
"Kalau nantinya aku sudah melahirkan anak untukmu apa aku boleh bersamanya dan perjanjian itu apa akan berakhir?"
Angel memandan Rio dengan tatapan penuh harapan dan juga kepastian. Sebenarnya Angel tidak mau menanyakan itu karena baginya itu sangat menyakitkan saat membayangkan semua yang akan terjadi. Rio tidak langsung menjawab, baginya ini sulit menentukan siapa yang akan ia pilih.
"Kamu tidak bisa menjawabnya?"
Entah kenapa Angel merasa sangat kecewa namun Angel tidak bisa mengungkapkannya toh dirinyalah yang memilih semua ini.
"Aku--"
Drttt..drtttt
Perkataan Rio dipotong suara dering ponselnya yang berbunyi nyaring. Rio langsung meraih ponselnya dan terkejut melihat siapa yang menelfonnya.
"Papa?"
Rio langsung menganggkat panggila telefon tersebut. Angel hanya memperhatikan saja Rio. Angel mengeryitkan keningnya saat melihat raut wajah Rio yang terlihat kesal.
"Apa harus Rio? kenapa tidak Arfan saja?"
Rio terlihat kesal dan sepertinya Rio tengah menghadapi masalah tapi Angel tidak tahu apa.
"Baik Pa"
Setelah menutup sambunga telefon Rio langsung menghela napas beratnya.
"Kenapa?"
Rio menoleh kearah Angel. Tatapan Rio penuh rasa bersalah. Rio disuruh Papanya untuk memimpin rapat penting besok dan Rio tidak bisa menolaknya.
"Maaf kita harus pulang sekarang"
"Hah?"
Angel terlihat sangat kecewa tapi melihat Rio seperti itu Angel hanya bisa menurut.
"Ya sudah, aku beres-beres dulu"
Angel langsung beranjak dari duduknya untuk membereskan baju-baju kedalam koper. Rio memandang Angel dengan tatapan penuh perasaan bersalah.
...
Setelah pulang dari Lombok Tengah, Rio jadi super sibuk dan bahkan sudah beberapa minggu ini Rio pulang tengah malam. Karena itu pula Angel selalu tertidur disofa ruang tamu, menunggu Rio pulang. Seperti sekarang.
Rio tersenyum saat melihat wajah cantik Angel yang terlelap disofa yang pastinya tidak nyaman. Rio sendiri tidak minta Angel untuk menunggunya pulang dan bahkan Rio melarang Angel tidur diruang tamu.
"Dasar bandel"
Dengan tenaga yang tersisa Rio membopong tubuh mungil Angel pindah kekamar.
...
Kamar
Rio mengenakan selimut ditubuh Angel setelah itu Rio membersihkan badannya yang terasa sangat capek.
"Hufff, ini sangat melelahkan"
Rio menoleh kearah Angel yang tertidur sangat lelap. Rio menyipitkan matanya saat melihat pipi Angel yang semakin tembem dan Rio baru sadar kalau Angel semakin "berisi".
"Nah, gitu kan aku tambah semangat kerjanya"
Rio mengecup pipi Angel cukup lama. Ia ingin Angel merasakan kecupannya sampai kealam mimpi yang tengah Angel jelajahi.
.. 06:30
Rio perlahan membuka kelopak matanya. Telinganya mendengar sesuatu dari dalam kamar mandi, itu seperti suara Angel yang sedang munt*h.
"Kenapa lagi tuh anak"
Walau mata yang masih belum terbuka sempurna dan rasa ngantuk yang masih terasa, Rio turun dari tempat tidur menghampiri istri mungilnya yang sepertinya kurang enakbadan.
"Kamu kenapa lagi"
Rio memijit leher Angel dengan wajah yang masih mengantuk. Angel merasa perutnya sangat mual. Terhitung sudah satu minggu ini dirinya mual dipagi hari dan obat maag itu sudah tidak mempan lagi.
"Ke rumah sakit aja yah?"
Ajak Rio yang sudah capek mengurusi kantor dan ditambah lagi kondisi Angel yang seperti ini.
"Aku ngga apa-apa"
Angel membasuh mulutnya lalu berbalik mengadap Rio. Angel berusaha tersenyum agar Rio tidak cemas.
