Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 30 Terpaksa kembali



Ruang kerja Rio


Rio tengah mengetuk ujung pulpen dimejanya. Rio masih teringat air mata Amanda dimatanya juga semua kelakuan Sena. Rio tersadar bahwa dirinya sudah terlalu mencintai Sena hingga dirinya tidak bisa berpikir jernih.


"Hufff... ternyata aku selama ini dibutakan cinta? tapi aku tidak bisa menceraikan Sena begitu saja pasti dia akan menyakiti Angel"


Rio mendesahkasar. Rio bingung bagaimana menceraikan Sena. Rio memang masih cinta kepada Sena tapi semakin kesini Sena semakim membuatnya menyadari Sena cuma mengincar hartanya saja bahkan telinganya sering mendengar Sena mengatakan Arfan akan merebut semuanya dari dirinya tapi saat melihat Arfan yang hanya memperdulikan Amanda saja dan bahkan Arfan bilang keRiko bahwa dirinya akan pergi dari rumah kalau memang dirinya tidak diinginkan lagi kehadirannya dirumah mewah itu.


"Aku harus bagaimana? apa aku membuat Sena mencerikanku? iya itu yang harus aku lakukan"


Rio menggambil ponselnya mengirim pesan kepada Angel bahwa Sena akan menjemputnya besok.


"Ma, kali ini Rio tidak salah pilih. Maafin Rio yah"


Rio meraih telefon rumah untuk menghubungi bi Inda. Rio memencet nomer 8 yang langsung terhubung di telefon kamar bi Inda.


"Iya den, ada apa?"


"Bi tolong besok bersihkan kamar yang didekat dapur yah, Angel bakal tidur disana"


"Non Angel mau tinggal disini tapi non Sena?"


"Jangan khawatirkan Sena. Aku hanya ingin memperlakukan Angel seperti semestinya dan bibi maukan jagain Angel kalau Sena kasar keAngel bibi bilang saja"


"Iya den ada lagi?"


"Tidak ada"


Rio langsung menutup sambungan telefonnya. Rio melihat dilayar ponselnya ada pesan masuk dari Angel yang isinya Angel mau kembali kerumah itu lagi. Dalam hati Rio berucap syukur dan Tuhan juga membantunya mempersatukannya dengan Angel.


"Umm apa aku kasih hadiah ke El yah, tapi apa?"


...


Rumah Angel


Angel menguatkan hatinya untuk kembali kerumah itu. Hanya ini yang bisa dilakukannya terlebih mana mungkin keluarganya mampu menbayar uang sebanyak itu.


Angel keluar kamar untuk menemui kedua orang tuanya. Angel ingin menyampaikan bahwa dirinya akan kembali bekerja.


"Maaf kami merepotkanmu terus anakku"


"El senang bisa membatu kalian, doain El sehat terus yah?"


"Iya sayang"


...


Malam telah berganti pagi memberi harapan baru dan senyuman baru. Angel tenggah memegang cincin lamaran Rey. Angel tidak berniat membawa cincin ini karena takut Sena akan mengira cincin ini pemberan Rio.


"Aku masih istrinyakan?"


Angel berharap Rio tidak kasar lagi kepadanya. Angel melihat jam dinding yang menunjukan pukul delapan pagi itu berarti Sena sudah ada didepan rumahnya. Angel buru-buru keluar kamar sebelum keluar rumah Angel berpamitan dengan Jihan dan Erik. Mereka berdua berat melepas Angel dengan beban berat dipundaknya.


"Jaga diri kamu"


"Kalian juga"


..


Angel berlari menuju mobil putih disebrang jalan dan terlihar Sena yang tengah bermain ponsel.


"Ck, lama banget sih! apa kamu mau berubah pikiran kalau iya aku akan bilang keAyah kamu itu kalau putri kesayangannya sudah menikah tanpa restu pasti Ayah kamu itu akan kena serangan jantung terus"


Sena mengantungkan ucapannya lalu mengibaskan tanganya dibawah leher yang berarti kematian. Angel tidak habis pikir ada perempusn seperti Sena didunia ini.


