Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 67 TEROR



Rumah Riko


Sepulangnya dari mall Angel terlihat sangat murung dan itu membuat Sena bingung. Sena menghampiri Angel yang duduk di teras samping.


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa, memangnya kenapa?"


"Kamu malah bertanya balik, apa itu ada hubungannya dengan laki-laki itu?" tebak Sena dan membuat Angel sedikit terkejut.


"Bukan, aku hanya ingin sendiri saja."


"Oh, ya sudah aku akan memberikan mu ruang untuk sendiri." Sena pun berlalu pergi meninggalkan Angel sendiri.


"Hufff... aku tidak boleh seperti ini, dia hanyalah masa lalu dan aku juga tidak punya hubungan dengan nya."


Angel berusaha tidak memperdulikan Alex toh dirinya juga tidak mengenal seperti apa Alex itu yang Angel tahu di SMA dulu ia adalah seorang bad boy yang suka membuat rusuh.


"El, kamu di cariin ibu!" teriak Sena dari dalam rumah. Sena sendiri sedang bergegas mengambil botol susu untuk Kevin.


"Iya"


..


Jihan memanggil Angel hanya untuk berpamitan. Angel sendiri nampak keberatan Jihan pulang namun bagaimana lagi, Jihan harus mengurus rumah makanya.


"Jangan murung seperti itu, lusa Ibu main lagi yah?" mendengar itu Angel kembali ceria.


"Iya sudah, memangnya Ayah sudah datang?"


"Sudah, di depan."


"El, antar ke depan."


"Rio juga."


"Terserah kalian."


....


Diluar pagar rumah. Seorang pria dengan motor sport nya tengah mengawasi rumah Riko. Pria ini mengikuti mobil Sena dari mall, pria itu pun membuka helmnya dan terlihat tato dilehernya. Ternyata itu Alex.


"Pantas saja, sekarang kamu tinggal disini."


Alex masih mengawasi rumah Riko. Dia ingin tahu lebih banyak lagi agar dia bisa mendapatkan Angel.


Tak lama senyum jahat Alex terlihat saat angkot yang ia tahu milik Erik ayahnya Angel berhenti tepat di depan gerbang dan terlihat Jihan yang keluar gerbang ditemani Angel dan juga seorang pria.


Alex terus mengawasi hingga timbul kesimpulan bahwa pria itu adalah suami Angel.


"Jadi dia? kurang ajar!" Alex pun bersiap untuk pergi. Dia berasa ini sudah cukup untuk hari ini.


...


20:00


Angel bernapas lega putra mungilnya sudah tidur dan ini waktunya untuk bersantai. Angel meraih ponselnya dan ternyata ada beberapa pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal dan ada juga pesan suara.


Angel membuka dan membaca semua pesan itu. Raut wajah Angel mendadak berubah jadi kecemasan, keringan dingin Angel membasahi pelipisnya. Isi pesan ini membuat dirinya takut dan dia tahu siapa yang mengirimkannya yaitu Alex dan Angel juga bingung dari mana Alex mendapatkan nomor nya. Angel membuka pesan suara dari Alex.


"Selamat malam sayang, semoga mimpimu indah. Aku akan terus mengejar mu walau aku harus membunuh suamimu dan mungkin juga anakmu!"


Sontak ponsel yang Angel pegang terjatuh begitu saja. Napas Angel tak beraturan, rasa takut mulai mengambil alih tubuhnya.


"Orang itu sudah gila! aku harus bagaimana?"


Panik Angel dan terbesit di pikirannya harus memberitahukan masalah ini kepada Rio karena dirinya tidak mungkin menyelesaikan masalah ini sendiri dan Angel juga tahu seberapa bahayanya Alex dan seriusnya ucapan Alex itu.


Drtttt...


Ponsel Angel berdering lagi dan dari nomor yang sama. Angel pun langsung membacanya dan terkejut membacanya. Angel tidak habis pikir bahwa Alex telah menyusupkan seseorang untuk mengawasinya dan jika dirinya memberitahukan ini kepada Rio makan orang suruhan Alex akan langsung membunuh Kevin.


"Aku harus bagaimana?"


Rio tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu untuk Angel. Rio mengerutkan keningnya saat melihat wajah Angel yang murung.


