
"...... membuatku takut"
"Mereka memang seperti itu, dulu sih mereka tidak seperti ini"
"Terus kenpa mereka jadi seperti ini?"
"Entahlah itu urusan rumah tangga mereka dan kamu, apa tidak marah sedang hamil ditinggal pergi?"
Rio datang dengan wajah datarnya, wajah yang menyembunyikan kecemburuan dihatinya.
"Ak--"
"El!"
Perkataan Angel terpotong oleh Rio. Arfan sangat tidak suka Rio berada disini dan mengacaukan rencananya.
"Apa?"
"Beresin barang barang kamu, kita akan pindah kerumah Mama. Bi Inda juga ikut"
Setelah berucap Rio langsung pergi. Angel menatap sebal kearah Rio yang sifatnya berubah ubah kek bunglon yang berubah ubah warna.
"Ishh.. dasar nyebelin kuadrat kali seratus!" kesal Angel. Arfan merasa ada sesuatu diantara Rio dan Angel yang lebih dari rahim pengganti.
"Ntar anak kamu mirip dia loh"
"Memang ini anaknya" lirih Angel namun Arfan mendengar samar samar ucapan Angel.
"Kamu tadi ngomong apa?"
"Aku tidak bilanga apa apa, cuma perasaan kamu saja kali" ucap Angel dengan nada biasa agar Arfan tidak mencurigainya. Angel mengerutuki kebodohannya ini, kalau Arfan sampai mendengengar ucapan tadi pasti akan timbul masalah besar dan Rio akan membuat hidup Angel berkali kali lipat dari ini.
"Mungkin, aku bantu berkemas yah?"
"Tapi kenapa aku juga ikut?"
"Sudah menurut saja, disana banyak mengawasimu kalau ada sesuatu yang membuatmu terluka, Ayo"
Arfan menarik pergelangan tangan Angel menuju kamar Angel. Sesampainya dilamar Arfan terkejut dengan boneka boneka yang menumpuk dipojokan kamar.
"Bonekanya banyak banget, kamu suka boneka?"
"Iya tapi sayangnya sebagian berwarna pink, aku tidak suka warna pink"
"Oh jadi itu alasannya boneka warna pink ditaruh dilantai. Siapa yang beli?"
"Ngga usah kepo, katanya mau bantuin?"
"Iya"
..
3 jam berlalu akhirnya semua sudah siap untuk pindah kerumah Amanda. Sena nampak tidak ingin pindah terlebih dirinya akan diawasi terus dan tidak bisa melepas perut palsunya sesuka hatinya.
Angel melihat kearah Sena yang masih pucat. Arfan yang tengah memasukan tas Angel dan bi Inda kedalam bagasi mobil. Tanpa sepengetahuan Angel tadi saat membantu Angel mengemas barang Arfan menemukan foto Angel dan Rio saat dipantai, Arfan pun langsung mengambil dan menyembunyikannya untuk jadi bukti.
"Sudah semua, ayo berangkat"
...
Rumah Amanda / Riko
Setibanya dihalaman rumah. Mereka semua langsung turun dari mobil. Arfan membawa tas Angel kedalam rumah.
"Ma, El tidur dimana?"
"Kamar tamu"
"Oke.. Eh?"
Saat Arfan tengah berbicara dengan Amanda, Rio datang dan langsung merampas tas Angel.
"Mau dibawa kemana? mama nyuruh Angel tidur dikamar tamu"
"Kamar tamu terlalu jauh dari dapur, El sering lapar malam jadi dia tidur dikamarku yang dibawah"
"Oh, ya sudah. Kamu urus sajalah"
Amanda langsung pergi sedangkan Arfan menatap Rio kesal sebab dari dulu dirinya ingin kamar itu jadi miliknya namun Rio tidak mengijinkannya bahkan Rio melarang Arfan masuk kedalam kamar itu.
"Wah kakak, aku tidak boleh tapi Angel malah dibolehin. Pilih kasih kamu kak?"
"Ngalah sama bumil, lagian kamu juga sudah punya kamar sendiri"
Rio langsung pergi menemui Angel yang tengah bersama bi Inda dihalaman samping.
