Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 65 MAMA jangan pergi!



Sifa keluar dari kamar Sena, ternyata sudah ada Deren yang menunggu di luar. Sifa tidak menghiraukan Deren, dirinya terus melangkah. Setiap melihat Deren hati Sifa terasa sakit.


"Tunggu!" cegah Deren namun Sifa terus melangkah. Sifa ingin segera pergi dari rumah ini.


"Sifa!" Sifa tidak mau berhenti hingga Deren harus mengejar Sifa. Deren menuruni tangga dengan cepat dan diujung tangga Deren menarik pergelangan Sifa hingga Sifa jatuh dalam pelukan Deren.


"Ck!" Decak Sifa yang berusaha melepaskan diri dari Deren namun Deren tidak menghiraukan apa yang tengah Sifa lakukan.


"Lepas!" bentak Sifa namun Deren tidak perduli.


"Maaf." Kata itu terucap begitu saja membuat Sifa muak dengan semua hal yang terasa menyakitkan.


"Kamu pikir bisa menebus semuanya dengan kata maaf?"


"Aku tahu, aku salah. Dari awal ini salahku bukan Sena, kamu boleh menyakitiku ataupun membunuhku asal jangan menyakiti Sena, Dia tidak tahu apa-apa. Dia sangat menyayangi mu, dia membutuhkanmu, tolong jangan sakiti dia."


Deren mengeratkan pelukannya. Sifa tidak melawan lagi, dia mulai terisak di pelukan Deren.


"Iya ini semua salahmu! kamu membunuh putraku! putra kesayanganku!"


"Maaf... maaf.."


.....


Sifa dan Deren menatap kearah Sena yang menuruni tangga dengan membawa bantal dan juga wajah masih mengantuk.


"Mama!" kesal Sena yang di tinggal sendiri dikamar padahal Sena ingin ditemani oleh Sifa.


"Kok bangun?"


Sena langsung menaruh bantal di pangkuan Sifa dan langsung merebahkan tubuhnya. Sena hanya ingin semua kembali seperti dulu, tidak ada tembok yang memisahkan antara keluarganya. Tidak ada lagi kecanggungan dan juga kebencian, Sena ingin masa lalu tidak mempengaruhi masa yang sekarang.


"Aku bilang jangan pergi, temani Sena tidur!"


"Kamu ini."


Sena kembali terlelap di pangkuan Sifa. Deren melihat senyum yang sangat manis dibibir Sifa. Dengan lembut Sifa membelai wajah Sena.


"Kamu itu sudah besar, pasti mama kamu keberatan tuh."


"Biarin." Dengan mata terpejam Sena menjawab ucapan Deren. Sifa tersenyum tipis sembari menarik pelan hidung Sena.


"Mama jangan kemana-mana disini saja! Mama tidak usah hiraukan Papa, Papa itu nyebelin!"


"Apa kamu bilang?"


"Papa nyebelin!"


Deren yang tidak terima lalu menghampiri Sena dan langsung menggelitiki Sena.


"Papa geli!" Sena tertawa dan kerasnya karena Deren dan tanpa sadar Sifa pun ikut tertawa.


...


Rumah Erik.


Rumah ini kembali mendapatkan ketenangan setelah Rey dan Arfan berpamitan pulang. Sebenarnya mereka tidak ingin pulang tapi yah ada hal yang harus diurus.


"Sayang." Rio mengecup pipi Kevin yang masih tidak mau tidur.


"Kamu mau tiru papa kamu yang suka begadang tiap malam?"


"Kok jadi aku sih?" Rio nampak tidak terima dengan ucapan Angel namun Angel tidak perduli dengan wajah kusut Rio.


"Sinih Papa bopong saja biar kamu tidur."


..


Rio merasa lengannya pegal dan untung saja Kevin sudah tidur. Rio membaringkan Kevin di kasur dan Rio tidak bisa menahan gemas saat melihat wajah lucu Kevin yang tertidur.


"Jangan dicium nanti dia bangun!" larang Angel yang melihat Rio seperti ingin mencium Kevin.


