Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 68 SORYY



Saat sebelum menjenguk Angel.


Rumah Riko. Kamar Arfan.


Arfan melihat kearah jam dinding di kamarnya, tatapan nya sungguh tajam. Mendengar tentang Angel yang keguguran membuat Arfan sangat membenci Rio walaupun kebencian nya ini harus ia sembunyikan.


"Mau sampai kapan? Kamu begitu bodoh Angel! bukan cuma kamu tapi keluarga mu juga!" kesal Arfan yang langsung menghubungi seseorang.


"Jangan membuat kesalahan lagi, mengerti!" Arfan langsung menutup sambungan telepon tanpa membiarkan lawan bicaranya menjawab ucapannya.


"Hufff... ini membuatku kesal! mama udah siap belum sih? aku ingin cepat menemui Angel."


Arfan pun beranjak keluar kamar untuk mengecek kesiapan Amanda dan juga Kevin.


....


Riko terlihat sangat kesal, dirinya tengah berbicara dengan seorang lewat sambungan telepon.


"...Ingat! aku tidak menerima kegagalan, lakukan dengan benar!" ucap Riko dengan nada penuh penekanan.


"Pa?" panggil Amanda yang tiba-tiba datang dan membuat Riko terkejut dan langsung mematikan ponselnya. Amanda sendiri pulang untuk mengambil baju Angel dan juga mengajak Kevin menemui ibunya.


"Kenapa?"


"Kok kenapa? ayo ke rumah sakit, Arfan sudah menunggu diluar." ucap Amanda agak kesal. Riko menghela nafas lalu mengangguk pelan.


"Tadi bicara dengan siapa kok ada mama langsung dimatikan?"


"Bukan siapa-siapa dan yang jelas bukan selingkuhan Papa, Ayo berangkat!" ucap Riko yang langsung menggandeng tangan Amanda.


....


Rumah sakit/ kamar rawat Angel.


Angel merasa ada yang aneh pada tubuhnya namun dirinya tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Angel di temani Rio yang sedang asik mengetik di keyboard laptop nya sedangkan Kevin di bawa pulang agar tidak menggangu Angel.


"Ri?"


"Kenapa? kamu butuh apa?" ucap Rio tanpa melihat ke arah Angel.


"Ada yang kau sembunyikan dari ku?"


Pertanyaan dari Angel membuat Rio menghentikan aktivitas nya lalu menoleh kearah Angel. Angel menatap Rio dengan penuh arti.


"Tidak ada." ucap Rio dengan lembutnya dan juga senyum yang terukir manis di bibirnya namun tangan kiri Rio mengepal menyembunyikan rasa bersalah nya.


"Oh." ucap Angel singkat dan mulai memejamkan kelopak matanya.


"Maaf." lirih Rio. Sebagai seorang ibu Angel bisa merasakan rasa kesedihan di dalam hatinya dan itu juga yang ada di pikiran Rio. Menyembunyikan kebenaran ini harus dilakukan Rio agar kesehatan Angel tidak terganggu dan soal kehilangan, tidak ada kata-kata di dunia ini yang bisa menggambarkan betapa hancurnya hati ini.


Rio menghampiri Angel yang tengah tertidur. Di pandang nya lekat wajah Angel, perlahan tangan kanan Rio membelai lembut puncak kepala Angel.


"Tidur yang nyenyak yah sayang, mungkin kamu akan bertemu dengan mereka."


cup


Rio mengecup lembut kening Angel. Rio mengecupnya cukup lama berharap Angel dapat merasakannya di alam mimpi.


Tak lama pintu kamar dibuka melihatkan Arfan yang menenteng beberapa kantong plastik.


"Tuh orang tidur?"


"Iya."


"Belum makan?"


"Belum."


"Ck, kamu itu suaminya apa pajangan sih? di suruh makan kek! kerjaan terus yang kamu pentingkan." kesal Arfan membuat Rio agak kena di hati.


"Pajangan?" ucap Rio mengulang kata yang membuatnya kesal.


"Iya, Kak. Coba kamu pikiran apa yang telah kakak beri untuk Angel dan apa yang sudah Angel berikan sama padamu? apa belum cukup untukmu agar kamu melegalkan pernikahanmu dengan Angel?"


"Itu sudah di putuskan, saat Sena selesai dengan semua pekerjaan nya baru akan diadakan resepsi."


