
"Jawab?!"
"Aku memang bodoh, aku melukai diriku sendiri dan aku mengeluh pada Tuhan. Aku tidak seberani dirimu."
Akhirnya Angel jujur dengan dirinya sendiri. Alex menggelengkan kepalanya lalu menyentil dahi Angel dengan kerasnya membuat Angel mengeluh sakit. Alex sendiri geregetan dengan sikap Angel yang terlalu bodoh mensia-siakan hidupnya sendiri demi orang lain.
"Gitu saja sakit, lebih sakitan mana, dahi kamu atau hatimu?"
"Sakitan ini, mungkin hatiku sudah membatu." ucap Angel asal dan membuat Alex kembali menyentil dahi Angel.
"Kalau batu ngga mungkin kamu hidup! payah!" semprot Alex dengan sengaknya.
"Aku tidak payah!"
"Lalu apa, bodoh? polos? naif? atau kamu memang tidak ingin berpisah dengannya? kamu mencintainya dan kamu tidak bisa berpikir dengan jernih bahkan kamu tidak mempermasalahkan soal dia yang selalu menyakitimu. Bangunlah, kamu tidak hidup untuk orang lain! kamu hidup untuk dirimu sendiri dan jangan lupa luka di hatimu tidak akan sembuh dengan kata maaf, ikut aku!"
"Eh?"
Alex langsung menarik Angel agar Angel mengikutinya. Angel tidak tahu akan di bawa kemana dirinya ini.
Angel mengerutkan dahinya saat Alex membawanya ke parkiran mobil. Alex melihat ke sekeliling memastikan tidak ada orang di sekitar dan juga kamera pengawas, sepertinya ini tempat parkir liar.
"Kamu mau apa?" tanya Angel yang melihat Alex mengeluarkan sebuah alat dan langsung mengarahkannya ke tepi kaca mobil.
Angel terkejut saat Alex membuat retak kaca mobil itu dan Angel masih belum percaya bahwa Alex melakukannya, apakah dia juga pencuri mobil.
"Itu hati kamu dan ini kata maaf."
Alex menempelkan sebuah plester luka di tempat yang retak itu.
"Kamu merusaknya? ini mobil orang."
Alex tidak menjawab, dia mengeluarkan uang dari dalam dompetnya lalu menyesipkan nya ke dalam mobil.
"Selesai. Ayo pergi."
"Kemana?"
"Kamu tidak merindukan kedua anakmu?" tanya Alex dengan senyum manis di bibirnya. Senyum ini begitu tulus dan tidak ada beban.
"Kamu tahu dari mana?"
"Kamu mulai bodoh lagi, apa yang kamu makan hingga otakmu itu tidak berfungsi dengan baik?" ucap Alex dengan nada yang sangat merendahkan Angel. Jelas-jelas Alex sudah memberitahukan semuanya kepada Angel namun sepertinya Angel masih belum bisa memahami situasi yang ada.
"Makan hati, puas kamu?"
"Malah sewot? dasar odong. Ayo berangkat, mumpung ada dua jam sebelum jam kuliah soreku." ucap Alex sembari melihat jam tangannya.
"Kuliah?" ucap Angel pelan.
"Kamu kenapa?" tanya Alex yang melihat Angel termenung.
"Eh? tidak ada. Kamu kuliah di mana?"
"Dekat sini, satu kampus dengan teman kamu tuh yang bawel banget kayak emak-emak."
"Sila?"
"Siapa lagi kalau bukan dia, kamu tidak bertemu dengan dia?"
Angel hanya menggeleng pelan. Angel tersadar bahwa selama ini hidupnya hanya terpusat pada lingkungan yang kecil dan rumit hingga dirinya lupa ada lingkungan hidup yang lebih luas serta penuh akan kebebasan? Angel merasa selama dia hidup di penjara mewah yang tak mungkin bisa terbebas dari dalamnya.
"Nanti akan aku ajak menemuinya, pasti kamu hanya sibuk mengurus anakmu, kasihan banget sih hidupmu? di usiamu sekarang harus mengurus keluarga kecilmu dan masalah rumit seperti itu?" ucap Alex yang seolah-olah mengatakan bahwa hidup Angel itu sungguh kasihan dan miris.
