Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 56 Kembalinya Rey



"....ini juga rumah kalian"


Mendengar permintaan itu Jihan langsung menatap Angel. Jihan akan menuruti kemauan Angel walaupun dirinya harus berpisah dari Erik. Angel merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya dan tidak mungkin juga para orang dewasa ini jujur kepadanya.


"Ummm Nek, kita pasti ke sana kok. Memangnya kalian sekarang dimana?"


"Kita di Prancis, kamu kesini yah? nanti kamu kuliah disini. Kamu mau kan atau jangan-jangan kamu malah ingin menikah?"


"Eh?"


Perkataan Neneknya ini membuat kedua pipi Angel menggembung. Jihan tahu ibunya ini masih sangat ingat kejadian yang lalu saat dirinya meminta ijin menikah setelah lulus SMA dan kejadian yang tidak bisa ia lupakan.


"Ih Nenek!"


"Nenek cuma bercanda, kamu mau kan?"


"Kenapa kalian tinggal di Prancis?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Angel membuat suasana menjadi berubah, baik itu Jihan dan orang yang ada dilayar ponselnya. Angel tahu mereka tidak ingin membicarakan hal ini.


"Kenapa kalian tidak tinggal di Belanda saja kan aku bisa lihat bunga tulip, apa di Prancis ada?"


"Itu bisa diatur sayang, Nenek akan membahagiakanmu dan disini kamu juga punya saudara, pasti mereka akan senang bertemu denganmu"


"Iya tapi tidak dalam waktu dekat, El mau nenek sehat dulu baru aku ke sana"


"Loh kenapa? nenek sehat kok"


"Ayo lah Nek! aku ingin bermain dengan nenek, nenek tidak bisa membohongiku! lagian nenek terlihat sangat pucat"


"Iya cantik, kamu ternyata lebih bawel dari ibumu"


"Nenek salah, ibu itu bawelnya tidak tertandingi kalau ibu marah bisa pidato 24 jam non-stop"


"Apa kamu bilang?"


"Aaawww"


Jihan langsung menjewer telinga Angel membuat orang dilayar ponsel tertawa dengan lepasnya. Mendengar suara tawa itu Jihan melepas jeweran ditelinga Angel. Jihan merasa lega saat wanita yang melahirkannya tertawa bahagia.


"Sakit ma!"


"Angel, sudah dulu yah, nenek kamu ada janji bertemu dengan dokter" ucap Ferdy menyela dan membuat Angel kecewa bahkan istrinya pun nampak tidak ingin mengakhiri pembicaraan ini.


"Aku masih ingin berbicara dengan cucuku"


"Nek, nanti kan bisa disambung lagi. Nenek harus sehat terus"


"Iya sayang"


Setelah menutup sambungan telepon. Angel langsung menatap Jihan dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.


"Bu, apa yang tidak El tahu?"


"Sebaiknya kamu tidak usah mengetahuinya, itu lebih baik untuk mu"


Jihan langsung pergi meninggalkan Angel. Angel merasa orang-orang dewasa ini sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dirinya ketahui. Sebenarnya Angel ingin bertanya kenapa baru sekarang kakek dan neneknya menghubungi dirinya setelah dua puluh tahun berlalu lalu kenapa keluarganya tinggal jauh dari mereka.


"Apa ibu tidak mendapatkan restu dari kakek?" entah kenapa pikiran aneh muncul dikepalanya, perbedaan mencolok sungguh sangat dirasa Angel terlebih melihat Ferdy kakeknya yang terlihat sangat mapan dan juga neneknya yang terlihat sangat sedih dan saat melihat Jihan, dia nampak kembali hidup.


"El! jangan menambah beban pikiranmu, pikirkan saja masalah mu sendiri"


....


Arfan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju warung makan Bu Jihan berharap Angel berada di sana.


"El kenapa kamu pergi tanpa pamit kepadaku! kamu tidak tahu betapa aku mengkhawatirkan mu"


Rasa di dadanya ini terlalu sakit hingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Arfan tidak masalah kalau Angel menolaknya tapi untuk pergi jauh darinya itu membuatnya tersiksa. Hanya melihat senyum Angel membuat Arfan bahagia tapi sekarang, mendengar suaranya saja dirinya tidak bisa.