"Kenapa kamu odong sih kak? kan bisa urus dengan pengacara dan tidak perlu melulu di posts di publik. Pentinggan mana "Resepsi" atau "tercatatnya" pernikahanmu dengan Angel di mata hukum dan negara? apa kamu hanya mempermainkannya?" ucap Arfan dengan nada rendah agar Angel tidak mendengar. Arfan tahu Angel tidak benar-benar tertidur.


"Apa kamu bilang!" ucap Rio dengan nada beringas dan bersamaan dengan itu Angel menggeliat lalu membuka kelopak matanya.


"Ini ada apa?" tanya Angel langsung yang melihat adik dan kakak ini melihatkan tatapan tajam.


"Tidak ada, aku beliin bubur ayam buat kamu." ucap Arfan sembari mengangkat kantong plastik di tangannya. Mendengar itu wajah Angel langsung terlihat sumringah.


"Waahhh... emang jam segini masih buka?"


Rio melihat ekspresi Angel yang terlihat senang membuat dadanya sesak. Angel melihat kerah Rio yang nampak acuh.


"Mau makan sekarang?" tanya Arfan. Rio melangkah kembali ke sofa tanpa berucap apapun. Melihat Rio yang seperti itu membuat Angel sedih, mungkin Rio marah kepadanya.


"Nanti saja." ucap Angel dengan senyum padahal perutnya sudah sangat lapar.


"Oh ya sudah aku taruh satu di dekatmu." Arfan langsung mengambil satu bungkus dan di letakan di meja samping Angel. Rio masih tidak perduli dan masih diam saat Angel dan Arfan mulai mengobrol.


15 menit berlalu kini keheningan menyelimuti. Arfan sendiri sudah pulang lima menit yang lalu dan Angel merasa Rio mengabaikannya, bahkan ini waktunya dirinya minum obat namun Rio tidak mengingatkan nya mungkin dia lupa dan Angel pun memilih untuk mengambil obat itu sendiri, sebelumnya dirinya harus makan sesuatu agar lambungnya tidak lebih sakit, itu yang dikatakan Dokter.


Baru sedikit Angel menggerakkan tubuh nya ia langsung merasa sakit di perutnya. Ia pun mengurungkan niatnya dan memilih meminta bantuan Rio.


"Ri, aku mau makan."


"Kamu bisa sendiri kan?" ucap Rio dingin. Angel menggigit bibir bawanya dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini sudah biasa.


Dengan sekuat tenaga Angel berlahan mendudukkan tubuhnya. Keringat dingin mengalir deras di pelipis dan keningnya, entah apa yang tengah Angel hadapi sekarang. Perlahan tangan Angel meraih mangkok bubur, di suapnya satu sendok ke mulut nya.


"Aww." seketika itu mangkok yang ada di tangannya terlepas dan jatuh kelantai dan membuat Rio kesal karena suara dari mangkok yang jatuh.


"BERISIK!" bentak Rio yang tidak sadar Angel tengah kesakitan. "El?" Rio langsung menghampiri Angel. Angel terus mengeluh sembari memegangi perutnya.


"Sakit." air mata Angel mengalir begitu saja.


"Sayang? aku panggil Dokter, bertahan lah!"


...


Rumah Deren.


Sena memasuki rumah dengan wajah kusut. Deren yang melihat putrinya seperti itu hanya menatap heran.


"Kamu kenapa?"


"Ayo lah Pa, aku sudah menceritakannya di telepon!"


"Oh soal itu?" ucap Deren yang mengingat kembali ucapan Sena tentang Angel yang keguguran.


"Kok gitu sih!" kesal Sena yang langsung duduk menatap Deren kesal.


"Lalu harus bagaimana? Papa juga tidak bisa berbuat apa-apa." bela Deren sembari menutup koran yang selesai ia baca.


"Iya sih, tapi haaaaahhhh kenapa aku sulit sekali untuk hamil! kenapa tuhan pilih kasih? Angel sudah tiga tapi aku? haaahhh ini membuatku pusing!" Sena terlihat sangat frustasi.


"Sayang, walau pun seperti itu Tuhan mengambil dua janin dari Angel. Sayang kehilangan itu lebih pedih, nak. Kamu yang sabar. Oh iya, Papa ingat, kamu kan dikasih obat Herbal sama Mamanya Angel, apa itu berkerja?"


