My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Extra part 1: Ratu Drama



Dari hati yang paling dalam, Author mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri bagi saudara saya umat Muslim di seluruh dunia. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga Allah tetap senantiasa menyertai saudara sekalian.


Author akan kasih bonus 4 bab untuk pembaca setia novel ini.


3 Tahun kemudian.


"Bri..." panggil Emma melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga di rumah orangtuanya membawa segelas susu untuk putri tercintanya. Briana tampak di temani oleh Neina ibu Emma. Sudah 6 hari mereka ada disana. Javier tidak ikut karena ada urusan bisnis di New York 6 hari ini.


"Ayo minum susu dulu sayang," ucap Emma memberikan gelas yang berisi susu pada putrinya. Briana mengangguk dan mengambil alih gelas dari tangan Emma dan meneguknya hingga habis.


"Pintarnya cucu grandma ini," pungkas Neina mengecup kepala Briana.


"Kalau begitu belikan Bliana ice cleam glandma.." ucap Briana pada Neina dan memberikan gelas kosongnya pada Emma.


"Iya nanti grandma beri kamu ice cream nya," balas Neina.


"Mom, jangan dulu. Dua hari yang lalu perutnya sakit karena terlalu banyak makan ice cream. Aku tidak yakin jika ia hanya memakan satu saja nanti," ujar Emma tidak ingin putrinya sakit perut.


"Sayang, jangan dulu. Nanti perut kamu sakit lagi seperti kemarin," tukas Emma. Putrinya itu sangat menyukai ice cream. Sepertinya itu menjadi makanan favoritnya. Bahkan malam hari terkadang Briana makan ice cream.


"Tapi Bliana mau makan ice cleam. Pelut Bliana tidak sakit lagi glandma," pungkas Briana cemberut berharap neneknya mengabulkan permintaannya. Karena Briana tau jika Emma pasti tidak akan memberikannya.


"Tidak sayang.." timpal Emma.


"Mommy kamu benar sayang. Besok saja ya," pungkas Neina lembut mengusap rambut panjang cucunya. Briana lalu tidur telungkup diatas sofa menutup kedua matanya dengan tangannya. Emma hanya geleng kepala melihat tingkah aneh putrinya.


"Sayang, berikan saja ya. Lihatlah....cucuku sepertinya akan menangis," tukas Neina tidak tega melihat cucunya. Emma menggeleng, ia sudah kebal dengan akting putrinya itu. Briana adalah ratu drama di rumah mereka.


"Biarkan saja mom, dia sedang berakting. Aku sudah biasa menghadapinya," ucap Emma tertawa membuat Briana kesal dan menendang-nendang sofa. Kalau saja Javier disini, Briana pasti akan mengadu padanya.


"Lihat mom, dia makin kesal," bisik Emma membuat Neina terkekeh.


Briana yang kesal menghentak-hentakkan kakinya di lantai.


"Mommy bohong...daddy belum pulang," ujar Briana melipat kedua tangannya dengan bibir yang mengerucut.


"Daddy pulang princess," ucap Javier yang tiba-tiba datang membuat ketiga orang itu terkejut.


"Daddy..." pekik Briana berlari menghampiri Javier.


"I miss you princess," pungkas Javier mengangkat tubuh Briana. Anak kecil itu lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Javier.


"Hai sayang, aku merindukan kalian," ujar Javier mengecup bibir Emma.


"Hai mom," Javier memeluk ibu mertuanya.


"Bagaimana pekerjaan mu nak."


"Lancar mom, daddy dan yang lainnya dimana?" tanya Javier.


"Mereka pergi memancing," jawab Neina.


"Apa kamu sudah makan sayang," ucap Emma. Javier lalu mengangguk.


"Tapi aku ingin memakan mu," ujar Javier menggoda Emma. Emma melotot pada Javier yang tidak tau malunya. Bukannya takut, Javier menyeringai.


"Dad, Bliana mau ice cleam. Mommy dan glandma tidak mau membelikannya. Mommy bilang Briana nanti sakit pelut. Kan pelut Bli gak sakit lagi sekalang," adu Briana pada Javier.


"Benarkah...kalau begitu mari kita makan ice cream nya," ucap Javier membuat Briana bersorak kegirangan.


"Daddy yang telbaik," ucap Briana mengecup pipi Javier.