"Pucat gitu? ngga apa-apa?"
"Beneran! kamu semalam pulang jam berapa? kalau sudah malam kenapa tidak menginap saja dikantor? katanya ruang kerjamu punya yang kamu butuhkan?"
Rio menatap datar Angel karena dirinya menanyakan kondisi Angel sekarang tapi Angel malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Kalau aku nginap dikantor terus siapa yang akan membopongmu kekamar? sudah aku bilang kan jangan menungguku pulang! aku sudah capek kerja malah harus membopong mu!"
Nada bicara Rio terdengar kesal dan dirasa Angel suara Rio terkesan setengah membentak membuat dada Angel sesak dan air mata menetes tanpa permisi. Angel menangis bahkan dirinya terisak didepan Rio.
"Eh?"
Rio jadi panik sendiri melihat Angel menangis.
"Sayang jangan menangis, aku minta maaf, aku tidak bermaksud"
Rio langsung mendekap Angel dengan erat. Angel masih terisak didekapan Rio.
"Udah, jangan menangis lagi"
....
Angel ingin memasang dasi dilipantan kerah Rio. Namun baru mendekat ke Rio hidung Angel mencium bau menyengat parfum Rio dan membuatnya ingin munt*h.
"Emmm"
Angel bergegas menuju kamar mandi sembari menutup mulutnya. Melihat Angel yang seperti itu membuat Rio merasa bingung dan juga aneh.
"Kamu kenapa?" tanya Rio langsung saat Angel keluar kamar mandi.
"Parfum kamu!! ihh bikin mual taungga!"
Ucap Angel dengan penuh kekesalan. Rio mengeryitkan keningnya padahal ini parfum yang biasa dirinya pakai.
"Ini parfum yang biasa loh"
"Iiihhh ngga mau tahu!! pokoknya itu buatku mual"
"Iya maaf, besok aku ngga pakai parfum. Sekarang aku berangkat dan jangan tidur disofa lagi mengerti?"
"Iya"
Rio mengambil dasi yang tergeletak dilantai lalu kekuar dari kamar padahal dirinya ingin sekali mengecup bibir mungil Angel ya apa boleh buat ketimbang kena omel Angel karena aroma parfum ini.
"Kenapa sih tuh anak? tau ah lagi PMS kali"
Rio tidak ambil pusing tingkah Angel barusan malah Rio berharap ada sesuatu yang telah terjadi.
...
12:00 siang
Rumah orang tua Rio
Rio sedang memainkan PS motor GP di ruang tengah. Dirinya butuh hal yang menyenangkan sebelum berkerja lagi.
"Huff"
Rio masih terbayang wajah pucat Angel tapi apa boleh buat Angel menyuruhnya untuk tidak khawatir bahkan Angel menyuruhnya untuk tidak pulang dijam makan siang dan karena itu pula Rio ada disini. Lebih nyaman dirumah dari pada dikantor.
"Rio, kamu mau makan apa?" tanya Amanda kepada putra sulungnya namun Rio hanya menggeleng.
"Kamu ini! yasudah kalau seperti itu Mama masak yang Mama mau"
Rio hanya mengangguk, dirinya masih fokus ke layar TV. Amanda hanya menggeleng lalu bergegas kedapur sembari mulutnya komat-kamit tak jelas.
"Punya anak tiga semuanya gila kerja"
Dengus Amanda. Yang satunya itu Riko suaminya sendiri.
..
"Capek"
Rio merentangkan kedua tangannya untuk melemaskan otot-otot tangannya yang terasa kaku. Saat Rio menoleh kearah luar jendela Rio melihat pohon mangganya berbuah namun sepertinya masih mentah.
"Kayaknya enak nih dibikin rujak"
Rio langsung mematikan TV dan bergegas kehalaman samping untuk memetik buah mangga itu.
Rio melihat kesekeliling mencari sesuatu untuk memetik mangga itu.
"Wih ada bambu, coba deh"
Rio mengambil bambu yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Bambu yang lumanyan panjang, Rio mulai mengarahkan ujung bambu itu ketangkai buah mangga dan.