"Huh? ummm kata dokter sih sudah ada perubahan ya walau sedikit.".


"Syukurlah dari pada tidak sama sekali." Deren bersyukur masih ada orang yang perduli pada Sena dan tidak pernah terbayang bahwa orang itu adalah ibu yang melahirkan wanita kedua bagi Rio. Bahkan Deren pernah berpikir antara Sena dan Jihan akan ada permusuhan karena Sena lah yang menyebabkan semua kerumitan ini.


"Iya Sih, emm Pa?"


"Kenapa?"


"Sena mau tanya, boleh ngga?"


"Kamu ini ya boleh lah. Memangnya kamu mau bertanya apa hingga harus bertanya dulu?"


"Tapi Papa jangan marah. Janji?"


"Iya janji."


"Ummm... Papa tidak berniat untuk menikah pagi?" mendengar pertanyaan dari putrinya ini membuat Deren tersenyum tipis.


"Tidak."


"Kenapa? Sena tidak keberatan tapi Sena mau rikwes nanti Papa carinya yang baik seperti Ibu Jihan. Dia orang sangat baik Pa, dia pengertian dan dia perduli padaku bahkan di tidak sungkan membagi kasih sayang sebagai ibu." Sena merasa dadanya sesak selama ini dirinya tidak pernah merasa senyaman ini dan di perdulikan sampai seperti ini. Deren melihat kesedihan di mata putrinya dan dia pun tidak tahu harus berbuat apa.


"Apa kamu ingin Papa mencari wanita seperti itu agar dia bisa menjadi ibu yang sempurna untuk mu?"


"Tidak, kedua ibu ku sangat sempurna. Tidak ada yang mampu menggantikan mereka. Aku hanya ingin ada orang yang memperhatikan Papa agar Papa tidak sendirian."


"Kamu tahu di dunia ini hanya kamu kesayangan ku, kamu satu-satunya alasan Papa hidup di dunia ini. Papa hanya butuh dirimu, kamu segalanya untuk Papa dan kamu nyawa Papa, maaf Papa belum bisa membahagiakan mu."


"Papa jangan bercanda. Papa itu Papa yang terbaik di seluruh dunia!" Sena bangkit dari duduknya, berjalan kearah Deren dan langsung memeluknya dengan erat.


"Aku sayang Papa." bisik Sena.


"Papa juga sayang kamu."


...


Ruang rawat Angel.


Angel merasa lebih baik sekarang dan sebenarnya dirinya sedang menahan tawa karena Rio dengan blak-blakan mengatakan bahwa dirinya cemburu dengan Arfan dan tidak suka bila Angel lebih dekat dengan Arfan.


".......... Maaf aku tidak bermaksud menyakiti perasaan mu. Maaf kan aku?"


"Iya, jangan diulangi lagi."


"Tidak akan." Rio langsung mengecup kening Angel dengan lembutnya.


"Cepat sembuh yah, sayang."


Satu Minggu berlalu.


Angel tengah mengemil keripik kentang sembari menonton pertengkaran kecil antara menantu dan mertua atau Rio dan Jihan.


Jihan sendari tadi memaksa Rio untuk meminum obat herbal yang sama seperti Sena minum. Awalnya Rio sangat bersemangat namun setelah mencicipinya Rio langsung menyerah dan tidak ingin minum lagi.


"Aww." rintih Rio yang kena cubit Jihan.


"Kamu ini! Sena bisa meminumnya kenapa kamu tidak?"


"Bu, ya jelas lah dia mau. Orang dianya bilang kalau ini buat kulitnya lebih putih, selain bisa hamil."


"Jangan banyak alasan cepat minum! jangan biarkan Sena berjuang sendiri!" Kesal Jihan namun terasa aneh di telinga Angel.


"Berjuang sendiri?" lirih Angel dengan penuh arti. Diletakan nya bungkus camilan itu di atas meja.


"Ri." panggil Angel yang langsung membuat Rio dan Jihan menoleh kearahnya.


"Iya, kenapa?"


"Aku boleh keluar sebentar tidak? aku ingin membeli sesuatu." ucap Angel dengan nada yang sulit diartikan. Angel merasa tidak nyaman di sini dan mencari ketenangan di luar sana.


"Tentu saja boleh, aku antar yah." ucap Rio dengan lembutnya. Jujur Rio masih khawatir dengan keadaan Angel.


