Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
Bab 35 Tak lagi sama



Didepan ruang IGD


Bi Inda menatap tajam Rio yang sedang duduk rembari menundukan kapalanya.


"Den kalau memeng cuma menginginkan anak yang ada dirahim Angel sebaiknya den tidak usah perduli sama Angel"


Rio mendongak menatap Bi Inda. Bi Inda tidak takut kalau nantinya dirinya dipecat toh selama ini dirinya sudah sangat terbebani dengan semua ini terlebih melihat sifat buruk Rio yang tidak diketahu keluarganya.


"Maksud bibi apa?"


"Den Rio itu prin plan. Sekarang non Angel besok Sena. Den punya segalanya tapi jangan semaunya den! jangan jadikan uang segalanya, semua kekayaan den Rio bisa hilang dalam sekejap. Jangan sampai ini semua akan menghancurkan hidup den Rio sendiri"


"Ck! bibi itu sebaiknya diam!"


Rio langsung pergi bengitu saja. Bi Inda menghela napas. Dirinya tidak terlalu menghiraukan Rio hanya Angel yang sekarang ada dipikirannya.


...


Rumah Amanda/Riko


Rio memasuki rumah dan Sena sangat senang melihatnya pulang. Rio tidak berkata apa-apa dirinya terus melangkah menaiki tangga. Mata Sena tertuju pada paper bag yang Rio bawa, Sena yang masih teringat akan Rio yang ingin membelikannya hadiah langsung mengikuti Rio dari belakang.


Kamar


"Mana hadiahnya?"


Rio melempar paper bag itu keatas kasur lalu membuaka kancing bajunya. Sena melihat kedalam paper bag yang terdapat tas berwarna silver dan secarik kertas.


"Aku mau kamu tanda tangani itu" suruh Rio tanpa menoleh kearah Sena. Sena membaca dengan teliti apa yang tertera dikertas ini. Sena terkejut saat membacanya ini perjanjian yang mengharuskannya tidak mengurusi urusan Rio dan juga Angel serta larangan untuk tidak menyakiti Angel atau pun keluarganya.


"Ck, kamu lakukan hal yang sama kepadaku? aku tidak akan menandatanganinya!"


"Oke, aku akan ceraikan kamu dan kamu tidak akan mendapatkan sedikitpun hartaku"


"Kamu yakin? apa kamu sangat mencintai Angel?"


"Iya"


"Jangan bohong! satu satunya wanita yang kamu sayangi itu cuma mama kamu. Kamu bisa bilang kalau aku cuma pura-pura hamil tapi kamu tidak bisakan karena kamu takut melukai hati Mamamu itu kan?"


"Kamu sudah tahu jadi cepat tanda tangani!"


"Apa untungnya bagiku?"


"Kalau Angel keguguran kamu yang akan dapat masalah"


"Iya tapi siapa yang akan terluka? ohiya itu Mamamu"


Rio berbalik kearah Sena yang tengah melihat tas yang ia belikan. Rio mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan satu kartu ATM dari dalam dompetnya.


Rio melempar kartu itu kearah Sena. Sena mengerutkan keningnya.


"Buat kamu. Kamu boleh menghabiskannya. Sekarang tanda tangan!"


"Cuma ini?"


"Kamu mau apa lagi?"


"Ceraikan Angel saat bayi itu lahir. Aku janji akan berubah kita mulai lagi dari awal"


"Iya"


Sena langsung mendatangani perjanjian ini. Di tempat berbeda Angel perlahan membuka matanya. Cahaya dari lampu menyilaukan pandangannya.


"Kenapa aku masih hidup? Aku ingin mati aku capek!" namun sedetik itu Angel teringat kedua orang tuanya.


"Ayah Ibu. Maafin El. El janji tidak akan mengulangi ini lagi"


Pikiran Angel sekarang lebih tenang dan dirinya bisa berpikir jernih. Kalau tadi tidak tertolong hanya orang tuanya yang merasa sedih dan membuat luka dihati mereka.


"El sudah cukup. Mereka itu bukan manusia dan air mara ini tidak boleh menetes lagi! mereka harus merasakan apa yang kamu rasa dan anak ini akan membantumu"


Angel menghapus air matanya. Berusaha kembali bangkit karena sebanyak apapun air matanya menetes tidak bisa menggubah keadaan ini.