"Yess"
Rio langsung mengambil buah mangga yang tergeletkak ditanah.
"Suruh bi Asih aja lah"
Rio mencari bi Asih. Bi Asih adalah salah satu asisten rumah tangga yang sudah sangat lama bekerja disini.
"Bi Asih!!"
"Iya Den"
"Tolong bikinin rujak"
Rio menyerahkan mangga yang ia petik tadi. Bi Asih lenerimanya dan mengangguk.
"Cuma mangga apa dicampur sama buah lain?"
"Boleh, kalau sudah tolong dibawa keruang tengah"
"Iya den"
20 menit berlalu akhirnya yang Rio mau datang juga. Bi Asih membawa sepiring potongan buah-buahan dengan semangkok ukuran sedang sambal untuk mencocol buah itu.
"Makasih bi"
"Sama-sama den"
Rio langsung memakannya, sensai asam dan pedas manisnya sambal membuat mulut Rio tidah henti-hentinya mengunyah.
Rio memakan rujak itu sampai setengah namun sepertinya Rio tak sanggup memakannya lagi karena sambal yang dibuat bi Asih membuat bibirnya terasa terbakar sangking pedasnya.
"Pedes"
Rio langsung menuju dapur mencari sesuatu yang dapat menghilangkan rasa pedas ini.
Setelah Rio pergi. Riko yang baru pulang melihat rujak yang tinggal setengah dan entah kenapa senyum Riko muncul. Riko langsung menuju dapur mencari istrinya.
Riko langsung memeluk Amanda. Amanda terkejut mendapat pelukan dari belakang.
"Eh?"
Amanda langsung melihat wajah orang yang tengah memeluknya ini.
"Kamu kenapa? sakit?" tanya Amanda dengan kebingungan tapi Riko malah tersenyum kearah Amanda dan membuat Amanda semakin bingung.
"Kamu kenapa sih?"
"Kamu ngga mau cerita?"
"Cerita apa? aku ngga paham maksud kamu?"
Riko mendengus kesal dan semakin membuat dahi Amanda mengkerut.
"Kamu hamil?"
"Hah? hamil? kamu mau punya anak lagi?"
"Ck"
Riko melepas pelukannya dan memandang datar Amanda.
"Ih kamu kenapa sih? pulang-pulang kok nanya seperti itu?"
"Aku pikir kamu hamil, abis didepan ada rujak kali aja kamu ngidam"
Amanda langsung tertawa mendengar ucapan Riko menurut Amanda, wanita yang makan rujak disiang bolong belum tentu sedang gidam dan dirinya juga tidak merasa memakan rujak.
"Kenapa ketawa? kali saja bener"
"Maksudnya apa Pa?"
"Kelamaan nunggu cucu kamunya jadi hamil"
"Dih kamu yah! kalau kamunya yang hamil sih nggak apa-apa"
"Mana bisa laki-laki hamil Ma, kalau buat sih bisa"
Amanda langsung melempar kain lap ke arah Riko dan bebarengan dengan itu Rio datang menghampiri.
"Ada apa nih kok keknya seru?" tanya Rio tiba-tiba.
"Ini Papa kamu masa Mama dikira hamil cuma gara-gara rujak didepan"
"Kali aja bener jadi Rio punya adik lagi"
"Bener tuh kata Papa!"
Amanda mendengus kesal kedua orang ini selalu saling mendukung dari hal apa pun.
"Mama sudah tua, kamu tuh cepat kasih Mama cucu! temen-temen mama sudah punya cucu semua" ucap Amanda dengan nada emak-emak sewot.
"Sabar ma, itu kan anak bukan boneka! lagian yang makan rujak itu Rio bukan Mama"
Kedua orang tua Rio hanya membulatkan bibirnya.
"Kak Rio disini?"
Entah dari mana Arfan sudah ada dibelakang ketiga orang ini. Dipikiran Rio terlintas ide jahil yang membuat suasana semakin seru.
"Fan, kita bakal punya adek!"
"Beneran Ma?" tanya Arfan dengan penuh antusiasnya.
"Kamu mau saja dibohongin kakak kamu" jawab Amanda dengan santainya. Arfan menatap Rio dengan tatapan yang tidak enak dilihat sedangkan Rio hanya melihatkan deretan giginya.
