
"Apa kau mencurigai ku?"
"Mungkin saja, kamu pernah mencintainya kan?" Ucap Rio tanpa pikir panjang. Arfan melihatkan tatapan murkanya, melihat Angel menangis saja hatinya sudah hancur mana mungkin dirinya sanggup melakukanya.
"Apa otak mu sudah hilang? ck! bilang saja kalau kamu tidak berguna dan tidak mampu menyelesaikan masalah ini. Jangan sekalipun berfikir aku akan melakukan hal mengerikan seperti itu, kalau saja Angel tidak memilih mu yang payah ini, mungkin Angel masih hidup sampai sekarang!" ucapan Arfan membuat amarah Rio semakin memuncak. Dirinya bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Arfan dengan tatapan tajam. Arfan dapat melihat amarah itu namun dirinya juga sudah sangat muak dengan sikap Rio.
"Apa kamu bilang?"
"SUAMI TIDAK BERGUNA!" bentak Arfan dan langsung mendapat pukulan keras di wajahnya.
"RIO!" Teriak Amanda yang tak sengaja melihat kejadian ini. Amanda langsung menghampiri dan menampar Rio. Amanda sudah tidak bisa memaafkan Rio lagi, kesabarannya sudah habis. Rio hanya tertunduk, dirinya tidak sanggup menatap wajah ibunya.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? ayo jawab mama?"
Rio hanya diam membisu, Arfan hanya melihat saja. Mempunyai kakak bodoh seperti Rio membuatnya jadi orang bodoh juga, andai saja waktu bisa di ulang pasti dirinya akan terus-menerus meyakinkan Angel untuk meninggalkan Rio.
"Mau sampai kapan Ri? Adik kamu sudah mengurus semuanya, menggantikan mu tapi kamu malah memukulnya? kamu harusnya sadar apa kesalahan mu! jangan salah kan siapa pun atas kebodohan mu, dan kenyataan nya Angel sudah meninggal."
"Engga ma! Angel masih hidup, dia masih hidup! Angelku tidak mungkin meninggal!" ucap Rio dengan nada bergetar. Rio masih yakin Angel masih hidup. Rio terlihat sangat rapuh dan seakan kehilangan arah.
"Rio?" Amanda melihat wajah yang sangat membuat hatinya terluka.
"Dia masih hidup, ma. Tolong percayalah!"
"Iya Mama percaya, Angel masih hidup tapi di hatimu. Kamu masih punya Kevin, Sena dan keluarga mu, apa kami sudah tidak penting lagi bagimu? Kami sangat mengkhawatirkan mu, kita sudah kehilangan Angel dan jangan dirimu pula."
Rio mengepalkan kedua tangannya. Dirinya melakukan hal bodoh yang tidak bisa di maafkan. Dirinya telah melukai keluarga nya bahkan dihadapannya berdiri seorang wanita yang sangat rapuh namun bisa menghadapi masalah ini dengan tegar, bahkan dia tahu ini sangatlah sulit di hadapi.
"Maafin Rio, ma." Rio langsung memeluk Amanda dengan erat.
"Maaf....maaf, Rio selalu menyakiti mama."
Di kejauhan Sena melihat semuanya, kedua tangannya mengepal kuat menahan emosi.
"Mayat nya sudah membusuk tapi kenapa dia masih saja membuat hidupku tidak tenang." Sena langsung pergi ke kamarnya untuk menelpon Ayahnya. Bagaimana pun Sena tidak suka Rio terus saja mengingat Angel.
...
Rumah Devan.
"Ayo berangkat. Eh?" Devan tersenyum saat melihat Angel yang tertidur meringkuk di sofa. Pada tadi dia merengek minta es krim kepadanya.
"Tidur yah?" Devan menghampiri Angel. Devan duduk lesehan di lantai, tangannya kanannya dengan lembut membelai wajah Angel.
"Kenapa kamu mirip sekali dengan Yumna? Apa mereka masih mengingat mu?"