"Iya...iya, bawel banget kamu!"


Angel hanya mengerutkan dagunya. Rio ikut berbaring di samping Kevin dan lama kelamaan kelopak mata Rio terpejam.


"Kamu pasti capek?" Angel tersenyum tipis melihat Ayah dan anak ini tertidur. Angel memilih merapikan baju-baju Kevin untuk di simpan di lemari.


...


Warung nasi bu Jihan.


Jihan sekarang paham kenapa istri pertama Rio melakukan ini semua dan Jihan tidak memungkiri bahwa tanpa kesepakatan itu mungkin Erik tidak bersamanya lagi.


"Pasti Erik marah yah?"


"Awalnya sih iya tapi saat melihat Kevin, dia luluh."


"Aku akan bicara kepada Rio, apa yang dia mau dan juga Sena. Aku merasa semua ini harus dengan ekstra sabar, aku tidak mau semua keputusan diambil secara terburu-buru." ucap Amanda yang ingin melakukan yang terbaik terlebih Sena dan Rio sudah menikah lama dan mereka juga sudah mengenal satu sama lain sejak di SMA.


"Aku juga sama, aku tidak ingin Angel merasakan hal yang pernah aku alami. Aku ingin yang terbaik untuk mereka."


"Aku paham, aku akan bicara dengan orang tua Sena tapi sebelum itu aku harus berbicara dengan Rio. Aku tidak tahu dia dimana, aku mengusirnya dan juga Angel." Amanda merasa bersalah telah memarahi Rio dan berbicara yang bukan-bukan tentang Angel.


"Mereka ada di rumahku. Aku juga baru tahu tentang semua itu semalam dan aku juga sudah bertemu dengan Sena. Dia sangat mencintai Rio."


"Itu menurutmu? aku sudah sangat hafal betul sifat menantu ku itu. Dia bisa melakukan apa saja untuk apa yang dia mau."


"Da, dia hanya takut kehilangan apa yang dia punya. Dia hanya ingin Rio bersamanya ,itu saja."


"Sifat mu masih sama seperti dulu, selalu berpikiran positif kepada orang lain." ucap Amanda yang masih merasa kagum dengan sifat Jihan yang menghadapi masalah dengan tenang.


....


Rumah Erik.


Rio yang baru bangun tengah mencari keberadaan Angel dan dia menemukan Angel di ruang tamu. Dia duduk disofa dengan ditemani berbagai macam camilan yang penuh di atas meja. Makanan ringan itu dari Arfan dan Rey, keduanya sangat tahu kalau busui ( ibu menyusui) itu cepat merasa lapar, jadi mereka membeli ini semua dan cemilan ini jauh dari MSG dan bahan kimia lainnya jadi aman untuk Kevin.


"Ngemil terosss!!" ucap Rio sembari merampas bungkus cemilan di tangan Angel. Angel hanya menggembungkan pipinya.


"Kalau mau bilang saja." ucap Angel saat melihat Rio melahap camilannya.


"Ngga usah marah gitu! pipi kamu itu udah kayak bakpao jangan di gembungin gitu!"


Angel tidak merespon, dirinya memalingkan tatapannya. Rio hanya terkekeh pelan lalu.


cup


Pipi Angel terasa memanas saat Rio dengan cepat mencium bibirnya.


"Udah ngambeknya! aku ingin menanyakan sesuatu pada mu."


"Katakan saja." ucap Angel sembari membuka bungkus camilan kacang mete.


"Rumah itu sudah selesai, apa kamu ingin pindah?"


"Kamu tidak suka disini? kalau iya, ya sudah kita pindah."


"Bukan itu, kalau kamu mau pindah kita ajak orang tuamu kalau tidak ya sudah aku tidak memaksamu. Aku betah disini, serasa aku tidak punya beban di pundak ku. Aku bahagia bersama kalian."


"Lalu Sena? apa kamu harus memilih antara aku dan Sena? apa kita bertiga tidak bisa hidup satu atap?"


Rio menatap Angel dengan tatapan yang sulit diartikan. Diamnya Rio membuat Angel merasa dirinya salah berbicara.