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa." jawab Angel singkat. Rio semakin merasa curiga terlebih Sena juga berkata bahwa Angel terlihat aneh setelah pulang dari Mall.


"Kalau ada masalah, bilang saja! aku ini suamimu. Nih minum susunya."


Angel menerima gelas itu lalu meminum hingga setengah. Rio duduk di dekat Kevin tertidur. Wajah lucu Kevin membuat Rio betah di rumah bahkan sekarang meja kerjanya pindah ke rumah.


"Mau bilang apa? jangan di pendam sendiri, itu bisa menyakitimu. Apa soal itu?"


"Bukan, sudah aku bilang aku tidak apa-apa."


"Hufff... apa kamu tidak percaya padaku?" kini Rio telah menatap wajah Angel. Angel ingin sekali memberitahu Rio namun apa daya Alex mengancamnya dan dirinya tidak ingin membahayakan Kevin.


Cup.


Rio langsung tersenyum tipis saat Angel tidak menjawab pertanyaan nya namun malah mencium pipi kirinya.


"Itu jawabannya."


"Mau lagi." Rio malah mengetuk-ngetuk pipi kanannya dengan jarinya dan itu membuat Angel kesal. Dia langsung mencubit pinggang Rio.


"AWW!"


"Jangan berisik! Nanti Kevin bangun!"


"Iya maaf, aku tidur disini yah?" Rio langsung membaringkan tubuhnya di samping Kevin. Rio memiringkan tubuhnya agar dia bisa memeluk putra mungilnya.


"Dia manis sepertimu." ucap Rio sambil menatap wajah lucu Kevin.


"Ri."


"Hmm."


"Disini ada ART baru?"


"Tidak ada, kenapa?"


"Hanya mu tanya."


Angel merasa lega mendengarnya, setidaknya dia tahu Alex hanya menggertak saja namun tetap dirinya harus waspada.


"Ayo tidur." ajak Rio yang mulai memejamkan matanya.


....


11:00 pagi


Sinar matahari terasa sangat menyengat di kulit bahkan aspal pun seakan meleleh dibuatnya namun panasnya matahari seakan tak dirasa oleh pemuda ini.


Alex yang sedang mengawasi Rio yang tengah berada di bilik ATM. Kepulan asap putih dihembuskan dari mulut Alex yang tengah menikmati sebatang rokok yang menjadi temannya selama ini.


"Ck! Lama banget sih tuh orang! Enaknya dibikin lecet apa sekalian aku bunuh yah?"


Alex langsung membuang puntung rokoknya lalu memakai helm nya. Bersiap dengan motornya, Alex menunggu waktu yang tepat, sesekali dirinya memainkan gas motornya. Motor Alex langsung melaju kencang kearah Rio yang akan menyebrang menuju mobilnya.


...


Rio menghela napas beratnya, hari ini sangat melelahkan namun dia bersyukur kedua istrinya akur dan sangking akurnya mereka kompak membuat Rio kewalahan.


"Ada-ada saja mereka, masa aku harus nyari kwetiaw goreng? Apa jangan-jangan mereka berdua sedang ngidam? Ah... Sudahlah."


TIIINNNN...


Suara kelson itu mengejutkan Rio, reflek Rio langsung menghindari motor itu. Membuatnya terjatuh ke aspal dan membuat luka di tangan dan sikunya.


"AWWW... ck! Dasar orang gila, baru belajar mengemudi apa?" Dengus Rio yang langsung bangkit dari posisinya sekarang.


...


Rumah Amanda Riko.


Sena tengah membopong Kevin sembari mengajak Kevin mengobrol, sedangkan Angel tengah mengisi perutnya.


Amanda tersenyum tipis saat melihat Sena yang tengah bersenandung menghibur Kevin. Amanda merasa lega Sena sudah mulai merubah sifatnya dan mau berbagi tugas dengan Angel ya walaupun Amanda tahu Sena pasti kelelahan setelah berkerja.


"Sinih gantian?" Pinta Amanda namun Sena menggeleng pelan.


"Tidak usah Ma, aku masih kangen sama Kevin."


"Ya sudah, kalau kamu sudah capek panggil mama saja yah?"


"Iya Ma."