"Jangan bahas lagi! ayo makan"
"Iya Ratu" kompak ketiga orang ini dan membuat Amanda hanya bisa mendengus kesal.
"Terserah kalian"
...
15:00
Rio tengah membahas pekerjaan dengan Riko untuk proyek yang akan dikerjakan dan juga menyakinkan para pemegang saham.
"Rio, Papa tahu pekerjaan ini sangat menumpuk tapi Papa mohon jangan memaksakan diri!"
"Rio ngga apa-apa Pa, Rio masih bisa tangani"
"Kalau kamu ingin Papa bantuin kamu bilang saja"
"Itu mah gampang. Rio balik kekantoryah"
"Hati-hati dijalan"
....
Pukul 03:00 pagi
Angel mendengus kesal karena Rio tidak kunjung pulang. Angel merasa dirinya mengantuk tapi Angel berusaha tidak memperdulikan rasa ngantuknya karena ingin memberi kejutan ke suami tercintanya.
Mendengar suara mobil Rio, Angel buru-buru melangkah ke depan pintu. Pintu itu dibuka oleh Rio.
"Sayang"
Rio terkejut sekaligus kesal melihat siapa yang tengah berdiri didepannya dan tanpa merasa bersalah dengan lebarnya tersenyum kearahnya.
"Kamu ini su--"
"Sssttt"
Angel memotong ucapan Rio. Rio hanya bisa mendengus kesal.
"Tutup matanya!"
"Buat apa?"
"Nurut!"
"Iya"
Rio menutup kedua matanya dan Angel langsung menarik tangan Rio menuju ke meja makan.
"Jangan mengintip!" ancam Angel.
"Ngga"
Sesampainya dimeja makan Angel menyuruh Rio untuk membuka matanya dan alangkah terkejutnya melihat kue ulangtahun diatas meja makan.
"Selamat ulang tahu suamiku!!"
Ucap Angel dengan senangnya. Rio senang sekaligus kesal. Ia menduga kalau dari tadi pagi dirinya dikerjai oleh Angel.
"Memangnya hari ini aku ulang tahun?"
"Iya. Aku lihat diKTP kamu"
Rio tersenyum senang melihat ini semua dan ini kali pertamanya merayakan ulang tahu dengan Angel.
"Terima kasih sayang"
cup
Rio mengecup kening Angel dengan hangatnya.
"Sekarang tiup lilinnya tapi buat permohonan dulu!"
"Aku sudah bahagia bersama mu"
Rio langsung meniup lilin diatas kue itu.
Angel bertepuk tangan dan bersorak membuat Rio terkekeh.
"Ngga, aku beli pakai uang kamu. Aku ngga punya uang"
"Ngga apa-apa, hadiah buatku?"
Angel meletakan kado didepan kue. Bentuk kado itu kecil persis pembungkus permen karet.
"Ini apa sayang? pulpen apa tusuk gigi?" Canda Rio namun Angel tidak marah atau apa.
"Buka deh!"
Rio menurut. Ia membuka kadonya. Rio terdiam cukup lama sebari melihat kedalam kotak.
"Kenapa?"
"I..ini? ka..kamu?"
08:30 pagi flash back
Setelah Rio pergi, Angel langsung merebahkan tubuhnya keatas kasur.
"Aku kenapa?"
Angel merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya dan dia tidak tahu apa yang jelas ini perutnya tidak nyaman.
Angel meraba kasur mencari ponselnya.
"Ketemu, sebaiknya aku minta maaf"
Saat ingin mengirim pesan Angel terkejut melihat tanggal yang tertera dilayar ponselnya.
"Tanggal 25? aku kan belum? apa?"
Angel bangun dari tidurnya lalu berjalan kearah kamar mandi.
Setelah didalam kamar mandi Angel langsung mencari alat tes kehamilan.
"Semoga saja, Tuhan aku mohon"
15 menit berlalu
Angel membalik alat tes hamilan itu dan senyumnya menggembang dengan sempurna.
flash end
Rio menoleh kearah Angel dengan wajah yang blank. Angel terkekeh melihat ekspresi Rio yang seperti itu.