"Maaf aku tidak bermaksud." Angel menundukkan kepalanya, dia takut melihat tatapan mata Rio. Rio tersenyum tipis lalu mengacak-acak puncak kepala Angel lalu menarik Angel dalam pelukannya. Angel bersandar di dada Rio. Angel dapat mendengar detak jantung Rio.


"Apa kamu ingin terus diganggu oleh Sena?"


"Aku berhutang nyawa padanya." Angel masih ingat saat Sena datang dan menawarkan perjanjian itu.


"Itu uang ku bukan uang Sena, jadi kamu tidak usah terlalu memikirkan itu."


"Tetap saja, kalau dia tidak memintamu dan aku tidak bertemu dengan Sena, aku tidak mungkin bertemu denganmu. Aku tahu Sena seperti itu tapi aku pernah melihatnya bersedih."


"Itu ha---."


"Hanya sandiwara?" Angel memotong ucapan Rio tapi Angel yakin itu bukanlah sandiwara tapi kenyataannya, Sena rapuh dan merasa sendiri.


"Iya."


"Tidak Rio, itu bukan sandiwara. Dia sangat menyayangi mu. Dia hanya tidak bisa mengendalikan sifat egois nya."


"Kamu mau aku harus berbuat apa?"


"Berikan Sena kesempatan kedua. Aku juga bersalah padanya, aku merebut mu darinya."


"Bukan kamu tapi aku yang sudah sangat capek menghadapi dia. Aku sangat mencintainya tapi dia seakan memintaku menunjukan lebih dari itu. Aku sering membuat mama bersedih karena Sena. Karena ini kemauan mu aku akan menurutinya."


Ketukan di pintu menunda obrolan keduanya. Rio lantas bangkit dari duduknya berjalan kearah pintu rumah. Rio membuka pintu itu dan Rio terkejut melihat orang didepannya itu Jihan dan Amanda, mereka berdua terlihat biasa-biasa saja.


"Mama? mama ngapain di sini?... awww.."


Amanda langsung menarik telinga Rio hingga Rio mengaduh kesakitan. Jihan yang melihat itu semua hanya tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya.


"Mama tidak ingin bertemu denganmu! dasar anak bandel!" ucap Amanda sembari melepas jeweran tangannya.


"Sakit ma." keluh Rio dan langsung mendapat tatapan tidak enak dari Amanda.


"Sakitan hati mama yang kamu bohongi terus!" ucap Amanda yang langsung melangkah masuk. Amanda sangat merindukan Kevin.


....


Rumah Deren. Ruang tengah.


Sifa tengah menyuapi Sena, tingkah Sena hari ini sungguh membuat Deren dan Sifa tersenyum. Mungkin ini yang hilang dari keluarga ini, senyuman dan kehangatan.


Suara dari ponsel Deren membuat kedua perempuan ini menoleh kearah Deren. Deren terkejut melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Deren segera menjauh, dia takut Sena akan mendengarkan pembicaraan yang akan terjadi.


Deren mengangkat panggilan telepon dari Riko. Deren tahu Riko marah karena ulah putrinya.


"..... baiklah kami akan ke sana."


Riko meminta Deren sekeluarga untuk pergi kerumahnya untuk membahas masalah yang tengah terjadi. Deren paham ini semua sangat lah rumit dan harus diselesaikan secepatnya.


"Ini sangat melelahkan."


Deren kembali keruang tengah. Deren melihat Sena yang terlihat bahagia dengan perhatian yang di berikan Sifa.


"Tadi siapa yang telepon, Pa?" tanya Sifa yang membuat hati Deren bergetar. Sekian lama panggilan itu terdengar.


"Papanya Rio." mendengar itu Sena menjadi tidak tenang. Sena yakin Riko pasti sangat marah kepadanya, terutama Rio. Sena yakin Rio akan menceraikannya.


"Rio mau menceraikan ku?" ucap Sena. Sifa langsung menarik Sena dalam pelukannya. Sifa melihat ke arah Deren.


