Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 10 KAMU HAMIL?



08:30 malam


Arfan yang ingin menanyakan sesuatu ke Rio tentang pekerjaan membawa beberapa map. Arfan mencari keberadaan Rio yang tak ada di kamarnya.


"Kak Rio di mana?"


Arfan berkeliling dilantai dua tapi tidak menemukan Rio. Arfan yang nampak frustasi memutuskan menanyakan keberadaan Rio ke Amanda dan Riko yang berada didalam kamar.


tok..tok..tok


Arfan mengetuk pintu kamar orang tuanya dan tak lama terdengar suara langkah kaki.


"Ma, Kakak pulang yah?" tanya Arfan langsung ke Amanda.


"Rio masih disini, dia pulangnya besok. Memangnya ada apa?"


"Arfan mau tanya sesuatu sama kakak"


Riko yang penasaran dengan obrolan putranya dan istrinya langsung berjalan menghampiri mereka berdua.


"Ada apa, Fan?"


"Nyari kak Rio, Pa"


"Rio dilantai bawah"


"Wah makasih Pa"


Arfan langsung bergegas kelantai bawah dan diikuti Amanda dan Riko yang juga ingin berkumpul dengan Rio yang sudah lama tidak berkunjung kerumah ini.


Setalah tiba dilantai bawah tepatnya diruang tengah ketiganya mendapati Rio yang asika bermain PS dengan ditemani beberapa cemilan. Ketiga orang ini kembali dibuat tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata, Rio yang bisanya mengurung diri diruang kerja dan biasanya kaku plus serius kini teihat lebih santai.


"Kak Rio?" panggil Arfan. Rio langsung menoleh kearah Arfan dan terfokus pada map yang Arfan bawa.


"Ngapain kamu bawa itu? ini hari libur manfaatkan waktu sebaik mungkin! mending temenin main PS udah lama jugakan?"


Arfan tersenyum senang akhirnya bisa bermain PS lagi dengan Rio. Amanda dan Riko tak bisa menyembunyikan rasa senang diwajah mereka, keduanya duduk disofa dibelakang kedua anaknya.


"Ayo siapa takut! kak Rio pasti kalah!"


"Silakan bermimpi adikku!"


Arfan meraih stik PS dan langsung bermain PS bola melawan Rio. Mereka berdua sudah lama tidak bermain bersama dan kesempatan ini mereka ingin menghabiskan waktu bersama seperti jaman mereka kecil yang belum mengenal kerjaan kantor.


Amanda dan Riko tidak tinggal diam, mereka berdua memberikan penyemangat kepada keduanya.


"Kamu payah Fan!" ejek Rio yang berhasil membobol gawang Arfan. Arfan hanya mencibir dan bersemangat membalas gol yang tadi.


"Ck. Kak! kenapa jadi hebat gini sih?" kesal Arfan yang bolanya selalu direbut oleh Rio padahal sedikit lagi dirinya akan mencetak angka.


"Kamu mengakui kalau aku hebat?" ucap Rio dengan sombong.


"Iihhh. Nggak nyangka, aku kira kak Rio cuma bisa ngetik keyboard laptop saja!"


"Rio gitu!"


"Serah dah" pasrah Arfan, menurutnya Rio adalah panutan yang sangat hebat. Sejak duduk di bangku SD Arfan sangat mengagumi Rio hingga sekarang.


Waktu terus berlalu di ruang tengah tinggal Arfan dan Rio sedangkan orang tua mereka sudah pergi kekamar dari tadi.


"Kak! biarin aku menang sekali kek!" rengek Arfan ke Rio yang dari tadi kalah terus.


"Ayo dong jangan nyerah gitu! kamu kan sudah besar masa aku harus mengalah sih?"


"Yah kakak mah!"


"Da- -"


Rio yang ingin berbicara diganggu oleh panggilan masuk ponselnya.


"Aku mau angkat telefon dulu, awas kalau kamu curang!!" ancam Rio langsung pergi menjauh dari Arfan. Rio tidak mau satu orang pun yang mendengar pembicaran ini.


Setelah dirasa aman Rio pun mengangkat telepon dari Angel.