"Iya aku hamil"
Rio langsung memeluk Angel dengan eratnya. Isi kado itu adalah alat tes kehamilan yang menunjukan dua garis merah yang berarti ada nyawa didalam rahim Angel.
"Makasih sayang!"
Rio tidak bisa menahan haru. Ia menangis bahagia begitu juga dengan Angel. Rio tidak bisa mengungkapkan perasaannya sekarang yang jelas ini kado terindah didalam hidupnya.
Rio melepas pelukannya begitu juga Angel. Rio berlutut dihadapan Angel lalu memeluk perut Angel yang didalam sana ada calon anaknya yang tengah berkembang dan doa yang selalu beriringan disetiap detak jantung mungilnya. Rio tersenyum dengan bahagianya akhirnya penantiannya selesa sudah tinggal menjaga Angel dan calon buah hatinya.
cup
Rio mengecup perut Angel cukup lama. Angel merasa bahagi dengan ini semua. Hatinya sangat senang mengetahui ada nyawa didalam nyawanya, Angel bersumpah akan menjaga nyawa yang telah Tuhan titipkan kepadanya.
"Kamu baik-baik yah didalam sana"
Rio mulai berbicara dengan janin yang ada dirahim Angel. Angel sekarang tahu betapa Rio sangat senang dengan hadirnya malaikat kecil yang telah Tuhan titipkan walau masih dini Rio sudah menunjukan kasih sayangnya.
"Papa akan jagain kamu sama Mama. Sayang ku suruh Mama makan yang banyak yah! biar nggak kurus seperti ini"
Kalimat terakhir dari ucapan Rio membuat dagu Angel mengkerut. Entah sudah beberapa kali Rio mengatainya kurus.
Rio bangkit dan langsung mencubit pipi Angel dengan gemasnya.
"Aaww"
"Kamu ini buat aku cemas saja, besok kita kedokter yah?"
Angel mengangguk. Angel melirik kearah kue ulang tahun milik Rio sepertinya Angel ingin kue itu.
"Kamu mau?"
Angel mengangguk lagi. Rio langsung memotong kue itu dan disuapinya bumil ini dengan penuh kasih sayang.
"Udah"
"Udah?" tanya Rio heran padahal ini baru sesuap.
"Aku ngantuk"
Rio terkekeh dan langsung membopong tubuh Angel ke kamar. Baru satu langkah Angel mulai memejamkan matanya.
"Sepertinya harus pindah kamar"
Ucap Rio yang mulai menaiki tangga. Rio takut Angel kelelahan menaiki tangga dan tidak mau hal buruk terjadi pada Angel dan janinnya.
...
Kicau burung bernyanyi menyambut hangatnya sinar matahari yang hangat.
Rio tengah membelai lembut perut Angel, sebenarnya Rio dari tadi malam tidak pernah mengalihkan tangannya dari perut Angel.
"Emm"
"Selamat pagi bumil "
Kecupan hangat Angel dapatkan dari Rio dikeningnya. Kelopak mata Angel hanya terbuka setengah dan sepertinya akan menutup lagi.
"Tidur lagi? sudahlah, mungkin kamu harus banyak istirahat"
Rio memilih untuk tidak mengganggu Angel. Rio turun dari tempat tidur dengan hati-hati supaya disebelahnya ini tidak bangun.
"Buat sarapan apayah?"
Rio bergegas kedapur untuk membuat sarapan untuknya dan istrinya yang tengah berbadan dua.
...
Angel terbagun dari tidurnya karena rasa mual yang dirasakannya. Angel langsung menuju kamar mandi.
"Apa ini rasanya hamil? mual banget"
Angel membasuh mulutnya lalu mengelap mulutnya dengan tisu.
Angel membelai perutnya yang masih rata.
"Sayang jangan buat ibu mual terus"
Angel langsung keluar kamar mandi dan langsung disambut oleh Rio.
"Munt*ah lagi?"
Angel mengangguk lalu melangkah menuju tempat tidur, entah kenapa bedannya terasa lemas.
"Makan yah?"
"Ngga mau mual"
Rio langsung mengecup kening Angel sekilas. Wajah Angel terlihat sangat pucat dan tidak bersemangat.