"Aku tidak berubah pikiran"


"Baguslah kalau begitu, cepat masuk!"


...


Rumah Rio/Sena


Sejak semalam asisten rumah tangga disini tengah membicarakan istri kedua Rio ya siapa lagi yang mulai duluan yaitu Bi Inda. Bi Inda juga berpesan kepada semuanya agar berita ini tidak sampai bocor keluar dan mereka pun mengiyakan terlebih mereka takut "diterkam" oleh Sena.


Bi Inda menghampiri Rio yang tengah membaca koran. Bi Inda ingin memastikan Angel jadi datang atau tidak.


"Den, non El?"


"Bibi ngga sabaran banget, aku yang suaminya tidak seperti ini"


"Ya elah den, denkan punya satu lagi"


Rio melirik kerah bi Inda membuat bi Inda menunduk.


"Bibi ini. Bi, Rio boleh minta tolong ngga?'


"Minta tolong apa den?"


"Nanti saat El sampai bibi pengaruhi El agar betah disini sama menyemangati El untuk merebut posisi nyonya muda disini"


Bi Inda tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rio barusan sampai sampai mulut bi Inda terbuka lebar sangking tidak percayanya.


"Den Rio mau menceraikan non Sena?" tanya bi Inda dengan nada tidak percaya padahal setahu bi Inda hanya non Senalah yang dicintai Rio bahkan rasa cintanya kepada Sena melebihi rasa cinta kepada wanita yang melahirkannya.


"Bukan Rio tapi Senalah yang akan menggugat ceraiku. Bibi sudah paham?"


"Sudah den. Kalau dulu den Rio ketemu sama non Angel pasti sekarang den sudah bahagia"


"Iya bi. Jangan sampai Sena tahu yah? ini hanya antara kita berdua"


"Iya den siap, bibi mau lanjut beres-beres"


"Iya"


...


Mobil Sena memasuki halaman rumah tapi bukan rumah yang kemarin Angel tempati. Rumah ini bak istana dinegri dongeng.


"Kamu akan tinggal serumah denganku jadi aku bisa mengawasi mu terus"


Angel tahu apa yang sebenarnya Sena khawatirkan bukan Rio tapi barang-barang yang nantinya Rio berikan kepadanya. Angel merasa kasihan kepada Rio yang memiliki istri yang cuma mau hartanya saja


.


Angel berjalan dibelakan Sena memasuki rumah. Rio sendiri hanya menatap Angel sekilas.


"Tuh istri simpananmu sudah datang!" kesal Sena lalu pergi kekamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Rio menghampiri Angel lalu menarik pergelangan Angel. Dengan terpaksa Angel mengikuti langkah Rio.


"Kamu tinggal disini kalau butuh apa-apa minta sama mereka"


Angel tahu apa yang dimaksud "mereka" oleh Rio itu barisan orang yang berseragam serta menundukan kepalanya. Rumah sebesar ini pasti banyak ART-nya.


Rio membuka pintu kamar yang disiapkan khusus untuk Angel.


Rio mengajak Angel masuk kekamar lalu mengunci pintu kamar tersebut.


Angel melihat sekeliling. Kamar ini terrasa nyaman dan terdapat barang-barang yang disukai Angel. Rio membeli ini semua semalam dan untung saja saat Sena pergi barang-barang ini sudah sampai dirumah.


"Kamu suka?" tanya Rio namun Angel hanya diam membelakangi Rio. Rio tahu kesalahanya kemarin tidak bisa dimaafkan tapi Rio ingin merubah sifatnya ini dan memberikan hak kepada Angel sama seperti Sena.


Angel terkejut saat Rio memeluknya dari belakang. Rasa nyaman yang dirasa Angel masih sama seperti dulu.


"Kamu istriku dan kamu punya hak atas diriku, jangan ragu meminta sesuatu dariku. Jangan perdulikan dia"


"Kenapa? bukanya dia istri kesayanganmu"


"Dia memang istriku tapi dia hanya mencintai hartaku saja. Dia menbuatku menyakiti orang-orang yang aku sayang termasuk kamu"


"Ck! tidak usah basa-basi kamu hanya ingin anakku"


"Dan kamu"


Rio mencium punggung Angel sebenarnya Rio ingin menatap wajah Angel namun sepertinya Angel belum mau mekihatnya.