Bi Inda memasuki kamar rawat. Dia tersenyum melihat Angel yang sudah siuman.


"Non El. Jangan bikin bibi cemas lagi"


Bi Inda mengelus puncak kepala Angel dengan lembutnya. Entah kenapa dirinya merasa tenang.


"Non harus makan biar dedeknya sehat yah"


Sehari setelah kejadian itu akhirnya Angel diperbolehkan pulang. Dan seisi rumah ini bersyukur Angel baik-baik saja.


"Non Istirahat yah?"


Setelah Angel memejamkan matanya,Bi Inda keluar kamar dan terdengar pintu kamar dikunci dari luar. Angel membuka matanya. Ia langsung menuju jendela tapi jendela itu sudah dikunci.


"Aku ingin pergi dari sini"


Angel duduk disofa. Ia melihat kesekeliling nampak begitu kosong hanya boneka dan tidak ada benda yang dapat melukai Angel atau pun yang dipakai untuk melukai dirisendiri oleh Angel. Sepertinya Rio memerintahkan untuk membuang itu semua.


Angel mengelus perutnya. Saat terdiam seperti ini Angel serasa dapat mendengar detak jantung mungil janinnya.


"Hey. Kamu tahu Ayah kamu itu tidak perduli denganmu, kalau kamu sudah besar kamu benci dia yah? Ibu juga membencinya. Ibu kira Ayahmu itu berubah ternyata tidak, dia sama saja"


...


09:30


Bi Inda tengah bersiap-siap belanja bulanan. Angel yang ingin kedapur langsung ingin ikut.


"Bi ikut yah?"


"Non dirumah saja"


"Tapi aku mau ikut! aku bosan dirumah"


Angel melihatkan tatapan memelasnya membuat hati bi Inda luluh.


"Ya sudah. Ayo"


Angel terlihat sangat senang. Setelah Angel pulang dari rumah sakit Rio maupun Sena tidak pulang mereka masih dirumah Amanda.


Sepanjang perjalanan Angel hanya melamun menatap keluar mobil. Bi Inda tahu Angel sekarang sangat terpuruk dan mungkin membenci Rio.


"Non mau disini atau ikut?"


"El ikut"


"Ya sudah ayo"


.


Angel mengikuti bi Inda dari belakang namun Angel kesulitan untuk berada terus didekat bi Inda karen suasan pasr sangat ramai. Angel terdorong dan rasanya sangat pengap.


"Bi"


Angel terkejut bi Inda tidak lagi kelihatan. Angel terus melangkah mencari bi Inda tapi tetap saja tidak ketemu dan Angel sudah merasa capek.


"Apa aku tunggu diparkiran? iya aku cari pak Han"


Angel menuju parkiran tapi disini banyak mobil yang warnanya hitam. Angel bahkan tidak hafal plat mobilnya.


"Duh aku harus cari dimana?"


Angel terus berjalan sembari melihat kiri kanan. Angel tidak membawa ponsel jadi dia tidak bisa menelfon bi Inda.


Angel tidak menyadari ada mobil yang melaju dibelakannya hingga mobil itu sudah dengan Angel.


TIIIINNNN


"AWAS!"


Seorang pemuda langsung menarik Angel ketepi hingga Angel terselamatkan.


"Kamu ngga apa-apa?" tanyanya. Angel langsung mendongak.


"Arfan?"


"Angel? hey kamu sendirian"


"Aku tadi sama bibi tapi sekarang aku ngga tahu dia dimana"


Angel dan Arfan sudah berkenalan saat Arfan tiba-tiba datang diruamah Rio dan bi Inda mengaku kalau Angel adalah keponakannya.


"Aku bantu cari"


"Iya.. aww" Angel mengeluh sakit dibagia perutnya.


"El, kenapa?"


"Ngga apa-apa. Janinku, mungkin dia terkejut"


"Kamu hamil?" tanya Arfan dengan nada ragu. Angel mengangguk pelan. Entah kenapa Arfan tersenyum dengan lebarnya.