"Tidak perlu, sama supir saja, lagian kamu ada meeting jam satu."


"Iya sih tapi kamu tidak apa-apa sendiri? kamu masih sakit loh?" ucap Rio khawatir.


"Sudah mendingan, hanya ke minimarket kok, ngga lama."


Rio menatap Angel dengan penuh arti, dirinya tidak tega namun Angel memaksa dan sepertinya istrinya ini ingin menghirup udara segar di luar. Rio sangat memahami apa yang Angel rasa sekarang, pasti sangat bosan di rumah terus terlebih tiga hari Angel tidak boleh keluar kamar bahkan dokter melarang Angel untuk sering turun dari tempat tidur. Rio mengerti alasan kenapa dokter menyuruh seperti itu.


"Aku ingin sendiri, maaf." Angel langsung berlalu pergi dan membuat Jihan heran dengan sikap Angel yang seperti itu. Atau Angel marah kepada nya?.


"Apa dia marah kepada ku?" tanya Jihan ke Rio.


"Tidak Bu, dia mungkin tidak ingin merepotkan mu. Ibu kan baru datang."


ucap Rio yang berpikir positif.


"Semoga saja seperti itu, dia selalu menyembunyikan perasaannya."


....


Trotoar.


Angel berjalan menyusuri trotoar pinggir taman sedang supir yang mengantarnya di suruh pulang. Angel hanya ingin sendiri untuk saat ini dan untung saja trotoar ini tidak banyak orang yang lewat dan juga sangat teduh karena pohon besar yang di tanam di sebelahnya membuat udara terasa sejuk.


Angel POV.


Aku kenapa? kenapa aku merasa sakit saat Ibu lebih dekat ke Rio dan Sena. Kenapa ini terasa sangat berat saat bersama dengan keluarga ku? harusnya aku merasa senang ada orang di sisihku namun kenapa ini sebaliknya.


Apa aku cemburu dengan kasihsayang yang ibu berikan ke mereka? iya, mungkin itu. Selama ini hanya aku yang mendapatkan nya namun sekarang terbagi dan aku merasa.... aku merasa terabaikan. Hatiku sakit. Kenapa Ibu melakukannya? Saat aku sakit kenapa ibu tidak selalu berada di samping ku. Kenapa dia tidak menjagaku? aku anaknya dan aku mengalami penderitaan ini hanya untuknya, hanya untuk kebahagiaan nya dan dia bahkan tidak bertanya apa yang telah aku alami. Apa semua pengorbanan ku tidak ada artinya di matanya?.


Aku merasa diriku ini sendirian tanpa ada orang yang menggenggam tanganku dan mengatakan "semua akan baik-baik saja!" aku merindukan Rey, hanya dia yang mampu mengerti keadaanku. Ini sungguh miris, bukan Sena yang kehilangan Ibunya tapi AKU. Aku kehilangan kasih sayang Ibuku sendiri. Ibu ku sendiri lebih memperhatikan orang lain dari pada putrinya sendiri. Bahkan Ibu rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk membeli obat herbal untuk Sena. Kenapa akhir-akhir ini Ibu lebih perduli dengan Sena? kenapa kasih sayang untuk ku berkurang.


Semua pertanyaan itu terus berputar di kepalaku bahkan air mataku mulai menetes. Ini sakit.


POV END.


Angel berjalan menunduk dan sepertinya dia juga tidak fokus hingga dirinya menabrak seseorang.


"Maaf." ucap Angel sembari mendongakkan kepalanya, melihat wajah orang yang telah ia tabrak.


"Alex." Angel langsung menghindari kontak mata dengan Alex. Alex mengerutkan dahinya namun senyum manisnya muncul.


"Maaf." ucap Angel sekali lagi dan mulai melangkah lagi namun Alex menghadang langkah Angel, seakan tidak membiarkan Angel lewat.


"Kamu mau apa? aku sudah minta maaf.tolong jangan ganggu aku!" tegas Angel yang sudah sangat tertekan.


"Aku cuma mau minta maaf, karena ku kamu keguguran." ucap Alex dengan nada rendah dan membuat Angel bingung.


"Kamu bicara apa sih? aku tidak mengerti dan jangan ganggu aku! aku tidak ada urusannya denganmu. Aku mohon!"


"Kemarin kamu dirawat kan?"


