu dengan Rio dan Sena luka itu kembali berdarah apa lagi menikah dengan Arfan yang pastinya akan sering bertemu dengan Kevin, anak yang tidak bisa ia akui sebagai putranya.
"Aku perlu waktu, maaf"
"Tidak apa-apa, Mama mengerti kok. Ya sudah kamu simpan saja cincin ini, pikiran ini dengan baik-baik. Mama mau kamu jadi menantu mama"
..
Kamar Rio Sena.
Sena tersenyum kearah Rio yang tengah bercengkrama dengan Kevin. Sena ingin memberi tahu kan kepada Rio soal Amanda yang tengah melamar Angel untuk Arfan.
"Kamu bahagia sekali?"
"Iya, ini yang aku inginkan selama ini"
"Oh, Arfan juga akan mendapatkan apa yang ia inginkan"
Rio langsung menoleh ke arah Sena. Rio tidak mengerti apa yang Sena maksud namun sedetik itu pikiran Rio tertuju pada Angel.
"Kamu tahu Mama sedang melamar Angel untuk Arfan"
"Apa?"
Sena tersenyum miring saat melihat ekspresi wajah Rio yang terkejut. Ternyata Rio masih menyimpan rasa untuk Angel hingga terlihat ketidak ikhlasan nya.
"Biasa saja kali, biarkan Angel bahagia. Jangan jahat seperti itu dia berhak bahagia dengan adik iparnya"
Tanpa permisi Rio langsung pergi meninggalkan Sena, sepertinya Rio marah. Sena berdecak kesal karena Rio tidak menepati janjinya.
"Dia bilang memilihku tapi kenyataanya dia masih dimabuk "madu", dasar buaya"
Sena langsung menoleh kearah Kevin yang seakan memanggilnya. Sena langsung menghampiri dan memberikan asi dari botol.
"Sayang, kamu itu anak mama bukan jal*ng itu"
.
Kamar Angel.
Angel menggenggam erat cincin yang Amanda berikan. Rasanya sulit mengatakan yang sebenarnya kepada Amanda. Perasaan beralah ini membuatnya tak berdaya, seharusnya dirinya tidak menjadi ibu susu Kevin dan kembali ke rumah yang sangat ia rindukan, bertemu dengan orang tuanya.
"Kenapa ini sulit? Tuhan tolong aku"
Angel terkejut saat seseorang yang tanpa permisi membuka pintu kamarnya. Angel semakin terkejut saat mengetahui itu Rio yang nampak marah.
"Sebaiknya kamu tidak menerima lamaran itu"
Ucap Rio langsung dan membuat Angel marah sebab ini hidupnya dan Rio tidak berhak untuk mengatur hidupnya walau pun sebenarnya Angel memang menolak lamaran ini karena dia tidak sudi melihat Rio bahkan tinggal bersama satu atap dengan keadaan dan setatus yang berbeda.
"Kenapa? itu hak ku dan kamu sudah bukan suamiku lagi"
Mendengar jawaban Angel membuat Rio berdecak kesal. Rio tidak ingin Angel berdekatan dengan Kevin dan dia juga tidak ingin rahasia ini terbongkar. Rio tidak ingin membuat Amanda sedih dan Riko kecewa kepadanya.
"Kamu ingin keluarga ini hancur? iya mama akan senang bila kamu menerima lamaran ini tapi apa kamu berpikir bagaimana jadinya setelah Mama mengetahui semuanya?"
Angel menundukkan kepalanya. Angel tidak ingin melukai orang yang sangat perhatian kepadanya. Melihat Angel yang sepertinya sudah mulai memahami situasi membuat Rio semakin mempengaruhi Angel untuk pergi dari rumah ini.
"Kamu ingin hidup seperti ini atau kembali menjalani hidupmu yang dulu sebelum mengenalku?"
"Aku?"