"Ikut aku"
Rio langsung menarik pergelangan Angel. Angel hanya menurut. Mereka menuju kehalaman belakang.
Angel merasa dirumah ini dirinya hanya sebagai keponakan bi Inda dan tidur ditempat yang semestinya.
Rio berhenti didepan pintu kayu. Angel mendunga kamar yang akan ia tempati sangat sempit dan pengap. Rio langsung membuka pintu itu dan Angel terkejut melihat kamar yang tadi ia anggap kecil dan pegap.
Kamar ini ternyata sangat luas dan terlihat mewah bahkan ini lebih bagus dari kamarnya kemarin. Kamar ini juga terdapat kulkas, pemanas makanan hingga PS.
"Ri ini?"
"Ini kamar favoritku, kalau aku lagi marahan sama Mama Papa atau Arfan, aku tidur disini. Bisa seharian full aku tidak keluar kamar"
Rio melangkah menuju lemari dan mulai menatakan baju Angel kelemari. Angel berkeliling kamar ini, kamar yang luas dan sepetinya semua yang ada didalam kamar ini barang barang favorit Rio.
Angel mendekati dua pintu yang berjejeran. Angel membuka pintu sebelah kiri, ternyata itu kamar mandi dan yang sebelah kanan itu pintu yang menghubungkan langsung kearea dapur.
"Sayang kamu lapar ngga?"
"Ngga Ri, Aku ngantuk tapi aku tidak enak sama Mama kamu"
"Loh, kenapa?"
"Ya, aku cuma bermalas malasan disini"
"Jangan berpikiran seperti itu, Mama ku tidak akan seperti itu kok. Kan kamu sedang hamil"
Rio mendekati Angel lalu menarik Angel kedalam pelukannya. Angel tidak membalas pelukan Rio malah Angel nampak tidak suka.
"Gerah" keluh Angel. Rio langsung melepas pelukannya lalu mengecup bibir Angel sekilas.
"Katanya ngantuk, aku kelonin yah?"
Angel mengangguk lalu menuju tempat tidur. Rio menyalakan AC kamar lalu menghampiri Angel.
...
Rio menuju ruang tengah, Rio mengerutkan dahinya saat Arfan menatapnya.
"Kamu kenapa Fan?"
"Kesuper maket yuk, beli daging"
"Daging buat apa?"
"Iya buat dimakanlah kak, masa buat nambal kramik" ucap Arfan dengan nada sinisnya. Rio melempar bantal sofa kearah Arfan.
"Kalian ini sudah besar tapi masih saja tidak pernah akur" keluh Amanda. Sena bangkit dari duduknya menuju arah tangga. Amanda mengamati Sena yang menaiki tangga seperti biasa dan tidak merasa pengap atau apapun. Rio melihat kearah pandangan Amanda. Rio merasa Amanda mulai mencurigai Sena.
"Ma"
"Iya"
"Aku sama Arfan berangkat dulu ya"
"Iya, kalian hati hati. Eh Angel mana?"
"Tidur"
"Oh, ya sudah"
Arfan dan Rio melangkah pergi. Amanda menghela napas beratnya, hatinya merasa tidak tenang.
"Aku tengokin Angel sajalah"
Amanda menuju kamar Angel. Amanda ingin memastikan kenyamanan kamar Angel.
...
Supermarket
Arfan dan Rio tengah berburu bahan untuk nanti malam dan mereka berharap tidak turun hujan. Arfan tengah berada ditempat daging, memilih daging yang kualitasnya bagus dan tidak banyak lemaknya.
Sangking asyiknya memilih daging Arfan sampai tidak menyadari Rio sudah tida bersamanya.
"Kak, sosis enak kali yah?..eh kemana tuh orang?"
Saat Arfan menoleh dirinya tidak melihat Rio. Arfan melihat sekeliling namun tidak ada.
"Biarlah, sudah besar juga kan"
Arfan tidak mengambil pusing akan hal ini toh Rio bukan anak kecil dan bisa menjaga dirinya sendiri.
...
19:00
Dihalaman samping dekat kolam renang menjadi tempat yang sempurna untuk memanggang daging serta teman temannya. Doa Arfan dan Rio terkabul malam ini tidak turun hujan.