"Ck! kenapa macet sih!" Arfan terus saja membunyikan klakson mobilnya, Arfan tidak perduli dengan orang-orang disekitarnya yang mungkin merasa terganggu.


.


Arfan langsung keluar dari mobil menuju warung yang masih tutup atau memang sudah tutup, bahkan tanda yang menandakan buka atau tidaknya sudah tidak ada. Arfan mengintip kedalam, tirai tipis yang menutupi kaca hanya menyisakan sedikit celah sempit untuk Arfan mengintip dan tidak ada orang didalam. Serasa hilang sudah harapan yang Arfan punya, tubuhnya seketika lemas.


Arfan duduk diemperan warung sembari melihat layar ponselnya yang terpasang potret ayu Angel yang tengah membopong Kevin. Hanya ini yang mengobati sedikit rasa rindu di hati Arfan.


"Kamu dimana? aku merindukanmu"


Jihan terkejut melihat seorang pemuda yang duduk di emperan warungnya. Orang itu menunduk jadi Jihan tidak bisa melihat wajahnya.


"Maaf kamu siapa?"


Mendengar suara itu, Arfan langsung mendongak. Jihan tersenyum tipis kearahnya, serasa Jihan pernah bertemu dengan pemuda ini.


"Eh? warungnya tutup yah?"


"Ini baru mau buka, biasanya sih udah buka tapi ini telat"


"Oh, ummm Bu. Angel sudah pulang?"


"Angel? kamu kenal dengan putriku?"


"Saya temanya dan boleh saya bertemu dengannya, soalnya barang dia tertinggal ditempat saya"


"Dia tidak ikut ke warung, titip kan saja kepadaku"


"Saya ingin mengembalikan langsung kepadanya dan ada hal yang harus saya bicara kan dengannya"


"Ya sudah, kalau itu mau mu. Dari sini kamu lurus lalu belok kanan, rumah paling ujung"


"Terima kasih"


Arfan langsung bergegas menuju mobil. Jihan melihat kepergian Arfan dengan tatapan tak bisa diartikan.


.


Depan Rumah Angel


Angel tengah menggunting beberapa tangkai mawar untuk hiasan didalam kamarnya. Angel merasa ada yang hilang darinya dan membuatnya tak bersemangat. Angel menghela nafas panjang, ia merindukan Kevin.


Arfan langsung turun dari mobilnya saat melihat Angel yang tengah memetik bunga mawar.


"Angel"


Arfan berjalan menghampiri Angel yang tidak menyadari kedatangannya.


"Angel" panggil Arfan. Angel langsung menoleh kearah suara. Angel terlihat terkejut melihat kedatangan Arfan dirumahnya dan bagaimana bisa dia mengetahui alamat rumahnya.


"Arfan?"


"El"


Arfan langsung menarik Angel ke dalam pelukannya. Angel hanya diam tidak membalas pelukan Arfan.


"Kenapa kamu pergi tanpa pamit, aku khawatir" bisik halus Arfan tepat ditelinga Angel. Arfan sangat merindukan Angel.


"Maaf"


Arfan melepas pelukannya lalu mencubit kedua pipi Angel dengan gemasnya. Rasa khawatir Arfan berkurang ia kira Rio akan membawa Angel pergi jauh dan menyembunyikannya karena Rio seakan tidak ingin melepas Angel.


"Kamu buat khawatir saja"


"Mama? dia marah yah?"


"Buat apa dia marah, kamu kan pulang ke rumah mu sendiri. Oh iya aku bawa baju kamu"


"Aku sudah bilang ke Papa kalau aku tidak akan membawanya"


"Tapi itu milik kamu, tenang saja sudah aku pilih kok jadi yang ngga kamu butuhkan ngga aku bawa"


"Makasih"


Arfan langsung ke arah mobilnya mengeluarkan koper yang berisi baju Angel. Angel tersenyum melihat Arfan yang sangat perhatian kepadanya.