"Apa kamu tidak merindukan orang tuamu? pikirkan mereka, kembalilah! aku talak tiga kamu dan sekarang kamu terbebas dari pernikahan dan perjanjian ini"
Rio langsung berbalik badan meninggalkan Angel. Angel melihat kepergian Rio dan tidak sekalipun Rio melihat kebelakang dan itu berarti tidak ada lagi rasa yang tersisa untuknya.
"Kamu mau aku pergi kan? aku kira kamu akan berubah Ri, ternyata kamu hanya memainkan perasaan dan hidup ku saja"
..
Angel melihat dari jauh Arfan yang tengah memijat kedua pelipisnya. Anget tahu Arfan pasti sangat kecewa kepadanya.
"Maaf, kamu terlalu baik untukku dan maaf aku tidak bisa berpamitan langsung kepadamu karena aku tidak ingin kamu sedih"
Angel langsung menuju kamar Amanda. Kebetulan pintu kamar Amanda tidak tertutup jadi Angel bisa melihat dari luar kamar. Angel merasa sangat bersalah ketika melihat Amanda yang melamun ditemani Riko yang tengah menenangkan Amanda.
"Maaf ma, ini demi kebaikan kita semua"
...
12:00 malam. Angel keluar dari kamarnya menuju pintu rumah. Hari ini juga Angel akan meninggalkan rumah ini, walau dirasanya berat meninggalkan Kevin.
Rumah ini penuh dengan kenangan yang tidak mungkin Angel lupakan dan juga tidak ingin kembali lagi ke rumah ini.
Saat Angel ingin membuka pintu rumah. Riko yang merasa lapar ingin ke dapur melihat Angel yang ingin pergi selarut ini. Riko langsung memanggil Angel serta menghampirinya.
"Angel, kamu mau kemana?" Suara Riko membuat Angel terkejut. Angel langsung menoleh kebelakang.
"El mau pulang"
"Pulang? tengah malam seperti ini bahkan kamu tidak berpamitan kepada kami?"
Riko nampak terkejut mendengarnya apa Angel ingin pergi dari rumah ini karena Amanda meminta Angel untuk menikah dengan Arfan. Walaupun Angel menolak pastinya Amanda tidak akan mengusir Angel dari rumah ini dan Angel tidak perlu takut ataupun merasa bersalah.
"El ngga bawa apa-apa kok dari rumah ini, El cuma mau pulang" ucap Angel dengan nada takut. Angel tidak ingin Riko menuduhnya aneh-aneh terlebih dirinya pergi tanpa pamit.
Riko tersenyum tipis, bukan itu yang ia maksud. Riko tidak ingin Angel pulang malam-malam seperti ini.
"Sayang, bukan itu yang Papa maksud. Kamu sudah jadi bagian dari keluarga ini dan harusnya kamu pamit terlebih dahulu biar kita semua tidak khawatir lagi pula Papa bisa mengantarkan mu pulang"
"Maaf Pa, soalnya ada urusan keluarga yang mendadak dan aku tidak ingin mengganggu tidur kalian"
"Kamu nanti kembali lagi kan?"
"El ngga bisa janji"
"Ya sudah tidak apa-apa, kamu tunggu sebentar Papa ambil kunci mobil untuk mengantarmu"
"Tidak usah, El bisa pulang sendiri kok"
Walau ragu Angel mengatakan itu. Dia tidak ingin Riko mengetahui alamat rumahnya.
"Ini tengah malam El, mana ada Taxi yang lewat lagian papa khawatir sama kamu. Papa panggil pak Hasan saja yah"
"Tapi?"
"Tenang saja dia belum tidur, kamu tunggu disini"
"Iya"
Riko bergegas pergi mencari Pak Hasan dan sesuatu untuk Angel. Angel melihat ke sekeliling ruangan ini. Masih terbayang jelas kenangan indah yang ia lalui, saat dirinya mengomeli Arfan, kasih sayang Amanda sampai ketidak sukaan nya kepada Rio.
Tak berapa lama Riko kembali dengan supir. Hasan langsung keluar rumah untuk mengeluarkan mobil dari garasi. Riko membawa amplop coklat untuk diberikan ke Angel.
