Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 74 Alica Elsa Adrian. Nama baru, hidup baru.



Devan mengerutkan keningnya saat memasuki lift lebih tepatnya pada Pria yang menatapnya dengan tatapan mata aneh terlebih pada tato pada lehernya.


Devan tidak ambil pusing lalu masuk kedalam lift. Kepalanya terasa berat karena perempuan itu.


"Terima kasih telah menyelamatkan nya."


"Apa?"


...


Ruang rawat.


Mereka bertiga terkejut melihat Angel yang tengah menangis dengan tangan yang berusaha menghapus air mata yang turun tak henti. Angel menangis karena ucapan Devan dan membuatnya memahami bahwa bayi itu bukan bayinya.


Vely berjalan menghampiri Angel dan langsung menarik Angel ke dalam pelukannya. Perlakuan Vely membuat Angel terkejut.


"Anda siapa?" tanya Angel polos. Angel sendiri dalam keadaan yang tidak baik. Dirinya kehilangan ingatan dan bahkan namanya saja dia tidak ingat. Semua nampak asing baginya.


"Eh, kok anak bunda lupa sama bunda?" ucap Vely sembari mengelus kepala Angel. Angel menatap mata Vely dalam.


"Kok kamu nangis?" ucap Vely lagi sembari menghapus air mata di pipi Angel.


"Bunda?" ucap Angel pelan membuat Vely tersenyum. Tatapan Vely terasa tidak asing baginya dan senyuman itu membuat hatinya tenang.


"Jangan menangis lagi yah? anak Bunda kan kuat. Ingatanmu hilang, tidak usah kamu pikirkan soal itu. Yang terpenting adalah kesembuhan mu."


Vely merasakan sesuatu yang sama saat bersama dengan Yumna.


"Namaku siapa?" tanya Angel dengan polosnya.


"Elsa." panggil Nikolas dengan hangat nya serta senyuman manis di bibirnya. Angel langsung menoleh, air matanya terjatuh saat itu juga.


"Ayah... Ayah..." Angel langsung memeluk Nikolas. Nikolas terkejut, ia langsung memegangi tubuh Angel yang masih lemas. Vely hanya melihat saja.


"Ka--"


"Ayah baik-baik saja kan? Aku takut kehilangan Ayah lagi. Ayah jangan tinggalkan aku." Ishak Angel.


"Eh? Ayah sendang ada di pelukanmu loh? Ayah tidak akan meninggalkanmu."


...


12:30


Nikolas sudah kembali ke Kantor, hanya ada Lusi dan Vely yang menemani Angel atau sekarang Elsa.


Vely mengelus pelan puncak kepala Angel yang tengah tertidur. Vely merasa sangat-sangat sesak dadanya saat Angel bertanya apa bayi yang tadi di susuinya bukan lah bayinya sebab ada pria yang tidak suka dirinya menyusui bayi itu.


Vely tidak menjawab pertanyaan Angel dan mengalihkan topik pembicaraan hingga Angel tertidur. Sebenarnya Vely tidak suka membohongi Angel namun Vely tidak ingin Angel mengigat masa lalunya yang mungkin sangat buruk.


"Jeng, maaf soal Devan."


"Tidak apa? dia sangat mencintai putriku, harus nya aku yang meminta maaf." ucap Vely yang masih memanjakan Angel. Vely berharap belaian tangannya mampu membuat tidur Angel semakin nyenyak.


"Sebaiknya kita tidak membicarakan ini di depannya." sambung Vely lagi dan di angguki oleh Lusi yang tengah membopong cucunya.


"Apa kamu punya nama yang indah lagi?"


"Kenapa? Devan belum memberikan nama untuk si cantik?"


"Belum, apa Yumna pernah memberitahu mu soal nama bayi ini?"


"Tidak pernah sama sekali, Yumna selalu bilang "tunggu saatnya saja, ya bun" itu saja yang aku ingat."


Vely masih terbayang akan senyuman Yumna. Rasa rindu ini seakan tak terbendung namun dirinya harus bisa menerima ini semua dan sekarang dirinya memiliki seorang putri lagi dan cucu yang sangat cantik.