"Hey manis, ini om Arfan" Arfan mengatakan itu sembari mengelus perut Angel. Angel merasa nyaman dan rass sakit diperutnya perlahan menghilang namun gantinya perutnya berbunyi karena lapar.


"Kamu lapar"


"Iya. Belum makan tadi"


"Kamu ini. Masa belum makan kasihankan yang diperut. Ayo makan, kamu mau makan apa?"


"Mau itu" tunjuk Angel kegrobak roti keliling. Arfan langsung berlari kearah penjual roti itu.


"Arfan?"


Angel terkejut saat Arfan langsung membelikan apa yang ia mau. Arfan kembali dengan membawa sekatong penuh roti dengan berbagia rasa.


"Kok banyak banget"


"Aku tidak tahu apa yang kamu suka. Ayo kemobilku"


Arfan menarik pergelangan Angel menuju mobilnya. Arfan membuaka satu bungkus roti rasa srikaya.


"Nih"


"Makasih"


"Sama-sama. Aku antar kamu pulang saja yah nanti aku telefon bi Inda"


"Iya. Kamu habis belanja?"


Angel melihat kearah kursi belakang yang terdapat belanjaan.


"Iya, mama nyuruh belanja"


Arfan menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran. Sebelum mengantar Angel pulang Arfan mengantar dulu sayuran yang Amanda pesan takut Amanda akan marah terlebih ada Sena yang sedang hamil dirumah.


Arfan melirik kearah Angel yang memejamkan mata. Angel tertidur sangat pulasnya hingga dirinya tidak menyadari kalau Arfan mengajaknya kerumah orang tuanya yang ada Sena dan Rio juga.


Suara pintu mobil yang ditutup membuat Angel terkejut. Angel melihat sekeliling dan ia tidak pernah kemari.


Angel turun dari mobil menghampiri Arfan.


"Fan?"


"Kamu bangun, maaf ya aku antar ini dulu kemama"


"Mau aku bantuin?"


"Jangan kamu kan lagi hamil"


"Aku bawa yang ringan"


Arfan menghela napas lalu memilih kantong kresek mana yang ringan untu Angel bawa.


"Nih. Ayo"


Angel mengikuti Arfan dari belakang. Arfan sesekali melihat kebelakang memastikan bumil ini tidak apa-apa.


"Kenapa?"


"Kamu didepan gih, aku takut kamu kenapa-napa"


"Aku ngga apa-apa ayo jalan"


Angel menlihatkan senyuman dibibirnya. Arfan menghela napas lalu melsnjutkan jalannya menuju dapur.


"Arfan pulang"


"Kamu ini kenapa lama!" semprot Amand langsung. Amanda melih gadis dibelakang Arfan.


"Itu sipa?"


"Angel keponakannya bi Inda. Ma"


"Tante"


Angel terlihat takut terlebih dia ibu Arfan dan Rio. Angel tersenyum ragu. Amanda mendekati Angel. Amanda sudah pernah mendengar nama Angel beberapa kali dan pernah menduga kalau Angel penyebab retaknya rumah tangga Rio dan Sena. Arfan yang tahu Angel ketakutan melihat mamanya yang entah kenapa auranya kek nenek sihir.


"Ma jangan nakutin. Kasihan anak diperutnya nangis loh!"


"Apa? kamu hamil? kok bi Inda ngga kasih tahu mama"


"Memangnya mama siapa? saudaranya juga bukan" sewot Arfan. Angel bersembunyi dibelakang Arfan bahkan Angel menarik kaos yang Arfan kenakan.


"Mama udah ngga perawatan lagi yah sampe nih bumil takut lihat mama"


"Sembarangan kalau ngomong!"


Arfan hanya nyengir kuda. Amanda mendekati Angel dengan senyuman yang ramah.


"Jangan takut. Tante nggak ngigit kok" canda Amanda dengan garingnya.


"Fan. Antar aku pulang sekarang"


"Iya"


Bersamaan dengan itu Rio datang bersama Sena. Mereka berdua terkejut melihat Angel berada disini.


"Ngapain kamu disini?" tanya Rio yang tidak suka melihat Angel didekat Arfan.