"El, baju kamu"
"Buat yang kerja disini saja Pa, El tidak ingin membawa apapun"
"Ya sudah tapi kamu harus ambil ini"
Riko langsung meraih tangan Angel lalu memberikan amplop itu kepada Angel. Angel mengerutkan keningnya.
"Pa, aku tidak bisa menggambil ini" Angel langsung menolak karena ini tulus untuk putranya dan dia tidak ingin upah atau apapun.
"Jangan anggap ini upah untukmu tapi ini aku berikan karena aku ini Papa mu dan aku akan sedih jika kamu tidak menerimanya"
"Terima kasih Pa" Dengan terpaksa Angel menerima pemberian Riko. Riko nampak senang Angel menerima pemberiannya.
"Sama-sama. Jaga dirimu"
"Papa juga tolong jaga Mama yah?"
"Pasti"
.
Dari balkon Rio melihat kepergian Angel. Rio berdiri di balkon sudah sangat lama, setelah mengatakan hal itu kepada Angel dirinya langsung menuju kemari.
Rio memperhatikan Angel yang masuk kedalam mobil. Rio sendiri yang meminta pak Hasan untuk terjaga agar bisa mengantar Angel pulang.
"Maaf" ucap Rio saat mobil itu mulai meninggalkan halaman rumah.
"Kamu sedang apa disini? jagain Kevin!"
"Tidak usah marah seperti itu, Kevin sudah tidur lagi. Dasar pemarah" gerutu Sena yang langsung pergi. Rio menghela napas panjang lalu masuk kedalam rumah, dirinya merasa sangat lelah.
...
Rumah Erik Jihan.
Angel merasa sangat senang bisa menginjakan kaki di rumah ini. Rasa rindu di dada ini tidak terbendung lagi, ingin rasanya Angel memeluk Ayah dan Ibunya.
Angel yang ingin mengetuk pintu mengurungkan niatnya. Jam segini pasti kedua orang tuanya sedang pulas-pulasnya tidur dan Angel tidak ingin membangunkan mereka.
Angel memilih duduk di kursi kayu lalu melipat kedua tangannya di atas meja untuk dijadikan bantal. Tak butuh waktu lama Angel pun tertidur dengan posisi yang tidak nyaman.
....
Sinar mentari kembali memunculkan sinarnya. Sinar hangatnya seakan memeluk semua makhluk hidup di bumi tercinta ini. Kicau burung yang bersahutan menambah kesan damai pagi serta angin yang berhembus pelan menambah sejuk hari baru ini. Hari yang lebih baik dari kemarin membawa harapan baru.
Rumah Jihan Erik. 05:30
Jihan membuka kunci pintu rumahnya dan seperti biasa dia akan langsung menyiram tanaman yang Angel tanam dihalaman. Saat menoleh kearah kanan Jihan terkejut melihat putri yang sangat ia rindukan tertidur di kursi teras dengan posisi yang tidak nyaman.
Jihan tidak tahu kapan putrinya pulang dan kenapa dia tidak mengetuk pintu padahal dirinya tidur di sofa ruang tamu. Jihan memang sudah lama tidur di ruang tamu, dia selalu menunggu putrinya pulang.
Dengan penuh kasih sayang Jihan membelai lembut wajah putrinya. Rasa rindu dan penantian ini akhirnya berakhir, putri kecilnya kini telah pulang.
"Sayang, ayo bangun" ucap Jihan langsung mengecup kening Angel membuat Angel perlahan membuka kelopak matanya.
"Ibu!"
Angel langsung memeluk Jihan dengan eratnya. Air mata ini tak bisa dibendung, rasa syukur dan kebahagiaan ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Angel sangat merindukan wanita yang telah melahirkannya.
"Sayang, kamu pulang kapan? kenapa kamu tidak memanggil ibu, ibu pasti akan membukakan pintu untukmu" Jihan melepas pelukannya. Tatapan hangat dari seorang ibu menyapa kedua mata Angel, senyuman yang penuh kasih sayang membuat Angel merasa aman.