"Katanya mau pergi?" tanya Lusi yang baru kembali dari dapur.
"Yang minta beli es kirim malah tidur." ucap Devan sembari memainkan pipi Angel, menarik-narik pelan. Angel sepertinya sudah lelap hingga tidak merasakan sentuhan Devan.
"Baru di tinggal sebentar, untung sudah makan. Kamu beli saja sana."
"Ngga tahu ini bocah sukanya rasa apa."
"Beli saja semua varian rasanya." suruh Lusi dan langsung mendapat tatapan datar dari Devan.
"Mama mau buka kedai es krim?"
"Kamu mau jualinnya?"
"Enggak, iya Devan paham."
Sebelum pergi, Devan terlebih dahulu memindahkan Angel ke kamar.
Lusi memperhatikan putranya yang terasa mulai lebih baik dari sebelumnya.
"Aku tidak tahu kamu siapa tapi terima kasih telah hadir di keluarga ku."
....
Kamar Elsa.
Devan tengah merapikan baju-baju Angel, menyimpannya di dalam lemari.
"Jangan lakukan itu!"
"Eh? Elsa?" Devan melihat Angel yang meracau dengan mata tertutup. Devan langsung menghampiri Angel yang seperti mengalami mimpi buruk.
"Elsa bangun... Elsa!"
Devan menepuk-nepuk pipi Angel namun masih tidak bisa membangunkan Angel. Raut wajah Angel sangat ketakutan bahkan air matanya mengalir.
"El... El. .. ELSA!"
Elsa terbangun dan langsung memeluk Devan dengan sangat erat.
"Sayang kamu kenapa? kamu mimpi buruk?" ucap Devan lembut sembari mengelus punggung Angel.
"Aku takut."
"Ada aku, tidak ada yang perlu di takut kan." Devan melepas pelukan Angel lalu menghapus air matanya dengan lembut.
"Memangnya kamu mimpi apa?"
"Ada orang yang menusukku dan mendorong ku ke jurang, aku... merasa mimpi itu nyata sekali."
Devan menatap Angel dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. "itu bukan mimpi, El. Itu ingatanmu" ucap Devan dalam hati.
"Itu hanya mimpi, jangan di hiraukan. Aku sudah beli es krimnya, kamu tinggal pilih." ucap Devan mengalihkan pembicaraan. Angel masih terlihat takut dan wajahnya sangat pucat bahkan keringat dingin nya membasahi pelipisnya.
"Aku akan selalu menjaga mu. Kamu percaya padaku kan?"
Angel hanya mengangguk pelan. Kecupan hangat mendarat di bibir Angel.
"Sudah lupakan mimpi itu, sekarang ayo makan es krim."
Sekali gerakan kini tubuh Angel berada di kedua tangannya Devan. Tubuh tegap ini seakan tidak merasakan beratnya tubuh Angel.
"Apa tubuhku seperti kapas bagimu?"
Tanya Angel yang pastinya tahu bahwa tubuhnya tidak lah seringan itu.
"Mungkin."
....
Lusi yang akan membuat makan malam melihat Devan yang tengah memangku Angel namun Lusi merasa ada yang aneh pada Angel. Langkah kaki Lusi membuat Devan menoleh.
"Mama?"
"Loh, Elsa kenapa?" tanya Lusi langsung membuat Angel malu dan membenamkan wajahnya di dada Devan.
"Oh, biasa bocah habis mimpi buruk masih kebawa saja sampai dunia nyata." ejek Devan dan langsung mendapat pukulan gemes dari Angel.
"Ya ampun Elsa, mimpi itu hanya bunga tidur, jangan di pikiran." ucap Lusi sembari membelai lembut puncak kepala Elsa.
"Alyssa mana?"
"Tidur, habis mandi langsung tidur aja tuh anakmu."
"Mau bobo sama Alyssa." ucap Angel sambil mendongak ke arah Devan.