"Aku berangkat kerja dulu, kamu sama bi Inda"


"Terserah kamu"


"Ya sudah"


Seperginya Rio, bi Inda memasuki kamar lalu menutup pintu kamar rapat-rapat. Angel tersenyum melihat bi Inda yang datang menghampirinya.


"Non El makin cantik saja" puji bi Inda yang langsung mencubit pelan hidung Angel.


"Non kok sedih gitu kenapa? apa non sebenarnya tidak mau kembali sama den Rio?"


Angel duduk ditepi kasur yang dikatakan bi Inda memang benar dirinya memang tidak ingin kembali lagi kepelukan Rio hanya saja Angel orang yang tahu balas budi kalau kemarin Rio tidak datang pasti dirinya sekarang telah dapat masalah. Laki-laki itu pasti tengah mencemoohnya karena sudah tidak lagi prawan.


"Saya cuma orang miskin, bi. Hanya ini yang bisa aku lakukan"


"Non ini bilang apa, walau cuma diakui agama ini pernikahan yang sah. Non El istri den Rio. Kalau den Rio atau non Sena kasar tinggal non lawan saja! jangan lemah lagian non yang rugi toh merekakan yang butuh non dan kalau non mau, non bisa jadi istri satu-satunya den Rio"


Bi Inda mulai mempenggaruhi Angel sepaya mau tinggal disini dan mulai meminta haknya sebagai istri. Bi Inda tersenyum saat melihat Angel yang sepertinya terpengaruh dengan ucapanya.


Angel mendengarkan dengan baik apa yang bi Inda katakan. Semua yang bi Inda katakan ada benarnya. Rio dan Sena terus saja mengejarnya berarti dirinya sangat dibutuhkan disini dan soal menjadi istri satu-satunya Rio itu hanya angan saja mana mungkin dirinya dapat menyaingi kecantikan Sena.


"Den Rio itu cocoknya sama non bukan sama lampir itu! ya sudah bibi mau lanjut kerja dulu.. eh baru ke ingatan, nanti kalau non keluar kamar pintunya dikunci tadi den Rio bilang"


"Iya"


Seperginya bi Inda, Angel tersenyum mungkin ini cara Tuhan untuk membantu Angel membalaskan rasa sakit yang dirasanya selama ini terutama Sena yang membuatnya seperti ini. Dia yang selama ini menari diatas penderitaannya.


"Permaina dimulai, aku benci kalian berdua aku pastikan kalau anak bercerai dan hari-hari kalian akan lebih seru"


Angel berusaha tegar terlebih ini menyangkut hidupnya sendiri dan soal Rey.


"Maaf Rey, aku akan menyelesaikan ini dulu. Aku tidak mau Rio menghancurkan apa yang kamu punya"


Angel tidak ingin Rio mencari tahu siapa orang yang bersamanya kemarin. Angel tidak mau hidup Rey berantakan seperti hidupnya sekarang. Angel ingin melindungi Rey dari Rio yang bisa melakukan apa saja dengan kekayaan yang dirinya punya.


...


Angel tengah berkeliling dirumah ini dengan bebas tanpa takut berpapasan dengan Sena karena Sena sudah pergi.


Namun ada hal yang membuat Angel merasa tidak nyaman yaitu setiap kakinya melangkah terus saja ada orang yang membungkuk kearahnya.


"Tidak usah seperti ini! kalian membuatku terganggu sebaiknya selesaikan pekerjaanmu" usir Angel dengan nada halusnya. Angel tahu Rio lah yang menyuruhnya tapi Angel teringat mereka tidak membungkuk keSena dan itu membuat Angel merasa heran. Untuk menjawab pertanyaan dihatinya ini Angel mencari bi Inda.


"Bi Inda" panggil Angel langsung saat melihat bi Inda. Bi Inda langsung menghampiri Angel.


