
".... jadi istriku?"
Angel melepas genggaman tangan Rey. Ia melangkah meninggalkan Rey membuat Rey merasa ada yang Angel sembunyikan. Rey mengikuti Angel dari belakang.
Angel merasa belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya, Angel belum siap menerima kebencian Rey serta pandangan negatif kepadanya.
Melihat Angel yang diam seperti ini membuat Rey resah terlebih saat kemarin dirinya kesini Angel juga seakan punya masalah yang tidak ingin dia bagi kepadanya.
"El?"
Angel duduk di bangku taman. Rey juga duduk di samping Angel. Rey menoleh ke Angel yang terlihat sangat sedih.
"Kamu kenapa? ayo ungkapkan semua kepadaku, jangan seperti ini. Aku jadi khawatir"
"Aku harus mulai darimana aku bingung dan aku takut kamu akan membenciku"
Mendengar perkataan Angel, Rey semakin merasa bingung sekaligus cemas. Rey meraih tangan kiri Angel lalu menggenggam erat tangan Angel seakan memberi kekuatan.
"Rey, aku sudah menikah"
"Apa? El kamu jangan bercanda deh"
Angel menggeleng pelan. Rey masih tidak percaya dengan pengakuan Angel barusan. Menikah? Jihan bahkan tidak mengatakan apapun saat di warung tadi, dia malah seakan menyuruh Rey untuk secepatnya menikah dengan Angel.
"Maaf, Rey. Aku menyembunyikan ini darimu"
"Nggak! aku ngga percaya, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kamu sebaiknya tidak perlu tahu dan" Angel menggantungkan ucapannya, dia menoleh menatap Rey dengan mata yang berkaca-kaca. "Lupakan aku, menikahlah dengan perempuan lain" sambung Angel lagi. Rey langsung menggeleng, dihatinya hanya ada Angel dan tidak mungkin menggantikannya dengan orang lain, kalau pun bisa itu butuh waktu yang sangat lama.
"Ceritakan semuanya! jangan ada yang kamu sembunyikan, jangan menyakitiku seperti ini. Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri, aku setia kepada mu walau aku jauh darimu aku tidak sekalipun menghabiskan waktu dengan perempuan lain. Aku mohon jujurlah kepadaku"
Rey sangat meminta penjelasan dari Angel terlebih Angel terlihat sangat mencintainya. Ia merasa Angel masih sama seperti dulu kalau pun Angel sudah menikah kenapa Jihan tidak tahu dan dimana suaminya.
"Baiklah kalau itu mau mu. Dulu waktu Ayah harus dioperasi, aku bingung cara mendapatkan uang sebanyak itu dengan waktu 24 jam dan saat itu ada wanita yang menawarkan perjanjian kepadaku, dia mau membayar semua biaya rumah sakit asal aku mau menikah dengan suaminya dan melahirkan anak untuk mereka. Aku sangat mengkhawatirkan Ayah, kalau Ayah tiada siapa yang akan menjaga ku dan ibu. Aku terpaksa menerimanya"
Mendengar cerita Angel perasaan Rey jadi campur aduk. Rey merasa beban dipundak Angel sangat lah berat dan andai dirinya jadi Angel pasti dirinya tidak akan sanggup menghadapi ini semua. Betapa tersiksanya menikah dengan orang yang ia tidak cintai Bahkan tidak ia kenal sebelumnya. Rasa takut tentunya ada saat serumah dengan pria yang belum tentu baik dan menerimanya. Juga rasa takut kalau mereka tidak membayar biaya rumah sakit yang dijanjikan. Rey merasa kagum dengan pengorbanan yang Angel lakukan. Rey semakin ingin bersama Angel walau pun dia tahu Angel tidak jujur kepadanya tapi ini juga bukan salah Angel. Sebelum dirinya kembali, Angel sudah menikah dengan laki-laki itu dan dirinya tanpa bertanya terlebih dahulu langsung melamar Angel.
"Lalu?"
"Aku hamil tapi keguguran, kamu ingat lelaki yang kasar padaku?"