"Halo sayang, kok berlum tidur" ucap Rio memulai pembicaraan.


"Kalau aku tidur mana mungkin aku telefon kamu!" Jawab Angel dengan nada kesal.


"Ampun sayang, Sudah malam tidur gih!" suruh Rio dengan nada halus.


"Ini juga aku mau tidur tapi kamu juga harus tidur, istirahat!"


"Iya sayang ku, ada lagi?"


"Nggak ada, cepat tidur selamat malam"


"Malam juga sayang. Mimpiin aku yah?"


"OGAH!" jawab Angel dengan lantang dan langsung mematikan sambungan telefonnya. Rio terkekeh pelan pastinya yang disebrang sana sudah menggembungkan kedua pipinya.


"Dasar kamu, sebaiknya aku kembali sebelum tuh anak curang"


Rio langsung bergegas kembali keruang tengah dan mendapati Arfan yang tengah mengutak atik stik PS.


"Wah curang kamu!"


Arfan yang ketahuan langsung menoleh kearah Rio seraya menunjukan deretan giginya.


"Ampun kak, tadi siapa?"


"Istrilah siapa lagi"


"Oohh"


"Oh lagi? kapan kamu menikah?" tanya Rio dengan penuh penekanan. Arfan sekarang sudah cukup dewasa dan juga umurnya yang sudah 23 tahun harusnya Arfan sudah mengenalkan pacarnya kekeluarga tapi sepertinya Arfan masih ingin sendiri.


"Belum nemu kak"


"Heh? kamu kira apaan? kucing apa nemu? dasar kamu ini!"


Arfan hanya tersenyum sedangkan Rio menggelengkan kepalanya, entah apa yang membuat Arfan terlalu pemilih untuk urusan teman hidup semati.


"Ya elah kak! ini itu untuk selamanya, aku mau satu orang untuk selamanya dan aku mau istriku nanti menerimaku apa adanya! tidak menuntut ku lebih"


"Iya, terserah kamu! ayo main lagi atau kamu sudah mengantuk?"


"Aku kerja aja bisa sampai jam dua pagi apa lagi ini, bisa sampai malam lagi dan aku tidak akan berhenti bermain sebelum kak Rio kalah!!" ucap Arfan dengan penuh penekanan. Rio hanya menganggukkan kepalanya menyahuti ucpan Arfan yang terdengar sangat ambisius ingin mengalahkannya.


Hanya keseruan yang nampak jelas. Detak jam dinding tidak dihiraukan padahal ini sudah jam sebelas malam tapi mereka berdua masih mengutak atik stik PS. Permainan video game memang membuat siapa saja kecanduan.


Waktu terus berlalu hingga tak terasa sudah pagi lagi. Amanda menuruni tangga, hari ini dia ingin memasak sarapan yang istimewa untuk kedua anaknya. Sebelum menuju kedapur Amanda penasaran kedua anaknya masih berada diruang tengah atau tidak karena itu Amanda menuju ke ruang tengah. Betapa terkejutnya Amanda saat melihat kedua putranya masih diruang tangah dengan kondisi mata yang terpejam. Arfan tidur di sofa sedangkan Rio berbaring diatas permadani yang cukup membuat tidurnya nyenyak. Amanda menggelengkan kepalanya lalu membangunkan Rio.


"Rio, bangun nak! jangan tidur disini!"


Amanda menepuk-nepuk pipi Rio beberapa kali hingga akhirnya Rio membuka mata.


"Mama?"


"Pindah ke kamar gih!"


"Iya Ma..... hoaamm"


Rio terduduk mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu. Rio menoleh kearah sofa tepatnya ke Arfan yang tertidur pulas. Bermain PS semalaman sungguh membuat tubuh lelah karena terlalu banyak duduk.


...08:00


Rio menuruni anak tangga, sekarang Rio sudah mandi dan berganti pakaian. Ia ingin segera pulang menemui Angel, entah kenapa dirinya merindukan suara cempreng Angel.


"Mama"


"Kamu sayang, mau pulang sekarang?"


Tanya Amanda saat melihat Rio yang sudah rapi seperti ini. Rio hanya mengangguk lalu duduk dikursi. Amanda langsung mengambil piring Rio dan mengisi piring itu dengan hidangan yang ada.