"Nih, jaga dirimu baik-baik yah?"


Mendengar perkataan Arfan barusan entah kenapa ia merasa bahwa Arfan akan melupakannya.


"Kau tidak akan menemui ku lagi?"


"Kalau kamu mengijinkannya aku akan terus menemui mu, aku akan mendekatkan mu dengan Kevin.. Eh.. aku lupa sesuatu"


Arfan kembali ke mobil untuk mengambil hadiah kecil untuk Angel. Arfan kembali dengan menenteng paper bag berwarna pink.


"Buat kamu"


"Ini apa?"


Angel menerima pemberian Arfan lalu membukanya dan ternyata isinya kotak ponsel serta boneka beruang yang berukuran mungil.


"Ponsel dan boneka? Fan, ini tidak usah. Kamu sudah banyak membantuku"


"Kamu butuh ini, saat kamu kangen Kevin kamu telepon aku, ponselnya sudah ada nomerku dan Mama tapi jangan harap di ponsel itu ada nomer Rio" ucap Arfan dengan nada yang tak enak didengar membuat Angel terkekeh pelan.


"Aku harus kekantor, aku pamit"


"Iya"


Arfan berbalik melangkah meninggalkan Angel namun baru tiga langkah Arfan berbalik menatap Angel. Terlihat dari kedua mata Arfan bahwa Arfan tidak bisa meninggalkan Angel.


"El!"


Arfan berlari ke arah Angel langsung memeluk Angel dengan eratnya. Arfan merasa sangat berat berpisah dengan Angel, biasanya saat ia pulang kerja Angel tengah menonton TV diruang tengah namun sekarang, ia tidak bisa melihatnya lagi.


"Apa aku boleh mengecup keningmu?" tanya Arfan dengan sopan namun Angel terdiam.


"Anggap saja ini salam perpisahan" sambung Arfan lagi. Angel tahu cinta Arfan sangat besar kepadanya tapi dirinya tidak ingin menerima cinta itu. Angel tidak ingin Arfan terkena masalah karena dirinya juga tidak ingin Arfan dan Rio bermusuhan.


"Iya, aku memperbolehkannya"


"Terima kasih"


Arfan langsung melepas pelukannya lalu mengecup kening Angel agak lama. Arfan memejamkan matanya.


"Kamu pasti mendapat perempuan yang lebih baik dariku"


Mendengar perkataan Angel membuat Arfan tersenyum dalam hati. Arfan melepas kecupannya lalu menatap kedua mata Angel.


"Aku percaya itu tapi saat ini aku ingin menjagamu bisa kah kamu menganggap ku kakak mu? ayolah aku tahu kamu itu kakak ipar ku tapi kamu itu terlalu imut untuk jadi kakakku"


"Iya, kakak"


"Sudah siang aku harus pergi ke kantor, jaga dirimu"


"Iya, kamu juga harus jaga kesehatan"


"Oke, cantik"


Angel melambaikan tangannya kearah mobil Arfan, Arfan juga melambaikan tangannya kearah Angel. Mobil Arfan kini sudah hilang dari pandangan.


"Aku tidak membutuhkan ini, kalau aku terus berhubungan dengan mereka kapan aku akan melanjutkan hidupku. Maaf, Fan tapi ini lebih baik untukku"


.


Sudah tiga hari Angel tidak melihat atau pun mendengar kabar Kevin membuatnya sedih namun dirinya masih bertahan dan masih hidup. Angel menyakinkan dirinya bahwa Kevin baik-baik saja dan aman bersama Amanda.


Angel dan Jihan baru selesai belanja dan entah kenapa Jihan merasa ada sesuatu yang disembunyikan putrinya. Dari tadi Angel diam dan tidak seperti biasanya, apa dia tidak suka diajak ke pasar?.


"Sayang kamu sakit?"


"Engga kok Bu"


"Sebaiknya kamu pulang saja, ibu bisa mengurus ini sendiri"


"Tapi?"