"Papa tidak tahu, mereka ingin kita datang ke rumahnya. Bukan cuma kita, keluarga Angel juga datang."


"Angel? siapa Angel?" tanya Sifa bingung.


"Tanya saja pada Sena, dia tahu semuanya." suruh Deren. Sena memeluk pinggang Sifa dengan erat, Sifa tahu Sena tidak ingin bercerita.


"Sena tidak mau kesana!"


"Kamu tidak sendirian sayang, ada Mama sama Papa. Kita tidak boleh membiarkan masalah ini terus menerus." ucap Sifa menenangkan. Sena mengangguk pelan.


...


Rumah Amanda Riko.


Ruang tamu.


Ketiga keluarga ini tengah memperbincangkan soal pernikahan anak-anak mereka. Sifa nampak sebiasa mungkin dan mengendalikan emosi nya, dia tidak ingin menambah masalah lagi terlebih ada Deren yang jelas-jelas tidak mungkin membelanya.


Sena menggenggam erat tangan kanan Sifa, seakan memberitahukan kepada Sifa bahwa dirinya sangat takut dengan semua ini.


Rio nampak menatap tajam kearah Sena. Rio merasa capek terus menerus mendengar alasan yang dilontarkan Sifa yang pastinya selalu membela Sena. Sifa meminta menunda mempublikasikan pernikahan Rio dan Angel dengan alasan karir Sena akan hancur dan dalam waktu dekat Sena akan melakukan kerja sama dengan desainer asal Kanada, jika dia tahu pasti akan membatalkan kerjasama itu.


Amanda merasa sangat kecewa dengan sikap Sifa yang tidak pernah memperdulikan perasaan orang lain dan Amanda sangat malu kepada Jihan dan Erik.


"Sampai kapan? Kamu sama saja dengan Sena, Egois." Amanda berbicara dengan intonasi nada yang terdengar menahan emosi.


Sena semakin erat menggenggam tangan Sifa, Sena menundukkan kepalanya. Deren memaklumi kemarahan Amanda. Ketiga pria dewasa ini hanya jadi penonton, mereka takut akan melakukan kesalahan.


Jihan tersenyum tipis, dia tahu apa yang dimaksud Sifa. Sena belum siap dengan semua ini.


"Bilang saja kalau Sena belum siap dengan semua itu, kami pasti mengerti. Tidak perlu beralasan seperti itu, terkadang orang lain tidak mengerti apa yang kita inginkan."


"Apa?" Sifa terkejut mendengar perkataan Jihan bukan cuma Sifa semua orang pun terkejut, kecuali Angel sih. Angel sendari tadi duduk agak jauh dari mereka supaya Kevin tidak menggangu pembicaraan ini.


"Bu tapi?" Rio tidak habis pikir dengan apa yang Jihan lakukan.


"Ri, kamu sekarang punya dua istri. Kamu harus menghadapi semua masalah dengan tenang, juga harus adil. Semua keputusan ada padamu, bukan pada kami. Yang terpenting sekarang keberadaan Angel dan juga tentang Kevin sudah jelas. Bukan cuma Sena saja tapi kita semua pasti terkena imbasnya, aku sarankan selesaikan yang harus diselesaikan dulu."


Sena menatap Jihan dengan tatapan mata yang tidak bisa di jelaskan tapi yang jelas Sena merasa di bela Jihan yang ia tahu ibunya Angel.


"Kamu sedang cari perhatian? kamu itu ibunya Angel. Kamu pasti ingin anak kamu jadi istri sahnya Rio kan, kamu mau menyingkirkan anakku!" Sifa mulai tidak bisa mengontrol emosinya.


"Kamu seorang ibu kan? kamu juga ingin yang terbaik untuk putrimu kan? aku tahu bila masalah ini bocor ke orang luar maka yang disalahkan putriku dan putrimu yang kamu tahu bersalah akan dibela. Itu yang kamu mau? melimpahkan semua kesalahan putrimu kepada putriku? kamu kira keluarga kami sangat tergila-gila akan harta?"


