
Zio terbangun dan melihat Javier tidak ada di tempat tidur bersama mereka. Karena sebelumnya anak-anak meminta Javier dan Caroline untuk tidur bersama mereka. Zio turun dari tempat tidur dan mencari Javier. Setibanya di depan kamar Javier, anak itu membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia memanggil Javier namun tidak ada balasan. Sepertinya Javier tidak ada disana. Zio mencari kembali Javier di ruang kerjanya.
"Dad..." panggil Zio masuk ke dalam ruangan tersebut.
Zio melihat Javier duduk di kursinya dengan kepala di atas meja. Sepertinya pria itu tertidur disana.
"Dad," panggil Zio membangunkan Javier. Pria itu menggeliat pelan, membuka matanya dan terkejut melihat putra bungsunya berdiri di sampingnya.
"Zio..., ada apa nak. Kenapa kamu bangun," ucap Javier mengangkat tubuh Zio ke atas meja.
"Zio rindu mommy Emma dad, kenapa mommy pulang lagi ke rumahnya. Bukankah kemarin mommy bilang dia akan tinggal disini," ujar Zio menatap Javier dengan wajah murungnya. Padahal tadi sore mereka masih bertemu. Tapi Zio sudah merindukan Emma.
"Mungkin mommy ada keperluan makanya pulang," jawab Javier.
"Ya sudah, kita tidur lagi ya. Daddy akan menemani kamu tidur," ucap Javier. Zio menggelengkan kepalanya. "Zio mau tidur sama mommy Emma dad," ujar Zio. Javier tampak menghela nafas mendengar permintaan anaknya itu. Akhirnya Javier mengajak Zio menemui Emma di tengah malam seperti ini.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya Javier dan putranya tiba di apartemen miliknya. Javier membuka pintu kamarnya dan melihat Emma yang sudah tidur pulas di atas ranjang.
"Mommy sudah tidur son," ucap Javier menghidupkan lampu kamar. Keduanya berjalan menuju tempat tidur.
"Naiknya pelan-pelan son, takut mommy terbangun," ujar Javier berbisik. Anak itu lalu mengangguk.
Emma yang seperti mendengar suara-suara kecil terbangun dan terkejut melihat Javier dan Zio ada disana. Emma bangun dan mengucek kedua matanya seakan memastikan apa yang dilihatnya bukanlah mimpi.
"Maaf sayang, kami membuatmu terbangun," ujar Javier.
"Jav..ke...kenapa kalian ada disini?" tanya Emma kebingungan. Zio langsung memeluk Emma dengan manja.
"Zio merindukan mu, dia tidak bisa tidur. Zio memintaku untuk mengantarnya kesini," jawab Javier naik ke atas tempat tidur.
"Kenapa Zio tidak bisa tidur, kan ada mommy Caroline yang menemani kalian disana," ucap Emma mengecup kepala anak itu.
"Zio pengen tidur dengan mommy," ucap Zio tersenyum.
"Mom.." panggil Zio.
"Hmmm..kenapa nak," kata Emma tidur menyamping dengan tangan menyangga kepalanya.
"Jangan pergi ya mom, mommy tetap mommy nya Zio dan kakak," ucap Zio membuat mata Emma berkaca-kaca. Ia pikir Zio akan melupakan Emma setelah kedatangan ibu kandung mereka. Bahkan ia sempat berpikir akan mengalah jika suatu saat anak-anak menginginkan Javier dan Caroline bersatu lagi.
"Tentu saja sayang, mommy tidak akan pergi, mommy akan tetap bersama kalian," balas Emma mengecup kepala Zio berkali-kali.
"Zio sayang mommy," ujar Zio memeluk tubuh Emma.
"Daddy?" timpal Javier.
"Zio sayang daddy juga," ujar Zio memeluk Javier.
"Dad, apa adik Zio udah jadi?" tanya Zio membuat Emma dan Javier terpaku.
"Zio pernah mendengar grandma berbicara dengan grandpa kalau grandma mendengar mommy dan daddy sedang membuat adik untuk kami," ucap Zio dengan polosnya. Sontak Emma dan Javier saling menatap satu sama lain.
"I..itu tidak__"
"Zio mau liat daddy dan mommy buat adik Zio," timpal Zio memotong perkataan Emma. Zio dengan polosnya berkata demikian. Oh astaga..apa lagi. Emma semakin gelagapan dibuatnya.
"Kalau Zio ikut, nanti adiknya tidak jadi son. Ini hanya antara mommy dan daddy saja. Apa Zio mau kalau adiknya tidak jadi?" ujar Javier membuat Zio langsung menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu Zio gak akan liat dad. Tapi dimana adik Zio dad, kata grandma kalian sudah membuatnya," tanya Zio.
"Adik Zio tidak bisa lahir begitu saja, tunggu adiknya ada didalam perut mommy dulu, dan kalau perut mommy udah besar baru adik Zio akan dilahirkan," balas Javier. Zio mengangguk paham.
"Sekarang kita tidur ya son, ini sudah hampir jam 1 malam," pungkas Javier mengakhiri pembicaraan mereka. Kalau tidak mungkin Zio akan bertanya lagi.