
Rumah Angel.
Rey perlahan mengangkat tubuh Angel, membopongnya kekamar tidurnya. Rey bisa saja membangunkan Angel tapi melihat Angel yang pulas tertidur membuat Rey tidak tega terlebih setelah Angel alami.
Rey langsung masuk kedalam rumah yang kebetulan sekali pintu depan terbuka.
"Rey, El tidur?"
"Iya Tan"
"Bawa kekamar Tante saja"
"Iya"
....
Rumah Rio/Sena
Rio langsung menghubungi Amanda. Walau ini sudah jam sebelas malam tapi Rio yakin Mamanya belum tidur. Rio tersenyum senang saat Amanda menerima panggilan telefonnya.
"Rio ada apa?"
"Ma. Rio kangen sama Leona, pasti dia sudah besar yah sekarang"
"Tumben sekali kamu tanya Leona"
"Abisnya Rio kangen tadi aku lihat diIG nya Sasa ada videonya Leona, lucu banget ma!"
Rio sebisa mungkin membuat Amanda mengerti dengan keinginan Rio minta.
"Kamu pasti ingin sekali bermain dengan anakmu yah?"
Mendengar pertanyaan Amanda membuat Rio tersenyum licik. Rencananya berjalan dengan mulus.
"Iya ma tapi Sena kerja terus, pasti sulit hamilnya. Program bayi tabung juga ngga mungkin pasti Sena menolak sebab sebelumnya Sena harus banyak istriahat dan Mama tahu sendiri Sena seperti apa?"
"Terus kamu mau apa?"
"Ma, keluarga om Bram kan diJakarta"
"Terus?"
"Kita undang mereka kerumah mama yah, aku akan ajak Sena. Ya kali saja saat melihat Leona jadi merubah sifat keras kepala Sena dan dia mau berjuang lagi untuk mendapatkan anak" jelas Rio panjang lebar, ya walau dirinya tak begitu yakin Sena ingin kembali menjalani serangkaian program untuk mendapatkan momongan.
Kalau iya pun Sena pasti tidak mau hal yang ribet apa lagi harus berhenti jadi model, itu tidak mungkin paling Sena akan menyuruh Angel kembali kerumah dan melahirkan anak untuknya kalau itu terjadi berarti rencana Rio berhasil.
Rio memang ingin Angel kembali kepelukannya dengan memanfaatkan sifat egois Sena.
"Iya, mama akan hubungi mereka. Mama juga mau Arfan jadi keinginan punya anak dan secepatnya menikah, Mama sudah pusing meladeni adik kamu itu! andai saja ada gadis yang menarik perhatannya, mama pastikan mama yang akan melamarkannya untuk Arfan"
"Semoga berhasil ma, mama tahu sendiri Arfan bagaimana?"
"Hemm. Sudah kamu tidur ini sudah malam!"
"Iya Ma"
Rio menutup sambungan telefon. Rio tersenyum senang semuanya akan sesuai dengan rencananya.
"Sorry, Sena. Aku terpaksa menyakitimu, aku sekarang hanya ingin memiliki seorang anak. Keinginan manusia bisa berubahkan?"
Dulu memang Rio tidak keberatan tidak memiliki keturunan tapi seiring berjalannya waktu dan kehamilan Angel membuat Rio ingin menimang anak walau Rio pernah melakukannya sekali saat ingin menguburkan Sania. Rio merasa sangat kehilangan bidadari kecilnya.
"Sania, Papa akan mempertemukanmu sama Mama, kamu yang sabarnyah"
Rio menyeka air matanya. Mengingat hari terperih itu membuat Rio selalu meneteskan air mata penyesalan yang teramat dalam.
"Maafin Papa, sayang"
...
Tak terasa mentari pagi mulai menerangi bumi dengan hangatnya. Suara kicau burung menambah kesan damai dihati serta angin pagi yang sangat menyegarkan menambah kesempurnaan pagi ini.
Ruamah Angel
Angel perlahan membuka kelopak matanya. Dilihatnya sekeliling Angel sadar ini bukan kamarnya dan dia tahu kamar siapa ini tapi yang ia bingungkan siapa yang membawanya kesini.