"Sayang sekali." Lusi menghela napas berat, dia tidak tahu harus apa bukan cuma dia yang merasakan hal yang sama.


"Apa Devan masih marah?"


"Dia bilang sih tidak marah, hanya butuh waktu. Entah seperti apa kedepannya terlebih Elsa seakan terhubung dengan bayi ini. Pasti dia merindukan buah hatinya dan kamu pasti tahu bagaimana rasanya."


"Iya, kamu benar. Seandainya Devan mau menerima Elsa, sudahlah dia sudah jadi putriku. Aku harus berusaha membuatnya bahagia."


Tak lama pintu terbuka dengan lebarnya, Devan dan David, Ayahnya memasuki ruangan. Lusi sedikit terkejut melihat suaminya yang ternyata sudah pulang dari Bali.


"Aku dengar dia sudah siuman." tanya David.


Devan berjalan mendekati putrinya lalu melihat ke arah Angel yang tertidur.


"Apa dia pantas untuk putriku?" Tanya Devan dengan nada datar. Semuanya terkejut mendengarnya, mereka tidak percaya dengan apa yang Devan ucapkan.


"Devan?" Lusi menatap Devan dalam. David sendiri sudah mengetahuinya, Devan sudah menceritakan semuanya pada David termasuk pria yang di temui nya di lift tadi namun ada beberapa yang Devan sembunyikan agar Angel tetap aman. Devan masih tidak percaya dengan apa yang Angel alami dan juga kenapa dia sampai berada di sungai dengan luka seperti itu.


Pria itu menceritakan semua tentang Angel dan juga memberikan ponsel Angel lebih tepatnya kopian dari ponsel Angel yang asli. Devan sudah mengecek ponsel itu dan entah kenapa dia merasa Angel mempunyai kesamaan dengan Yumna. Devan ingin menikahi Angel karena kelembutannya mengasuh putranya, di ponsel itu terdapat beberapa video Angel yang tengah bermain dengan Kevin.


"Kalau kamu ragu sebaiknya lupakan saja, dia putriku dan tidak akan aku biarkan dia menangis lagi seperti tadi." omel Vely yang tidak terima Angel menangis seperti tadi.


"Aku minta maaf, aku hanya bertanya. Kalau tidak boleh yang sudah."


"Kamu ini, apa kamu mencintainya? kalau cuma mengurus putrimu, kami juga masih mampu." ucap Lusi yang langsung mencubit lengan Devan.


"Aku akan berusaha, tapi apa boleh Bun? Yumna baru?" Devan tidak meneruskan kalimatnya, dia takut menyinggung perasaan Vely. Vely tersenyum, dia tahu apa yang di maksud Devan.


"Tidak apa, ini juga kemauan Yumna, kalau kamu bahagia tidak apa tapi jika tidak jangan lakukan. Bunda tidak mau ada yang terluka."


"Aku ingin menikah dengannya tapi seperti apa? Ini salah, kenapa langsung mengakui sebagai putrimu" kesal Devan pada Vely.


"Ya menikah sajalah, bilang saja pernikahan ulang agar ingatannya kembali, lagi pula pernikahan mu dan Yumna baru di ketahui keluarga saja. Mungkin ini alasan Yumna tidak ingin orang lain tahu." ucap David jelas dan semuanya terlihat setuju.


"Iya sih, caranya?"


"Kamu tenang saja, biar kami yang urus tapi apa kau sudah yakin?" tanya Lusi memastikan.


"Iya dan aku juga butuh dukungan dari kalian."


"Satu pesan mama, dia bukan Yumna dan jangan kamu buat dia mirip seperti Yumna. Yumna tetaplah Yumna dan Elsa tetaplah Elsa. Mereka dua orang yang berbeda, semirip apapun tidak akan sama."


"Iya Devan mengerti ma. Bunda?"


"Kamu harus bahagia, Yumna sudah tenang di pangkuan Tuhan. Kamu harus tetap menjalani hidup mu"


...