Rey tentu saja masih ingat, dia sangat marah saat mengingat perlakuan kasarnya.
"Apa dia suamimu?"
"Iya, waktu itu istrinya menyuruhku pergi dan dia bilang perjanjian berakhir tapi kenyataannya , aku masih terikat perjanjian itu. aku kembali lagi dan sebulan lalu aku melahirkan bayi laki-laki yang sangat lucu. Kelahirannya membuat perjanjian ini berakhir dan aku juga sudah diceraikannya. Pasti sekarang kamu membenci ku"
Bayi? Rey tersenyum saat mendengar itu. Sekarang dirinya tidak khawatir, pilihan hatinya sangatlah tepat. Angel sudah pernah menikah dan mengurus bayi jadi pastinya Angel bisa merawat dirinya dan anak yang akan hadir diantara dirinya dan Angel.
Angel menggigit bibir bawahnya sebab Rey diam seperti ini. Harusnya dia jujur dari awal mungkin tidak akan sesakit ini. "Kenapa semua terjadi bersamaan seperti ini? masalah dengan Rio dan Arfan belum selesai dan sekarang Rey, entah apa yang akan terjadi setelah ini" pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenak Angel. Rasa takut kini kembali lagi dihatinya, rasa takut saat kedua orang tua dan juga orang-orang yang menyayanginya selama ini mengetahui ini semua, Angel takut mereka semua akan berpaling darinya dan meninggalkannya. Entah kenapa Angel merasa dirinya sangat hina.
Terdengar helaan napas panjang dari Rey. Angel tahu Rey pasti sangat kecewa kepadanya terlebih Rey sangat berharap dirinya menjadi istrinya.
"Maaf" hanya itu yang mampu Angel ucapkan, Walaupun dia tahu permintaan maaf bukanlah pemecahan masalah dan luka di hati tidak akan pernah bisa sembuh hanya dengan kata maaf.
"Jadi kamu tidak terikat lagi dengan laki-laki kasar itu?"
"Semua sudah berakhir dan aku tidak ingin melihat ataupun mendengar namanya"
"Kamu mencintainya?"
Mendengar pertanyaan Rey membuat Angel mengigat rasa sakit akibat mencintai suami yang tidak pernah ia miliki.
"Tidak" Dengan nada lantang Angel mengatakan itu. Rasa sakit yang masih membekas ini tidak akan pernah bisa hilang sebelum Rio meminta maaf dengan tulus kepadanya.
"Kamu yakin? bukankah kalian sudah tinggal satu atap dan mempunyai seorang anak"
"Aku yakin. Kalau pun iya, aku lebih mencintai anakku tapi apa dayaku. Aku harus melupakannya, aku percaya dia kan tumbuh sehat dengan orang-orang yang mencintainya"
Angel terlihat sangat sedih. Ia masih terbayang senyum manis malaikat kecilnya. Rey tahu Angel sangat sedih dan dia tidak ingin Angel semakin sedih. Pertanyaan itu pemastian saja dan Rey sangat menghargai keputusan Angel walau Angel akan memutuskan hubungan dengan nya.
"Lalu keputusanmu? aku masih berharap"
"Rey, aku tidak pantas untukmu, ak--"
Ucapan Angel terhenti karena kecupan Rey dibibir nya. Rey melepas kecupannya lalu membelai pipi kanan Angel dengan lembutnya.
"Kamu tahu, aku sangat mencintaimu dan akan selamanya seperti itu. Aku janji akan jadi suami yang lebih baik dari nya dan juga Ayah yang akan mencintai anakmu nantinya dan kalau nantinya putra mu dengan laki-laki itu kembali kepadamu, aku akan menyayanginya seperti anakku" ucap Rey dengan halusnya dan penuh keseriusan membuat hati Angel bergetar. Sosok pemuda didepannya ini sungguh sangat sempurna.