"Iya, kalau tidak manamu putrimu menjual dirinya." ucap Sifa dengan nada sinis. Amanda ingin sekali menampar pipi Sifa namun Amanda percaya Jihan mampu menghadapinya.


"Sudah! aku sudah muak dengan pembicaraan ini!" ucap Rio dengan tegas. Kalau bukan karena permintaan Angel, Rio sudah menyewa pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan Sena.


"Rio! kamu mau membuang Sena begitu saja?" tanya Sifa dengan nada murkanya.


"Siapa yang mau membuang Sena? sejak awal pembicaraan ini hanya membahas tentang setuju atau tidaknya Sena dengan publikasi pernikahanku dengan Angel, tidak sedikitpun membahas tentang perceraian atau semacamnya! Angel memintaku untuk memberi kesempatan ke Sena untuk sekian kalinya untuk dia merubah sikapnya. Kalian tidak tahu apa yang telah Sena lakukan pada Angel dan aku tidak akan mengungkit masalah itu lagi. Jadi Sena, apa kamu mau menerima kehadiran Angel dan juga Kevin, satu atap dengan mu?" jelas Rio panjang lebar.


"Kamu tidak akan menceraikan ku?"


"Tidak, asal kamu bisa menjaga sikapmu."


"Baiklah, berikan aku dua bulan untuk menyelesaikan urusan ku, setelah itu terserah kamu. Aku tidak akan menghalangi lagi."


"Sena, kamu bilang apa? Mama tidak setuju yah!" protes Sifa.


"Ma, cukup. Rio tidak menceraikan ku itu yang terpenting. Ayo pulang." Sena bangkit dari duduknya, mulai melangkah menjauh.


Jihan melihat kearah Angel seakan menyuruh Angel melakukan sesuatu. Angel mengangguk, dia pun bangkit dari duduknya sembari membopong Kevin menyusul Sena.


"Sayang, Mama Sena tuh mau pulang. Ngga main dulu sama kamu yah." ucap Angel sembari melihat ke arah Kevin. Kevin mengeluarkan suara membuat Sena menghentikan langkahnya. Yang lainnya hanya melihat saja, berharap ada keajaiban.


"Dia juga putramu." ucap Angel lagi. Sena membalikan badannya.


"Apa kah boleh?"


"Tentu saja, aku juga tidak sanggup untuk membopongnya seharian. Ayo lah, rawat dia bersama. Kevin pasti bahagia punya dua ibu."


Sena berjalan menghampiri Angel. Sena mengantikan Angel membopong Kevin lalu berjalan menjauh. Sena mengajak Kevin berkeliling ruangan sembari mengajak Kevin mengobrol.


Mereka semua tersenyum tipis melihat kebersamaan Angel dan juga Sena. Mereka selama ini mengkhawatirkan hal yang tidak masuk diakal. Semua terasa damai saat melihat Sena dan Angel disatukan oleh bayi mungil yang kini mulai mengoceh.


"Apa mereka akan selalu seperti itu?" tanya Sifa dengan penuh harapan, membuat orang-orang disekitarnya mengerutkan keningnya. Ini bukan sifat Sifa.


"Iya, kalau tidak ada hal yang membuat mereka bertengkar." ucap Amanda dan setelah itu para orang tua ini langsung melirik kearah Rio dan membuat Rio agak ngeri dengan situasi ini.


"Akan aku usahakan." Jawab Rio seadanya.


"Baguslah."


Sifa merasa Jihan orang yang sangat pengertian dan punya sudut pandang sendiri dalam melihat sesuatu dan merasa Jihan bisa membimbing Sena menjadi seorang yang lebih baik.


"Jihan, apa kita bisa bicara empat mata?" pinta Sifa dengan tiba-tiba.


"Boleh."


...


Sena merasa sangat gemas dengan Kevin dan andai saja dia punya anak selucu Kevin pasti hidupnya akan lebih berwarna lagi.


"Sayang, mama Sena nangis." ucap Angel sembari menghapus lembut air mata Sena yang Sena pun tidak sadar dirinya menangis.