14:00


Sekarang hanya Devan yang menemani Angel. Devan masih teringat akan pria tadi, Devan sungguh penasaran dengan pria itu, dia tahu banyak tentang Angel namun kenapa dia tidak membawa Angel pergi bersamanya padahal dia sangat perduli dan mampu untuk membahagiakan Angel.


"Kenapa dia tidak memberitahukan nama keluarga Angel? apa sebegitu tidak pedulinya mereka dengan Angel? kasihan sekali kamu, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu itu?"


Devan terdiam saat melihat wajah Angel, dia memang mirip dengan Yumna namun Angel lebih cantik.


"Namamu Angel?" ucap Devan sembari membelai lembut wajah Angel.


"Eh?" Devan terkejut saat Angel terbangun, mungkinkah dia membangunkannya.


"Kamu sudah bangun." ucap Devan dengan lembutnya. Angel teringat, dia orang yang tadi pagi tak suka padanya.


"Maaf, aku kira dia bayiku."


"Eh? itu...itu bayimu kok. Maaf, harusnya aku tidak berkata seperti itu" Devan berusaha tersenyum namun malah terlihat kaku. Angel mengerutkan keningnya.


"Kamu tidak pandai berbohong." ucap Angel datar.


Deg. Devan merasa Dejavu dengan kata yang diucapkan Angel. Devan teringat akan Yumna yang selalu tahu apa yang ia rasakan dan selalu menghiburnya. Devan sangat merindukan Yumna.


"Bayi itu memang putrimu, kamu kecelakaan hingga membuat mu jadi seperti ini, untung saja kamu dan bayi dalam kandungan mu baik-baik saja."


ucap Devan berbohong berharap Angel percaya tapi percayalah ini sulit dan hati ini menolak dengan keras kebohongan ini. Ini semua demi putri kecilnya dan juga janji yang terlanjur dibuat dengan Pria yang ditemuinya tadi.


"Kamu siapa?" tanya Angel dengan nada terdengar acuh, mungkin dia kesal karena dibuat menangis.


"Kamu lupa? ini suamimu yang paling ganteng sedunia!" ucap Devan dengan nada kesal namun Angel tidak bereaksi.


"Tidak mungkin, aku tidak mungkin menikah dengan pria sepertimu!" ucap Angel dengan nada tidak percaya. Devan hanya terdiam, di pikiran nya saat ini mungkin saja ikatan dengan suami yang dulu sangat kuat hingga membuat Angel tidak merasakan apa-apa. Memang tidak ada apa-apa diantara mereka berdua. Devan pikir Angel akan mudah percaya namun sepertinya tidak.


"Aku hanya bercanda, kamu itu manis bukan ganteng."


"Eh?"


Devan terlihat canggung melihat senyuman manis Angel. Devan bernapas lega karena Angel percaya.


"Yang manis itu kamu, cepat sembuh. Agar aku bisa tidur dengan nyenyak." ucap Devan sembari mencubit pipi Angel dengan gemas.


"Kamu tidurnya lama banget, aku sangat cemas. Jangan sakit lagi yah?" ucap Devan dengan suara lemah lembut.


"Maaf aku merepotkan mu."


"Tidak apa, ini sudah jadi tanggung jawab ku. Apa perutmu masih sakit?"


Angel hanya mengangguk pelan, Devan berharap luka di perut Angel cepat sembuh dan ingatan Angel tidak akan kembali lagi, mendengar cerita pria itu Devan merasa yakin bahwa Angel tidak pantas kembali ke keluarganya yang dulu.


"Bayinya mana?"


"Aku suruh bawa pulang biar kamu fokus pada dirimu dulu, kamu tenang saja dua nenek itu pasti sedang menjaganya dengan baik."


"Tetap saja, aku merindukannya. Dia butuh ASI ku."


"Cantik ku, bidadari ku, cintaku. Tolong lihat dirimu, dasar kamu ini masih saja banyak pikiran. Cepat sembuh jangan kelamaan di sini, disini bau obat, banyak orang dan aku sudah bosan tidur di sofa." omel Devan namun membuat Angel terkekeh geli dengan ekspresi wajah yang di tunjuk kan oleh Devan.


"Jangan membuatku kesal!"