"Aku tidak perduli tentang itu semua yang jelas dia telah menceraikan mu berarti kamu boleh menikah dengan orang lain dan itu aku. Lagi pula kamu berhak bahagia dan aku tidak akan pernah meninggalkan mu"
"Tapi orang tuamu pasti tidak akan setuju dengan ini"
"Orang tuamu juga tidak tahu akan hal ini kan?"
Angel menggeleng pelan. Memikirkannya saja sudah membuat takut apalagi mengatakan langsung dan melihat kekecewaan mereka, Angel belum siap akan itu semua.
"Kamu mau menikah denganku?"
"Rey"
"Aku ingin kamu menjawabnya, iya atau tidak?"
"Tapi orang tua kita?"
"Biarkan saja mereka tidak tahu tentang masalah ini"
"Tapi?"
"Yang menjalani pernikahan ini itu kita bukan mereka. Aku menerimamu dengan semua beban mu, aku ingin kamu membaginya denganku. Aku tidak perduli dengan semua itu,El! karena aku ingin menjagamu disisa hidupku ini. Kamu jangan menganggap dirimu itu rendah, kamu itu seorang yang sempurna dan aku ini hanya seorang yang mencintaimu tanpa ada sedikitpun niat untuk membuatmu terluka"
Angel hanya terdiam. Ia tidak ingin pernikahan nya seperti kemarin dan terluka seperti kemarin. Rey merasa Angel tidak ingin bersamanya dan dirinya tidak mau memojokkan Angel turus jadi Rey terpaksa mengatakan hal yang dirinya sendiri tidak suka.
"Aku tidak ingin membuatmu semakin terbebani, El jadi.... kalau kamu tidak ingin menikah denganku.. ya sudah. Aku tidak akan memaksamu, maaf membuat mu tidak nyaman"
Angel semakin merasa tidak enak. Mungkin ini cara Tuhan untuk menghapus luka hati Angel lewat Rey dan tanda agar Angel bangkit dari keterpurukannya selama ini.
"Kamu menerimaku yang sudah pernah melahirkan ini? kamu menerimaku yang sudah disentuh laki-laki lain? apa kamu sudi hidup dengan ku yang seorang janda?"
Pertanyaan itu juga untuk meyakinkan perasaan Angel juga. Angel juga ingin Rey memikirkan lagi keputusannya. Angel tidak ingin nantinya Rey mengubah keputusannya saat hari pernikahan ataupun saat menjalani kehidupan berumah tangga dan menjadi alat untuk melukai hatinya. Angel tidak ingin semua itu.
"Aku menerimamu dengan yakin tapi kamu?"
"Iya, aku menerimamu"
"Gitu kek dari tadi! kamu membuatku cemas"
Angel tersenyum tipis. Rey merasa lega walaupun tadi sungguh membuatnya serasa tidak bisa bernapas.
"Pantas saja tuh pipi udah kek ikan buntal, ternyata kamu habis melahirkan"
"Reeeyyyyy" keluh Angel membuat Reyhan tergelak tawa. Angel mendengus kesal dengan kejahilan Rey yang bisa saja membuatnya kesal.
"Punggung ku pegal" keluh Rey yang langsung berbaring di bangku taman dan kepalanya berada di pangkuan Angel.
"Kamu ini"
"Apa? aku hanya ingin melihat wajahmu dari dekat"
Rey tersenyum dengan manisnya sembari memandang wajah Angel yang bertambah aura kecantikannya. Angel tidak keberatan dengan perlakuan Rey ini. Angel sangat berterima kasih karena Rey mau menerimanya yang sudah pernah melahirkan anak. Kalau tidak ada Rey mungkin sekarang Angel tengah larut akan kecemasan dan kesedihan yang mendalam.
"Yang mirip ikan buntal?"
"Kamu cantik bahkan lebih dari itu, kamu sangat sempurna di mataku. Dari dulu hingga sekarang kamu yang selalu mampu membuat jantungku berdegup kencang"
"Jangan terus berbohong ntar hidungmu panjang kek Pinokio" ucap Angel sembari menarik pelan hidung Rey.
"Ngga apa-apa jadi Pinokio asal Pinokio ini jadi milikmu"
"Iya nanti aku bungkus pake kardus atau pakek koran yah?"