Amanda terus saja mengomel keArfan yang tengah memanggang daging membuat Arfan kesal. Disini hanya Angel yang tidak terlihat bukan karena tidak diajak tapi Angel masih tidur dan tega membangunkannya.
"Iya ma, ini juga mau diangkat"
Riko dan Rio tengah memotong daging dan melumuri dengan bumbu. Sedangkaan Sena dan Amanda sedang memotong daging yang sudah matang.
"Fan, jagungnya jangan sampai gosong!"
"Iya bawel, ngga tahu apa panas gini pada ngomel mulu!" keluh Arfan namun malah membuat orang orang didekatnya tertawa ngakak. Arfan hanya mengerutkan dagunya.
Aroma bakaran tercium samapai dapur. Angel yang sudah terbangun sedang minum didapur jadi penasaran apa yang tengah dilakukan yang lainnya.
Angel menuju halaman samping rumah dan langsung mendapati keluarga barunya tengah BBQ-an di dekat kolam.
Angel mendekati mereka. Arfan melihat Angel datang langsung merasa senang.
"Putri tidur baru bangun" cada Arfan langsung. Angel tidak menghiraukan celotehan Arfan.
"Aku bantuin apa?" tanya Angel ke Amanda. Amanda menoleh kearah Angel, entah kenapa Amanda merasa ada yang aneh dari Angel.
"Kalau masih ngantuk, tidur saja lagi" suruh Amanda. Angel menggeleng pelan, dirinya merasa tidak enak hanya tiduran saja disini. Sena tidak menghiraukan Angel begitu juga Rio dan Riko, Mereka sibuk dengan apa yang ada didepan mereka namun berbeda dengan Arfan yang tengah melihat perut Angel.
Arfan memicingkan matanya saat melihat sesuatu yang timbul diperut Angel. Baju Angel yang tipis dan ngepas dibadan Angel membuat Arfan dapat melihat dengan jelas.
"El, babynya lagi nendang yah? kok perut kamu kek ada yang nimbul gitu"
Mendengar ucapan Arfan, semuanya jadi melihat kearh perut Angel. Angel memang merasa janinnya menendang tapi dirinya tidak memperhatikan perutnya.
Amanda langsung mengelus perut Angel, seakan merespon sentuhan itu janin diperut Angel kembali menendang membuat Amanda tersenyum senang.
"Kamu sedang main yah?"
Amanda terlihat sangat gemas dengan perut Angel terlebih gerakan janin dirahim kini mulai terasa.
.
Angel tengah menggangu Arfan yang sedang memanggang daging. Sendari tadi Rio mencuri pandangan kearah Angel berharap Angel melihat kearahnya. Rio ingin sekali mengelus perut Angel, menyapa anaknya.
"Ri"
Sena menyuapi Rio sepotong daging. Amanda diam diam tengah memperhatikan perut Sena. Saat melihat itu pikiran Amanda jadi kacau.
"Kamu kenapa?"
"Pa, kamu sudah suruh orang?"
"Belum, papa masih mencari orang yang tepat. Kenapa?"
"Mama mau secepatnya"
"Iya"
Rio mengambil jagung yang sudah matang lalu diberikannya keAngel. Angel nampak begitu senang menerimanya.
"Emang kenyang makan jagung?" tanya Arfan heran padahal dari tadi dirinya menawari Angel daging yang sudah matang.
"Kenyang kalau makannya sampai seratus bonggol"
"Terserah"
Angel yang tengah menggigiti jagung tak sengaja bertemu pandangan dengan mata Rio. Angel mengeryitkan keningnya saat mulut Rio melafalkan kalimat tanpa suara. Angel berusaha memahami apa yang Rio ucapkan. Rio menyuruhnya pergi kedapur.
"Aku kedapur, haus"
"Iya sonoh, disini kamu cuma mengganguku"
"Dasar nyebelin"
Angel pergi meninggalkan halaman samping memasuki rumah. Setelah Angel hilang dari pandangan Rio pun menyusul Angel dengan alasan mengambil jaket untuk Sena.
...
Dapur
Rio tersenyum melihat Angel yang berdiri membelakanginya. Rio berjalan menghampiri Angel lalu memeluk Angel dari belakang membuat Angel terkejut.