"Abisnya lucu, senyum dong biar ganteng."


Ucapan itu malah membuat Devan mengerutkan dagunya. Angel semakin tergelak melihatnya.


"Aww." Angel langsung memegangi perutnya membuat Devan cemas.


"Tuh kan perutnya sakit!"


"Tidak apa-apa, aku hanya lapar." ucap Angel dengan polosnya. Devan memaklumi kerena Angel tidak makan beberapa hari kerena tidak sadarkan diri.


"Aku suapin." Devan membantu Angel duduk, lalu mengambil nampan yang berisikan makanan yang diantar oleh suster.


"Makanan rumah sakit memang seperti ini atau kamu mau makan yang lain?" ucap Devan yang dapat membaca raut wajah Angel.


"Tidak apa, namanya juga makanan orang sakit."


Devan menyuapi Angel dengan penuh kesabaran dan sesekali membuat candaan lucu yang membuat Angel terhibur hingga melupakan rasa sakitnya.


Angel merasakan rasa nyaman dan juga kehangatan saat bersama Devan. Angel sempat merasakan keraguan di dalam hatinya, entah kenapa ada yang hilang dihatinya, sesuatu yang terasa kosong dan penuh akan kesesakan namun sekarang semua itu sirna.


"Sudah,"


"Tinggal dikit"


Angel menggeleng dan tidak mungkin Devan memaksakan untuk menghabiskan makanan ini.


"Ya sudah tidak apa, oh iya aku belikan boneka untukmu, seharusnya sudah sampai, mungkin kurirnya terjebak macet."


"Boneka apa?"


"Beruang, kesukaan mu. Cokelat dan punya pita dilehernya. Ini gambarnya."


ucap Devan sembari melihatkan layar ponselnya.


"Kamu suka?"


"Iya, apa aku boleh meminjam ponsel mu? apa ada video atau foto mungkin aku bisa mengingat sesuatu?"


"Sudah aku bilang kamu harus sembuh dulu, jangan banyak pikiran, lagian ini ponsel buat kerja cuma ada data-data kantor saja. Maaf yah?"


"Oh, tidak apa. Aku manggil kamu dengan sebutan apa?"


"Devan."


"Devan? apa aku selalu memanggilmu seperti itu? aku tidak sopan sekali yah?"


"Itu yang aku mau, ayolah masa aku dipanggil "Mas" yang ada kek tua banget."


"Kaka?"


"Tidak, aku tidak ingin punya adik perempuan."


"Oh kalau begitu"Papa". Kita sudah punya bayi kan?"


"Cuma putri kita yang boleh mengucapkan itu."


"Sayang?"


"Itu untuk kamu, cukup panggil Devan dan aku sudah sangat bahagia dengan itu." Hanya Yumna yang membuat panggilan sepesial untuknya dan Devan hanya mau nama panggilan itu.


"Pangeran kodok"


Devan langsung menitihkan air mata saat kalimat itu di ucapkan oleh Angel. Angel langsung cemas saat melihat air mata itu, mungkin kah dia melukai perasan Devan.


"Maaf... maaf aku tidak bermaksud. Sungguh, tidak berniat melukai perasaanmu."


"Tidak kok" Ucap Devan sembari menghapus air matanya seraya tersenyum menyakinkan Angel bahwa dirinya tidak apa-apa. " Aku cuma teringat bayi kita, itu saja" Sambung Devan lagi. Devan teringan Yumna yang selalu memanggilnya dengan sebutan itu, senyumnya selalu membuatnya tenang dan semua itu sudah menjadi kenangan yang sulit untuk di lupakan.


"Nama anak kita siapa?"


"Harusnya aku yang menanyakan itu, kamu bilang akan memilihkan nama yang terbaik untuk nya. Nanti saja kamu pikirkan itu." Ucap Devan sembari mengelap bibir Angel.


...


17:00


Pandangan mata seakan tidak mau lepas dari Angel yang tengah bermain dengan bonekanya. Angel seakan sangat gemas dengan boneka pemberian Devan. Sesekali Angel memeluk dan memainkan tangan boneka itu layaknya anak kecil yang sedang bermain.