"Itu cuma maag bukan yang lain!" tegas Angel. Angel juga merasa heran kenapa Alex mengetahui dirinya yang kemarin masuk rumah sakit.


"Oh iya? kamu itu terlalu polos atau bodoh sih? mana ada orang sakit maag harus di kuret?"


Angel terkejut mendengarnya terlebih Alex tahu hal seperti itu. Alex yang menyadari Angel mulai memahami sesuatu langsung tersenyum. Angel merasa ada hal yang di sembunyikan darinya terlebih saat terbangun dirinya merasa aneh pada tubuhnya.


"Apa aku harus percaya padamu?" ucap Angel dengan nada ragu.


"Iya, sudah aku bilang ada seorang yang mengawasi mu."


"Tidak ada ART baru di rumah jadi kamu jangan mengancam ku!"


Mendengar itu Alex langsung tertawa dengan renyahnya. Alex benar tidak percaya bahwa ada orang seperti Angel yang terlalu polos dan tidak menyadari keadaan dan kenyataan bahwa dirinya hanyalah tahanan di rumah mewah itu.


Melihat Alex yang tertawa mengerikan seperti itu membuatnya takut. Angel mulai merasa hatinya tidak tenang, kalau memang dirinya keguguran lantas kenapa keluarga nya menyembunyikan semua itu darinya.


"El, siapapun bisa berbuat apa saja demi sesuatu yang ia inginkan dan itu semua bisa menyangkut uang. Termasuk kamu kan?"


"Huh?"


"Jaman sekarang kamu masih polos seperti ini? kamu ketinggalan jaman, coba lihat dirimu? apa kamu bahagia?" tanya Alex dan berhasil membuat Angel termenung.


"Kamu bahagia?" tanya Alex lagi.


"Iya aku bahagia!" tegas Angel.


"Cih! dasar odong! jangan membohongi dirinya sendiri karena itu menyakitkan! Sebaiknya kita makan es krim!" tanpa meminta persetujuan dari Angel, Alex langsung menarik pergelangan tangan Angel berjalan menuju ke taman.


Taman.


Angel dan Alex duduk di bangku taman sembari melihat ke air mancur. Keduanya masing-masing memegangi corn eskrim dan bedanya Angel hanya memegangi saja tanpa memakannya sedangkan Alex sudah hampir habis.


"Jangan melamun terus, waktu bisa terbuang percuma, makan es krimnya, entar habis dimakan angin loh?" ucap Alex enteng tanpa beban padahal dia sudah menganggu Angel.


"Aku membencimu." ucap Angel datar dan membuat Alex tersenyum tipis.


"Aku Tahu."


"Aku marah padamu."


"Aku yakin itu."


"Lantas kenapa kamu melakukannya?" tanya Angel tanpa menoleh. Alex terdiam, sebenarnya dia bingung harus menjawab atau tidak. Alex takut Angel menjauh darinya dan akan merasa lebih takut lagi karena ada orang yang ingin menjauhkan dirinya dari keluarganya sendiri.


"Kenapa diam? apa semua ini karena uang? kamu mengatakannya tadi "semua orang akan berbuat apapun untuk uang" apa alasan mu dan siapa yang menyuruh mu?"


"Sepertinya kamu sudah sangat paham? pasti sudah banyak hal yang kamu alami?"


"Iya, sekarang katakan! aku sudah terbiasa dengan luka."


"Oke, tapi kamu janji tidak mengatakan hal ini ke siapapun karena ini bisa membahayakan keluargamu atau pun keluarga ku. Mengerti?"


"Iya. Apa ini masalah yang rumit?"


"Tidak rumit bila kamu menuruti semua ucapan ku! baiklah, aku akan mulai bercerita dan sebelumnya aku akan jujur tentang diriku."


Angel langsung menoleh ke arah Alex. Angel melihat kesedihan di mata Alex yang kini menatap lurus ke depan dan juga gaya bicaranya seakan ada beban yang berat di bahunya.


"Aku pernah dipenjara dua tahun karena pekerjaan ku adalah pembunuh bayaran." ucap Alex dengan entengnya membuat Angel meneguk ludahnya paksa karena takut. Apa Alex akan membunuhnya.


"Kau akan membunuhku?"


"Jangan menyela!" ucap Alex dan membuat Angel mengerutkan dagunya.