"Non butuh apa?"


"Jangan panggil non deh, panggil El saja" pinta Angel namun bi Inda menggeleng.


"Kenapa?"


"Kamu disini sebagai istri majikan saya dan sudah sewajarnya saya melakukan kamu seperti semestinya"


"Terserah bibi deh. Oh iya bi, aku mau tanya kenapa saat Sena pergi tidak ada orang yang membungkuk atau apa lah itu namanya yang jelas tadi saat suara pintu dari kamar Sena semua yang sedang bekerja dilantai bawal langsung pergi"


"Oh itu karena semua yang disini tidak ingin kena masalah jadi sebisa mingkin mereka menghindari non Sena"


"Maksudnya?"


"Non Sena itu langsung memecat orang yang melakukan kesalahan tanpa memberi kesempatan kedu jadi den Rio nyuruh untuk menghindari Sena kalau tidak dibutuhkan Sena"


"Oh, emang Sena nyermin banget? terus kenapa Rio betah banget sama Sena?"


"Namanya juga cinta, non tapi sepertinya den Rio mulai tersadar deh, soalnya kemaren non Sena bikin ulah lagi terus buat keributan dirumah orang tuanya"


"Keributan apa?"


"Kurang tahu sih tapi yang jelas den Rio sama den Arfan jadi berantem terus buat nyonya nangis"


"Jadi gitu"


"Makanya non jangan takut sama Sena. Buat den Rio yakin untuk menceraikan non Sena"


"Tapi aku tidak mau disebut pelakor"


"Eh non. Non sadar ngga sih non Sena sendirikan yang mau den Rio menikah dengan non terus kenapa non takut? non itu bukan pelakor tapi istri den Rio, ingat itu baik-baik. Bibi mau lanjut kerja dulu"


"Iya bi"


Semakin mendengarkan bi Inda hati Angel semakin yakin kalau dirinya bisa keluar dari masalah ini dan punya keyakinan bahwa dirumah ini dia tidak bisa dicampakan seperti kemarin terlebih Rio sudah mulai tersadar dari cinta butanya ini. Angel merasa jalannya terbuka lebar untuk membalas rasa sakit yang ia rasa dan sasaran pertamanya Sena tapi dirinya tidak tahu harus mulai dari mana.


...


17:30


Angel merasa rumah yang begitu besar ini sangat sepi dan menyeramkan. Angel melihat Sena yang baru pulang dengan menenteng tas belanjaan. Sena melewati saja Angel tanpa menoleh sedikitpun. Angel hanya mengendikan bahunya.


Jam segini Rio belum juga pulang dan membuat Angel heran padahal saat bersamanya Rio sudah berada dirumah dengan catatan tidak sedang lembur dan tidak marah kepadanya.


Bi Inda berjalan kearah Angel yang sedang duduk. Bi Inda menduga bahwa Angel tengah menunggu kepulanga Rio.


"Non El sedanga apa?"


"Nungguin Rio pulang, bi"


"Tidak usah, mending non tidur"


"Tapi bi?"


"Non Sena juga tidak pernah menunggu kepulangan den Rio lebih baik non kekamar sekarang dari pada non Sena lihat non disini nanti di bilang cari perhatian lagi"


Yang dibilang bi Inda memang benar terlebih dia bilang Sena tidak pernah menunggu kepulangan Rio. Angel mengangguk lalu pergi kekamarnya.


Bi Inda tersenyum dan berharap Sena secepatnya menceraikan Rio dan dapat bahagia bersama Angel.


"Kalau saja nyonya tahu punya menantu seperti yang dirinya mau pasti sangat senang sekali, apa aku bujuk den Rio untuk bawa Angel menemui nyonya yah?"


...


23:00


Rio terlihat sangat mengantuk namun dirinya harus menaiki anak tangga. Rio menggerakan gagang pintu kamar namun pintunya tidak bisa dibuka sepertinya Sena menguncinya.


"Sena buka pintungnya!"


Rio mengetok pintu kamar dengan keras namun tidak ada jawaban. Rio menghela napas lalu menuruni tangga menuju kamar Angel.