"Baru bertemu, aku sudah merepotkan Rey"
Angel menghela napas. Rasa tidak enak telah merepotkan Rey kini bergejolak dibenak Angel. Dari awal bertemu Rey selalu menjaganya ya walau terkadang usil dan jahil serta bikin pusing kepala.
Terdengar suara pintu dibuka, Angel langsung melihat kepintu. Ternyata itu Jihan.
"Kamu sudah bangun"
Jihan tersenyum kearah Angel. Angel ingin bangkit dari tempat tidur tapi dirinya langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut saat mendengar suara Rey yang memangil namanya.
Rey langsung nyelonong masuk kedalam kamar melewati Jihan. Rey langsung berjalan kearah tempat tidur untuk membangunkan Angel.
"WOY BANGUN WOY UDAH SIANG!!"
Teriak Rey yang sembari menarik selimut yang menutupi tubuh Angel.
"REYYYYYY!!!" teriak Angel tak kalah nyaringnya. Angel langsung terduduk dan menatap Rey sebal.
"Ih nyebelin banget sih, pagi-pagi udah bikin darah tinggi!" semprot Angel dengan nada kesalnya tapi yang diomelin malah cengengesan tidak jelas.
"Ngapain kamu ketawa? pagi-pagi udah disini aja!"
"Rey nginep disini, buruan kalian kemeja makan!" ucap Jihan menyela lalu keluar kamar. Angel menatap tajam kearah Rey. Rey menginap disini dan pastinya Rey memberitahuakan semua yang terjadi kemarin kepada orang tuanya.
"Biasa aja kali lihatinya" ucap Rey dengan suar tak enak didengar.
"Rey ka--"
"Aku ngga bilang sama mereka" potong Rey yang seakan tahu apa yang akan diucapkan oleh Angel. Angel bernapas lega, Angel ingin menanggung beban ini sedirian cukup dirinya saja yang merasakan dunia yang begitu kejam dan ketidak adilan. Rey ingin sekali mengetahui semua yang telah terjadi kepada Angel terutama laki-laki yang kemarin mengasari Angel.
"Mandi sanah! bau jigong sumpah"
Rey langsung mengambil langkah seribu sebelum siempu marah.
"REYYYY!"
Teriak Angel sembari melempar bantal kearah pintu.
"Pagi-pagi ngajak ribut dasar celurut!"
Angel memijit plipisnya. Masih teringat jelas suara Rio ditelinganya. Angel menggigit ibu jari tangan kanannya untuk menetralkan rasa takut, cemas dan lainnya semua terasa berat. Angel hanya berharap ada keajaiban dan hidup seperti dulu lagi.
....
Rumah Rio/Sena 08:39
Sena masih terlihat marah padahal Rio telah memperbolehkannya bekerja lagi tapi sekarang Rio memaksa dirinya untuk ikut kerumah Amanda. Rio melihat dari pantulan cermin Sena yang tengah terduduk diatas kasur dengan muka cemberut.
"Cuma sebentar kok, jangan cemberut gitu ntar cantiknya hilang loh!" ucap Rio namun tidak langsung melihat Sena.
"Iiihhh kamu mah ngga mikirin perasaan aku! aku takut mama kamu itu akan jelek-jelekin aku didepan keluarga Bram terlebih Sasa udah punya anak. Pasti aku akan disindir habis-habisan sama mama kamu!"
Sena mengutarakan semua kecemasannya dan juga hal yang biasa Amanda lakukan. Sena sebenarnya tidak mau ikut tapi ini ia lakukan hanya semata-mata menunjukan keRio kalau dirinya benar-benar ingin berubah.
"Ya kamu tidak usah hiraukan ucapannya, ngampangkan?"
"Ri, aku serius nih. Jangan bercanda!" kesal Sena karena Rio seolah-olah tengah meledeknya.
"Aku serus, sekarang kamu mau ikut apa tidak? Mama katanya sih punya hadiah buat kamu"
"Beneran?"
Sena langsung bersemangat saat mendengar kata hadiah ya maklumlah ibu mertuanya ini lebih sering galaknya ketimbang baiknya.