"Dikit saja dari pada nanti maag kamu kambuh, nanti tambah mual loh"
"Ya sudah"
Rio tersenyum akhirnya Angel mau menurut. Angel mengunyah dengan pelan sebenarnya Angel malas sekali untuk makan karena perutnya terasa tidak enak.
"Ngga mual kan?"
Angel hanya menggeleng lalu membuka mulutnya lagi. Walau terasa hambar dilidah namun Angel memaksakan untuk terus mengisi perutnya karena ada yang harus diberimakan didalam rahimnya.
"Minum dulu"
Angel menerima gelas berisi air diminumnya beberapa tegukan namun setelah itu rasa mual kembali muncul.
"Kenapa?"
Tanya Rio saat melihat Angel membungkam mulutnya sendiri lalu turun kekamar mandi. Rio langsung mengikuti Angel.
"Yaampun, padahal udah makan banyak" ucap Rio saat melihat Angel munt*h.
....
10:00
Rio tengah mendekap Angel yang tertidur. Melihat Angel yang seperti ini terasa berat untuk meninggalkannya sendirian dirumah.
"Kamu harus kuat yah, aku akan jagain kamu"
Rio mengecup puncak kepala Angel cukup lama berharap Angel semakain terlelap tapi yang terjadi Angel malah membuka kelopak matanya.
"Katanya mau kedokter?" tanya Angel langsung.
"Kamu sudah bangun"
cup
Rio mengecup bibir Angel sekilas. Angel merasa tubuhnya tidak selemas tadi.
"Mau sekarang apa nanti sore?" tanya Rio sembari merapikan rambut Angel.
"Sekarang"
"Ya sudah"
...
Klinik kasih Bunda
Ruang pemeriksaan
Rio mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan oleh Dokter wanita didepannya ini sedangkan Angel tengah mengelus perutnya.
".... kondisi janinnya sehat cuma harus banyak istirahat dan jangan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menguras tenang"
"Mualnya, Dok?"
"Nanti saya akan berikan obat sama vitamin"
"Makasih dok"
Dokter wanita itu langsung menulis resep obat untuk ditebus di apotik.
"Ini resepnya dan buku ini harus selalu dibawa saat cek kandungan"
Dokter itu menyerahkan secarik kertas dan buku merah muda keRio.
"Kami permisi dulu"
...
Super market
Rio mendorong troli belanja yang masih kosong. Rio tengah mencari susu khusus untuk ibu hamil, Rio ingin calon anaknya sehat.
"Kak Rio tunggu"
Rio langsung memberhentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang. Rio terkejut melihat Angel yang tertinggal dibelakannya.
"Ayo"
"Capek!"
Angel langsung duduk dikursi panjang tak jauh dari tempatnya tadi. Rio langsung menghampiri Angel.
Rio duduk disebelah Angel dan langsung mengelus perut Angel.
"Kita beli susu dulu baru pulang"
"Ya udah ayo"
Angel bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya ke Rio. Rio tahu istrinya ini ingin bergandengan tangan.
"Iya sayangku"
Rio langsung menggenggam tangan Angel. Mereka melangkah bergandengan tangan menuju tempat rak yang terdapat berbagai macam merek susu khusus bumil (ibu hamil).
"Kamu mau yang mana?"
"Emm, mau coklat"
"Vanila saja yah"
"Tadi disuruh milih!" dagu Angel langsung mengkerut. Rio hanya menujukan deretan giginya yang membuat Angel semakin kesal.
"Ampun sayang"
Rio mengambil kotak susu coklat. Angel melihar kesekeliling dan melihat deretan makanan ringan yang membuatnya ingin memakan salah satu camilan ringan itu.
"Sayang"
"Hemm"
"Mau cemilan"
Rio langsung menoleh kearah Angel. Angel menatap Rio dengan penuh permohonan.
"Kamu ngga boleh makan makanan yang banyak mengandung MSG"
"Tapi aku mau"
Angel terus memaksa dibelikan camilan ke Rio. Rio melarang tapi Rio juga tidak mau membuat Angel sedih dan pastinya ada yang lebih aman dikonsumsi disini.
