
"Sayang, jangan di kasih dulu. Semalam Briana sakit perut karena terlalu banyak makan ice cream, aku tidak percaya dia hanya makan satu saja nanti," ujar Emma melarang Javier memberikannya.
"Ya ampun princess, kamu sakit perut?. Mommy benar. Jangan makan ice cream dulu yah. Bagaimana kalau besok saja," ucap Javier mengecup pipi gembul putrinya.
"Tapi pelut Bli mau ice cleam dad," ucapnya mengusap perutnya dengan tatapan puppy eyes nya membuat Javier tidak tega.
"Ya sudah..tapi janji pada daddy cukup 1 saja," ujar Javier mengacungkan jari kelingkingnya.
"Bagaimana kalau dua dad," tawar Briana menunjukkan dua jarinya.
"Kalau begitu tidak jadi," ujar Javier tegas.
"Oke..Bli akan makan satu saja," balas Briana mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Javier.
"Good girl," ujar Javier mengusap kepala Briana. Javier lalu membawa Briana menuju dapur untuk mengambil ice cream dari dalam kulkas.
"Cucuku memang menggemaskan," gumam Neina menatap Briana di gendongan Javier.
"Mom, temani Briana sebentar ya," ujar Javier memberikan Briana pada Neina. Anak itu pasrah saja, karena sekarang ia hanya fokus pada ice cream yang ada ditangannya.
"Akh...Jav," pekik Emma saat Javier mengangkat tubuhnya tiba-tiba.
"Aku ingin memakan mu sayang.." ujar Javier membawa Emma menuju kamar. Neina hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh melihat aksi menantunya itu.
"Sayang turunkan aku. Harusnya kamu itu istirahat sekarang," ujar Emma.
"Aku akan istirahat setelah memakan mu. Kau tau, hampir satu minggu aku tidak melakukannya denganmu dan itu membuat ku hampir gila sayang," ujar Javier. Keduanya laku tiba di depan pintu kamar.
"Sayang, ini...ini di rumah mommy," ujar Emma terlebih lagi ini masih siang.
"Aku tau sayang," balas Javier mendorong pintu kamar dengan kakinya. Javier meminta bantuan Emma yang sedang digendongnya untuk mengunci pintu. Ia tidak ingin ada yang mengganggunya.
Emma tampak menggeliat di atas tempat tidur. Emma melirik ke samping dan tidak menemukan Javier disana.
"Astaga, badanku rasanya remuk semua," gumam Emma bangun lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Emma menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Javier memang sangat ahli di ranjang. Pria itu bahkan tidak kelelahan setelah menggempur Emma selama dua jam tanpa jeda.
"Ya ampun, sekarang sudah jam 6," pekik Emma turun dari ranjang dengan buru-buru dan memakai bajunya. Emma pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Setelah itu Emma menemui ibunya di dapur yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Mom, ada yang perlu Emma bantu. Maaf membuat mommy memasak sendirian, aku baru bangun," tukas Emma.
"Tidak perlu sayang. Mommy tau kamu pasti sedang kelelahan," balas Neina tersenyum menggoda Emma.
"Mom..." ujar Emma malu.
"Berapa ronde tadi hmm..." Neina semakin menggoda putrinya itu.
"Sini mom, biar aku yang melanjutkannya," pungkas Emma mengalihkan pembicaraan.
"Kamu antar makanan yang sudah siap ke meja makan saja. Sebentar lagi ini udah mau siap kok," ujar Neina membalikkan steak nya. Emma kemudian mengangguk.
"Oh ya..apa kalian tidak berniat untuk menambah cucu untuk kami lagi," kata Neina mengingat usia Briana sudah tiga tahun.
"Mommy ingin cucu lagi?" tanya Emma.
"Iya biar ramai. Ya meskipun sebenarnya 4 saja sudah ramai. Tapi itu tergantung kalian berdua, apakah masih ingin menambah anak lagi, mommy tidak ingin memaksa," balas Neina.
"Sebenarnya tadi kami juga sudah membahasnya mom. Aku dan Javier memutuskan untuk menambah satu anak lagi," pungkas Emma.
"Kalau begitu mommy ikut senang sayang," tukas Neina.