My Life With A Mafia Boss

My Life With A Mafia Boss
EPISODE 31



"Ngapain dia tidur di sofa" ucap Jack lalu berlalu pergi ke kamar nya meninggalkan Nia yang tertidur dalam posisi duduk dan kepala di senderkan.


"Gak nyangka kamu pergi secepat ini,akan aku ingat semua jasa jasa mu selama ini,semoga kamu tenang di sana" ucap Jack di kamar nya lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.


Setelah selesai melakukan ritual mandi nya ia langsung turun untuk makan malam karena dari tadi sore Jack belum makan sama sekali.


Saat sampai di dapur Jack mendapati beberapa makanan yang memang di buat kan untuk nya.Meskipun sudah dingin tapi itu tidak membuat selera makan Jack berkurang.


"Semua masakan nya membuat selera makan ku bertambah" ucap Jack lalu tersenyum.


Setelah selesai makan malam ia berjalan menuju tangga atas,namun saat melewati Nia ada rasa iba di dalam lubuk hati nya,rasa nya ia ingin memindahkan Nia ke tempat tidur agar badan nya tidak pegal saat bangun nanti.


Jack mendekati Nia lalu membisikan sesuatu yang entah apa itu author juga tidak tahu.


"Ringan sekali badan nya,apa dia tidak pernah di kasih makan?" ucap Jack saat menggendong badan Nia.


Sesampai di kamar Jack ia membaringkan badan Nia di atas ranjang king size milik nya.


"Wajah mu damai sekali saat tertidur,tapi tunggu! aku seperti nya tidak asing dengan wajah gadis ini.Oooh yaa aku hampir lupa,wajah nya mirip sekali dengan ibu dari pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan milik ku" ucap Jack dengan mengelus pipi Nia.


Setelah selesai mengelus pipi Nia tak lupa Jack mencium kening Nia karena ini merupakan kesempatan bagi nya.


Setelah Jack mencium kening Nia,ia kembali melangkah dan membaringkan tubuh nya di sisi Nia,dan akhir nya mereka tertidur dan larut dalam mimpi masing masing.


Hari sudah mau menjelang pagi Jack bangun terlebih dahulu sebelum Nia bangun,Jack pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi nya sedangkan Nia masih asik dengan tidur nya.


Tak butuh waktu lama Jack sudah selesai melakukan ritual mandi nya,ia membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.


"Aaaaah...." Nia berteriak karena melihat Jack keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk se pinggang yang memperlihatkan perut sixpack nya.


"Tuan kenapa ada di kamar saya?" tanya Nia dengan nada sedikit gugup.


Jack mengkerutkan kening nya.


"Kamar mu?" tanya Jack.


Nia melihat sekeliling nya lalu ia tersadar kalau ini bukan kamar nya melainkan kamar Jack.


"Maaf kan saya tuan saya tidak tahu kalau saya berada di kamar tuan" ucap Nia menunduk menahan malu karena salah sangka di kira dia sekarang bearada di kamar nya sendiri.


"Tidak apa apa.Kamu tetap di situ ada yang akan aku bicarakan kepada mu,tapi aku akan memakai baju ku dulu" ucap Jack lalu berjalan menuju lemari nya dan memilih pakaian yang akan ia kenakan.


Setelah selesai memakai pakaian nya,ia duduk tepat di sebelah Nia.


"Saya nungguin tuan pulang" jawab Nia tanpa ragu ragu.


"Apa kamu khawatir dengan ku?" tanya Jack.


"Tentu saja tuan saya khawatir,nanti kalau terjadi apa apa dengan tuan terus siapa dong yang menggaji saya" ucap Nia tanpa sadar.


"Bilang apa tadi?" tanya Jack.


"Hah,memang nya saya bilang apa sama tuan?" Nia tanya balik karena tidak ingat dengan perkataan nya sendiri barusan.


"Aku tidak tahu" jawab Jack datar.


"Tuan saya boleh tanya sesuatu?" tanya Nia.


"Silahkan".


"Tadi malam tuan kemana?" tanya Nia sedikit ragu.


Jack menghela nafas nya kasar lalu mulai menceritakan nya kepada Nia.


Nia sedih mendengar cerita tuan nya,meskipun Nia tidak terlalu mengenal orang yang di ceritakan Jack.


"Kasihan sekali ya tuan padahal dia masih muda.Itu gimana tuan kejadian nya kenapa bisa sampai kecelakaan?" tanya Nia.


"Aku tidak tahu persis,tapi yang jelas kata keluarga nya,dokter Audrey mengalami kecelakaan saat ia melakukan perjalanan pulang dari luar negri" jawab Jack.


"Sebenar nya aku merasa kalau kecelakaan ini di sengaja,kata keluarga nya hanya di temukan mayat dokter Audrey seorang di dalam mobil,sedangkan supir nya tidak ada jejak sama sekali" timpal Jack.


.


.


.


.


.


Bersambung