"Iya"
"Aku ikut, bentar!"
Sena langsung meraih tasanya lalu menggandeng tangan Rio. Wajah Sena terlihat sangat senang.
Rumah orang tua Rio
Rumah yang kemarin sepi kini mendadak ramai dan penuh akan tawa. Bayi perempuan yang baru bisa merangkak ini menjadi pusat perhatian. Tingkahnya yang lucu membuat semua yang melihatnya tersenyum senang.
"Leona.. eeemmm sayang!"
cup...cup..cup
Amanda yang gemas langsung membopong bayi yang bernama Leona ini lalu menciumi pipi cubynya dengan gemas. Leona ini anak dari Sasa dan Niko serta cucu dari Bram dan Aina. Mereka sampai disini jam tujuh dan rencananya mau menginap semalam disini.
"Sasa, anak kamu gemesin banget,.. eh giginya udah tumbuh?" kaget Amanda saat Leona tersenyum sangat lebar melihatkan empat gigi susunya, dua diatas dan dua lagi dibawah.
"Iya Tan, emang gemesin anak mama" Sasa langsung mencubit pelan pipi Leona.
"Jeng katanya Rio sama Sena mua dateng" tanya Aina yang ingin sekali bertemu Rio, keponakannya.
"Tante kek ngga tahu aja, Sena kan make up nya lama. Tahun baru juga pasti bulum kelar" ucap Arfan menyahuti disela-sela dirinya yang tengah bermain PS dengan Niko. Apa game itu pemersatu kaum Adam?.
"Arfan jaga bicaramu itu, Sena itu kakak iparmu!"
"Iya Ma, ampun"
Walau berucap seperti itu Arfan masih tidak rela Sena menjadi kakak iparnya karena Sena selalu sesuka hatinya "menyetir" Rio dan terkadang membuat Amanda merasa sedih. Hal itu juga yang membuat Arfan belum menikah sampai saat ini. Arfan tidak mau terburu-buru menikah karena Arfan tidak ingin dirinya salah pilih dan menyesali semuanya selama sisa hidupnya.
Hanya berselang lima menit akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
"Itu mereka"
Amanda terlihat sangat senang melihat kedatanga mereka. Rio langsung melampiaskan kegemasan kepada Leona sedangkan Sena melakukan salam wajib bagi perempuan yaitu cipika cipiki dengan Sasa dan juga Aina.
"Lucu banget sih kamu!"
Rio langsung menciumi bintang kecil ini dengan gemasnya bahkan Leona sampai kesal dengan perlakuan Rio. Simungil ini berteriak seakan-akan memarahi Rio tapi malah membuat suasana jadi lebih riuh.
"Kenapa? om Rio nakal yah?" ucap Amanda yang merasa senang sekaligus kewalahan memegangi Leona yang bergerak aktif dipangkuannya.
"Aaaww"
Rambut Rio dijambak oleh Leona saat Rio dengan jahilnya menciumi perut Leona. Leona bersuara seakan geregetan denga Rio dan membuat yang lain tergelak. Amanda langsung melepas sambakan Leona.
"Sayang gemes yah?"
"Kecil-kecil galak banget sih!" ucap Rio langsung saat melihat beberapa helai rambutnya ditangan Leona. Leona malah tertawa melihat wajah kesal Rio.
"Kamu gejek lagi, ayo sini sama Om"
Rio membopong Leona mengajaknya jalan-jalan mengelilingi rumah.
"Sena, tuh suami kamu udah kebelet banget punya anak!"
Perkataan Aina membuat Sena tidak nyaman dan benar saja dugaannya saat dirumah sebelum berangkat. Sena mencium aroma persekongkolan ibu mertuanya dengan adiknya ini.
"Belum dikasih sama Tuhan" jawab Sena dengan datarnya.
"Iya sih tapi kan harus berusaha, kamu belum coba bayi tabung?"
"Mana sempet, Sena kan sibuk"
Ucapan Amanda membuat Sena merasa kesal. Sena merasa mertuanya ini tidak pernah membelanya dan malah memojokannya.