"Tak usah berkata seperti itu! hidup mu itu lebih mengerikan."
"Oh iya? setidaknya aku bisa kemanapun yang aku suka. Week." ejek Alex yang langsung berjalan meninggalkan Angel.
"Dasar nyebelin."
..
Alex tengah bersiap di atas motornya, mereka akan menuju ke makam. Alex sendiri mengetahui lokasi makam anak Angel saat dirinya mengikuti Rio saat akan mengubur malaikat kecilnya Angel.
"Pake!" suruh Alex sembari menyodorkan helm nya kepada Angel. Angel pun menerimanya.
"Kamu?" tanya Angel yang menyadari bahwa hanya ada satu helm.
"Tidak perlu, lagian kalau ada apa-apa sama kamu, aku tidak merasa bersalah pada putramu." yang di maksud Alex adalah dirinya tidak ingin Angel terluka.
"Kenapa kamu baik pada ku?"
"Karena aku mencintaimu." ucap Alex datar. Angel tersenyum tipis mendengarnya.
"Oh ya? aku kira karena uang." ucap Angel dengan nada remeh.
"Itu juga termasuk, tapi masa aku suka sama emak-emak sih?" ucap Alex dengan nada miris membuat Angel kesal dan langsung memukul punggung Alex dengan kerasnya.
"Tuh kan, emak-emak mah serem."
"Ih, nyebelin banget kamu! jadi pergi ngga?"
"Jadi bawel, cepat naik!"
Tempat pemakaman umum.
Sinar matahari mulai meredup menandakan hari akan segera berakhir. Angel duduk sembari memandangi kedua makam anaknya yang belum pernah ia lihat. Angel hanya bisa berdoa agar nanti di pertemukan di alam mimpi.
Alex merasa dadanya sesak melihat Angel yang seperti ini. Dulu Angel adalah gadis yang ceria dan periang namun sekarang hanya ada kesedihan di mata Angel.
"El, kamu tidak apa-apa?" tanya Alex khawatir dengan kondisi Angel sekarang.
"Maaf membuatmu bolos kuliah." Angel tidak menjawab pertanyaan dari Alex malah meminta maaf kepada nya.
"Tidak apa, kamu jangan sedih, mereka pasti senang memiliki ibu sebaik dirimu." ucap Alex menenangkan.
"Apa aku bercerai saja dengan Rio agar Kevin tidak terluka?" Angel merasa hal itu lah yang terbaik untuk semuanya. Alex yang mendengarnya tidak merasa senang sedikitpun walaupun Alex ingin memiliki Angel namun dia sadar rasa yang ia miliki itu tidak bisa dipaksakan dan Angel pun tidak akan merasa bahagia.
"Iya itu pilihan yang logis namun ada hal yang harus kamu lakukan."
"Apa?"
"Pernikahan kamu dan Rio harus legal tercatat di mata hukum dan negara agar kamu setidaknya bisa memperjuangkan hak yang sudah kamu miliki, kalau kamu meminta cerai sekarang kamu hanya seperti sampah yang di buang begitu saja berbeda saat kamu jadi istri sah nya Rio, kamu bahkan bisa meminta harta dan juga hak asuh Kevin karena kamu ibunya dan kamu lah yang berhak atas hak asuh Kevin." ucap Alex menasehati Angel. Angel tidak bisa mengungkiri bahwa Alex perduli padanya.
"Kamu benar juga, mungkin kalau tidak ada kamu, aku jadi orang terbodoh di dunia yang menuruti kemauan orang lain."
"Kamu percaya padaku? aku bukan orang baik, aku seorang pembunuh dan kamu tahu itu, kamu tahu aku ingin memisahkan mu dari keluarga mu sendiri." ucap Alex dengan nada yang tidak percaya.
"Setidaknya kamu mau jujur pada ku." ucap Angel dengan penuh arti bahkan di akhir kalimat dia tersenyum sangat manis ke arah Alex membuat Alex salah tingkah.
"Ayo pulang." Ajak Alex menyembunyikan ke salting-annya.
...
Rumah Amanda Riko.