"Ngga sekalian nanti kirimnya pake mobil box?"
Kesal Rey yang lalu memejamkan kedua matanya. Perjalanan tadi sangat melelahkan terlebih dirinya menyetir sendiri dari bandara kesini dan sebelumnya ia lembur juga kurang tidur.
"Dih, kok ngambek? lucu deh"
Angel membelai lembut rambut kepala Rey dan juga wajahnya. Sentuhan itu membuat Rey terlelap dalam mimpinya bahkan Angel terkejut mendengar suara dengkuran halus dari Rey.
Angel menggelengkan kepalanya pelan, dia heran kenapa Rey bisa tidur ditempat seperti ini atau memang dia sangat kecapekan. Angel tersenyum melihat wajah Rey yang masih sama seperti pertama ia bertemu, sifat dan perlakuannya kepada Angel masih sama tidak ada yang berubah dari Rey hanya kedewasaan Rey yang semakin bertambah walau masih menyebalkan.
"Kamu pasti kecapekan, maaf aku tidak sempurna untukmu dan aku sangat berterima kasih kepada mu karena kamu mau menerimaku dengan semua kekurangan ku serta beban ku. Aku sangat bersyukur memiliki pangeran sepertimu, aku mohon hapus luka di hatiku ini. Luka yang membuatku merasa mati dalam kehidupanku ini, aku masih bernapas tapi aku merasa hidupku ini sudah tidak ada artinya lagi"
Angel mengunakan kedua punggung tangannya untuk menghalau sinar matahari mengenai wajah Rey agar tidurnya tidak terganggu.
....
Rumah Amanda/Riko
Amanda tengah melamun di kamar yang pernah Angel tempati. Melupakan orang yang setiap hari menemaninya itu sangat sulit terlebih orang itu yang mampu membuatnya bahagia. Riko menghampiri Amanda dengan perasaan yang campur aduk terlebih dirinya harus menyimpan rahasia ini demi Angel walau dari lubuk hatinya tidak membenarkan perbuatannya ini.
"Ma, papa ingin mengatakan sesuatu"
"Katakan saja"
"Kevin itu benar anak kandung Sena dan Rio"
Amanda menoleh kearah Riko. Amanda menatap kecewa kepada Riko yang tidak bilang soal ini, padahal dirinya sudah memutuskan untuk tidak melakukan tes DNA kepada Kevin.
"Kamu melakukannya dan kamu tidak memberitahukan kepada ku?"
"Oh, terserah kamu saja. Aku percaya kamu itu kepada keluarga yang baik, ada lagi yang kamu sembunyikan dariku?"
"Tidak ada. Aku bertemu dengan Angel dan dia sangat bahagia bersama keluarga nya jadi kamu tidak perlu sedih seperti itu" setelah berucap Riko langsung melangkah pergi dan ternyata ada Arfan yang menguping pembicaraan mereka dari luar ruangan.
"Tidak perlu sedih? aku kehilangan orang yang sudah aku anggap putriku sendiri mana mungkin aku tidak sedih, dia sudah jadi bagian dari hidupku"
.
"Arfan?" Riko terkejut melihat Arfan yang menatap penuh kecurigaannya kepadanya. Riko menduga Arfan mendengar percakapannya dengan Amanda.
"Kamu sedang apa disini?"
"Papa ragu Kevin itu anaknya Sena, tapi apa itu benar anaknya Sena atau ada sesuatu"
"Kamu tahu sesuatu, Fan? cerita semua yang kamu tahu"
Riko merasa Arfan mengetahui sesuatu dan apa mungkin Arfan tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara Angel dan Rio. Arfan ingin memberitahukan semuanya tapi apa Riko akan percaya kepadanya yang hanyalah anak adopsi dan mungkin saja setelah mengatakan semuanya apa ada keadilan untuk Angel serta kemungkinan sulit yang harus dipilih Anatar keluarga dan Angel. Yang jelas Arfan tidak akan pernah bisa memilih satu diantara kedua itu, semuanya sangat berarti untuk Arfan.