"Sayang, ibu tidak ingin kamu sakit"


Jihan meraih semua kantung plastik ditangan Angel. Angel hanya mengangguk memuat Jihan tersenyum tipis lalu berjalan kearah warung. Angel mengerutkan keningnya saat mobil hitam berhenti didepannya.


Angel terkejut melihat Riko turun dari mobil dengan wajah yang terlihat sedih?. Riko tersenyum sekaligus lega bertemu dengan Angel.


"Papa?"


"El, aku ingin bicara denganmu, ikut denganku"


Angel mengikuti Riko menuju taman tak jauh dari warung. Angel merasa ada yang aneh dengan Riko, dari tadi dia memegang kertas.


Riko berhenti melangkah lalu berbalik kearah Angel. Angel melihat sorot mata kesedihan di mata Riko. Riko sendiri tidak tahu harus memulai dari mana, kenyataan ini membuatnya tersiksa dan tidak tahu harus apa yang jelas ia harus memberikan keadilan dan juga hak Angel sebagai menantunya.


"Pa, ada apa?"


"Maaf" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Riko membuat Angel merasa bingung.


"Pa?"


"Papa bicara apa sih? El ngga ngerti" ucap Angel berbohong. Angel tidak ingin berurusan lagi dengan Rio, sekarang Angel hanya ingin bahagia bersama kedua orang tuanya terlebih sekarang Angel kini mempunyai dua kakek yang sayang kepadanya.


"Kevin putramu?"


Angel langsung terkejut mendengarnya. Riko tahu tentang hal ini.


20 menit sebelumnya


Kantor/ ruang kerja Riko


Riko menghela nafas panjang, dirinya tengah menunggu temanya menelfon. Ia ingin secepatnya mengetahui hasil tes DNA yang membuatnya tidak tenang.


"Ini menyiksaku"


Tak berselang lama akhirnya temanya menelfon, Riko langsung mengangkat panggilan telepon. Riko langsung buru-buru keluar kantor menuju rumah sakit.


Rumah sakit


Riko langsung menanyakan hasil tes itu. Sebelumnya Riko juga menyerahkan sampel rambut Rio untuk memastikan lagi kebenaran yang ada.


"Hasilnya bagaimana?"


"Kamu baca sendiri"


Riko membuka amplop putih ini. Raut wajah Riko berubah, matanya memanas saat membaca hasilnya. Hasil tes ini menunjukan bahwa Kevin itu anak kandung Angel dan Rio.


"Ini tidak keliru kan?"


"Tidak, aku sendiri yang mengawasi. Sebenarnya apa yang terjadi jadi?"


"Kamu bisa merahasiakan ini?"


"Pasti"


"Terima kasih"


flash end.


Melihat Angel yang terdiam seperti ini menjawab pertanyaan Riko. Dari mata Angel terlihat jelas kerinduan yang mendalam.


"Dia putramu, kenapa kamu menyembunyikannya? Rio dan Sena mengancam mu?"


"Pa"


"Ceritakan semuanya, Papa akan mendukungmu. Papa meminta maaf atas perbuatan Rio kepadamu"


Angel semakin membisu, entah apa yang akan Riko pikiran tentang dirinya yang menjual dirinya dan anaknya hanya demi uang. Riko sudah tahu semuanya namun dirinya ingin mendengar sendiri dari mulut Angel.


"El, apa kamu tidak ingin tinggal bersama putramu dan mengakuinya sebagai anakmu? dia darah daging mu, sembilan bulan kamu bersamanya terus apa sekarang kamu tidak merindukannya?"


Perkataan Riko barusan sangat menusuknya. Angel ingin membawa Kevin bersamanya, melihatnya tumbuh, mendengar panggilan dari mulut mungilnya dan menjadi tempat mengungkapkan keluh kesalnya. Angel berusaha untuk tidak menangis namun naluri keibuannya sangat kuat membuatnya terisak.


"Jangan menangis, yang harusnya menangis itu Rio bukan kamu! dia sudah sangat bodoh melepas mu begitu saja" ucap Riko sembari menyeka air mata Angel. Sejak mengenal Angel, Riko sudah menganggap Angel putrinya sebab dari dulu dirinya ingin memiliki seorang putri dan juga Angel dapat membuat suasana rumah jadi lebih hidup intinya Angel sangat berharga dalam keluarga Riko.