Setelah sampai didepan kamar Angel pintu kamar sedikit terbuka. Rio tersenyum lalu masuk kedalam lalu menutup pintu dengan pelan lalu menguncinya.


Rio mendapati Angel yang terlelap dibalik selimut tebal dan hawa disini dingin pasti Angel menurunkan suhu AC-nya mungkin Angel sudah filing Rio akan tidur bersamanya.


Sebelum tidur Rio mencuci kaki dan wajahnya namun Rio tidak mengganti bajunya sebab dikamar ini tidak ada bajunya.


Rio berbaring miring disamping Angel lalu memejamkan kelopak matanya. Angel yang merasa ada orang yang berbaring disampingnya langsung membuka kelopak matanya. Angel terkejut mendapati Rio yang terlelap disampingnya. Angel menduga Rio baru pulang.


"Ri, kamu baru pulang?"


Rio membuka kelopak matanya. Rio terkejut Angel terbangun dan serasanya dirinya tidak melakukan hal yang membuat Angel terbangun.


"Apa aku membangunkanmu?"


"Tidak, kamu sudah makan?"


"Belum"


"Aku ambilkan"


"Tidak usah, kamu tidur saja! aku juga mengantuk" tolak Rio langsung memejamkan matanya. Angel menatap wajah Rio yang sangat kelelahan.


"Kamu tidak akan nyenyak tidurnya kalau perut kamu kosong"


Rio langsung membuka matanya. Ia melihat Angel turun dari tempat tidur. Pandangan Rio terus mengikuti Angel hingga Angel keluar kamar.


5 menit berlalu kini Angel kembali dengan sepiring nasi dan segelas air putih.


"Ayo makan"


"Sudah aku bilang tidak usah lagian kamu membenciku?"


"Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu tidur disini"


"Pintu kamar dikunci Sena" jawaban dari Rio membuat Angel menahan tawa membuat Rio menatapnya kesal.


"Jangan tertawa atau"


"Atau apa? kamu ingin memukulku?"


"Tidak, aku ingin kamu suapi aku"


Angel menurut membuat Rio mengerutkan keningnya. Segampang itukah Angel memaafakannya.


"Kamu sudah tidak marah lagi sama aku?"


"Aku masih marah, ini aku lakukan karena aku masih istrimu"


Rio sekarang mengerti dan ingin memperbaiki hubungan dengan Angel agar Angel tidak membencinya lagi.


"Baru beberapa hari kamu sudah kurus gini? apa kamu tidak makan?" omel Angel yang masih menyuapi Rio. Rio tidak menjawab dirinya hanya fokus mengunyah.


Walau pun Rio pernah kasar tapi Angel merasa kasihan keRio yang terlihat sangat kelelahan terlebih dari tadi Angel melihat Sena seakan tidak perduli dengan Rio.


.


Angel berjalan kearah kamar Sena untuk memastikan pintunya benar-benar terkunci atau hanya alasan Rio saja.


"Ternyata pintunya benar dikunci?"


Angel heran sebenarnya pernikahan Rio dengan Sena itu pernikahan seperti apa? kenapa Sena mengunci pintu kamarnya padahal dia tahu Rio belum pulang.


Angel tersenyum miring sekarang dia tahu apa yang harus dilakukan untuk membalaskan kematian bayi mungilnya.


"Entah kenapa aku jadi tertantang menjadi istri satu-satunya Rio"


...


07:00


Sena mendekati Angel yang sedang berada didapur dengan tatapan kesal. Sena menduga kalau Rio tidur dengan Angel semalam.


"Semalam Rio tidur dengan mu" tanya Sena dengan nada kesal. Angel tersenyum miring kearah Sena.


"Salah siapa pintu kamar dikunci" jawab Angel santai.


Angel langsung pergi meninggalkan Sena dengan membawa secangkir kopi untuk Rio memasuki kamar.


"CIH!"


Sena mengepalkan kedua tangannya. Tatap mata elang kini tertuju untuk Angel. Sena marah Rio tidur dengan Angel tapi ini juga kesalahannya yang mengunci pintu kamar.