"El tidak mau membangun kan ibu"
"Ya sudah kamu lanjut tidur dikamar yah"
"Bu, Ayah?"
"Ayah kamu sehat terus kok. Kamu tidak usah khawatir"
Jihan mengajak Angel memasuki rumah. Angel sangat rindu dengan rumah sederhana ini walaupun tak semegah rumah Rio atau pun Amanda tapi rumah ini punya semua kebahagiaanya.
Angel menghentikan langkahnya saat melihat orang yang sangat ia cintai keluar dari kamarnya.
"AYAH!" panggil Angel dengan senangnya, kedua kakinya berlari menghampiri Erik. Erik nampak senang melihat putri kesayangannya pulang. Erik merentangkan kedua tangannya.
"Sayang!"
Erik memeluk dengan erat malaikatnya. Erik sangat merindukan Angel dan juga merasa bersalah karena dirinya Angel harus berkerja untuknya. Jihan yang melihat kerinduan ini tersenyum kelegaan. Jihan melangkah menghampiri keduanya.
"Ayah sangat merindukanmu, manis ku"
"El juga merindukan kalian"
Jihan ikut memeluk Angel. Jihan berharap putranya tidak akan pergi lagi, hidupnya tidak berarti tanpa kedua orang yang sangat ia cintai.
Jihan teringat dengan Ayahnya pasti dia juga ingin melihat Angel akan tetapi tidak sekarang Angel butuh istirahat.
..
Angel membuka pintu kamarnya dan ia langsung terkejut saat kamarnya kini terlihat lebih berwarna dan juga banyak sekali boneka beruang juga tempat tidurnya kini terlihat sangat nyaman.
"Itu hadiah dari kakek mu" ucap Jihan yang kini didekat Angel.
"Kakek?"
"Bukan Kakek Ardi tapi kakek Ferdy, Ayahnya ibu. Dia mencari mu dan minta maaf karena baru sekarang menemui mu, maaf Ibu tidak menceritakan hal ini kepadamu sejak dulu"
"Tidak apa-apa yang penting El punya dua kakek"
Angel merasa senang mendengarnya. Melihat Angel yang bahagia seperti ini memupuskan rasa takut akan kemarahan Angel kepadanya.
"Kamu lanjut tidur gih sana"
"Iya"
...
06:00
Amanda duduk melamun dikamar Angel dengan secarik kertas yang ia pegang Amanda sangat sedih dengan kepergian Angel. Amanda tidak apa-apa bila Angel menolak akan tetapi dia tidak ingin Angel pergi dari sini.
Saat Angel bersamanya ia merasa sangat bahagia, bagi Amanda kehadiran Angel di rumah ini membawa kesan tersendiri.
"Kenapa kamu pergi, mama sudah menganggap mu putriku sendiri"
"Angel!" Arfan masuk sembari memanggil Angel. Dilihat dari wajahnya Arfan tidak tahu kalau Angel sudah pergi dari rumah ini.
"Mama?" Arfan terkejut melihat Amanda dikamar Angel dengan tatapan kesedihan. Entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Ma, Angel mana?"
Amanda tidak menjawab pertanyaan Arfan membuat Arfan semakin cemas.
"Ma?"
"Angel sudah pulang Fan" ucap Amanda dengan nada lemas. Arfan tidak percaya dengan ucapan Amanda barusan mungkin saja Angel ikut pergi ke pasar bersama bi Inda.
"Apa? Mama jangan bercanda deh, mungkin saja El sama bi Inda"
"Engga Fan, El benar pulang"
"Kata siapa? El ngga mungkin pergi tanpa pamit" Arfan tetap kekuh bahwa Angel masih dirumah ini. Amanda tahu putranya ini pasti tidak akan percaya Angel sudah pulang.
"Papa kamu yang bilang"
"Papa?"
"Iya, Angel pulang semalam diantar pak Hasan. Mama juga baru tahu tadi pagi. Mama juga tidak ingin Angel pergi dari rumah ini"
Arfan mengepalkan kedua tangannya. Ia tahu siapa yang menyuruh Angel pulang. Pasti Rio lah yang mengusir Angel dari rumah ini.