"Kamu mau cerita kan semuanya, biar Papa bisa membantumu"


Angel mengangguk. Mereka duduk di bangku taman. Angel mulai menceritakan awal kisah rahasia ini. Riko semakin kagum dengan Angel, seorang yang pemberani dan penuh dengan kasih sayang serta rela berkorban demi orang tuanya.


Riko mengepalkan kedua tangannya. Saat mendengar Sena membuat Angel keguguran dan sikap Rio yang prin plan. Riko tidak menyangka Rio menyembunyikan ini semua dan kecewa Rio tidak bisa mendidik istrinya walau ini demi membahagiakan Amanda tapi cara yang mereka gunakan salah. Angel menceritakan sejujur-jujurnya ke Riko yah walau tidak lengkap tapi ini tidak ada yang dilebih-lebihkan.


"..... aku yang setuju jadi ibu susu Kevin karena aku takut Kevin sakit lagi, setelah dia lahir Kevin sudah berjuang untuk hidup dan aku tidak ingin dia kembali merasa sakit. Papa pasti sekarang menganggap ku manusia rendahan, aku menjual diriku dan juga anakku"


Riko menyeka air matanya. tak sedikitpun pikiran negatif di kepalanya tentang Angel hanya rasa kagum dan entahlah ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Tidak, aku kagum padamu. aku pasti sangat bersyukur memiliki putri seperti dirimu. Ya sudah ayo pulang, aku pastikan kamu mendapat hak mu sebagai istri Rio"


"Tidak Pa, aku tidak ingin"


"Loh Kenapa?" Riko terkejut mendengarnya. Angel tidak ingin kembali ke rumah itu walaupun ia ingin. Apa gunanya dirinya kembali ke rumah itu disaat suaminya sendiri tidak menginginkan kehadirannya.


"Rio tidak menginginkanku lagi"


"El, kamu tidak usah takut ada Papa. Papa pastikan kamu mendapatkan semua hak yang jadi milikmu"


"Pa, aku sudah menikah dengan Rio lebih dari setahun dan itu tidak membuat kesan sedikitpun di hidup Rio dan aku juga tidak mau membuat Mama sedih. Biarlah semua seperti ini, aku ikhlas lagi pula ini terjadi karena keputusanku"


Riko penasaran hati Angel terbuat dari apa, dikondisi seperti ini dirinya masih memikirkan kebahagiaan orang lain.


"El, mama lebih baik mengetahui ini semua"


"Tapi bagaimana dengan keluargaku? mereka pasti akan marah kepada ku, aku berbohong kepada mereka dan aku menikah tanpa restu dari mereka. Biar semua ini tetap jadi rahasia" pinta Angel dengan nada memohon. Riko yang tidak tega melihat Angel seperti ini menuruti saja kemauan Angel namun dirinya tetap akan berusaha untuk membuat Angel kembali kerumahnya.


"Terserah kamu saja, Papa tidak ingin memaksamu. Kamu sudah banyak berkorban untuk keluargaku"


"Terima kasih, Pa"


"Bukan kamu yang berterima makasih tapi Papa yang sangat berterima kasih kepada mu. Kamu boleh minta apapun ke Papa, jangan anggap ini untuk menebus rasa sakitmu bahkan semua harta yang aku punya tidak akan cukup untuk membalas semua kebahagiaan yang kamu berikan kepada keluargaku. kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan untuk meminta kepadaku"


"El, cuma mau kalian menyayangi Kevin itu saja. Aku akan tenang bila Kevin bahagia"


"Pasti sayang, kamu bilang saja kalau kamu ingin bertemu dengan Kevin. Papa akan bawa Kevin menemui mu"


"Makasih Pa!"


Angel memeluk erat Riko. Riko sekarang sangat marah kepada Rio dan Sena namun dia tidak bisa meluapkannya karena ia takut baik Sena maupun Rio akan menyakiti Angel.