"Kita cari yang lain"
"Tapi"
"Masih mau camilan apa tidak?" tanya Rio dan pastinya Angel masih ingin camila.
"Mau"
30 menit berlalu. Kaki Angel sudah sangat pegal dan perutnya terasa lapar tapi Rio sepertinya tidak ngeh dengan apa yang dirasanya sekarang.
Rio tengah melihat komposisi yang ada dibungkus camilan yang ia ingin beli. Rio mau yang terbaik untuk Angel dan anaknya.
Rio terkejut saat tangan Angel tiba-tiba mengambil sebungkus roti senwic yang terletak disampingnya.
Rio langsung menoleh kearah Angel. Angel langsung membuka bungkusnya lalu memakan senwic itu dengan lahapnya.
"Kamu lapar?"
Angel hanya mengangguk dengan mulut yang masih mengunyah. Rio tersadar kalau istrinya ini akan sering merasa lapar karena sikecil sedang tumbuh dan membutuhkan gizi yang lebih.
"Ya udah kita cari makan, setelah bayar ini"
"Aku mau kamu yang masak!"
"Ngga kelamaan?"
"Anak kamu yang mau"
"Ya sudah"
...
Rumah
Angel tengah memakan camilan keripik pisang untuk mengganjal perut yang terasa lapar sembari menunggu Rio selesai masak.
"Kak Rio lama banget!" dengus Angel langsung menyalakan TV dan kebetulan sekali langsung diacara kesukaan Angel.
Tak berselang lama Rio datang dengan makanan untuk Angel. Senyum Rio mengembang saat Angel tertawa karena acara diTV.
"Udah ketawanya, makan dulu"
"Aaa"
Rio langsung menyuapi Angel dengan penuh kasih sayang. Rio tidak merasa capek atau apa saat bersama Angel terlebih saat Angel menggandung buah hatinya. Rio sempat teringat Sena saat Sena hamil begitu manja seperti Angel sekarang tapi setiap orang itu pasti berbeda.
Rio sangat senang saat Angel lahap sekali makannya tidak seperti tadi pagi. Angel sekarang lebih napsu makan dan lebih ceria dari tadi pagi.
"Yeeyyy habis, nah gitu dong kalau makan"
Rio bersyukur kali ini Angel tidak merasa mual. Rio mengekup bibir Angel sekilas dan mengecup perut Angel.
"Aku buatin susu yah?"
"Nanti, perut aku sudah kenyang"
"Iya"
"Hoaamm"
Angel menguap setelah perunya terisi. Angel mengucek matanya yang mulai tersa berat.
"Kekamar yah?"
"Mau tidur dipangkuanmu"
Angel langsung memposisikan kepalanya dipangkuan Rio. Rio tersenyum sekilas lalu membelai rambut kepala Angel dengan lembutnya.
Perlahan kelopak mata Angel perlahan menutup dan dengkuran halus terdengar ditelinga Rio.
"Kamu makin cantik saja, pipi kamu tambah tembem"
Rio pov
Apa aku bermimpi? ini seperti mimpi setelah sekian lama aku menanti tapi apa ini akan menjadi masalah? entah lah nanti-nanti sekarang ya sekarang, aku akan menjalaninya seperti biasa, biasa dengan artian berbeda aku sekarang akan menjadi seorang Ayah. Sebelum itu semua aku akan memastikan kesehatan kalian, istri dan calon anak ku.
"Ck"
Aku teringat akan Sena. Apa yang sedang dia lakukan? kenapa dari kemarin dia tidak menelfon sedangkan aku tidak berani menelfonnya karena aku tidak ingin mengganggunya padahal aku ingin sekali menyampaikan kabar ini dan aku tidak sabar menantinya pulang.
"Kak Rio jangan pergi"
"Eh?"
Aku terkejut saat bibir mungil Angel bersuara. Ku lihat kedua matanya masih terpejam tapi air mata itu mengalir dari matanya, apa dia mimpi buruk?.
"Sayang, ayo bangun"
Aku semakin panik saat Angel terisak dalam tidurnya. Aku menepuk pipi Angel agak keras agar Angel terbangun.
"...."
...***...***...