Sena kembali kekamarnya. Dirinya ingin menunggu Rio dikamar.


Kesabaran Sena habis karena Rio tidak juga kekamar namun sedetik itu Rio memasuki kamar.


"Lamapa kamu tidur dikamar Angel?" tanya Sena langsung. Rio menghela napas beratnya, dirinya tidak ingin bertengkar dengan Sena sepagi ini.


"Pintu kamar kan dikunci" ucap Rio sembari membuka pintu lemari. Jawaban dari Rio tidak membuat hati Sena senang.


"Kamu bisa kan tidur dikamar tamu atau disofa, rumah ini besar kamu bisa tidur dimana saja selain dikamar Angel!" ucap Sena dengan penuh amarah membuat Rio terpancing emosinya.


Brakk


Rio menutup pintu lemari dengan kasar membuat Sena terkejut. Rio langsung menatap Sena.


"Kamu bilang apa tadi, tidur disofa? KAMU MIKIR NGGA SIH AKU INI CAPEK SETIAP HARI KERJA SEDANGKAN KAMU NYURUH AKU TIDUR DISOFA?" triak Rio dengan nada kesal. Istri didepannya ini hanya bisa berfoya-foya dengan hasil yang ia dapat selama ini dan tidak pernah berpikir betapa lelah dan letihnya selama ini.


"IYA! AKU TIDAK MAU KAMU BERDUAAN SAMA ANGEL SAAT AKU DIRUMAH!"


Sena berbalik meneriaki Rio. Suara Sena lebih lantang dibandingkan Rio membuat Rio kesal. Rio langsung pergi keluar tanpa berkata apa-apa lagi.


"Rio tunggu!"


Sena mengikuti Rio dari belakang dirinya masih ingin berbicara dengan Rio.


...


Angel yang sedang membantu bi Inda memasak terkejut mendengar teriakan-teriakn itu namun mungkin cuma dia saja yang terkejut. Seisi rumah ini sudah biasa mendengar teriakan tak jelas seperti ini.


"Bi, mereka kenapa?"


"Sudah biasa itu mah"


Bi Inda masih terus melakukan aktifitasnya sedangkan Angel sudah pergi menuju asal teriakan itu. Kedua mata Angel melihat dari kejauhan Sena yang mengejar Rio menuruni tangga.


"RIO TUNGGU AKU MASIH INGIN BERBICARA DENGANMU" teriak Sena sembari menuruni tangga sedangkan Rio sudah keluar rumah namun Sena masih mengejarnya.


"Ri.. kamu tidak boleh pergi!" ucap Sena sembari mengetuk ngetuk kaca jendela mobil disamping Rio. Rio tidak memperdulikan Sena. Rio langsung menancap gas mobilnya.


"Ih RIOO!!"


teriak Sena dengan kesalnya menatap kepergian Rio.


...


Bi Inda langsung menarik Angel agar menjauh dari Sena. Bi Inda takut Sena akan melampiaskan emosi keAngel.


"Non masuk kedalam, kunci pintunya"


"Iya"


Benar saja yang dikatakan bi Inda, Sena datang dengan amarah yang meluap-luap.


"Angel mana bi? dia dikamar!"


Sena langsung mendorong bi Inda hingga bi Inda mundur beberapa langkah. Sena langsung menggedor-gedor pintu kamar Angel dengan keras membuat yang didalam kamar ketakutan.


"ANGEL KELUAR KAMU!!!" teriak Sena dengan penuh amarah.


Angel merinding mendengar suara Sena yang seperti auman singa yang kelaparan.


"Tuh orang manusia apa bukan sih? suaranya kek toa masjid"


Hanya diawal saja Angel merasa takut tapi setelah dipikir-pikir ini semua bukan kesalahannya dan siapa suruh menjemputnya setelah diusir seperti itu terlebih Angel masih ingat saat Sena memperlakukannya kasar hingga dirinya kehilangan kandungannya.