"Tadi aku ketemu di swalayan. Dia sendirian ditinggal bi Inda"


"Ri, kamu ini masa tidak ada halus-halusnya sih sama perempuan kasihan kan dia juga lagi hamil sama seperti istrimu"


Rio dan Sena terkejut mendengar Amanda tahu kehamilan Angel. Amanda langsung menarik tangan Angel menjauh dari dapur. Rio dan Sena menatap Arfan membuatnya salah tingkah sesaat lalu menyusul Angel.


"Dia disini"


"Aku akan suruh bi Inda buat jemput Angel"


"Terserah kamu"


..


11:00


Bi Inda datang dengan wajah paniknya terlebih dirinya sudah muter-muter swalayan untuk mencari Angel takut tersesat kemana eh ternyata diculik Arfan.


"El, kamu ini dicariin ternyata disini"


"Maaf"


"Ini pasti ulah den Arfan"


Arfan yang tengah bermain PS hanya menoleh sekilas sembari tersenyum.


"Bi sudahlah yang penting Angelnya sudah ketemu"


"Tapi Nya. Hampir saja saya lapor polisi buat nyari El"


"Jangan lebay gitu bi mentang-mentang mau nambah cucu tapi kenapa saya tidak dikabari? biasanya bi Inda cerita"


Bi Inda menatap keAngel dan ternyata Rio dan Sena mengawasi. Bi Inda langsung mencari cara agar Angel secepatnya pergi dari sini.


"Nya belum empat bulan takut kenapa-napa. El ayo pulang"


"Loh jangan terburu-buru biarin El disini dulu natar Arfan yang ngantar"


"Tapi Nya"


"Ma, El butuh istirahat biarin dia pergi"


Amanda terlihat sangat sedih terlebih dirinya sudah merasa akrab dengan Angel ya walaupun pertama bertemu dan pernah berpikiran yang tidak tidak tentang Angel namun semua itu terbantahkan.


"Bi ajak Angel main kesini lagi yah"


"Iya nya"


22:00 Rumah Rio/Sena


Angel belum tidur dirinya masih asik video call dengan Arfan. Menurut Angel sifat Arfan mirip dengan Rey dan soal Rey yang tengah berada diBali, Angel berusaha untuk sedikit mungkin betukar kabar karena Angel tidak mau Rey kenapa napa terlebih Rio seperti orang kesetanan kalau marah.


"Sudah malam tidur"


"Iya. bye"


"Bye"


"Ini kelakuan kamu saat aku tidak dirumah!"


Pyarrrr


Rio membanting ponsel Angel kepaving hingga hancur di hadapan Angel. Angel hanya diam membisu.


"Kamu itu istri aku, jangan berani-beraninya selingkuh dibelakangku karean aku akan pastikan selingkuhanmu itu menderita!"


"Aku bukan istrimu! istri kamu itu Sena bukan aku dan kamu itu cuma ingin anak ini itu berarti aku bukan milikmu"


"Ck kamu"


Rio langsung mendorong tubuh Angel dan untung saja Sena menyangga tubuh Angel.


"El" baru kali ini Sena membantu Angel.


"Kak Sena?"


"Kamu istirahat, kunci pintunya"


"I...iya"


Angel tidak tahu apa yang telah terjadi dan ada angin apa Sena tiba-tiba menolongnya. Setelah Angel sudah tidak terlihat lagi Sena langsung menapar Rio dengan kerasnya.


"Apa yang kamu lakukan!" kesal Rio sembari menatap tajam Sena"


"Aku hanya ingin menyadarkan kamu. Emosimu itu bisah menghancurkan semuaya"


"Ck! kamu juga pernahkan"


"Iya saat Mama kamu belum mengetahuinya tapi sekarang aku sudah memainkan permainani ini. Aku mau bayi itu dan biarkan Angel mencari pria pilihanya sendiri, kamu jangan seperti tadi kelakuan itu malah membuat Angel menjauh"


"Kamu sudah mendatanganinya"


"Iya. Terserah kamu mau apa tapi aku bisa pastikan Angel akan semakin jauh darimu"


Sena langsung pergi meninggalkan Rio. Keesokan harinya Arfan datang pagi-pagi sekali untuk menemui Angel.