Rio melempar begitu saja ponselnya ke arah sofa. Dari tadi Rio terus menghubungi Angel namun ponselnya tidak aktif, sudah lima jam setelah Angel berpamitan.
"Dia kemana sih?"
"Angel belum pulang?" tanya Jihan yang habis memandikan Kevin. Rio menggeleng pelan. Rio tidak tahu Angel pergi kemana, ini pertama kalinya Angel pergi selama ini dan tidak ada kabar. Supir yang mengantar Angel pun tidak tahu dia dimana.
"Sebentar lagi juga pulang, kamu yang sabar. Ibu mau bertemu mamamu dulu sebelum pulang."
"Iya bu."
Setelah kepergian Jihan, Rio masih menunggu di ruang tamu. Rio tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dirinya akan mencari Angel namun sedetik itu Angel terlihat memasuki gerbang. Rio langsung berjalan menghampiri Angel dengan raut wajah cemasnya.
"Sayang kamu dari mana saja?" tanya Rio khawatir. Angel berjalan melewati Rio sembari berkata.
"Aku mau mandi." ucap Angel datar.
Rio terdiam. Dia merasa ada sesuatu yang aneh pada diri Angel. Rio langsung menghampiri satpam untuk menanyakan Angel diantar oleh siapa.
Rio bernapas lega setelah mendengar jawaban satpam. Angel pulang naik taksi, tadinya Rio mengira Angel diantar oleh seseorang.
..
Setelah mandi Angel mencari keberadaan Kevin, setelah bertanya ke beberapa ART, Angel mengetahui bahwa Kevin tengah berada di kamar Sena. Angel merasa kesal karena dirinya seakan bukan orang yang melahirkan Kevin ke dunia ini, semua orang di sini seakan mengabaikan dirinya.
"Aku ingin mengakhiri ini semua."
Angel langsung memasuki kamar Sena yang pintunya terbuka. Angel terkejut melihat Jihan yang masih berada disini.
"El, kamu sudah pulang?" Angel mengabaikan perkataan Jihan. Dia melihat kearah Kevin yang tertidur.
"Dia sedang tidur." ucap Sena melarang Angel yang akan mengangkat tubuh Kevin.
"Lalu? aku ibunya, dia lebih baik tidur di kamar ku."
"Tapi?" Sena hanya pasrah saat Angel membopong Kevin. Jihan yang melihatnya hanya tersenyum titis lalu berucap.
"El, biarkan saja Kevin tidur disini." Angel yang mendengarnya merasa kesal.
"Ini anakku, aku lebih berhak." jawab Angel padat dan membuat dada Sena sesak.
"Angel, jangan seperti itu." ucap Jihan menasehati.
"Anakmu itu aku atau dia?" ucap Angel datar lalu berlalu pergi. Perkataan tadi membuat Jihan terdiam, dia sadar Angel tengah marah padanya.
"Maaf, ini semua salahku." ucap Sena dengan lirih namun bisa terdengar oleh Jihan.
"Ini bukan salahmu, mungkin Angel hanya kangen dengan Kevin. Dia kan baru pulang."
..
Kamar Angel.
Angel merasakan rasa takut dihatinya, seorang ibu akan sangat tertekan saat keselamatan anaknya di pertaruhkan. Angel memandang lekat wajah Kevin yang terlelap.
"Sayang, Kamu harus tetap sehat yah? nanti saat mama ngga ada buat jagain kamu, kamu jangan rewel yah? kamu harus terus bahagia dan harus tumbuh jadi orang yang sukses seperti Papamu dan baik seperti om Arfan. Mama.. apa mama bisa melihatmu tumbuh dewasa? kamu jangan membenciku yah? ini semua demi keselamatanmu."
Angel menahan tangisnya. Dirinya merasa tak berdaya dengan masalah seberat ini, ingin rasanya hati ini mengatakan semau yang telah terjadi namun apa daya, dirinya sekarang tidak tahu mana musuh dan teman. Kalau salah bertindak nyawa Kevin taruha nya, walau sejauh ini belum ada tanda-tanda orang yang ingin mencelakai dirinya mau pun Kevin.
"Kenapa jadi seperti ini?"