Arfan berdecak lalu pergi meninggalkan Amanda. Amanda tahu Arfan sangat marah tapi mau bagaimana lagi Angel sudah pergi dan dirinya juga tidak bisa membawa Angel kembali karena dirinya tidak tahu alamat rumah Angel. Kalau saja tahu hari ini juga Amanda akan pergi melamar Angel langsung dirumahnya dan dihadapan orang tua Angel. Amanda yakin Arfan sekarang sangat sedih.
"Angel kenapa kamu pergi, Arfan sangat mencintaimu"
.
Dengan penuh amarah Arfan mencari Rio. Arfan ingin menghajar Rio sampai dirinya puas. Entah apa yang dipikirkan Rio sekarang hingga tega-teganya mengusir istrinya dimalam hari dan bukan dia yang mengantarnya pulang.
"Rio!" panggil Arfan langsung saat berpapasan dengan Rio di depan ruang kerja Riko. Rio mengerutkan keningnya saat melihat Arfan yang penuh dengan emosi.
"Kamu yang nyuruh Angel pergi!"
"Tidak, mungkin dia tidak ingin tinggal di rumah ini" jawab Rio dengan biasa walaupun dirinya lah yang menyuruh Angel pergi.
"Ck jangan bohong! kamu itu tidak punya hati, kamu mengusir ibu anakmu sendiri, kamu mencampakan istrimu begitu saja?"
"Iya aku tidak punya hati, puas kamu sekarang? terima saja kenyataan kalau Angel menolak mu, jangan marah kepadaku! itu urusan mu dan Angel, aku tidak perduli!"
Rio kembali melanjutkan langkahnya. Arfan berdecak kesal seharusnya dia tidak menanyakan hal ini kepada Rio karena sikapnya yang seperti ini.
"Dasar tidak tahu malu!"
Di ruangan ternyata ada Riko yang mendengar semua pemtpicaraan kedua putranya. Wajah Riko terlihat sangat murka, yang ditakutkannya kini terjadi.
"Kenapa aku diberi putra yang memalukan seperti Rio?"
Riko sangat kecewa dan marah namun dirinya juga tidak boleh gegabah terlebih dengan kondisi Amanda yang mudah sekali drop, dia tidak ingin istrinya sakit namun Riko akan berusaha memperbaiki keadaan yang ada dan memastikan Angel mendapatkan haknya.
"Aku harus menunggu hingga hasil tes DNA itu keluar agar aku mudah membawa Angel kembali ke rumah ini"
Riko harus berhati-hati dalam melangkah agar Rio maupun Sena tidak mengetahui apa yang telah ia lakukan dan juga memastikan Angel tidak bertemu ataupun mendapat ancaman dari mereka berdua. Riko sangat mengenal Sena yang dapat mempengaruhi Rio dan juga Amanda pasti sangat mudah membuat Angel tunduk kepadanya.
"Aku tidak perduli dengan yang orang lain katakanlah, ini keluarga ku dan aku akan membawa menantuku pulang"
Riko tidak perduli dengan tanggapan orang lain yang mencela atau pun sebagainya saat mereka tahu Rio memiliki dua orang istri karena dirinya adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah yang ada dan memastikan setiap anggota keluarganya bahagia.
Rumah Jihan Erik/ kamar Angel.
Angel menatap keluar jendela, ia tengah memikirkan putra kecilnya dan sedang apa dia sekarang. Angel sangat merindukan malaikat kecil yang menggemaskan itu, andai ia padat membawanya pulang bersamanya.
Angel POV
Maafin Mama yah sayang, mama terpaksa meninggalkanmu. Ini yang terbaik untuk kita, mama yakin nenekmu akan menjaga mu dengan baik. Mama tidak bisa terus berada di rumah itu, setiap kali Mama melihat Papamu hati mama terasa sakit dan Mama juga tidak bisa menerima cinta Arfan. Mama tidak ingin keluarga itu hancur karena mama.