"Namanya juga model Tan, dulu aku juga pernah" ucap Sasa yang mantan model. Sasa juga seorang model sama seperti Sena. Sebelum Sasa menikah tahun lalu keduanya sering saingan meperlihatkan kecantika dan lekuk tubuh mereka. Namun setelah menikah Sasa lebih memilih keluarga kecilnya dibanding profesinya.
"Iya sih tapi kamu itu bisa membagi waktu tapi Sena? dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri"
Ucapan Amanda membuat Sena terlihat buruk didepan Aina dan Sasa. Sena yang tidak tahan lagi langsung pergi tanpa berkata apa-apa.
"Kebiasaan banget sih nggak sopan sama mertua. Kenapa Rio memilih perempuan seperti itu" kesal Amanda yang menyesal telah merestui pernikahan mereka. Aina dan Sasa merasa bersalah, harusnya mereka tidak memancing masalah terlebih mereka suda tahu sifat Sena.
"Jeng maaf yah kita tidak bermaksud"
"Sudahlah, dia memang seperti itu. Semaunya sendiri"
Arfan dan Niko tidak menghiraukan para emak-emak itu. Hanya layar TV yang mereka hiraukan. Bekerja siang malam membuat mereka tidak ingin menyiayiakannya waktu santai mereka.
...
Sena menyusul Rio dengan mulut yang masih mengumpati Amanda.
"Mimpi apa aku punya mertua seperti itu!" kesal Sena.
Sena menghampiri Rio yang tengah berada ditaman sembari menidurkan Leona yang terlihat mengantuk.
"Kamu kenapa?" tanya Rio yang heran istrinya datang dengan wajah kusut. Sena tidak menjawab melainkan menatap Rio tajam.
"Kenapa?" tanya Rio sekali lagi.
"Mama kamu tuh, ngeselin banget"
Rio menghela napas. Terasa serba salah saat berhadapan dengan dua wanita yang berarti dihidupnya.
"Nggak usah dihiraukan, udah biasa jugakan?"
"Tauah, kamu itu sama kek Mama kamu. Ngeselin!"
Sena langsung pergi dengan kekesalannya. Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Leona sekarang sudah tertidur di dada Rio. Entah kenapa Rio merasa sedih terlebih saat mengingat Saina, buah hatinya bersama Angel.
"Sebaiknya aku baringkan Leona"
....
Sena pov.
Menyebalkan! kenapasih semua orang menanyakan kapan aku kapan punya anak? mereka benar-benar ngga punya perasaan. Aku juga ingin punya anak tapi memang kenyataanya aku belum dikasih.
"Sasa?"
Aku menghampir Sasa yang tengah mencuci dot bayi milik Leona. Apa kalau melahirkan bakal gendut seperti itu?. Aku lihat Sasa dari atas sampai kebawah ini seperti bukan Sasa. Dulu Sasa langsing banget tapi kok melar gini.
"Eh, kamu Sena"
Aku tersenyum kearahnya. Melihat wajah Sasa yang tak lagi tirus membuatku tidak ingin punya anak nanti bisa-biasa tubuh langsingku dan wajah tirusku jadi seperti dia. Melar dengan lemak dimana-mana.
"Umm Sa, emang kalau lahiran jadi gendut gitu yah?" ucapku sembari menunjuk kearah Sasa.
"Apa? maksudnya"
"Dulu kan kamu langsing kok jadi gini, kalau gitu aku ngga mau punya anak ntar tubuh aku melar lagi seperti kamu"
Aku langsung pergi meninggalkan Sasa yang gendut itu.
pov end.
Sasa terdiam. Perkataan Sena sangat menusuk hati. Sasa tidak habis pikir Sena mengatakan itu terlebih dirinya berkata tidak mau memiliki anak. Rata-rata wanita didunia ini ingin sekali memiliki anak tapi sepertinya Sena kebalikan dari itu semua. Sena tidak ingin tubuh langsingnya jadi berubah jadi berisi seperti Sasa.
"Sena bener-bener egois, kalau ngga mau punya anak ya ngga usah nikah!" kesal Sasa yang tidak terima diejek seperti ini oleh Sena. Selang beberap menit Rio datang dengan membopong Leona.