"Yumna tidak suka boneka" ucap Devan pelan lalu mengalihkan pandangannya ke layar laptop, ada beberapa data yang harus ia periksa.


Angel melirik kearah Devan yang terlihat sangat serius. Angel menggigit bibir bawahnya.


"Devan?" panggil Angel ragu.


"Hemm." Devan hanya berdehem saja tanpa melihat kearah Angel.


"Umm itu.."


"Kenapa?"


"Anterin ke toilet, kebelet pipis."


Devan langsung mengarahkan pandangan ke arah Angel.


"Buruan, aku tidak bisa sendiri!"


Devan meneguk ludah paksa. Entah kenapa detak jantungnya berdetak kencang.


"Panggil suster yah?"


"Engga! udah kebelet banget."


Melihat ekspresi wajah Angel yang seperti itu membuat Devan tidak tega. Dia pun berdiri dari duduknya.


"Iya."


..


Devan menghela napas beratnya. Angel menatap Devan dengan aneh.


"AC-nya kurang dingin? kamu sampai keringetan gitu?"


"Eh? tidak apa? Aku mau keluar sebentar, nanti mama kesini kok sama bayinya."


"Iya sudah, tidak apa."


Devan mengecup sekilas puncak kepala Angel lalu berjalan kearah pintu. Saat ingin meraih gagang pintu Devan teringat pria itu, dia takut Pria itu akan membawa Angel pergi.


"Nanti sajalah." Devan mengurungkan niatnya lalu berbalik berjalan ke arah Angel.


"Ngga jadi?"


"Nanti, takut kamu kenapa-napa. Pinjem bonekanya."


"Nih."


..


Devan melihat ke arah jam dinding lalu berdecak kesal membuat Angel mengerutkan keningnya.


"Kenapa?"


"Mama lama banget."


"Kalau mau pergi ya silahkan, aku tidak apa-apa sendirian kok."


"Aku tidak mungkin meninggal kan mu sendiri."


Akhirnya pintu ruangan di buka dan Devan langsung menatap sebal Lusi yang membawa tas jinjing besar dan 2 asisten nya.


"Kenapa lama sekali?" omel Devan langsung.


"Maaf, mama masak dulu buat istrimu. Elsa, kamu makan yah?" Lusi nampak begitu senang melihat kedekatan Devan dan Angel. Lusi senang Devan mau mencoba menerima ke hadiran Angel.


"Iya Ma."


"Sudah ada mama, aku pergi yah?"


"Iya."


...


Pemakaman keluarga.


Devan menaruh bunga lily kesukaan Yumna di atas makam Yumna. Devan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Di samping makam Yumna, Devan mencurahkan perasaannya. Hanya Yumna yang ada di hati Devan dan tidak ada satu pun orang yang bisa menggantikan posisi Yumna.


"Aku sangat merindukanmu, aku tidak bisa melihat senyummu lagi. Tolong maafkan aku, hanya kamu ibu putri kita, hanya kamu yang pantas bukan orang lain. Kenapa kamu pergi secepat ini? apa dia pantas untuk putri kita? aku harap keputusan ku tidak salah. Percayalah hanya kamu istri ku, dia bukan penggantimu. Aku hanya ingin melindungi dia, itu saja."


Devan tertunduk. Angin berhembus lembut seakan membelai hati yang terluka.


"Yumna?"


Devan melihat kotak kecil di samping papan nisan Yumna. Kotak biru yang Devan letakan kemarin, kotak itu tak tersentuh noda sedikitpun seakan ada yang melindungi dari derasnya hujan semalam.


"Apa kamu ingin memberikan kalung itu pada dia? ini milikmu."


Angin berhembus lagi dan kini merontokkan kelopak bunga kamboja dan satu bunga utuh jatuh pada atas kotak itu.


"Aku akan memberikannya."


Devan mengambil kotak kecil itu lalu membukanya. Kotak ini berisikan kalung yang Devan pesan khusus untuk hadiah saat Yumna menjadi seorang ibu.


"Putri kita mirip sepertimu, aku cemburu sebab tidak ada kemiripan nya denganku. Tapi tidak apa, aku malah senang ada kamu versi mini." Devan tersenyum saat mengingat bayi kecilnya.