Angel meratapi nasibnya yang selalu dalam kesulitan dan itu berawal sejak dirinya mulai mencintai Rio. Saat dirinya dekat dengan Rio ada saja masalah yang menimpanya.
Tokk.. tok..
Angel menoleh kearah pintu tak lama pintu terbuka. Angel langsung memalingkan wajahnya saat dia tahu itu Rio.
"Kevin tidur?" tanya Rio sembari melangkah ke arah kasur.
"Aku ada permintaan untuk mu." ucap Angel saat Rio duduk di sebelahnya.
Rio mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Angel dan tumben Angel memintanya. Rio tersenyum tipis, dia pasti akan memenuhi permintaan itu.
"Kata kan saja, apa mau mu."
"Tapi kamu janji dulu akan menuruti permintaan ku ini." ucap Angel sembari menoleh kearah Rio.
"Iya, aku janji tapi apa ini sangat penting untuk mu?"
"bisa iya juga bisa tidak, tergantung keadaan." ucap Angel dengan santainya bahkan Angel sekarang menatap tepat di mata Rio.
"Bicara lah yang jelas aku tidak mengerti." Rio merasa ada yang aneh dengan Angel terlebih Jihan juga merasakan kejanggalan pada Angel. Jihan juga mengatakan hal yang terjadi barusan.
"Oke, aku ingin secepatnya jadi istri sah mu. Aku sudah sangat muak jadi beda yang kamu simpan terus."
"El? tapi." Rio mendadak tidak bisa menggunakan otaknya. Rio terkejut mendengar perkataan Angel barusan terlebih Angel sudah setuju dengan keputusan itu. Angel menatap tajam Rio.
"El, nanti setelah pekerjaan Sena selesai, aku janji secepatnya dan aku akan menyiapkan pesta yang meriah untuk pernikahan kita."
"Aku tidak minta itu! aku ingin setatus istri sah mu bukan pesta dan itu tidak mengganggu pekerjaan Sena."
"Ta--"
"Kamu selalu memikirkan perasaan Sena tapi kamu tidak sedikit pun mau mengerti perasaanku! kamu kira aku bahagia seperti ini? Tidak Ri! aku sudah lelah dengan semua ini. Aku beri kamu waktu satu minggu kalau tidak aku akan pergi dengan membawa Kevin!" ucap Angel dengan penuh penekanan. Rio semakin di buat tak percaya dengan semua ini. Angel semakin yakin bahwa dirinya harus secepatnya terbebas dari jerat ini walaupun keluarga ini akan membencinya. Membenci? harusnya Angel yang membenci keluarga ini dan juga keluarganya sendiri. Sudah cukup lama dirinya menderita namun kedua orang tua nya malah membela orang lain dan tidak sedikit pun memikirkan lukanya selama ini. Angel harusnya menyadari dari awal bahwa dirinya harus berjuang sendiri untuk mendapatkan semua hak yang harusnya menjadi miliknya dari dulu.
"El?"
"Kevin putra ku dan kamu hampir membunuhnya bukan cuma dia, aku juga hampir mati karena keegoisan mu! Kamu jangan lupakan itu. Keluar dari kamar ku!" usir Angel dengan jari telunjuk yang mengarah ke pintu.
"El, kamu jangan seperti ini!"
"Kenapa? sudah cukup aku mengalah dan berkorban untuk mu sekarang gantian kamu yang berkorban untuk ku! hanya sebuah buku, apa kamu tidak sanggup? kalau iya katakan, aku akan pergi dengan putra ku dan jangan bermimpi bertemu dengannya lagi!"
Angel bangkit dari duduknya melangkah ke arah pintu. Angel membukakan pintu untuk Rio.
"Jangan bawa Kevin."
"Itu tergantung keputusan mu, sekarang keluar dari kamar ini!"
"Iya"
Rio menurut, dia melangkah keluar. Saat di depan Angel, Rio melihat sorot mata kebencian terpancar dari mata Angel.
"Sebegitu bencinya kamu padaku? kenapa?"
"Kamu tahu jawabannya."
"Iya aku mengerti."
Angel langsung menutup pintu kamar. Tidak ada air mata di pelupuk mata Angel. Angel tidak ingin menangisi orang seperti Rio dan sudah cukup dengan semua penderitaan ini.