"Aku tidak tahu, aku hanya meragukan hal yang belum pasti. Aku permisi,Pa"
Arfan melangkah menjauh dari Riko. Dengan sikap Arfan yang seperti ini membuat Riko tahu Arfan tidak ingin mengatakan hal yang ia tahu selama ini dan entah kenapa Riko merasa kesal kepada dirinya sendiri karena tidak bisa memahami situasi yang ada sejak dulu.
"Apa semua ini hanya untuk istriku? kenapa anak-anak itu harus mengorbankan kebahagiaan mereka sendiri, sedangkan aku? aku tidak berguna, bahkan untuk mengatakan kebenaran saja aku tidak bisa"
Kamar Rio/Sena
Rio tengah memberi Kevin susu formula yang terbuat dari sari pati kedelai yang aman untuk putra kecilnya. Rio tahu susu ini hanya membuat Kevin kenyang tapi soal nutrisi mungkin kurang. Setelah tidak menyusu dari Angel berat badan Kevin mulai berkurang bahan Kevin jadi sering merengek.
"Bisa suruh diam ngga itu anakmu? berisik tahu ngga" keluh Sena yang sudah sangat terganggu dengan suara tangisan Kevin. Rio melirik kearah Sena yang bersender di kepala kasur dengan bantal yang ia tumbuk agar kepalanya lebih tinggi dari badannya dan juga masker kecantikan diwajahnya ini.
"Kamu sudah berjanji akan menjaga Kevin kan?"
"Iya tapi saat kamu tidak di rumah tapi sekarang kamu di rumahkan?" Jawab Sena santai. Rio menatap kesal kearah Sena tapi mau bagaimana lagi Kevin bukan anaknya Sena dan lumrah kalau Sena acuh kepadanya.
"Kamu kan kaya mending sewa baby sitter saja, lagian aku bukan ibu anak itu"
"Tidak, kamu sudah janji atau kamu mau aku bawa Angel kembali ke rumah ini"
Sena menoleh kearah Rio dengan senyum piciknya. Sena seolah menantang Rio. Sena juga ragu Angel akan mau kembali ke rumah ini setelah perlakuan Rio kalau pun Angel mau kembali lagi pasti itu juga karena paksaan bukan kemauan Angel sendiri.
"Silakan saja kamu coba, aku yakin Angel tidak akan mau kembali lagi ke rumah ini setelah semua yang kamu lakukan kepadanya"
"Lihat saja nanti, Angel akan kembali ke rumah ini karena dia istriku!"
Mendengar itu Sena tertawa sinis. Istri? itu pengakuan yang sangat lucu setelah menceraikan Angel.
"Kamu punya otak ngga sih, Ri? kamu sudah menceraikannya, walau pun Angel mencintai mu nantinya dia juga akan menyerah dengan sikapmu itu"
"Dia akan kembali hari ini juga dan kalau itu terjadi kamu tidak boleh marah"
"Ck, terserah apa mau mu"
Sena sangat yakin Angel tidak akan mau kembali ke rumah ini. Angel memanglah ibunya yang sangat menyayangi Kevin tapi di mata yang lain Angel hanya seorang ibu susu tak lebih.
.....
11:30
Rey meninggalkan Angel sendirian ditepi jalan yang sepi karena ponselnya tertinggal di bangku taman.Rey sangat kesal karena kecerobohannya ini, untung saja Angel tidak marah malah Angel tertawa geli saat melihat wajah Rey yang kesal.
"Dasar kamu, Rey"
Angel mengerutkan keningnya saat mobil silver berhenti di depannya. Angel langsung mengepalkan tangannya saat melihat orang yang turun dari mobil silver ini.
"Ck" Angel berdecak kesal lalu melangkah namun orang ini menggenggam pergelangan tangannya.
"Kamu mau apa sih Ri!" Angel langsung menghentakan tangannya hingga genggaman tangan Rio terlepas. Orang yang mengendarai mobil silver itu adalah Rio. Angel sangat kesal kepada Rio yang seolah-olah ingin membuat dirinya tidak bisa melupakan dirinya.