Aku menghapus air mata ini, air mata yang tak pernah kering dari mataku. Luka ini membuatku semakin kuat dari sebelumnya dan hati ini sudah memilih untuk melupakan semua kenangan yang berlalu. Aku berhak mendapat kebahagiaan ku sendiri.
POV End.
Jihan membuka pintu kamar Angel dengan membawa ponsel ditangannya. Jihan sedang melakukan panggilan video dengan Ferdy dan Ferdy ingin bertemu dengan cucunya.
"Sayang, ini kakek kamu telepon"
Angel langsung menghampiri Jihan. Jihan langsung mengarahkan layar ponsel ke Angel. Ferdy langsung menunjukan senyumnya, ia ingin sekali memeluk cucunya.
"Emmm... kamu mirip sekali dengan mamamu"
"Kakek"
"Iya ini aku, kakek mu. Maaf aku baru menghubungimu, kamu pasti sangat marah yah sama kakek?"
"Tidak, aku malah senang bisa melihat kakek. Apa aku masih punya nenek?" entah kenapa Angel malah bertanya seperti itu. Jihan tersenyum tipis bahkan dirinya tidak bisa bertanya dimana ibunya karena Ferdy yang melarang Jihan untuk bertanya tentang wanita yang melahirkannya.
"Kamu ingin bertemu dengannya?"
"Iya"
Terlihat Ferdy yang melangkah menyusuri lorong dan beberapa pintu. Angel menduga rumah Kakeknya ini cukup besar dan mewah?.
Angel menatap Jihan. Angel seakan meminta penjelasan tentang Ferdy dan kenapa dia baru menghubungi Angel, selama ini dia kemana?.
Ferdy mengarahkan kameranya ke wanita yang duduk di kursi roda dan dia sedang melamun.
"Ibu" Angel terkejut saat melihat Jihan yang menangis setelah memanggilnya. Jihan tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya.
"Yah, ibu kenapa?"
Ferdy tidak menjawab hanya melihatkan istrinya yang terdiam mematung. Ini kebenaran yang Ferdy sembunyikan, dirinya tidak ingin Jihan tambah sedih setelah mengetahui ibunya jadi seperti ini.
"Nenek!" panggil Angel dengan suara keras dan penuh keceriaan. Suara Angel sepertinya terdengar di telinga Neneknya, dia menoleh kerah ponsel.
"Tadi suara siapa?" tanyanya dengan lemas. Ferdy melangkah mendekati istrinya terlihat jelas dalam gambar. Jihan bergeser dari samping Angel agar ibunya tidak melihatnya menangis.
"Kamu?"
"Ini Angel, cucu nenek"
Senyuman dan wajah ceria Ange membuat lawan bicaranya ini ikut tersenyum. Jihan yang melihat dari jauh ikut tersenyum melihat ibunya.
"Sayang kamu cantik sekali"
"Masih cantikan Nenek, apa rahasianya?" pertanyaan Angel membuat neneknya terkekeh pelan. Ferdy yang melihat istrinya kembali "hidup" berucap syukur didalam hatinya, andai dari dulu dirinya mencari Jihan mungkin istrinya tidak seperti ini.
"Kamu ini, lucu banget nenek jadi ingin cubit pipi kamu"
"Jangan nek, Natar tambah melar. tuh kan udah kek ikan butal"
Angel mencubit pipinya sendiri. Angel senang neneknya tidak sedih seperti tadi.
"Ibu kamu mana?"
"Ibu minder kalah cantik sama nenek" ucap Angel dengan jahilnya membuat orang di samping nya ini mencubit pinggang nya.
"Ih sakit! nek, ini ibu nakal"
"Jihan" panggilan itu membuat Jihan melihatkan dirinya. Ibu Jihan terlihat sangat senang melihat Jihan.
"Ibu, sehatkan?"
"Iya, ibu sehat. Aku sangat merindukan kalian bertiga, kalian tinggal disini yah? ini juga rumah kalian"
"...."
********