Amanda membelai lembut pipi kiri Kevin dan si mungil ini terlihat sangat senang. Tak lama Angel kembali sembari memakan buah apel. Angel selalu merasa lapar setelah menyusui Kevin, berbeda sekali saat Kevin masih didalam rahimnya.


"Rio belum pulang?" Tanya Angel yang sudah tidak sabar untuk memakan kwetiaw goreng.


"Kamu masih lapar?" Tanya Sena tak percaya.


"Ayolah, mulutku ini harus mengunyah untuk dua perut. Kev, cepat tumbuh gigi ngapa biar kamu bisa makan sendiri." Ucap Angel yang mulai ngelantur dan membuat Sena dan Amanda tertawa dengan renyahnya.


"Tuh sayang, mama El kamu ngambek."


...


15 menit berlalu dan yang ditunggu akhirnya datang juga. Rio pulang dengan beberapa kantong kresek. Rio meletakan semua kantong di atas meja lalu duduk di sofa sembari menyenderkan punggungnya dan terlihat dia sangat capek.


Ketiga orang ini hanya menatap Rio yang tengah memejamkan kelopak mata nya. Angel melihat kearah telapak tangan Rio yang terlihat lecet.


"Tangan kamu kenapa?" Tanya Angel dan membuat Sena dan Amanda melihat kearah tangan Rio.


"Tidak usah khawatir hanya lecet saja." Ucap Rio santai sembari membuka kelopak matanya. "Ayo makan, aku sudah lapar." Sambung Rio lagi sembari mengeluarkan beberapa bungkus kwetiaw. Angel yang dari tadi menunggu Rio pulang sekarang dirinya tidak berselera makan setelah melihat luka lecet ditangan Rio. Entah kenapa Angel kerasa kalau luka itu karena Alex.


"Aku sudah kenyang." Ucap Angel yang langsung pergi membuat Amanda dan juga Sena heran terlebih sejak tadi Angel menunggu Rio.


"Dia kenapa? Apa aku terlalu lama membelinya?"


"Entah." Ucap seadanya sedangan Amanda sudah pergi mengambil anti septik untuk mengobati luka ditangan Rio.


"Sebaiknya aku susul saja."


...


Teras samping.


Angel menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia baru saja membaca pesan dari Alex yang intinya dialah yang membuat luka lecet itu.


"Kenapa dia menghantuiku? aku takut."


"Kamu kenapa sih? kamu membuatku khawatir." ucap Rio yang berjalan menghampiri Angel. Angel tidak menjawab dia hanya terdiam.


"Sayang?"


"Aku tidak apa-apa. hanya perutku agak sakit."


"Tidak, aku hanya--" Angel menggantungkan ucapannya. Angel bangkit dari duduknya lalu memeluk Rio dengan erat.


"Butuh ini." sambung Angel lagi. Rio pun membalas pelukan Angel. Angel hanya ingin mendapatkan rasa aman dari Rio.


...


Kosan Alex.


Alex langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perlahan kelopak matanya menutup namun sedetik itu pun dia teringan tangisan Yuna, adik perempuannya.


"Ck!" Alex berdecak kesal lalu mendudukkan tubuhnya. Alex menatap kearah cermin besar di depannya. Di cermin itu terdapat beberapa foto yang ia tempel. Alex berjalan menghampiri cermin itu.


"Kenapa kita bertemu di situasi seperti ini? aku memang ingin sekali bertemu denganmu dan aku masih jadi pengagum mu."


Alex mengambil satu foto yang tertempel. Di pandangi nya foto itu dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Maaf El."


Satu minggu yang lalu.


Rumah sakit Muti.


Alex menatap dari kejauhan adik perempuannya yang duduk di kursi roda. Senyumnya sangat manis terukir manis di wajah pucat nya. Dia tetap terlihat semangat walau sudah tidak ada lagi mahkota hitam ( rambut) di kepalanya.


"Al." Suara itu membuat Alex menoleh terlihat seorang wanita yang menatapnya cemas.


"Jangan lakukan apapun yang merugikan mu, dua tahun itu sudah cukup. Mama tidak ingin kamu masuk penjara lagi."


"Ini untuk Key, aku ingin dia hidup!" tegas Alex yang langsung berlalu pergi. Alex menuju ke tempat yang dijanjikan oleh bos nya.