"Kamu sangat berarti di keluargaku, El. Semoga kamu akan hidup lebih bahagia lagi, Papa benar-benar sangat malu mempunyai anak dan menantu seperti mereka. Andai kamu putri kandungku, aku pasti sangat bahagia"


...


Warung Bu Jihan.


Angel tidak jadi pulang, ia memilih untuk tetap membantu Jihan. Angel masih teringat dengan perkataan Riko tadi dan ia juga tidak percaya Riko dapat melakukan ini semua hanya untuk memastikan orang tua kandung cucunya Bahkan Riko tidak perduli dengan image dan citra buruk yang akan didapat karena masalah ini.


"Bu, El lapar" ucap Angel langsung tanpa melihat siapa orang yang tengah bersama Jihan.


"Unyil"


Angel langsung mendongakkan kepalanya. Kedua matanya membulat melihat siapa yang kini tengah tersenyum kepadanya. Jihan tersenyum melihat wajah terkejut Angel yang melihat Rey. Rey sendiri tidak memberitahukan terlebih dahulu, Rey ingin memberikan kejutan untuk calon istrinya.


"Kamu?" ucap Angel sembari menunjuk wajah Rey. Rey mendengus kesal lalu menggigit pelan jari telunjuk Angel yang tengah menunjuk wajahnya.


"Ih kamu yah, nyebelin" kesal Angel dengan wajah kusutnya. Rey terkekeh pelan lalu mengacak-acak puncak kepala Angel dengan mesranya.


"Ehemm" deheman dari Jihan membuat kedua nya langsung menatap Jihan.


"Apa? katanya lapar, ambil saja sendiri"


Jihan memilih untuk ke dapur, dia tidak ingin mengganggu Angel dan Reyhan. Setelah kepergian Jihan atmosfer ini terasa sangat canggung.


Cup


"Eh?" Angel terkejut saat Rey dengan gerak cepat mengecup bibirnya. Angel merasa pipinya memanas.


"Kenapa jadi patung seperti itu? aku juga lapar"


"Iya, kamu mau makan pake lauk apa?"


"Terserah kamu cantik"


"Oke"


.


Rey terus saja memandangi wajah Angel membuat Angel merasa tidak nyaman dipandang seperti ini.


"Jangan melihatiku terus, ayo makan"


"Suapin"


"Iya"


"Eh? kamu mau menyuapiku?"


"Kamu kan yang memintanya"


Rey nampak senang, ia sangat merindukan Angel. Tidak ada hari tanpa memikirkan Angel, calon istrinya yang sangat ia cintai.


"Kamu tambah cantik saja, apa yang kamu lakukan selama ini hingga kamu tidak menghubungiku? apa ponselmu hilang lagi?"


Angel melihatkan deretan giginya membuat Rey menghela napas. Angel merasa tidak enak berbohong kepada Rey tapi dirinya belum siap menggatakan yang sebenarnya kepada Rey.


"Habis ini kita beli ponsel untukmu"


"Tidak usah aku sudah mempunyai nya"


"Ya sudah, kita main saja. Aku juga ingin menghabiskan waktu denganmu, aku sangat merindukanmu. Apa kamu masih mencintaiku atau kamu sudah ada yang lain?"


"Kamu bilang apa sih Rey, jangan bercanda ayo makan lagi"


"Aku mohon ja..."


Rey tidak dapat meneruskan perkataannya karena sentuhan lembut di bibirnya ini membekukan dirinya.


"Lip gloss kamu rasa stroberi yah?" tanya Rey dengan jahilnya. Angel mendengus kesal, Rey selalu membuatnya kesal.


"Nyebelin"


"Biarin yang penting aku ganteng"


"Terserah, kamu baru datang dan apa semuanya baik-baik saja"


"Iya, kamu tidak usah khawatir. Mama sama Papaku juga akan ke Jakarta, ada hal yang harus diurus disini"


"Apa?"


"Urusan bisnis, dan ada yang lain tapi aku tidak akan memberitahukan kepadamu"


Rey tersenyum misterius. Angel hanya bisa menggembungkan kedua pipinya. Rey dan kelurganya sudah menyiapkan kejutan yang sepesial untuk Angel dan ini akan mengubah hidupnya dan juga Angel.