..


19:00


Angel menatap kearah Lusi yang tengah mengganti popok Alyssa. Angel menamai bayi mungil itu Alyssa dan Lusi setuju dan bahkan keluarga yang lain setuju hanya Devan saja yang belum tahu. Dari tadi Lusi menghubungi Devan tapi tidak bisa.


"Ma, Devan kenapa belum kembali?"


"Nanti juga pulang, baru jam tujuh."


"Iya sih."


Semua menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu di buka.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Devan dengan nada yang tak enak di dengar.


"Tidak apa, Elsa khawatir kamu belum pulang tadi. Kamu tahu Devan, bayi mungil ini sudah punya nama." ucap Lusi sembari mengoleskan minyak telon di kaki Alyssa.


"Hah? Kamu?"


"Alyssa, kamu suka atau tidak?"


"Nama yang cantik, aku suka dan aku punya hadiah untukmu. Khusus untuk istri ku tersayang." Devan mengeluarkan kotak kecil berwarna biru. Lusi yang penasaran langsung melihat ke arah Devan. Lusi terkejut melihat kotak itu.


"Itu?" Lusi teringat Devan meletakan kotak itu di makam Yumna dan berucap kalau kotak itu hanya untuk Yumna.


"Apa?"


"Tutup matanya." Suruh Devan, Angel pun menurut. Devan mengeluarkan sebuah kalung dalam kotak. Kalung Perak dengan liontin berbentuk mirip kepingan salju yang terdapat beberapa berlian yang menghiasi diatasnya. Devan memasang kalung itu di leher Angel.


"Sekarang buka."


"Ini? ini indah sekali. Terima kasih." Angel sangat menyukai kalung pemberian Devan.


"Kamu menyukai nya?"


"Iya, untuk Alyssa? buatkan juga yang sama seperti ini." rengek Angel dan membuat Devan menghela napas.


"Nanti kalau Alyssa sudah gedean dikit."


"Janji?"


"Iya."


Lusi masih menatap Devan, senyum yang Devan tunjukan terasa sangat pilu. Lusi paham betul perasaan Devan sekarang.


"Kalau aku boleh jujur, aku lebih suka boneka yang kamu berikan." ucap Angel dengan tatapan tertuju pada boneka yang kini di dekat Alyssa.


"Kenapa? itu mahal loh dan pesan khusus untuk mu?"


"Aku percaya, tapi boneka itu juga membuatmu senang dan entah kenapa saat memakai kalung ini, aku merasa sedih dan ada hal yang membuatku ingin menangis."


"Itu hanya perasaanmu saja." Devan menarik Angel kedalam pelukannya.


"Apa aku bisa menyimpannya saja tanpa harus memakainya?"


"Tidak apa, kamu harus memakainya. Itu hadiah dan rasa terimakasih ku untukmu."


Devan melihat ke atas agar air mata tidak menetes. Devan tidak menyangka perasaannya sampai ke Angel.


"Itu milikmu, rasa cinta ku padamu. Yumna." di akhir kalimat Devan melirihkan suaranya agar Angel tidak mendengar.


"Pasti ini sulit untuk mu, Devan." ucap Lusi dalam hati.


..


Rumah Riko dan Amanda.


Rumah megah ini terasa sangatlah suram, tidak ada lagi tawa yang terdengar sejak meninggalnya Angel, bahkan Rio sangat lah terpuruk. Dia tidak berbicara dengan siapapun bahkan sudah tiga hari ini dirinya tidak mau makan.


Jihan dan Erik memutuskan untuk ikut ke Prancis mencoba menata kehidupan mereka kembali, bukan untuk melupakan namun mencoba bertahan dari luka yang teramat sakit.


Sena memasuki kamar dengan sepiring nasi ditangannya. Terlihat jelas Rio yang sedang duduk melamun melihat kearah luar jendela.


"Ri, kamu makan yah? jangan seperti ini."


Rio hanya diam dan diam. Sena meletakan piring di atas meja lalu menghampiri Rio.