"Sena sudah lama tinggal sama mereka?" tanya Amanda memulai obrolan. Terselip sedikit kekhawatiran dihati Amanda tentang menantunya, sejak awal Rio memperkenalkan Sena kepadanya Sena sudah menunjukan sifat aslinya yang tidak mau mengalah dan semaunya sendiri. Sebenarnya Amanda tidak setuju tapi mau diapakan lagi putranya sangat mencintai Sena dan pastinya Rio juga akan terluka kalau dirinya tidak merestui.


"I..iya Ma"


Rio merasa tak enak dikala harus berbohong kepada Amanda ibu kandungnya sendiri tapi dia juga ingin melindungi istri yang sangat ia cintai.


"Kalian tidak berantemkan?" Amanda terlihat semakin khawatir membuat Rio merasa tidak enak kepada Amanda yang terlihat begitu mencemaskan hal yang tidak ada terlebih sekarang pastinya Sena sedang berkeliling kota Paris dengan fasilitas super mewah.


"Nggak kok Ma, Sena cuma kangen sama orang tuanya"


"Terus kenapa kamu tidak ikut?"


"Perkerjaan Rio masih banyak, Ma dan kalau Mama nanya lagi terus kapan Rio selesai makannya?"


"Eh? ya sudah kamu terusin makannya! Mama mau bangunin adik kamu"


"Kalau Arfan susah dibanguninnya, siram aja Ma sama air!"


"Kamu ini masih saja yah??!!"


Rio hanya menunjukan deretan giginya. Amanda menggelengkan kepalnya, Rio masih saja usil kepada adiknya.


"Maafin Rio, Ma"


Rio menghela napas sekali lalu melanjutkan makannya.


Setelah membangunkan Arfan, Amanda kembali kedapur. Rio sendiri sudah menghabiskan sarapannya tinggal menelan vitamin yang Angel belikan.


"Itu apa?"


"Vitamin Ma"


"Vitamin? tumben, dulu mama belikan kamu nggak mau nyentuh sama sekali dan sekarang?"


"Kalau sekarang bisa-bisa diomelin terus seharian kalau nggak nelan ini!" ucap Rio sembari melihatkan botol vitaminnya.


"Diomelin siapa?"


"Mama masa nanya sih?" Rio menatap jahil ke arah Amanda.


"Maksud kamu apa?"


Amanda masih belum tahu apa maksud Rio. Rio melihat Ayahnya yang berjalan menghampiri. Rio ingin berbuat usil sebelum dia pulang.


"Tanya saja sama Papa"


"Ada apa ini?" tanya Riko yang heran melihat wajah istrinya yang nampak serius.


"Ini Rio, dia sering di omelin tapi sama siapa?"


Riko menatap datar Amanda. Amanda benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.


"Sama Mama"


"Mama nggak pernah ngomelin Rio. Mama sayang sama Rio!" kekuh Amanda.


"Bukan Mama tapi yang satunya! sayang ku yang suka ngomel!"


Sekarang Amanda tahu apa yang dimaksud oleh Rio dan Riko yaitu Istri. Amanda menatap kesal Riko sedangkan Riko hanya menunjukan deretan giginya tapi kalau seperti itu berarti Sena sudah mulai berubah?.


"Sekarang istrimu itu sudah perhatian sama kamu?" Tanya Amanda dengan nada yang masih tidak percaya.


"Duh! Rio harus buru-buru pulang. Maaf yah Pa.. Ma, salam buat Arfan!"


Rio langsung pergi tanpa mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya. Rio takut akan mengucapkan kebohongan lagi.


..


Angel terus melihat kedalam rumah makan itu dan tertulis disepanduk nama warung makan itu "Warung nasi bu JIHAN".


"Angel kangen sama ibu, maaf Angel bukan anak yang baik! Maafin Angel. Angel mohon"


...Warung nasi bu Jihan


Warung nasi yang sudah lama berdiri dan sudah banyak pelanggannya masih tetap mempertahankan cita rasa dan tidak pelit akan porsinya membuat warung makan ini sahabat kantong tipis para pekerja harian. Pemiliknya yang ramah menambah nilai plus, walau tempat ini tidak terlalu besar namun kebersihan dan kenyamanannya jadi hal yang sangat diperhatikan.