. Cafe


Alex menatap pria yang duduk didepannya. Wajah pria ini sangat membuat Alex kesal dan ingin sekali membunuhnya.


"Kau ingin aku membunuh siapa?" ucap Alex langsung.


"Santai, kali ini tugasmu cukup gampang dan bayaran nya tinggi. Kamu tidak akan masuk penjara lagi."


"Ck! aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi dengan monster sepertimu!"


"Tugasmu hanya menjauhkan wanita ini dari keluarga nya dan buat seolah-olah kalau dia yang meninggal kan keluarga nya. Ingat jangan membunuhnya!"


Pria ini memberikan sebuah amplop yang isinya rincian dari "korban" Alex. Alex pun langsung membukanya, raut wajah Alex terlihat berubah saat melihat foto didalamnya.


"Ini? siapa orang yang membayar?"


"Tumben sekali kamu ingin tahu?"


"Cepat jawab!"


"Kamu tidak perlu tahu! lakukan saja! ini uang muka untuk tugasmu." Pria itu meletakan selebar cek 50 juta di hadapan Alex.


"Angel." gumah Alex pelan.


Flash End.


Alex menatap bayangannya di cermin. Alex kesal pada dirinya karena hingga saat ini dia belum mengetahui orang yang menyuruhnya dan terbesit di pikirannya bahwa Rey lah yang menyewanya.


"Aku tidak perduli lagi, yang jelas aku harus menyelesaikan nya bagaimana pun caranya dan aku past akan melindungi Angel walaupun aku harus menyakitinya."


...


Rumah Amanda Riko. Kamar Angel.


Angel menatap kotak hitam yang dikirim kurir untuk nya namun dia tidak tahu siapa pengirimnya hanya tertulis "AL" di nama pengirimnya.


"Buka ngga yah?... ummm buka saja deh."


Angel lantas membukanya dan isinya boneka beruang coklat, jepit rambut model kupu-kupu, cokelat batang dan secarik kertas. Angel pun membaca tulisan di secarik kertas itu. Raut wajah Angel berubah menjadi takut, ia pun langsung merobek kertas itu dengan penuh kekesalan.


"Dia benar-benar gila!" Angel langsung melempar semua barang-barang yang Alex berikan untuknya.


"Mau apa dia? apa yang harus aku lakukan? ... aww."


Angel merasa perutnya saki dan ini tidak tertahankan. Keringat dingin nya membasahi kening dan pelipisnya. Entah kenapa dia teringat saat dirinya keguguran.


"RIOOOO!!!" Teriak Angel dengan keras dan ini menambah rasa sakit di perutnya.


...


Ruang tengah.


Rio tengah terfokus dengan layar laptop bahkan kegemasan Kevin pun tidak mampu mengalihkan perhatian Rio.


"Tuh papa kamu mainnya sama laptop terus, kamunya di cuekin." ucap Amanda yang tengah memangku Kevin.


"Serius amat! entar kamu masuk keblayar loh" celoteh Sena yang kembali dari dapur membawa secangkir kopi untuk Rio. Rio hanya bergumam saja.


"RIOOOO!!"


Teriakan itu membuat ketiga orang ini terkejut.


"Angel?" ucap Rio yang langsung beranjak menuju kamar Angel begitu juga dengan Sena dan Amanda.


Setibanya di kamar Angel. Rio melihat Angel yang tengah memegangi perutnya dan wajahnya kini pucat.


"Sayang?"


"Sakit."


Rio langsung membopong tubuh Angel, membawanya ke rumah sakit.


"Ri?"


"Aku bawa Angel ke rumah sakit, kalian mau nyusul pakai mobil lain!" suruh Rio pada Amanda dan Sena saat berlalu keluar kamar.


"Iya." kedua wanita ini mengerti bahwa Rio tidak mungkin menunggu mereka bersiap terlebih ada Kevin.


Sena melihat ke arah kasur, lebih tepatnya ke noda merah dia tas selimut putih.


"Ma?"


"Kenapa?"


"Apa Angel tengah hamil?"


"Hah? maksudnya?"


"Itu." sembari menunjuk selimut bernoda darah. Amanda pun melihat kearah yang di tunjukan Sena.