"Bi Inda"


"Den Arfan, tumben"


"Disuruh Mama. El mana?"


Arfan meletakan satu paper bag keatas meja yang untuk Sena.


"Masih tidur"


"Ini buat Sena"


"Iya den. den Arfan mau kemana"


Arfan nyelonong masuk kedalam kamar Angel. Pintu kamar Angel tidak dikunci karena Angel lupa menguncinya lagi saat perutnya minta diisi ditengah malam.


Arfan tersenyum melihar Angel yang meringkuk dibalik selimut.


"Wooyyy bangun!"


Angel langsung tersentak kaget hingga perutnya merasa sakit. Angel memegangi perutnya.


"Sorry El, aku tidak bermaksud"


Arfan semakin panik saat keringat dingin Angel keluar.


"Udah baikan kok"


"Syukurlah, aku kesini bawain makanan. Aku suapin yah"


Angel mengangguk. Arfan membopong Angel ketaman untuk menghirup udara pagi yang segar.


..


Rio yang baru bangun ingin membuat kopi didapur melihat Arfan yang tengah menyuapi Angel. Kedua tangan Rio mengepal dengan sendirinya, kaki Rio mulai melangkah menghampiri mereka berdua.


"Arfan disuruh pulang sama mama"


"Nanti saja"


"Arfan!"


"Ck iya.. iya aku pulang" dengan berat hati Arfan berpamitan dengan Angel. Setelah kepergian Arfan, Rio menggantikan posisi Arfan menyuapi Angel.


"Lanjut lagi makannya"


Rio menyodorkan sesendok nasi kemulut Angel namun Angel hanya terdiam menatap Rio.


Angel langsung menepis kasar sendok itu sampsi terjatuh kelantai. Rio terlihat marah namun Angel tidak perduli. Angel merasa sesak didadanya saat melihat Rio.


"Aku bisa sendiri, mending kamu pergi!"


"Melihat tingkahmu ini aku jadi ragu"


"Ragu soal apa?"


"Apa dirahimu itu benar anakku?" pertanyaan itu meluncur bebas dari mulut Rio. Selama ini Angel berusaha yang terbaik untuk Rio tapi ini yang dia dapat keraguan dan tuduhan yang menyakitkan.


"Apa itu bukan anakku atau itu anaknya Arfan atau laki-laki lain?" tanya Rio lagi. Angel mengepalkan kedua tangannya tatapannya tajam menatap langsung kemata Rio.


"AKU BENCI KAMU RIO!!" teriak Angel dengan penuh kebencian.


3 bulan berlalu.


Rio tersenyum melihat Angel yang sedang bermain dengan boneka dan dia masih memakai baju tidur disiang hari.


Ditangan kanan Rio terdapat buket bungan mawar merah yang sangat cantik untuk Angel.


"Sayang ini buat kamu"


Rio menyodorkan buket bunga itu ke Angel. Angel menatap datar bunga itu lalu menatap Rio.


"Ambil ini buat kamu"


Angel mengambilnya membuat senyum Rio semakin lebar namun perlahan senyuman itu pudar saat Angel langsung meremas bunga mawar itu didepan Rio. Angel terlihat bahagia saat melakukannya dan kelopak kelopak bunga itu langsung dilempar keatas.


"Yeeeyy"


Angel begitu senang saat kelopak kelopak mawat itu berjatuhan.


"Kenapa kamu rusak?"


"Katanya buat aku ya terserah aku dong mau diapain lagian besok juga sudah layu seperti cintamu itu. Sekarang bilang sayang besoknya dibilang duri"


Angel langsung pergi meninggalkan Rio yang terdiam. Angel mengayunkan boneka yang ia pegang. Boneka ini pemberian Rio saat dirukah sakit.


"Aku akan lakukan apapun yang aku mau dan aku tidak mu lagi terluka karena racun cinta mu itu!"


Angel menuju tempat pembakaran sampah lalu dilemparkannya boneka itu kedalamnya ternyata boneka ini ada temannya yaitu foto bersama Rio dan kenangan lainnya.


Angel menyalakan korek api lalu dilemparnya kedalam kenangan itu. Api itu langsung membesar membakar kenanga indah yang menyakitkan.