"Bu, boleh minta sambalnya lagi nggak?"


"Boleh" jawab Jihan pemilik warung makan ini. Jihan langsung mengambilkan samabal yang diminta oleh pelangannya walau harga cabai yang melambung tinggi tapi diwarung ini tidak ada penambahan uang tambahan.


"Harga cabai lagi naik nih, bu. Jadi tambah berapa nih?"


"Nggak usah ini mah gratis asal jangan diminta semua samabalnya ntar yang lain nggak kebagian"


"Ah ibu mah bercanda aja, eh tapi saya dari kemarin nggak lihat anak ibu deh?" Pertanyaan dari pelangannya membuat Jihan teringat dengan kondisi Angel sekarang.


"Oh itu, lagi kerja"


"Pantesan"


Rasa rindu didada kini mulai terasa kembali. Perasaan khawatir juga cemas membuat tidur tidak nyenyak dan makan pun terasa hambar memikirkan anak sematawayangnya yang berkerja jauh dari dirinya.


Jihan melihat kearah luar warung. Dirinya terkejut melihat siapa yang berjalan di depan warungnya. Jihan langsung ke luar warung mengejar seorang yang sangat ia rindukan.


"ANGEL!!" teriaknya dengan kencang membuat gadis didepannya ini berhenti melangkah.


"Angel itu kamu nak?"


Jihan berjalam mendekati gadis yang tengah membelakanginya.


"Kamu nggak kangen sama ibu?"


Gadis itu menoleh lalu memeluk Jihan dengan erat.


"Angel kangen sama ibu!"


Angel menangis dipelukan Jihan. Lekuk senyum dibibir Jihan kini muncul kembali setelah sekian lama tidak berjumpa dengan putri kecilnya.


"Jangan nangislah kamu ini sudah dewasa!"


Jihan melepas pelukannya begitu juga Angel. Jari jemari Jihan menghapus air mata di pipi Angel.


"Kamu habis belanja?" tanya Jihan saat melihat keranjang belanjaan Angel.


"Iya bu"


"Terus kenapa kamu tidak mampir?"


"Abisnya ibu kelihatan sibuk banget"


"Alasan saja kamu ini! mampir sebentar yah?"


"Sebentar saja! ibu bungkusin makanan kesukaan kamu jadi kamu tidak usah masak"


Jihan menaik tangan Angel ke dalam warung makannya.


..Rumah


Untuk kesekian kalinya Rio menghela napas. Rio berulang kali menelfon Angel tapi tidak diangkat. Rio sendiri baru pulang dari pasar, rencananya Rio ingin memberi kejutan untuk Angel namun sudah tiga kali Rio memutari pasar tapi tidak bertemu dengan Angel.


"Kemana sih! anak itu hobinya bikin orang cemas!"


Rio yang tidak tenang memutuskan mencari Angel dipasar lagi. Rio meraih kunci mobilnya lalu bergegas keluar rumah.


Rio yang ingin masuk kedalam mobil mengurungkan niatnya saat tukang ojek daring menurunkan seorang yang Rio cari.


Angel baru pulang langsung disambut tatapan tidak enak dari Rio. Didalam hati Angel bertanya-tanya apa Rio sudah pulang dari tadi?.


"Kak Rio sudah pulang?"


"Dari mana saja kamu?" Rio langsung menanjakan tentang kepergiannya dengan nada tegas membuat Angel merasa ketakutan.


"Habis dari pasar" jawab Angel jujur namun nampaknya Rio tidak percaya semudah itu.


"Pasar? aku tadi nyari kamu ke pasar tapi kamu tidak ada"


"Bukan pasar yang biasa jadi wajar kalau kak Rio nggak menemukanku disana"


Brak..


Rio menutup pintu mobil dengan satu hentakan tangan membuat Angel terkejut sekaligus takut. Tanpa berucap sepatah kata pun Rio berjalam pergi meninggalkan Angel.