"Maaf, aku menyakitimu. Aku takut kehilangan Rio hingga aku tidak sadar aku menyakitinya dan juga diriku sendiri."


"Sudah lah, itu sudah berlalu. Kita hadapi masa yang akan datang, jangan melihat ke belakang lagi."


"Terima kasih, kamu mau memperdulikan ku."


...


22:00


Sifa dan Deren berpamitan pulang namun keduanya tidak mengajak Sena pulang bahkan mereka tidak berpamitan dengan Sena.


Setelah kepergian Sifa dan Deren. Amanda merasa sangat lega, dirinya selalu merasa sesak dengan kehadiran Sifa yang mempunyai mulut sepedas cabe.


"Sepertinya kami juga harus pulang." pamit Erik.


"Kalian menginap saja." tawar Amanda namun sepertinya Jihan dan Erik memilih tetap pulang.


"Aku ada pesanan, maaf yah?" tolak Jihan.


"Ya sudah, kalian hati-hati dijalan."


"Iya, titip Angel."


"Dia sudah seperti putriku sendiri, kamu tidak perlu khawatir."


....


Kamar Kevin


Rio yang penasaran apa yang dilakukan kedua istrinya bersama malaikat kecilnya memutuskan untuk melihat kedalam kamar yang sudah tidak terdengar suara percakapan lagi.


Rio membuka pintu kamar dengan pelan dan terlihat Sena dan Angel tengah terlelap begitu juga dengan Kevin yang tidur di tengah.


Rio memasuki kamar dengan senyum dibibirnya. Melihat kedua istrinya akur seperti ini membuat beban hatinya menghilang.


Rio memakaikan selimut pada Angel dan juga Sena. Rio sangat tahu ketebalan selimut yang nyaman untuk Sena dan juga Angel dan untungnya disini ada dua selimut yang sang sesuai dengan mereka.


"Tetaplah akur seperti ini, jujur aku tidak ingin melukai hati kalian lagi." setelah berucap Rio bergantian mencium puncak kepala Angel dan juga Sena. Setelah membenarkan posisi kepala Angel, Rio memutuskan untuk tidur di sofa dekat ranjang.


01:30


Sena terbangun dari tidurnya, dia terlihat terkejut, entah apa yang dialaminya dalam mimpi. Rio yang sedang berkerja dengan laptopnya hanya mengangkat satu alisnya melihat Sena yang terduduk dengan napas yang tidak beraturan.


"Kamu kenapa?" tanya Rio pelan dan membuat Sena menoleh kearah Rio. Sena menggigit bibir bawahnya. Seingatnya, dirinya dan juga Angel tengah menina bobokan Kevin setelah itu dia tidak ingat lagi.


"Aku harus pulang." ucap Sena sembari menurunkan kakinya dari kasur. Sena tidak enak bila tetap disini.


"Pulang? lihat jam itu!" suruh Rio. Sena melihat kerah jam. Sena berdecak kesal kenapa dirinya ketiduran, jam segini sangat susah mencari taxi.


"Tidur saja lagi." suruh Rio tanpa melihat ke arah Sena.


"Apa kamu membenciku?" tanya Sena tiba-tiba. Pertanyaan yang terlontar itu membuat Rio menghentikan aktivitas nya.


"Menurutmu?" Rio langsung menatap Sena dengan tatapan kehampaan. Sena bisa melihat dari sorot mata Rio sudah tidak ada lagi cinta untuknya.


"Lalu kenapa?"


"Angel yang memintanya."


"Apa?" Sena menoleh kearah Angel yang terpejam sembari memeluk Kevin. Berjuta pertanyaan kini memenuhi pikirannya sekarang, kenapa Angel melakukan semua ini padahal dirinya selalu kasar dan membuat calon anaknya meninggal.


Angel membuka matanya dan langsung mengerutkan dahinya saat melihat Sena yang menatapnya.


"Kenapa?" tanya Angel bingung. Sena hanya menggeleng pelan.


"Apa kalian bertengkar?" tanya Angel menduga.