"Ri"
"Apa?"
"Nanti ada yang lihat"
"Biarin, aku tidak perduli. Kamu itu istriku"
"Tapi cuma kita bertiga yang tahu disini dan sepertinya aku hanya jadi bayanganmu saja. Aku butuh kepastian dan aku benci harus menanyakan pertanyaan yang tidak pernah kamu jawab!"
Rio mengelus perut Angel dengan lembutnya. Angel mendengus kesal dirinya diacuhkan.
"Jangan sentuh perutku!"
Angel langsung menepis tangan kanan Rio membuat Rio terkekeh pelan. Rio tidak menghiraukan Angel yang kesal kepadanya.
cup...cup...cup
Rio mengecup pipi kanan Angel berualang membuat Angel semakin kesal. Angel melepaskan diri dari pelukan Rio dan menatap kesal Rio.
"Nyebelin!"
"Dari dulu"
"Ri kamu yah!"
Cup
Tanpa permisi Rio langsung mengecup bibir Angel. Tangan kiri Rio dikalungkan di tengkuk leher Angel hingga Angel tidak bisa menolak apa yang tengah Rio lakukan. Angel memukul mukul dada Rio agar Rio menyudahi ini, perutnya terasa sakit karena ditekan tubuh Rio.
Rio merasa Angel tidak nyaman langsung melepas kecupannya. Angel mendorong tubuh Rio menjauh.
"Kenapa?"
"Iiihhh kamu tidak lihat apa?"
Angel mengelus perutnya. Rio langsung merendahkan tubuhnya untuk menyapa calon anaknya.
"Sayang kamu sedang apa?"
Seakan merespon ucapan Rio, janin dirahim Angel menendang dan membuat perut Angel disebelah kiri timbul karena pergerakan janin.
"Duh, Papa jadi gemes"
Rio mengecup perut Angel cukup lama. Angel mengelus rambut kepala Rio. Rio mendongak tersenyum kearah Angel.
"Kamu mau daging?"
Angel mengeleng pelan membuat kening Rio mengkerut.
"Kenapa?"
"Ngga mau dagingnya masih mentah"
"Oh karena itu, ya sudah nanti aku yang panggang dagingnya untukmu"
"Makasih"
"Aku mau ambil jaket buat Sena, kamu juga harus pakai!"
"Gerah, nggak mau!"
"Jangan bandel. Aku nggak mau kamu sakit dan aku tidak bisa sebebas kemarin menemui mu"
"Aku tahu dan kapan keluargamu tahu tentang diriku?"
"Secepatnya, aku janji"
"Sampai kapan kamu hanya berjanji? rasanya aku sudah cukup kenyang mendengar kata "janji dan maaf""
"Kamu marah?"
"Katanya kamu pintar kok nanya sih?"
Angel mendengus kesal lalu menuju kamarnya untuk mengambil jaket.
Rio hanya tersenyum tipis lalu menuju kamarnya. Rio punya hadiah istimewa untuk Angel dan besok dirinya akan mengajak Angel pergi.
...
Keesokan harinya, Rio memasuki kamar Angel tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan bersamaan dengan Angel yang keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk. Angel mendelik saat Rio menatapnya dengan tatapan polos.
Angel berdecak kesal, secepatnya Angel kembali kedalam kamar mandi.
"Ck! kamu ngga ada sopan sopannya!" semprot Angel. Rio menatap datar Angel.
"Kok marah? aku kan suami kamu dan aku sudah lihat semuanya" Rio tersenyum jahil. Angel langsung melempar bantal kearah Rio.
"Dasar me*um!"
"Kalau ngga me*um mana mungkin kamu hamil"
"Terserah kamu! ngapain kamu disini?"
"Kamu ini suami dateng dipeluk kek dicium kek nah ini diomelin" keluh Rio. Angel menata patar Rio.
"Iya kalau aku istri sahmu!" jawab Angel dengan perkataan tak kala pedas dengan Rio.
"Iya aku tahu, aku yang salah"
"Nyadar tapi tidak berubah" sinis Angel kepad Rio. Rio tidak marah atau apa, dirinya sadar memang ini salahnya sendiri.