"Sampai kapan kamu seperti ini? kamu menyakiti ku." Rio masih tidak bergeming. Sena menghapus air mata nya yang tak terasa sudah membasahi pipinya.


"Ri, lihat aku!" Pinta Sena namun percuma saja, sekarang Rio seperti patung hidup. Sena tidak tahu harus apa bahkan si mungil tidak bisa membuat Rio tersenyum dan semua ini membuat Sena tertekan dan harus menelan berbagi macam obat untuk bertahan dalam situasi ini. Sena sangatlah frustasi dengan Rio yang tak pernah menganggap nya ada.


"Ri? RIO!" bentak Sena dengan nada tinggi namun tetap sama.


"Aku harus bagaimana lagi, aku capek! aku juga istri mu! tolong hargai aku, Angel sudah meninggal! Terima kenyataan itu. Tolong, sedikit saja kamu perduli padaku, aku mohon. Terserah kamu, kamu mau makan atau pun tidak, aku tidak lagi perduli. Sudah cukup, semua yang aku lakukan tidak lah berarti untukmu. Aku tidak bisa memberikan mu anak dan mungkin sebabnya kamu pilih kasih padaku."


Sena membalikan badannya langsung melangkah keluar kamar. Di luar kamar ternyata ada Amanda yang menatapnya senduh.


"Sayang?"


"Ma." Sena langsung memeluk Amanda. Tangisnya tak terbendung lagi. Amanda sangat tahu Sena sangatlah terluka.


"Kenapa Rio seperti ini? ma aku tidak sanggup lagi. Aku capek."


"Sayang jangan bilang seperti itu, ada mama di sini. Jangan sedih yah?"


ucap Amanda menguatkan Sena. Sena melepas pelukannya, Amanda menghapus air mata Sena.


"Ma, aku pulang ke rumah Papaku yah? aku ingin menenangkan diriku."


"Iya, tapi diantara supir yah?" pinta Amanda yang takut Sena kenapa-napa.


"Iya."


Sena berlalu pergi. Amanda langsung memasuki kamar, Amanda juga sudah melakukan berbagai cara agar bisa kembali seperti biasa.


"Mau sampai kapan?" Amanda menghampiri Rio yang masih pada posisinya. Amanda melihat wajah putra nya yang terlihat sangat pucat dan pandangan matanya kosong.


"Rio, lihat mama? mama menangis karena mu. Apa kamu tidak sayang sama mamamu ini?"


Amanda membelai wajah Putranya dengan rasa sayang yang sangat dalam. Rio masih tidak bergeming.


"Lihat mama, sekali saja." pinta Amanda. Rio masih tetap membisu.


"Ri, mama tahu kamu sangat mencintai Angel tapi tolong ikhlas kan dia, jangan seperti ini. Kamu tidak kasih dengan Sena dan Kevin? mereka sangat membutuhkan mu."


Amanda mengelus puncak kepala Rio. Sebagi seorang ibu, Amanda sangatlah terluka, hati ini seakan menjerit karena sakit namun dia harus terlihat tegar untuk keluarga nya.


"Dari pada kamu seperti itu lebih baik doa kan Angel dan menjaga Kevin. Kevin alasan Angel selama ini tersenyum, jaga Kevin layaknya seorang Ayah. Kamu masih punya Sena, dia masih istri mu. Dia juga mempunyai hati, mama minta kamu juga perduli dengan perasaan Sena. Kamu sudah dewasa Rio, kamu seorang Ayah tugasmu sangat lah besar jangan lupakan itu. Jangan buat Angel kecewa, ingat lah dia di hatimu dan jadikan dia kenangan dan semangat hidupmu. Lakukan yang kamu mau, tapi jangan lupakan tanggung jawab mu."


Amanda berlalu pergi meninggalkan Rio yang masih diam membeku.


"Aku hanya ingin Angel. Aku tidak ingin bisa hidup tanpa senyumannya, kenapa kamu harus pergi dengan cara seperti itu? Kalau aku bisa memilih aku lebih baik melihatmu dengan pria lain dari pada seperti ini. Aku sangat merindu mu."


.. Bersambung...