"Aku hanya melakukan hal kecil yang bisa membuat orang mati tapi waktu itu aku tertangkap karena melakukannya langsung dengan tangan ku sendiri untuk memastikan orang itu benar-benar mati karena bayaran tinggi."


Angel menatap marah ke Alex yang dengan entengnya mengatakan semua itu. Pembunuh bayaran, mencabut nyawa seseorang dan merenggutnya dari orang-orang yang menyayangi dirinya dan meninggalkan luka yang amat dalam di hati mereka. Angel benar-benar tidak menyangka akan hal ini, Angel berpikir bahwa Alex hanya berandalan biasa dan bukanlah manusia yang haus akan darah.


"Kamu gila yah? kamu membunuh orang dan kamu terlihat tidak merasa bersalah?!!" semprot Angel yang masih melihat wajah kepuasan di wajah Alex tanpa rasa bersalah sedikitpun padahal dia terbiasa merenggut nyawa orang.


"Apa yang harus aku perbuat?" Alex menoleh kearah Angel dengan tatapan penuh kesuraman.


"Aku tidak seperti yang kamu bayangkan!" ucap Alex lagi dan membuat Angel marah.


"Membunuh orang itu hal yang mengerikan! lalu apa? karena uang kamu sanggup melakukan hal seperti itu? apa tidak ada pekerjaan yang lebih manusiawi?"


"Kau terlalu banyak bicara selain otakmu yang odong." sempat-sempatnya Alex meledek Angel padahal Angel sudah menunjukkan wajah yang sangat menyeramkan.


"Jawab! apa kamu tidak punya hati? orang yang kamu bunuh itu pasti mempunyai keluarga dan mereka pasti sedih dengan itu semua." ucap Angel dengan penuh penekanan. Alex tersenyum sinis lalu berkata.


"Kamu jangan se-polos itu El! dunia ini tidak seindah yang kamu pikirkan dan tak semua keluarga itu saling menyayangi."


"Maksud mu?"


Alex menghela napas beratnya, dia teringat akan KDRT (kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang dilakukan oleh Ayah kandungnya sendiri terhadap Ibunya dan merampas semua kebahagiaan di keluarga tercintanya.


"Alex?"


"Sebelum membunuh target ku atau pun menerima pekerjaan itu aku selalu mengawasinya, melihat apakah orang itu pantas di bunuh atau tidak, kalau tidak ya... aku tidak menerima pekerjaan itu. Dan kamu tahu sebagai besar mereka ingin menyingkirkan saingan bisnis hingga perebutan harta warisan. Haaaahhh... Apa hidup itu harus melulu uang? kenapa saat tidak punya sampah itu (uang) orang bisa merendahkan harga diri seseorang dengan mudahnya?"


"Lex?"


Suasana terasa suram dan Alex tidak meneruskan ceritanya. Angel tidak mengeluarkan sedikit pun suara, ternyata ada orang yang lebih berat beban hidupnya. Angel tidak tahu bahwa seseorang itu bisa sekejam bahkan tidak punya sedikit pun rasa takut. Membunuh orang itu membutuhkan keberanian di atas manusia normal pada umumnya.


"Aku membunuh Ayahku sendiri."


"Apa? kamu ini manusia apa bukan sih?" untuk kesekian kalinya Angel di buat terkejut.


"Aku juga tidak tahu, aku membencinya, karena dia selalu membuat ibuku menangis bahkan dia tidak perduli dengan adikku yang sakit. Dia malah menghamburkan uang untuk membeli alkohol dan juga wanita malam. Membunuhnya juga sangat mudah, aku berikan saja dia empat botol alkohol dengan kadar tinggi dan dia mati begitu saja, setidaknya dia mati karena hal yang ia sukai. Itu cara kerja ku." Alex langsung menoleh ke arah Angel yang menatapnya blank.


"Jangan melihat kan tatapan aneh mu itu! itu membuat ku takut." ucap Alex bergidik ngeri.


"Ngerian kamu, apa kamu tidak di datangi korbanmu dalam mimpi?"


Angel langsung merasakan bulu kuduk nya merinding, membayangkan sosok yang menyeramkan dan penuh dengan darah.


"Tidak, mungkin itu karma mereka." jawab Alex tanpa rasa takut toh dia juga tidak mengalaminya.


"Lalu apa yang akan kamu perbuat padaku?"


