My Boss & His 3 Sons

My Boss & His 3 Sons
Bab 51: Hidangan pembuka yang enak



"Emma," panggil Stella dari luar.


Emma gelagapan di atas pangkuan Javier sedangakan Javier hanya tersenyum melihat tingkah cemas Emma.


"I..itu pasti Stella," gumamnya hendak turun dari pangkuan Javier namun pria itu menahannya.


"Jav..lepaskan, aku harus membuka pintu sekarang juga," ucap Emma berusaha melepaskan diri dari Javier. Ia tidak mau Stella berpikiran macam-macam karena ia lama membukakan pintu.


"Jav..." ucap Emma melotot pada Javier dan mendorong keras tubuh pria itu hingga ia bisa lepas. Dengan cepat Emma berlari menuju pintu dan membukanya.


"Thanks," ujar Stella menatap Emma yang tampak berantakan.


"Kamu kenapa terlihat kacau seperti ini, bibir kamu kenapa bengkak," tanya Stella.


"Hah...masa sih. Mungkin karena alergi kali," jawab Emma asal. Ya ampun, salahkan Javier yang melakukan semua ini. Emma sudah jantungan sementara Javier tampak santai menikmati makanannya seakan tidak ada yang terjadi.


"Loh, ada tamu ya Em," ujar Stella saat melihat sosok Javier.


"Dia bos ku Stell," ujar Emma. Stella lalu berkenalan dengan Javier.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu ya, capek banget," pungkas Stella menatap Emma cukup lama.


"Kenapa kamu menatap ku begitu," tanya Emma.


Stella tersenyum nakal.


"Hayoo..kalian habis ngapain coba," bisik Stella lalu pergi membuat Emma terperanjat ditempatnya.


Apa temannya itu tau. Aishh, setelah ini Stella pasti menggodanya habis-habisan.


"Aku menyiapkan barang-barangku dulu," ujar Emma pergi melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Hidangan pembukanya tadi enak," ucap Javier menggoda Emma.


Di dalam kamarnya Emma masih berusaha menetralkan detak jantungnya.


"Bagaimana bisa aku hanyut dalam permainan Javier," gumam Emma masih terbayang dengan adegan di ruang tamu. Seketika wajahnya kembali merona. Emma memegang dadanya. "Aku tidak tau kalau tadi tubuhku sangat menikmatinya, bahkan hanya dengan begitu saja Javier bisa membawaku mengarungi kenikmatan itu, ternyata apa yang dikatakan Stella itu benar," gumam Emma.


"Oh astaga...kenapa pikiranku jadi aneh-aneh begini sih," gumam Emma menepuk-nepuk pipinya seakan menyadarkannya. Sepertinya ia harus jauh-jauh dari Javier.


******


"Selamat malam tuan dan nona," sapa Camala pada Emma dan Javier yamg baru saja tiba di rumah besar milik Javier.


"Perlengkapan anak-anak sudah beres tidak bibi Camala?" tanya Javier.


"Sudah tuan, saya sudah menyiapkan semua perlengkapan mereka," jawab Camala. Sebelum datang ke rumah Emma, Javier sudah memerintahkan Camala untuk menyiapkan perlengkapan anak-anaknya untuk perjalanan bisnisnya.


"Bibi, bangunkan anak-anak dan ganti pakaian mereka. Sebentar lagi kami akan ke bandara," ucap Javier.


"Baik tuan," ujar Camala mengangguk.


Javier menggenggam tangan Emma dan membawanya ke kamar miliknya.


"Aku mau mandi dulu, tolong siapkan perlengkapan ku, satukan dengan koper mu saja," perintah Javier.


"Kenapa harus aku, kamu kan bisa suruh pelayan. Lagi pula aku itu bukan asisten kamu tau," ujar Emma kesal dengan Javier yang seenaknya menyuruhnya.


"Aku tidak suka penolakan Emma, lakukan saja," ujar Javier pergi ke kamar mandi.


"Aishh.., Aku tidak suka penolakan Emma," ujar Emma meledek Javier dengan meniru perkataan pria itu.


"Dasar tukang perintah," ujar Emma menyiapkan perlengkapan Javier. Ia melangkahkan kakinya menuju walk in closet. Emma terperangah melihat lemari besar Javier yang diisi dengan pakaian, sepatu, kacamata, jam tangan dan yang lainnya. Dan jangan lupa, semuanya adalah barang-barang bermerek.