"Ikut denganku!"
"Ngga, aku tidak mau ikut dengan mu melihat wajahmu saja aku tidak sudi!"
"Ck! jangan membantah ku!"
"Memangnya kamu siapa? kamu tidak berhak mengatur hidupku lagi!"
"Aku suamimu!"
"Kamu tidak punya kaca di rumah? kamu sudah menceraikan ku dan aku sudah tidak ingin bersamamu. Jadi jangan ganggu hidupku lagi, kamu mengerti itu!" ucap Angel dengan penuh penekanan tapi Rio tak akan pernah mengerti soal itu karena yang terpenting saat ini adalah Kevin yang sangat membutuhkan Angel.
"Tapi kamu tetap ibunya Kevin! Kevin butuh kamu!"
"Baru sekarang kamu menyadarinya? kemarin-kemarin kamu kemana saja? Aku tidak pernah bisa mengerti mu,Ri. Kamu sendiri yang memintaku untuk melupakan Kevin, aku sekarang berusaha tapi detik ini kamu mengingatkanku. Sebenarnya kamu mau apa dariku? kamu sudah mengambil semuanya dariku dan aku ingin hidup bahagia tanpa luka lagi"
"Bukan aku yang membutuhkanmu tapi Kevin. Jangan keras kepala! IKUT AKU SEKARANG!"
Bentakan itu semakin membuat Angel tidak ingin bertemu Kevin, di mata Rio dirinya hanyalah barang yang seenaknya dia permainkan. Dulu Rio telah membuang dirinya tapi sekarang dengan tidak tahu malu dia sekarang memungutnya lagi tanpa sedikitpun memahami luka yang telah diberikan kepada Angel.
"Aku tidak mau"
"Ck!"
.
Rey berdecak kesal melihat ponselnya yang tengah "duduk" manis menunggu dirinya.
"Kenapa harus ketinggalan sih? harusnya kamu itu jalan sendiri!" omel Rey ke ponselnya. Rey langsung mengambil ponselnya lalu bergegas kembali ke Angel pasti dia sudah sangat kesal kepadanya.
Dari kejauhan Rey melihat Angel tengah bersama seorang laki-laki dan entah kenapa perasaanya jadi tidak enak.
"El?"
Rey langsung berlari menuju Angel, dia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Angel. Rey melihat laki-laki itu menarik paksa Angel dan Angel sepertinya tidak mau ikut bersamanya.
Sesampainya didekat Angel. Rey berhenti berlari dan berjalan dengan biasa melangkah menghampiri laki-laki yang tengah kasar terhadap calon istrinya, tatapan Rey sangat murka.
"LEPAS! AKU TIDAK MAU IKUT DENGANMU!"
Angel terus saja memberontak membuat Rio semakin kuat mencengkram lengan Angel. Rio tidak perduli dengan Angel yang kesakitan.
Rey langsung mencengkram erat pergelangan tangan Rio yang mencengkram lengan Angel.
"Singkirkan tanganmu!"
Angel dan Rio langsung menoleh kebelakang. Angel bersyukur Rey ada disini, setidaknya ada yang membelanya dan melindunginya. Rio nampak tidak suka dengan kehadiran Rey.
"Tidak akan. Jangan ikut campur urusanku!" ucap Rio dengan penuh penekan.
"Aku calon suaminya dan aku berhak ikut campur karena kamu menyakitinya!"
Rio tersenyum miring mendengarnya. Orang ini tidak tahu kalau dirinya itu suami Angel.
"Ck! tidak usah belagu. Kamu tidak tahu aku ini siapa?"
"Mantan, kamu itu cuma mantan suaminya Angel dan kamu itu hanya masa lalu yang harus dilupakan!" ucap Rey dengan penuh penekanan lalu melepas cengkramannya dan tak berselang lama cengkraman Rio mulai melemah. Angel langsung melepaskan diri. Angel bersembunyi dibalik tubuh Rey.
"Ngga! Angel harus ikut denganku!"