...
Angel yang tengah tertidur terganggu oleh suara bi Inda yang memanggilnya.
"...Non..non Angel!"
"Ck! apa lagi sih?"
Angel langsung menuju ke pintu lalu membukanya.
"Ada apa sih bi? nanti Kevin bangun bagaimana?"
"Maaf non, non Angel di panggil Den Rio. Di tunggu di ruang tengah, permisi non." Bi Inda langsung berlalu pergi. Angel berdecak kesal lalu melangkah ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tengah, Angel merasa heran karena semua orang telah berkumpul dan memandanginya dengan tatapan yang aneh.
"El, kenapa kamu berubah pikiran? kita sudah membicarakannya kan?" tanya Jihan dengan penuh heran dan tidak mengerti sikap yang Angel tunjukan hari ini, seolah-olah di depannya ini bukanlah putrinya. Angel menatap satu persatu wajah orang yang ada disini dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Hanya Erik saja yang tidak berada disini.
Angel menatap kesal kerah Rio. Angel dapat mengetahui bahwa Rio menceritakan apa yang terjadi tadi, harusnya ini hanya antara dirinya, Rio dan juga Sena tidak perlu melibatkan orang lain walaupun mereka "mertua" tapi lebih baik tidak usah mencampuri urusan rumah tangga anaknya.
"Satu pertanyaan untukmu, kamu disini untuk putrimu atau putri orang lain?" lontaran kata-kata menusuk itu tertuju pada Jihan. Jihan yang tak pernah mendengar nada dan kosa kata yang di pakai Angel saat ini membuatnya terdiam dan merasakan rasa sakit yang amat sangat di hatinya. Bukan cuma Jihan yang menyadarinya namun semua orang disini terkejut dengan ucapan Angel.
"Jawab! anakmu itu aku atau dia?" ucap Angel sembari menunjuk ke arah Sena.
"El, kenapa kamu bilang seperti itu?" ucap Amanda membela Jihan namun tindakan Amanda malah membuat Angel merasa kesal.
"Sebaiknya anda diam, ini urusan antara ibu dan anak. Ayo jawab? selama ini kamu hanya mengurusi Sena, mengkhawatirkan nya dan selalu perduli. Tapi aku? kamu bahkan tidak menanyakan apa aku baik-baik saja, apa aku nyaman tinggal disini. Kamu tidak pernah sedikitpun mau mengerti keadaanku! harusnya kamu tahu apa yang terjadi dengan putrimu ini! Seorang ibu harusnya tahu tanpa bertanya. Apa masih pantas kamu, aku panggil ibu?"
Jihan menatap Angel dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Rio tidak tahu harus berbuat apa, dia takut malah memperburuk keadaan.
"Ini bukan kamu, ini bukan putriku." jawab Jihan. Suara Jihan seakan menahan tangis dan entah kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutnya padahal Angel tengah meragukan sosoknya sebagai seorang ibu.
"Bukan putrimu? itu jawabanmu?" Angel langsung tertawa dengan renyahnya namun sarat akan kesedihan.
"IYA, AKU BUKAN PUTRIMU! PUTRI MU ITU DIA!" Teriakan membentak menggema di ruangan ini. Teriakan penuh emosi yang terpendam kini meluap dengan penuh kebencian.
"El, kamu bentak ibu?" ucap Jihan sembari meneteskan air mata dan membuat Angel muak.
"Angel apa yang kamu lakukan!!" bentak Rio dengan gaharnya. Angel tidak perduli dengan bentakan itu.
"Kamu menangis? ck! kamu tahu berapa kali aku menangis selama ini? apa kamu tahu apa yang aku alami selama ini?"
Jihan menggeleng pelan. Dia menundukkan kepalanya. Amanda menatap senduh Angel, Amanda tahu sebagai cerita itu.