"Kamu ini, tidak semua noda darah berarti keguguran. Mungkin saja Angel tengah datang bulan, jadi perutnya sakit. Mama juga sering merasakan sakit yang amat sangat saat tanggal merah. Kamu mau ikut atau tidak?"


"Kevin?"


"Sama bi Inda."


"Oh, aku ikut."


Rumah sakit.


Rio menghela napas beratnya bahkan Rio terlihat ingin menangis.


"Aku kehilangan buah hatiku lagi?" ucap Rio dengan lemas. Rio tidak tahu Angel hamil dan sepertinya Angel juga tidak tahu bahwa dirinya tengah mengandung adik nya Kevin.


"Ri?"


"Mama."


"Bagaimana keadaan Angel?" tanya Amanda langsung. Sena terlihat berjalan di belakang Amanda.


"Dia keguguran." ucap Rio dengan wajah blank. Sena langsung menghampiri Rio dan memeluknya. Sena sangat tahu Rio sedang tidak baik-baik saja.


"Ri? kamu jangan sedih, nanti Angel akan sedih." ucap Sena sembari melepas pelukannya.


"Kenapa Angel tidak bilang, kalau dia hamil?"


"Mungkin dia juga tidak menyadari nya, terlebih sekarang dia terfokus pada Kevin."


"Ri, kalau benar seperti itu aku sarankan sebaiknya kita rahasiakan ini demi kesehatan Angel." saran Sena yang berharap mereka menyetujui ini semua, terlebih Angel pernah keguguran satu kali.


"Sebaiknya seperti itu."


...


Kamar rawat.


Angel merasa tidak enak membuat orang-orang yang menyayangi nya khawatir seperti ini. Saat Angel membuka mata semua keluarganya sudah berada di sisih nya dan putra kecilnya tengah berbaring disampingnya.


"Kamu harus makan yang banyak!" suruh Jihan yang tengah menyuapi Angel.


"Iya Bu, ini juga sudah banyak, mungkin aku kecapekan aja."


Jihan menatap wajah putrinya dengan senyum dibibirnya. Jihan sendiri sudah mengetahui kebenarannya dan bahkan yang lain juga sudah mengetahuinya dan semu sepakat merahasiakannya dari Angel demi kesehatan Angel.


"Kapan aku boleh pulang?" tanya Angel yang sudah mulai bosan.


"Tiga hari lagi." jawab Riko namun Arfan langsung menyahuti.


"Satu bulan kalau bisa setahun kamu disini! di bilangin ngga nurut!"


Mendengar ucapan Arfan membuat Angel cemberut.


"Ngga nurut apanya?" kesal Angel.


"Lah kamu kan lebih sering ngemil ketimbang makan nasi."


"Oh, gitu?"


"Opss" Ucap Arfan yang langsung menutup mulutnya. Arfan keceplosan terkait hal itu. Rio langsung menatap adiknya dengan tatapan elang. Rio tahu dari mana asal cemilan itu, yah Arfan lah yang membelikannya.


"Cuma dikit kok." bela Arfan dan sontak semua tergelak tawa kecuali Rio yang masih teringat kesedihan Angel saat keguguran waktu itu.


...


Resto kenanga.


Alex mengerutkan keningnya saat mendapati bosnya yang tiba-tiba mengomel tidak jelas. Intinya orang yang membayar tidak puas dengan kerja Alex.


"Ck, langsung saja ke intinya!"


"Dia tidak suka caramu yang mengancam seperti itu! kamu harus ubah cara kerjamu dengan lebih lembut dan tidak merugikan orang di sekitarnya. Wanita itu keguguran dan upah mu di potong karena itu. Tapi tenang saja dia kan bayar penuh bila kamu bisa menyelesaikan dalam satu minggu. Ini mungkin bisa membantumu." ucap bos itu sembari meletakan amplop map dia tas meja. Bos itu pun langsung pergi.


"Angel keguguran?" senyum Alex muncul dengan sendirinya.


"Bagus dong, itu bisa memudahkan ku."


Alex seakan mendapat pencerahan terkait apa langkah selanjutnya dan dia pun merasa orang yang menyuruhnya satu rumah dengan Angel dan mematahkan bahwa Rey lah yang menyuruhnya.


.... ****.....****....