Rio masih ngotot ingin membawa Angel pergi dan tentu saja Rey tidak akan mengijinkannya.
"Berhentilah keras kepala seperti ini! dia bukan istrimu lagi!"
"DIAM! kamu tidak tahu apa-apa dan seharusnya kamu itu malu merebut istriku!"
"Malu? aku tidak salah dengar, yang harusnya malu itu kamu! suami yang kasar sepertimu harusnya tiada di dunia ini, percuma kamu hidup hanya menyakiti hati istrimu sendiri"
Keduanya saling beradu tatapan sedangkan Angel, dia sangat ketakutan. Hati kecilnya ingin pergi untuk bertemu Kevin tapi sikap Rio yang seperti ini membuatnya berpikir dua kali.
"Pernikahan kalian hanya sebatas perjanjian semata dan itu sudah berakhir jadi kenapa kamu terus saja mengganggu dirinya? bahkan uang yang kamu berikan itu tidak dapat menggantikan luka di hati El! kamu lihat istrimu sendiri tidak ingin bertemu denganmu"
Rio melihat ke arah Angel yang bersembunyi dibalik tubuh Rey. Rey berdecak kesal, ingin rasanya dirinya menghajar orang didepannya ini namun pastinya Angel tidak akan membenarkan tindakan nya.
Angel tidak ingin Rio dan Rey bertengkar lebih lama lagi dan Angel tidak ingin Rio hilang akal dan melukai Rey.
"Rey, ayo pergi! tidak ada gunanya berbicara kepadanya" pinta Angel. Rey tahu Angel sudah tidak nyaman lagi disini jadi Rey memilih menuruti kemauan Angel.
"Ya sudah"
Rey dan Angel mulai melangkah meninggalkan Rio. Rey menggenggam erat tangan Angel. Rio tidak percaya Angel mengacuhkan dirinya dan juga tidak perduli kepada Kevin anaknya sendiri.
"Kamu mau pergi dengannya? kamu tidak perduli lagi dengan anakmu?"
Mendengar pertanyaan itu membuat langkah kaki Angel berhenti. Rey khawatir Angel akan terperdaya dengan ucapan suami kasar itu.
"El?"
Angel menoleh kearah Rio. Rio menunjukan senyum sinis nya. Angel semakin membenci Rio, dia seakan tidak ingin dirinya bernapas dengan bebas. Rio seakan telah menjadi bayangan hitam di hidupnya, bayangan yang seolah terus menghantuinya.
"Bukan aku tapi kamu yang tidak perduli dengan anak kita. Dulu aku memohon kepadamu untuk tidak memisahkan ku dari putraku tapi kamu tidak perduli, kamu bawa Kevin. Saat aku ingin jadi ibu susu Kevin, kamu menolak dan memintaku pergi dari rumahmu lalu kenapa sekarang kamu menyalahkan ku? lihat dirimu, Ri! aku atau kamu yang salah? sebagai seorang istri aku menuruti kemauan mu, aku menjauh dari putraku dan walaupun aku ikut denganmu apa kamu memberi hak ku sebagai istri dan ibu dari anakku? Tidak Ri, kamu lebih memilih keluarga mu dan aku juga memilih keluarga ku. Ini semua sudah berakhir"
Jelas Angel panjang lebar walau Angel ragu Rio akan mendengarkannya. Rey semakin mengerti luka yang Angel rasakan.
"Wah, sebegitu kejamnya kamu? kalau aku jadi dirimu aku tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang sayang kepadamu. Sudah cukup aku tidak akan pernah membiarkan mu menyakiti Angel lagi. Pergilah dari hidup istriku!"
Angel langsung menoleh ke arah Rey. Rey bilang Angel istrinya dan Rio semakin tidak bisa berkata apa-apa terlebih saat ini Rio mengingat mimpi buruk tentang Angel yang menikah dengan laki-laki yang wajahnya sama persis dengan orang yang kini di samping Angel.
"Kamu sendiri yang menyuruhnya pergi tapi kamu tidak akan bisa membawanya kembali"
*******