"Ibu jelas tidak tahu, di mata ibu hanya ada Sena dan Sena! ibu lebih mementingkan wasiat mamanya Sena. Ibu berusaha menggantikannya, menjadi mama yang baik untuknya tapi kenapa ibu melupakanku? aku yang berjuang untuk membahagiakan Ibu! agar ibu bisa terus bersama Ayah, aku rela menjual diri ku sendiri seperti bintang hanya untuk ibu dan ini balasan ibu? JAWAB BU! KENAPA.... KENAPA AKU HARUS BERKORBAN UNTUK MU! KENAPA AKU HARUS MENDERITA SEPERTI INI PADAHAL KAMU MEMILIKI AYAH YANG KAYA..!!! KENAPA KAMU EGOIS.. KAMU TIDAK INGIN BERPISAH DENGANNYA HINGGA KAMU TIDAK PERDULI DENGANKU!!!"
PLAKKK!!!!
Suara tamparan itu menggema dengar kerasnya. Jihan menampar pipi kiri Angel hingga Angel merasakan perih yang amat sangat di pipinya namun tak sesakit hatinya yang hancur sekarang.
"Jangan berkata seperti itu, kamu tidak tahu apa-apa." ucap Jihan datar.
"Iya ibu ku sayang, kamu memang menyembunyikannya dariku."
Kini semua orang di ruangan ini dapat melihat dengan jelas amarah dari seorang Angel. Luka dan luka yang Angel alami kini semakin perih dan sudah cukup tidak ingin terluka lagi terlebih nyawa putra dan dirinya kini terancam dan tidak ada yang tahu dan tidak bisa menolong dirinya kecuali dirinya sendiri.
Angel melakukan ini agar putra kesayangannya aman dan tidak ada orang lain yang terluka. Alex sudah menjelaskan semuanya dan ada kemungkinan orang itu menyewa lebih dari satu orang berarti bukan cuma Alex yang mengancam keselamatan Kevin.
"El sudah cukup, hentikan." pinta Rio yang tidak ingin pertengkaran ini terus berlanjut.
Arfan yang dari tadi duduk terdiam mendengarkan kini bangkit dari duduknya.
"Cukup? kenapa? agar aku terlihat buruk karena membentak ibuku sendiri dengan memakai kata-kata kasar? kamu lupa Rio, kamu lebih-lebih buruk dariku. Ibu ku tidak tahu wajah aslimu dan keluarga mu juga tidak tahu apa yang kamu dan istri mu sembunyikan."
Angel berniat menceritakan semua kejadian yang tidak di ceritakan Rio dan Sena. Kebenaran yang terlupakan oleh Rio dan juga Sena, kenyataan pahit yang dirinya alami selama ini.
"El, kamu kecapekan hingga kamu berkata ngelantur seperti ini!"
ucap Rio yang mungkin panik, dia tidak ingin ada masalah baru lagi.
"Tutup mulutmu itu!, kamu suami yang tidak berguna." ucap Angel dengan tajam dan menusuk. Semua orang terkejut mendengarnya terlebih Angel selalu perhatian kepada Rio.
Amanda dan Riko sama sekali tidak paham akan situasi ini lebih tepatnya mereka tidak tahu menahu apa yang sudah Rio perbuat dan kesalahan apa yang Rio lakukan ke Angel hingga sosok yang penyayang kini terlihat sangat murka.
Deg. ucapan dan tatapan itu membuat Rio benar-benar merasa tidak berguna. Angel tidak ingin membuang kesempatan ini, walau nantinya mereka tidak percaya.
"Ibu kira anak teman ibu ini sebaik mamanya? tidak, dia kasar, egois dan tidak punya hati. Kalian semua menyembunyikan kebenaran tentang meninggalnya anak ketigaku." ucap Angel dengan jelas dan tegar.
"Apa?" semua terkejut mendengar perkataan Angel barusan. Mereka tidak tahu siapa yang memberitahukan hal itu kepada Angel dan apa karena ini dia marah.
"Tidak usah terkejut seperti itu, harus nya kalian tidak perlu repot-repot merahasiakannya, itu tidak berdampak untukku. oh iya aku sambung lagi yah?... Anak pertamaku itu sungguh malang, apa kalian ingin tahu kenapa dia sampai meninggal?"
Angel langsung menatap kearah Sena. Sena mengepal kan kedua tangannya dengan erat, menetralisir rasa takutnya. Rio juga merasakan hal yang sama.