Alex menatap tepat di mata Angel. Perempuan di depannya ini terlalu sempurna untuk disakiti bahkan untuk menangis pun rasanya itu tidak pantas untuknya, hanya kebagian dan tawa lah yang harus di dapatkannya. Alex ingin sekali membunuh Rio namun itu tidaklah berguna dan terlalu baik untuk orang yang menyakiti Angel. Rio harus merasakan luka yang beribu-ribu kali lebih sakit dari apa yang Angel rasa.


"Tidak ada."


"Apa?" Angel terkejut mendengarnya lebih tepatnya dirinya tidak paham dengan situasi ini yang jelas hidupnya terancam saat ini.


"Aku tidak akan menyakitimu, tugasku lebih mudah dari itu tapi menurutku ini akan sulit karena kamu mencintai keluargamu tapi ada hal yang mereka sembunyikan dari mu dengan alasan yang mereka anggap baik."


"Apa itu? tolong cerita kan semuanya, aku mohon aku tidak akan menceritakan kesiapa pun." Angel merasa dirinya akan lebih sakit lagi dari sebelumnya.


"Itu harus karena putramu yang jadi taruhannya, aku tidak tahu siapa yang menyuruhku yang jelas dia memintaku untuk menjauhkan mu dari keluarga mu tanpa menyakiti mu."


"Apa itu Sena." nama itu meluncur saja di bibir Angel. Entah kenapa dirinya merasa ini perbuatan Sena yang jelas-jelas membencinya.


"Sena, siapa dia?"


"Dia istri pertama suamiku dia juga yang menawarkan perjanjian denganku."


"Sepertinya bukan dia, hanya orang-orang tertentu yang bisa menyewa ku, bayaran ku itu tidaklah murah."


Alex yakin itu terlebih butuh keberanian untuk menghubungi bosnya dan juga resiko nya juga tidak main-main serta butuh dana yang lebih untuk membayarnya, hanya orang-orang yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan saja yang mampu melakukan hal seperti ini.


"Lantas siapa dan kenapa kamu butuh banyak uang?"


"Mungkin saja orang yang membenci mu ataupun keluarga mu dan mungkin saingan bisnis keluarga mu dan kenapa kamu yang ditargetkan mungkin karena kamu berharga? ya siapa tahu pernikahan mu dengan Rio sudah di ketahui seseorang yang mempunyai dendam pada mereka, dari rahimmu mereka mempunyai penerus."


"Entahlah, itu membuatku takut, jadi tugas mu menjauhkan ku dari keluarga ku?"


Angel membayangkan dirinya yang kesepian tanpa satupun orang yang menyayangi nya.


"Iya, aku butuh uang itu untuk pengobatan adikku, dia sakit kanker."


"Apa aku bisa bertemu dengannya?"


Kanker? itu penyakit yang sangat menyakitkan juga perlu banyak uang untuk pengobatan pantas saja Alex mau menggadaikan nyawa dan kebebasan nya untuk pekerjaan ini.


"Besok saja karena aku harus melakukan sesuatu. Aku akan menunjukan bukti bahwa kamu itu keguguran."


"Itu yang mereka sembunyikan?"


"Iya, alasan menyembunyikan itu adalah kesehatan mu tapi itu juga membuatku marah, kamu itu ibunya walaupun kamu tidak menyadari kehadirannya namun tetaplah tidak baik menyembunyikan kebenaran dari seorang ibu yang pernah berbagi napas dengan janinnya. Aku ingin bertanya padamu."


"Apa itu?"


"Hatimu itu seperti apa? kenapa kamu membiarkan mereka selalu menyakitimu? keluarga mu sendiri memilih tunduk pada orang kaya, mementingkan harga diri mereka ketimbang putrinya sendiri yang selama ini menanggung luka sendiri dan berjuang sendiri tanpa ada dukungan dan pengakuan. Kamu menggadaikan hidup, perasaan, kebebasan dan serta hak mu namun apa yang kamu dapatkan? Keluarga mu lebih perduli pada orang lain bahkan kamu tidak bisa mengakui bahwa Kevin adalah putramu. Apa ini adil? kamu menerima semua ini? apa ini pantas untuk mu?"


Sejumlah pertanyaan itu terus terlontar dan membuat Angel bingung serta membuat dadanya sesak.


"A...aku..."


"Jawab?!"


"...."


.....****.....****