"Tidak ada apa-apa, lalu kenapa kamu terbangun?" tanya Sena balik.


"Waktunya Kevin nyusu." Dan benar saja Kevin mulai menggeliat dan membuka kelopak matanya. Kevin mulai merengek minta ASI.


"Kamu lucu banget sih." Sena menoel pipi kiri Kevin.


20 menit berlalu. Rio menatap kesal kepada kedua istrinya yang seolah-olah melupakan dirinya.


"Punya istri dua tapi tidak ada satupun yang mau membuatkan ku kopi." keluh Rio yang langsung berjalan keluar kamar.


...


Rumah Sakit kasih Bunda.


Pagi-pagi sekali Sifa menjemput Sena dari rumah Amanda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis rahim. Sifa berharap Sena bisa secepatnya memiliki seorang anak.


"Ma, mama yakin?" tanya Sena yang merasa semua ini akan sia-sia.


"Sayang, kamu harus yakin! ini yang terbaik untuk mu."


"Sena Olivia?" panggilan antrean itu membuat Sena gugup. Sifa menggenggam erat tangan Sena, memberinya kekuatan.


2 jam berlalu. Setelah melalui berbagai pemeriksaan akhirnya hasilnya keluar dan sekarang Sifa dan Sena tengah berada di ruangan dokter. Melihat raut wajah dokter perempuan ini membuat Sena cemas.


"Dok? bagaimana? apa putri saya bisa hamil?"


Dokter itu menghela napas membuat Sifa cemas. Dokter ini membaca berulang kali hasil laboratorium milik Sena dan menemukan kandungan obat-obatan yang dapat menggangu terjadinya kehamilan.


"Apa putrimu mengonsumsi obat-obatan tertentu?" tanya dokter itu. Sena mengangguk pelan membuat Sifa terkejut.


"Sena?"


"Itu obat penghilang stres, aku meminumnya sudah lama."


"Sebaiknya kamu dikurangi pemakaian nya kalau bisa kamu jangan mengonsumsi nya lagi."


"Baik dok." Sena langsung berdiri,meninggalkan ruangan. Sifa langsung mengejar Sena untuk menanyakan apa yang telah terjadi kepada dirinya.


....


Mobil Sifa.


Sifa mengemudi dengan tatapan kosong. Dirinya masih mendengar isakkan Sena dan juga semua ucapannya. Selama ini kondisi mental Sena sakit dan semua itu karena dirinya. Tekanan dan keharusan yang menuntutnya membuatnya lelah jiwa dan juga raganya.


"Aku monster! aku tidak pantas di sebut Mama. Aku membunuh putriku sendiri! Sena! maafin mama!!! Mama tidak berniat membalas dendam sampai seperti ini! Mama cuma ingin kamu jadi model terkenal!.... YA TUHAAANNNN!!! TOLONG PUTRIKUUU!!!"


Teriak Sifa didalam mobil. Sifa sendiri dalam perjalanan pulang setelah mengantar Sena ke rumah Amanda, awalnya Sena menolak dan ingin pulang bersamanya namun Sifa terus memaksa dan Angel juga mendukung Sena untuk tetap di rumah Amanda, menemaninya dan juga Kevin.


Air mata penyesalan mengalir deras dari pelupuk mata Sifa. Sekarang sadar bahwa dia punya seorang putri yang sangat menyayangi nya. Selama ini dia terperangkap kenangan bersama Raffa dan dia tidak memperdulikan apa pun.


"Tuhan ambil Nyawaku dan berikan hidup yang lebih baik untuk putriku."


TTTIIIIINNNNNN


Suara kelakson truk membuat Sifa terkejut. Sifa langsung membanting setir mobil kearah kiri dan membuat mobilnya keluar jalur dan naas nya mobil Sifa malah menabrak pohon. Sifa tidak merasakan apa pun. Dunianya mendadak gelap.


Rumah Sakit Harapan kita.


Sena tidak berhenti menangis. Rasa takut kehilangan kini memenuhi hatinya. Rio dan Deren tidak bisa berbuat banyak, hanya doa yang terus terucap dalam hati.


