
Emma membuka kamar Zio dan melihat anak itu sedang berbicara dengan Javier dan Camala.
"Mommy, kakak..," panggil Zio.
"Apa kamu baik-baik saja?. Maafkan kakak ya, tidak bisa menjaga mu," ujar Leon pada Zio.
"Zio baik-baik saja kak. Ini salah Zio karena tidak hati-hati kak. Maafkan Zio karena Zio kak Leon dan Cio di marahi daddy..." ucap Zio sontak membuat Javier merasa tersindir. Emma yang menatap Javier sebenarnya ingin marah, tapi apa boleh buat. Dia bukan siapa-siapanya Javier. Yang bisa ia lakukan hanya memberi sedikit nasihat saja.
"Mari berpelukan...," ucap Cio membuat ketiga anak itu berpelukan. Emma yang melihat itu sangat senang. Ketiganya saling menyayangi satu sama lain begitupun dengan Javier dan Camala yang ikut senang.
"Leon dan Cio duduk di atas karpet tidak apa-apa kan. Kursinya hanya ada satu disini," ujar Emma pada ketiga anak itu karena memang hanya ada satu kursi disana. Kursi belajar Zio.
"Iya mom..," ucap Leon. Emma mengambil nampan berisi makanan dari atas meja belajar Zio. Dalam hati Javier bertanya-tanya sejak kapan anak kembarnya memanggil Emma dengan mommy, padahal sebelumnya mereka memanggil Emma kakak.
"Zio juga mau ikut duduk di bawah," ucap Zio ingin turun dari tempat tidurnya.
"Upsss...hati-hati sayang," ucap Emma saat Zio hampir saja jatuh. Untung ada Javier yang menahannya.
Javier membantu Zio turun dari kasurnya dan memapahnya agar tidak terjatuh.
"Zio mau di suap mom.." pinta Zio.
"Baiklah sayang, mommy akan menyuapi mu. Ini minum dulu air putihnya," ujar Emma memberi gelas pada Zio.
"Aku juga mau di suapi mom.." timpal Lucio.
"Aku juga mom," ucap Leoncio.
"Oh oke...oke.., mommy akan menyuapi kalian bertiga," jawab Emma tersenyum.
"Tuan makan malam anda per__". Javier mengangkat tangannya menginterupsi perkataan Camala.
"Kalau begitu saya pamit dulu tuan," ucap Camala lalu pergi.
Di atas karpet bulu, Emma sedang menyuapi ke tiga anak laki-lakinya. Ya, sekarang Emma sudah menganggap mereka anak-anaknya meskipun bukan dirinya yang melahirkannya.
"Mommy tidak makan?" tanya Leon karena sejak tadi ia tidak melihat Emma menyendok makanan ke mulutnya.
"Mommy sudah makan sayang," balas Emma kembali menyuapi Leon.
Javier yang melihat ketiga anaknya sudah makan merasa lega. Sepertinya Emma sangat berpengaruh pada ketiga anaknya. Javier memilih untuk keluar dari kamar Zio dan pergi menuju ruang kerjanya. Seperti biasa, ia mungkin akan melihat berkas-berkasnya dan tidak sadar tertidur disana.
Setelah selesai makan, Emma menyimpan piring yang mereka pakai ke dapur. Emma bingung dimana letak dapur. Maklumlah, ini kali pertama ia datang ke rumah Javier. Untung saja ia melihat seorang pelayan yang sedang menutup pintu rumah.
"Maaf, saya ingin mengantar piringnya ke dapur. Tapi saya tidak tau dimana letak dapurnya," ucap Emma.
"Biar saya saja nona yang menyimpannya," ujar pelayan muda itu.
"Tidak...tidak, saya tidak ingin merepotkan mu," ucap Emma menolak. Bagaimanapun juga ia hanya tamu disini.
"Mari nona saya tunjukkan," ujar pelayan ramah pada Emma.
Di dapur Emma menaruh piring kotor di atas wastafel, dan pelayan langsung membersihkannya.
"Dania, kenapa masih ada makanan di atas meja?" tanya pelayan yang mengantar Emma ke dapur pada rekan kerjanya.
"Tuan Javier belum makan, bibi Camala menyuruh saya untuk menyiapkannya," jawab Dania.
"Ternyata dia belum makan malam," batin Emma menjauh dari dapur. Ia mendengar pembicaraan kedua pelayan itu.