"Anak kamu tidur nih"
"Makasih kak"
Rio mengeryitkan dahinya saat melihat Sasa yang murung seperti itu.
"Kamu kenapa?" tanya Rio heran. Sasa langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk memberitahuak semua yang Sena ucapkan terlebih soal Sena yang tidak mau punya anak karena tidak mau gemuk.
"Itu, istri kamu. Masa dia ngatain aku gemuk terus masa dia bilang nggak mau punya anak takut jadi gemuk"
"Sena cuma bercanda kali"
"Ih kamu mah! istri dibelain terus lama-lama gelunjak loh. Kalau aku jadi kak, aku pasti sudah nganti dia sama istri baru"
"Kamu juga seorang istri, ngga boleh bicara seperti itu" ucap Rio menasehati tapi malah membuat wajah Sasa semakin kusut.
"Kak Rio mah mau aja jadi bucin !"
"Apaan bucin?"
"Budak cinta! kak Rio itu budak cinta nya kak Sena. Mau aja dibodohi"
Selesai berucap Sasa langsung pergi dari hadapan Rio. Rio merasa yang dikatakan Sasa ada benarnya. Dirinya selalu menuruti kemauan Sena tapi Sena tidak pernah sedikitpun paham apa yang dia butuhkan. Rio sendiri masih merasa bersalah saat Sena keguguran dan Rio tidak ingin meninggalkan Sena begitu saja, Rio ingin terus menemani Sena hingga Sena sendiri yang menceraikannya.
...
Amanda tengah mencari Sena walau Sena keterlaluan tapi Sena masih menantunya terlebih akhir-akhir ini Sena tinggal bersama orang tuanya. Amanda hanya tidak mau Sena berpikiran minta cerai ke Rio hanya karena dirinya dan pastinya Rio akan sangat sedih serta bisa jadi Rio akan membencinya.
"Kemana sih?"
Amanda terus mencari hingga kelantai dua rumah. Saat melihat kearah balkon, Amanda melihat Sena yang tengah berdiri sembari memandang kelangit.
"Sena? panggil Amanda sembari melangkah menghampiri Sena. Sena menoleh kearah Amanda.
"Kamu disini mama cariin dari tadi"
Sena hanya tersenyum tipis kearah Amanda. Amanda sangat tahu pasti Sena merasa sangat kesal kepada dirinya.
"Kamu marah sama mama?"
Sena menggeleng pelan walau ia ingin sekali berucap "Iya".
"Ikut mama sebentar"
"Kemana?"
"Udah ikut saja"
Amanda langsung menarik pergelangan tangan Sena menuju kekamarnya.
Kamar Amanda /Riko.
Amanda menyuruh Sena untuk duduk sedangkan dirinya tengah membuka lemari. Amanda mengambil kotak merah dari dalam lamari.
Pandangan mata Sena tidak bisa berpaling dari kotak merah berukuran sedang.
Amanda duduk di sebelah Sena lalu membuka kota yang ia bawa. Kotak itu berisi sepasang kalung dan sepasang gelang namun ukurannya berbeda-beda. Sepertinya ini untuk ibu dan anak.
"Ma?"
Amanda menarik napas dalam lalu tersenyum kearah Sena.
"Sayang maafin mama, mama tahu kamu juga ingin punya anak dan perhiasan ini sudah mama persiapkan dari awal kehamilan kamu, rencananya mama akan berikan ini setelah kamu lahiran tapi Tuhan berkehendak lain"
"Lalu Mama mau apa? mama mu kasih perhiasan itu ke Sasa sama Leona?" nada bicara Sena nampak tidak suaka.
"Iya"
"Terus kenapa mama tunjukin ke aku? mama mau manas-manasin aku?"
Sena terlihat sangat marah. Ia pikir Amanda itu pilih kasih dan kalau memang perhiasan itu untuk Sasa lalu kenapa ia tunjukan kepadanya.
"Bukan itu"
"Terus apa?"
"Tunggu sebentar"
Amanda melepas kalung yang ia kenakan, kalung yang sangat inda dengan bertahtakan berlian. Sena melihat saja apa yang Amanda lakukan.