"Apa aku tadi kelamaan ngobrol sama ibu yah?"


Angel berjalan memasuki rumah dengan perasaan was-was. Semalam tidak bertemu dengan Rio membuat sifatnya berubah.


"Aku harus gimana?"


Angel bingung harus berbuat apa kalau Rio benar-benar marah. Angel melangkahkan kakinya memasuki rumah dan baru dua langkah Rio memeluknya dari belakang.


"Aku khawatir sama kamu! kenapa telefon dari aku tidak diangkat?"


"Pasarkan ramai jadi nggak kedengeran, kak Rio marah?"


"Aku marah tapi kalau kamu ijinin aku itu aku nggak marah lagi!"


"Ih kamu yah!! lepas!"


"Nggak mau!!"


"RIO!" ucap Angel dengan nada geregetan. Rio membopong tubuh mungil Angel menuju kamar.


...12:45 siang..


Rio berjalan menuju meja makan yang telah tersedia hidangan yang sangat menggugah selera bahkan perut Rio seketia merasa lapar saat melihat ini semua.


"Wah sayang. Pasti ini enak banget!"


"Ambil sendiri nasinya, aku lagi manasin sayur"


"Siap bos ku"


Rio memakan masakan Angel dengan lahap. Angel yang baru selesai memanaskan sayur ikut makan bersama Rio. Aroma dari sayur yang baru Angel panasi menusuk hidung Rio.


"Itu apa?" tanya Rio sembari menunjuk mangkok kecil di hadapan Angel.


"Semur jengkol"


"Hah apa? semur jengkol? jengkol kan bau sayang!"


"Ih nggak ini nggak bau, cobain deh!"


Rio langsung menggeleng dengan cepat. Rio tidak pernah memakan jengkol sebelumnya terlebih bau menyengat dari jengkol sangatlah mengganggu.


"Dikit aja!"


Angel menyodorkan secuil jengkol berserta nasi kedepan mulut Rio. Rio menutup mulutnya rapat-rapat.


"Oh jadi kamu mau tidak dijatah malam ini?" ancam Angel dan membuat Rio terpaksa menerima suapan Angel.


Satu kali kunyah jengkol ini terasa empuk dan aroma dari rempah menetralkan aroma jengkol itu sendiri.


"Enakkan?"


"Lumayan lah"


"Habiskan!"


Angel meletakan beberapa potong jengkol dipiring Rio membuat Rio mengeluh tapi ia harus memakannya.


"Yah?"


"Tinggal makan juga! ini nggak akan bikin kamu keracunan!"


"Tapi entar bau mulutnya!"


"Makan permen!" jawab Angel singkat dan padat membuat Rio mendengus kesal.


...


Waktu yang berlalu bak angin yang berhembus, berlalu dengan cepat. Malam terasa sangat singkat dirasa. Matahari kini menampakan sinarnya memulai hari.


Angel tengah memasang dasi di kerah kemeja Rio namun tiba-tiba perutnya terasa mual. Rio yang menyadari perubahan Angel langsung khawatir.


"Kamu kenapa?"


"A--"


Angel tidak bisa meneruskan pekataannya. Perutnya benar-benar sangat mual dan rasanya ingin mu*tah. Angel berlari ke kamar mandi. Rio yang khawatir menyusul Angel.


"Sayang?"


Rio dengan sigap memegangi rambut Angel yang tergerai dan tangan satunya memijat leher Angel.


Angel terus saja mual bahkan air mata Angel berlinang. Angel membasuh mulutnya dan perutnya masih terasa tidak nyaman.


"Aku nggak apa-apa, kamu tidak usah khawatir. Katanya ada rapat? buru gih berangkat!" Angel terpaksa berbohong. Perutnya masih terasa sakit dan mualnya masih terrasa. Angel menunjukkan senyumnya menandakan kalau dirinya tidak apa-apa. Rio tahu semua yang dikatakan Angel itu bohong, wajah Angel terlihat sangat pucat.


"Kamu jangan bohong! aku temani kamu lagian ini sudah waktunya adikku untuk menunjukkan kemampuannya! apa kamu hamil?" tanya Rio membuat Angel bingung harus jawab apa, dirinya juga tidak tahu apakah dirinya hamil atau tidak.