"Anakku sayang aku membencimu!"


Angel langsung pergi dari tempat ini. Bi Inda yang dari tadi mengawasi langsung menuju tempat pembakaran sampah untuk memadamkan api dan menyelamatkan apa saja yang masih bisa diselamatkan.


"Ya ampun non El, kenapa non jadi seperti ini"


Bi Inda memungut sisa foto yang masih utuh dan menatap sayu boneka beruang yang sudah separuh terbakar.


...


Sena menghampiri Rio yang terdiam melihat kelopak mawar yang berserakan diatas meja. Sena tahu apa yang telah terjadi dirinya melihat semua itu dari kejauhan.


"Itu hasil yang kamu tanam, kebencian Angel. Aku kan sudah pernah bilang cuma semalam terus selesai tapi kamu malah sok perhatian, bilang cintalah apalah dan lihat sekarang kamu malah membuat gadis polos itu jadi seorang yang penuh kebencian"


"Itu juga karenamu"


"Aku? jangan menyalahkan orang lain atas apa yang kamu telah perbuat. Ini semua murni kesalahanmu ya aku yang menyuruhmu menikah lagi dan punya anak dengan Angel tapi aku tidak menyuruhmu untuk membuat gadis itu jatuh cinta padamu. Kamu yang melukainya"


Sena langsung berlalu pergi. Rio mengepalkan kedua tangannya tatap matanya tajam bak elang. Bi Inda datang dengan membawa foto yang berhasil ia selamatkan.


"Den Rio"


"Ada apa bi?"


"Non Angel tadi bakar ini"


Bi Inda menunjukan foto yang dipinggir-pinggirnya menghitam. Rio langsung mengambil foto itu dari bi Inda lalu pergi untuk menemui Angel.


Rio langsung masuk kedalam kamar Angel. Angel terkejut dengan kedatangan Rio yang terlihat penuh amarah.


"Kenapa kamu bakar foto ini, HAH!"


Rio mencengkram kedua lengan Angel dengan kasar. Angel menatap datar Rio. Angel terlihat sangat santai menghadapi ini semua.


"Kamu lebih sayang foto itu daripada orangnya?"


Rio melepas cengkraman dilengan Angel. Angel berdecak lalu mendorong tubuh Rio kebelakang.


"Aku tidak tahu apa isi dikepalamu itu dan aku tidak tahu kalau kamu sebenarnya punya hati atau tidak. Camkan ini baik-baik tuan muda, kamu menganggapku cuma alat untuk mendapatkan anak dan aku menganggapmu hanya luka yang harus aku lupakan, sebaiknya kamu pergi! urus saja istrimu itu!"


Angel langsung mendorong Rio keluar dari kamarnya. Angel langsung mengunci pintu kamar.


Angel berdecak kesal. Dirinya ingin segera pergi dari rumah ini tapi kabur juga tidak bisa ada satpam didepan dan cctv dimana-mana dan salah satunya dikamar ini.


...


Sena melihat ada yang aneh dilengan Angel. Angel sendiri hanya memakai tentop karena sangat kepanasan terlebih perutnya yang membuncit.


"El"


"Apa?"


"Lengan kamu kenapa?"


Sena langsung melihat lebih jelas lagi. Dikulit putih Angel jelas terlihat membiru. Sena langsung menduga kalau ini perbuatan Rio.


"Ck! orang itu!"


Sena langsung pergi menemui Rio dengan kekesalan yang memuncak.


Angel hanya mengendikan bahunya ia kembali melihat isi kulkas mencari camilan.


.


Sena memasuki ruang kerja Rio dengan tatapan elangnya. Rio hanya melirik sesaat lalu kembali melihat kelayar komputer.


"Kamu sakitin Angel lagi?"


"Sejak kapan kamu perduli sama dia?"


"Kamu tahu apa alasanku! jangan sampai Angel keguguran kalau sampai terjadi rencanaku bisa hancur dan Mama kamu itu akan sedih lagi"


"Iya"


"Kamu ini! apa kamu sudah punya yang lain?"


"Mungkin" jawab Rio asal tanpa melihat kearah Sena.


"Ck!"