"Ini buat kamu?"
"Apa?"
Sena terkejut saat Amanda meraih tangannya dan menaruh kalung itu ditelapak tangannya. Setahu Sena itu kalung yang sangat mahal sekali.
"Ini hadiah buat kamu tapi jangan melihat kalung ini sebangai permintaan maaf mama karena yang mama lakukan itu tidak sebanding dengan ini"
"Iya ma. Makasih?" kini wajah Sena kembali ceria tidak murung separti tadi.
"Mama pasangin yah?"
"Iya"
Amanda langsung memasangkan kalung itu keleher Sena. Sena melihat pantulan dirinya dicermin kalaung itu sangat cocok dilehernya.
"Makasih ma"
"Iya sayang, ini bolehkan buat Sasa?"
"Iya boleh"
Kalung yang beradaa dilehernya ini lebih bagus dari kalung dikotak itu ya pantas saja Sena memperbolehkannya.
Setelah dari kamar Amanda, Sena langsung mencari Rio untuk melihatkan kalungnya ini.
Sena mencari Rio dikamar dan benar saja Rio tengah berbaring sembari menatap langit.
"Sayang" panggil Sena semabari menutup pintu. Rio menoleh kearah Sena dan dirinya terkejut melihat kalung yang dipakai Sena. Rio sangat paham kalung itu, itu kalung yang favorit Mamanya.
Rio langsung mendudukan tubuhnya.
"Itu kan kalung mama?"
"Iya, mama kamu yang kasih. Baguskan dileher aku?"
"Iya"
Rio masih teringat perkataan Sasa dan ini kesempatan untuk menanyakan langsung ke Sena.
"Kamu bener tadi bilang ke Sasa kalau kamu ngga mau hamil takut tubuh langsing kamu jadi gendut?"
Pertanyaan Rio membuat mood Sena kembali turun. Sena menatap datar keRio dan hatinya mengumpati Sasa yang tukang ngadu.
"Iya"
"Sena, kamu ini"
"Katanya kamu ngga apa-apa kalau tidak punya anak terus kenapa kamu marah?"
Deg. Rio kini terjebak perkataannya dulu. Rio merasa yang dikatakan Sasa itu benar, dirinya ternyata jadi bucin.
"Iya aku masih ingat tapi kamu apa tidak mau dapat hadiah terus?"
"Hadiah?"
"Kamu sudah lupa banyak yang ngasih kamu hadiah saat kamu hamil dulu"
Sena mengingat-ingat lagi waktu dulu saat dirinya hamil. Sena masih ingat saat Amanda dan anggota keluarga yang lain membanjirinya dengan kado padahal usia kandungannya baru beberapa minggu.
"Tapi aku ngga mau hamil, aku cuma mau hadiah"
Rio menatap datar Sena. Sena sekarang tengah berpikir bagaimana dirinya mendapat hadiah tapi tidak perlu hamil dan solusi satu-satunya hanya.
"Aku mau kamu bawa kembali Angel!"
Tiba-tiba Sena menyebut nama Angel padahal Rio tahu sendiri Sena sangat membenci Angel.
"Kenapa Angel?"
"Aku mau Angel hamil anak kamu lagi"
"Apa? kamu jangan ngaco deh!"
"Aku serus! kamu mau punya anakkan?"
Sena bengitu licik. Dirinya ingin menggunaan Angel untuk jadi rahimnya dan Dia sendiri hanya berpura-pura hamil.
"Kamu tidak mau, aku hanya ingin anak yang terlahir dari rahimmu" tolak Rio langsung walau ini hanya sandiara semata.
"Nungguin aku hamil lama sayang! aku juga sudah capek disindir terus sama mama kamu lagian masa kamu nggak mau sih kali aja kamu bosen sama aku tapi jangan coba-coba menjadiakn Angel istri sah kamu!"
"Kamu ini banyak sekali kemauannya! aku pusing!"
Rio langsung bangkit lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Sena sendirian.
"Ih nyebelin banget sih tuh orang! kalau Rio ngga mau aku nggak dapat hadiah dong? aku harus bujuk dia!"