Rio membuka lemari kecil didekat gantungan baju. Rio mengambil sesuatu dari dalamnya.


"Cek gih! itu cara pakainya ada di kemasan"


Angel menerima alat tes kehamilan dari Rio. Rio berjalan pergi keluar kamar mandi dengan harapan agar hasilnya positif jadi dirinya tidak usah berpura-pura seperti ini lagi dan Sena kembali kepelukkannya.


Setelah Rio pergi Angel melihat kemasan itu dan tertera cara pemakaiannya. Angel berharap kalau ini hasilnya positif dan itu berarti tinggal sembilan bulan lagi untuk dirinya bisa pulang kembali kekeluarga yang ia sangat cintai.


...


Rio tidak bisa tenang bahkan dirinya berjalan mondar-mandir seperti setrikaan menunggu Angel keluar kamar mandi.


"Sayang sudah belum?" tanya Rio dari depan kamar mandi. Berselang lima menit Angel keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lesu.


"Gimana hasilnya?"


"Maaf kak, garisnya masih satu" Angel melihatkan alat tes kehamilan itu ke hadapan Rio. Rio merasa kecewa namun apa boleh buat mungkin Tuhan belum menghendaki Angel hamil.


"Nggak apa-apa, tapi kalau kamu tidak hamil lantas kenapa kamu mual-mual seperti itu?" tanya Rio heran, Angel hanya menggeleng.


"Ke dokter yah? aku khawatir" bujuk Rio dengan wajau penuh akan kecemasan terlebih saat melihat wajah Angel yang sangat pucat.


"Nggak usah, bentar lagi sembuh kok!"


Rio tahu Angel tidak mau merepotkannya tapi tetap saja Rio khawatir dengan kondisi Angel sekarang. Rio yang tidak mau berdebat dengan Angel langsung membopong tubuh mungil Angel.


"Kak Rio turunin!!"


"Nggak! kalau tidak seperti ini kamu tidak akan mau!"


Angel memasang muka cemberut dan tatapan yang tidak enak dilihat tapi Rio tidak perduli yang terpenting Angel harus ditangani dokter sebelum terjadi apa-apa yang lebih parah. Ini sudah jadi kewajiban Rio sebegai seorang suami.


..


Sudah tiga puluh menit di ruang periksa dokter dan Rio mendengarkan dengan baik apa yang dokter katakan tentang penyakit yang membut Angel mual-mual seperti tadi. Angel menundukan kepalanya, rasa nya malu sekali pasti dirumah dirinyakan diomeli habis-habisan oleh Rio.


"Oh jadi begitu, asam lambung istri saya naik?" ucap Rio sembari melirik kearah Angel.


"Iya, saya akan kasih resep obat nanti bisa ditebus diapotik dan awasi juga pola makannya supaya lekas sembuh dan jangan dulu makan pedas"


"Iya dok, terima kasih"


Rio dan Angel pun keluar ruang periksa dokter. Perasaan Angel sekarang was-was ia takut di "terkam" oleh Rio.


"Kamu tunggu disini"


"iya"


Rio pergi menuju apotik rumah sakit setelah itu membeli roti dikantin rumah sakit.


mobil Rio


Angel tengah memakan roti yang Rio belikan namun sepertinya Angel tidak napsu makan.


"Siput saja makannya cepet nggak kayak kamu!" sindir Rio tapi Angel tidak perduli.


"Kemarin siapa yang ngomel nggak jelas? nyuruh ini nyuruh itu nggak boleh ini nggak boleh itu jaga kesehatan tapi sekarang siapa yang sakit?"


"Tauah! malas tahu makan sendirian!" jawab Angel jujur. Rio yang sudah seminggu lebih tidak makan dirumah dan pulang larut malam membuat Angel malas memasak dan Angel hanya memakan cemilan dan beberapa buah.


"Alasan saja kamu!"


"Iih beneran!"


"Ntar kalau aku tinggal kerja diluar negeri bisa-bisa kamu cuma tinggal kulit sama tulang eh ralat melihat tubuh kurusmu itu mungkin tinggal nama saja saat aku pulang!"