"Ayolah jangan seperti ini"
Rio bangkit dari duduknya menghampiri Angel. Rio langsung mencium bibir Angel lalu mencium perut buncit Angel.
"Aku mau ajak kamu pergi"
"Kemana?"
"Adadeh"
"Tapikan ada orang tua sama adik kamu, terus Sena?"
"Itu biar aku yang urus, kamu siap siap"
"Ya sudah"
Angel menuju lemari pakaian. Angel menoleh, dirinya terkejut karena Rio masih berdiri menatapnya.
"Ngapain kamu masih disini?"
"Iya aku pergi"
..
Kamar Rio/ Sena.
Rio tengah menyisir rambut Sena. Sena merasa ada yang Rio mau darinya.
"Kamu mau apa?" tanya Sena membuat Rio tersenyum senang.
"Angel minta ditemani kepasar, katanya bajunya udah kesempitan"
"Terus?"
"Kamu mau ikut?"
"Ngga, cukup sekali aku kesana"
"Jadi boleh ngga?"
"Iya, tapi nanti aku dibeliin lipstik, lipstik aku udah mau habis"
"Cuma itu?"
Rio menyerahkan ponselnya keSena. Sena langsung menerima ponsel Rio. Sena langsung membuka aplikasi belanja online diponsel Rio.
"Kamu buat alasan apa sama mereka?"
"Entahlah, oh iya aku nanti pulangnya sore abisnya mau fotocopy buku pink itu. Jaga jaga kalau nanti mama nanya"
"Iya terserah kamu"
"Ponselnya aku tinggal, kamu boleh beli lebih dari satu"
Sena mengangguk. Rio mengecup kening Sena lalu berlalu pergi keluar kamar.
"Angel Angel dasar bodoh, Rio punya segalanya tapi kamu malah minta kepasar"
..
Rio menuruni tangga dengan senyum dibibirnya. Rio tidak merasa khawatir dengan Sena yang bisa mengutak atik ponselnya sebab Rio punya satu ponsel lagi yang khusus untuk Angel.
"Ri, kamu mau kemana?" tanya Amanda heran saat melihat Rio dengan membawa buku pink.
"Mau anterin Angel cek kandungan terus dia minta beli baju"
Amanda mengerutkan keningnya, Amanda heran dengan perhatian Rio ke Angel padahal istrinya juga sedang hamil.
"Loh? kenapa kamu, disini juga ada supirkan?"
"Rio tidak percaya terlebih Rio dipercaya sama sumi Angel buat jagain dia"
"Ya sudah Arfan saja"
"Memagnya Arfan sudah bangun?"
Bersamaan dengan itu Arfan dan Angel menghampiri mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Arfan heran.
"Fan, kamu mau antar Angel cek kandungankan?"
"Ya mau lah" jawab Arfan dengan antusiasnya membuat Rio memutar otak untuk keluar dari masalah ini. Rio tidak ingin Arfan atau pun Amanda curiga. Rio menatap Angel dengan tatapan memelas, Angel tahu apa yang Rio inginkan. Rio ingin dirinya menolak Arfan.
"Tapi El ngga tahu alamat kliniknya"
"Bisa pakai GPS" jawab Amanda.
"Iya tuh, ayo berangkat!" ajak Arfan dengan senangnya.
"Haahhh tapi aku ngga mau! Arfan suka usil, Ma"
Angel merengek bahkan seperti mau menangis. Rio merasa Angel benar benar ingin bersamamya.
Amanda menghela napas, sepertinya Angel benar benar tidak mau diantar Arfan.
"Ri, memangnya Sena mengijinkan?"
"Iya. Sudah jam segini, kita berangkat dulu"
Amanda ada Arfan menatap kepergian Rio dan Angel dengan tatapan penuh pertanyaan dan juga heran.
"Rio sudah berangkat?"
Suara Sena membuat mereka tersadar lalu melihat kearah Sena.
"Kenapa lihatin aku seperti itu?" tanya Sena heran.
"Kamu tahu Rio pergi sama Angel?"
"Tahu dan mama jangan perpikiran yanga aneh aneh! Rio cuma melakukan apa yang sudah dijanjikan kepada sahabatnya, suami Angel"
"Oh, tumben kamu tida marah?"