"Waktu itu Rio mabuk, dia mendorongku... eh bukan dia mengusir ku dengan kasar. Dia mendorongku hingga aku jatuh saat usia kandunganku Empat bulan. Apa kalian bisa membayangkan? diusir jam 12 malam, kehujanan dan tidak tahu harus kemana, berjalan dengan menahan rasa sakit diperut hingga aku dapat merasa akan berpisah dengan janinku. Malam yang dingin tanpa satupun orang yang dapat aku mintai tolong. Orang ini?" Angel menunjuk tepat di wajah Rio.
"Ini yang kalian banggakan?" ucap Angel lagi.
"Aku mencarimu dan aku membawaku ke rumah sakit." bantah Rio yang tidak ingin di tafsiran tidak bertanggung jawab. Angel terkekeh pelan.
"Iya kamu menyelamatkan ku dan juga calon anakmu tapi kamu seakan menganggap ku sampah yang telah kamu buang lalu memungutnya lagi."
"Itu semua hanyalah anggapanmu saja jangan di lebih-lebih kan!" sekarang Rio terlihat sangat emosi.
"Rio!" Riko akhirnya bersuara. Rio menoleh ke arah Riko yang berjalan kearahnya. Wajah Riko sangatlah tenang namun membuat kekhawatiran di wajah Amanda.
"Papa?"
Riko melihat dengan lekat wajah Rio dan entah kenapa dirinya ingin.
Brakk
Semua orang terkejut dengan kejadian barusan. Riko memukul keras wajah Rio hingga dia jatuh tersungkur ke lantai.
"Papa?" panggil Rio dengan wajah blank nya. Pertama kalinya Riko melakukan ini, selama ini Riko tidak main tangan dan hari ini Riko melakukannya di depan semua orang.
"Berapa banyak dosa yang kamu lakukan?" tanya Riko dengan nada datar namun dari sorot matanya terpancar kekecewaan yang amat dalam. Rio hanya diam dan diam, tidak bisa ia berkata-kata di depan seorang Riko.
"Aku membesarkan mu dengan keringat ku dan ini hasil yang kamu perbuat? memalukan! selama ini aku diam karena aku menghormati privasi rumah tanggamu tapi sepertinya keputusan ku ini salah, kamu jauh dari yang aku harapkan. Aku kecewa padamu, aku kira kamu dapat memberi keadilan pada kedua istrimu namun tetap saja kamu masih berat sebelah. Sudah cukup, masalah ini seharusnya tidak ada kalau saja kamu berpikir dewasa, Rio! Angel maaf atas semua kesalahan yang Rio perbuat, aku tahu kata maaf ini sangat-sangat memalukan dan tidak sebanding dengan apa yang kamu alami bahkan jika di bayar dengan nyawa Rio pun masih sangat kurang. Papa janji secepatnya kan Papa urus, tiga hari, El! apa akan sewa pengacara terbaik untuk mengurus semuanya kalau perlu Papa akan urus perjanjian pra nikah yang akan menguntungkan mu."
Angel tidak merespon ucapan Riko. Semua melihat kearah Angel yang mulai menangis. Bahunya bergetar dan isakkannya mulai terdengar.
"Angel? kamu mau apa lagi? ayo ungkapkan semua sama Papa." pinta Riko namun Angel menggeleng.
"Kenapa? Kenapa kamu selalu ada untuk Sena. Aku tahu, kamu sengaja memotong ucapan ku agar aku tidak mengatakannya kan?"
Rio langsung tertunduk. Dirinya semakin terdiam dan tak berani menatap wajah siapapun.
"Sebenarnya apa yang terjadi? tolong ceritakan semua!" pinta Amanda yang sudah berlinang air mata bahkan Jihan kini ditopang tubuhnya oleh Arfan.
"Sena yang membuatku keguguran, dia mendorongku hingga perutku terbentur tepian kasur dan soal Kevin, kalian tanyakan saja ke Arfan. Pa, Aku tidak ingin Papa ikut campur dalam urusan ini, kalau memang Rio ingin memberikan hak itu pasti sudah dari dulu. Kalau tiga hari tidak ada keputusan, maaf aku akan bawa Kevin pergi dari sini walaupun kalian berusaha dengan segala cara aku tetap tidak akan memberikan Kevin pada kalian! Kevin nyawaku dan aku tidak akan berpisah dengannya "
Angel langsung berbalik, berjalan ke kamarnya namun langkahnya terhenti saat ada seorang ART yang berlari ke arahnya dengan wajah panik.