"Pa,. Sena takut kehilangan mama lagi." ucap Sena dengan penuh ke takutan. Deren langsung memeluk putrinya dengan erat, baru kemarin rasanya menjadi keluarga yang bahagia namun sekarang rasa takut itu kembali lagi.


"Sayang, Mama baik-baik saja. Mama kamu kuat! kamu percaya kan?" bisik Deren lembut di telinga Sena. Sena berusaha tenang dan mendoakan yang terbaik untuk Sifa.


20 menit berlalu. Seorang dokter keluar dari ruang operasi namun raut wajahnya membuat khawatir. Deren menghampiri Dokter itu dan sebelumnya Deren menyuruh Rio untuk melarang Sena bertemu dengan Dokter karena Deren sudah tahu kondisi Sifa yang kecil kemungkinan selamat. Kecelakaan barusan membuat pembuluh darah di kepala Sifa pecah dan juga jantung Sifa yang bocor. Deren tidak ingin Sena semakin sedih.


"Dok?"


"Dia sudah siuman namun kami tidak bisa menjamin dia akan baik-baik saja. Dia ingin bertemu dengan putrinya."


"Tapi?" Deren tidak mungkin mempertemukan Sifa dengan Sena. Deren tidak ingin Sena terpuruk.


"Aku tahu, tapi ini yang terbaik sebelum hal yang buruk terjadi." Dokter itu menepuk pundak Deren. Deren menghela napas beratnya, dengan langkah yang berat, Deren menghampiri Sena dan Rio.


"Pa?"


"Mama ingin bertemu dengan mu, ayo." ajak Deren. Rio memegangi Sena berjalan beriringan menuju tempat Sifa.


....


"Mama?"


Sena merasa sesak saat melihat Sifa yang berbaring dengan peralatan medis ditubuhnya.


"Sayang." panggil Sifa dengan lemas.


"Mama pasti baik-baik saja, mama yang kuat yah?" ucap Sena sembari menggenggam erat tangan Sifa. Sifa tersenyum tipis, dirinya tahu hidupnya tidak lama lagi.


"Kamu jangan sedih seperti itu, kamu tidak sendiri ada Rio."


Sena menggeleng cepat, Sena ingin Sifa bukan orang lain. Rio menatap Deren dan terlihat raut wajah sedih dan juga kepedihan.


"Rio." panggil Sifa. Rio melangkah mendekat.


"Rio, mama mohon jaga Sena, semua kesalahan Sena itu karena Mama. Mama yang salah mendidiknya, mama yang bersalah kepadamu bukan Sena. Mama ingin kamu selalu berada di sisih Sena."


"Ma, Rio akan menjaga Sena, bukan cuma Rio, Papa dan yang lain juga pasti akan menjaga Sena."


"Mama, Sena mau mama bukan orang lain!"


"Sayang kamu harus menjadi istri yang baik, kamu harus akur dengan Angel dan kamu harus menjaga Kevin. Sayangi dia seperti putramu. Mama mohon."


"Sena." ucap Deren sembari mengelus puncak kepala Sena. Sena tahu kondisi Sifa tidak baik-baik saja. Sifa menatap Sena dengan penuh harapan.


"Iya ma, Sena janji."


"Mama sayang sama kamu. Mama tidur dulu yah?" perlahan kelopak mata Sifa menutup.


"MAMA!!!" teriak Sena. Rio buru-buru memanggil dokter yang tengah menunggu di luar ruangan. Deren merasa tubuhnya sangat, air matanya mengalir begitu saja. Terulang lagi rasa sakit akan kehilangan, Deren merasa sangat tidak berguna dan perasaan ini membunuhnya.


"PA! BANGUNIN MAMA! SENA MAU SAMA MAMA!!!" teriak Sena yang langsung memeluk tubuh Sifa.


"Sifa!"


Deren mengecup kening Sifa cukup lama. Ini seperti mimpi, baru kemarin dirinya berdamai dengan Sifa dan sekarang dirinya harus berpisah dengannya untuk selamanya.


.....****.....****