"Ngga jadi makan es krim?"
"Nanti saja."
"Oke."
Devan menuruti kemauan Angel, lagi pula dirinya juga merindukan Alyssa.
Sepanjang perjalanan menuju kamar Alyssa, Angel merasa aneh ketika para pelayan hanya menunduk saja saat Devan melangkah melewati mereka. Seolah-olah para pelayan ini berubah menjadi patung.
Para pelayan disini sudah menerima perintah dari Devan agar tidak memberitahukan tentang Yumna dan memperlakukan Angel layaknya Yumna intinya mereka harus melayani Angel sebaik mungkin tanpa kesalahan.
Devan yang sekarang bersama Angel adalah versi Devan yang ramah, sifat yang sering di tampilkan Devan pada bawahannya selalu dingin, formal, pembawaan selalu serius dan tidak bisa mentolerir kesalahan sedikit saja. Bila Devan merasa tidak cocok dengan salah satu bawahannya ia langsung mengantikan bahkan memecat orang tersebut karena itu para pelayan ini hanya bersuara saat di minta dan sebisa mungkin berkerja dengan sempurna.
"Apa mereka takut padamu?" tanya Angel yang langsung mendapat lirikan tak enak dari Devan.
"Cuma tanya."
Akhirnya mereka sampai di kamar Alyssa yang penuh akan nuansa pink. Terlihat bayi mungil yang sedang tertidur dengan di awasi dua orang baby sitter.
"Kalian boleh pergi dan tutup pintu nya!" suruh Devan. Kedua baby sitter ini menurut dan langsung pergi serta menutup pintu.
Devan menurunkan tubuh Angel dan Angel pun langsung meluapkan rasa sayangnya pada Alyssa. Kecupan hangat mendarat di pipi Alyssa membuatnya menggeliat dan terbangun.
"Sayang, mau nyusu yah?"
Angel langsung menyusui Alyssa, bayi mungil ini terlihat sangat senang. Devan yang melihat semuanya baik-baik saja memutuskan untuk keluar kamar, meninggalkan Angel bersama putri kecilnya.
..
Ruang tengah.
Devan tengah menceritakan ketakutannya soal ingatan Angel yang seakan mulai kembali. Terlihat jelas Devan tidak ingin Angel Mengingat kembali masa lalunya.
"Apa kamu sangat mencintainya?" tanya David. Devan tidak langsung menjawab pertanyaan itu.
"Apakah pantas? Istriku baru saja meninggal dan aku mencintai wanita lain?"Devan malah berbalik bertanya. Lusi mengerti apa yang putranya alami saat ini.
"Kamu ingin putrimu tumbuh dengan adanya seorang ibu? kamu tidak melihatnya dan apa kau tidak merasakannya? perbedaan pada dirimu saat bersama Elsa? Yumna akan senang jika putrinya mendapat kan kasih sayang seorang ibu dan Elsa seakan terhubung pada Alyssa. Orang tua Yumna sudah mengijinkan mu, sekarang terserah padamu." jelas David. Devan tertunduk dengan pikiran kacau. Pernikahan ke dua dan Devan takut Angel akan marah padanya suatu hari nanti jika mengetahui kebenaran yang telah ia sembunyikan.
"Pilihan ada di tanganmu, ini hidupmu dan kamu yang berhak memutuskannya." serah Lusi.
....
Sinar mentari menyusup melewati celah korden. Angel perlahan membuka kelopak matanya di barengi dengan rasa nyeri di perutnya terasa menusuk tajam membuat Angel mengeluh sakit.
"Aduh!"
Devan memasuki kamar dengan membawa susu hangat di tangannya. Devan terkejut melihat Angel yang meringkuk sembari memegangi perutnya.
Devan buru-buru menggambil obat pereda nyeri di laci lalu menghampiri Angel.
"El?"
Angel mendongak menatap Devan sembari tersenyum, dia tidak ingin Devan khawatir dengan kondisi dirinya.