"Non, baby Kevin nangis, dia tidak mau dengan kami." yang di maksud dengan kami itu para ART yang berusaha menenangkan Kevin namun tidak berhasil.
"Popoknya sudah diganti?"
"Sudah non, sudah semuanya tapi baby Kevin terus menangis."
Angel bergegas kembali ke kamarnya.
Amanda menghampiri Jihan lalu memeluknya dengan erat, Sedangkan Sena sudah pergi ke kamarnya setelah Angel mengatakan kebenaran tentang dirinya.
....
Rumah Erik Jihan.
Setibanya di rumah, Jihan cerita kan semuanya kepada Erik. Erik tidak begitu terkejut mendengarnya terlebih Angel sering mengeluh tentang sikap Jihan yang menganaktirikan dirinya.
".... kenapa dia begitu kepadaku, aku ibunya."
"Kenapa kamu masih belum mengerti?"
"Maksudnya perkataan mu itu apa?"
"Angel marah karena kamu selalu perhatian ke Sena"
"Ta-" ucapan Jihan di potong oleh Erik.
"Iya aku tahu, karena mamanya Sena meninggal kamu ingin menghiburnya tapi kamu lupa putri kita selama ini hidup sendirian tanpa bisa menguntarakan perasaannya, apa yang dia alami, masalah yang dia hadapi. Jihan, putri kita selama ini menanggung beban berat di pundaknya, selama ini dia berjuang sendiri, dia menangis dalam kesepian, dia mengandung Kevin dengan perasaan tertekan. Kamu bahkan tidak berpikir apa putri kita bahagia selama ini?"
"Amanda itu orangnya baik, dia temanku! dia pasti memperlakukan Angel dengan baik!" Jihan tetap mengira semua baik-baik saja dan Angel selama ini hidup dengan layak dan Rio baik kepada Angel karena sifat Amanda baik seperti itu jadi Jihan berfikir bahwa Rio juga memiliki sifat seperti Amanda.
"Sadarlah! Amanda baru tahu akan hal ini, sama seperti kita!" ucap Erik dengan penuh penekanan, jujur Erik tidak mengerti apa yang ada di pikiran Jihan hingga dia lebih mementingkan Sena dibandingkan Angel, putrinya sendiri.
"Tapi Amanda baik!"
"Lalu? apa kamu meragukan putrimu sendiri? sadarlah! jadi istri kedua tanpa restu dari kita dan melahirkan seorang anak tanpa ada dukungan dari kita? apa kamu tidak melihat kesedihan dari matanya? dia selalu mengalah dan berkorban hanya untuk keluarga Rio dan juga Sena. Angel pasti berharap kita dapat membantunya namun apa yang kita lakukan? kita malah menunda kebahagiaan putri kita."
Erik bangkit dari duduknya. Ada rasa sakit di hatinya karena dirinyalah sumber masalah ini. Karena kondisinya waktu itu membuat Angel harus menjalani kehidupan bak di neraka.
"Kita tidak tahu sebelumnya hal apa saja yang telah terjadi pada putri kita dan itu jadi tanggung jawab kita sendiri bukan mereka. Aku mohon perbaiki hubungan mu dengan Angel atau dia akan pergi jauh dari kita."
"Maksudnya? apa kamu tahu sesuatu?"
"Angel meminta pada Ayahmu untuk tinggal bersamanya di Prancis. Dia sudah menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan aku tahu dari Ayahmu, dia menelepon ku tadi. Ayahmu memberi waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalah ini kalau tidak, kamu tahu apa yang akan terjadi."
"Aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Apa yang telah aku lakukan?"
Jihan merasakan perasaan takut akan kehilangan. Jihan sangat tahu sifat Ayahnya yang keras, dia tidak akan membiarkan cucunya terus kesulitan. Jihan yakin Ayahnya akan merebut Angel dari dirinya dan juga cucunya.
"Erik? apa aku akan berpisah dengan Angel?"
...bersambung...