Sena menyusul Rio untuk memaksanya menuruti kemauan dirinya.
...
Rio berpapasan dengan Amanda ditangga. Kebetulan sekali Rio ingin menanyakan soal kalung itu.
"Ma"
"Iya kenapa?"
"Mama kasih kalung mama ke Sena? itukan kalung kesayangan mama"
"Rio, mama cuma mau kamu bahagia. Mama ngga mau sampai Sena minta cerai kekamu"
"Cerai? makasudnya?"
"Kamu bilang Sena sering kerumah orang tuanya mama nggak mau samapai orang tua Sena merasa kamu sama Sena berantem terus dan pastinya itu karena mama"
"Mama ngomong apa sih?"
Rio merasa sangat bersalah kepada Amanda terlebih kenyataannya tidak seperti itu.
"Mama terus sindir Sena soal anak jujur mama lakuin ini karena mama ingin sekali punya cucu"
Rio langsung menarik Amanda kedalam pelukannya. Amanda terkihat sangat sedih tapi Rio bingung harus apa. Rio memang ingin Angel kembali mengandung anaknya tapi kalau ketahuan mamanya pasti sangat marah saat mengetahui Sena hanya berpura-pura hamil dan memanfaatkan Angel.
Rio melihat keatas dan mendapati Sena yang menuruni anak tangga menghampir dirinya dan juga Amanda.
"Mama kenapa?"
Suara Sena membuat Amanda melepas pelukan Rio dan menghapaus air matanya.
"Mama ngga apa-apa kok, kamu tida usah khawatir. Mama mau masak buat makan siang"
"Sena bantuin yah?"
"Tidak usah ada Aina yang bantuin. Kamu istirahat saja"
"Tapi Ma?"
"Sasa juga ngga bantuin kok, dia lagi tidur"
Amanda meneruskan langkahnya menuruni anak tangga.
"Aku ingin bicara sama kamu!"
Rio menarik tangan Sena kembali kedalam kamar.
Seampainya dikamar Rio langsung mengunci pintu.
"Mau bicara apasih?"
"Kamu yakin mau Angel kembali lagi diantara kita?"
"Iya aku yakin asal kamu tidak berpikiran untuk meninggalkanku!"
"Oke asal kamu mau berjanji tidak membuat keributan lagi dan tidak menyakiti Angel"
"Iya"
"Dan kamu memperbolehkan aku memberi sedikit perhatian ke Angel"
"Loh kok gitu sih?"
"Jangan memotong ucapanku!"
"Ya udah cepat lanjutin!"
"Ini aku lakukan agar Angel tidak pergi dari ruamah kalau mama sampai tahu akan hal ini pasti dia akan menyuruhku langsung menceraikanmu dan satu lagi"
"Apa lagi sih? banyak banget sih syaratnya ini kan kamu juga yang enak, tinggal tidur semalam langsung beres!"
kesal Sena yang membuat Rio mendelik.
"Terus kenapa kamu nggak mau hamil?"
"Kamu cuma butuh lima menit sedangkan aku harus sembilan bulan, nggak adil tahu"
"Dih? jadi kamu mau apa tidak?"
"Ya mau lah"
"Terakhir, kamu yang harus bawa Angel kembali"
"Apa? ngga aku nggak mu" tolak Sena langsung kalau dirinya yang membawa Angel pulang itu sama saja dirinya merelakan suaminya direbut orang.
"Kenapa?" tanya Rio yang melihat raut wajah Sena berubah.
"Aku sibuk, kamu saja"
"Kamu yang usir dia dan kamu pula yang harus bawa dia kembali. Angel juga nggak mau kali diomelin sama kamu terus dibilang pelakor padahal kamu yang butuh"
"Bukan cuma aku tapi kamu juga! ya udah deh besok-besok kalau ada waktu"
"Besok? iya kalau langsung hamil kan?"
"Ck iya sih tapi apa kamu tahu rumahnya?"
"Aku tidak tahu, nanti aku cari tahu"
"Iya sudah, aku mau keluar"
Rio langsung tersenyum penuh kemenangan setelah Sena pergi.
"Kita akan bersama lagi"
...***....***"