
Setelah 9 bulan mengandung, kini saatnya Emma melahirkan. Semua keluarga tampak menunggu di luar ruang bersalin Emma.
Javier ketakutan melihat istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan putri mereka. Javier selalu memberikan kata-kata semangat untuk istrinya. Proses kelahirannya dilakukan secara normal.
"Ayo dorong bu, sebentar lagi bayinya akan keluar," ucap sang dokter. Emma kembali mengenjan. Ia meremas tangan Javier hingga membekas.
"Iya bu, dorong bu, dorong yang panjang. Sedikit lagi bu, ayo bu.." ucap dokter kembali.
"Ayo sayang, kamu pasti bisa," tukas Javier mengecup kening istrinya yang berkeringat.
Dengan segala kekuatan yang dimiliki Emma dan dorongan dari suami dan dokter, akhirnya bayinya keluar.
"Selamat tuan dan nyonya Maximiliano, bayi kalian lahir dengan sehat dan sempurna," ucap Dokter membuat Javier dan Emma menangis bahagia.
Dokter menaruh bayi kecil itu di atas dada Emma. Bayi mungil itu bergerak-gerak mencari put*ng Emma. Setelah menemukannya, bayi itu langsung menyedotnya dengan semangat.
"Terima kasih sayang, terima kasih. Sudah berjuang untuk kami, i love you so much," ucap Javier penuh kebahagiaan.
Setelah persalinan selesai, Emma dibawa ke ruang rawat. Kedua orang tuanya dan mertuanya serta ketiga anaknya langsung bergegas menuju ruang rawat Emma.
"Brak..." suara pintu terbuka dengan keras.
"Dimana cucu perempuan ku...." ujar Alfaro ayah Javier masuk kegirangan diikuti oleh yang lainnya.
"Loh bayinya dimana?" tanya Alfaro kebingungan saat tidak melihat ada bayi disana.
"Masih dibersihkan oleh perawat dad," jawab Javier.
Tak lama kemudian seorang perawat masuk ke dalam kamar rawat Emma menggendong seorang bayi mungil nan cantik.
"Bayinya masih tidur, kalau sudah bangun, ibu bisa memberikannya ASI," ucap perawat memberikan bayi itu pada Emma. Perawat itu lalu pergi.
"Mom, baby nya cantik sekali seperti mommy," ucap Leon menatap adiknya dengan senyuman.
"Aku akan beritahu teman-temanku kalau adik ku sudah lahir. Mereka pasti senang mendengarnya mom," pungkas Zio.
"Nak, biarkan daddy menggendong cucu daddy," ucap Alberto ayah Emma. Emma mengangguk dan memberikan bayinya pada Alberto.
"Ya ampun, cucu kita nyenyak sekali tidurnya," ucap Neina menatap cucunya. Alberto membawa cucunya duduk di sofa diikuti oleh Alfaro. Kedua laki-laki itu menatap senang baby yang digendong. Keduanya berebutan untuk menggendongnya.
"Apa kalian sudah membuat nama cucuku," tanya Catalina.
"Sudah mom, Javier yang membuatnya," balas Emma.
"Namanya Briana Queennie Maximiliano mom," pungkas Javier.
"Nama yang bangus nak," ucap Neina.
"Sepertinya mereka melupakan kita yang juga ingin menggendong baby Bri," timpal Catalina membuat mereka tertawa melihat dua pria yang duduk di sofa mengabaikan mereka.
*****
5 hari kemudian Emma sudah pulang dari rumah sakit. Mereka disambut oleh semua pekerja di rumahnya dengan senang. Kedua orang tua Javier membuat perayaan kecil untuk menyambut mereka.
"Selamat datang di rumah baby Bri," ucap mereka bersamaan. Emma sangat senang melihat mereka disambut.
"Kemari, biar mommy yang menggendongnya," ucap Catalina mengambil alih cucunya dari gendongan Emma..
"Hati-hati sayang," ujar Javier melingkarkan tangannya dipinggang Emma. Istrinya belum bisa berjalan seperti biasanya. Keduanya lalu berjalan menuju sofa.