"Iiihhh nyebelin!! ini itu langsing bukan kurus!"


"Langsing dari mananya? tubuh kamu itu kurus kek peraga kerangka manusia"


"Haaa kak Rio nyebelin!!!"


Rio menoleh langsung memeletkan lidaunya seakan mengekek Angel. Angel yang sudah sangat kesal akhirnya membuang muka.


"Ngambek terus sampai besok!" sindir Rio dengan jahilnya.


...


kamar 18:30


Rio tengah membujuk Angel untuk makan tapi Angel tidak mau. Sekarang Angel tengah berbaring dikasur dengan selimut menutupi seluruh tubunya.


"Sayang ayo makan!"


"Nggak mu!"


"Dikit saja, aku mohon ntar aku beliin boneka beruang kalau kamu mau makan"


Setelah mendengar kata "boneka" Angel langsung terduduk dan lucunya Angel langsung membuka mulutnya.


"Dasar kamu ini! dengar kata boneka langsung mau yah!!"


Rio langsung menyuapkan sesendok nasi ke mulut Angel. Rio merasa lega akhirnya Angel mau makan.


"Tapi benerankan, nanti dibelikan boneka?"


"Iya sayang"


Rio meras seakan dirinya punya anak yang sangat manja. Angel tak bisa mengungkiri kalau Rio sangat baik kepadanya dan entah kenapa dirinya ingin terus bersama Rio.


Drrtt


Drrttt


Suara dari ponsel Rio membuat kedua orang ini terganggu. Rio tidak menghiraukan suara ponselnya dan masih fokus menyuapi Angel tapi Angel ingin Rio mengangkat panggialan telefon itu, kali saja penting.


"Angkat saja dulu kali saja penting, mungkin itu dari kak Sena? ntar ngambek loh?"


"Bentar yah"


Rio memgambil ponselnya lalu pergi keluar kamar. Rio berjalan cepat menjauh dari kamar dan untung saja dirinya menuruti ucapan Angel. Wajah Rio terlihat sangat senang mengetahui Sena lah yang menelefonnya.


"Halo sayang, gimana kabar kamu?"


"Nggak usah nanyain kabar! Angel sudah hamil atau belum?"


Rio mengelus dadanya belum apa-apa Sena sudah berbicara seperti ini dan tak mengerti apa yang dirinya mau padahal rasa rindu ini sangat menyiksa.


"Sayang, aku kangen sama kamu"


"Bisa nggak kamu fokus? atau kamu betah lama-lama sama "daun muda" atau kamu nggak cinta lagi sama aku?"


Deretan kata-kata itu membuat hati Rio tergores. Sekian lama bersabar dan berharap Sena mau mengerti dirinya pupus sudah, Sena seakan tidak pernah mengerti betapa dirinya mencintainya lebih dari siapa pun.


"Sayang, dulu kamu juga tiga bulan baru hamil kan?"


"Ck! kamu menyindir aku?"


"Maksud kamu apa?"


"Bilang saja kamu mau nyalahin aku karena aku tida bisa menjaga kehamilanku dulu! kamu sekarang mirip sama ibu kamu!"


Luapan emosi dari sebrang sana membuat Rio tidak tahu harus berucap apa terlebih emosi itu telah menyebut nama wanita yang melahirkannya.


"Sayang kamu salah paham"


"Terus apa? kamu mau menceraikan ku setelah kamu menikah dengan gadis bau kencur itu?? kamu ketagihan sekarang, hah!!"


Tangan kiri Rio mengepal dengan erat seakan meluapkan amarahnya. Rio sebisa mungkin menahan emosinya yang semain membara kalau emosi ini terlepas akan memperburuk keadaan. Walau Rio merasa tidak bersalah dan pernikahan kedua ini bukan dirinya yang minta tetapi Sena lah yang mengatur semuanya tapi dengan hati yang lapang Rio menerima amarah Sena ini. Rio mencoba berpikir positif kalau Sena khawatir dirinya akan menaruh hati ke Angel makanya Sena jadi seperti ini.


"Aku cuma cinta sama kamu, kamu harus percaya itu!!"


...***...***