My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 61: Menolak



Javier kembali ke tempat dimana ia terakhir kali meninggalkan Emma dan melihat tempat itu kosong. Emma tida ada di sana.


"Kemana perginya Emma," batin Javier mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Emma. Panggilannya masuk tapi tidak diangkat. Javier menghubunginya kembali hingga beberapa kali namun tidak diangkat. Javier mulai khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada Emma saat ia pergi tadi. Ia melirik jam tangannya.


"Oh..shittttt..., aku meninggalkannya selama satu jam lebih," umpat Javier merutuki dirinya sendiri. Emma pasti kecewa padanya. Javier akhirnya memutuskan kembali ke penthousenya. Iya yakin Emma sudah di sana.


Setibanya di penthousenya, Javier buru-buru membuka pintu kamar anak-anaknya dan bernafas lega saat melihat Emma tidur bersama ketiga anaknya. Javier melangkahkan kakinya mendekati Emma.


"Maafkan aku," gumam Javier mengecup kening Emma cukup lama. Javier menyelimuti tubuh Emma hingga sebatas dadanya. Ia kemudian kembali ke ruang tengah untuk sedikit minum dan menyesap rokoknya berharap dapat menghilangkan beban dipikirannya. Dua kali sudah ia mengejar wanita yang mirip dengan mendiang istrinya itu namun ia selalu kehilangan jejaknya.


Pagi harinya Emma bangun lebih awal. Setelah mencuci wajahnya, Emma menuju pantry untuk membuat sarapan. Emma melewati ruang tengah dan menemukan Javier yang tidur di sofa. Pria itu tampaknya sedang kedinginan. Javier tampak tidur meringkuk di atas sofa, mungkin efek hujan yang turun di pagi hari ini. Emma melangkahkan kakinya menuju kamar Javier dan mengambil selimut. Emma lalu menyelimuti tubuh Javier dan merapikan bekas minumnya.


Javier sedikit terusik saat mendengar suara ketiga anaknya yang sedang tertawa hingga Javier terbangun dan menyadari tubuhnya yang di tutupi selimut hingga sebatas dada. Dapat dipastikan Emma lah yang menyelimutinya. Javier tersenyum senang karena Emma perhatian padanya. Javier bangkit dari sofa dam menuju mini bar penthousenya bergabung dengan Emma dan ketiga anaknya untuk sarapan.


"Sepertinya kalian senang sekali..." pungkas Javier duduk di kursi.


"Morning dad," ujar Zio.


"Morning boy," balas Javier.


"Emmm, aku akan membuat sarapan untuk mu, tadi aku hanya membuat 4 porsi saja, aku kira kamu masih lama bangun," ujar Emma. Emma


"Hari ini daddy akan mengajak kalian jalan-jalan lagi sebelum kita kembali ke California nanti malam," ucap Javier sembari menunggu roti panggang nya matang di toaster.


"Really dad?" tanya Lucio senang. Javier mengangguk membuat ketiga anak itu bersorak kegirangan.


"We love you dad," ujar ketiga anak itu kompak.


Setelah sarapan Javier menyuruh ketiga anaknya untuk mandi dan bersiap-siap.


"Aku ingin bicara dengan mu," ucap Javier menahan Emma agar tidak pergi. Javier mengajak Emma duduk di sofa.


"Aku minta maaf karena sudah meninggalkan mu tadi malam," ujar Javier meraih tangan Emma.


"Tidak apa-apa Jav. Sebaiknya kita lupakan saja," ujar Emma membuat Javier mengerutkan alisnya.


"Lalu bagaimana dengan pernyataan cinta ku tadi malam, apa itu juga harus di lupakan?" tanya Javier. Sepertinya Emma kecewa dengannya.


"Maaf Jav, aku tidak bisa menerimanya. A..aku mencintai pria lain," ujar Emma menarik tangannya dari genggaman Javier. Emma bangkit dari sofa lalu pergi meninggalkan Javier yang terpaku di tempatnya. Emma menolak cintanya. Ini pertama kalinya dalam sejarah hidupnya ia ditolak oleh seorang wanita. Sakit..tentu saja Javier merasakan sakit di hatinya.