"Minum obatnya, nanti sakitnya hilang." pinta Devan, Angel mengangguk.
15 menit berlalu, rasa sakit di perut Angel mulai menghilang. Angel bersandar di dada Devan sembari memandang keluar jendela.
"Masih sakit?"
"Sudah mendingan."
"Syukurlah, nanti siang kita pergi yah?"
"Kemana?"
"Rahasia."
Angel mendongak, menatap Devan dengan melihatkan kerutan di keningnya.
"Nanti juga kamu tahu, mandi sanah. kita sarapan di bawah dan susu di meja harus kamu minum!"
"Iya"
Cup. .
Kecupan hangat mendarat di bibir Angel dan sedetik itupun tubuh Angel kini berada di kedua tangan Devan. Devan mengantar Angel ke kamar mandi.
....
Angel menuruni anak tangga, pandangan matanya tertuju pada Devan yang tengah menatapnya dengan senyum yang teramat manis. Devan sangat senang baju yang ia beli sangat cocok di pakai Angel.
Namun saat Angel tepat berada di depannya, senyuman itu berubah jadi kerutan di dahinya.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?" tanya Devan heran karena Angel menatapnya aneh.
"Ini beneran kamu? kok beda?"
"Maksudnya?"
"Kemarin cuma pakai kaos polos kek tukang sate, sekarang pakai jas lengkap. Pangling." ucap Angel dengan polosnya dan membuat Devan kesal.
"Apa kamu bilang? tukang sate? seganteng ini tukang sate? apa kamu sedang demam!?" kesal Devan namun Angel hanya menatap Devan dengan tatapan polos dan sesekali mengedipkan kelopak matanya.
"Kamu tambah ganteng, I love you my husband." ucap Angel sembari melihatkan senyum manisnya membuat Devan teringat akan Yumna.
"Eh?"
Angel terkejut saat Devan tiba-tiba memeluknya dengan erat. Devan memejamkan matanya, hatinya menangis saat teringat akan Yumna. Yumna selalu bisa membuatnya kesal dan bisa juga membuatnya merasa bahagia namun Devan selalu sadar yang berada di pelukannya ini adalah orang lain.
"Dan kamu anugrah terindah di hidupku. Elsa." bisik Devan lembut.
"Ayo makan." ucap Devan sembari melepaskan pelukannya.
"Alyssa mana? dia belum nyusu, ini sudah penuh. Mau nyusuin Alyssa dulu."
"Ya sudah. Nanti aku nyusul kamu."
"Iya."
Setelah Angel pergi, Devan menghubungi seseorang.
"Ingat jam 12 harus steril, aku tidak mau ada orang lain di toko mu itu, mengerti?"
Devan menutup sambungan telepon lalu menghela napas beratnya.
"Ini yang terbaik, aku akan menjagamu, Angel."
Rumah Deren.
Wajah Sena sangat pucat saat dirinya mendapat kado misterius yang isinya foto dirinya yang dicoret dengan tulisan "pembunuh" bahkan di kotak ini pun terdapat pisau yang mirip sekali dengan pisau yang dia pakai untuk memb*nuh Angel.
"Engg...ngga mungkin ada orang yang melihatnya. Aku sudah melenyapkan semua buktinya bahkan polisi pun tidak bisa melacak ku, Papa?"
Sena segera menelepon Deren yang tengah berada di kantor. Sena sendirian di rumah ini, Deren lah yang meminta Sena untuk tinggal bersamanya untuk sementara waktu sebab Deren menerima ancaman dari seorang yang mengetahui putrinya lah penyebab kematian Angel.
"Hallo pa" Sena langsung memanggil Deren saat sudah terhubung namun telinganya mendengar suara yang bukan milik Deren.
"Sena"
"Ka...ka...kamu?" Sena terlihat sangat ketakutan, suara itu milik Angel dan Angel sudah meninggal tidak mungkin dirinya mendengar suara orang yang sudah meninggal.