...


Taman


Ditanam bunga yang indah ini Rey dan Angel berjalan beriringan menyusuri jalan setapak. Taman ini sangat sepi seakan milik mereka berdua. Semilir angin menambah kesan romantis serta penuh makna.


Rey tersenyum senang akhirnya bisa bertemu dengan Angel. Angel merasa hidupnya semakin rumit setelah kehadiran Rey. Tangan Rey menggaman erat tangan Angel, rasa rindu yang indah ini membuat nya semakin giat berkerja untuk masa depan nya bersama Angel juga untuk anak-anak nanti.


"Tangan kamu dingin, apa kamu sakit?" tanya Rey dengan penuh kecemasan. Angel tersenyum tipis lalu menggeleng pelan.


"Kamu tidak suka aku disini?"


Rey memberhentikan langkahnya membuat Angel juga berhenti melangkah. Angel menatap kedua mata Rey, entah kenapa Ange merasa sedih saat menatap kedua mata itu namun Angel tidak ingin rasa sedih ini membuat Rey tidak nyaman.


"Kamu bicara apa sih Rey, jangan ngaco deh"


"Jujur aku takut kehilanganmu, aku sangat mencintaimu bahkan aku selalu merindu mu"


Rey meraih kedua tangan Angel, diletakkannya telapak tangan Angel pada kedua pipinya. Rey menatap dalam kedua mata Angel. Mata yang selalu menarik perhatiannya.


"Sekarang kita bersama kan? jadi kita habiskan waktu bersama, jangan membuatku takut. Aku ingin Reyhanku yang dulu, Rey yang penuh dengan kejahilan dan keusilan bukan Rey yang mellow seperti ini"


Rey tersenyum tipis, ia langsung menarik Angel kedalam pelukannya. Angel membalas pelukan Rey. Angel dapat merasakan kesedihan yang dirasa Rey, Angel merasa bingung kenapa Rey seperti ini. Ini sangat menggangunya, Angel ingin Rey yang ia kenal.


"Sebenarnya kamu kenapa? jawab jujur"


"Aku takut kehilanganmu, kamu hidupku. Aku ingin menghabiskan waktu dengan mu, aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku walau apapun yang terjadi"


Dari setiap perkataan Rey seakan dia tahu apa yang telah terjadi kepadanya tapi kalau benar dari mana Rey tahu semua ini.


"Rey?"


"Aku pernah bermimpi kehilangan mu, didalam mimpi itu aku melihatmu bersanding dengan laki-laki lain, dia merebut mu dariku"


Angel merasa lega ternyata itu karena mimpi yang Rey alami saja. Angel merasa untuk tidak menyembunyikan ini lebih lama lagi terlebih ini bukan tentangnya saja, ini juga menyangkut masa depan Rey walupun nantinya Rey akan menjauhinya.


"Itu cuma mimpi, mimpi itu cuma bunga tidur... kamu menangis?"


Angel dapat mendengar isakan Rey. Sebegitu takutnya Rey kehilangan Angel. Rey sudah sangat lama mencintai Angel bahkan saat pertama kali bertemu dengan Angel hatinya langsung dicuri oleh Angel. Semua sikap jahil dan usilnya hanya bertujuan untuk membuat Angel kesal kepadanya dan semakin dekat dengan Angel. Angel melepas pelukan Rey dan Rey benar-benar menangis.


"Cowok kok menangis?" Dengan lembut Angel menyeka air mata Rey. Rey hanya ingin Angel menjadi istrinya untuk selamanya.


"Sekarang siapa yang cengeng?" sambung Angel lagi namun Rey tidak perduli, dirinya terus saja menatap wajah ayu Angel. Dengan jahil Angel menarik pipi Rey dan membuat Rey tersadar dari lamunannya.


"Udah cengeng suka bengong lagi Ntar kalau kamu ketempelan siapa yang akan menolong mu? kamu tahu sendiri aku takut hal seperti itu"


"Iya aku tahu tapi kamu masih mau jadi Istriku kan?"


"......"


*****