"Capek marah terus, lagian janin aku ingin ibunya tenang"
Sena langsung melangkah kearah dapur.
"Sejak kapan kakak punya sahabat?" lirih Arfan. Amanda dapat mendengar ucapan Arfan.
"Memangnya kakakmu itu akan cerita semua kepadamu?"
"Iya sih?" Arfan menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
..
Didalam mobil Rio
"Ri, emang hari ini cek kandungan yah?"
"Lusa, itu cuma alasanku saja"
Rio memberhentikan mobilnya didepan tempat fotocopy-an. Rio ingin memfotocopy buku kehamilan ini.
"Kamu tunggu dimobil, aku belikan bubur ayam"
"Iya"
Setelah membeli bubur ayam, Rio langsung kembali kedalam mobil. Rio tidak menunggu copy an buku itu, dirinya akan mengambilnya nanti toh tempat ini 24 jam.
"Cuma beli satu, kamu?"
"Aku tidak lapar"
"Ya sudah"
Angel mulai memakan bubur ayam itu dengan lahap Angel juga menyuapi Rio.
"Kita mau kemana?" tanya Angel heran terlebih jalannya terasa asing.
"Kamu lihat saja nanti"
Angel mendengus kesal namun sedetik itu Angel menguap mungkin dia ngantuk karena kekenyangan?.
"Tidur saja, kita juga masih jauh"
Angel menurut, dirinya mulai memejamkan mata.
Rio melajukan mobilnya menuju jalan tol. Entah kemana Rio akan membawa Angel pergi.
2 jam berlalu. Mobil Rio melaju menuju gang perumahan elit. Sepanjang tepi jalan terdapat rumah rumah yang sangat mengah.
Angel perlahan membuak matanya, dirinya langsung berdecak kesal karena belum sampai juga padahal dirinya merasa sudah tidur cukup lama.
"Belum sampai?"
"Bentar lagi"
"Ini dimana?"
Angel melihat sekeliling dan merasa heran dengan deretan rumah mewah.
Mobil Rio memasuki halaman salah satu rumah mewah yang masih direnovasi.
"Ayo turun tapi pakai ini dulu"
Rio memberi Angel masker, Angel pun langsung memakainya. Rio juga memakai masker.
Rio dan Angel berjalan kedalam rumah. Angel bingung kenapa Rio mengajaknya kemari namun terlepas dari itu semua Angel berdecak kagum dengan kemewahan rumah ini.
"Ini?"
"Rumah untukmu"
"Apa?"
"Iya untukmu, aku tidak sedang bercanda. Ini untuk kamu dan orang orang yang kamu sayang"
Angel tidak percaya akan semua yang dikatakan Rio barusan. Rumah semewah ini untuk dirinya?.
"Ta..tapi Sena pasti marah"
"Tidak usah kamu pikirkan itu, Sena dan keluargaku tidak akan tahu soal ini. Rumah ini atas namamu dan tidak usah khawatir akan uang listrika atau apapun, aku yang bayar. Yang paling penting kalau nanti ada sesuatu rumah ini tetap untukmu"
Rio menarik Angel kedalam pelukannya. Angel merasa pelukan Rio ini sangat hangat dan nyaman. Angel membalas pelukan Rio.
"Makasih"
"Aku yang harusnya berterima kasih, kamu membuatku merasa sempurna dan ini tidak sebanding dengan apa yang kamu berikan, sayangku"
Bisik Rio tepat ditelinga Angel. Nada halus yang Rio pakai membuat hati Angel luluh namun tendangan dari janinnya membuatnya tersadar Rio bisa saja berubah.
Angel langsung melepas pelukan Rio dan langsung menatapnya tajam.
"Kamu tidak percaya?"
"Sudah sering kamu mengecewakanku, apa salahku meragukanmu"
"Tidak, aku yang salah. Aku hanya memikirkan orang orang yang telah lama ada disampingku tapi semakin kesini aku sadar, aku hanya melukai mereka perlahan dan aku malah menjauhkanmu dari orang tua mu padahal aku sendiri tidak ingin jauh jauh dari mereka"
"Aku tahu kamu mencoba menebus kesalahanmu, aku tahu kamu membantu Ibu dan Ayahku selama ini tapi perlukamu ingat uang bukan segalanya ya walaupun buktinya kamu bisa membeli semua dengan uang. Kamu bisa membeli cinta dengan uang tapi cinta itu bisa berubah jadi benci yang tidak bisa kamu hilangkan dengan uang"
"Apa kamu membenciku?"