"Se..na. Apa kamu mengenal suara ku?"
Suara di seberang sana terdengar berat dan penuh kesedihan.
"Ini Aku Angel.".
"Ngga....ngga mungkin! kamu sudah mati! aku yang membunuhmu!"
"Benarkah? lalu siapa yang ada di belakang mu?"
Sena membalikan badannya, dia melihat Angel yang tengah mengarahkan pisau ke perutnya.
"TIIDDAAKKK!" Sena tersentak kaget dari tidurnya. Keringat dingin kini membasahi pelipisnya dan napas nya terengah-engah.
"Sialan hanya mimpi, kapan orang itu menghilang dari hidupku!"
Tokk...tookkk
"Sena, Papa berangkat ke kantor. Jangan lupa minum obatmu!" ucap Deren dari balik pintu.
"Iya Pa."
Sena melihat ke arah ponsel di sebelahnya.
"Apa kau mencari ku?" Sena langsung meraih ponselnya. Sena hanya melihat sejenak lalu melemparkan ponselnya ke sembarang arah.
"Apa aku setidak penting itu untuk kalian? ibu dan anak sama saja! ck, harunya aku bunuh Kevin saja."
....
Rumah Devan.
Tatapan mata Devan terus melihat kearah Angel yang tengah membopong Alyssa di bawah sinar hangat matahari.
"Haruskah? kenapa tidak jadi adikku saja? aku ingin adik perempuan."
gumah Devan. Devan melangkahkan kakinya menghampiri Angel.
"Kamu belum berangkat?" tanya Angel saat melihat Devan yang mendekat kerahnya.
"Nanti, aku punya sesuatu untukmu?" ucapnya sembari merogoh saku depan celananya. Angel hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan oleh Devan.
"Untukmu, ini pengganti kalung yang kemarin aku berikan kepadamu." Devan melihatkan gelang serut yang mempunyai hiasan kupu-kupu kecil di atasnya.
"Eh? buat apa? aku hanya tidak ingin kalung itu hilang saja, bukan aku tidak menyukainya." Angel jadi tidak enak sendiri di buatnya. Devan terkekeh kecil dibuatnya.
"Karena itu aku beli yang murah, biar kalau hilang ya hilang saja tidak usah dicari".
"Secantik itu? kamu jangan bercanda?"
"Bawel, ini seribu dapat tiga." ucap Devan asal sembari memakaikan di pergelangan tangan kiri Angel.
"Sudah, cantik. Apa putri kecil kita dari tadi tidur?" ucap Devan menatap Alyssa yang tengah larut dalam mimpinya.
"Namanya juga bayi, nanti saat melihatnya bisa berjalan dengan kaki mungil nya kita kan merasa waktu cepat berlalu.
"Seenggaknya itu akan 12 bulan lagi. Mau nambah lagi?"
"Huh?"
"biar ngurusnya sekali." ucap Devan sembari menaik turunkan alisnya dan di balas tatapan tidak enak dari Angel.
"Cuma bercanda. Aku sayang kamu."
Angel hany berdehem membuat dagu Devan mengkerut.
"Balas kek, bilang apa gitu?" ucap Devan dengan nada suara yang di buat-buat, membuat Angel tersenyum tipis dan langsung mendaratkan kecupan di pipi Devan.
Perlakukan Angel berhasil membuat kedua pipi Devan memanas dan salah tingkah.
"Ehmm sudah siang, aku berangkat."
Ucap Devan menyembunyikan ke saltingannya.
"Iya."
Baru beberapa langkah Devan berhenti, berbalik arah menuju Angel lagi.
"Kenapa?"
"Ada yang ketinggalan."
"Apa?"
Devan tidak menjawab namun ia langsung mengecup bibir mungil Angel.
cup.
"Sudah." seperti anak kecil Devan mengatakan itu, ia pun kini berjalan cepat memasuki rumah. Angel hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Tuh papa kau lucu banget."
.....***....