"Teriak saja sana sampai pita suaramu putus" ucap Angel dengan acuhnya. Angel meraih erphone lalu memasangkannya ditelinganya. Angel memilih mendengarkan musik sembari tiduran ketimbang mendengarkan omongan sampah Sena.


"Sendiri yang salah nyalain orang lain, dasar aneh"


....


"ANGEL KELUAR!!"


Dari luar kamar, Sena terus berteriak meminta Angel untuk keluar sembari menggedor pintu. Bi Inda menggelengkan kepalanya heran melihat tinggkah Sena yang katanya model tapi kelakuannya seperti tarzan difilm rima yang hobinya berteriak teriak seperti Sena sekarang.


"Non Sena jangan teriak teriak seperti itu lagian non Sena harus pergi ntar telat loh?"


"CK, AWAS KAMU ANGEL!"


Sebelum melangkah pergi Sena menendang pintu kamar Angel.


Setelah dirasa sudah aman bi Inda menyuruh Angel keluar.


"Bi itu manusia apa bukan sih?" tanya Angel dengan nada polosnya.


"Ngga tahu non mungkin mahluk jadi-jadian" ucap bi Inda dengan nada yang polos juga. Keduanya bergiding ngeri saat mengingat wajah menyeramkan Sena.


"Non dikamar dulu nanti kalau Sena sudah pergi non baru keluar"


"Iya bi"


...


Kantor/ ruang kerja Rio


Sesampainya disini Rio langsung mandi dan berganti baju. Rio menghela napas beratnya dan menhesali pilihannya ini. Dulu Sena tidak seperti ini bahkan untuk bersuara saja dia masih malu. Semuanya telah berubah setelah Sena kenal dunia modeling dan juga teman-temannya yang sosialita penuh dengan kemewahan dan keglamoran.


"Ck, sejak kamu jadi model kamu jadi berubah, kamu jadi gila harta Sena!" keluh Rio. Rio tidak habis pikir sekaligus heran sejak Sena tinggal diPrancis sembari menunggu Angel hamil Sena menghabiskan begitu banyak uang padahal disana Sena menepati ruamah yang memang sudah dibeli Rio setelah mereka menikah dan semua yang dibutuhkan sudah ada mulai dari bar sampai urusan kuku tapi Sena begitu sangat boros. Sena menghabiskan uang Rio yang Rio kumpulkan dua tahun kemarin hanya dalam waktu kurang dari setahun. Sena benar-benar keterlaluan.


"Aku harus bisa membuatmu menceraikanku, tapi apa mungkin Sena mau menceraikanku? secara aku masih kaya, apa aku pindahkan sebagian unangku kebank lain?"


Rio mencari cara agar Sena tidak terus-terusan menghambur-hamburkan uangnya yang akan ia wariskan keanak yang akan Angel lahirkan.


Rio mengambil sesuatu didalam lacinya. Rio mengambil kertas disain rumah barunya atau lebih tepatnya rumah untuk Angel dan kedua orang tuanya tempati.


"Aku ingin membantu orang tua Angel tapi seperti apa? tidak mungkinkan aku langsung mengasih mereka uang bisa-bisa Angel marah dan orang tua Angel bisa tersinggung"


Rio masih ingat saat hari itu Angel memberikan uang kepadanya dan dia bilang kalau uang ini untuk menyicil hutang dan saat itu juga Rio tersadar kalau mereka orang yang tahu balas budi.


"Apa aku?"


Rio langsung menghubungi kariyawannya yang bertungas mengepalai dibidang kebersihan dan keamanan.


"Cepat kamu keruangan saya"


Rio menutup sambungan teleponnya. Sembari menunggu Rio main ponselnya dan senyum Rio muncul saat menerima pesan singkat dari Angel. Angel menanyakan apa dirinya ingin diantarkan makanan atau tidak soalnya Rio tidak sempat sarapan.


Rio membalas pesan Angel dan menyuruhnya agar mengantarnya langsung ketempatnya.


"Aku sangat bodoh, aku menyia-nyiakan orang yang benar-benar sayang kepadaku. El, aku janji akan membuatmu bahagia camkan itu"


....****....***...