"Untuk saat ini tidak tapi nanti saat semunya terungkap dan aku masih tidak jelas seperti ini, saat aku tidak diterima dikeluargaku sendiri dan aku kan membenci setiap kebahagianmu bersama bayiku"
Angel menatap kedua mata Rio dalam. Rio tahu ada ketakutan dimata Angel.
"Ketakutanmu tidak akan terjadi, percayalah padaku. Aku sangat mencintaimu. Ikut aku"
Rio menarik pergelangan tangan Angel menuju suatu tempat. Saat melalui tangga, Rio membopong tubuh Angel.
Rio memasuki kamar yang yang pintunya terukir ukiran yang sangat indah. Kamar yang sangat luas dan sudah ada barang barang pelengkap kamar inj.
"Ini kamar kita"
Rio menurunkan tubuh Angel. Mata Angel memanas saat melihat foto foto yang terpajang didinding berukuran besar, foto dirinya dan juga Rio.
"Kamu suka?"
"Iya"
Rio memeluk Angel dari belakang. Rio sangat senang Angel menyukai ini semua.
"Kamar buat anak kita mana?"
"Kamu ingin melihatnya?"
"Iya"
"Ya sudah ayo"
Rio menuju kepintu berwarna putih. Saat ini Rio terlihat sangat senang. Angel mengikuti Rio kedalam kamar dan.
"Taaadddaaaaa, ini untuk jagoanku!"
Angel menggelengkan kepalanya. Rio benar benar sangat bersemangat. Angel mengelus perutnya.
"Kamu senang banget"
"Iyalah, ini aku yang disain untuk anak kita"
"Terus kenapa nuansanya putih?"
"Karena aku belum tahu anakku cowo atau cewe"
"Oh" Angel terdengar cuek tapi sebenarnya dia sangat senang.
"Mungkin rumah ini akan selesai saat anak kita lahir, tinggal taman saja yang belum diurus"
Angel berkeliling dikamar ini, rasanya telinganya sudah bisa mendengar suara tawa dan tangisan buah hatinya.
Angel mendekati ranjang bayi yang belum ada kasurnya tapi ini sudah membuat hatinya senang.
"Anak kita nanti tidurnya sendiri?" tanya Angel saat tidak ada ranjang disini.
"Nanti aku beli, sekalian nanti lantainya aku lapisin karpet karet biar ngga dingin"
"Oh.. eh, sayang kamu senang yah?"
Janin diperut Angel bergerak aktif seakan menyukai hadiah dari Papanya. Rio mendekati Angel lalu menyapa janin diperut Angel.
"Sayang, kamu senang yah? ini kamar kamu. Nanti kita akan main bersama, kamu sabar dulu yah diperut mama"
Cup.
..
Rio dan Angel tengah mengelilingi taman yang belum tertata. Disini hanya ada beberapa orang yang tengah mengecet ruangan atas.
"Kamu mau ditanami apa?"
"Tersersh kamu yang jelas aku ingin ada ayunan, sama taman bermain untuk anak kita"
"Untuk anak kita atau untukmu?"
Angel hanya mengendikan bahunya. Rio teringat akan sesuatu yang ia tinggalkan dimobil.
"Kamu tunggu disini, aku cuma sebentar"
Rio langsung berlari kearah mobilnya. Angel melihat kearah pohon mangga yang berbuah lebat ada beberapa yang sudah matang.
"Aku mau mangga"
Angel melihat sekeliling untuk memetik buah mangga. Rio mengerutkan keningnya saat melihat Angel tengah mengarahkan bambu panjang kearah pohon mangga.
"Kamu sedang apa?"
"Mau itu"
"Sinih aku saja"
Angel menyerahkan bambu itu keRio. Angel menjauh.
"Yang itu"
Rio memukul mukulkan bambu itu dimangga dan.
"Aww"
Angel langsung tertawa saat mangga itu jatuh tepat dikepala Rio.
....***..