Sena pergi dari ruang kerja Rio namun saat ditangga dia melihat Amanda yang tenggah mengelus perut Angel. Sena langsung bergegas kedalam kamar.


"Mama kenapa ada disini"


Sena mencari sesuatu yang akan dia pakai untuk menampilkan kesan perut yang membesar seukuran perut Angel.


"Boneka ini sepertinya cocok"


Sena mencari syal dilemarinya untuk jadi pegikat boneka. Sena melingkarkan syal itu dipinggangnya dan mencari baju yang longar agar ikatan dibagian belakang tubuhnya tidak kelihatan.


"Selesai"


Sena langsung keluar kamar dengan senyum dibibirnya.


"Sena, kamar kamu masih diatas?"


"Ngga kok ma. Aku cuma nengokin Rio saja"


"Kirain"


Angel menatap datar perut Sena yang terlihat buncit dalam sekejap. Amanda terlihat gemas dengan perut Sena. Ia ingin mengelusnya.


"Jangan Ma"


"Kenapa?"


"Kalau dielus suka mual. Rio saja aku larang, maaf yah Ma. Perut Angel saja toh mama pernah bilang kalau itu juga cucu mama"


"Ya sudah mama cuma mau kamu kamu sama cucu Mama sehat"


Amanda menoleh tapi Angel sudah pergi entah kemana.


"Loh kemana?"


"Paling nyari Arfan"


..


Teras


Angel mengendap-endap dibelakang Arfan yang asik makan es krim yang terlihat sangat enak.


"Buat aku!"


"Eh?"


Angel langsung merebut Es krim dari tangan Arfan. Angel langsung kabur kedalam rumah. Arfan yang tidak ingin es krimnya direbut langsung mengejar Angel kedalam rumah dan itu membuat Amanda ngeri kalau Angel tersandung dan terjatuh.


"JANGAN LARI-LARI!"


Keduanya tidak menghiraukan dan terus mermain kejar-kejaran.


"Balikin es krimnya!"


"Mama!"


Angel berlindung dibelakang tubuh Amanda dan soal Angel memanggil Amanda dengan panggilan Mama itu Amanda sendiri yang meminta.


"Arfan. Stop!"


"Ma tapi itu"


"Ngalah sama bumil kasihan ntar babynya ileran!"


Angel mengintip sembari memakan es krim milik Arfan serta meledeknya membuat Arfan mengerutkan dagunya.


...


Ruang kerja Rio


"JANGAN LARI-LARI!"


Suara Amanda membuat Rio terkejut dan kalau dia seperti ini berarti Arfan dan Angel tengah bermain kejar-kejaran seperti biasa. Mereka berdua tidak pernah akur.


Rio langsung mengsave pekerjaannya lalu menemui Amanda lebih tepatnya ingin melihat apa yang Angel dan Arfan lakukan.


Rio merasa ada bara api yang menyala saat Arfan mencium perut Angel dengan gemasnya padahal Angel melarangnya mencium atau mengelus perut Angel.


Rio tidak tahu apa yang ada dipikiran Amanda saat melihat Arfan yang sebegitunya dengan Angel.


"Mama ada apa?" tanya Rio langsung. Amanda menyuruh Rio duduk.


"Mama mau kamu dan Sena pindah kerumah Mama"


"Loh kenapa Ma?"


Sena terlihat panik karena dirinya akan tidak sebebas disini dan dirinya pasti tidak akan pergi kemana-mana lagi setelah ini.


"Sena, Rio kan kerja terus disana ada mama yang jagain kamu"


"El ikut kan?"


"El? tidak"


"Yah kok gitu sih ma? Arfan mau Angel juga pindah!" protes Arfan langsung. Amanda menoleh kearah Arfan dengan tatapan kesal.


"Kamu apa bisa jagain Angel? mama tidak bisa mengurus bumil dua sekaligus"


"Biar Rio saja yang jagain Sena sama Angel disini" tolak Rio yang tidak mau Arfan terus bersama Angel.


"Kamu itu sibuk! bahkan kamu tidak bisa mengurus diri kamu sendiri!


"Tapi"


"Tapi apa? Minggu depan kalian harus pindah. TITIK!"


...***"....